- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Destiny
...
TS
loveismyname
You Are My Destiny

2008
“SAH!”
Serta merta, kalimat Tahmid bergema ke seluruh ruangan musholla di pagi yang cerah ini. Begitu banyak wajah bahagia sekaligus haru terlihat. Proses akad nikah memang seharusnya menjadi sesuatu yang sakral, yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang melaluinya.
Aku termasuk orang yang berbahagia itu. Di hadapan seorang laki-laki yang barusan menjabat tanganku, yang selanjutnya, beliau secara resmi akan kupanggil Papa, aku tidak bisa menyembunyikan rasa haruku. Di sampingku, seorang wanita yang telah kupilih untuk mendampingiku seumur hidup, terus menerus menutup mukanya dengan kedua tangan, mengucap syukur tiada terkira.
Hai Cantik, semoga kamu bahagia juga di sana. Tunggu kami ya.
Spoiler for PERHATIAN !!:
Spoiler for DISCLAIMER !!:
Enjoy

Note : Gue akan berusaha agar cerita ini bisa selesai. Update, sebisa dan semampu gue aja, karena cerita ini sebenarnya sudah gue selesaikan dalam bentuk Ms.Word. Tapi maaf, gue gak bisa setiap hari ngaskus. mohon pengertiannya.
Index
prolog
part 1 the meeting
part 2 how come?
part 3 why
part 4 swimming
part 5 second meeting
part 6 aku
part 7 love story
part 8 mbak adelle
part 9 got ya!!
part 10 third meeting
part 11 kejadian malam itu
part 12 4th meeting
part 13 family
part 14 putus
part 15 comeback
part 16 morning surprise
part 17 we are different
Intermezzo - behind the scenes
Intermezzo - behind the scenes 2
part 18 aku di sini untukmu
part 19 a morning with her
part 20 don't mess with me 1
part 21 don't mess with me 2
part 22 my life has changed
part 23 mati gue !!
part 24 old friend
part 25 kenapa sih
Intermezzo - behind the scenes 3
part 26 halo its me again
part 27 balikan?
part 28 happy independent day
part 29 duet
part 30 sorry, i cant
part 31 night call
part 32 preparation
part 33 lets get the party started
part 34 sweetest sin
part 35 late 2001
part 36 ramadhan tiba
part 37 itu hurts
part 38 sebuah nasihat
part 39 happy new year
part 40 ombak besar
part 41 don't leave me
part 42 my hero
part 43 my hero 2
part 44 desperate
part 45 hah??
part 46 goodbye
part 47 ombak lainnya
part 48 no party
part 49 self destruction
part 50 diam
part 51 finally
part 52 our journey begin
part 53 her circle
part 54 my first kiss
part 55 sampai kapan
part 56 lost control
part 57 trauma
part 58 the missing story
part 59 akhirnya ketahuan
part 60 perencanaan ulang
part 61 komitmen
part 62 work hard
part 63 tembok terbesar
part 64 melihat sisi lain
part 65 proud
part 66 working harder
part 67 shocking news
part 68 she's gone
Intermezzo behind the scenes 4
part 69 time is running out
part 70 one more step
part 71 bali the unforgettable 1
part 72 bali the unforgettable 2
intermezzo behind the scenes 5
part 73 a plan
part 74 a plan 2
part 75 ultimatum
part 76 the day 1
part 77 the day 2
part 78 the day 3
part 79 judgement day
part 80 kami bahagia
part 81 kami bahagia 2
part 82 we are family
part 83 another opportunity
part 84 new career level
part 85 a gentlemen agreement
part 86 bidadari surga
part 87 pertanyaan mengejutkan
part 88 new place new hope
part 89 cobaan menjelang pernikahan 1
part 90 cobaan menjelang pernikahan 2
part 91 hancur
part 92 jiwa yang liar
part 93 tersesat
part 94 mungkinkah
part 95 faith
part 96 our happiness
part 97 only you
part 98 cepat sembuh sayang
part 99 our journey ends
part 100 life must go on
part 101 a new chapter
part 102 Bandung
part 103 we meet again
part 104 what's wrong
part 105 nginep
part 106 Adelle's POV 1
part 107 a beautiful morning
part 108 - terlalu khawatir
part 109 semangat !!
