- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
tiokyapcing dan 51 lainnya memberi reputasi
50
36.7K
Kutip
436
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#15
Bab 4 - RUANGAN
Quote:
Cahaya malam terasa terang pada malam ini, bintang dan bulan menemani bersamaan dengan awan tipis dan suara-suara hewan yang saling bersahutan menyambut malam.
Entah mengapa, Rara tiba-tiba seperti sedang berdiri di depan pintu megah berwarna cokelat. Dia sendiri bingung kenapa dirinya sudah berada disini sekarang.
Rasanya ingin sekali dia membalikan badan dari pintu itu, namun tubuhnya sangat sulit untuk bergerak. Tubuhnya hanya bisa berdiri menatap pintu yang tertutup itu dalam waktu yang lama. Seperti menunggu seseorang yang akan membuka pintu tersebut dari dalam.
Benar saja. dari dalam terdengar sebuah langkah kaki yang berjalan menghampirinya, dia sepertinya sudah tau bahwa Rara sudah menunggu disana.
Pintu itu terbuka secara perlahan, suara besi-besi engsel yang sudah berkarat terdengar jelas oleh kedua telinga Rara.
Dirinya yang berdiri dibalik pintu itu pun bisa menyaksikan adanya sebuah tangan yang terlihat keluar. Sebuah tangan dari seorang wanita paruh baya yang nampak akan menyambutnya disana.
“Akhirnya sudah datang juga.”
“Mari masuk.”
Nampak seorang wanita dengan baju daster panjang menyambutnya dengan senyumannya yang hangat. Rambutnya yang disanggul layaknya wanita jaman dulu terlihat sangat jelas oleh kedua mata Rara, tubuhnya sedikit gemuk, juga wajahnya yang sudah berkeriput.
Mengingatkan dirinya kepada sosok ibunya yang tinggal di kampung pada saat itu.
“Eh kenapa diam.”
“Sini masuk nak, semuanya sudah berkumpul di dalam sini,” katanya sambil mengajak Rara masuk ke dalam sana.
Rara benar-benar bingung, ada apa sebenarnya, kenapa dirinya berada di tempat yang asing sekarang.
Otaknya kini dipenuhi dengan tanda tanya, namun entah mengapa, tubuhnya seperti bergerak sendiri masuk ke dalam tanpa dia perintahkan.
Hingga akhirnya.
Mata Rara tiba-tiba terbelalak, tepat ketika tubuhnya berjalan dan masuk melewati pintu itu tanpa dia sadari.
Dia tidak bisa menyangka bahwa dibalik pintu itu ada sebuah ruangan yang sangat megah. Sebuah lampu kristal terlihat menawan menggantung dengan cahayanya yang putih kekuning-kuningan, juga banyak sekali foto-foto manusia di dinding dengan wajah-wajahnya yang tersenyum menatap dirinya sekarang.
Wanita itu berjalan secara perlahan, tubuhnya yang sedikit gemuk membuat dirinya sedikit kesusahan untuk berjalan pada saat itu.
Sedangkan Rara mengikutinya dari belakang sambil melihat ruangan megah tersebut dengan kedua matanya.
Wanita itu menemani Rara ke ruangan lain yang berada tepat di belakang ruangan megah itu, sebuah ruangan yang tampaknya lebih kecil dari apa yang sudah dirinya lihat.
Nampak ada sebuah tirai merah yang menjadi pembatas antar ruangan, sebuah tirai dengan corak batik yang terlihat megah.
Telinga Rara secara samar-samar mendengar banyak sekali suara-suara orang yang sedang berbincang-bincang di dalam sana.
Suara tawa
Suara tangisan
Bahkan suara lemparan benda-benda dan suara gebrakan meja serta kursi yang membuat pikiran Rara semakin aneh sekarang.
“Tidak usah takut, mereka memang seperti itu.”
Wanita itu nampaknya tahu atas apa yang dirasakan oleh Rara, sehingga dia membalikan tubuhnya dan mencoba menenangkan Rara sambil tersenyum pada saat itu.
Rara benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, karena baru kali ini dia mengalami hal yang seperti ini, sesuatu hal yang berada diluar nalar dirinya sekarang.
Rara hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan, dan ketika anggukan itu terlihat oleh wanita tersebut. Dia kembali tersenyum dan membalikan badannya kembali untuk membuka tirai ruangan yang kini ada di depannya.
