- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Destiny
...
TS
loveismyname
You Are My Destiny

2008
“SAH!”
Serta merta, kalimat Tahmid bergema ke seluruh ruangan musholla di pagi yang cerah ini. Begitu banyak wajah bahagia sekaligus haru terlihat. Proses akad nikah memang seharusnya menjadi sesuatu yang sakral, yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang melaluinya.
Aku termasuk orang yang berbahagia itu. Di hadapan seorang laki-laki yang barusan menjabat tanganku, yang selanjutnya, beliau secara resmi akan kupanggil Papa, aku tidak bisa menyembunyikan rasa haruku. Di sampingku, seorang wanita yang telah kupilih untuk mendampingiku seumur hidup, terus menerus menutup mukanya dengan kedua tangan, mengucap syukur tiada terkira.
Hai Cantik, semoga kamu bahagia juga di sana. Tunggu kami ya.
Spoiler for PERHATIAN !!:
Spoiler for DISCLAIMER !!:
Enjoy

Note : Gue akan berusaha agar cerita ini bisa selesai. Update, sebisa dan semampu gue aja, karena cerita ini sebenarnya sudah gue selesaikan dalam bentuk Ms.Word. Tapi maaf, gue gak bisa setiap hari ngaskus. mohon pengertiannya.
Index
prolog
part 1 the meeting
part 2 how come?
part 3 why
part 4 swimming
part 5 second meeting
part 6 aku
part 7 love story
part 8 mbak adelle
part 9 got ya!!
part 10 third meeting
part 11 kejadian malam itu
part 12 4th meeting
part 13 family
part 14 putus
part 15 comeback
part 16 morning surprise
part 17 we are different
Intermezzo - behind the scenes
Intermezzo - behind the scenes 2
part 18 aku di sini untukmu
part 19 a morning with her
part 20 don't mess with me 1
part 21 don't mess with me 2
part 22 my life has changed
part 23 mati gue !!
part 24 old friend
part 25 kenapa sih
Intermezzo - behind the scenes 3
part 26 halo its me again
part 27 balikan?
part 28 happy independent day
part 29 duet
part 30 sorry, i cant
part 31 night call
part 32 preparation
part 33 lets get the party started
part 34 sweetest sin
part 35 late 2001
part 36 ramadhan tiba
part 37 itu hurts
part 38 sebuah nasihat
part 39 happy new year
part 40 ombak besar
part 41 don't leave me
part 42 my hero
part 43 my hero 2
part 44 desperate
part 45 hah??
part 46 goodbye
part 47 ombak lainnya
part 48 no party
part 49 self destruction
part 50 diam
part 51 finally
part 52 our journey begin
part 53 her circle
part 54 my first kiss
part 55 sampai kapan
part 56 lost control
part 57 trauma
part 58 the missing story
part 59 akhirnya ketahuan
part 60 perencanaan ulang
part 61 komitmen
part 62 work hard
part 63 tembok terbesar
part 64 melihat sisi lain
part 65 proud
part 66 working harder
part 67 shocking news
part 68 she's gone
Intermezzo behind the scenes 4
part 69 time is running out
part 70 one more step
part 71 bali the unforgettable 1
part 72 bali the unforgettable 2
intermezzo behind the scenes 5
part 73 a plan
part 74 a plan 2
part 75 ultimatum
part 76 the day 1
part 77 the day 2
part 78 the day 3
part 79 judgement day
part 80 kami bahagia
part 81 kami bahagia 2
part 82 we are family
part 83 another opportunity
part 84 new career level
part 85 a gentlemen agreement
part 86 bidadari surga
part 87 pertanyaan mengejutkan
part 88 new place new hope
part 89 cobaan menjelang pernikahan 1
part 90 cobaan menjelang pernikahan 2
part 91 hancur
part 92 jiwa yang liar
part 93 tersesat
part 94 mungkinkah
part 95 faith
part 96 our happiness
part 97 only you
part 98 cepat sembuh sayang
part 99 our journey ends
part 100 life must go on
part 101 a new chapter
part 102 Bandung
part 103 we meet again
part 104 what's wrong
part 105 nginep
part 106 Adelle's POV 1
part 107 a beautiful morning
part 108 - terlalu khawatir
part 109 semangat !!
