- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
tiokyapcing dan 51 lainnya memberi reputasi
50
36.7K
Kutip
436
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#32
BAB 8 - Tersadarkan
Quote:
Sebuah langkah kaki terdengar dengan jelas di lorong rumah sakit di pagi itu, seseorang terlihat sangat panik menyelusuri lorong yang panjang itu sambil mencari-cari ruangan yang akan dia masuki.
Sinar matahari pagi terlihat masuk ke sela-sela jendela, membuat suasana yang ada terasa lebih hangat namun hal itu tidak membuat perasaan dirinya tenang atas apa yang terjadi.
Tak lama, tepat di ujung lorong itu. sebuah pintu terlihat tertutup, bersamaan dengan banyak sekali orang yang menunggu di luar ruangan.
Nampak ada pula beberapa orang yang berdiri dan mengobrol disana, salah satunya Danang, Dimas dan Ardi yang nampak sudah datang lebih dahulu ke tempat itu.
“Rara, Rara gimana Rara?”
Dewi yang berlari dengan keadaan panik langsung menghampiri mereka bertiga, yang pada saat ini sedang mengobrol dengan seseorang dan para warga yang rara pada saat kejadian di belakang mereka.
Seseorang yang sedang mengobrol dengan mereka bertiga tiba-tiba langsung menjawab pertanyaan Dewi dengan permintaan maaf, sedangkan danang, Dimas dan Ardi hanya bisa mempersilahkan Dewi untuk mengobrol dengannya.
“Mohon maaf, sebenarnya kejadian semalam terjadi begitu cepat, anak itu entah bagaimana lari keluar dari gang dalam keadaan yang panik, wajahnya pucat, bahkan dia nampak seperti di kejar-kejar sesuatu yang ada di belakangnya.”
“Tanpa melihat motorku yang sedang melintas, dia menabrakan diri ke arah motorku dan terpental sehingga tubuhnya tak sadarkan diri.”
Dewi terdiam, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan melihat ke arah pintu ruangan Rara yang tertutup pada saat itu.
“Ta, tapi bagaimana keadaan Rara sekarang,” kata Dewi dengan nada yang sedikit panik.
Danang yang pada saat itu berada di dekat Dewi langsung menepuk pundaknya.
“Lu ga usah khwatir wi, Rara hanya luka lecet aja, tadi juga dia sudah siuman. bahkan dia juga tak sadar apa yang terjadi semalam.”
“Cuman, sekarang dia lagi istirahat, jadi kita sepakat untuk keluar dulu dan jangan menganggu dia.”
“iya wi, lu jangan khawatir, si Rara baik-baik aja, malah si bapak ini…”
“Eh maaf, bapak siapa namanya, aku lupa,” kata Dimas yang tiba-tiba berbalik ke arah orang yang menambak Rara sambil mengangkat salah satu tangannya.
“Panggil saja aku Ragil,” jawab Pak Ragil sambil tersenyum.
“Ah iya, Pak Ragil. untung dia mau bertanggung jawab bahkan para warga di sekitar kost si Rara pada bantu kesini,”
Mereka yang pada waktu itu berdiri di depan pintu ruangan rara, langsung mengajak Dewi duduk agar dirinya tidak panik lagi.
“Sudah sekarang kita duduk dulu, nunggu Rara bangun dan keluar dari rumah sakit. kalau nanti dia sudah bener-bener pulih, baru kita tanya apa yang sebenarnya terjadi.”
“Soalnya kata dokter juga siang ini Rara sudah bisa pulang, cuman mungkin dia nginep di basecamp kita dulu wi. biar nanti ada lu dan kita-kita yang jaga.”
“Biar nanti barang-barang yang ada di kostan Rara, biar si Ardi yang ngambilin.”
“Bener kan di,” Kata Danang sambil melirik ke arah Ardi yang masih berdiri disana.
“Sip, ntar gue ambil barang-barang si Rara, ntar kita jaga dia biar ga keluyuran kayak kemaren.”
“Gue takut ini gara-gara konten yang di rumah i..”
“Hush, pelan-pelan.”
Dimas tiba-tiba memotong pembicaraan Ardi, dia tidak sadar bahwa dia sedang berbicara dengan banyak orang pada saat itu, sehingga dia yang tersadarkan ketika dimas menyenggol tubuhnya langsung menghentikan apa yang dia bicarakan.
