Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.
story keluarga indigo.
Quote:



KKN Di Dusun Kalimati

Quote:


Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.

Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.

Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.




story keluarga indigo.



INDEKS

Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.

Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.

Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).

INDEKS

Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end



story keluarga indigo.

Quote:


Quote:



INDEKS

Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang

Konten Sensitif
story keluarga indigo.


Quote:

Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.

INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


INDEKS

part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
kemintil98Avatar border
arieaduhAvatar border
gokil4everAvatar border
gokil4ever dan 23 lainnya memberi reputasi
22
23.5K
306
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#254
28 Kemunculan Lain
" Dek...."

Kak Arden masuk kamarku dan berdiri di ambang pintu sambil menyilangkan kedua tangannya didepan.

" Masih sakit?"

" Masih pusing Kak. Lemes."

" Hmmm.. Ada yang nyari tuh di luar?"

Aku mengerutkan kening, " Siapa?" tanyaku malas malasan.

" Dirga. Kamu makin akrab sama dia?" tanya Kak Arden penuh selidik.

" Biasa aja kok. Radit juga makin akrab sama Ester."

Kak Arden berdecak, " Terus harus kamu balas dengan perlakuan yang sama? hmm... Jangan gitu dong Dek. Kakak tau kamu kesel sama Radit, tapi kamu juga jangan mainin perasaan Dirga. Kalau dia baper beneran sama kamu gimana?"

" Bodo amat. " kurapatkan selimutku sampai leher.

" Ya udah, Kakak suruh ke sini aja ya. Tapi kamu hati hati, cobalah bersikap dewasa Dek. Kakak yakin, Radit nggak punya pilihan, tapi kamu.. kamu masih punya pilihan, membuka hati untuk Dirga atau enggak." Kak Arden pergi dari kamarku.

Apa sih maksud Kak Arden?

" Aretha.... " Kini Dirga muncul dengan rantang di tangan kanan nya. Dan dengan wajah sumringah mendekat padaku.

" Hai.. Masuk Ga." Aku membetulkan posisiku menjadi duduk dan bersandar pada ranjang belakangku.

" Aku masakin kamu bubur. Kamu masih sakit kan? Tapi, Maaf ya kalau rasanya agak kacau. Hehe. " katanya sambil menggaruk tengkuknya.

Aku tersenyum, " Mana coba, aku rasain kayak apa. Kebetulan aku laper, masakan Kiki kayaknya aneh deh."

Dirga membuka rantang lalu saat aku mengambil sendok ditangannya, malah dia merebutnya dan memaksa menyuapiku.

" Gimana Tha? enak nggak?"

"Mmmmm...." aku menggumam sambil pura pura berfikir dan menatap langit langit.

" Ta.. Nggak enak ya?" tanya nya dengan sedikit merajuk.

" Hehe. Enak kok.. Lebih enak dari masakan Kiki. Kamu beneran masak sendiri? "

" Heem.. Aku masak sendiri. Beneran enak? kamu suka?" Tanyanya sumringah sambil menatapku dalam dalam.

" Iya aku suka."

Dirga menyuapi ku hingga habis. Kami juga banyak ngobrol ini itu.

Hingga.....

" Aii... ??" suara seseorang tiba tiba muncul.

Kalian tau kan siapa?
Oke silahkan kalau ada yang mau nimpukin ni orang. Author Ridho.😁
Ikhlas lillahi 'taala.🙌

" Udah? Anter Esternya? Gimana aman kan? Nggak lecet?" tanyaku sinis.

Radit mendekat, " Maaf aku nggak bilang. Kata Kakak ipar kamu sakit? Sakit apa Aii? Maaf ya, aku malah pergi semalem." Dia seolah tidak peduli adanya Dirga di sini.

Dirga agak menyingkir, " Eum.. Aku pamit dulu ya. Cepet sembuh ya Tha."

Aku dan Radit hanya meliriknya sekilas. Dirga yang sepertinya paham kondisi ku dan Radit pun pergi.
Radit duduk di pinggir ranjang lalu menggenggam tanganku.

" Maafin aku.. " katanya pelan.

Aku memalingkan wajahku darinya. Rasanya aku kesal sekali pada Radit.

" Aku mau mandi." aku mencoba turun dari ranjang, namun Radit menahan ku.

" Jangan dulu. Kamu lagi sakit kan sayang?"

