- Beranda
- Stories from the Heart
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
...
TS
jurigciwidey
RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)
Quote:
Good news for me gan, kemaren ane dah ketemu dengan pihak PH, dan sepakat mereka mengangkat ide cerita tentang kolong mayit sebagai film yang akan mereka buat...
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
Mereka akan membuat cerita baru dengan desa kolong mayit sebagai latarnya, sehingga akan sedikit berbeda dengan cerita rarasukma yang ane buat
terlepas dari hal itu, ane hanya meminta doanya kepada agan-agan dan sista semua, semoga semuanya di lancarkan ketika prosesnya berjalan dan ide cerita yang akan di jadikan film bisa diterima oleh masyarakat luas
SAMPURASUN
Setelah beberapa tahun menghilang, karena cerita-cerita sebelumnya di tarik oleh salah satu platform, akhirnya kini ane kembali lagi gan. seperti pulang ke kampung halaman setelah merantau selama dua tahun lamanya
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Di thread ini ane kembali bercerita, sebuah kisah yang mungkin bisa di nikmati oleh para agan dan sista yang mampir ke thread ane ini.
namun, sebelum baca mohon untuk tidak mengcopy, mengedit, bahkan menyebarkan ke platform atau media lain tanpa seizin dari saya ya.
maka dari itu, mari kita mulai ceritanya.
![RARASUKMA [DESA KOLONG MAYIT] (TAMAT)](https://s.kaskus.id/images/2023/05/30/1454678_20230530104622.png)
Quote:
Rara, begitulah namanya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
Seseorang yang awalnya adalah gadis biasa, hingga dimana dirinya mendapatkan sesuatu tragedi yang membuat dirinya harus berurusan dengan hal gaib di dalam hidupnya. dan ini adalah awal yang merubah kehidupannya.
Dimana tubuhnya dipaksa untuk bisa menerima semua kejadian yang diluar nalar beserta semua tragedi yang ada di dalamnya.
ARC 1 : AWAL MULA RARA
BAB 1 (DIBAWAH)
BAB 2 (HILANG)
BAB 3 (RAMAI)
BAB 4 (RUANGAN)
BAB 5 (PULANG)
BAB 6 (SUASANA)
BAB 7 (MELARIKAN DIRI)
BAB 8 TERSADARKAN
ARC 2 : EXPEDISI
BAB 9 SATU BULAN KEMUDIAN
BAB 10 PERTEMUAN
BAB 11
MBAH WALANG
BAB 12 KEBERANGKATAN
BAB 13 BERKUMPUL
BAB 14 MALAM PERTAMA
BAB 15 KELUAR
BAB 16 DARAH
BAB 17 MEMULAI PERJALANAN
BAB 18 LEUWEUNG KUNTI
BAB 19 PERDEBATAN
BAB 20 MEREKA
BAB 21 DILUAR RENCANA
BAB 22 KEPANIKAN
BAB 23 MENGIKUTI
BAB 24 BERPENCAR
BAB 25 MIMPI
BAB 26 KETAKUTAN
BAB 27 SAMPAI
BAB 28 DESA
BAB 29 DIMALAM PERTAMA
BAB 30 KERAMAT
BAB 31 TERSENYUM
BAB 32 TIDAK TERDUGA
BAB 33 KEPANIKAN
BAB 34 MENGUNGSI
BAB 35 KETIDAKTAHUAN
BAB 36 KENYATAAN
BAB 37 TERROR
BAB 38 KETAKUTAN
BAB 39 MELARIKAN DIRI
BAB 40 DIA
BAB 41 DIBALIK ITU SEMUA
BAB 42 PENYESALAN
BAB 43 BANTUAN
BAB 44 MENGHILANG KEMBALI
BAB 45 TERNYATA DIA
BAB 46 KEMBALI
BAB 47 DATANG
BAB 48 BEBERAPA WAKTU YANG LALU (TAMAT)
Quote:
“Bener kita harus lakuin ini Wi?”
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
Tubuh Rara tiba-tiba bergetar hebat, ketika dia berdiri di salah satu sudut ruangan tua yang sudah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar yang merambat melalui dinding-dinding yang lembab dan penuh lumut pada malam itu.
“Lu gak perlu takut, semua ini demi konten yang kita bangun. lu tau sendiri kan bagaimana naiknya kalau kita bikin konten tentang horror.”
“Ardi, Dimas, Danang semuanya setuju atas apa yang akan kita lakukan kali ini.”