part 110 kejutan yang menyenangkan
part 111 aku harus bagaimana
part 112 reaksinya
part 113 menjauh?
part 114 lamaran
part 115 good night
part 116 satu per satu
part 117 si mata elang
part 118 re united
part 119 hari yang baru
part 120 teguran keras
part 121 open up my heart
part 122 pelabuhan hati
part 123 aku akan menjaganya
part 124 masih di rahasiakan
part 125 surprise
part 126 titah ibu
part 127 kembali
part 128 congratulation 1
part 129 congratulation 2
part 130 you are my destiny
epilog 1
epilog 2
epilog 3
epilog 4
epilog 5
side stry 1 mami and clarissa
side story 2 queen
side story 3 us (adelle's pov 2)
tamat
Diubah oleh loveismyname 03-06-2023 11:22
yputra121097703 dan 72 lainnya memberi reputasi
71
103.7K
954
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#309
Part 123 - Aku Akan Menjaganya
“Om, Tante, Bang Dika, hari ini, aku berniat melamar Mbak Adelle.”
Akhirnya kata-kata itu terucap. Aku langsung menunduk, tak mampu melihat reaksi mereka.
Hatiku rasanya tidak karuan. Jantungku berdebar kencang. Keringat dingin mulai membasahi keningku. Tak lama, sebuah isakan terdengar.
Aku menoleh ke arahnya.
Mbak Adelle sedang menutup mulutnya, dan air matanya mengalir deras.
Om dan Tante Birdie tersenyum lebar. Ada kelegaan dalam senyuman mereka. Bang Dika langsung tertawa, menghampiri adiknya dan memeluknya erat. Mbak Adelle membalas pelukan itu, dan menangis semakin keras di bahu Bang Dika.
“Alhamdulillah.” Om Birdie akhirnya berkata.
“Del, kenapa nangis? Bukannya ini yang udah kamu tunggu ?” Tante Birdie tersenyum ke arah anaknya itu.
Mbak Adelle masih belum mampu mengangkat wajahnya.
“Alhamdulillah Daru. Om seneng dengernya. Kalau Om dan Tante, menyerahkan semuanya sama Adelle, karena dia nanti yang akan menjalani hidupnya.” Om Birdie berkata bijak.
“Tapi Om, Tante, Bang Dika. Ada cerita tentang aku yang belum Om dan Tante dengar, kayaknya Om harus dengar dulu. Mbak adelle, sudah tau cerita ini sebelumnya.” Ujarku.
Aku akhirnya membulatkan tekad untuk bercerita kembali.
Aku akhirnya bercerita tentang semua yang ku alami sebelum bertemu mereka.
Semuanya.
Tanpa aku tutupi.
Aku sudah pasrah, apapun reaksi mereka nanti. aku bisa maklum kalau Om Birdie menolak. Anaknya pantas untuk mendapatkan lebih dari sekedar duda sepertiku.
Setelah bercerita, suasana di ruang tengah ini berubah. Tante Birdie menangis terisak. Mbak Adelle masih menangis tanpa henti. Hanya Bang Dika yang nampak menegang wajahnya. Badannya pun kulihat mengeras.
“Itu ceritaku Om, Tante. Sekarang, aku serahkan semuanya sama Om. Kalau Om menolak, ga apa-apa. Aku akan tetap main ke sini, nganterin Om seperti biasa dan berbisnis sama Bang Dika. Gak ada yang berubah.” Aku berujar.
“Apa alasan Om nolak kamu Ru? Karena kamu duda?” Om Birdie tersenyum.
“Kamu emang duda, tapi duda terhormat. Kamu begitu mencintai istrimu dan mendampingi nya sampai akhir hayat. Gak ada yang salah dengan itu. Om yakin kamu bisa mencintai Adelle seperti kamu mencintai istrimu.”
“Sebagai orang tua Adelle, Om gak ada masalah. Tinggal Adelle nya mau apa nggak sama kamu.” Om Birdie tersenyum dan berkata mantap.
“Terima kasih, Om, Tante.” Aku menjawab.
Om Birdie menoleh ke arah Mbak Adelle, yang sedang bersandar di bahu Bang Dika.
Dia masih menangis. Wajahnya sembab.
