- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Diubah oleh jurigciwidey 25-08-2023 14:07
iwakcetol dan 49 lainnya memberi reputasi
48
36.3K
Kutip
433
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#25
Bab 5 : SUASANA
Quote:
Rara tiba-tiba terdiam, wajahnya yang tadinya biasa-biasa saja kini mulai berubah menjadi pucat. bahkan uang yang dia pegang untuk membeli nasi goreng pun tak sengaja dia jatuhkan ke tanah tanpa sadar.
Anak kecil yang dia lihat nampaknya berbeda dengan anak-anak kecil yang pernah dia lihat di lingkungan kosan.
Bagaimana tidak, apa yang Rara lihat adalah sebuah anak kecil dengan wajahnya yang nampak menghitam, dengan kelopak matanya yang berwarna putih dan mata yang menatapnya berwarna sedikit kemerah-merahan.
Dia hanya tersenyum, mulutnya sedikit menyeringai dengan gigi taring kecil yang muncul dari mulutnya pada saat itu.
Apalagi, semakin Rara mendekatinya, semakin jelas pula penampilannya bahwa dia tidak memakai apapun. tubuhnya yang hitam pekat menandakan bahwa dirinya bukan dari bangsa manusia, melainkan sebuah mahluk gaib yang sama dengan apa yang dia lihat kemarin di rumah mewah itu.
Suasana kost pun mendadak menjadi hening, angin malam tiba-tiba berhembus pelan dari arah anak kecil itu dan masuk menembus sweater tipis yang Rara pakai.
Tubuh Rara pun merinding, beberapa kali tubuhnya bergidik ketika hawa dingin itu dirasakan olehnya. Dan lagi-lagi, tubuhnya seperti tidak bisa di gerakan ketika tau bahwa apa yang dia lihat bukanlah manusia, namun sosok lain yang baru pertama kali dia lihat di kostan tempat dia tinggal selama ini.
“Si, si, siapa kamu.”
“Ka, ka, kamu bukan manusia kan.”
“Ha, hayo ngaku,”
Rara mencoba memberanikan diri, dia merasa bahwa anak kecil itu tidak berbahaya. karena dia terlihat tersenyum dan menatapnya tanpa ada sinyal-sinyal untuk menyerangnya seperti yang terjadi kemarin malam.
Anak kecil itu hanya memiringkan kepalanya di depan rara, dia benar-benar terlihat senang karena mungkin kini ada manusia yang bisa melihatnya sehingga dirinya bisa berinteraksi dengannya.
“Aku sudah ada disini sebelum bangunan ini ada lho kak.”
“Kakaknya aja yang tidak tau bahwa aku ada.”
“Padahal, tiap ada orang yang berada di kamar itu, aku sering ketuk-ketuk pintunya lho tiap malam, supaya aku bisa ngobrol dengan mereka, tapi nyatanya sering tidak ada yang kuat lama-lama di ruangan itu,” kata anak kecil itu sambil menunjuk ke kamar yang ada di dekatnya. sebuah ruangan kost yang berbatasan langsung dengan kamar mandi pada saat itu.
Rara kembali terdiam, dia ingat bahwa kamar yang dia tunjuk adalah kamar yang telah lama kosong. bahkan sekarang kamar itu menjadi gudang , karena katanya tiap ada orang yang ngekost disana, mereka akan pindah kembali dalam hitungan bulan, bahkan ada yang belum satu minggu mereka sudah pindah kostan ke tempat yang lain.
Pemilik kost yang mungkin tau pun kini menutup kamar itu, karena mungkin dia tidak mau ada isu-isu yang beredar sehingga kostanya sepi, dan hal itu terjawab oleh rara sekarang. karena ternyata pelakunya kini muncul di depannya dengan wujudnya yang hitam legam.
Jujur, Rara tidak ingin berlama-lama untuk bertemu dengan anak kecil itu. meskipun nampaknya dia sangat senang ketika ada salah satu manusia yang bisa dia ajak interaksi. namun rara tidak ingin hal itu terjadi kepadanya.