Tampak seseorang dengan penuh percaya diri memberikan semangat kepada Rara, seseorang yang membuat ide untuk melakukan konten seperti ini di dalam sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya karena ada kejadian bunuh diri yang mengakibatkan hampir seluruh keluarga yang tinggal disana meninggal dunia dengan cara digantung di dalam ruangan yang sedang mereka berdua masuki pada saat ini.
Dewi yang kini menemani Rara tampak tersenyum pelan, sebagai seorang leader yang meyakinkan Rara bahwa konten yang akan mereka buat sekarang akan trending. Maka sudah sepantasnya dirinya meyakinkan Rara yang kini tampak ketakutan untuk bisa bertahan di sana sampai akhir.
Sedangkan Rara yang merupakan orang yang harus berada di depan kamera setiap waktu, mau tidak mau harus mengkutinya, karena dia adalah bintang utama dari konten ini.
Parasnya yang cantik dan followers instagramnya yang sudah puluhan ribu, membuat dirinya menjadi ujung tombak dari tim yang Dewi bentuk untuk konten tersebut.
“Lu di depan kamera akan dibuat seolah-olah sendirian, membuat vlog untuk menelusuri tempat ini dari ujung ke ujung dan menceritakan tentang terbunuhnya lima anggota keluarga dengan cara gantung diri di rumah ini.”
“Anggap diri lu menjadi seorang indigo, agar bisa menarik banyak penonton, semakin lu heboh maka akan semakin baik.”
Dewi yang mencoba menyemangati Rara yang tampaknya masih ketakutan kini memegang pundak dirinya dengan senyuman kecil pada malam itu.
“Gue tau lu takut karena baru kali ini lu lakuin hal yang seperti ini.”
“Tapi tenang, sebenarnya lu gak akan sendiri, ada kita yang mantau lu di mobil dengan kamera yang sudah kita simpan di setiap sudut.”
“Sehingga ketika lu merasa ketakutan dan merasa ada yang aneh, kita berempat akan langsung ke tempat lu.”
“Kita sudah janji, semua pendapatan dari konten ini, lu akan dapat porsi yang lebih banyak.”
“Jadi, siap-siaplah untuk tenar, siapa tau lu jadi the next Jurnal Rosi atau Sasra Wijayanta nantinya.”
Rara yang mempunyai hutang budi terhadap Dewi yang menaikan pamornya hingga hari ini mau tidak mau harus menuruti apa yang Dewi katakan apapun kontennya.
Karena selama ini, konten-konten yang dia buat bersama dengan tim nya kini menjadi pendapatan utama dirinya di sela-sela kuliah yang sedang dia jalani selama tiga tahun ini.
Meskipun Rara masih ragu atas apa yang akan dia lakukan, namun dia mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dia juga kini terlihat menggerakan wajahnya yang kaku, agar terlihat bagus di depan kamera yang dia bawa.
Sebagai seseorang yang terbiasa tampil di depan kamera, Dia harus siap untuk berakting seolah-olah menjadi seorang indigo yang menceritakan tentang tempat-tempat seram dengan segala makhluk yang tinggal disana.
Tentu saja, itu semua hasil dari briefing dan riset yang telah Dewi lakukan dengan tiga anggota lainnya. Sehingga semuanya bisa tampak seperti asli di depan kamera.
“Ya sudah, kalau memang sudah siap gue akan meninggalkan lu disini ya Ra, lu tinggal jalan aja ke tempat-tempat yang sudah kita briefing dan menceritakan semuanya disana.”
“Apa yang lu rasain, apa yang lu lihat nanti ceritakan di depan kamera yang lu bawa ya. Karena lu adalah ujung tombak dari channel yang kita buat.”
Dewi yang senang karena Rara sudah siap atas apa dia kerjakan akhirnya menepuk pundak Rara beberapa kali.
Tak lama, dia pun akhirnya berbalik dan meninggalkan dirinya sendirian dengan senter dan kamera yang dia bawa.
Sambil tersenyum dia mengangkat tangan ke salah satu kamera yang berada di sudut ruangan tersebut, dan memberi isyarat bahwa semuanya sudah siap untuk memulai penelusuran di tempat yang menyeramkan ini.
***
Sebuah mobil tampak terparkir halaman rumah yang terbengkalai itu. Sebuah rumah yang sangat besar, dengan model seperti rumah-rumah mewah yang ada di sinetron masa kini dengan cat putihnya yang sudah memudar dan tampak lapuk di makan usia.
