Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.
story keluarga indigo.
Quote:



KKN Di Dusun Kalimati

Quote:


Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.

Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.

Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.




story keluarga indigo.



INDEKS

Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.

Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.

Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).

INDEKS

Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end



story keluarga indigo.

Quote:


Quote:



INDEKS

Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang

Konten Sensitif
story keluarga indigo.


Quote:

Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.

INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


INDEKS

part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
kemintil98Avatar border
arieaduhAvatar border
gokil4everAvatar border
gokil4ever dan 23 lainnya memberi reputasi
22
23.5K
306
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#259
33 Akhir Kisah
Tak terasa ini adalah hari terakhir kami KKN di Desa ini. Aku sedang membereskan barang barangku di kamar. Ku pandangi setiap sudut kamar ini yang sudah menemaniku selama sebulan terakhir.

Banyak kenangan di rumah ini. Sekalipun aku senang akan segera pulang, tapi aku juga pasti akan merindukan suasana di rumah ini. Kebersamaan ku dengan teman teman, susah senang selalu kami hadapi bersama.

Kupandangi rumah Nenek Lasmi dari jendela kamarku. Pak Kades bilang, akan di bangun masjid disana.
Itu ide yang bagus pikirku.

" Aii.. " panggil Radit dari pintu kamarku yang sengaja tidak ku tutup.

Aku pun menoleh kepadanya sembari memamerkan gigi putihku.
" Kenapa Ay? "

" Udah kelar packing nya? "

Aku memandangi tas yang sudah kusiapkan beberapa menit lalu.
" Udah kok. Tinggal angkut aja ke depan. "

" Ya udah yuk. Aku bantuin. Yang lain udah pada nungguin tuh. "

Aku mengangguk lalu meraih jaket almamaterku dan memakainya. Sementara Radit yang membantuku membawa barang barangku. Untung yang ku bawa tidak terlalu banyak.

" Kiii!! Buruan donk" panggil Doni sambil menggedor gedor pintu kamar Kiki.

" Eh.. Ada yang liat sepatu gue kagak? " teriak Danu sambil mondar mandir kesana kemari.

" Tas gue udah di depan belum Zaaaal! " kali ini Dedi ikut angkat suara.

Wah, ramai sekali hari ini. Semua heboh dengan kepentingan dan urusan masing masing. Padahal biasanya pagi pagi seperti ini rumah tenang, sunyi bahkan tak jarang masih ada yang bersembunyi di balik selimut.

Lain untuk pagi kali ini, semua bersemangat sekali untuk pulang. Kak Arden dan Rizal sudah menunggu di teras. Dengan barang barang yang sudah berjejer rapi.

" Udah siap Dek? "

" Udah Kak. "

" Yang lain mana sih lama banget? " tanya Rizal sambil menatap jam di pergelangan tangan nya.

" Paling bentar lagi. Masih pada rempong tuh" Sahut Radit.

" Eum, aku ke rumah Nek Lasmi bentar yah. " ucapku.

Mereka bertiga spontan menatapku dengan menunjukan kerut di dahi mereka masing masing.
" Kenapa? " tanyaku dengan polosnya.

" Ngapain sih Ta? " tanya Rizal.

" Pamitan. Hehe. " jawabku ngasal.

" Gila.. " ujar Rizal lalu diikuti tawa Kak Arden dan Radit.

" Temenin Radit tapi" kata Kak Arden.

" Oh siap komandan! " sahut Radit.

Aku dan Radit ke rumah Nenek Lasmi berdua. Sampai di depan halaman rumah ini, aku berhenti sejenak. Kupandangi sekitarku sambil memasukan kedua tanganku ke saku jaket. Kuputar kembali memori otak ku dengan semua kejadian di rumah ini. Dari awal kami datang hingga kejadian kejadian yang sudah kami lewati kemarin.

Radit berjalan masuk sambil memandangi halaman sekitar sambil menarik sudut bibirnya. Entah apa yang dia pikirkan sekarang. Sadar aku perhatikan, dia menoleh padaku lalu tersenyum.
Radit mengulurkan tangan nya menyuruhku mendekat.

Di genggamnya tanganku, lalu aku pun melingkarkan tanganku pinggang nya.

" Walau rumah ini serem, tapi pasti aku bakal kangen deh suasana ini. " ucapnya.

" Kangen siapa? " ledekku.

Radit menoleh lalu memencet hidungku, " Kangen kamu Aiiiiiii.. Ai ku yang bandel, nekat, suka bikin aku khawatir.. "

" Kirain kangen sama Ergi atau Nenek.. Hehe" Radit makin gemas lalu mengacak acak rambutku.

Braaak!