Aku tetap keluar dari kamar dan berjalan keluar. Teman teman kami menatap bingung dan hanya diam tak berkomentar.
Yah, ini adalah pertama kali nya kami ribut besar.

" Kamu tau mana yang lebih sakit???" tanyaku sambil menatapnya tajam.

Radit terdiam dengan ekspresi cemas melihat reaksiku.
Tak lama dia menggeleng pelan. Matanya sudah berkaca kaca.

" Di sini... " ku tunjuk hatiku dengan menahan air mata yang sudah menggenangi kelopak mataku.
" Kamu tau apa yang paling bikin aku sakit??"

Radit menggeleng pelan.
" Dengerin aku dulu Aii, Please."

" Cukup! Aku nggak butuh penjelasan kamu sekarang? kemana kamu saat aku butuh? kamu tau nggak aku sakit? Badanku panas semalem, aku sendirian.. Kamu ke mana? kamu lebih khawatirin orang lain daripada aku? Sakit Dit.. Sakiiit!!" kini air mataku tumpah sudah.

Radit meraih tanganku namun selalu ku tepis, " Maafin aku Aii, please. Maafin aku sayang. Kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku nggak akan ulangi itu. Aku janji. Aku janji.."

Aku menatapnya sinis, " Huh, gitu? Kalau Ester pingsan di depan kamu juga kamu bakal tolongin dia kan? Aku nggak masalah kamu punya sifat care sama orang, tapi apa nggak bisa kamu prioriaskan aku juga? Seenggaknya kamu bilang aku, apa jangan jangan aku udah nggak kamu anggep lagi?"

Radit menggeleng cepat, " enggak! bukan gitu! kamu penting. Kamu masih yang terpenting buatku."

" Kalau gitu tunjukin!!"
Aku pergi keluar dari rumah, tidak memperdulikan tubuhku yang masih lemas.

" Arethaa!" teriak Radit.

Dari ujung ekor mataku, Kak Arden menepuk bahu Radit, entah apa yang Kak Arden katakan. Karena kulihat mereka ngobrol serius sekali.

Aku terus berjalan, langkah demi langkah terus ku telusuri, entah akan ke mana aku kali ini.

'ah.. benar. ke sana aja kalau gitu'

Aku terus berjalan masuk ke hutan. Sambil mengingat jalan yang kemarin kulalui bersama Dirga. Hingga tak lama aku mendengar suara deburan air, aku pun lebih bersemangat menuju ke sumber suara itu.

Dan kini air terjun yang eksotis ini, sudah ada didepan mataku.
Saat didekat air terjun, kurentangkan kedua tanganku ke samping, sambil memejamkan mata dan merasakan sapuan angin yang membawa tetes tetes air hingga menerpa wajahku.

Segar..

" Ya ampun.. Aretha!!" pekik Dirga yang sudah ada di dekatku sambil menatapku heran.

" Kamu ngapain di sini?"tanyaku.

" Harusnya aku yang tanya, kamu ngapain di sini?"

" nggak boleh?" tanyaku sebal.

" Bukannya nggak boleh, tapi kamu masih sakit Aretha.. Nggak boleh main air dulu. Yuk, aku anter pulang ya." paksanya sambil menarik tanganku, namun terkesan lembut hingga aku pun menurutinya.

" kamu ngapain di sini?"tanyaku lagi.

" Nih.. nyari ikan." tunjuknya ke sebuah tempat ikan dari bambu yang saat kuintip, ada beberapa ekor ikan di dalamnya.

" Wah, dapet banyak?"

" heem.. lumayan. Eh, kamu mau?" tanyanya.

Aku mengangguk semangat.

" ya udah, kita bakar ya. Sebentar aku bikin perapian"

Dengan cekatan, Dirga membuat perapian sederhana dan membakar ikan itu.

Aku hanya melihatnya dan sedikit takjup.

Hingga ada suara aneh yang kudengar. Suara ranting yang diinjak, namun terkesan banyak sekali. Aku menatap sekitar, mencari sumber suara itu.

" Aretha kenapa?"tanya Dirga heran.

" Hmm.. nggak tau, kok perasaanku nggak enak ya.." aku terus mencari ke sana ke mari, siapa tau dapat menemukan apa yang mengusik pikiranku sedari tadi.

Dirga ikut menoleh ke sana ke mari. " Astaga!!" pekiknya lalu dia menarik tanganku.

" Eh loh.. Kenapa?"

" Kita balik, Tha!! Bahaya!" katanya serius.