Mungkin apa yang Ardi katakan sempat di dengan oleh Pak Ragil dan beberpaa warga yang ada di belakangnya, namun mereka hanya melirik Ardi saja tanpa menjawab apa yang Ardi katakan pada saat itu.
Bahkan mungkin, mereka tidak perduli dengan apa yang Ardi katakan.
“Udah, masalah itu nanti kita cerita ketika sudah ada di basecamp ya.”
“karena…”
Dewi, tiba-tiba terdiam
“Ada apa wi,” kata Danang yang heran dengan apa yang di katakan Dewi.
Dewi tiba-tiba menggelengkan kepala, dan dia mendadak tersenyum pelan ke arah mereka.
“Nggak, pokoknya ada sesuaut yang besar yang menunggu kita. namun kita pastikan si Rara harus sembuh dulu, karena hal ini si Rara harus di ikut sertakan.”
“Ntar lah gue bicarakan di basecamp ya,” kata Dewi sambil melihat mereka semua yang ada disana termasuk Pak Ragil dan para warga yang ada di belakangnya.
***
Tak terasa, sinar matahari kini sudah meninggi. Pak Ragil sepertinya harus pamit bersamaan dengan para warga yang ada disana.
Pembayaran rumah sakit yang awalnya akan dibayarkan oleh Pak Ragil kini Dewi yang nanggung, karena dia merasa bertanggung jawab atas apa yang Rara lakukan.
Dewi juga tidak menyalahkan Pak Ragil pada saat itu, karena dia tau bahwa Rara lah yang menabrakan diri ke arah Pak Ragil sehingga dia tidak mempunyai salah apa-apa.
***
Tak lama, Pak Ragl dan para warga akhirnya pamit. mereka berpamitan kepada Danang, Ardi dan Dimas serta kepada Dewi yang mengantarkan mereka pintu keluar rumah sakit.
Disan Pak Ragil tak henti-hentinya meminta maaf, bukan tanpa sebab. karena dia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pada malam itu.
“Neng, sekali lagi bapak mohon maaf karena temen neng bisa ketabrak” kata Pak Ragil dengan sedikit menunduk.
“Ah tidak-tidak pak, bahkan kita semua harus berterima kasih kepada bapak dan para warga di sekitar tempat kostnya karena sudah membantu membawanya kesini,” kata Dewi yang kini terlihat sedang mengantarkan Pak Ragil dan para warga keluar rumah sakit.
“Syukurlah kalau seperti itu neng,”
“Tapi neng, bapak masih penasaran, kenapa si neng itu bener-bener kayak ketakutan banget, ampe dia ga sadar ada motor yang sedang melaju di jalan.”
“Ampe para warga ngecek ke arah gang karena takut dia sedang di kejar-kejar orang jahat.”
“Seperti ada sesuatu yang terjadi pada si neng sehingga dia ketakutan seperti itu?” kata Pak Ragil yang masih heran atas apa yang dilakukan Rara.
Dewi yang pada saat itu masih belum mengerti kejadian yang sebenarnya hanya bisa menggelengkan kepala beberapa kali dan berkata dia akan mencari tau apa yang terjadi selepas Rara pulang dari rumah sakit tersebut.
Pak Ragil yang melihat expresi dewi hanya tersenyum, dia hanya mengangguk pelan sambil berkata.
“Ya sudah, paling jaga si neng itu baik-baik ya.”
“Hati-hati, jangan ditinggalin sendirian si nengnya.”
“Bapak harap, kalian berhenti melakukan sesuatu yang bisa membahayakan diri kalian. meskipun ya apa yang kalian dapatkan sebanding dengan resiko yang kalian terima.”
“Apalagi,”
Entah mengapa, pak ragil tiba-tiba memelankan suaranya. dia mendekatkan kepalanya ke arah dewi dan terlihat sedang membisikan sesuatu pada saat itu.
“Jiwa si neng itu..”
“Eh jiwa kalian bisa terancam, dan bukan hanya si neng itu yang menderita, bahkan kalian juga.”