Otomatis kami menoleh ke teras, kursi kayu itu tiba tiba jatuh. Padahal tidak ada angin sama sekali. Aku dan Radit saling pandang lalu dia mengajakku pergi.

Sampai di rumah posko, ternyata semua sudah siap. Dan tak lama mobil jemputan untuk kami datang.

Setelah semua barang naik ke mobil kami pun segera menuju batas desa yang berseberangan langsung dengan jalan utama yang akan dilewati bus yang akan membawa kami pulang.

Setelah berpamitan dengan warga desa dan semua perangkat desa, kami lalu pulang juga.

Banyak suka duka selama sebulan kami disini. Rasanya lega bisa pulang.
Cuaca cukup cerah hari ini. Sambil mengisi waktu, kami bernyanyi bersama di dalam bus. Perjalanan kami akan memakan waktu cukup lama. Mungkin akan sampai saat sore hari. Tergantung kondisi jalan yang akan kami lewati.

Tak terasa kami sampai juga di kota kami. Kami diturunkan di kampus, hari ini memang hari terakhir semua mahasiswa yang KKN pulang. Kampus pun sudah ramai dan kelompok kami adalah kelompok terakhir yang sampai.

" Akhirnyaaaaaaa... Balik juga ke sini... Aaaaakkkkkhhhh... " teriak Kiki girang.

" Buset.. Heboh amat buk" gerutu Dedi sambil menutup telinganya.

" Eh.. Dek! Bunda tuh!! " tunjuk Kak Arden ke seberang jalan.

Kupincingkan mataku dan kemudian mataku membulat.
Disana memang benar ada bunda sedang melambaikan tangan pada kami. Ada ayah juga yang sedang melipat kedua tangan nya didepan. Mereka berdua berdiri disamping mobil ayah. Yang terparkir di seberang jalan tempat kami berdiri.

Dengan wajah berseri seri aku berlari kecil mendekat ke mereka diikuti Kak Arden. Segera saja ku peluk bunda lalu bergantian ke ayah.

" Kamu kurusan sayang? "Tanya bunda sambil meneliti setiap inci tubuhku.

" kayak kamu enggak pas KKN dulu? " sahut ayah.

" Gimana sayang? Lancar kan KKN nya. "

Aku melirik ayah sambil menaikan sudut bibirku. Ayah hanya tersenyum.
" Udah yuk, balik "ajak ayah lalu membantuku mengangkat barang barangku ke mobil.

Kami kembali ke Kos ku terlebih dahulu. Kak Arden pun ikut, karena malam ini juga kami akan pulang ke rumah. Kami libur selama 2 hari. Itulah sebabnya ayah dan bunda menjemput kami.

Selepas sholat maghrib kami pulang. Radit pun ikut kami pulang bersama. Jalanan yang kami lewati cukup ramai karena beberapa kali kami terkena macet, walau hanya sebentar.
Hingga pukul 21.00 kami sampai rumah setelah mengantar Radit pulang.

Karena lelah, aku langsung masuk ke kamar ku. Rasanya aku rindu suasana rumah dan juga kamar ku ini.
Kamar dengan nuansa pastel, kasur yang empuk, bantal kesayanganku dan hmm.. Aku merindukan semua yang ada disini.

Lama kelamaan aku terlelap tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.
Saat aku masuk ke alam mimpi, aku melihat rumah Nenek Lasmi didepanku.

Hmm.. Sudah jelas sekali aku bermimpi. Karena bukan nya aku sudah pulang ke rumah?
Entah kenapa terkadang aku sadar atas mimpiku, hanya saja aku tidak bisa apa apa.

Sreeeeaakkk..
Sreeeeaakkk
Sreeeeaakkk

Aku tengak tengok ke sekelilingku, suara ini tidak asing. Namun keadaan nampak hening. Bahkan aura kehidupan tidak kurasakan disini.

Tap!

Seseorang menepuk bahuku. Jantungku berdegup kencang, badanku gemetaran.
Saat ku lirik ke samping kananku, ada sebuah tangan putih pucat dan berkulit keriput sedang mencengkeram bahuku kuat kuat.
Perlahan aku menoleh kebelakang.

Dan..

" Aaaakkkkkhhhh" aku berteriak sambil menutup wajahku.
Aku berusaha berontak namun tangan itu begitu kuat mencengkeram bahuku.
Dengan tenaga yang masih tersisa, aku berusaha terus melepaskan diri. Hingga aku terjatuh ketanah.

Buggg!

Dan saat ku buka mata, ternyata aku sudah ada di kamarku. Aku pun dapat bernafas lega akhirnya. Sambil menekan dadaku aku berusaha mengatur nafas yang masih pendek pendek. Keadaan kamar terasa begitu panas. Akhirnya aku memutuskan keluar kamar untuk mengambil segelas air untuk mengisi tenggorokanku.

