- Beranda
- Stories from the Heart
story keluarga indigo.
...
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.

Quote:
KKN Di Dusun Kalimati
Quote:
Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.
Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.
Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.

INDEKS
Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

Quote:
Quote:
Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.
Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.
Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).
INDEKS
Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end

Quote:
Quote:
INDEKS
Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang
Konten Sensitif
Quote:
Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.
INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

Quote:
Quote:
INDEKS
part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
gokil4ever dan 23 lainnya memberi reputasi
22
23.5K
306
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#253
27 Cemburu
Dan rasa nyaman, lebih berbahaya dari jatuh cinta..
=======
Pagi ini aku terbangun dengan kepala yang sangat berat.
Selama KKN di sini, rasanya aku jarang sekali bisa tidur nyenyak.
Selalu saja ada kejadian yang membuatku tidur larut bahkan tidur saat adzan subuh berkumandang.
Kuraih handuk dan peralatan mandi ku, kemudian berjalan gontai keluar kamar.
" Dek, mau mandi?"
" Heem."
"mau Kakak anterin?"
" Nggak usah."
Entah kenapa rasanya badanku lemas sekali. Beberapa kali aku berpapasan dengan warga yang hendak beraktifitas masing masing. Hingga Dirga muncul tiba tiba sambil membawa cangkul, seperti nya dia akan ke sawah.
" Pagi tuan putri..." sapanya ramah.
Ku tanggapi dengan senyum saja.
" Kusut banget mukanya. Kamu kurang tidur ya? hmm.. "
" Iyalah, semalem aja kan kita pulang pagi, nyari si Tyas."
" Hmm. Iya sih. " Dirga tiba tiba berdiri di hadapanku, " Nanti aku bantuin nyari Tyas yah. Kamu jangan kecapean. Nanti kalau sakit gimana?" katanya sambil mendekatkan wajahnya dekat sekali padaku.
Aku sedikit kaget dengan sikapnya. " Eh.. Iya Ga. Makasih ya"
Dirga mengantarku sampai tempat pemandian umum.
" Ya udah. Aku ke Sawah dulu. Kamu mandi gih." ucapnya sambil membelai wajahku.
Jantungku berdetak lebih cepat dengan apa yang dilakukan Dirga.
Aku sampai bengong menatapnya yang perlahan meninggalkanku.
=====
Kini aku berencana melihat proker kelompok kami.
" Ini jangan sampai Aretha liat nih. Bisa gawat. Bakal ada perang dunia ke 4 nih.. " gumam Kiki sambil sedikit panik.
" Apa yang nggak boleh aku liat?" tanyaku sambil melipat kedua tanganku di depan.
Mereka kaget dan menyingkir satu persatu.
" Waduh gue kebelet.' seru Danu.
" Kok gue ngantuk ya.' Kata Dedi.
" Yang, aku nemenin Arden ngangkutin batu aja deh ya." pamit Doni ke Kiki.
Tinggal Kiki dengan muka pucat lalu senyum senyum menutupi kegugupannya.
" Kenapa sih?"
" Eh.. Aretha.. eum.. Nggak apa apa sih. Mending balik aja yuk. Kita main petak umpet di rumah." katanya sambil menarik tanganku.
Namun sekilas aku melihat seseorang yang tidak ingin kulihat.
'Ester!!'
" Tunggu!! Itu Ester?!" pekikku sambil menunjuk wanita di ujung sana yang sedang bergelayut manja pada Radit.
Kiki mengangguk pelan dengan wajah panik.
" Balik aja yuk." ajak Kiki agak takut takut.
" Ogah. Tunggu sini!" kataku sambil melepas tangan Kiki lalu berjalan mendekat ke Radit.
" Haduhh. Mampus loe Dit!!!" gumam Kiki pelan, namun masih dapat ku dengar.
Aku berjalan dengan emosi yang sudah di ubun ubun.
Kak Arden yang melihat ku berjalan mendekat sempat menghalangiku.
Dan sampai didekat Radit dan Ester, emosi ku pun meledak.
" Oooh.. Jadi aku ditinggalin di rumah sendirian karena mau nemenin dia?" sindir ku.
