Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.
story keluarga indigo.
Quote:



KKN Di Dusun Kalimati

Quote:


Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.

Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.

Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.




story keluarga indigo.



INDEKS

Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.

Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.

Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).

INDEKS

Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end



story keluarga indigo.

Quote:


Quote:



INDEKS

Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang

Konten Sensitif
story keluarga indigo.


Quote:

Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.

INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


INDEKS

part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
kemintil98Avatar border
arieaduhAvatar border
gokil4everAvatar border
gokil4ever dan 23 lainnya memberi reputasi
22
23.6K
306
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#257
31 Terungkap
Kurapatkan selimut sampai menutupi tubuhku, malam ini cukup dingin rupanya, namun anehnya kurasakan anak rambutku seperti bergerak tertiup angin. Padahal seingatku, jendela kamar sudah kututup rapat sejak sore tadi . Merasa terganggu, akhirnya karena penasaran, kubuka mataku perlahan.

Samar samar aku melihat seseorang sedang berdiri di pojok kamarku.

NENEK LASMI??

Aku seketika bangun dan langsung duduk di pojok ranjang. Sambil menutupi sebagian tubuhku dengan bantal karena cukup takut dengan sosok itu.

Nenek Lasmi dengan gerakan lambat mulai mendekat ke arahku. Rambut nya panjang terurai acak acakan. Matanya hitam, wajahnya pucat. Tangannya terus mengulur ke arahku. Makin dekat dan semakin dekat.
Saat makin dekat, beberapa anggota tubuhnya seolah patah seperti rontok dan jatuh tercecer di lantai. Darah mulai membanjiri lantai.

Kututup kembali wajahku dengan bantal. Berharap bantal ini dapat menghentikan niat nenek Lasmi yang akan mendekatiku.

Namun, setelah kutunggu beberapa saat, Suasana terdengar sunyi, karena penasaran ku buka bantal dari wajahku, namun...

"Aaakkkkhhhh!!! " kini kepala Nenek Lasmi terlepas dari tubuhnya, seperti terpenggal lalu tergeletak di lantai dengan posisi matanya menatap tajam ke arahku.
Tangannya bergerak dan berusaha meraihku. Aku makin berteriak histeris. Hingga...

"Aii !! Aii.. Kamu mimpi?? " Radit sudah duduk di pinggir ranjangku sambil menepuk nepuk pipiku.

Akhirnya aku membuka mataku dan keadaan kamar berubah lagi. Kembali seperti sedia kala. Tidak ada Nenek Lasmi, darah maupun potongan tubuhnya.

Apa benar aku bermimpi? Rasanya seperti sangat nyata.

Kak Arden masuk sambil membawa air putih lalu menyodorkan padaku, lalu menarik kursi dan duduk di dekat Radit. Mereka berdua menatapku iba.

"Mimpi apa Dek? Kamu teriak teriak dari tadi. Bikin khawatir aja. "

Aku diam sebentar, " Apa aku bener mimpi? Aku pikir tadi nyata Kak! "

"Kamu mimpi apa sayang?" Tanya Radit sambil membelai wajahku.

Aku menatap sudut di mana Nenek Lasmi tadi muncul dan beralih ke lantai yang tadi dipenuhi darah yang berceceran di mana mana. Pandanganku kosong. Menerawang entah ke mana.

"Tadi... Nenek Lasmi.. Di sana" kutunjuk sudut tadi dengan kalimat bergetar.

"Terus? "

"Aakh.. Aku takut. Serem banget " rengekku sambil menutup wajah dengan kedua telapak tanganku.

Radit langsung mendekat dan memelukku erat. "Udah. Jangan takut ya Ai. Udah ada kita di sini. "

" Jam berapa sekarang? "Tanyaku seketika.

" hampir subuh sayang"

Aku menatap ke arah Kak Arden. " Kak.. Gimana-- Dirga? " tanyaku serius.

Kak Arden menarik nafas panjang. " Kakak ada rencana gini, tapi itu pun kalau kalian setuju " kata Kak Arden serius.

" Oke.. Jadi gimana? " tanya Radit.

" Gini, dari awal kita di sini kan Dirga keliatan banget tertarik sama Aretha.. "Potong Kak Arden.

" Hmm.. Heem. Terus? "

" ya Aretha coba akrabin lagi si Dirga deh. Pelan pelan pancing Dirga, Kakak yakin, pasti kita bakal dapet bukti tentang apa yang Dirga lakukan selama ini. Karena nggak mungkin, Dirga bisa menyembunyikan semuanya. Pasti dia teledor akan satu atau dua hal . Dan itu bisa jadi petunjuk kan? "

Aku dan Radit saling pandang.
" Oke.. " sahutku yakin.

