- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
reverbriks dan 52 lainnya memberi reputasi
51
37.4K
Kutip
437
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#26
BAB 7 : MELARIKAN DIRI
Quote:
Rara terdiam. jawaban dari Abang nasi goreng itu bukanlah jawaban yang biasa dia dengar, karena bukan satu atau dua kali dia memesan makanan di tempat ini, tempat makan yang selalu ramai bahkan hingga malam tiba. karena banyak mahasiswa yang sering berkumpul dan memesan makanan di tempat ini meskipun sudah larut malam.
“Maaf bang? gimana tadi,” Kata Rara sambil mendekatkan tubuhnya ke arahnya.
Dia takut, dia salah dengar atas apa yang dikatakannya, suara dari kompor gas juga dari penggorengan membuat suasana disana sedikit berisik. Apalagi, banyak sekali suara-suara obrolan yang ada di belakang membuatnya mungkin tidak bisa mendengar jelas apa yang tadi bicarakan.
Abang nasi goreng itu tiba-tiba menghela napas panjang, tubuhnya yang besar dan gemuk itu membuat hembusan napasnya kini terdengar lebih keras.
Dengan suara yang berat, akhirnya abang nasi goreng itu berbicara kembali. bahkan kini dia membalikan badannya ke arah Rara dengan nada yang sedikit marah.
“Sudah aku bilang neng.”
Entah mengapa, salah satu tangannya tiba-tiba menggebrak meja yang berisi bahan makanan yang akan dia masak disana.
“DISINI ITU, TIDAK ADA MAKANAN UNTUK MANUSIA”
Bruaaak
Abang itu menggebrak meja, gebrakannya benar-benar kuat, bahkan tanah yang ada di sekitar rara pun bergetar dengan sangat hebat.
Apalagi, lampu yang ada disana tiba-tiba mati dan menyala beberapa kali, membuat rara sedikit ketakutan dan mundur beberapa langkah.
Lampu disana tiba-tiba redup atas apa yang dilakukan oleh orang tersebut. dan Rara secara perlahan-lahan melihat sesuatu yang tidak bisa dia pikirkan sebelumnya.
Bahan-bahan makanan yang ada di depannya, entah mengapa kini mendadak menjadi bahan makanan yang busuk, sayuran-sayuran yang awalnya terlihat segar kini nampak layu dan berbelatung, begitu pula dengan daging yang akan disiapkan untuk dimasak, bau busuknya tiba-tiba menyengat sehingga membuat rara menutup hidungnya ketika mencium bau tersebut.
Sedangkan pemilik tempat makan itu, kembali melanjutkan memasak tanpa memperdulikan Rara yang masih terdiam disana.
Pikiran Rara benar-benar kacau, dia tidak bisa berfikir jernih sekarang. apalagi, suasana tempat itu entah mengapa tiba-tiba berubah menjadi menakutkan.
Suasana yang awalnya ramai tiba-tiba mendadak hening, orang-orang yang awalnya mengobrol, tertawa, bahkan sedang bermesraan di sana kini terdiam.
Wajah mereka tiba-tiba berubah, tepat ketika lampu yang menerangi mereka mati dan menyala beberapa kali dan berakhir dengan nyalanya yang redup.
Semua mata dari orang-orang yang duduk disana kini menatapnya, sebuah tatapan yang kosong dari semua orang yang ada disana.
Wajah mereka tanpa pucat, bahkan beberapa yang wajahnya kurus kering sehingga urat-uratnya terlihat sangat jelas.
Pupil matanya menghilang, dan hanya menyisakan warna putih dari dalam matanya ketika mereka menatap rara yang ada disana.
Apalagi, Rara mendadak mual, dia seperti tidak sanggup untuk melihat atas apa yang terjadi di depan matanya.
Karena,
Dia melihat sesuatu yang mereka makan, sesuatu yang nampak menjijikan untuk Rara lihat pada malam itu.
Sebuah mangkuk dan piring yang nampak kusam, dan di dalamnya terlihat daging-daging yang busuk dengan belatung yang hidup di dalamnya. juga terlihat pula darah yang sudah menghitam yang berserakan di meja sehingga nampak berantakan.
Rara, yang kini mengetahui bahwa dia masih belum bisa lepas dari sesuatu yang menakutkan itu kini mundur beberapa langkah.
Detak jantungnya kembali berdetak dengan kencang, dia berusaha menangkan dirinya meskipun rasa takutnya kembali muncul seketika pada saat itu.
Dia berusaha menjauh dari tempat makan itu secara perlahan, karena dia tau. apa yang dia lihat itu bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh manusia normal.
Satu langkah,
Dua langkah,
Tiga langkah,
Rara mundur secara perlahan,
Hingga, di langkah ke lima.