Radit kaget, " Lho Aii? kamu udah bangun? " Dia mendekat sambil mencoba meraih tanganku. Tapi selalu ku tepis.
" Aii, jangan gini dong. Ini nggak seperti apa yang kamu lihat. Ester cuma mampir aja. Dia ada tugas di daerah deket sini." jelasnya.
" Oh gitu. Terus pakai sender senderan gitu kepalanya? " tanyaku lagi.
Tadi memang posisi Ester sedang bersandar pada bahu Radit.
" Aii.. Ester habis kena musibah, dia kerampokan. Jangan gini dong. Kasian dia."
Aku segera pergi dari tempat itu, Radit terus memanggilku namun aku tak menghiraukannya. Kiki mengejar ku.
" Ta.. yang sabar ya. Mungkin bener kata Radit. Kasian Ester. Radit sayang banget sama kamu loh, Tha." bujuk Kiki sambil terus menyejajariku.
Aku menghentikan langkahku dan menatapnya.
" Aku lagi pengen sendiri. " lalu aku kembali berjalan, dan Kiki hanya terdiam sambil terus menatapku yang makin menjauh.
Entah ke mana aku akan pergi. Yang aku tau, aku sedang tidak ingin di ganggu.
Samar samar ku dengar ada suara gemericik air. Ku tajam kan pendengaran ku sambil ku cari di mana sumber air itu.
Ternyata ada sebuah sungai kecil di sini. Aku mendekat dan duduk di sebuah batu besar sambil mencelupkan kaki ku ke dalam air.
Segar..
Aku pun bermain air seorang diri di sini.
" Aretha??? kok di sini?" sapa Dirga yang entah datang dari mana. Dia kemudian duduk di batu sampingku.
" Iya. Aku baru tau ada sungai di sini." kataku sambil memainkan kakiku keluar masuk air.
Dirga tersenyum, " kamu suka?"
" Iya. Aku suka air. Bikin hati dan pikiran adem."
Dirga berdiri lalu mengulurkan tangannya padaku.
" Yuk. Aku ajak ke tempat rahasia. Aku yakin kamu suka."
Aku yang awalnya ragu kini mau saja di ajak Dirga yang entah ke mana.
Kami bergandengan tangan masuk kedalam hutan makin dalam, entah akan ke mana dia membawaku. Hingga tak lama, terdengar suara deburan air. Yang ternyata adalah air terjun. Dia terus menggandengku menuju air terjun. Pemandangannya sungguh indah. Banyak bunga di sana sini ada saung bambu juga dan yang pasti, air terjun nya sungguh mempesona. Di tempat seperti ini masih ada pemandangan indah begini. Sepertinya tidak banyak yang tau tempat ini.
Aku segera masuk ke dalam air, yah.. walau hanya kaki ku saja yang terendam air. Karena aku tidak membawa baju ganti.
Dirga menyusulku. Dan kami tenggelam dalam acara siram menyiram bersama. Sambil tertawa dengan Dirga, aku sedikit melupakan kekesalanku terhadap Radit dan Ester.
" Heii.. Aretha.. Udah yuk. Balik. Udah sore, nanti kamu masuk angin main air terus. "
Dirga menggandengku ke dekat saung lalu mengambil jaket yang tadi diletakan nya dan memakaikan nya padaku.
" Dingin kan?" ucapnya lembut.
Hatiku berdesir mendapat perlakuan darinya. Dia lalu menggandengku berjalan untuk mengantarku pulang.
" Capek yah?" tanyanya.
" Sedikit."
Dia kemudian jongkok di depanku, " Ayo naik. Aku nggak mau kamu kecapean. "
Alhasil aku menurut saja padanya. Dia mengantarku sampai rumah. Sepanjang jalan kami ngobrol, Dirga orang yang menarik, supel dan baik.
Sampai rumah, teman temanku sedang duduk di sana dan sedikit terkejut melihatku di gendong Dirga. Tapi aku tidak melihat Radit sama sekali.
Dirga menurunkan ku di teras.
" Ya udah. Aku balik ya Ta. " katanya, " ayok semua.. Duluan," pamitnya ke teman temanku.