part 110 kejutan yang menyenangkan
part 111 aku harus bagaimana
part 112 reaksinya
part 113 menjauh?
part 114 lamaran
part 115 good night
part 116 satu per satu
part 117 si mata elang
part 118 re united
part 119 hari yang baru
part 120 teguran keras
part 121 open up my heart
part 122 pelabuhan hati
part 123 aku akan menjaganya
part 124 masih di rahasiakan
part 125 surprise
part 126 titah ibu
part 127 kembali
part 128 congratulation 1
part 129 congratulation 2
part 130 you are my destiny
epilog 1
epilog 2
epilog 3
epilog 4
epilog 5
side stry 1 mami and clarissa
side story 2 queen
side story 3 us (adelle's pov 2)
tamat
Diubah oleh loveismyname 03-06-2023 11:22
teguhjepang9932 dan 73 lainnya memberi reputasi
72
104.3K
954
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#281
Part 114 - Lamaran
Jam setengah sembilan, aku dan keluargaku sudah siap. Mami dan Papi pun sudah ada di rumah. Sayang Ko Along harus ke toko.
Sudah lama kami tidak ngobrol dan bertukar pikiran. Walau aku memegang salah satu lini bisnisnya, tapi pembicaraan kami hanya sekedar pekerjaan atau ledek-ledekan saja. Kami hampir tidak punya waktu untuk nongkrong dan ngobrol.
Aku menggoda Mbak Icha yang sedang duduk. Dia nampaknya grogi dan diam saja dari tadi. Aku menghampirinya, dan mencium pipinya.
Mbak Icha kaget dan langsung mencubit pipiku.
“Ihhh, apa sih Dek. Aku lagi grogi ini. awas ah! Bedak aku luntur ntar.” Mbak Icha merajuk.
Aku tertawa terbahak-bahak.
“Ini adeknya ngegodain aja sih. Itu Icha udah make up Ru, jangan di ciumin.” Mami mengomel.
Aku tambah tertawa.
“Assalammu’alaikum.” Suara dari luar mengagetkanku.
Lah, ga pake mobil atau kendaraan ternyata.
Atau emang gue gak dengar?
“Waalaikum salam.” Ayah dan Ibu menyambut mereka.
Aku yang penasaran langsung ngibrit keluar.
Seketika aku menganga.
Rasa campur aduk merasuk ke dalam hatiku.
Aku masih terdiam saat Om dan Tante Dewa menghampiriku.
“Hahahahaha, diem aja Ru? Kaget? Hahahahaha. Om boleh masuk ga nih?” Om Dewa menggodaku. Tante Dewa juga tertawa geli.
Sedangkan lelaki di samping mereka hanya tersenyum simpul.
Lelaki gagah, berkulit putih dan wibawanya memancar kuat.
“Gimana Gol? Surprise ga? Gue sama Icha sengaja ga ngasih tau lu. Kerjaan kakak lu tuh. Padahal gue udah ngomong, minta persetujuan lu. Tapi kata Icha, lu pasti setuju.” Suara berat dan berwibawa itu terdengar menegurku.
Orang ini yang sudah memberikan ilmu dan pengalamannya kepadaku, gratis !! Dia juga yang selalu kutanyakan jika ada hal yang tidak kumengerti di kantor.
Ternyata lelaki yang melamar kakakku adalah...
A Krisna
Hari ini, dia memakai batik berwarna coklat, dan celana bahan berwarna hitam. Rambutnya klimis dan di sisir rapi.
Aku langsung memeluknya erat.
“Ah, kampret lu A, ngomong kek sama gue.” ujarku.
Selama ini, aku tidak tahu kalau A Krisna dekat dengan Mbak Icha.
Atau aku yang terlalu sibuk?
Di tambah musibah yang terjadi beberapa waktu lalu, aku tampak cuek sekali dengan sekitarku.
Tak berapa lama, keluarga A Krisna sudah masuk dan duduk di sofa. Rumah kami tampak ramai karena ada beberapa orang yang hadir dari keluarga besar A Krisna.