Rumah itu tampaknya sudah lama ditinggalkan bahkan kini rumah tersebut nampak sudah di ambil alih oleh alam dengan tumbuhan merambat yang terlihat seperti menggerogoti isi dari rumah besar tersebut setelah ditinggalkan selama beberapa tahun lamanya.
Sebuah kejadian naas yang mengakibatkan beberapa orang terbunuh karena gantung diri di dalam sana membuat rumah itu terbengkalai.
Entah bagaimana ceritanya kelima orang itu bisa tergantung dengan selendang yang menggantung di langit-langit dan leher mereka yang terikat mereka semua dalam keadaan yang mengenaskan.
Seorang ibu, seorang ayah, dan tiga anak laki-laki yang ditemukan tidak bernyawa oleh anak bungsunya yang pulang ketika libur kuliah.
Semua berspekulasi bahwa itu adalah pembunuhan, namun hingga hari ini bukti-bukti itu tidak bisa ditemukan. Bahkan sang anak bungsu pun mendadak gila karena dia merasa di hantui oleh keluarganya sehingga harus dibawa di Rumah Sakit Jiwa.
Meskipun, beberapa tahun ke belakang sang anak bungsu tiba-tiba menghilang begitu saja disana, dia menghilang tanpa jejak dan hingga hari ini belum ditemukan.
Dewi merasa yakin bahwa konten yang dia buat kali ini akan membuat semua orang menonton kontennya.
Karena, hingga hari ini tidak ada satu pun konten kreator yang membahas rumah ini beserta kasus yang menimpanya.
“Guys, gimana sudah mulai live di semua platform kan?”
Dewi yang tampak semangat kini mendekati Ardi, Dimas yang standby di depan mobil dengan semua peralatan yang mereka bawa untuk konten yang dia bawakan.
Semua platform mereka nyalakan, mereka mengatur pergerakan dari Rara yang ditinggalkan di dalam sana. Mereka semua tampak serius seperti layaknya para pegawai televisi yang sedang sibuk memindahkan kamera-kamera yang terpasang disana agar dia bisa mengikuti kemana Rara melangkah di dalam sana.
Ardi hanya mengangkat tangannya ketika Rara datang menghampirinya. Matanya fokus menatap layar-layar kecil di atas laptopnya dan mengatur nya agar bisa dilihat oleh para penonton yang ada disana.
Sedangkan Dimas terlihat fokus dengan headset yang menempel di kepalanya, juga sebuah soundcard yang dia pakai untuk mengatur suara dari Dewi agar terdengar jelas.
Sedangkan Danang, tampak hanya tertidur pulas di kursi supir. Dia tampaknya terlihat sangat kecapean karena medan yang harus mereka tempuh untuk sampai di tempat ini sangatlah berat.
Dewi yang berada di sana terlihat mendekati Ardi yang fokus dengan laptop dan beberapa HP yang menyala di dekatnya, sesekali dia membaca komentar dari para penonton yang melihat Dewi yang berada disana sendirian.
Benar saja, penonton yang awalnya hanya ratusan kini menjadi ribuan dalam sekejap. Tak terhitung banyak sekali gift-gift dari para penonton yang sedang menyaksikan apa yang Rara lakukan, banyak yang berkomentar bahwa apa yang Rara ceritakan tentang rumah itu terlihat sangat menyeramkan.
Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa baru kali ini mereka melihat live yang seperti ini di dalam platform yang mereka tonton.
Dewi merasa senang, banyak feedback yang positif dari para penonton setianya. Bahkan melebihi dari konten-konten lain yang sudah dia lakukan dengan timnya.
Dia merasa, bahkan konten horor yang dia lakukan harus tetap berjalan, bahkan mungkin akan menjadi acara reguler agar mereka semakin terkenal.
Dewi terus memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan gift yang tak henti-hentinya mengalir pada malam itu.
Namun, tiba-tiba Ardi menunjuk suatu komentar yang agak sedikit aneh. Komentar yang memakai huruf-huruf besar agar mereka bisa melihat tulisan itu dengan seksama.
Sebuah tulisan yang membuat Dewi tiba-tiba bergidik, karena sesaat setelah tulisan itu muncul.
Tiba-tiba…
Pssstttt
Genset yang menyalakan seluruh peralatan disana tiba-tiba mati, bersamaan dengan laptop dan HP yang mereka pakai untuk live di konten tersebut.
Ardi sedikit panik atas apa yang terjadi, perlu beberapa menit hingga akhirnya genset menyala kembali.