“Ayo masuk, tampaknya mereka sudah menunggu.”
Tirai merah yang menjadi sebuah pembatas ruangan pun dia buka, Rara kembali melihat dengan jelas sebuah ruangan yang berbeda.
Sebuah ruangan yang lumayan besar namun tidak sebesar ruangan megah yang sudah dia lewati sebelumnya.
Namun,
Di dalamnya agak sedikit penuh dengan orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Berbagai macam orang terlihat memenuhi ruangan tersebut. Kakek, nenek, laki-laki, perempuan, bahkan ada anak-anak dan bayi yang sedang tertidur di ruangan tersebut.
‘sebenarnya, ruangan apa ini.’
Batin Rara benar-benar mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Namun dirinya tidak bisa mengingat apa yang sudah dia lakukan sebelum dirinya sampai di tempat ini.
“Tidak usah ragu, kamu mungkin sekarang sudah menjadi bagian dari kami.”
“atau,”
Brakkk
Rara yang awalnya mendengar wanita itu berbicara dengan nada yang pelan. Tiba-tiba dikagetkan oleh suara gebrakan meja yang ada di dalam ruangan.
Pandangan Rara yang awalnya melihat wanita itu langsung berubah, dan terlihat disana ada seseorang yang berdiri dan mendekati Rara secara perlahan.
Seseorang dengan tubuh yang tinggi kemudian berjalan mendekatinya, matanya melotot tajam dan nampak seperti marah terhadap Rara yang berdiri disana.
“DIA BUKAN BAGIAN DARI KITA, JADI JANGAN KAU AJAK DIA KE RUANGAN INI.”
Seorang laki-laki dengan tubuhnya yang tinggi itu tiba-tiba berteriak, dia nampak memarahi wanita itu dengan nadanya yang membuat tubuh Rara bergidik ketakutan.
“Ta, ta, tapi, nanti dia kan akan menjadi bagian dari kita.”
Wanita itu kini nampak gugup, dia juga nampak ketakutan setelah laki-laki itu berteriak kepadanya.
Apalagi, kini dia hanya menggelengkan kepala, seperti tidak setuju atas apa yang dikatakan oleh wanita tua itu.
Rara yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa diam memandangi kedua orang tersebut sedang berdebat tentang dirinya. Dan di saat yang bersamaan.
Tiba-tiba
“Dia bukan penghuni rumah itu, dia bukan anak bungsuku.”
“Sehingga dia tidak pantas untuk bergabung bersama kita.”
“Meskipun dia datang ke rumah itu, namun dia bukanlah apa-apa”
“Aku tau, nantinya dia akan ………………“
“Sehingga, seharusnya ……….., agar dia tidak seperti kita semua, karena kalau tidak dia akan…..”
Suara laki-laki itu tiba-tiba terputus, Rara tidak bisa mendengarkan dengan jelas apa yang dia katakan.
Dia berkata dengan nada yang sangat tinggi, namun semakin lama dia berbicara panjang lebar. tubuhnya secara perlahan berubah, apalagi ketika dia melihat Rara kembali setelah dia berdebat panjang dengan wanita berdaster itu.
Wajahnya yang awalnya hanya diliputi oleh sebuah kemarahan. kini secara perlahan-lahan menjadi pucat dengan kulitnya yang kurus kering, bola matanya terlihat seperti ingin keluar dari tempatnya, lidahnya tiba-tiba menjulur dengan bau busuk yang menyengat.
Juga, terlihat dengan jelas oleh Rara ada sebuah tali yang mengikat lehernya yang kini tampak menghitam dan berdarah karena ikatanya yang sangat kuat.
Bahkan, wanita yang tadi mengajaknya pun berubah. Daster yang dia pakai kini penuh dengan darah, terlihat di lehernya terdapat sebuah luka gorokan dengan darah yang mengalir deras sehingga membasahi baju yang dia kenakan.
Matanya hilang satu, dengan banyak sekali luka sayatan yang di tangan, kaki dan wajahnya.
‘Apa yang sedang terjadi, ke, ke, kenapa mereka berubah menjadi menakutkan.’
Rara benar-benar shock atas apa yang dilihatnya, rasa takut terpancar jelas di wajahnya kali ini. bahkan dia memaksa tubuhnya untuk mundur dan berusaha membuka tubuhnya untuk berteriak sekencang-kencangnya disana.