“Gimana Del? Kamu terima Daru gak?” Om Birdie bertanya.
Wajah Mbak Adelle mendadak cemberut.
Dia melirik ke arah Papanya.
“Ihhh, jangan di tanya kenapa sih Pah. Ya jelas aku terima. Aku udah nunggu lama banget. Huhuhuhuhuhu.” Dia kembali menangis.
Mendengar jawaban Mbak Adelle, kami semua malah tertawa.
“Tuh Ru. Udah di terima sama orangnya. Hahahahaha. Dika gimana?” Om Birdie bertanya kepada anak sulungnya.
“hahahahah, Aku dukung 100%. Kalo bisa besok aja langsung nikah. Jangan di lama-lamain. Hahahahah.” Bang Dika yang dari tadi wajahnya menegang, kembali mencair.
“Ru !!” Panggil Om Birdie.
Aku menengok ke arahnya.
“Bawa orang tua kamu, secepatnya ya.” Ujar Om Birdie sambil tersenyum.
“Minggu depan boleh Om?”
“Kalo bisa besok ya besok Gol. Lama bener kudu nunggu minggu depan.” Bang Dika ikut berbicara.
“Kok jadi elu yang kebelet sih Bang? Yang mau di lamar kan gue?” Mbak Adelle berkata sewot.
Wajahnya yang cemberut membuatku geli.
“Halah !! Kayak lu nggak aja !! Siapa kemaren yang curhat sambil nangis nangis minta di lamar Dogol?” Bang Dika tambah menggoda adiknya.
“Au ah !!” Ujar Mbak Adelle sambil melengos dari pelukan kakaknya.
“Hahahahahah. Ya sabar Dik. Pak Ahmad kan kerja. Orang sibuk dia. Kasih waktu lah.” Kata Om Birdie kepada Bang Dika.
Lalu, Om Birdie menoleh ke arahku.
“Kalo bisa minggu depan, bagus Ru. Nanti kabarin aja ya.”
Aku mengangguk tanda setuju.
Aduh, gue ngomongnya gimana nih?
Masa ujug-ujug ngomong minta di lamarin cewek?
Mana gue belum cerita kalo selama ini udah ketemu lagi sama Mbak Adelle.
Alah udahlah !!
Ngomong tinggal ngomong !!
“Alhamdulillah. Terima kasih semuanya. Om, Tante, Bang Dika. Aku minta doanya ya, mudah-mudahan dimudahkan.” Aku berkata.
Om Birdie mengangguk mantap.
Aku kemudian melirik ke arah Mbak.. eh salah, calon istriku.
Ciyeeeee.
Uhuuyy..
Nikah lagi coy..
Aku mendekat ke arah Mbak Adelle.
“Mbak, makasih ya.” Aku berkata lembut.
Mbak Adelle langsung menoleh.
Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi galak dan menyeramkan.
“Kok masih manggil “Mbak” siiihhhh… nyebeliinnnn !!” Mbak Adelle merajuk sambil memukuli tubuhku.
Kami semua reflek tertawa.
Tak lama dia menghentikan pukulannya, lalu kami bertatapan mesra.
Wajahnya yang sembab memerah. Tangannya memegang tanganku erat.
“Makasih ya sayang.” Aku berbisik lembut.
Badannya tiba-tiba bergetar hebat. Dia langsung loncat dan memeluk badanku.
“Aduuhh !! Eh..eh, jangan begini!! Ga enak di liatin.” Aku mencoba melepaskan pelukannya.
“Hiks..biarin!! Aku udah nunggu lamaaaa banget kamu ngomong kayak gitu!! hiks hiks. Ga bakal aku lepasin kamu !!” Mbak Adelle berbisik sambil terisak.
Beberapa jam setelahnya...
“Om dan Tante jangan terlalu repot ya. Sederhana aja, nanti Hadi dan Trixie bantu Om dan tante.” ujarku.
Om dan Tante Birdie mengangguk.
Menjelang sore setelah sholat Ashar, aku duduk di warung sambil merokok dan minum teh. Adelle nampaknya sedang membereskan rumah, kegiatan yang biasa dia lakukan diwaktu seperti ini.
Om dan Tante Birdie sedang beristirahat di kamar, dan Bang Dika sudah keluar untuk bertemu orang yang akan membeli mobil yang dia bawa tadi.