“Gimana Ru? Cocok ga sama calonnya Icha?” Om Dewa menggodaku lagi. “Kalo kamu bilang nggak, Om bisa di usir sama Icha loh!! Kata Icha, kamu harus cocok sama calonnya.” Lanjutnya sambil tersenyum.
“Yah Om, pake nanya. Jangan gitu Om. Kalo calonnya A Krisna mah, malah Mbak Icha yang ga pantes kayaknya. Hahahaha.” Aku balik menggoda Mbak Icha yang sudah memerah mukanya.
“heh, awas kamu Dek!” Mbak Icha mengomel.
Akhirnya acara berlangsung dengan khidmat. Aku hampir tidak kuat menahan air mataku, ketika Mbak Icha mengatakan menerima lamaran A Krisna.
Aku teringat Afei.
Dulu, saat dia menerima lamaranku, wajahnya bersemu merah. Dia cantik sekali waktu itu. ekspresi wajahnya masih terbayang jelas di otakku.
Mami menghampiriku, dan mengusap ujung mataku.
Dia tersenyum.
“Yang udah ya udah. Jangan di bawa sedih terus. Mami tau, lu keinget Afei kan? Sabar Ru. Ikhlasin. Mami aja udah ikhlas.” Mami menasihatiku.
Tapi kata-katanya malah membuar air mataku semakin deras.
Aku menangis di pelukan mami.
Kamu masih inget momen kita kan sayang? Indah banget ya? Seumur hidup aku ga bisa lupa.
Aku dan A Krisna sudah berbincang di teras, setelah acara selesai dan dilanjutkan dengan makan siang.
“Lu dari kapan pacaran sama Mbak Icha A?” Aku bertanya.
“Gue ga pacaran kok.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Beberapa waktu lalu lah, gue ngomong serius sama Icha. Gue pengen nikahin dia. Awalnya dia juga kaget. Ga ada angin ga ada ujan, gue nyamperin ke rumah, dan ngomong gitu. Dia ga langsung jawab, dia pengen ngenal gue dulu. Tapi ya emang ga ada kata-kata pacaran sih. “ Lanjutnya
“Dia gue bawa ke rumah, ngomong sama bonyok gue. Bonyok gue setuju, terus gantian gue ke rumah lu ngomong sama bonyok lu, dan bonyok lu juga setuju. Ya udah, dari situ baru Icha bilang iya.”
“Gue sempet tanya, ga ngomong ke lu dulu? Tapi Icha ngeyakinin gue, kalo lu pasti setuju. Dari situ, kita baru ngerencanain semuanya. Dari mulai lamaran, nikah, dan lain-lain. Sambil proses kenal lebih dalam. Ga susah kok, karena gue sama Icha kan gak jauh umurnya, terus temen dari kecil juga. Jadi tinggal nyesuain diri aja.”
“Sebenernya, lamaran awalnya kita rencanain, sebelum kejadian bini lu meninggal. Yah ada musibah kan, akhirnya ketunda. Dari situ, Icha minta gue nunggu, sampe keadaan normal. Lo tau gak? Icha tegas banget waktu itu. Dia bilang, kalo gue ga terima sama mundurnya rencana lamaran, gue bisa tinggalin dia, ga ada masalah.”
“Buat dia, lu tuh segalanya Gol. Dia mau lu sembuh dulu baru kita lanjutin. Nah sebulan yang lalu, Icha baru ngasih tau gue, kayaknya lu udah mulai normal, dan bisa ikhlas atas kepergian Afei. Dari situ, kita rencanain ulang. Dan sepakatlah hari ini.” A Krisna bercerita panjang lebar.
Aku langsung merasa tidak enak. Mbak Icha sampai menunggu momen bahagianya, untuk menungguku sembuh.
“Sorry ya A.” Hanya itu yang bisa kukatakan.
“Sorry kenapa Dek?”
Mbak Icha keluar dan menghampiri kami. Dia membawa sepiring buah, untuk A Krisna.
“Kamu mau buah?’ Mbak Icha bertanya ke A Krisna.
A Krisna mengangguk dan mengambil piring buah itu.