Semua manusia yang ada di ruangan itu benar-benar berubah, semuanya menjadi menyeramkan untuk dirinya lihat sekarang, matanya ingin sekali terpejam namun tampaknya tidak bisa dia lakukan sekarang.
Rara benar-benar ketakutan, melihat wajah-wajah mereka yang menyeramkan. Yang kini dia bisa lakukan hanya memaksa tubuhnya untuk membalikan badan dan menjauhi ruangan tersebut.
‘ayolah, gerak, gerak’
‘aku takut, aku benar-benar takut’
Rara berusaha menggerakan tubuhnya, di saat yang sama, orang-orang yang dia lihat hanya bisa memandanginya tanpa expresi sekarang. Tidak ada lagi perkataan apapun yang terucap olehnya, namun hanya dengan melihatnya saja membuat dirinya ketakutan atas apa yang dilihatnya.
Dia berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya, mengangkat kaki dan tangannya. Dengan perasaan takut yang mendalam, dia benar-benar mengeluarkan seluruh tenaganya untuk hal tersebut.
Rara benar-benar panik, dia ingin sekali keluar dari tempat ini. bahkan dia mengeluarkan seluruh tenaganya agar bisa keluar dari sana.
Usahanya nampaknya berhasil, secara perlahan tubuhnya bergerak. Meskipun tubuhnya harus berkeringat karena dia mengeluarkan semua tenaganya untuk menggerakan badannya saja.
Tanpa menunggu lama, dia akhirnya menggerakan badannya, tubuhnya sudah siap-siap untuk berlari keluar dari ruangan tersebut.
Meskipun
Setttt
Tepat ketika tubuhnya berbalik, dia semua yang dia lihat tiba-tiba gelap gulita. Sebuah warna hitam yang sangat pekat menutupi dirinya.
Rara kembali terdiam, semua yang dia lihat hanyalah sebuah warna hitam yang berada di sekelilingnya.
Dia kembali berdiri cukup lama, entah mengapa semuanya berubah, bahkan orang-orang dengan wajahnya yang menyeramkan pun kini menghilang dari pandangannya.
Rara benar-benar bingung atas apa yang dia rasakan sekarang. Hingga akhirnya, entah mengapa dia melihat sebuah cahaya tipis yang muncul entah darimana.
Sebuah cahaya itu seperti menari-nari mengelilingi tubuhnya, bersamaan dengan suara samar-samar yang memanggil dirinya.
“Rara, bangun”
“ra, ra bangun ra”
Suara samar-samar itu semakin lama semakin jelas, bersamaan dengan cahaya yang semakin lama semakin terang.
“Ra, ra bangun ra bangun”
Apa yang Rara dengar ternyata sebuah suara dari teman-temannya, Dewi, Danang, Dimas dan Ardi yang kini mengelilingi tubuh Rara yang terbujur kaku di tanah.
Rara kini tergeletak tak sadarkan diri dengan sebuah tali yang mengikat lehernya tanpa dia sadari.
Entah bagaimana caranya Rara bisa melakukan hal itu, dirinya seolah-olah sedang mempraktekan kejadian gantung diri dan membuat tubuhnya tidak sadarkan diri disana.
Kejadian yang sungguh diluar nalar, apalagi ada dua kamera yang berada di sudut ruangan yang menyala, namun entah mengapa dua kamera itu tidak bisa merekam Rara yang berada di dalam ruangan tersebut. sehingga mengharuskan Dewi, Danang, Ardi dan DImas harus masuk ke dalam rumah tersebut dan menyelamatkan tubuhnya.
***
Tayangan live yang masih menyala membuat penonton semakin lama semakin ramai, nampak seseorang yang sedang melihat live itu di sebuah meja kecil di sebuah warung kopi yang berada di pinggiran kota.
Beberapa kali dia menghisap rokoknya sambil melihat live tersebut, kedua matanya fokus terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada mereka semua.
Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika dia melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana, dan dia sepertinya mengetahui sesuatu tentang rumah itu dan kejadian hilangnya Rara dalam live itu.
Namun, belum sempat livenya selesai, dia mematikan layer di hpnya. Tak lama dia berdiri dan membayar kopi dan rokok yang sudah dipesan.
Wajahnya tampak serius dengan rokok yang dihisap sambil berjalan meninggalkan warung itu dengan berjalan kaki. Dan ketika beberapa langkah berjalan, dia akhirnya melempar rokoknya sambil bergumam.