Aku termenung.
Aku memikirkan bagaimana menyampaikan berita ini kepada orang tuaku. Ada sedikit kekhawatiran, bahwa orang tuaku tidak menyetujui rencanaku ini, jika tahu calonnya adalah Adelle.
Pasalnya, Ayah dan Ibu punya tolak ukur tinggi untuk calon istriku.
Afei.
Sulit memang mencari pengganti yang sekelas dia. Tapi aku yakin mereka pasti menerima, karena Adelle saat ini sudah berubah. Dia sudah lebih sederhana, lebih gesit mengurus rumah, lebih telaten mengurus orang tuanya, dan pandai mengelola uang.
Kemampuannya memutar uangku bisa menjadi bukti.
Sebenarnya, aku sudah membooking keluargaku untuk minggu depan, hanya saja, aku tidak bilang akan melamar wanita. Aku hanya bilang, akan mengajak mereka liburan ke Bandung. Hal itu aku lakukan untuk jaga-jaga, jika Adelle atau keluarganya menolakku.
Setiap pergi ke Bandung, aku hanya bilang sedang ada urusan bisnis. Aku tidak sepenuhnya bohong, walau tidak jujur juga. Entah apa alasanku tidak jujur ke orang tuaku mengenai keluarga Om Birdie.
Tapi, mereka tidak bertanya terlalu banyak. Menurut mereka, aku sudah besar dan bisa bertanggung jawab atas hidupku.
Mereka tidak akan mencampuri kehidupanku.
“
“Sayang…”
Terdengar suara Adelle, memanggilku dari pintu warung. Aku menoleh dan tersenyum ke arahnya.
Adelle berjalan masuk dan duduk di sebelahku.
Selayaknya pasangan yang baru jadian, kami masih malu-malu. Aku geli jika mengingat waktu itu. Adelle memandangku, dan ketika aku balas, dia malah tersipu dan menunduk.
Duh indah sekali dunia.
“Mbak.” Aku memanggilnya.
Adelle menoleh dan memasang wajah galak yang lucu.
“Manggil Mbak lagi aku marah loh ya.” Dia merajuk.
Aku malah tertawa.
Aku memang sengaja menggodanya agar suasana mencair.
“Sayang.” Giliran aku memanggilnya.
Dia kembali tersipu dan menunduk.
“Kamu ridho aku lamar?” Aku bertanya.
Mbak Adelle kembali menatapku, lalu mencolek hidungku.
“Pertanyaan bodoh. Lebih dari sekedar ridho. Bertahun-tahun aku nunggu kamu. Bertahun-tahun aku berharap kamu nembak aku, dan kita bisa pacaran. Aku sampe ngayal jauuuhh banget.” Adelle menjawab pertanyaanku dengan nada yang lucu, dan membuat aku tertawa geli.
“Allah emang baik Gol. Aku sadar apa yang udah di atur olehNya. Dulu, mungkin aku belum cocok untuk kamu. Aku terlalu manja, boros, kebanyakan seneng-seneng aja dan kurang bersyukur. Kalo kita jadian waktu itu, aku yakin, kita gak akan cocok. Iya, aku udah sayang sama kamu, tapi aku yakin kita gak akan bisa seserius ini.” Adelle memandangku.
Aku merasakan cinta yang luar biasa dalam tatapannya.
“Allah ngasih pelajaran berharga, dan sekarang aku ngerti sama jalan pikiran dan prinsip-prinsip hidup kamu. Setelah aku ngelewatin semua ujian, aku ternyata dapet kejutan. Kamu bukan cuma nembak, tapi langsung ngelamar aku di depan orang tua aku. Aku rasa, cuma cewek bodoh yang nolak laki-laki berani kayak kamu.” Lanjutnya
“Del, tapi di hatiku masih ada orang lain. Aku jujur masih sayang sama dia. Kamu keberatan?” Aku bertanya.
Adelle tersenyum.
“Afei?” Tanyanya.
Aku mengangguk.
“Aku malah marah, kalo kamu sampe ngelupain dia. Aku janji, aku bakal terus ngedoain dia.” Mbak Adelle menjawab.