“Dek, kita banyak belajar dari kamu.” Mbak Icha berkata, dia duduk di samping A Krisna. “Niat baik memang harus di segerakan, tapi, jodoh itu ada di tangan Tuhan. Aku udah bilang sama Krisna, kalo aku punya prioritas, dan prioritas aku adalah keluarga, kamu khususnya. Jadi, aku milih mundurin rencana, nunggu kamu sampe siap. Aku ga takut kehilangan Krisna, kalo emang ga jodoh. Tapi Alhamdulillah, mungkin masih jodohnya, kami bisa lancar sampe hari ini. Doain lancar terus ya Dek, sampe hari H.” Lanjut Mbak Icha.
“Amiin Mbak. Makasih ya Mbak.”
Aku mendekati Mbak Icha dan memeluknya.
“Hahahah, ternyata bener kata Mak Njan, kalian berdua tuh kayak orang pacaran. Kemana-mana gandengan, nyender di bahu, peluk-pelukan. Hahahaha. Lucu deh gue liat kalian.” A Krisna tertawa geli, melihat tingkah laku kami.
“Gini nih emang adek aku Kris. Manja dan posesif banget. Apalagi, ya sejak peristiwa itu. Aku pulang telat dikit aja, dia udah ngomel-ngomel. Aku pernah ga jawab sms atau telepon, sampe nyamperin ke kantor loh. Padahal aku lagi meeting. Maklum ya Kris, aku ngerti kok, dia sayang banget sama kakaknya.” Mbak Icha membelai rambutku lembut.
Aku masih memeluknya erat. Ada rasa tidak rela melepas Mbak Icha, walau lelakinya sekelas A Krisna, yang sudah aku tahu kualitasnya.
“Ini apa-apaan sih? Itu kakaknya mau berduaan sama calonnya. Di gelendotin terus. Awas kamu, kalo Icha udah nikah masih di recokin. “ Ibu tiba-tiba muncul dan menegurku. A Krisna hanya bisa tertawa.
“Aduh berat deh Bu, punya adek ipar kayak Daru nih. Serem!! Kalo aku ga sengaja ngecewain Icha, nasibku bisa kayak Brian dulu. Ngebayanginnya aja ngilu!!” A Krisna berkata sambil tertawa.
“makanya, kamu jangan macem-macem sama aku!! di patahin ntar tulang keringnya loh sama Daru.” Mbak Icha menggoda A Krisna.
“Asli ngilu Cha ngebayanginnya.” A Krisna bergidik.
Aku tertawa terbahak-bahak.
“Ya kamu nya juga jangan lebay Cha. Udah rumah tangga mah, kesalahan ga sengaja itu wajar. Cobaan pasti ada, ribut pasti ada. Selesaikan baik-baik. Jangan ngadu sama Daru langsung, udah tau dia panasan orangnya.” Ibu menasihati.
“Kamu juga Dek, jangan keseringan recokin Icha. Dia udah tanggung jawab suaminya. Ga usah terlalu posesif kayak dulu. Ibu jitak kamu kalo dikit-dikit nyariin icha.” Ibu malah ngomel kepadaku.
Aku tersenyum.
Ibu betul, aku sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Mbak Icha sudah ada yang menjaga.
Bahagia selalu kalian berdua.
Malamnya, aku sudah kembali berbincang dengan Mbak Adelle di telepon. Mbak Adelle sudah mengaih cerita dariku mengenai siapa yang melamar Mbak Icha. Aku yang masih di garasi, mengabulkan keinginannya.
“Jadi siapa Gol yang ngelamar Mbak Icha?” Tanyanya antusias.
“A Krisna, Mbak.” Jawabku, sambil melihat pembukuan garasi.
“Hah !! Yang bener ?? Kok bisa sampe kamu gak tau?”
Akupun menceritakan kisah mereka, sampai akhirnya lamaran. Sama sepertiku, Mbak Adelle juga terkejut.
“Iihhh, kok bisa sih? Aku sampe gak abis pikir. Kamu kan deket sama A Krisna, kok bisa gitu dia nyembunyiin hal ini?”
“Ya orang Mbak Icha yang nyuruh. Dia mah nurut aja.”