“Dan hal yang terburuknya, nyawa kalian akan terancam apabila kalian tidak menyudahi apa yang sudah kalian perbuat.” kata Pak Ragil dengan nada yang sangat pelan di telinga dewi pada saat itu.
Sinar matahari pagi terlihat masuk ke sela-sela jendela, membuat suasana yang ada terasa lebih hangat namun hal itu tidak membuat perasaan dirinya tenang atas apa yang terjadi.
Tak lama, tepat di ujung lorong itu. sebuah pintu terlihat tertutup, bersamaan dengan banyak sekali orang yang menunggu di luar ruangan.
Nampak ada pula beberapa orang yang berdiri dan mengobrol disana, salah satunya Danang, Dimas dan Ardi yang nampak sudah datang lebih dahulu ke tempat itu.
“Rara, Rara gimana Rara?”
Dewi yang berlari dengan keadaan panik langsung menghampiri mereka bertiga, yang pada saat ini sedang mengobrol dengan seseorang dan para warga yang rara pada saat kejadian di belakang mereka.
Seseorang yang sedang mengobrol dengan mereka bertiga tiba-tiba langsung menjawab pertanyaan Dewi dengan permintaan maaf, sedangkan danang, Dimas dan Ardi hanya bisa mempersilahkan Dewi untuk mengobrol dengannya.
“Mohon maaf, sebenarnya kejadian semalam terjadi begitu cepat, anak itu entah bagaimana lari keluar dari gang dalam keadaan yang panik, wajahnya pucat, bahkan dia nampak seperti di kejar-kejar sesuatu yang ada di belakangnya.”
“Tanpa melihat motorku yang sedang melintas, dia menabrakan diri ke arah motorku dan terpental sehingga tubuhnya tak sadarkan diri.”
Dewi terdiam, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan melihat ke arah pintu ruangan Rara yang tertutup pada saat itu.
“Ta, tapi bagaimana keadaan Rara sekarang,” kata Dewi dengan nada yang sedikit panik.
Danang yang pada saat itu berada di dekat Dewi langsung menepuk pundaknya.
“Lu ga usah khwatir wi, Rara hanya luka lecet aja, tadi juga dia sudah siuman. bahkan dia juga tak sadar apa yang terjadi semalam.”
“Cuman, sekarang dia lagi istirahat, jadi kita sepakat untuk keluar dulu dan jangan menganggu dia.”
“iya wi, lu jangan khawatir, si Rara baik-baik aja, malah si bapak ini…”
“Eh maaf, bapak siapa namanya, aku lupa,” kata Dimas yang tiba-tiba berbalik ke arah orang yang menambak Rara sambil mengangkat salah satu tangannya.
“Panggil saja aku Ragil,” jawab Pak Ragil sambil tersenyum.
“Ah iya, Pak Ragil. untung dia mau bertanggung jawab bahkan para warga di sekitar kost si Rara pada bantu kesini,”
Mereka yang pada waktu itu berdiri di depan pintu ruangan rara, langsung mengajak Dewi duduk agar dirinya tidak panik lagi.
“Sudah sekarang kita duduk dulu, nunggu Rara bangun dan keluar dari rumah sakit. kalau nanti dia sudah bener-bener pulih, baru kita tanya apa yang sebenarnya terjadi.”
“Soalnya kata dokter juga siang ini Rara sudah bisa pulang, cuman mungkin dia nginep di basecamp kita dulu wi. biar nanti ada lu dan kita-kita yang jaga.”
“Biar nanti barang-barang yang ada di kostan Rara, biar si Ardi yang ngambilin.”
“Bener kan di,” Kata Danang sambil melirik ke arah Ardi yang masih berdiri disana.
“Sip, ntar gue ambil barang-barang si Rara, ntar kita jaga dia biar ga keluyuran kayak kemaren.”
“Gue takut ini gara-gara konten yang di rumah i..”
“Hush, pelan-pelan.”
Dimas tiba-tiba memotong pembicaraan Ardi, dia tidak sadar bahwa dia sedang berbicara dengan banyak orang pada saat itu, sehingga dia yang tersadarkan ketika dimas menyenggol tubuhnya langsung menghentikan apa yang dia bicarakan.