" Tapi Aii.. " potong Radit keberatan.

" Nggak apa apa sayang. Aku bisa jaga diri kok. Kamu jangan khawatir ya"

Akhirnya Radit pasrah.
Tak lama adzan subuh berkumandang. Kami sholat subuh dahulu. Setelah sholat, Aku, Kiki dan Tyas pergi mandi ke tempat pemandian umum.

Matahari belum menampakan sinarnya, suasana masih sedikit gelap saat ini. Kami bertiga ngobrol sambil berjalan menuju pemandian umum.
Beberapa bapak bapak dan ibu ibu yang sudah mulai beraktifitas. Ada yang ke sawah, kebun dan banyak lagi.

Kiki menyikutku. Mengisyaratkan ku melihat ke depan sana. Ada Dirga sedang berjalan ke arah kami sambil tersenyum terus melihat kami.

Wah, ini kesempatanku. Tapi apa yang harus aku lakukan?

Entah kebetulan atau apa, tiba tiba muncul ular yang jatuh dari atas pohon, yang melingkar di bahuku lalu langsung mematuk tanganku.

" Awwww.. " pekikku sambil menekan luka gigitan ular itu.
Aku seketika panik, takut jika ular ini berbisa dan bisa nya dapat cepat menyebar ke tubuhku.

Kiki dan Tyas berteriak heboh, melihat hal itu, Dirga berlari ke arah kami lalu melempar ular itu dan melihat luka di tanganku.

" Jangan panik ya Ta!! Sebentar! "

Dia lalu mengikat bagian tubuhku yang tak jauh dari luka gigitan itu, lalu mengisap bisa ular di tanganku. Setelah itu, dia tengak tengok sekitar, lalu mengambil beberapa helai daun yang entah apa itu. Dia remas remas hingga mengeluarkan air lalu ditempelkan ke luka ku. Dia pun merobek pakaian nya untuk membalut tanganku.

" Itu akan membantu kamu menangkal racun yang mungkin sudah terlanjur masuk ke tubuh kamu. "

Aku hanya meringis menahan sakit. Tak lama kepalaku terasa berat. Pandangan mataku kabur dan tak lama semua gelap .

===

Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku, saat kubuka mata, ada Radit, Kak Arden dan Dirga di kamarku.

" Aii, kamu nggak apa apa kan? "Tanya Radit cemas.

"Aku nggak apa apa kok. Cuma badannya masih sakit" runtukku sambil memijit pelan tubuhku sendiri.

Dirga mendekat, " ini obat di minum sehari 3 kali, biar tenaga kamu pulih lagi"

" Makasih ya Dirga.. "

" Sama sama Den. Ya udah aku pamit ya. "

" Ati ati Ga.."

Setelah Dirga pamit, Radit menyuruhku meminum obat yang Dirga berikan. Semacam obat herbal yang rasanya sudah jelas tidak enak dan pahit sekali. Dan alhasil hari ini aku hanya beristirahat saja di rumah.

Hingga sore hari tiba, saat aku keluar kamar, rumah ternyata sunyi sekali, kubaca note yang di tempel Radit di depan pintu kamarku.

"Sayang, aku proker bentar ya, kalau kamu mau makan, udah aku siapin di belakang. Tinggal ambil aja. Loveyou..
😘"

Sepertinya aku sendirian di rumah, dan kebetulan aku tidak lapar, hanya saja rasa bosan mulai menghinggapiku. Akhirnya kuputuskan saja berjalan jalan keluar rumah.

Aku terus berjalan tak tentu arah dan tanpa sengaja, kini aku sudah ada dijalan yang dekat ke air terjun.
Akhirnya kuputuskan menuju air terjun saja. Tak butuh waktu lama, aku sampai juga di air terjun dan disana... Ada Dirga!

Yah-- Dirga lagi.

Sepertinya memang ini tempat favoritnya. Awalnya aku ragu untuk mendekat, namun mengingat rencana kami untuk mengungkap kejahatan Dirga, akhirnya kuberanikan diri mendekat ke arahnya.

Dirga yang menyadari kedatanganku, lantas menoleh dan agak sedikit terkejut melihatku ada di sini.

" Lho Aretha? Ngapain ke sini? Kamu udah nggak apa apa? "Tanyanya dengan ekspresi khawatir.

Jika sedang seperti ini, aku ragu jika Dirga lah pelakunya. Dia sangat baik. Tapi saat aku memandang matanya, sangat jelas sekali mata orang itu ada pada Dirga.