Mereka agak melongo melihat Dirga dan aku.
Kiki mendekat, " Dari mana Tha? kok sama Dirga?"
" Jalan jalan.. Eh, Radit mana?"
" Eum... Dia balik ke kota, nganter Ester pulang," jawab Kiki agak ragu.
Aku hanya berohria lalu masuk ke dalam rumah.
Aku terus ada di kamar sampai maghrib, lalu tak lama aku mendengar suara ramai di depan.
Saat aku keluar, aku melihat Tyas di bopong Dirga masuk ke rumah. Beberapa warga desa juga ada di depan.
" Loh ketemu di mana?" tanya Rizal.
" Ada di tengah hutan." jawab Dirga dengan tergopoh gopoh.
" Ya udah, taruh kamar aja." Kiki mengantar Dirga ke kamar Tyas.
Beberapa warga menjelaskan tentang keadaan Tyas saat ditemukan, Dirga dan warga yang lain mencari Tyas dari sore hari tadi. Dan menemukan nya tergeletak di tengah hutan.
Beruntung Tyas baik baik saja.
Dirga mendekat padaku. Lalu mengerutkan kening.
" Kamu sakit?" tanya nya sambil meletakan punggung tangannya di keningku.
" Demam. Ya ampun. Pasti karena kelamaan main air tadi ya."
" Masa sih? aku nggak apa apa kok"
" Ish.. istirahat aja ya . Yuk aku anter ke kamar kamu" dia menggandengku ke kamar, lalu menyelimuti ku.
" Aku bikin teh anget yah.."
Dia pergi lalu kembali lagi dengan secangkir teh.
Kucecap sedikit demi sedikit. Kepalaku memang agak pusing. Badanku sedikit demam.
"Maaf ya Ta. Gara gara aku, kamu jadi sakit gini."
" Eh.. Nggak apa apa kok. Bukan karena kamu. Akhir akhir ini badanku emang lagi kurang fit. Kecapean barang kali."
" Ya udah. Kamu tidur aja. Besok aku bikinin bubur buat kamu. Biar kamu cepet sembuh."
Dia pun pamit.
Dirga... kenapa dia begitu baik padaku. Dan sangat perhatian.
Dan Radit, kenapa kamu nggak bilang mau pergi? apa aku ini udah nggak kamu anggap?
=======
Pagi ini aku terbangun dengan kepala yang sangat berat.
Selama KKN di sini, rasanya aku jarang sekali bisa tidur nyenyak.
Selalu saja ada kejadian yang membuatku tidur larut bahkan tidur saat adzan subuh berkumandang.
Kuraih handuk dan peralatan mandi ku, kemudian berjalan gontai keluar kamar.
" Dek, mau mandi?"
" Heem."
"mau Kakak anterin?"
" Nggak usah."
Entah kenapa rasanya badanku lemas sekali. Beberapa kali aku berpapasan dengan warga yang hendak beraktifitas masing masing. Hingga Dirga muncul tiba tiba sambil membawa cangkul, seperti nya dia akan ke sawah.
" Pagi tuan putri..." sapanya ramah.
Ku tanggapi dengan senyum saja.
" Kusut banget mukanya. Kamu kurang tidur ya? hmm.. "
" Iyalah, semalem aja kan kita pulang pagi, nyari si Tyas."
" Hmm. Iya sih. " Dirga tiba tiba berdiri di hadapanku, " Nanti aku bantuin nyari Tyas yah. Kamu jangan kecapean. Nanti kalau sakit gimana?" katanya sambil mendekatkan wajahnya dekat sekali padaku.
Aku sedikit kaget dengan sikapnya. " Eh.. Iya Ga. Makasih ya"
Dirga mengantarku sampai tempat pemandian umum.
" Ya udah. Aku ke Sawah dulu. Kamu mandi gih." ucapnya sambil membelai wajahku.
Jantungku berdetak lebih cepat dengan apa yang dilakukan Dirga.
Aku sampai bengong menatapnya yang perlahan meninggalkanku.
=====
Kini aku berencana melihat proker kelompok kami.
" Ini jangan sampai Aretha liat nih. Bisa gawat. Bakal ada perang dunia ke 4 nih.. " gumam Kiki sambil sedikit panik.