Adelle kemudian merubah posisinya. Dia bersandar di bahuku, dan tangannya menggenggam erat jemariku.
“Sayang, aku sempet punya pikiran kayak gini. Kalo Afei masih hidup, dan kamu minta aku jadi istri kedua, aku tetap mau kok. Aku yakin, kamu pasti bisa berlaku adil.” Mbak Adelle berkata sebuah hal yang menghentak hatiku.
Aku langsung melepaskan genggamannya, dan sedikit menjauh.
Kepalaku langsung terasa pusing.
Aku teringat kembali perdebatan antara aku dan Afei di mobil waktu itu, ketika kami membahas masalah poligami.
“Kenapa sayang? aku nyakitin kamu ya?” Tanya Adelle.
Dia terlihat panik.
Aku menggeleng, dan mengeluarkan sebuah kertas lusuh dari tas kecilku.
“Sayang, kayaknya kamu harus baca ini.”
Aku menyerahkan kertas lusuh yang aku simpan baik-baik itu. Surat terakhir dari Afei.
Dia kemudian membaca surat itu dengan seksama. Tak lama, air mata sudah menetes di pipinya.
Dia menangis terisak saat selesai membaca surat itu.
“Sayang, dulu waktu kami merencanakan pernikahan, Afei ngomong sesuatu yang buat aku kaget setengah mati.” Aku berkata.
Adelle menoleh ke arahku dengan wajah yang sembab oleh air mata.
“Dia nanya, aku mau poligami gak? Waktu itu, aku jawab gak mau, soalnya aku sayang banget sama dia. Tapi Afei malah…”
Adelle menungguku melanjutkan.
“Afei malah ngomong, kalau dia ngizinin aku poligami, tapi cuma sama satu wanita.”
Aku menarik nafas panjang.
“Dia nyebut nama kamu. Dia bilang, aku cuma boleh poligami sama kamu.” Akhirnya air mataku turun juga.
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang dibicarakan waktu itu, benar-benar terjadi.
Fei, ucapan adalah doa, kan?
Adelle langsung tersentak hebat.
Tubuhnya bergetar. Dia kemudian memelukku erat dan menangis tersedu.
“Afeiii… huhuhuhuhuhu. ”
Aku membelai rambutnya lembut.
Mbak Adelle tiba-tiba menengadahkan kepalanya ke atas, seperti sedang melihat sesuatu.
“Feiii, ridho kan kamu kalo aku nikah sama suami kamu? Aku bakal jaga dia Fei. Janji !!” Mbak Adelle bicara seolah dia berhadapan dengan Afei.
Aku tersenyum melihat tingkahnya yang lucu.
Akhirnya kata-kata itu terucap. Aku langsung menunduk, tak mampu melihat reaksi mereka.
Hatiku rasanya tidak karuan. Jantungku berdebar kencang. Keringat dingin mulai membasahi keningku. Tak lama, sebuah isakan terdengar.
Aku menoleh ke arahnya.
Mbak Adelle sedang menutup mulutnya, dan air matanya mengalir deras.
Om dan Tante Birdie tersenyum lebar. Ada kelegaan dalam senyuman mereka. Bang Dika langsung tertawa, menghampiri adiknya dan memeluknya erat. Mbak Adelle membalas pelukan itu, dan menangis semakin keras di bahu Bang Dika.
“Alhamdulillah.” Om Birdie akhirnya berkata.
“Del, kenapa nangis? Bukannya ini yang udah kamu tunggu ?” Tante Birdie tersenyum ke arah anaknya itu.
Mbak Adelle masih belum mampu mengangkat wajahnya.
“Alhamdulillah Daru. Om seneng dengernya. Kalau Om dan Tante, menyerahkan semuanya sama Adelle, karena dia nanti yang akan menjalani hidupnya.” Om Birdie berkata bijak.
“Tapi Om, Tante, Bang Dika. Ada cerita tentang aku yang belum Om dan Tante dengar, kayaknya Om harus dengar dulu. Mbak adelle, sudah tau cerita ini sebelumnya.” Ujarku.
Aku akhirnya membulatkan tekad untuk bercerita kembali.
Aku akhirnya bercerita tentang semua yang ku alami sebelum bertemu mereka.
Semuanya.
Tanpa aku tutupi.