Tiba-tiba abang pemilik tempat makan itu berbalik, dan menatap rara yang kini sudah menjauh sambil berkata.
“Neng jadi ga pesen makannya.”
“Pesanan si akang itu udah selesai.” katanya sambil membalikan badannya.
Sosok yang tadinya membelakangi Rara kini terlihat dengan jelas, sesosok mahluk yang tinggi dan gemuk, dengan banyak sekali bulu-bulu kasar di wajahnya, juga gigi taring yang terlihat tajam dari mulutnya serta matanya yang merah menatap rara yang kini menjauh.
Hal itu membuat rara lebih yakin bahwa apa yang dia lihat bukanlah manusia, namun mahluk lain yang sama seperti yang dia lihat di area kost.
Sehingga
Tanpa menjawab apa yang dia katakan, Rara langsung berlari, menjauhi tempat tersebut dengan rasa takut yang kembali muncul dan membuat seluruh tubuhnya merinding.
‘Ke, kenapa jadi seperti ini’
‘Bu, bukanya ini tempat makan yang sering dilewati ketika ke kampus’
Pikiran rara benar-benar kacau, dia tidak tau lagi harus berlari kemana. dia benar-benar takut, dia seperti terjebak di suatu tempat yang mirip dengan lingkungan di sekitar kostnya.
Dia terus berlari, berlari dan berlari
Dia tidak memperdulikan kemana dia akan melangkah pergi. satu-satunya yang dia pikirkan pada saat ini adalah bagaimana caranya dia bisa keluar dari situasi itu.
Meskipun
BRUAAAAKKKK
Tanpa sadar, tubuhnya tiba-tiba terjatuh. tubuh rara terguling beberapa kali ke tanah dan langsung membuatnya tak sadarkan diri.
Hingga pada saat yang sama, sebuah motor berhenti dan orang yang sedang mengendarainya mendekati Rara yang tergeletak begitu saja. bersamaan dengan banyak sekali manusia yang mengerubunginya.
Rupanya, tanpa sadar Rara lari ke arah jalan besar. dan entah mengapa dia menabrakan diri ke arah motor tersebut sehingga membuat tubuhnya sedikit terpental dan terguling di tanah. dan hal itu membuat pemilik motor itu panik dan turun dari motornya.
“Ambulan, ambulan, panggil ambulan.”
“Tolong panggil ambulan, biar aku yang tanggung, karena mau bagaimanapun wanita ini menabrakan diri ke arah motorku.”
“Cepat tolong, panggil ambulan kita harus bawa orang ini kesana.”
“Maaf bang? gimana tadi,” Kata Rara sambil mendekatkan tubuhnya ke arahnya.
Dia takut, dia salah dengar atas apa yang dikatakannya, suara dari kompor gas juga dari penggorengan membuat suasana disana sedikit berisik. Apalagi, banyak sekali suara-suara obrolan yang ada di belakang membuatnya mungkin tidak bisa mendengar jelas apa yang tadi bicarakan.
Abang nasi goreng itu tiba-tiba menghela napas panjang, tubuhnya yang besar dan gemuk itu membuat hembusan napasnya kini terdengar lebih keras.
Dengan suara yang berat, akhirnya abang nasi goreng itu berbicara kembali. bahkan kini dia membalikan badannya ke arah Rara dengan nada yang sedikit marah.
“Sudah aku bilang neng.”
Entah mengapa, salah satu tangannya tiba-tiba menggebrak meja yang berisi bahan makanan yang akan dia masak disana.
“DISINI ITU, TIDAK ADA MAKANAN UNTUK MANUSIA”
Bruaaak
Abang itu menggebrak meja, gebrakannya benar-benar kuat, bahkan tanah yang ada di sekitar rara pun bergetar dengan sangat hebat.
Apalagi, lampu yang ada disana tiba-tiba mati dan menyala beberapa kali, membuat rara sedikit ketakutan dan mundur beberapa langkah.
Lampu disana tiba-tiba redup atas apa yang dilakukan oleh orang tersebut. dan Rara secara perlahan-lahan melihat sesuatu yang tidak bisa dia pikirkan sebelumnya.
Bahan-bahan makanan yang ada di depannya, entah mengapa kini mendadak menjadi bahan makanan yang busuk, sayuran-sayuran yang awalnya terlihat segar kini nampak layu dan berbelatung, begitu pula dengan daging yang akan disiapkan untuk dimasak, bau busuknya tiba-tiba menyengat sehingga membuat rara menutup hidungnya ketika mencium bau tersebut.
Sedangkan pemilik tempat makan itu, kembali melanjutkan memasak tanpa memperdulikan Rara yang masih terdiam disana.