Hening.

Sepertinya semua orang sudah terlelap. Sampai dapur aku langsung meraih gelas dan meneguk air dengan cepat.

Sreeeeaakk
Sreeeeaakkk
Sreeeeaakkk

Suara ini begitu familiar. Baru saja kudengar di mimpiku. Dan kenapa kali ini begitu jelas.

Aku tengak tengok ke sekitarku. Namun, tidak kutemui apapun, hanya semilir angin berhembus melewati celah celah lubang angin.

Tak lama, kudengar suara berisik dari arah ruang tamu. Aku melongok sedikit ke arah depan. Aku ragu untuk kembali masuk kedalam kamar. Karena kamarku agak dekat ruang tamu. Tapi, perlahan ku beranikan diri melangkahkan kaki ku mendekat ke kamar.

Tap
Tap
Tap

Dingin nya lantai yang kupijak tak menyurutkan niatku. Aku berjalan sambil terus mengawasi ruang tamu didepan.

Kriiiieeeet..

Pintu depan tiba tiba terbuka pelan. Aku sontak diam dan terpaku menatap depan.

Ada sesosok bayangan mendekat dan berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Dari bayangan di bawah, sosok itu terlihat seperti Nenek Lasmi.

ASTAGA!

Aku kembali ke kesadaranku, lalu bergegas masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Begitu sampai di dalam kamar, aku baru ingat kalau dari aku pulang tadi, aku belum sholat isya, bahkan berganti pakaian pun tidak sempat kulakukan.

Akhirnya aku ganti pakaian lalu segera mengambil air wudhu lalu sholat isya dilanjutkan sholat tahajut.
Dan, alhamdulillah tidak ada lagi gangguan sampai aku bangun esoknya.

====

Adzan subuh merupakan alarm pagiku jika di rumah. Aku segera beranjak dan mengambil air wudhu.
Selesai sholat aku keluar kamar dan segera menuju dapur untuk membuat segelas susu hangat. Pagi ini terasa lebih dingin.

" Pagi bun..." Sapaku saat melihat bunda yang sibuk membuat sarapan.

" Pagi sayang.. Udah sholat?"

Kupeluk bunda dari belakang. Rasanya nyaman ada di rumah.
" Udah donk bun.. "

" Oh iya Dek, semalem.. Kamu keluar? Kok pintu kebuka? "

Deg!

" Masa? Aku cuma ambil minum aja kok. Terus tidur lagi. " elakku lalu melepas pelukan ku dan mencomot roti bakar di meja makan.

Bunda menatapku terus. Aku paling risih ditatap seperti ini oleh Bunda. Pasti Bunda sedang meneliti ku tiap inchi.

" Ada apa semalem. "

Nah kan.. Apa ku bilang.

" Ada apa? Apanya Bun? " aku masih berusaha mengelak.
Aku malu, kalau nanti ditertawakan Bunda karena ketakutan di rumah sendiri.

Bunda menarik kursi di depanku tanpa melepaskan pandangan padaku. Tak lama Kak Arden muncul dan ikut duduk di sampingku sambil mengambil roti bakar juga.
Kak Arden melongo melihat kami berdua yang diam saja.

" Lagi kenapa? Kayak lagi berantem aja deh" terka Kak Arden.

Bunda menatap Kak Arden tajam.
"Lah.. Kenapa Bun? " Kak Arden jadi bingung.

" Apa aja yang udah kalian alami di sana? " cecar Bunda.

Kami berdua saling lempar pandangan seolah mengisyaratkan siapa yang akan menjelaskan semua kejadian itu. Akhirnya dengan satu tatapan kejam ku, Kak Arden menghela nafas berat lalu menceritakan pada Bunda semuanya.

" Jadi yang semalem itu Nenek yang kalian temui di desa itu? " komentar Bunda saat Kak Arden menceritakan semuanya.

" Hah? Nenek Lasmi ke sini? " Kak Arden melongo.

Mereka berdua akhirnya menatapku serius. Aku malah cengengesan sambil garik garuk kepala.
" hehe. Kayaknya sih iya, Nenek tadi malem dateng Kak. Kakak siy, belun pamitan kemaren coba. "

Kak Arden mengerutkan kening, " lah yang di datengin aja kamu. Kok jadi Kakak yang disalahin? "

" Dia bukan orang sembarangan yah? " terka Bunda.

" Kenapa Bun? "

" Yah, dia bisa sampai masuk ke dalem, berarti ilmu dia hebat. " Kata Bunda lalu beranjak menuju wastafel.

Aku dan Kak Arden hanya mengerdikan bahu kami lalu tersenyum.