" Aku cuma bosen aja di rumah. Tadi niatnya cuma jalan jalan aja, eh malah nyampe ke sini. " kataku sambil cengengesan.

"Oh gitu. Tapi kamu udah baik baik aja kan? " tanya nya lagi sambil menatap wajahku lekat lekat.

"Aku... Aku udah nggak apa apa kok. Eum, untung ada kamu. Makasih ya Ga"

Dirga tersenyum, " iya, nggak apa apa kok ."

" Kamu habis nyari ikan lagi? "Tanyaku sambil melihat ke keranjang ikan yang biasa dia bawa.

" Iya Ta . Udah banyak nih, rencana nya aku mau balik, eh malah kamu ke sini. "

" kamu lebih suka ikan sungai? Bukannya banyak ikan di kolam sana? " tanyaku sambil menunjuk letak kolam dekat pemandian umum.

" Hmm... Iya, ikan sungai lebih bersih Ta. Daripada ikan kolam. Kamu tau sendiri ikan di kolam itu gimana. "

" hehe. Iya juga ya. "

"Lagian juga lebih manis loh apalagi yang barusan aku tangkep nih. "

"Masa sih? "

" Iya, kamu mau nyoba? "

Aku berfikir sejenak, wah ini kesempatanku.
" mau dong. Tapi masak nya di rumah kamu aja ya. Kalau di sini takutnya ada kejadian kayak kemaren tuh."

Dirga diam sejenak, seperti ragu untuk mengatakan iya.

" Ya udah, kita ke rumahku aja yuk. Lagian juga udah sore nih. "

Akhirnya kami berjalan menuju rumah Dirga. Kami banyak ngobrol ini itu. Dirga masih sama seperti sejak pertama aku bertemu dengannya, tapi jika aku teringat kejadian malam itu, rasa rasanya aku takut jika harus dekat dengan Dirga.

Sampai di halaman rumah Dirga, langkahku mendadak terhenti. Rasa takut mulai menjalar di seluruh aliran darahku. Dirga juga ikut berhenti berjalan lalu menatapku heran.

" Lho kenapa? Ayok masuk.. " ajaknya sambil mengulurkan tangannya padaku.

Jantungku berdegup kencang namun segera ku tutupi kegugupanku. Jangan sampai dia curiga padaku. Aku mengikuti Dirga masuk ke rumah nya.
Baru kali ini aku masuk ke rumahnya. Karena saat itu aku hanya sampai di teras saja. Rumah Dirga termasuk paling bagus di desa ini, lantai nya sudah berkeramik tidak seperti rumah lain yang masih menggunakan tehel jaman dulu. Dan bentuknya lebih modern.

" Yuk.. Aku bersihin dulu ikannya ya. Oh iya, kamu mau ikan nya dimasak apa Aretha? " tanyanya saat kami sampai di dapur.

" Eum, bakar aja kali ya. Kayaknya enak. "

" oke. Sebentar ya. "

Dirga dengan cekatan membersihan ikan dari sisik dan membuang isi perutnya. Kemudian dia membuat bumbu khusus, katanya resep keluarganya turun temurun jadi pasti enak.

Rumahnya seperti bersih dari dugaan buruk ku sebelumnya. Dari awal aku masuk, aku sudah perhatikan setiap detil rumah ini. Hanya ada dua kamar, ruang tamu, ruang tengah dan dapur. Jadi aku pikir, tidak ada patung apa pun di sini.

Selesai makan, kami ngobrol di ruang tengah. Aku berjalan menuju foto Dirga dan Wirya. Jadi mereka berdua sahabat?
Dirga menatapku terus. " kenapa Ta?"

Aku menoleh lalu tersenyum, " kalian sahabatan udah lama?"

" hmm.. Cukup lama. Dari kecil malah. Kami bersahabat bertiga. "

" bertiga? "Tanyaku sambil mengerutkan kening.

" Iya, bertiga. Aku, Wirya dan Ergi. "

Dirga menarik nafas panjang, " kami selalu bersama sama. Aku dulu sangat suka main bola seperti Wirya, dan Ergi adalah yang paling pendiam di antara kami, tapi dia adalah yang paling baik, penurut dan dia rela melakukan apa saja untuk orang lain, bahkan dia terlalu baik menurutku. Hanya saja, Ergi pendiam sekali. Dia lebih suka berkutat dengan dunia nya sendiri. Dia itu jago loh bikin patung. "

Deg!!

Jago bikin patung? Ergi? Bukan Dirga?