Rara ingin sekali memalingkan tubuhnya untuk kembali ke kamar dan mengunci pintu kamarnya hingga pagi tiba. baju dalam yang dia pakai pun nampak basah karena keringat dingin yang terasa olehnya pada saat itu.
Bahkan rasa lapar yang dia rasakan kini tidak terasa lagi, dia hanya ingin segera ke kamar dan melupakan semuanya.
Meskipun
Tepat ketika dia memalingkan badan
Tiba-tiba
Hihihi, Hihihihi, Hihihi
“Mau kemana neng, bukan anak kecil itu aja lho yang tinggal di kostan ini.”
Hihihi, Hihihihi, Hihihihi
‘Astaga Aaaaaaaaa.’
Batin Rara tiba-tiba berteriak, tubuhnya bergetar dengan hebat, bahkan kali ini wajahnya terlihat semakin pucat dengan keringat yang membasahi wajahnya pada saat itu.
Bagaimana tidak, tepat ketika tubuhnya berbalik dia melihat sesosok wanita yang tepat berdiri disana.
Wanita dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya, rambutnya terlihat acak-acakan. bahkan ada beberapa daun-daun kering yang menempel di dalam rambutnya pada saat itu.
Wanita itu memakai baju panjang berwarna putih yang sudah kotor, terlihat banyak sekali debu-debu yang menempel di baju tersebut. Wajahnya yang tertutup rambut membuat dirinya terlihat misterius, hanya satu bola mata yang terlihat sedang melotot ke aranya di balik rambut panjang yang menutupi wajahnya pada saat itu.
Apalagi, kedua tangannya terlihat sangat pucat, sebuah tangan yang kurus dan kering sehingga urat-uratnya terlihat sangat jelas dengan kukunya yang nampak tajam.
Apalagi, nampaknya dia melayang dan tidak berjalan layaknya manusia. karena terlihat baju panjangnya seperti mengantung begitu saja tanpa menyentuh lantai.
Wanita itu terus-terusan tertawa dengan suaranya yang melengking dan menakutkan. kepalanya di gerakan ke kiri dan ke kanan di depan rara. membuat dirinya semakin shock atas apa yang dia lihat pada saat itu.
“ARGGGGHHHHHHH.”
Rara tiba-tiba berteriak, dia benar-benar tidak percaya atas apa yang dia lihat. kenapa kini matanya bisa melihat hal-hal seperti itu, sesuatu yang tidak ingin dia lihat di dalam hidupnya.
Bruaak
Rara yang ketakutan tidak sengaja menabrak tong sampah kecil yang berada di dekat kamar kost yang ada di dekatnya. Kakinya nampak berlari menjauhi kedua mahluk itu yang masih berdiri disana dan menatapnya dengan tatapan yang menyeramkan.
Tak sadar, kamar kost yang dia tempati kini dia lewati. dia merasa tidak aman untuk berada di dalam kamar kostnya sekarang, karena dia takut kedua mahluk itu akan mengikutinya sekarang.
Seperti berlari tanpa tujuan, akhirnya rara pun keluar dari kost. dia membuka pagar kostanya dan berlari melewati gang-gang kecil dengan perasaan takut yang muncul di dalam dirinya.
Aneh, sungguh aneh, gang-gang yang seharusnya ramai meskipun sudah lewat tengah malam kini nampak sepi, yang ada hanya lampu-lampu yang menyala redup di disana, hawa dingin yang dia rasakan masih sangat terasa menusuk ketika dia berlari menjauh dari sana.
Dia tidak bisa meminta pertolongan kepada Dewi, Danang, Dimas dan Ardi pada saat itu. karena HP yang dia pakai disimpan di dalam kamar kost dan tidak dia bawa.
Sehingga, satu-satunya yang dia cari adalah manusia selain dirinya, dia tau bahwa di lingkungan kostnya ada beberapa tempat makan khusus mahasiswa yang buka selama dua puluh empat jam, dan mungkin disana bisa menjadi tempat untuk dirinya beristirahat untuk sementara sambil meminta pertolongan.