“Gol, lama-lama lingkungan RT kita isinya sodaraan semua ya? Hahahahahaha. Seru deh. Nemu jodoh kok pada gak jauh-jauh. Gara-gara Bang Ihsan nih !! Kalo dulu kita gak ngumpul, mungkin ceritanya udah lain kali ya Gol?”
Saat Mbak Adelle berkata soal pertemuan kami kembali, ada rasa sakit yang menghujam jantungku.
“Iya Mbak. Mungkin Afei juga masih hidup ya, kalo gak ketemu aku lagi?” Ujarku.
“Eh….Gooll, maksudku gak begituuuuu..Maaaafff…” Mbak Adelle langsung memohon kepadaku.
Aku yang sudah terlanjur drop, hanya bisa terdiam.
Blank…
“GOOLLL!!” Teriakan Mbak Adelle kembali menyadarkanku.
“E..eh iya Mbak. Maaf, tadi aku…”
“Gol, aku tau apa yang kamu pikirin. Kamu pasti berpikir kalo kamu yang jadi penyebab kematian Afei kan?” Cecar Mbak Adelle.
“Gol, jangan sekali-kali kamu mikir kayak gitu lagi. Kita nih percaya Tuhan. Semua yang terjadi adalah kehendakNya Gol. Apalagi kematian!! Sebuah takdir yang gak akan bisa dirubah, dan waktu kematian kita, udah ditentukan dari kita lahir !!”
“Gol, aku minta maaf ya? Tapi beneran deh, maksudku gak kesitu.” Mbak Adelle terdengar menyesal.
“I..iya ga papa Mbak. Maafin aku juga ya. Kok aku jadi sensitive ya? Aku harusnya ngerti maksud kamu.”
“Gol, kamu minggu depan ke sini kaaannn??” Suara Mbak Adelle tiba-tiba berubah jadi mendayu.
“Insya Allah. Ada apa emangnya Mbak?”
“Ya aku kangen kamu lah.. heheheh.”
“Mbak..?”
“Apahh..?”
Ya ilah gak usah pake desah gitu emang gak bisa?
“Sejak kapan kamu pinter ngalihin pembicaraan gitu?” Aku bertanya.
“Huahahahahah. Kamuuu yang ngajariiinnnnn…” Mbak Adelle tertawa terbahak-bahak.
Tapi makasih ya Mbak.
Maaf, kalo aku selama ini terlalu ngasih kamu harapan.
Tapi maksudku nggak begitu
Aku cuma pengen jaga kamu, sesuai janjiku dulu
Maaf kalo saat ini, aku belum bisa balas perasaan kamu
Sudah lama kami tidak ngobrol dan bertukar pikiran. Walau aku memegang salah satu lini bisnisnya, tapi pembicaraan kami hanya sekedar pekerjaan atau ledek-ledekan saja. Kami hampir tidak punya waktu untuk nongkrong dan ngobrol.
Aku menggoda Mbak Icha yang sedang duduk. Dia nampaknya grogi dan diam saja dari tadi. Aku menghampirinya, dan mencium pipinya.
Mbak Icha kaget dan langsung mencubit pipiku.
“Ihhh, apa sih Dek. Aku lagi grogi ini. awas ah! Bedak aku luntur ntar.” Mbak Icha merajuk.
Aku tertawa terbahak-bahak.
“Ini adeknya ngegodain aja sih. Itu Icha udah make up Ru, jangan di ciumin.” Mami mengomel.
Aku tambah tertawa.
“Assalammu’alaikum.” Suara dari luar mengagetkanku.
Lah, ga pake mobil atau kendaraan ternyata.
Atau emang gue gak dengar?
“Waalaikum salam.” Ayah dan Ibu menyambut mereka.
Aku yang penasaran langsung ngibrit keluar.
Seketika aku menganga.
Rasa campur aduk merasuk ke dalam hatiku.
Aku masih terdiam saat Om dan Tante Dewa menghampiriku.
“Hahahahaha, diem aja Ru? Kaget? Hahahahaha. Om boleh masuk ga nih?” Om Dewa menggodaku. Tante Dewa juga tertawa geli.