Aku makin berantusias dengan cerita Dirga.
" Ergi jago bikin patung? "

"Iya, jago banget dia. Hanya saja, mereka sudah meninggal. Dan hanya tinggal aku saja sekarang. "

Aku makin bingung, aku malah jadi ragu. Jika Dirga lah pelakunya.

" kamu bisa bikin patung kayak Ergi? "

Dirga tertawa renyah, " enggaklah Aretha. Aku mana bisa. Boro boro bikin patung, megang tanah liatnya aja aku jijik. Nggak suka aku, main kotor kotor gitu"

" oh, gitu.. Hehe. "

Beeeeppp beeeeeeppp

Walki takie ku berbunyi.
" Aretha.. Arethaaa.. Ini Radit.. Kamu di mana"

" iya Dit, aku pulang nih.. "

"Oke.. "

Kumasukan walkie talkie milikku, lalu pamit ke Dirga.
" aku pulang dulu ya. " kataku.

" hmm.. Iya deh. Kapan kapan main sini lagi ya Ta"

Dirga mengantarku sampai depan. Namun, tiba tiba aku ingin buang air kecil.
" Duh... Dirga, aku numpang ke toilet bentar deh. "

" oh.. Boleh kok.. Mau aku anter ?"

"Eh, nggak udah, sendiri aja. Udah tau kok di mana toiletnya hehe"

Dirga hanya tersenyum.

Dan memang hanya rumah Dirga yang masih mempunyai toilet sendiri, katanya, dulu orang tuanya adalah kepala desa yang cukup terpandang di desa ini.

Aku sedikit berlari kecil ke belakang, namun saat melewati salah satu kamar, aku merasakan ada sekelebat bayangan yang mondar mandir di kamar itu. Karena penasaran, aku mendekat ke kamar itu. Perlahan kubuka pintu kamar itu dan....

" astagfirullohal'adziiiim" aku terkejut melihat seseorang yang ada di dalam kamar itu.

Dia orang yang kutemui di rumah Nenek Lasmi, yang kusangka adalah Dirga. Wajahnya masih tertutup topeng dan hanya menampilkan bola matanya saja. Aku mundur mundur dan tiba tiba menabrak seseorang di belakangku.

" Aretha? Kenapa? " Dirga bingung melihat aku yang panik.

" kamu?? Dia? Siapa dia? "Tanyaku gugup. Orang yang kumaksud pun keluar.

Dirga diam, lalu tak lama menyeringai sambil menatapku tajam. " oh.. Kamu udah ketemu sama Ergi? "

" Apa? Ergi? Dia? Bukannya Ergi sudah meninggal? "

" yah, dia memang sudah meninggal, tapi aku berhasil menghidupkannya kembali. Hebat kan aku? " kata Dirga dengan tatapan mengerikan sambil, terus mendekat padaku.

Aku mundur mundur, " menghidupkan? Maksud kamu apa!! " teriakku.

" Aku kesepian dong Aretha sayang. Jadi aku hidupkan lagi Ergi. Dan tugas dia yang mencari tumbal untukku, selebihnya, mayat mayat itu, dia jadikan patung. Semua untung bukan? Sayang nya Wirya gagal aku hidupkan kembali. Ah, kalau saja kami bisa berkumpul lagi, pasti akan lebih menyenangkan. "

"Apa? Tumbal? "

" Iya, tumbal untuk kekayaan ku, wajah ku yang tampan, kehidupanku yang menyenangkan di sini. Awalnya aku hanya iseng, tapi sekarang bukan lagi kekayaan yang aku butuhkan ,tapi rasa puas setelah melihat mereka MATI di depan mataku sendiri! "

Glek!

" Dasar gila!! "Umpatku.

"Yah, aku memang gila. Dan aku makin gila setelah kamu ada di sini. Aku jatuh cinta sama kamu Aretha! "

Aku menatapnya ngeri," cih.. Najis! Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah mau sama kamu!! "

" hmm. Kalau gitu, kita bikin mudah saja bagaimana? Aku bisa bikin sahabatku menurut padaku, otomatis aku juga bisa bikin kamu seperti Ergi, menuruti semua mauku. Jadi aku nggak peduli kamu mau atau nggak. Akhirnya aku bisa memiliki kamu sekarang. Dan di sini tidak ada orang lain, jadi nggak akan ada yang bisa menolong kamu." Dirga makin mendekat, otomatis aku mundur. Ergi pun sama, seolah tau apa yang Dirga mau, dia pun mencoba menangkapku.

Aku berlari ke belakang rumah, sebelum tertangkap oleh mereka. Aku terjebak di sini. Sampai di luar rumah, aku terus berlari sampai masuk ke kebun kebun di sekitar rumah Dirga.