“Tim Rarasukma ya”
“hmmmm”
Entah mengapa, Rara tiba-tiba seperti sedang berdiri di depan pintu megah berwarna cokelat. Dia sendiri bingung kenapa dirinya sudah berada disini sekarang.
Rasanya ingin sekali dia membalikan badan dari pintu itu, namun tubuhnya sangat sulit untuk bergerak. Tubuhnya hanya bisa berdiri menatap pintu yang tertutup itu dalam waktu yang lama. Seperti menunggu seseorang yang akan membuka pintu tersebut dari dalam.
Benar saja. dari dalam terdengar sebuah langkah kaki yang berjalan menghampirinya, dia sepertinya sudah tau bahwa Rara sudah menunggu disana.
Pintu itu terbuka secara perlahan, suara besi-besi engsel yang sudah berkarat terdengar jelas oleh kedua telinga Rara.
Dirinya yang berdiri dibalik pintu itu pun bisa menyaksikan adanya sebuah tangan yang terlihat keluar. Sebuah tangan dari seorang wanita paruh baya yang nampak akan menyambutnya disana.
“Akhirnya sudah datang juga.”
“Mari masuk.”
Nampak seorang wanita dengan baju daster panjang menyambutnya dengan senyumannya yang hangat. Rambutnya yang disanggul layaknya wanita jaman dulu terlihat sangat jelas oleh kedua mata Rara, tubuhnya sedikit gemuk, juga wajahnya yang sudah berkeriput.
Mengingatkan dirinya kepada sosok ibunya yang tinggal di kampung pada saat itu.
“Eh kenapa diam.”
“Sini masuk nak, semuanya sudah berkumpul di dalam sini,” katanya sambil mengajak Rara masuk ke dalam sana.
Rara benar-benar bingung, ada apa sebenarnya, kenapa dirinya berada di tempat yang asing sekarang.
Otaknya kini dipenuhi dengan tanda tanya, namun entah mengapa, tubuhnya seperti bergerak sendiri masuk ke dalam tanpa dia perintahkan.
Hingga akhirnya.
Mata Rara tiba-tiba terbelalak, tepat ketika tubuhnya berjalan dan masuk melewati pintu itu tanpa dia sadari.
Dia tidak bisa menyangka bahwa dibalik pintu itu ada sebuah ruangan yang sangat megah. Sebuah lampu kristal terlihat menawan menggantung dengan cahayanya yang putih kekuning-kuningan, juga banyak sekali foto-foto manusia di dinding dengan wajah-wajahnya yang tersenyum menatap dirinya sekarang.
Wanita itu berjalan secara perlahan, tubuhnya yang sedikit gemuk membuat dirinya sedikit kesusahan untuk berjalan pada saat itu.
Sedangkan Rara mengikutinya dari belakang sambil melihat ruangan megah tersebut dengan kedua matanya.
Wanita itu menemani Rara ke ruangan lain yang berada tepat di belakang ruangan megah itu, sebuah ruangan yang tampaknya lebih kecil dari apa yang sudah dirinya lihat.
Nampak ada sebuah tirai merah yang menjadi pembatas antar ruangan, sebuah tirai dengan corak batik yang terlihat megah.
Telinga Rara secara samar-samar mendengar banyak sekali suara-suara orang yang sedang berbincang-bincang di dalam sana.
Suara tawa
Suara tangisan
Bahkan suara lemparan benda-benda dan suara gebrakan meja serta kursi yang membuat pikiran Rara semakin aneh sekarang.
“Tidak usah takut, mereka memang seperti itu.”
Wanita itu nampaknya tahu atas apa yang dirasakan oleh Rara, sehingga dia membalikan tubuhnya dan mencoba menenangkan Rara sambil tersenyum pada saat itu.
Rara benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, karena baru kali ini dia mengalami hal yang seperti ini, sesuatu hal yang berada diluar nalar dirinya sekarang.
Rara hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan, dan ketika anggukan itu terlihat oleh wanita tersebut. Dia kembali tersenyum dan membalikan badannya kembali untuk membuka tirai ruangan yang kini ada di depannya.
“Ayo masuk, tampaknya mereka sudah menunggu.”
Tirai merah yang menjadi sebuah pembatas ruangan pun dia buka, Rara kembali melihat dengan jelas sebuah ruangan yang berbeda.
