- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey Kemarin 11:19
tiokyapcing dan 51 lainnya memberi reputasi
50
36.4K
Kutip
435
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#22
Bab 5 : PULANG
Quote:
Langit yang awalnya gelap secara perlahan-lahan berubah menjadi merah kekuning-kuningan, bersamaan dengan banyak sekali kelelawar yang terbang kembali ke sarangnya menutupi langit dengan warnanya yang hitam.
Rumah yang megah itu kini mereka tinggalkan, setelah tidak sadarnya Rara di dalam rumah membuat mereka semua menghentikan segala aktivitasnya disana, dan memutuskan untuk pulang menyusuri jalan kecil dan berbatu ke arah tempat tinggal mereka saat ini.
Rumah tersebut memang berada di tengah-tengah hutan, tepatnya di sebuah lahan bekas perkebunan yang luas yang kini terbengkalai karena tidak ada yang mau mengurusnya.
Sehingga, kebun-kebun itu kini nampak seperti hutan, dengan pepohonan yang rimbun dan rumput-rumput ilalang yang tinggi menjulang hingga ke atas.
Rara, yang masih syok atas kejadian itu nampak hanya terdiam di dalam mobil yang mereka tumpangi, kepalanya dia tempelkan ke arah jendela mobil dengan tatapan yang kosong memandangi cahaya matahari yang secara perlahan-lahan muncul dari ufuk timur di pagi itu.
“Wi, gue lihat yang nyawer banyak nih, bahkan lebih banyak dari konten-konten kita yang lain”
“Apalagi siapa tuh yang akunnya, D_BT dia beberapa kali kirim singa ke kita, satu singa aja udah jutaan ini lebih dari sepuluh kali dia ngirim begituan,” kata Danang yang terlihat senang sambil memegang setir mobil yang kini berjalan di jalanan berbatu disana.
“Hush, jangan sekarang bahas gituan, liat Rara, shock seperti itu atas apa yang terjadi semalam.”
Dewi yang duduk di sebelah danang langsung menyenggol tubuh danang dan berbicara dengan nada yang pelan agar danang tidak membahas hal itu lagi.
Tiba-tiba, dewi pun berbalik, dia melihat Rara yang masih terdiam menatap jalan disana. Dia tau bagaimana shocknya Rara pada saat itu, meskipun mereka tidak tahu kenapa rara sampai bisa melakukan hal yang seperti itu, namun dewi yakin pasti ada sesuatu yang terjadi kepadanya dan rara pada saat ini masih belum bisa menceritakan hal tersebut kepada mereka semua.
“Ra, gue minta maaf ya, gue terlalu ngepush elu agar bisa membuat konten yang menarik”
sudah beberapa kali Dewi meminta maaf kepada rara pada saat itu, raut wajahnya yang merasa bersalah atas apa yang terjadi membuat dirinya benar-benar tulus meminta maaf kepada sahabatnya tersebut.
Rara hanya bisa mengangguk, dan menjawab dengan sangat pelan bahwa dia sudah memaafkannya dan tidak terlalu khawatir atas apa yang terjadi padanya pada saat ini.
“Udah, udah, paling nanti wi, kita coba konsep ulang apabila ingin bikin konten seperti ini lagi. mungkin nanti Rara akan ditemani oleh lu dan si Danang di depan kamera, jadi kalau ada apa-apa, salah satu dari kalian bisa mencegah hal yang terjadi seperti pada Rara tadi malam.”
“Biar nanti yang fokus akan kamera dan peralatan hanya gue sama si Ardi aja.”
“Bener kan di,” kata Dimas yang duduk di samping rara mencoba menenangkan situasi yang ada.
Ardi yang duduk di belakang bersama peralatan yang mereka bawa hanya mengangkat jempolnya pada saat itu, sedangkan Dewi terlihat sedang memikirkan apa yang Dimas katakan pada saat itu.
“Bener, bener seperti itu aja, lu jangan khawatir lagi ya ra,” kata Dewi yang masih merasa bersalah.
Rara yang terdiam hanya mengangguk, dan berkata dengan nada yang sangat pelan.
“Nanti saja kita bahas hal itu ya, jujur gue pengen banget istirahat sekarang ini. gue pengen nenangin pikiran dulu wi.”