" Hah? Kenapa sih? ikan nya....?"

" Udah. Biarin aja." Dirga terus menarik tanganku.

Aku heran, sebenarnya ada apa. Kenapa Dirga begitu panik.

Sampai kami agak menjauh dari air terjun, dia baru mau melepaskan tanganku.
Sedangkan aku masih menatapnya heran.

" Ada apaan sih? Kenapa kamu heboh gitu?" Ku tatap terus matanya untuk mencari jawaban sebenar benarnya.

" Oke.. Aku ceritain. Kamu tau? Kalau mahasiswa sebelum kalian semua nya hilang?"

" Apa? hilang? kok bisa?" tanyaku pura pura kaget.

Entah kenapa ceritanya berbeda dari yang kudengar tempo hari dari para ibu.

" Aku juga nggak tau, yang pasti mereka melanggar pantangan untuk pergi di malam selasa dan jumat kliwon, dan satu persatu mereka hilang entah ke mana. Kami sudah mencari ke penjuru desa, tapi mereka nggak ada. Makanya waktu temen kamu hilang, aku sama warga mati matian cari. Karena kami nggak mau kejadian waktu itu terulang."

" kok bisa hilang yah?" gumamku.

" Nggak tau Tha, dan sejak saat itu, beberapa warga desa terkadang melihat mereka berkeliaran di sekitar desa. Dan tadi....."

" Tadi kenapa?"

" Tadi mereka ada di deket air terjun." ucapnya pelan.

" Serius?"

Dirga mengangguk.

' ini aneh, benar benar aneh. Mereka hilang dan kenapa ruh mereka berkeliaran di desa? Berarti telah terjadi sesuatu dengan mereka. Seharusnya aku menemui mereka tadi. Aku harus tanya, ada apa sebenarnya.'

Aku berdiri dan berjalan ke tempat tadi.

" Aretha!! Mau ke mana?"

" Aku mau nemuin mereka, pasti terjadi sesuatu, aku mau tau, sebenarnya ada apa di sini!"

" Aretha!! mereka bukan lagi mereka yang dulu, justru mereka sekarang berbahaya!"

" Maksud kamu?"

" Kamu tau? Apa penyebab kematian Seno?"

Aku menggeleng.

" Karena Seno bertemu salah satu dari mereka"

" Kamu tau dari mana?"

" Pas Seno pulang, aku ketemu dia, mukanya pucat. Dia juga gugup dan panik. Pas aku tanya, dia bilang ketemu mahasiswa yang pakai jaket almamater kayak punya kalian, tapi wajahnya rusak. Seno ketakutan, dan dia pun memutuskan pergi lagi dari desa. Dan yah, ternyata dia meninggal, kan?"

Aku bingung, jangan jangan ini permainan syetan.

"Aii!!!" Radit muncul bersama Kak Arden.

" Lebih baik kamu pulang. Istirahat ya." kata Dirga.

Radit menatap kami penuh dengan amarah.

" Iya deh, aku pulang ya. Kamu juga hati hati." Aku segera pergi dari tempat itu.

Kak Arden menatap kami dan hanya diam saja. Radit mengejar ku.

" Aii... Ai... "

Aku menghentikan langkahku.

" Bisa jangan deketin aku dulu? Aku butuh waktu!!"

" Hmm.. Ya udah." ucap Radit pasrah.

Kami kembali ke rumah. Lebih baik aku bahas masalah ini dengan Kak Arden nanti.

=====

"Dek," panggil Kak Arden di balik pintu kamarku.

" Masuk aja Kak.." sahutku sambil membereskan kamar.

ceklek.

Pintu terbuka menampilkan wajah Kak Arden yang datar. Kak Arden masuk lalu duduk di pinggir ranjang ku sembari terus menatapku tajam.

" Kamu dari mana?" tanya Kak Arden serius.

" Jalan jalan.."

" Sama Dirga?"

" Nggak sengaja ketemu itu sih," bela ku.

" Aretha..."

" Eh Kak, tadi kita ketemu sosok mahasiswa sebelum kita.." ku potong kalimat Kak Arden.

Kak Arden menghela nafas, " Terus?"

" kita harus cari mereka deh Kak. Masa kata Dirga, siapa aja yang ketemu 'mereka' bakal mati! Aneh nggak sih? Ada apa coba sama 'mereka'?"

Kak Arden terdiam sambil berfikir keras, " Iya, nanti kita cari tau deh ya."