Aku sudah pasrah, apapun reaksi mereka nanti. aku bisa maklum kalau Om Birdie menolak. Anaknya pantas untuk mendapatkan lebih dari sekedar duda sepertiku.
Setelah bercerita, suasana di ruang tengah ini berubah. Tante Birdie menangis terisak. Mbak Adelle masih menangis tanpa henti. Hanya Bang Dika yang nampak menegang wajahnya. Badannya pun kulihat mengeras.
“Itu ceritaku Om, Tante. Sekarang, aku serahkan semuanya sama Om. Kalau Om menolak, ga apa-apa. Aku akan tetap main ke sini, nganterin Om seperti biasa dan berbisnis sama Bang Dika. Gak ada yang berubah.” Aku berujar.
“Apa alasan Om nolak kamu Ru? Karena kamu duda?” Om Birdie tersenyum.
“Kamu emang duda, tapi duda terhormat. Kamu begitu mencintai istrimu dan mendampingi nya sampai akhir hayat. Gak ada yang salah dengan itu. Om yakin kamu bisa mencintai Adelle seperti kamu mencintai istrimu.”
“Sebagai orang tua Adelle, Om gak ada masalah. Tinggal Adelle nya mau apa nggak sama kamu.” Om Birdie tersenyum dan berkata mantap.
“Terima kasih, Om, Tante.” Aku menjawab.
Om Birdie menoleh ke arah Mbak Adelle, yang sedang bersandar di bahu Bang Dika.
Dia masih menangis. Wajahnya sembab.
“Gimana Del? Kamu terima Daru gak?” Om Birdie bertanya.
Wajah Mbak Adelle mendadak cemberut.
Dia melirik ke arah Papanya.
“Ihhh, jangan di tanya kenapa sih Pah. Ya jelas aku terima. Aku udah nunggu lama banget. Huhuhuhuhuhu.” Dia kembali menangis.
Mendengar jawaban Mbak Adelle, kami semua malah tertawa.
“Tuh Ru. Udah di terima sama orangnya. Hahahahaha. Dika gimana?” Om Birdie bertanya kepada anak sulungnya.
“hahahahah, Aku dukung 100%. Kalo bisa besok aja langsung nikah. Jangan di lama-lamain. Hahahahah.” Bang Dika yang dari tadi wajahnya menegang, kembali mencair.
“Ru !!” Panggil Om Birdie.
Aku menengok ke arahnya.
“Bawa orang tua kamu, secepatnya ya.” Ujar Om Birdie sambil tersenyum.
“Minggu depan boleh Om?”
“Kalo bisa besok ya besok Gol. Lama bener kudu nunggu minggu depan.” Bang Dika ikut berbicara.
“Kok jadi elu yang kebelet sih Bang? Yang mau di lamar kan gue?” Mbak Adelle berkata sewot.
Wajahnya yang cemberut membuatku geli.
“Halah !! Kayak lu nggak aja !! Siapa kemaren yang curhat sambil nangis nangis minta di lamar Dogol?” Bang Dika tambah menggoda adiknya.
“Au ah !!” Ujar Mbak Adelle sambil melengos dari pelukan kakaknya.
“Hahahahahah. Ya sabar Dik. Pak Ahmad kan kerja. Orang sibuk dia. Kasih waktu lah.” Kata Om Birdie kepada Bang Dika.
Lalu, Om Birdie menoleh ke arahku.
“Kalo bisa minggu depan, bagus Ru. Nanti kabarin aja ya.”
Aku mengangguk tanda setuju.
Aduh, gue ngomongnya gimana nih?
Masa ujug-ujug ngomong minta di lamarin cewek?
Mana gue belum cerita kalo selama ini udah ketemu lagi sama Mbak Adelle.
Alah udahlah !!
Ngomong tinggal ngomong !!
“Alhamdulillah. Terima kasih semuanya. Om, Tante, Bang Dika. Aku minta doanya ya, mudah-mudahan dimudahkan.” Aku berkata.
Om Birdie mengangguk mantap.
Aku kemudian melirik ke arah Mbak.. eh salah, calon istriku.
Ciyeeeee.
Uhuuyy..
Nikah lagi coy..
Aku mendekat ke arah Mbak Adelle.