“Gue ga nyalahin kalian ko, sudah konsekuensi gue di depan kamera terjadi hal-hal kayak gini kalau buat konten horror, dan gue sepakat akan hal itu ketika kita briefing pertama kali untuk melakukan konten itu.”
“Jadi,”
“Tolong, biarkan gue istirahat dulu ya, anterin gue ke kost ya wi, gue pengen istirahat”
Semua yang mendengarkan apa yang Rara bicarakan langsung terdiam, mereka semua sepakat mengangguk atas apa yang Rara minta para saat itu.
Rara akhirnya kembali melihat pemandangan hutan setelah pembicaraan mereka selesai. Kini, secara perlahan-lahan pemandangan hutan berganti menjadi rumah-rumah warga yang sederhana, bersamaan dengan jalan yang mulai mulus dengan banyak sekali aktivitas warga yang terlihat di pagi itu.
Rupanya, mobil yang mereka kendarai kini sudah keluar dari area rumah mewah tersebut, dan kini mulai masuk perkampungan, dimana rasa shock Rara sudah perlahan mulai menghilang karena dia merasa kini dia sudah benar-benar meninggalkan rumah mewah itu beserta segala keangkerannya yang kini jauh di belakang mereka.
***
Sebuah kasur yang nyaman di dalam sebuah kamar kost berukuran tiga kali tiga meter kini terlihat dengan jelas, kasur dengan sprei berwarna putih dengan corak bulatan-bulatan kecil berwarna coklat membuat kamar kost itu terasa sempit.
Terlihat, Rara nampak masih lelap tertidur. tubuh dan pikirannya benar-benar terasa tercampur aduk oleh rasa takut yang dia alami semalam.
Suasana hening kost yang dia tinggali membuat dirinya bisa memejamkan mata dan tertidur pulas di hari itu.
Tak terasa pula, siang hari dengan panasnya yang terik juga sore hari dengan matahari yang terbenam di ufuk barat pun terlewati dengan cepat.
Namun, rasa lelah yang rara rasakan tidak serta merta membiarkan perutnya yang kini keroncongan. Terakhir dia makan adalah sarapan pagi bersama Dewi dan timnya ketika dia pulang dari rumah mewah tersebut, dan hingga malam tiba, perutnya belum terisi kembali.
“Hoaaaaammmm.”
mata Rara yang awalnya terpejam kini nampak terbuka secara perlahan. dia melihat langit-langit berwarna putih dengan lampu kamar yang menyala dengan terang, sesekali mulutnya menguap karena dia masih merasa lelah pada saat itu.
Namun, perutnya tidak bisa berkompromi, dia harus mengisi perutnya lagi sebelum akhirnya kembali beristirahat.
Apa yang terjadi kemarin malam lupanya sudah sedikit dilupakan oleh Rara, hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang di lingkungan kostnya membuat Rara merasa aman, karena tidak ada hal-hal yang mengerikan seperti yang terjadi di dalam rumah mewah itu.
Rara pun akhirnya bangun dari tidurnya, pandangannya tertuju kepada jam dinding bergambar burung hantu yang lucu berwarna cokelat yang menunjukan jam 23.00 malam.
‘Gue tidur ampe mau tengah malem gini.’
‘Hoaaammm.’
‘Masih ada nasi goreng ga ya jam segini,’ gumam Rara dalam batinnya.
Dengan wajahnya yang nampak masih mengantuk, dia akhirnya berdiri, mengambil dompet yang ada di meja kecil di sebelah kasurnya, dan mengambil uang lima puluh ribuan untuk dia bawa keluar mencari makan pada saat itu.
Tidak ada perasaan khawatir lagi sekarang, lingkungan kostan dekat kampus memang akan terus hidup meskipun waktu sudah hampir tengah malam, karena banyak sekali mahasiswa yang masih beraktifitas di malam yang larut ini.
Seperti sudah terbiasa keluar malam, akhirnya Rara memakai sweater tipisnya dan memakai sandal jepit untuk keluar.