Namun, ketika semuanya menyala dan live itu kembali berlangsung. Tiba-tiba sosok Rara yang seharusnya tampak di dalam kamera tiba-tiba menghilang, dia seperti lenyap ditelan bumi di dalam rumah tersebut pada malam itu.
SUPPORT AGAR ANE SEMANGAT TERUS UNTUK MENULIS YA, KALIAN BISA KIRIM TRAKTEER DISINI.
TRAKTIR CENDOL
Diubah oleh jurigciwidey 11-02-2026 11:19
reverbriks dan 52 lainnya memberi reputasi
51
37.4K
Kutip
437
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jurigciwidey
#2
BAB 3 “RAMAI”
Quote:
[Bayangan apa tuh?]
[sepertinya itu settingan deh.]
[Gue rasa enggak, lihat kameranya pindah sendiri ketika bayangan itu melintas.]
[Editanya kurang mulus gan.]
[Ah itu pasti kru, si Rara sengaja dibuat ilang, biar mereka cari, akting sinetron ini.]
[Gue dateng kesini cuman mau lihat Rara, tapi kok Rara kagak ada, gue left lagi lah kalau gini.]
[Lu pada bacot amat sih, nikmatin doang gift kagak, kasih gift dong mereka dah capek-capek bikin kayak gini malah lu pada komen kagak jelas.]
Komentar-komentar yang muncul di dalam layar HP dan laptop mereka muncul dengan berbagai macam argumen yang ada.
Ada yang mendukung mereka, ada pula yang menyamakan mereka dengan para konten kreator horor yang membuat sensasi agar konten mereka semakin menarik untuk dilihat.
Namun, salah satu komentar yang membuat Ardi dan Rara terdiam kini tidak tampak lagi, dia seperti menghilang setelah memperingati mereka dengan tulisannya yang sedikit mengancam pada saat itu.
“Dew, kita berpencar aja nih, gede banget ini rumah. Lu ke ruangan tempat lu ninggalin Rara di lantai bawah, biar gue yang ke lantai atas untuk mencarinya,” kata Ardi yang terdiam di dekat tangga yang tampak kotor dengan tumbuhan merambat yang memenuhi lantai dan dinding di dekat tangga tersebut.
Mereka berdua pada saat ini sedang berada di ruangan utama, sebuah ruangan yang sangat megah dengan barang-barang yang masih tersimpan rapi disana. Bahkan foto keluarga besar masih menempel rapi di dinding dengan debu yang menutupi foto tua itu setelah ditinggalkan selama puluhan tahun.
Tidak ada yang berani mengambil barang-barang di rumah itu setelah kejadian mengerikan itu terjadi, sehingga rumah itu ditinggalkan begitu lamanya. Mereka takut, takut akan arwah gentayangan dari para penghuni rumah yang katanya seringkali menampakan diri disana.
Jujur, Ardi yang berdiri bersama Dewi juga tampak sedikit ketakutan, hawa dingin yang menusuk tulang muncul dari sudut-sudut rumah yang gelap dan menyeramkan.
Namun dirinya meyakinkan diri bahwa pada saat ini menemukan Rara adalah hal yang utama, karena dia tidak mau kehilangan ujung tombak dari konten yang sedang dia buat pada saat ini.
Dewi yang mendengar perkataan Ardi hanya mengangguk, dia mengambil HT yang dikalungkan di lehernya dan mengangkatnya ke arah Ardi.
“Kalau lu ketemu Rara, lu langsung panggil kita semua ya!” katanya dengan nada yang sedikit pelan.
Ardi kemudian mengangguk, dengan sedikit menarik nafas panjang dia akhirnya melangkahkan kakinya menaiki tangga yang kotor dan berdebu itu. Cahaya dari senter yang dia bawa menjadi satu-satunya penerangan di tengah-tengah kegelapan yang menutupi rumah itu ketika malam tiba.
Sedangkan Dewi, dia kembali ke dalam suatu ruangan, ruangan yang menjadi tempat dirinya meninggalkan Rara disana sendirian sebelum akhirnya menghilang begitu saja.
***
Rumah yang sudah tidak berpenghuni membuatnya kini dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan merambat di setiap sudut rumah, begitu pula dengan halaman yang kini penuh dengan ilalang dan rumput-rumput liar yang tumbuh tinggi di sekitar rumah, membuat Danang dan Dimas tampak kesulitan berjalan melewatinya.