====

Malam hari nya kami sudah berkumpul di ruang tamu. Membahas masalah yang sedang terjadi di desa ini, karena kami tidak mungkin menutup mata atas masalah ini.

Apalagi mengingat kejadian Tyas hilang tiba tiba. Kemungkinan kami juga bisa celaka dan bernasib sama seperti mahasiswa terdahulu.

Radit terus menatapku dalam dalam. Sebenarnya aku tidak tega mendiamkan nya terus menerus, hanya saja aku masih sedikit kesal padanya.

" Kata Radit, mahasiswa sebelum kita itu di jadikan tumbal sama seseorang. Sepertinya Kakek yang kalian maksud itu masih hidup" ujar Kak Arden sambil menatapku, Radit dan Danu bergantian.

" Loe tau dari mana, Dit?" tanya Danu.

Namun Radit tidak kunjung menjawabnya dan masih saja menatapku.

plaak

" Fokus woiii!!" timpal Dedi yang duduk di sampingnya.

" Eh.. iya. Gimana? Sorry.. sorry.." Kata Radit gugup.

" Itu... Gimana cerita yang elu dapet kemaren!" seru Danu.

" Oh iya. Jadi gini temen temen, kemaren kan gue pas balik tuh, ketemu sama Kakak tingkat kita, ya biasa ngobrol kan, terus skip, dia nanya soal KKN gue, ya gue ceritain aja kita KKN di sini. Nah dia langsung kaget tuh, soalnya dia denger juga berita soal mahasiswa yang KKN sebelum kita yang ternyata kakak sepupunya. Kata nya, sepupunya hilang gitu aja di desa ini. Tapi sebelumnya sepupunya itu sempet cerita ke dia, pas dia ijin balik ke rumah, kalau di desa ini banyak kejadian aneh dan salah satu temen nya di bawa sosok hitam besar. Dan kemungkinan gue sih yakin kalau ini ada hubungannya sama Kakek yang punya rumah kosong itu. Dan pasti dia masih berkeliaran di sekitar sini. " jelas Radit panjang lebar.

" Terus kita mesti nyari ke mana? Nggak ada petunjuk apa pun. Dan dari mana kita harus nyari coba?" Tanya Dedi.

" Eh.. guys.. Kalau ini ada hubungannya sama kakek itu, ya kita cari dulu deh di rumahnya. Kalau ternyata kakek itu yang jadi dalang dari semua ini, pasti dia bakal balik ke rumah lamanya kan?" Terka Rizal.

" Terus kita ke sana sekarang?"

" Ya udah yuk. Eh, yang cewek cewek di rumah aja ya." suruh Rizal.

" Ogah.. Takut pak ketua.. Horor tau nggak sih. Mending ikut aja deh ya." pinta Kiki.

" Iya bener. Ogah deh di rumah. Rumah sebelah juga horor banget tau. Ih, nggak berani deh." sahut Tyas.

" Aretha?"

" Aku? pakai ditanya. Ya jelas ikutlah."

" Ya udah kalau gitu, semua pergi ya ke sana."

" Tapi emang nggak apa apa ya? Rame rame gini?" Danu menimpali.

" Kagak apa apa keles. Lagian udah sepi ni Desa kalo jam segini."

Pukul 21.00 Kami semua pergi ke rumah itu, dan hanya butuh waktu sekitar 20 menit, kami kini sudah ada di halaman depan rumah tua ini

Semilir angin membuat bulu kudukku meremang.

" Ih, horor ya. hiiiii...." kata Tyas sambil mepet mepet ke Danu.

" Tadi katanya mau ikut. Sekarang malah takut," sindir Danu.

" Nggak tau kalau serem gini."

" Udah yuk ah.." Ajak Kak Arden.

Kami pun masuk ke halaman rumah ini, rumahnya sungguh kotor, banyak daun daun kering yang berguguran di sekitar halaman. Rumput liar pun tumbuh di sana sini. Rumahnya sangat tak terawat. Bahkan atap nya ada yang sudah runtuh.

Kak Arden memimpin rombongan, diantara kami semua memang Kak Arden yang paling bisa di andalkan untuk masalah seperti ini.

kleek!

Pintu dengan mudahnya terbuka, sebelum masuk Kak Arden menatap kami semua.

Sampai didalam kami berpencar. Ternyata rumah ini ada dua lantai. Aku baru tau, karena saat kemarin kami masuk hanya sampai ruang tamu saja.