Tak lama, dia pun keluar dari kostan yang nampak nyaman. sebuah kost yang dia sewa setelah dia membuat konten dengan Dewi dan timnya, uang dari konten membuat dirinya bisa membiayai kuliah dan kostannya setiap bulan, sehingga meskipun kemaren dia mendapatkan pengalaman yang mengerikan. Namun itu tidak seberapa dengan hasil yang dia hasilnya dengan timnya hingga saat ini.
Kostan tersebut adalah kostan yang memanjang berisi sepuluh kamar. sebuah kostan yang tidak terlalu megah namun lebih baik daripada kostan dirinya ketika dirinya belum aktif membuat konten dengan Dewi dan timnya.
Nampak sebuah lorong panjang terlihat, dan Rara yang baru keluar nampak melihat ke kiri dan kanan untuk melihat keadaan kost yang kini nampak sedikit gelap.
Namun, entah mengapa kini pandangannya terhenti ketika menatap sesuatu yang berada di ujung kost. Tepat di ujung lorong yang bersebelahan dengan kamar mandi untuk para penghuni kost yang ada disana.
Karena disana, dia melihat seorang anak kecil yang nampak terlihat asik memainkan handuk-handuk para penghuni kost yang menggantung disana. meskipun dia tidak bisa melihat dengan jelas raut wajah anak kecil tersebut, namun dia merasa aneh karena tidak ada penghuni kosan yang tinggal sambil membawa anak kecil disana.
“Hey, hey.” Rara yang beranggapan bahwa dia adalah salah satu warga yang sedang iseng untuk mengambil handuk dari para penghuni kost yang tinggal disana mencoba memanggilnya agar dirinya tau bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya pada saat itu.
“Ngapain lu, mau curi handuk ya,” kata rara sambil mendekati anak kecil itu.
Anak kecil itu rupanya mendengar suara Rara, dia pun akhirnya memalingkan wajahnya ke arah Rara yang berjalan mendekati dirinya pada saat itu.
Namun, tidak di sangka-sangka dia berkata kepadanya sambil tersenyum kecil, seperti ada sesuatu yang membuat dia senang ketika Rara memanggilnya pada malam itu.
“Kakak, ko kakak bisa lihat aku sekarang kalau ada aku disini,” katanya dengan senyumnya yang menyeringai dan terlihat sebuah taring kecil yang keluar dari mulutnya pada saat itu.
Rumah yang megah itu kini mereka tinggalkan, setelah tidak sadarnya Rara di dalam rumah membuat mereka semua menghentikan segala aktivitasnya disana, dan memutuskan untuk pulang menyusuri jalan kecil dan berbatu ke arah tempat tinggal mereka saat ini.
Rumah tersebut memang berada di tengah-tengah hutan, tepatnya di sebuah lahan bekas perkebunan yang luas yang kini terbengkalai karena tidak ada yang mau mengurusnya.
Sehingga, kebun-kebun itu kini nampak seperti hutan, dengan pepohonan yang rimbun dan rumput-rumput ilalang yang tinggi menjulang hingga ke atas.
Rara, yang masih syok atas kejadian itu nampak hanya terdiam di dalam mobil yang mereka tumpangi, kepalanya dia tempelkan ke arah jendela mobil dengan tatapan yang kosong memandangi cahaya matahari yang secara perlahan-lahan muncul dari ufuk timur di pagi itu.
“Wi, gue lihat yang nyawer banyak nih, bahkan lebih banyak dari konten-konten kita yang lain”
“Apalagi siapa tuh yang akunnya, D_BT dia beberapa kali kirim singa ke kita, satu singa aja udah jutaan ini lebih dari sepuluh kali dia ngirim begituan,” kata Danang yang terlihat senang sambil memegang setir mobil yang kini berjalan di jalanan berbatu disana.
“Hush, jangan sekarang bahas gituan, liat Rara, shock seperti itu atas apa yang terjadi semalam.”
Dewi yang duduk di sebelah danang langsung menyenggol tubuh danang dan berbicara dengan nada yang pelan agar danang tidak membahas hal itu lagi.