" Deeeen!! Ada Alya!! " teriak Ayah dari halaman depan.

" Cieee diapeliiiin. " gurauku lalu berhasil mendapat cubitan gemas di pipi oleh Kak Arden.

Tak lama Kak Arden dan Mbak Alya muncul. Langsung ku peluk Mba Alya.

" Mbaaaa Aaaalllll. "

" haaai... "Kami berpelukan cukup lama.

" Assalamualaikum Tante.. " sapa Mba Alya lalu salim ke Bunda.

" Wa alaikum salam. Dari mana Al? "Tanya Bunda basa basi.

" Dari rumah aja Tante.. "

Dan kami terlibat obrolan sebentar sebelum akhirnya Kak Arden membawa Mba Alya pergi. Jalan jalan barang kali.

Hubungan Kak Arden dan Mba Alya makin serius. Jarak dan umur bukanlah penghalang mereka. Dan, Kak Arden bilang setelah lulus kuliah, Kak Arden akan segera melamar Mba Alya. Kedua belah keluarga pun sudah sama sama saling mengenal dan akrab. Jadi, sudah tidak ada lagi kendala.

Kini Aku, Bunda dan Ayah sedang duduk di halaman depan sambil menikmati rujak buatan Bunda.
Memang siang siang begini, rasanya segar sekali jika menyantap makanan satu ini.

Sebuah mobil silver masuk ke halaman rumah kami.

Radit!

Radit turun dari mobil sambil menenteng sekotak donat kesukaanku.

" Assalamualaikum. " sapanya lalu salim ke Ayah dan Bunda.

" Wa alaikum salam.. Wah, ada tamu " kata Ayah basa basi.

" Rujak nih Dit. "

" Seger banget Bun. "

" Cobain makanya "

Kami makan rujak bersama siang ini sambil ngobrol ke sana kemari.
Hingga tiba tiba Radit bertanya keberadaan Kak Arden.
" kemana si Arden? " tanya Radit sambil celingukan.

" Pergi sama Mba Alya. "

" Oh.. Makin deket aja ya mereka. "

" kayak kalian enggak " timpal Ayah sambil senyum senyum.

" Arden mau segera melamar Alya. " Ujar Bunda sambil menyantap rujak didepan kami.

" Bagus donk. Biar nggak timbul fitnah. " sahut Ayah.

Tiba tiba Radit menggenggam tanganku. " Maaf Bunda sama Ayah.. Radit juga mau ngomong serius. "

Otomatis kami semua menoleh ke arahnya. Beberapa detik, semua menatap Radit serius.
Radit menoleh ke arahku, lalu melebarkan senyum di bibirnya.

" Radit mau melamar Aretha juga, selepas skripsi nanti. "

Glek.

Aku kaget dengan pernyataan Radit barusan.
" Jangan becanda deh Dit. " kataku sambil tersenyum getir.

" Aku serius. Kamu pikir aku lagi becanda Ai? Aku emang serius sama hubungan kita. Gimana Ayah sama Bunda? Apa setuju dan mengijinkan Radit melamar Aretha? "

Ayah melipat kedua tangan nya ke depan sambil terlihat berfikir keras.

" Radit udah punya penghasilan sendiri kok. Insha Allah nanti semua biaya dari tabungan Radit sendiri. "

Radit memang sudah lama mempunyai usaha sampingan, selain bisnis online shop nya, dia juga ikut berbisnis seperti papa nya.

" Semua terserah Aretha.. " ucap ayah lalu menatap ku diikuti Bunda sambil mengunyah rujak pelan.

Dengan tatapan menyelidik dari mereka bertiga, akhirnya aku pun mengangguk setuju.
Memang ini terlalu cepat menurutku, tapi aku dan Radit memang saling menyayangi. Dan, kenapa harus menunda? Apalagi ini hanya acara lamaran. Belum menikah. Setidaknya ini membuktikan Radit serius denganku.

====

Seminggu selesai skripsi, Radit membawa keluarganya ke rumah dan melamar ku. Sebulan setelah Radit melamar ku, Kak Arden juga melamar Mbak Alya.
Untuk acara pernikahan, aku dan Radit sepakat jika Kak Arden yang lebih dulu menikah. Tidak baik jika melangkahi Kakak kata Bunda.

Kami sudah banyak mengalami susah senang bahkan hal hal menyeramkan sudah kerap kami alami bersama sama. Antara aku dan Radit pun, seolah saling membutuhkan. Kemampuan nya dan aku seolah sama seperti ku dan Kak Arden.
Kiki dan Doni makin dekat. Mereka juga akan segera bertunangan.

Itulah kisahku bersama mereka.

=======

TAMAT
3.maldini
habibhiev
engaskoez
engaskoez dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.