“Mas, Mas, ganti, lu denger gue gak?” kata Dimas yang mencoba berkomunikasi dengan Danang dengan HT yang mereka pegang.
“Iye, gue denger, gimana Nang?”
“Ni bener si Rara hilang ampe keluar gini, ini rerumputan tinggi-tinggi gini Mas, gak mungkin dia kesini.”
“Kalaupun mau kebelet berak juga kagak mungkin masuk kesini.”
“Coba tanya Dewi sama si Ardi deh, gue gak tau, kan gue hanya dengerin dia ngoceh tentang tempat ini doang sebelum akhirnya semua peralatan mati.”
“Si Dewi kagak nyaut, ni HT cuman nyambung ke elu doang, si Ardi juga sama, lu settingnya kagak bener kali jadi frekuensi antar HT nya beda.” Nada danang sedikit meninggi karena dia merasakan suatu keanehan atas HT yang dia pegang pada saat ini.
Seharusnya, alat seperti HT bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang memakai HT yang sama, sehingga ketika salah satu dari mereka mengatakan sesuatu maka ke tiga orang lainnya bisa mendengarnya sehingga bisa membuat mereka berbicara satu sama lain.
Namun, kali ini berbeda, hanya HT Danang dan Dimas yang menyambung namun mereka tidak bisa berkomunikasi dengan Ardi dan Dewi yang mencari Rara di dalam rumah meskipun beberapa kali mereka sudah mencobanya.
“Yeee, gue dah nyetting biar kita nyambung semua kali Nang, makanya jangan tidur mulu lu, eh tapi bener juga ya, kenapa gak nyambung ama mereka berdua, kita muter balik aja atau gimana?” Jawab Dimas yang nampak kebingungan atas keanehan yang mereka alami.
“Udah, nanti kita masuk lewat pintu belakang aja, sambil liatin semak-semak, takutnya si Rara ada disana lagi fokus turunin muatannye di semak-semak.”
“Ah lu bercanda aja Nang, itu kan gebetan lu, dah ah lu tungguin ntar di pintu belakang ya!”
“Iye, iye.”
Pssttt
Danang dan Dimas akhirnya mematikan HT mereka, senter yang Danang pegang menyorot ke arah semak-semak yang ada di pinggir rumah itu, sesekali dia juga menyoroti jendela rumah yang tampak gelap dan berdebu.
Beberapa kali Danang hanya menggelengkan kepalanya, dia merasa bahwa ada sesuatu yang salah atas apa yang mereka kerjakan pada malam ini sehingga membuat konten yang sedang mereka buat menjadi berantakan.
Meskipun, tanpa mereka sadari penonton yang sedang menonton live mereka semakin banyak, karena di dalam kamera yang tersimpan di dalam rumah yang sedang merekam mereka, para penonton bisa melihat dengan jelas bahwa mereka semua masih diikuti oleh bayangan hitam yang mengikuti mereka berjalan disana.
***
Perasaan takut, cemas, dan khawatir kini menghantui Dewi. Dia bukannya takut dengan para makhluk atau dengan mitos yang ada tentang rumah ini, namun dia takut akan keselamatan Rara.
Rara yang merupakan teman sekaligus partner pertamanya ketika membuat konten, yang berjuang dari awal sehingga mereka bisa membentuk tim dengan Danang, Dimas dan Ardi dan menghasilkan uang dari sana. Membuat Dewi khawatir atas apa yang dia lakukan pada saat ini.
‘ Apa gue terlalu ngepush Rara untuk melakukan konten horror ginian ya?’
‘Ah tapi kan semuanya sudah sesuai kesepakatan, Rara juga dah setuju kalau uang yang nanti kita terima bakal kita kasih lebih besar buat dia.’
Batin Dewi kembali mempertanyakan keputusannya.
Hawa dingin yang menusuk kulit, suasana rumah yang menyeramkan dengan tumbuhan-tumbuhan yang merambat di dinding-dinding yang sudah lapuk dimakan usia, juga perabotan-perabotan yang berdebu dengan kegelapan yang menyelimuti dirinya, juga ruangan-ruangan yang tampak seram dan gelap sepertinya tidak membuat Dewi ketakutan pada saat itu.
‘Ra dimana lu Ra?’
‘Gue khawatir nih.’
Langkah kaki Dewi terdengar sangat pelan, dia menyorot semua ruangan yang ada disana dengan senter yang dia bawa, HT yang di kalungkan dia pegang di salah satu tangannya yang lain. Berharap bahwa ada salah satu temannya yang memanggilnya ketika mereka menemukan Rara disana.