Gang-gang sempit itu kini berubah menjadi gang yang sedikit lebih besar. namun nampaknya Rara masih belum bisa menemukan manusia lain selain dirinya yang ada disana.
Rasa takutnya masih belum turun meskipun dia sudah menjauh dari kostannya, dia masih mengingat bagaimana menakutkannya wanita itu tertawa sehingga membuatnya berlari seperti ini.
Setelah beberapa menit berlari, akhirnya dia melihat sebuah keramaian di ujung gang, sebuah tempat makan yang dipenuhi oleh para manusia.
Ada yang tertawa, ada yang sedang asik mengobrol, bahkan ada pula yang sedang fokus akan makannya.
Rara yang melihat itu langsung mempercepat langkahnya, rasa takut yang dia rasakan sengaja dia tutupi dan bersikap biasa-biasa saja seperti tidak ada kejadian apa-apa ketika mendekati tempat itu.
Apalagi, perut yang lapar membuat dirinya ingin memesan sesuatu yang ada disana sambil menunggu pagi tiba.
“Bang, boleh pesen nasi goreng ga satu bang.”
Rara yang kini berada di tempat itu langsung memesan makanan, dia memesan makanan itu sambil sesekali kali melihat ke arah gang. Dia takut, wanita itu akan mengejarnya dari arah kostannya.
“Bang.”
“Bang.”
Nampaknya abang tidak mendengarkannya, dia seperti fokus memasak sesuatu sehingga tubuhnya membelakangi dirinya pada saat itu.
“Bang”
“Bang, pesen nasi goreng satu ya,” Kata Rara yang kembali mengulang perkataannya
Bahkan kali ini dia menepuk pundak abang itu, agar dia bisa mengerjakan pesanannya sembari mencari tempat duduk disana.
Namun, entah mengapa, abang nasi goreng yang fokus membelakangi Rara tiba-tiba menjawab dengan nada yang sedikit berat dengan sebuah hembusan napas yang panjang seperti hewan buas. sehingga hal itu membuat Rara kembali terdiam, karena itu bukanlah jawaban yang biasa dia dengar ketika dia memesan makanan disana selama dia kost di lingkungan itu.
“Disini ga ada nasi goreng neng, nasi goreng itu makanan manusia.”
Anak kecil yang dia lihat nampaknya berbeda dengan anak-anak kecil yang pernah dia lihat di lingkungan kosan.
Bagaimana tidak, apa yang Rara lihat adalah sebuah anak kecil dengan wajahnya yang nampak menghitam, dengan kelopak matanya yang berwarna putih dan mata yang menatapnya berwarna sedikit kemerah-merahan.
Dia hanya tersenyum, mulutnya sedikit menyeringai dengan gigi taring kecil yang muncul dari mulutnya pada saat itu.
Apalagi, semakin Rara mendekatinya, semakin jelas pula penampilannya bahwa dia tidak memakai apapun. tubuhnya yang hitam pekat menandakan bahwa dirinya bukan dari bangsa manusia, melainkan sebuah mahluk gaib yang sama dengan apa yang dia lihat kemarin di rumah mewah itu.
Suasana kost pun mendadak menjadi hening, angin malam tiba-tiba berhembus pelan dari arah anak kecil itu dan masuk menembus sweater tipis yang Rara pakai.
Tubuh Rara pun merinding, beberapa kali tubuhnya bergidik ketika hawa dingin itu dirasakan olehnya. Dan lagi-lagi, tubuhnya seperti tidak bisa di gerakan ketika tau bahwa apa yang dia lihat bukanlah manusia, namun sosok lain yang baru pertama kali dia lihat di kostan tempat dia tinggal selama ini.
“Si, si, siapa kamu.”
“Ka, ka, kamu bukan manusia kan.”
“Ha, hayo ngaku,”
Rara mencoba memberanikan diri, dia merasa bahwa anak kecil itu tidak berbahaya. karena dia terlihat tersenyum dan menatapnya tanpa ada sinyal-sinyal untuk menyerangnya seperti yang terjadi kemarin malam.