Sedangkan lelaki di samping mereka hanya tersenyum simpul.
Lelaki gagah, berkulit putih dan wibawanya memancar kuat.
“Gimana Gol? Surprise ga? Gue sama Icha sengaja ga ngasih tau lu. Kerjaan kakak lu tuh. Padahal gue udah ngomong, minta persetujuan lu. Tapi kata Icha, lu pasti setuju.” Suara berat dan berwibawa itu terdengar menegurku.
Orang ini yang sudah memberikan ilmu dan pengalamannya kepadaku, gratis !! Dia juga yang selalu kutanyakan jika ada hal yang tidak kumengerti di kantor.
Ternyata lelaki yang melamar kakakku adalah...
A Krisna
Hari ini, dia memakai batik berwarna coklat, dan celana bahan berwarna hitam. Rambutnya klimis dan di sisir rapi.
Aku langsung memeluknya erat.
“Ah, kampret lu A, ngomong kek sama gue.” ujarku.
Selama ini, aku tidak tahu kalau A Krisna dekat dengan Mbak Icha.
Atau aku yang terlalu sibuk?
Di tambah musibah yang terjadi beberapa waktu lalu, aku tampak cuek sekali dengan sekitarku.
Tak berapa lama, keluarga A Krisna sudah masuk dan duduk di sofa. Rumah kami tampak ramai karena ada beberapa orang yang hadir dari keluarga besar A Krisna.
“Gimana Ru? Cocok ga sama calonnya Icha?” Om Dewa menggodaku lagi. “Kalo kamu bilang nggak, Om bisa di usir sama Icha loh!! Kata Icha, kamu harus cocok sama calonnya.” Lanjutnya sambil tersenyum.
“Yah Om, pake nanya. Jangan gitu Om. Kalo calonnya A Krisna mah, malah Mbak Icha yang ga pantes kayaknya. Hahahaha.” Aku balik menggoda Mbak Icha yang sudah memerah mukanya.
“heh, awas kamu Dek!” Mbak Icha mengomel.
Akhirnya acara berlangsung dengan khidmat. Aku hampir tidak kuat menahan air mataku, ketika Mbak Icha mengatakan menerima lamaran A Krisna.
Aku teringat Afei.
Dulu, saat dia menerima lamaranku, wajahnya bersemu merah. Dia cantik sekali waktu itu. ekspresi wajahnya masih terbayang jelas di otakku.
Mami menghampiriku, dan mengusap ujung mataku.
Dia tersenyum.
“Yang udah ya udah. Jangan di bawa sedih terus. Mami tau, lu keinget Afei kan? Sabar Ru. Ikhlasin. Mami aja udah ikhlas.” Mami menasihatiku.
Tapi kata-katanya malah membuar air mataku semakin deras.
Aku menangis di pelukan mami.
Kamu masih inget momen kita kan sayang? Indah banget ya? Seumur hidup aku ga bisa lupa.
Quote:
Aku dan A Krisna sudah berbincang di teras, setelah acara selesai dan dilanjutkan dengan makan siang.
“Lu dari kapan pacaran sama Mbak Icha A?” Aku bertanya.
“Gue ga pacaran kok.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Beberapa waktu lalu lah, gue ngomong serius sama Icha. Gue pengen nikahin dia. Awalnya dia juga kaget. Ga ada angin ga ada ujan, gue nyamperin ke rumah, dan ngomong gitu. Dia ga langsung jawab, dia pengen ngenal gue dulu. Tapi ya emang ga ada kata-kata pacaran sih. “ Lanjutnya
“Dia gue bawa ke rumah, ngomong sama bonyok gue. Bonyok gue setuju, terus gantian gue ke rumah lu ngomong sama bonyok lu, dan bonyok lu juga setuju. Ya udah, dari situ baru Icha bilang iya.”
“Gue sempet tanya, ga ngomong ke lu dulu? Tapi Icha ngeyakinin gue, kalo lu pasti setuju. Dari situ, kita baru ngerencanain semuanya. Dari mulai lamaran, nikah, dan lain-lain. Sambil proses kenal lebih dalam. Ga susah kok, karena gue sama Icha kan gak jauh umurnya, terus temen dari kecil juga. Jadi tinggal nyesuain diri aja.”