Tiba-tiba, dewi pun berbalik, dia melihat Rara yang masih terdiam menatap jalan disana. Dia tau bagaimana shocknya Rara pada saat itu, meskipun mereka tidak tahu kenapa rara sampai bisa melakukan hal yang seperti itu, namun dewi yakin pasti ada sesuatu yang terjadi kepadanya dan rara pada saat ini masih belum bisa menceritakan hal tersebut kepada mereka semua.
“Ra, gue minta maaf ya, gue terlalu ngepush elu agar bisa membuat konten yang menarik”
sudah beberapa kali Dewi meminta maaf kepada rara pada saat itu, raut wajahnya yang merasa bersalah atas apa yang terjadi membuat dirinya benar-benar tulus meminta maaf kepada sahabatnya tersebut.
Rara hanya bisa mengangguk, dan menjawab dengan sangat pelan bahwa dia sudah memaafkannya dan tidak terlalu khawatir atas apa yang terjadi padanya pada saat ini.
“Udah, udah, paling nanti wi, kita coba konsep ulang apabila ingin bikin konten seperti ini lagi. mungkin nanti Rara akan ditemani oleh lu dan si Danang di depan kamera, jadi kalau ada apa-apa, salah satu dari kalian bisa mencegah hal yang terjadi seperti pada Rara tadi malam.”
“Biar nanti yang fokus akan kamera dan peralatan hanya gue sama si Ardi aja.”
“Bener kan di,” kata Dimas yang duduk di samping rara mencoba menenangkan situasi yang ada.
Ardi yang duduk di belakang bersama peralatan yang mereka bawa hanya mengangkat jempolnya pada saat itu, sedangkan Dewi terlihat sedang memikirkan apa yang Dimas katakan pada saat itu.
“Bener, bener seperti itu aja, lu jangan khawatir lagi ya ra,” kata Dewi yang masih merasa bersalah.
Rara yang terdiam hanya mengangguk, dan berkata dengan nada yang sangat pelan.
“Nanti saja kita bahas hal itu ya, jujur gue pengen banget istirahat sekarang ini. gue pengen nenangin pikiran dulu wi.”
“Gue ga nyalahin kalian ko, sudah konsekuensi gue di depan kamera terjadi hal-hal kayak gini kalau buat konten horror, dan gue sepakat akan hal itu ketika kita briefing pertama kali untuk melakukan konten itu.”
“Jadi,”
“Tolong, biarkan gue istirahat dulu ya, anterin gue ke kost ya wi, gue pengen istirahat”
Semua yang mendengarkan apa yang Rara bicarakan langsung terdiam, mereka semua sepakat mengangguk atas apa yang Rara minta para saat itu.
Rara akhirnya kembali melihat pemandangan hutan setelah pembicaraan mereka selesai. Kini, secara perlahan-lahan pemandangan hutan berganti menjadi rumah-rumah warga yang sederhana, bersamaan dengan jalan yang mulai mulus dengan banyak sekali aktivitas warga yang terlihat di pagi itu.
Rupanya, mobil yang mereka kendarai kini sudah keluar dari area rumah mewah tersebut, dan kini mulai masuk perkampungan, dimana rasa shock Rara sudah perlahan mulai menghilang karena dia merasa kini dia sudah benar-benar meninggalkan rumah mewah itu beserta segala keangkerannya yang kini jauh di belakang mereka.
***
Sebuah kasur yang nyaman di dalam sebuah kamar kost berukuran tiga kali tiga meter kini terlihat dengan jelas, kasur dengan sprei berwarna putih dengan corak bulatan-bulatan kecil berwarna coklat membuat kamar kost itu terasa sempit.
Terlihat, Rara nampak masih lelap tertidur. tubuh dan pikirannya benar-benar terasa tercampur aduk oleh rasa takut yang dia alami semalam.
Suasana hening kost yang dia tinggali membuat dirinya bisa memejamkan mata dan tertidur pulas di hari itu.
Tak terasa pula, siang hari dengan panasnya yang terik juga sore hari dengan matahari yang terbenam di ufuk barat pun terlewati dengan cepat.
Namun, rasa lelah yang rara rasakan tidak serta merta membiarkan perutnya yang kini keroncongan. Terakhir dia makan adalah sarapan pagi bersama Dewi dan timnya ketika dia pulang dari rumah mewah tersebut, dan hingga malam tiba, perutnya belum terisi kembali.