Sebuah ruangan yang lumayan besar namun tidak sebesar ruangan megah yang sudah dia lewati sebelumnya.
Namun,
Di dalamnya agak sedikit penuh dengan orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Berbagai macam orang terlihat memenuhi ruangan tersebut. Kakek, nenek, laki-laki, perempuan, bahkan ada anak-anak dan bayi yang sedang tertidur di ruangan tersebut.
‘sebenarnya, ruangan apa ini.’
Batin Rara benar-benar mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Namun dirinya tidak bisa mengingat apa yang sudah dia lakukan sebelum dirinya sampai di tempat ini.
“Tidak usah ragu, kamu mungkin sekarang sudah menjadi bagian dari kami.”
“atau,”
Brakkk
Rara yang awalnya mendengar wanita itu berbicara dengan nada yang pelan. Tiba-tiba dikagetkan oleh suara gebrakan meja yang ada di dalam ruangan.
Pandangan Rara yang awalnya melihat wanita itu langsung berubah, dan terlihat disana ada seseorang yang berdiri dan mendekati Rara secara perlahan.
Seseorang dengan tubuh yang tinggi kemudian berjalan mendekatinya, matanya melotot tajam dan nampak seperti marah terhadap Rara yang berdiri disana.
“DIA BUKAN BAGIAN DARI KITA, JADI JANGAN KAU AJAK DIA KE RUANGAN INI.”
Seorang laki-laki dengan tubuhnya yang tinggi itu tiba-tiba berteriak, dia nampak memarahi wanita itu dengan nadanya yang membuat tubuh Rara bergidik ketakutan.
“Ta, ta, tapi, nanti dia kan akan menjadi bagian dari kita.”
Wanita itu kini nampak gugup, dia juga nampak ketakutan setelah laki-laki itu berteriak kepadanya.
Apalagi, kini dia hanya menggelengkan kepala, seperti tidak setuju atas apa yang dikatakan oleh wanita tua itu.
Rara yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa diam memandangi kedua orang tersebut sedang berdebat tentang dirinya. Dan di saat yang bersamaan.
Tiba-tiba
“Dia bukan penghuni rumah itu, dia bukan anak bungsuku.”
“Sehingga dia tidak pantas untuk bergabung bersama kita.”
“Meskipun dia datang ke rumah itu, namun dia bukanlah apa-apa”
“Aku tau, nantinya dia akan ………………“
“Sehingga, seharusnya ……….., agar dia tidak seperti kita semua, karena kalau tidak dia akan…..”
Suara laki-laki itu tiba-tiba terputus, Rara tidak bisa mendengarkan dengan jelas apa yang dia katakan.
Dia berkata dengan nada yang sangat tinggi, namun semakin lama dia berbicara panjang lebar. tubuhnya secara perlahan berubah, apalagi ketika dia melihat Rara kembali setelah dia berdebat panjang dengan wanita berdaster itu.
Wajahnya yang awalnya hanya diliputi oleh sebuah kemarahan. kini secara perlahan-lahan menjadi pucat dengan kulitnya yang kurus kering, bola matanya terlihat seperti ingin keluar dari tempatnya, lidahnya tiba-tiba menjulur dengan bau busuk yang menyengat.
Juga, terlihat dengan jelas oleh Rara ada sebuah tali yang mengikat lehernya yang kini tampak menghitam dan berdarah karena ikatanya yang sangat kuat.
Bahkan, wanita yang tadi mengajaknya pun berubah. Daster yang dia pakai kini penuh dengan darah, terlihat di lehernya terdapat sebuah luka gorokan dengan darah yang mengalir deras sehingga membasahi baju yang dia kenakan.
Matanya hilang satu, dengan banyak sekali luka sayatan yang di tangan, kaki dan wajahnya.
‘Apa yang sedang terjadi, ke, ke, kenapa mereka berubah menjadi menakutkan.’
Rara benar-benar shock atas apa yang dilihatnya, rasa takut terpancar jelas di wajahnya kali ini. bahkan dia memaksa tubuhnya untuk mundur dan berusaha membuka tubuhnya untuk berteriak sekencang-kencangnya disana.
Semua manusia yang ada di ruangan itu benar-benar berubah, semuanya menjadi menyeramkan untuk dirinya lihat sekarang, matanya ingin sekali terpejam namun tampaknya tidak bisa dia lakukan sekarang.