“Sebenernya, lamaran awalnya kita rencanain, sebelum kejadian bini lu meninggal. Yah ada musibah kan, akhirnya ketunda. Dari situ, Icha minta gue nunggu, sampe keadaan normal. Lo tau gak? Icha tegas banget waktu itu. Dia bilang, kalo gue ga terima sama mundurnya rencana lamaran, gue bisa tinggalin dia, ga ada masalah.”
“Buat dia, lu tuh segalanya Gol. Dia mau lu sembuh dulu baru kita lanjutin. Nah sebulan yang lalu, Icha baru ngasih tau gue, kayaknya lu udah mulai normal, dan bisa ikhlas atas kepergian Afei. Dari situ, kita rencanain ulang. Dan sepakatlah hari ini.” A Krisna bercerita panjang lebar.
Aku langsung merasa tidak enak. Mbak Icha sampai menunggu momen bahagianya, untuk menungguku sembuh.
“Sorry ya A.” Hanya itu yang bisa kukatakan.
“Sorry kenapa Dek?”
Mbak Icha keluar dan menghampiri kami. Dia membawa sepiring buah, untuk A Krisna.
“Kamu mau buah?’ Mbak Icha bertanya ke A Krisna.
A Krisna mengangguk dan mengambil piring buah itu.
“Dek, kita banyak belajar dari kamu.” Mbak Icha berkata, dia duduk di samping A Krisna. “Niat baik memang harus di segerakan, tapi, jodoh itu ada di tangan Tuhan. Aku udah bilang sama Krisna, kalo aku punya prioritas, dan prioritas aku adalah keluarga, kamu khususnya. Jadi, aku milih mundurin rencana, nunggu kamu sampe siap. Aku ga takut kehilangan Krisna, kalo emang ga jodoh. Tapi Alhamdulillah, mungkin masih jodohnya, kami bisa lancar sampe hari ini. Doain lancar terus ya Dek, sampe hari H.” Lanjut Mbak Icha.
“Amiin Mbak. Makasih ya Mbak.”
Aku mendekati Mbak Icha dan memeluknya.
“Hahahah, ternyata bener kata Mak Njan, kalian berdua tuh kayak orang pacaran. Kemana-mana gandengan, nyender di bahu, peluk-pelukan. Hahahaha. Lucu deh gue liat kalian.” A Krisna tertawa geli, melihat tingkah laku kami.
“Gini nih emang adek aku Kris. Manja dan posesif banget. Apalagi, ya sejak peristiwa itu. Aku pulang telat dikit aja, dia udah ngomel-ngomel. Aku pernah ga jawab sms atau telepon, sampe nyamperin ke kantor loh. Padahal aku lagi meeting. Maklum ya Kris, aku ngerti kok, dia sayang banget sama kakaknya.” Mbak Icha membelai rambutku lembut.
Aku masih memeluknya erat. Ada rasa tidak rela melepas Mbak Icha, walau lelakinya sekelas A Krisna, yang sudah aku tahu kualitasnya.
“Ini apa-apaan sih? Itu kakaknya mau berduaan sama calonnya. Di gelendotin terus. Awas kamu, kalo Icha udah nikah masih di recokin. “ Ibu tiba-tiba muncul dan menegurku. A Krisna hanya bisa tertawa.
“Aduh berat deh Bu, punya adek ipar kayak Daru nih. Serem!! Kalo aku ga sengaja ngecewain Icha, nasibku bisa kayak Brian dulu. Ngebayanginnya aja ngilu!!” A Krisna berkata sambil tertawa.
“makanya, kamu jangan macem-macem sama aku!! di patahin ntar tulang keringnya loh sama Daru.” Mbak Icha menggoda A Krisna.
“Asli ngilu Cha ngebayanginnya.” A Krisna bergidik.
Aku tertawa terbahak-bahak.
“Ya kamu nya juga jangan lebay Cha. Udah rumah tangga mah, kesalahan ga sengaja itu wajar. Cobaan pasti ada, ribut pasti ada. Selesaikan baik-baik. Jangan ngadu sama Daru langsung, udah tau dia panasan orangnya.” Ibu menasihati.