Mungkin apa yang Ardi katakan sempat di dengan oleh Pak Ragil dan beberpaa warga yang ada di belakangnya, namun mereka hanya melirik Ardi saja tanpa menjawab apa yang Ardi katakan pada saat itu.
Bahkan mungkin, mereka tidak perduli dengan apa yang Ardi katakan.
“Udah, masalah itu nanti kita cerita ketika sudah ada di basecamp ya.”
“karena…”
Dewi, tiba-tiba terdiam
“Ada apa wi,” kata Danang yang heran dengan apa yang di katakan Dewi.
Dewi tiba-tiba menggelengkan kepala, dan dia mendadak tersenyum pelan ke arah mereka.
“Nggak, pokoknya ada sesuaut yang besar yang menunggu kita. namun kita pastikan si Rara harus sembuh dulu, karena hal ini si Rara harus di ikut sertakan.”
“Ntar lah gue bicarakan di basecamp ya,” kata Dewi sambil melihat mereka semua yang ada disana termasuk Pak Ragil dan para warga yang ada di belakangnya.
***
Tak terasa, sinar matahari kini sudah meninggi. Pak Ragil sepertinya harus pamit bersamaan dengan para warga yang ada disana.
Pembayaran rumah sakit yang awalnya akan dibayarkan oleh Pak Ragil kini Dewi yang nanggung, karena dia merasa bertanggung jawab atas apa yang Rara lakukan.
Dewi juga tidak menyalahkan Pak Ragil pada saat itu, karena dia tau bahwa Rara lah yang menabrakan diri ke arah Pak Ragil sehingga dia tidak mempunyai salah apa-apa.
***
Tak lama, Pak Ragl dan para warga akhirnya pamit. mereka berpamitan kepada Danang, Ardi dan Dimas serta kepada Dewi yang mengantarkan mereka pintu keluar rumah sakit.
Disan Pak Ragil tak henti-hentinya meminta maaf, bukan tanpa sebab. karena dia masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pada malam itu.
“Neng, sekali lagi bapak mohon maaf karena temen neng bisa ketabrak” kata Pak Ragil dengan sedikit menunduk.
“Ah tidak-tidak pak, bahkan kita semua harus berterima kasih kepada bapak dan para warga di sekitar tempat kostnya karena sudah membantu membawanya kesini,” kata Dewi yang kini terlihat sedang mengantarkan Pak Ragil dan para warga keluar rumah sakit.
“Syukurlah kalau seperti itu neng,”
“Tapi neng, bapak masih penasaran, kenapa si neng itu bener-bener kayak ketakutan banget, ampe dia ga sadar ada motor yang sedang melaju di jalan.”
“Ampe para warga ngecek ke arah gang karena takut dia sedang di kejar-kejar orang jahat.”
“Seperti ada sesuatu yang terjadi pada si neng sehingga dia ketakutan seperti itu?” kata Pak Ragil yang masih heran atas apa yang dilakukan Rara.
Dewi yang pada saat itu masih belum mengerti kejadian yang sebenarnya hanya bisa menggelengkan kepala beberapa kali dan berkata dia akan mencari tau apa yang terjadi selepas Rara pulang dari rumah sakit tersebut.
Pak Ragil yang melihat expresi dewi hanya tersenyum, dia hanya mengangguk pelan sambil berkata.
“Ya sudah, paling jaga si neng itu baik-baik ya.”
“Hati-hati, jangan ditinggalin sendirian si nengnya.”
“Bapak harap, kalian berhenti melakukan sesuatu yang bisa membahayakan diri kalian. meskipun ya apa yang kalian dapatkan sebanding dengan resiko yang kalian terima.”
“Apalagi,”
Entah mengapa, pak ragil tiba-tiba memelankan suaranya. dia mendekatkan kepalanya ke arah dewi dan terlihat sedang membisikan sesuatu pada saat itu.
“Jiwa si neng itu..”
“Eh jiwa kalian bisa terancam, dan bukan hanya si neng itu yang menderita, bahkan kalian juga.”
“Dan hal yang terburuknya, nyawa kalian akan terancam apabila kalian tidak menyudahi apa yang sudah kalian perbuat.” kata Pak Ragil dengan nada yang sangat pelan di telinga dewi pada saat itu.
sampeuk dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Kutip
Balas
Tutup