Pikiran Rara benar-benar kacau, dia tidak bisa berfikir jernih sekarang. apalagi, suasana tempat itu entah mengapa tiba-tiba berubah menjadi menakutkan.
Suasana yang awalnya ramai tiba-tiba mendadak hening, orang-orang yang awalnya mengobrol, tertawa, bahkan sedang bermesraan di sana kini terdiam.
Wajah mereka tiba-tiba berubah, tepat ketika lampu yang menerangi mereka mati dan menyala beberapa kali dan berakhir dengan nyalanya yang redup.
Semua mata dari orang-orang yang duduk disana kini menatapnya, sebuah tatapan yang kosong dari semua orang yang ada disana.
Wajah mereka tanpa pucat, bahkan beberapa yang wajahnya kurus kering sehingga urat-uratnya terlihat sangat jelas.
Pupil matanya menghilang, dan hanya menyisakan warna putih dari dalam matanya ketika mereka menatap rara yang ada disana.
Apalagi, Rara mendadak mual, dia seperti tidak sanggup untuk melihat atas apa yang terjadi di depan matanya.
Karena,
Dia melihat sesuatu yang mereka makan, sesuatu yang nampak menjijikan untuk Rara lihat pada malam itu.
Sebuah mangkuk dan piring yang nampak kusam, dan di dalamnya terlihat daging-daging yang busuk dengan belatung yang hidup di dalamnya. juga terlihat pula darah yang sudah menghitam yang berserakan di meja sehingga nampak berantakan.
Rara, yang kini mengetahui bahwa dia masih belum bisa lepas dari sesuatu yang menakutkan itu kini mundur beberapa langkah.
Detak jantungnya kembali berdetak dengan kencang, dia berusaha menangkan dirinya meskipun rasa takutnya kembali muncul seketika pada saat itu.
Dia berusaha menjauh dari tempat makan itu secara perlahan, karena dia tau. apa yang dia lihat itu bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh manusia normal.
Satu langkah,
Dua langkah,
Tiga langkah,
Rara mundur secara perlahan,
Hingga, di langkah ke lima.
Tiba-tiba abang pemilik tempat makan itu berbalik, dan menatap rara yang kini sudah menjauh sambil berkata.
“Neng jadi ga pesen makannya.”
“Pesanan si akang itu udah selesai.” katanya sambil membalikan badannya.
Sosok yang tadinya membelakangi Rara kini terlihat dengan jelas, sesosok mahluk yang tinggi dan gemuk, dengan banyak sekali bulu-bulu kasar di wajahnya, juga gigi taring yang terlihat tajam dari mulutnya serta matanya yang merah menatap rara yang kini menjauh.
Hal itu membuat rara lebih yakin bahwa apa yang dia lihat bukanlah manusia, namun mahluk lain yang sama seperti yang dia lihat di area kost.
Sehingga
Tanpa menjawab apa yang dia katakan, Rara langsung berlari, menjauhi tempat tersebut dengan rasa takut yang kembali muncul dan membuat seluruh tubuhnya merinding.
‘Ke, kenapa jadi seperti ini’
‘Bu, bukanya ini tempat makan yang sering dilewati ketika ke kampus’
Pikiran rara benar-benar kacau, dia tidak tau lagi harus berlari kemana. dia benar-benar takut, dia seperti terjebak di suatu tempat yang mirip dengan lingkungan di sekitar kostnya.
Dia terus berlari, berlari dan berlari
Dia tidak memperdulikan kemana dia akan melangkah pergi. satu-satunya yang dia pikirkan pada saat ini adalah bagaimana caranya dia bisa keluar dari situasi itu.
Meskipun
BRUAAAAKKKK
Tanpa sadar, tubuhnya tiba-tiba terjatuh. tubuh rara terguling beberapa kali ke tanah dan langsung membuatnya tak sadarkan diri.
Hingga pada saat yang sama, sebuah motor berhenti dan orang yang sedang mengendarainya mendekati Rara yang tergeletak begitu saja. bersamaan dengan banyak sekali manusia yang mengerubunginya.
Rupanya, tanpa sadar Rara lari ke arah jalan besar. dan entah mengapa dia menabrakan diri ke arah motor tersebut sehingga membuat tubuhnya sedikit terpental dan terguling di tanah. dan hal itu membuat pemilik motor itu panik dan turun dari motornya.
“Ambulan, ambulan, panggil ambulan.”
“Tolong panggil ambulan, biar aku yang tanggung, karena mau bagaimanapun wanita ini menabrakan diri ke arah motorku.”
“Cepat tolong, panggil ambulan kita harus bawa orang ini kesana.”
sampeuk dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Kutip
Balas
Tutup