Anak kecil itu hanya memiringkan kepalanya di depan rara, dia benar-benar terlihat senang karena mungkin kini ada manusia yang bisa melihatnya sehingga dirinya bisa berinteraksi dengannya.
“Aku sudah ada disini sebelum bangunan ini ada lho kak.”
“Kakaknya aja yang tidak tau bahwa aku ada.”
“Padahal, tiap ada orang yang berada di kamar itu, aku sering ketuk-ketuk pintunya lho tiap malam, supaya aku bisa ngobrol dengan mereka, tapi nyatanya sering tidak ada yang kuat lama-lama di ruangan itu,” kata anak kecil itu sambil menunjuk ke kamar yang ada di dekatnya. sebuah ruangan kost yang berbatasan langsung dengan kamar mandi pada saat itu.
Rara kembali terdiam, dia ingat bahwa kamar yang dia tunjuk adalah kamar yang telah lama kosong. bahkan sekarang kamar itu menjadi gudang , karena katanya tiap ada orang yang ngekost disana, mereka akan pindah kembali dalam hitungan bulan, bahkan ada yang belum satu minggu mereka sudah pindah kostan ke tempat yang lain.
Pemilik kost yang mungkin tau pun kini menutup kamar itu, karena mungkin dia tidak mau ada isu-isu yang beredar sehingga kostanya sepi, dan hal itu terjawab oleh rara sekarang. karena ternyata pelakunya kini muncul di depannya dengan wujudnya yang hitam legam.
Jujur, Rara tidak ingin berlama-lama untuk bertemu dengan anak kecil itu. meskipun nampaknya dia sangat senang ketika ada salah satu manusia yang bisa dia ajak interaksi. namun rara tidak ingin hal itu terjadi kepadanya.
Rara ingin sekali memalingkan tubuhnya untuk kembali ke kamar dan mengunci pintu kamarnya hingga pagi tiba. baju dalam yang dia pakai pun nampak basah karena keringat dingin yang terasa olehnya pada saat itu.
Bahkan rasa lapar yang dia rasakan kini tidak terasa lagi, dia hanya ingin segera ke kamar dan melupakan semuanya.
Meskipun
Tepat ketika dia memalingkan badan
Tiba-tiba
Hihihi, Hihihihi, Hihihi
“Mau kemana neng, bukan anak kecil itu aja lho yang tinggal di kostan ini.”
Hihihi, Hihihihi, Hihihihi
‘Astaga Aaaaaaaaa.’
Batin Rara tiba-tiba berteriak, tubuhnya bergetar dengan hebat, bahkan kali ini wajahnya terlihat semakin pucat dengan keringat yang membasahi wajahnya pada saat itu.
Bagaimana tidak, tepat ketika tubuhnya berbalik dia melihat sesosok wanita yang tepat berdiri disana.
Wanita dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya, rambutnya terlihat acak-acakan. bahkan ada beberapa daun-daun kering yang menempel di dalam rambutnya pada saat itu.
Wanita itu memakai baju panjang berwarna putih yang sudah kotor, terlihat banyak sekali debu-debu yang menempel di baju tersebut. Wajahnya yang tertutup rambut membuat dirinya terlihat misterius, hanya satu bola mata yang terlihat sedang melotot ke aranya di balik rambut panjang yang menutupi wajahnya pada saat itu.
Apalagi, kedua tangannya terlihat sangat pucat, sebuah tangan yang kurus dan kering sehingga urat-uratnya terlihat sangat jelas dengan kukunya yang nampak tajam.
Apalagi, nampaknya dia melayang dan tidak berjalan layaknya manusia. karena terlihat baju panjangnya seperti mengantung begitu saja tanpa menyentuh lantai.
Wanita itu terus-terusan tertawa dengan suaranya yang melengking dan menakutkan. kepalanya di gerakan ke kiri dan ke kanan di depan rara. membuat dirinya semakin shock atas apa yang dia lihat pada saat itu.
“ARGGGGHHHHHHH.”