Aku benar benar ketakutan kali ini. Dua orang psikopat sedang mengejar ku. Sampai di tengah kebun, ternyata ada pagar di sekeliling ku.

Ah, mati aku! Kali ini aku tidak bisa lolos lagi!

Suara adzan maghrib berkumandang. Aku terus mencari tempat bersembunyi.

Kresssh

Jantungku berdegup makin kencang, sepertinya aku akan tertangkap kali ini. Kulihat ada seonggok kayu yang tergeletak di tanah, kuambil. Saat bayangan itu mendekat kelayangkan pukulan ke arahnya.

" awwww.. Arethaaaa!! Sakit!! Kurang ajar!! " maki nya.

Aku kembali berlari ke arah lain.

" Ergiiiii!! Kejar!!! "

Aku makin ketakutan, aku harus ke luar dari rumah Dirga lebih dulu .karena disini sudah ditutup pagar pagar tinggi . Jadi aku hanya berputar putar saja di sini. Samar samar aku melihat Ergi di kejauhan, alu bersembunyi di balik sebuah pohon. Sambil terus berdoa, aku berharap bisa lolos dari mereka.

Namun tiba tiba, rambutku dijambak. " Aaakkhhhh" pedih sekali. Aku berusaha terus meronta agar dapat terlepas dari Ergi.

Lalu...

Grrraaaauuum!!

Ada seekor macan loreng menerkam Ergi.

" Haduh, macan mana lagi sih ini? " gumamku.

Ergi terluka hingga lehernya mengucur darah hitam pekat. Sepertinya Ergi yang sekarang bukan Ergi yang dahulu, tubuhnya memang Ergi tapi jiwanya iblis!

Ergi mengerang kesakitan, namun tak lama, ada suara yang sangat familiar ku dengar.

Sreaakakakk...
Sreeaaaakkk.

NENEK LASMI?!

Entah datang dari mana, Nenek Lasmi sudah berjalan mendekat pada kami. Aku dan macan itu diam. Lalu Nenek Lasmi menarik Ergi dengan mudahnya. Dan membawanya pergi.
Jadi selama ini, Nenek Lasmi berkeliaran malam hari itu karena mencari Ergi.
Setelah Nenek Lasmi membawa Ergi pergi, macan itu berubah menjadi... ARKANA?

" loh Kamu? "

Arkana melirik dan menaikan sebelah alisnya, " kenapa? "

" kamu bisa berubah gitu juga? "

Dia tak menjawab malah melihat ke arah lain, dan muncul Dirga sambil memegangi kepalanya.

" Itu... Bagian kamu!! " kata Arkana lalu menghilang lagi.

Dan entah kenapa, keberanianku bangkit lagi. Dirga memang manusia, tapi dia sudah terlalu banyak diliputi aura gelap dan banyak iblis yang ada di sampingnya. Entah kenapa sekarang baru terlihat olehku. Bayangan hitam kini muncul banyak sekali ada disekitar Dirga .

Ku ambil kalung milikku, dan..
Srrriiing!

Dirga mendekat dengan raut wajah yang penuh dengan amarah. Aku pun ikut mendekat bersiap menyerang Dirga.
Dirga berteriak dan melayangkan pukulan ke arahku. Aku jongkok lalu menebas kaki nya dengan pedang milikku.

"Aaakkhhhhhh" dia kesakitan lalu terbaring di tanah dengan memegangi kakinya yang penuh darah yang masih mengucur deras.

Aku mendekat dengan senyum sinis, ku julurkan pedang ku tepat ke lehernya. " Mana? Mana orang yang bisa menolong kamu lagi? Nggak ada kan? Kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya!! Dasar psyco!!! "

"Kamu.. Kamu!! Kurang ajar!! "

" kamu!! Gila!! Nggak waras!! " umpatku balik.

Dirga malah tertawa. Benar benar gila.

Ku hubungi Radit agar segera menyusulku ke sini. Dan hanya beberapa menit berlalu, teman temanku datang bersama beberapa warga. Mereka pun sama terkejut nya denganku, dan rumah Dirga pun digeledah, tidak hanya itu saja. Rumah Ergi juga rencananya akan di periksa, Kak Arden akan menghubungi polisi untuk mengusut masalah ini. Karena korban yang begitu banyak pastinya. Dirga pun dibawa ke pihak berwajib oleh Kak Arden, Dedi, Pak Yanto dan Bapak Kepala desa.

Kamipun kembali ke rumah masing masing.

=====
3.maldini
theorganic.f702
theorganic.f702 dan 3.maldini memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.