“Kamu juga Dek, jangan keseringan recokin Icha. Dia udah tanggung jawab suaminya. Ga usah terlalu posesif kayak dulu. Ibu jitak kamu kalo dikit-dikit nyariin icha.” Ibu malah ngomel kepadaku.
Aku tersenyum.
Ibu betul, aku sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Mbak Icha sudah ada yang menjaga.
Bahagia selalu kalian berdua.
Malamnya, aku sudah kembali berbincang dengan Mbak Adelle di telepon. Mbak Adelle sudah mengaih cerita dariku mengenai siapa yang melamar Mbak Icha. Aku yang masih di garasi, mengabulkan keinginannya.
“Jadi siapa Gol yang ngelamar Mbak Icha?” Tanyanya antusias.
“A Krisna, Mbak.” Jawabku, sambil melihat pembukuan garasi.
“Hah !! Yang bener ?? Kok bisa sampe kamu gak tau?”
Akupun menceritakan kisah mereka, sampai akhirnya lamaran. Sama sepertiku, Mbak Adelle juga terkejut.
“Iihhh, kok bisa sih? Aku sampe gak abis pikir. Kamu kan deket sama A Krisna, kok bisa gitu dia nyembunyiin hal ini?”
“Ya orang Mbak Icha yang nyuruh. Dia mah nurut aja.”
“Gol, lama-lama lingkungan RT kita isinya sodaraan semua ya? Hahahahahaha. Seru deh. Nemu jodoh kok pada gak jauh-jauh. Gara-gara Bang Ihsan nih !! Kalo dulu kita gak ngumpul, mungkin ceritanya udah lain kali ya Gol?”
Saat Mbak Adelle berkata soal pertemuan kami kembali, ada rasa sakit yang menghujam jantungku.
Quote:
“Iya Mbak. Mungkin Afei juga masih hidup ya, kalo gak ketemu aku lagi?” Ujarku.
“Eh….Gooll, maksudku gak begituuuuu..Maaaafff…” Mbak Adelle langsung memohon kepadaku.
Aku yang sudah terlanjur drop, hanya bisa terdiam.
Blank…
“GOOLLL!!” Teriakan Mbak Adelle kembali menyadarkanku.
“E..eh iya Mbak. Maaf, tadi aku…”
“Gol, aku tau apa yang kamu pikirin. Kamu pasti berpikir kalo kamu yang jadi penyebab kematian Afei kan?” Cecar Mbak Adelle.
“Gol, jangan sekali-kali kamu mikir kayak gitu lagi. Kita nih percaya Tuhan. Semua yang terjadi adalah kehendakNya Gol. Apalagi kematian!! Sebuah takdir yang gak akan bisa dirubah, dan waktu kematian kita, udah ditentukan dari kita lahir !!”
“Gol, aku minta maaf ya? Tapi beneran deh, maksudku gak kesitu.” Mbak Adelle terdengar menyesal.
“I..iya ga papa Mbak. Maafin aku juga ya. Kok aku jadi sensitive ya? Aku harusnya ngerti maksud kamu.”
“Gol, kamu minggu depan ke sini kaaannn??” Suara Mbak Adelle tiba-tiba berubah jadi mendayu.
“Insya Allah. Ada apa emangnya Mbak?”
“Ya aku kangen kamu lah.. heheheh.”
“Mbak..?”
“Apahh..?”
Ya ilah gak usah pake desah gitu emang gak bisa?
“Sejak kapan kamu pinter ngalihin pembicaraan gitu?” Aku bertanya.
“Huahahahahah. Kamuuu yang ngajariiinnnnn…” Mbak Adelle tertawa terbahak-bahak.
Tapi makasih ya Mbak.
Maaf, kalo aku selama ini terlalu ngasih kamu harapan.
Tapi maksudku nggak begitu
Aku cuma pengen jaga kamu, sesuai janjiku dulu
Maaf kalo saat ini, aku belum bisa balas perasaan kamu
yuaufchauza dan 30 lainnya memberi reputasi
31
Tutup