Suasana di dalam rumah tersebut tampak benar-benar hening, mereka seperti benar-benar terpisah sehingga Dewi pun tidak mendengar langkah-langkah kaki dari teman-temannya yang berada di tempat yang terpisah di rumah tersebut.
Dia seperti sendirian disana, di dalam rumah yang sangat megah, yang kini ditinggalkan oleh penghuninya dengan kematian mereka yang memilukan.
‘Ra, Ra dimana lu?’
Batin Dewi tak henti-hentinya memanggil nama temannya. Semakin lama, dirinya semakin dekat dengan ruangan tempat dirinya bertemu dengan Rara untuk terakhir kalinya.
Tanpa dia sadari, semakin dia ingin mendekati tempat tersebut, langkah kakinya tiba-tiba mendadak menjadi agak berat. Dia seperti enggan mendekati ruangan itu sekali lagi, seperti ada sebuah kekuatan yang menahan dirinya agar tidak memasuki ruangan tersebut pada saat itu.
Namun, Dewi tampak berusaha untuk tetap berjalan mendekati ruangan tersebut secara perlahan-lahan,
Langkah demi langkah dia berjalan dengan suasana yang semakin mencekam sehingga membuat tubuhnya benar-benar menolak apa yang dia lakukan pada saat itu.
Jujur, perasaan Dewi juga campur aduk, takut, resah, khawatir, cemas semuanya bercampur menjadi satu.
Tubuhnya seperti berat dan enggan masuk ke ruangan tersebut. meskipun dirinya terus memaksakan diri hingga akhirnya, dia pun sampai dan memasuki ruangan tersebut dengan cahaya senter yang dia pegang.
Dia memasuki ruangan tersebut secara perlahan, dia sengaja mencondongkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut.
Namun, ketika dia melihat ruangan itu dengan cahaya senternya, tubuhnya mendadak kaku, tangannya tiba-tiba bergetar dengan sangat hebat, bahkan seketika keringat dingin muncul di sekujur tubuhnya.
Dia berdiri sedikit lama dengan tubuh yang bergetar hebat, hingga akhirnya dia mengangkat HT yang dia pegang dan dia dekatkan ke arah mulutnya.
Seketika…
Dia berteriak, mencoba memanggil semua teman-temannya dengan nada yang ketakutan.
“KALIAN SEMUA KESINI, CEPATTTTTTTTTT!!!”
“KA, KA, KALAU TIDAK, RARA AKAN MATIIIIIIIII!”
[sepertinya itu settingan deh.]
[Gue rasa enggak, lihat kameranya pindah sendiri ketika bayangan itu melintas.]
[Editanya kurang mulus gan.]
[Ah itu pasti kru, si Rara sengaja dibuat ilang, biar mereka cari, akting sinetron ini.]
[Gue dateng kesini cuman mau lihat Rara, tapi kok Rara kagak ada, gue left lagi lah kalau gini.]
[Lu pada bacot amat sih, nikmatin doang gift kagak, kasih gift dong mereka dah capek-capek bikin kayak gini malah lu pada komen kagak jelas.]
Komentar-komentar yang muncul di dalam layar HP dan laptop mereka muncul dengan berbagai macam argumen yang ada.
Ada yang mendukung mereka, ada pula yang menyamakan mereka dengan para konten kreator horor yang membuat sensasi agar konten mereka semakin menarik untuk dilihat.
Namun, salah satu komentar yang membuat Ardi dan Rara terdiam kini tidak tampak lagi, dia seperti menghilang setelah memperingati mereka dengan tulisannya yang sedikit mengancam pada saat itu.
“Dew, kita berpencar aja nih, gede banget ini rumah. Lu ke ruangan tempat lu ninggalin Rara di lantai bawah, biar gue yang ke lantai atas untuk mencarinya,” kata Ardi yang terdiam di dekat tangga yang tampak kotor dengan tumbuhan merambat yang memenuhi lantai dan dinding di dekat tangga tersebut.
Mereka berdua pada saat ini sedang berada di ruangan utama, sebuah ruangan yang sangat megah dengan barang-barang yang masih tersimpan rapi disana. Bahkan foto keluarga besar masih menempel rapi di dinding dengan debu yang menutupi foto tua itu setelah ditinggalkan selama puluhan tahun.