Rara benar-benar ketakutan, melihat wajah-wajah mereka yang menyeramkan. Yang kini dia bisa lakukan hanya memaksa tubuhnya untuk membalikan badan dan menjauhi ruangan tersebut.
‘ayolah, gerak, gerak’
‘aku takut, aku benar-benar takut’
Rara berusaha menggerakan tubuhnya, di saat yang sama, orang-orang yang dia lihat hanya bisa memandanginya tanpa expresi sekarang. Tidak ada lagi perkataan apapun yang terucap olehnya, namun hanya dengan melihatnya saja membuat dirinya ketakutan atas apa yang dilihatnya.
Dia berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya, mengangkat kaki dan tangannya. Dengan perasaan takut yang mendalam, dia benar-benar mengeluarkan seluruh tenaganya untuk hal tersebut.
Rara benar-benar panik, dia ingin sekali keluar dari tempat ini. bahkan dia mengeluarkan seluruh tenaganya agar bisa keluar dari sana.
Usahanya nampaknya berhasil, secara perlahan tubuhnya bergerak. Meskipun tubuhnya harus berkeringat karena dia mengeluarkan semua tenaganya untuk menggerakan badannya saja.
Tanpa menunggu lama, dia akhirnya menggerakan badannya, tubuhnya sudah siap-siap untuk berlari keluar dari ruangan tersebut.
Meskipun
Setttt
Tepat ketika tubuhnya berbalik, dia semua yang dia lihat tiba-tiba gelap gulita. Sebuah warna hitam yang sangat pekat menutupi dirinya.
Rara kembali terdiam, semua yang dia lihat hanyalah sebuah warna hitam yang berada di sekelilingnya.
Dia kembali berdiri cukup lama, entah mengapa semuanya berubah, bahkan orang-orang dengan wajahnya yang menyeramkan pun kini menghilang dari pandangannya.
Rara benar-benar bingung atas apa yang dia rasakan sekarang. Hingga akhirnya, entah mengapa dia melihat sebuah cahaya tipis yang muncul entah darimana.
Sebuah cahaya itu seperti menari-nari mengelilingi tubuhnya, bersamaan dengan suara samar-samar yang memanggil dirinya.
“Rara, bangun”
“ra, ra bangun ra”
Suara samar-samar itu semakin lama semakin jelas, bersamaan dengan cahaya yang semakin lama semakin terang.
“Ra, ra bangun ra bangun”
Apa yang Rara dengar ternyata sebuah suara dari teman-temannya, Dewi, Danang, Dimas dan Ardi yang kini mengelilingi tubuh Rara yang terbujur kaku di tanah.
Rara kini tergeletak tak sadarkan diri dengan sebuah tali yang mengikat lehernya tanpa dia sadari.
Entah bagaimana caranya Rara bisa melakukan hal itu, dirinya seolah-olah sedang mempraktekan kejadian gantung diri dan membuat tubuhnya tidak sadarkan diri disana.
Kejadian yang sungguh diluar nalar, apalagi ada dua kamera yang berada di sudut ruangan yang menyala, namun entah mengapa dua kamera itu tidak bisa merekam Rara yang berada di dalam ruangan tersebut. sehingga mengharuskan Dewi, Danang, Ardi dan DImas harus masuk ke dalam rumah tersebut dan menyelamatkan tubuhnya.
***
Tayangan live yang masih menyala membuat penonton semakin lama semakin ramai, nampak seseorang yang sedang melihat live itu di sebuah meja kecil di sebuah warung kopi yang berada di pinggiran kota.
Beberapa kali dia menghisap rokoknya sambil melihat live tersebut, kedua matanya fokus terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada mereka semua.
Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika dia melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana, dan dia sepertinya mengetahui sesuatu tentang rumah itu dan kejadian hilangnya Rara dalam live itu.
Namun, belum sempat livenya selesai, dia mematikan layer di hpnya. Tak lama dia berdiri dan membayar kopi dan rokok yang sudah dipesan.
Wajahnya tampak serius dengan rokok yang dihisap sambil berjalan meninggalkan warung itu dengan berjalan kaki. Dan ketika beberapa langkah berjalan, dia akhirnya melempar rokoknya sambil bergumam.
“Tim Rarasukma ya”
“hmmmm”
sampeuk dan 31 lainnya memberi reputasi
32
Kutip
Balas
Tutup