“Mbak, makasih ya.” Aku berkata lembut.
Mbak Adelle langsung menoleh.
Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi galak dan menyeramkan.
“Kok masih manggil “Mbak” siiihhhh… nyebeliinnnn !!” Mbak Adelle merajuk sambil memukuli tubuhku.
Kami semua reflek tertawa.
Tak lama dia menghentikan pukulannya, lalu kami bertatapan mesra.
Wajahnya yang sembab memerah. Tangannya memegang tanganku erat.
“Makasih ya sayang.” Aku berbisik lembut.
Badannya tiba-tiba bergetar hebat. Dia langsung loncat dan memeluk badanku.
“Aduuhh !! Eh..eh, jangan begini!! Ga enak di liatin.” Aku mencoba melepaskan pelukannya.
“Hiks..biarin!! Aku udah nunggu lamaaaa banget kamu ngomong kayak gitu!! hiks hiks. Ga bakal aku lepasin kamu !!” Mbak Adelle berbisik sambil terisak.
Beberapa jam setelahnya...
“Om dan Tante jangan terlalu repot ya. Sederhana aja, nanti Hadi dan Trixie bantu Om dan tante.” ujarku.
Om dan Tante Birdie mengangguk.
Menjelang sore setelah sholat Ashar, aku duduk di warung sambil merokok dan minum teh. Adelle nampaknya sedang membereskan rumah, kegiatan yang biasa dia lakukan diwaktu seperti ini.
Om dan Tante Birdie sedang beristirahat di kamar, dan Bang Dika sudah keluar untuk bertemu orang yang akan membeli mobil yang dia bawa tadi.
Aku termenung.
Aku memikirkan bagaimana menyampaikan berita ini kepada orang tuaku. Ada sedikit kekhawatiran, bahwa orang tuaku tidak menyetujui rencanaku ini, jika tahu calonnya adalah Adelle.
Pasalnya, Ayah dan Ibu punya tolak ukur tinggi untuk calon istriku.
Afei.
Sulit memang mencari pengganti yang sekelas dia. Tapi aku yakin mereka pasti menerima, karena Adelle saat ini sudah berubah. Dia sudah lebih sederhana, lebih gesit mengurus rumah, lebih telaten mengurus orang tuanya, dan pandai mengelola uang.
Kemampuannya memutar uangku bisa menjadi bukti.
Sebenarnya, aku sudah membooking keluargaku untuk minggu depan, hanya saja, aku tidak bilang akan melamar wanita. Aku hanya bilang, akan mengajak mereka liburan ke Bandung. Hal itu aku lakukan untuk jaga-jaga, jika Adelle atau keluarganya menolakku.
Setiap pergi ke Bandung, aku hanya bilang sedang ada urusan bisnis. Aku tidak sepenuhnya bohong, walau tidak jujur juga. Entah apa alasanku tidak jujur ke orang tuaku mengenai keluarga Om Birdie.
Tapi, mereka tidak bertanya terlalu banyak. Menurut mereka, aku sudah besar dan bisa bertanggung jawab atas hidupku.
Mereka tidak akan mencampuri kehidupanku.
“
Quote:
“Sayang…”
Terdengar suara Adelle, memanggilku dari pintu warung. Aku menoleh dan tersenyum ke arahnya.
Adelle berjalan masuk dan duduk di sebelahku.
Selayaknya pasangan yang baru jadian, kami masih malu-malu. Aku geli jika mengingat waktu itu. Adelle memandangku, dan ketika aku balas, dia malah tersipu dan menunduk.
Duh indah sekali dunia.
“Mbak.” Aku memanggilnya.
Adelle menoleh dan memasang wajah galak yang lucu.
“Manggil Mbak lagi aku marah loh ya.” Dia merajuk.
Aku malah tertawa.
Aku memang sengaja menggodanya agar suasana mencair.
“Sayang.” Giliran aku memanggilnya.
Dia kembali tersipu dan menunduk.
“Kamu ridho aku lamar?” Aku bertanya.
Mbak Adelle kembali menatapku, lalu mencolek hidungku.