“Hoaaaaammmm.”
mata Rara yang awalnya terpejam kini nampak terbuka secara perlahan. dia melihat langit-langit berwarna putih dengan lampu kamar yang menyala dengan terang, sesekali mulutnya menguap karena dia masih merasa lelah pada saat itu.
Namun, perutnya tidak bisa berkompromi, dia harus mengisi perutnya lagi sebelum akhirnya kembali beristirahat.
Apa yang terjadi kemarin malam lupanya sudah sedikit dilupakan oleh Rara, hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang di lingkungan kostnya membuat Rara merasa aman, karena tidak ada hal-hal yang mengerikan seperti yang terjadi di dalam rumah mewah itu.
Rara pun akhirnya bangun dari tidurnya, pandangannya tertuju kepada jam dinding bergambar burung hantu yang lucu berwarna cokelat yang menunjukan jam 23.00 malam.
‘Gue tidur ampe mau tengah malem gini.’
‘Hoaaammm.’
‘Masih ada nasi goreng ga ya jam segini,’ gumam Rara dalam batinnya.
Dengan wajahnya yang nampak masih mengantuk, dia akhirnya berdiri, mengambil dompet yang ada di meja kecil di sebelah kasurnya, dan mengambil uang lima puluh ribuan untuk dia bawa keluar mencari makan pada saat itu.
Tidak ada perasaan khawatir lagi sekarang, lingkungan kostan dekat kampus memang akan terus hidup meskipun waktu sudah hampir tengah malam, karena banyak sekali mahasiswa yang masih beraktifitas di malam yang larut ini.
Seperti sudah terbiasa keluar malam, akhirnya Rara memakai sweater tipisnya dan memakai sandal jepit untuk keluar.
Tak lama, dia pun keluar dari kostan yang nampak nyaman. sebuah kost yang dia sewa setelah dia membuat konten dengan Dewi dan timnya, uang dari konten membuat dirinya bisa membiayai kuliah dan kostannya setiap bulan, sehingga meskipun kemaren dia mendapatkan pengalaman yang mengerikan. Namun itu tidak seberapa dengan hasil yang dia hasilnya dengan timnya hingga saat ini.
Kostan tersebut adalah kostan yang memanjang berisi sepuluh kamar. sebuah kostan yang tidak terlalu megah namun lebih baik daripada kostan dirinya ketika dirinya belum aktif membuat konten dengan Dewi dan timnya.
Nampak sebuah lorong panjang terlihat, dan Rara yang baru keluar nampak melihat ke kiri dan kanan untuk melihat keadaan kost yang kini nampak sedikit gelap.
Namun, entah mengapa kini pandangannya terhenti ketika menatap sesuatu yang berada di ujung kost. Tepat di ujung lorong yang bersebelahan dengan kamar mandi untuk para penghuni kost yang ada disana.
Karena disana, dia melihat seorang anak kecil yang nampak terlihat asik memainkan handuk-handuk para penghuni kost yang menggantung disana. meskipun dia tidak bisa melihat dengan jelas raut wajah anak kecil tersebut, namun dia merasa aneh karena tidak ada penghuni kosan yang tinggal sambil membawa anak kecil disana.
“Hey, hey.” Rara yang beranggapan bahwa dia adalah salah satu warga yang sedang iseng untuk mengambil handuk dari para penghuni kost yang tinggal disana mencoba memanggilnya agar dirinya tau bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya pada saat itu.
“Ngapain lu, mau curi handuk ya,” kata rara sambil mendekati anak kecil itu.
Anak kecil itu rupanya mendengar suara Rara, dia pun akhirnya memalingkan wajahnya ke arah Rara yang berjalan mendekati dirinya pada saat itu.
Namun, tidak di sangka-sangka dia berkata kepadanya sambil tersenyum kecil, seperti ada sesuatu yang membuat dia senang ketika Rara memanggilnya pada malam itu.
“Kakak, ko kakak bisa lihat aku sekarang kalau ada aku disini,” katanya dengan senyumnya yang menyeringai dan terlihat sebuah taring kecil yang keluar dari mulutnya pada saat itu.
mmuji1575 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
Kutip
Balas
Tutup