Tidak ada yang berani mengambil barang-barang di rumah itu setelah kejadian mengerikan itu terjadi, sehingga rumah itu ditinggalkan begitu lamanya. Mereka takut, takut akan arwah gentayangan dari para penghuni rumah yang katanya seringkali menampakan diri disana.
Jujur, Ardi yang berdiri bersama Dewi juga tampak sedikit ketakutan, hawa dingin yang menusuk tulang muncul dari sudut-sudut rumah yang gelap dan menyeramkan.
Namun dirinya meyakinkan diri bahwa pada saat ini menemukan Rara adalah hal yang utama, karena dia tidak mau kehilangan ujung tombak dari konten yang sedang dia buat pada saat ini.
Dewi yang mendengar perkataan Ardi hanya mengangguk, dia mengambil HT yang dikalungkan di lehernya dan mengangkatnya ke arah Ardi.
“Kalau lu ketemu Rara, lu langsung panggil kita semua ya!” katanya dengan nada yang sedikit pelan.
Ardi kemudian mengangguk, dengan sedikit menarik nafas panjang dia akhirnya melangkahkan kakinya menaiki tangga yang kotor dan berdebu itu. Cahaya dari senter yang dia bawa menjadi satu-satunya penerangan di tengah-tengah kegelapan yang menutupi rumah itu ketika malam tiba.
Sedangkan Dewi, dia kembali ke dalam suatu ruangan, ruangan yang menjadi tempat dirinya meninggalkan Rara disana sendirian sebelum akhirnya menghilang begitu saja.
***
Rumah yang sudah tidak berpenghuni membuatnya kini dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan merambat di setiap sudut rumah, begitu pula dengan halaman yang kini penuh dengan ilalang dan rumput-rumput liar yang tumbuh tinggi di sekitar rumah, membuat Danang dan Dimas tampak kesulitan berjalan melewatinya.
“Mas, Mas, ganti, lu denger gue gak?” kata Dimas yang mencoba berkomunikasi dengan Danang dengan HT yang mereka pegang.
“Iye, gue denger, gimana Nang?”
“Ni bener si Rara hilang ampe keluar gini, ini rerumputan tinggi-tinggi gini Mas, gak mungkin dia kesini.”
“Kalaupun mau kebelet berak juga kagak mungkin masuk kesini.”
“Coba tanya Dewi sama si Ardi deh, gue gak tau, kan gue hanya dengerin dia ngoceh tentang tempat ini doang sebelum akhirnya semua peralatan mati.”
“Si Dewi kagak nyaut, ni HT cuman nyambung ke elu doang, si Ardi juga sama, lu settingnya kagak bener kali jadi frekuensi antar HT nya beda.” Nada danang sedikit meninggi karena dia merasakan suatu keanehan atas HT yang dia pegang pada saat ini.
Seharusnya, alat seperti HT bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang memakai HT yang sama, sehingga ketika salah satu dari mereka mengatakan sesuatu maka ke tiga orang lainnya bisa mendengarnya sehingga bisa membuat mereka berbicara satu sama lain.
Namun, kali ini berbeda, hanya HT Danang dan Dimas yang menyambung namun mereka tidak bisa berkomunikasi dengan Ardi dan Dewi yang mencari Rara di dalam rumah meskipun beberapa kali mereka sudah mencobanya.
“Yeee, gue dah nyetting biar kita nyambung semua kali Nang, makanya jangan tidur mulu lu, eh tapi bener juga ya, kenapa gak nyambung ama mereka berdua, kita muter balik aja atau gimana?” Jawab Dimas yang nampak kebingungan atas keanehan yang mereka alami.
“Udah, nanti kita masuk lewat pintu belakang aja, sambil liatin semak-semak, takutnya si Rara ada disana lagi fokus turunin muatannye di semak-semak.”
“Ah lu bercanda aja Nang, itu kan gebetan lu, dah ah lu tungguin ntar di pintu belakang ya!”
“Iye, iye.”
Pssttt
Danang dan Dimas akhirnya mematikan HT mereka, senter yang Danang pegang menyorot ke arah semak-semak yang ada di pinggir rumah itu, sesekali dia juga menyoroti jendela rumah yang tampak gelap dan berdebu.
Beberapa kali Danang hanya menggelengkan kepalanya, dia merasa bahwa ada sesuatu yang salah atas apa yang mereka kerjakan pada malam ini sehingga membuat konten yang sedang mereka buat menjadi berantakan.