“Pertanyaan bodoh. Lebih dari sekedar ridho. Bertahun-tahun aku nunggu kamu. Bertahun-tahun aku berharap kamu nembak aku, dan kita bisa pacaran. Aku sampe ngayal jauuuhh banget.” Adelle menjawab pertanyaanku dengan nada yang lucu, dan membuat aku tertawa geli.
“Allah emang baik Gol. Aku sadar apa yang udah di atur olehNya. Dulu, mungkin aku belum cocok untuk kamu. Aku terlalu manja, boros, kebanyakan seneng-seneng aja dan kurang bersyukur. Kalo kita jadian waktu itu, aku yakin, kita gak akan cocok. Iya, aku udah sayang sama kamu, tapi aku yakin kita gak akan bisa seserius ini.” Adelle memandangku.
Aku merasakan cinta yang luar biasa dalam tatapannya.
“Allah ngasih pelajaran berharga, dan sekarang aku ngerti sama jalan pikiran dan prinsip-prinsip hidup kamu. Setelah aku ngelewatin semua ujian, aku ternyata dapet kejutan. Kamu bukan cuma nembak, tapi langsung ngelamar aku di depan orang tua aku. Aku rasa, cuma cewek bodoh yang nolak laki-laki berani kayak kamu.” Lanjutnya
“Del, tapi di hatiku masih ada orang lain. Aku jujur masih sayang sama dia. Kamu keberatan?” Aku bertanya.
Adelle tersenyum.
“Afei?” Tanyanya.
Aku mengangguk.
“Aku malah marah, kalo kamu sampe ngelupain dia. Aku janji, aku bakal terus ngedoain dia.” Mbak Adelle menjawab.
Adelle kemudian merubah posisinya. Dia bersandar di bahuku, dan tangannya menggenggam erat jemariku.
“Sayang, aku sempet punya pikiran kayak gini. Kalo Afei masih hidup, dan kamu minta aku jadi istri kedua, aku tetap mau kok. Aku yakin, kamu pasti bisa berlaku adil.” Mbak Adelle berkata sebuah hal yang menghentak hatiku.
Aku langsung melepaskan genggamannya, dan sedikit menjauh.
Kepalaku langsung terasa pusing.
Aku teringat kembali perdebatan antara aku dan Afei di mobil waktu itu, ketika kami membahas masalah poligami.
“Kenapa sayang? aku nyakitin kamu ya?” Tanya Adelle.
Dia terlihat panik.
Aku menggeleng, dan mengeluarkan sebuah kertas lusuh dari tas kecilku.
“Sayang, kayaknya kamu harus baca ini.”
Aku menyerahkan kertas lusuh yang aku simpan baik-baik itu. Surat terakhir dari Afei.
Dia kemudian membaca surat itu dengan seksama. Tak lama, air mata sudah menetes di pipinya.
Dia menangis terisak saat selesai membaca surat itu.
“Sayang, dulu waktu kami merencanakan pernikahan, Afei ngomong sesuatu yang buat aku kaget setengah mati.” Aku berkata.
Adelle menoleh ke arahku dengan wajah yang sembab oleh air mata.
“Dia nanya, aku mau poligami gak? Waktu itu, aku jawab gak mau, soalnya aku sayang banget sama dia. Tapi Afei malah…”
Adelle menungguku melanjutkan.
“Afei malah ngomong, kalau dia ngizinin aku poligami, tapi cuma sama satu wanita.”
Aku menarik nafas panjang.
“Dia nyebut nama kamu. Dia bilang, aku cuma boleh poligami sama kamu.” Akhirnya air mataku turun juga.
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang dibicarakan waktu itu, benar-benar terjadi.
Fei, ucapan adalah doa, kan?
Adelle langsung tersentak hebat.
Tubuhnya bergetar. Dia kemudian memelukku erat dan menangis tersedu.
“Afeiii… huhuhuhuhuhu. ”
Aku membelai rambutnya lembut.
Mbak Adelle tiba-tiba menengadahkan kepalanya ke atas, seperti sedang melihat sesuatu.
“Feiii, ridho kan kamu kalo aku nikah sama suami kamu? Aku bakal jaga dia Fei. Janji !!” Mbak Adelle bicara seolah dia berhadapan dengan Afei.
Aku tersenyum melihat tingkahnya yang lucu.
percyjackson321 dan 24 lainnya memberi reputasi
25
Tutup