Rara tiba-tiba berteriak, dia benar-benar tidak percaya atas apa yang dia lihat. kenapa kini matanya bisa melihat hal-hal seperti itu, sesuatu yang tidak ingin dia lihat di dalam hidupnya.
Bruaak
Rara yang ketakutan tidak sengaja menabrak tong sampah kecil yang berada di dekat kamar kost yang ada di dekatnya. Kakinya nampak berlari menjauhi kedua mahluk itu yang masih berdiri disana dan menatapnya dengan tatapan yang menyeramkan.
Tak sadar, kamar kost yang dia tempati kini dia lewati. dia merasa tidak aman untuk berada di dalam kamar kostnya sekarang, karena dia takut kedua mahluk itu akan mengikutinya sekarang.
Seperti berlari tanpa tujuan, akhirnya rara pun keluar dari kost. dia membuka pagar kostanya dan berlari melewati gang-gang kecil dengan perasaan takut yang muncul di dalam dirinya.
Aneh, sungguh aneh, gang-gang yang seharusnya ramai meskipun sudah lewat tengah malam kini nampak sepi, yang ada hanya lampu-lampu yang menyala redup di disana, hawa dingin yang dia rasakan masih sangat terasa menusuk ketika dia berlari menjauh dari sana.
Dia tidak bisa meminta pertolongan kepada Dewi, Danang, Dimas dan Ardi pada saat itu. karena HP yang dia pakai disimpan di dalam kamar kost dan tidak dia bawa.
Sehingga, satu-satunya yang dia cari adalah manusia selain dirinya, dia tau bahwa di lingkungan kostnya ada beberapa tempat makan khusus mahasiswa yang buka selama dua puluh empat jam, dan mungkin disana bisa menjadi tempat untuk dirinya beristirahat untuk sementara sambil meminta pertolongan.
Gang-gang sempit itu kini berubah menjadi gang yang sedikit lebih besar. namun nampaknya Rara masih belum bisa menemukan manusia lain selain dirinya yang ada disana.
Rasa takutnya masih belum turun meskipun dia sudah menjauh dari kostannya, dia masih mengingat bagaimana menakutkannya wanita itu tertawa sehingga membuatnya berlari seperti ini.
Setelah beberapa menit berlari, akhirnya dia melihat sebuah keramaian di ujung gang, sebuah tempat makan yang dipenuhi oleh para manusia.
Ada yang tertawa, ada yang sedang asik mengobrol, bahkan ada pula yang sedang fokus akan makannya.
Rara yang melihat itu langsung mempercepat langkahnya, rasa takut yang dia rasakan sengaja dia tutupi dan bersikap biasa-biasa saja seperti tidak ada kejadian apa-apa ketika mendekati tempat itu.
Apalagi, perut yang lapar membuat dirinya ingin memesan sesuatu yang ada disana sambil menunggu pagi tiba.
“Bang, boleh pesen nasi goreng ga satu bang.”
Rara yang kini berada di tempat itu langsung memesan makanan, dia memesan makanan itu sambil sesekali kali melihat ke arah gang. Dia takut, wanita itu akan mengejarnya dari arah kostannya.
“Bang.”
“Bang.”
Nampaknya abang tidak mendengarkannya, dia seperti fokus memasak sesuatu sehingga tubuhnya membelakangi dirinya pada saat itu.
“Bang”
“Bang, pesen nasi goreng satu ya,” Kata Rara yang kembali mengulang perkataannya
Bahkan kali ini dia menepuk pundak abang itu, agar dia bisa mengerjakan pesanannya sembari mencari tempat duduk disana.
Namun, entah mengapa, abang nasi goreng yang fokus membelakangi Rara tiba-tiba menjawab dengan nada yang sedikit berat dengan sebuah hembusan napas yang panjang seperti hewan buas. sehingga hal itu membuat Rara kembali terdiam, karena itu bukanlah jawaban yang biasa dia dengar ketika dia memesan makanan disana selama dia kost di lingkungan itu.
“Disini ga ada nasi goreng neng, nasi goreng itu makanan manusia.”
sampeuk dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Kutip
Balas
Tutup