Sekalipun dua lantai, namun rumah ini keseluruhan bagiannya menggunakan bambu dan kayu. Kami berpencar ke seluruh ruangan mencari apa pun yang dapat di jadikan petunjuk.

Aku berjalan kelantai atas bersama Kiki dan Doni.

" Eh.. Ikut!" teriak Radit lalu menyusul kami naik ke atas.

Ada 2 kamar di lantai atas.
" Kita cek sini.. elu berdua sono !!" suruh Doni padaku dan Radit.

Aku dan Radit saling pandang lalu aku masuk ke kamar yang ada di ujung diikuti Radit.
Kami berdua sedikit mengerutkan kening saat melihat ke dalam kamar ini.

Kamarnya bersih. Rapi. Tidak ada kesan kamar yang kotor, pengap seperti ruangan lain.

" Kok aneh ya?" gumamku.

" Kenapa cuma kamar ini yang bersih?" sambung Radit.

Kami pun masuk kedalam. Disini ada beberapa patung dan ada sebuah patung burung gagak yang mengerikan, ada bunga bunga dan kemenyan yang di bakar di hadapannya. Dia mempunyai taring dan saat diperhatikan ada tetesan darah seger dari mulutnya.

" Ih.. Darah." seru ku sambil menunjuk mulut nya.

" Hmm.. masih segar lagi. Darah apa ya Aii?"

" Nggak tau juga. " aku terus mengamati patung ini. Sedikit aneh memang dan tiba tiba..., matanya melirik padaku.

" Masya Allah!!" pekikku sambil mundur.

Radit menoleh heran padaku.
" Kenapa Aii?" saat Radit mendekat padaku, tiba tiba patung itu berubah menjadi besar, makin lama makin besar

Aku melotot sambil berkali kali menelan ludah, " Dit!! Awas!!"

Radit menoleh, dia pun terkejut.
Burung itu berubah menjadi besar bahkan sampai menembus langit langit dan meruntuhkan langit langit kamar ini.

Merasa keadaan cukup berbahaya, Radit menarik tanganku." Ya ampun.. Aii.. " Radit menutupiku dan menarikku keluar rumah.

Makhluk itu semakin besar dan terus membesar.
" Aaaahh.." teriakku.
Radit terus menggandeng tanganku dengan erat. Aku sempat terjatuh karena tersandung sesuatu.
Radit membantuku berdiri. " Kamu nggak apa apa kan sayang?"

Aku hanya mengangguk. Dan melanjutkan berjalan walau terseok seok. Radit pun tetap setia ada di sampingku.
Sampai di bawah, teman teman kami ikut terkejut.
" Pergiiii!! Pergiii!!" suruh Radit.

Kami berhamburan keluar rumah, bahkan beberapa ikut berteriak histeris. Dalam sekejap rumah ini runtuh sebagian. Untung kami semua sudah ada di luar.

Setelah semua sudah di luar, kami bergegas berlari menjauh.
Beberapa kali pun ada yang sampai terjatuh karena berlari sambil terus menoleh ke burung jelmaan itu.

Burung itu terbang di atas kami, lalu dalam sekejap menangkap Tyas dan Didi dengan kaki nya yang besar. Tyas dan Didi di cengkeramnya kuat kuat.

" Tyaas!!!"

" Didii!!!" teriak kami bersamaan.

Burung itu terbang membawa mereka tinggi tinggi.
" Kejarr!!" suruh Rizki.

Kami berlari mengikuti ke mana burung itu terbang. Hingga sampai di tengah tengah hutan, jejak burung itu tidak lagi terlihat.

" Gila!! ke mana terbangnya tu burung setan?" Umpat Dedi kesal.

Kami menatap langit namun tidak nampak lagi burung itu.
Gawat, kami kecolongan.

" Gimana dong ini ?" tanya Rizal.

Selama beberapa jam kami mencari dan menelusuri hutan ini. Tapi hasilnya nihil.

Hingga adzan subuh pun mulai berkumandang.
Kami sudah sangat lelah.

"Mending kita balik aja deh. Kasian yang lain tuh. Udah pada kecapekan." Kata Rizal.

" Iya, Kita sholat subuh dulu. Terus kita pikirin lagi gimana buat cari mereka berdua."

" Awww..." Aku mengerang kesakitan sambil memegangi pergelangan kakiku.