Meskipun, tanpa mereka sadari penonton yang sedang menonton live mereka semakin banyak, karena di dalam kamera yang tersimpan di dalam rumah yang sedang merekam mereka, para penonton bisa melihat dengan jelas bahwa mereka semua masih diikuti oleh bayangan hitam yang mengikuti mereka berjalan disana.
***
Perasaan takut, cemas, dan khawatir kini menghantui Dewi. Dia bukannya takut dengan para makhluk atau dengan mitos yang ada tentang rumah ini, namun dia takut akan keselamatan Rara.
Rara yang merupakan teman sekaligus partner pertamanya ketika membuat konten, yang berjuang dari awal sehingga mereka bisa membentuk tim dengan Danang, Dimas dan Ardi dan menghasilkan uang dari sana. Membuat Dewi khawatir atas apa yang dia lakukan pada saat ini.
‘ Apa gue terlalu ngepush Rara untuk melakukan konten horror ginian ya?’
‘Ah tapi kan semuanya sudah sesuai kesepakatan, Rara juga dah setuju kalau uang yang nanti kita terima bakal kita kasih lebih besar buat dia.’
Batin Dewi kembali mempertanyakan keputusannya.
Hawa dingin yang menusuk kulit, suasana rumah yang menyeramkan dengan tumbuhan-tumbuhan yang merambat di dinding-dinding yang sudah lapuk dimakan usia, juga perabotan-perabotan yang berdebu dengan kegelapan yang menyelimuti dirinya, juga ruangan-ruangan yang tampak seram dan gelap sepertinya tidak membuat Dewi ketakutan pada saat itu.
‘Ra dimana lu Ra?’
‘Gue khawatir nih.’
Langkah kaki Dewi terdengar sangat pelan, dia menyorot semua ruangan yang ada disana dengan senter yang dia bawa, HT yang di kalungkan dia pegang di salah satu tangannya yang lain. Berharap bahwa ada salah satu temannya yang memanggilnya ketika mereka menemukan Rara disana.
Suasana di dalam rumah tersebut tampak benar-benar hening, mereka seperti benar-benar terpisah sehingga Dewi pun tidak mendengar langkah-langkah kaki dari teman-temannya yang berada di tempat yang terpisah di rumah tersebut.
Dia seperti sendirian disana, di dalam rumah yang sangat megah, yang kini ditinggalkan oleh penghuninya dengan kematian mereka yang memilukan.
‘Ra, Ra dimana lu?’
Batin Dewi tak henti-hentinya memanggil nama temannya. Semakin lama, dirinya semakin dekat dengan ruangan tempat dirinya bertemu dengan Rara untuk terakhir kalinya.
Tanpa dia sadari, semakin dia ingin mendekati tempat tersebut, langkah kakinya tiba-tiba mendadak menjadi agak berat. Dia seperti enggan mendekati ruangan itu sekali lagi, seperti ada sebuah kekuatan yang menahan dirinya agar tidak memasuki ruangan tersebut pada saat itu.
Namun, Dewi tampak berusaha untuk tetap berjalan mendekati ruangan tersebut secara perlahan-lahan,
Langkah demi langkah dia berjalan dengan suasana yang semakin mencekam sehingga membuat tubuhnya benar-benar menolak apa yang dia lakukan pada saat itu.
Jujur, perasaan Dewi juga campur aduk, takut, resah, khawatir, cemas semuanya bercampur menjadi satu.
Tubuhnya seperti berat dan enggan masuk ke ruangan tersebut. meskipun dirinya terus memaksakan diri hingga akhirnya, dia pun sampai dan memasuki ruangan tersebut dengan cahaya senter yang dia pegang.
Dia memasuki ruangan tersebut secara perlahan, dia sengaja mencondongkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut.
Namun, ketika dia melihat ruangan itu dengan cahaya senternya, tubuhnya mendadak kaku, tangannya tiba-tiba bergetar dengan sangat hebat, bahkan seketika keringat dingin muncul di sekujur tubuhnya.
Dia berdiri sedikit lama dengan tubuh yang bergetar hebat, hingga akhirnya dia mengangkat HT yang dia pegang dan dia dekatkan ke arah mulutnya.
Seketika…
Dia berteriak, mencoba memanggil semua teman-temannya dengan nada yang ketakutan.
“KALIAN SEMUA KESINI, CEPATTTTTTTTTT!!!”
“KA, KA, KALAU TIDAK, RARA AKAN MATIIIIIIIII!”
sampeuk dan 31 lainnya memberi reputasi
30
Kutip
Balas
Tutup