Semua menoleh ke arahku, terutama Kak Arden dan Radit.

" Kenapa Dek?"

" Kenapa Aii?" tanya mereka bersamaan.

" Kaki ku sakit. " jawabku sambil memijitnya pelan.

Radit mendekat, lalu jongkok di depanku, " Gara gara jatuh tadi ya?"

" Hmm.. Heem."

Dia memijatnya pelan. " Aku gendong aja yuk. Kita obatin aja di rumah. " Dia membalikkan badan lalu menyuruhku naik ke punggungnya.

Akhirnya aku di gendong Radit sampai rumah. Dalam perjalanan, kami banyak diam.
Bahkan tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua.

" Dit ..."

" Hmm.. iya Aii.."

" Maafin aku ya" pinta ku.

Dia menoleh sedikit dan tersenyum tipis," Nggak apa apa kok Aii. Aku juga salah. Maafin aku juga ya sayang. " katanya.

" Iya.. "

" Jadi kita damai dong?"

" Hmm.. Bisa dibilang begitu."

" Yes!!!"

" Tapi awas aja kalau kamu gitu lagi. Nggak ada maaf bagimu!!" ancamku.

" Janji deh, Nggak gitu lagi."

Kueratkan pelukanku dan makin menenggelamkan wajahku di leher Radit.
Radit pun makin semangat berjalan bahkan sampai menyusul yang lain yang sudah berjalan di depan.

" Yaelah.. yang udah damai mah gitu" gerutu Doni.

" Kagak inget kemaren gimana tuh mereka perang." sambung Dedi.

" Lah kan udah gencatan senjata Bro.. Aman deh rumah. hehe" tambah Danu.

Sampai rumah kami langsung duduk begitu saja di lantai, bahkan Dedi dan Danu tiduran begitu saja.

Radit meletakan ku di kursi ruang tamu. " Aku ambilin obat obatan ya. Kaki kamu lecet juga tuh." saat sepatu sudah ku buka.

" Aku sholat dulu." kata Kak Arden.

Beberapa dari mereka masuk kamar.
" Aku ke rumah pak Yanto ya, mau lapor soal Tyas sama Didi" kata Rizal.

" Gue temenin deh" seru Danu.

Radit mengobati kakiku dengan telaten.
" Ta .. Minum nih. " Kiki menyodorkan secangkir teh hangat padaku.

" Makasih ya."

Ku hirup aromanya kuat kuat dan kucecap sedikit demi sedikit.
Aku merasa aneh atas kejadian tadi. Namun aku belum menemukan apa yang aneh.

" Gimana nasib Tyas sama Didi ya?" tanya Kiki dengan wajah cemas.

" Semoga mereka bisa ketemu ya."

" Tapi kok mereka lagi ya yang di tangkep?" tambah Doni.

" Iya, bener juga ya. Kan mereka berdua sebelumnya pernah ilang juga.'

" Hmmm.. " kutarik nafas dalam dalam sambil bersandar pada punggung kursi.

Radit mendekat lalu merapikan anak rambutku .
" capek ya? istirahat aja sana? Aku tungguin sampai kamu bangun. "

Aku menatapnya lalu tersenyum.

" Eh tu kakek berarti udah kagak bisa balik ke rumah itu kan ya?" celetuk Dedi.

Tunggu!!!
Aku baru ingat! Saat di kamar tadi, aku melihat foto. Dan aku baru menyadarinya kalau dia...
Yah... Dia ternyata ada sangkut pautnya rupanya!

" Sialan!!!" umpatku geram.

" Eh kenapa loe Ta?" tanya Doni heran.

" Aku tau siapa dalang di balik semua ini!!" kataku semangat.

" Hah? yang bener??" seru Radit ikut senang.

Aku menoleh ke arahnya.
" Kamu tadi liat gak? Foto di kamar itu?"

Radit diam sambil berfikir, " hmm.. iya, kenapa? kamu kenal?"

" Ya ampun Ay... Masa kamu nggak ngenalin?"

Dia kembali terdiam, masih berfikir. " serius.. Nggak paham. Aku nggak begitu perhatiin juga tadi sih? kenapa sih? siapa?"

" Nanti kita datengin orang nya!! Sholat dulu yuk" ajakku.

Kali ini kamu tidak akan kulepaskan...
Diubah oleh ny.sukrisna 20-05-2023 17:18
3.maldini
theorganic.f702
theorganic.f702 dan 3.maldini memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.