" Apa yang nggak boleh aku liat?" tanyaku sambil melipat kedua tanganku di depan.
Mereka kaget dan menyingkir satu persatu.
" Waduh gue kebelet.' seru Danu.
" Kok gue ngantuk ya.' Kata Dedi.
" Yang, aku nemenin Arden ngangkutin batu aja deh ya." pamit Doni ke Kiki.
Tinggal Kiki dengan muka pucat lalu senyum senyum menutupi kegugupannya.
" Kenapa sih?"
" Eh.. Aretha.. eum.. Nggak apa apa sih. Mending balik aja yuk. Kita main petak umpet di rumah." katanya sambil menarik tanganku.
Namun sekilas aku melihat seseorang yang tidak ingin kulihat.
'Ester!!'
" Tunggu!! Itu Ester?!" pekikku sambil menunjuk wanita di ujung sana yang sedang bergelayut manja pada Radit.
Kiki mengangguk pelan dengan wajah panik.
" Balik aja yuk." ajak Kiki agak takut takut.
" Ogah. Tunggu sini!" kataku sambil melepas tangan Kiki lalu berjalan mendekat ke Radit.
" Haduhh. Mampus loe Dit!!!" gumam Kiki pelan, namun masih dapat ku dengar.
Aku berjalan dengan emosi yang sudah di ubun ubun.
Kak Arden yang melihat ku berjalan mendekat sempat menghalangiku.
Dan sampai didekat Radit dan Ester, emosi ku pun meledak.
" Oooh.. Jadi aku ditinggalin di rumah sendirian karena mau nemenin dia?" sindir ku.
Radit kaget, " Lho Aii? kamu udah bangun? " Dia mendekat sambil mencoba meraih tanganku. Tapi selalu ku tepis.
" Aii, jangan gini dong. Ini nggak seperti apa yang kamu lihat. Ester cuma mampir aja. Dia ada tugas di daerah deket sini." jelasnya.
" Oh gitu. Terus pakai sender senderan gitu kepalanya? " tanyaku lagi.
Tadi memang posisi Ester sedang bersandar pada bahu Radit.
" Aii.. Ester habis kena musibah, dia kerampokan. Jangan gini dong. Kasian dia."
Aku segera pergi dari tempat itu, Radit terus memanggilku namun aku tak menghiraukannya. Kiki mengejar ku.
" Ta.. yang sabar ya. Mungkin bener kata Radit. Kasian Ester. Radit sayang banget sama kamu loh, Tha." bujuk Kiki sambil terus menyejajariku.
Aku menghentikan langkahku dan menatapnya.
" Aku lagi pengen sendiri. " lalu aku kembali berjalan, dan Kiki hanya terdiam sambil terus menatapku yang makin menjauh.
Entah ke mana aku akan pergi. Yang aku tau, aku sedang tidak ingin di ganggu.
Samar samar ku dengar ada suara gemericik air. Ku tajam kan pendengaran ku sambil ku cari di mana sumber air itu.
Ternyata ada sebuah sungai kecil di sini. Aku mendekat dan duduk di sebuah batu besar sambil mencelupkan kaki ku ke dalam air.
Segar..
Aku pun bermain air seorang diri di sini.
" Aretha??? kok di sini?" sapa Dirga yang entah datang dari mana. Dia kemudian duduk di batu sampingku.
" Iya. Aku baru tau ada sungai di sini." kataku sambil memainkan kakiku keluar masuk air.
Dirga tersenyum, " kamu suka?"
" Iya. Aku suka air. Bikin hati dan pikiran adem."
Dirga berdiri lalu mengulurkan tangannya padaku.
" Yuk. Aku ajak ke tempat rahasia. Aku yakin kamu suka."
Aku yang awalnya ragu kini mau saja di ajak Dirga yang entah ke mana.
Kami bergandengan tangan masuk kedalam hutan makin dalam, entah akan ke mana dia membawaku. Hingga tak lama, terdengar suara deburan air. Yang ternyata adalah air terjun. Dia terus menggandengku menuju air terjun. Pemandangannya sungguh indah. Banyak bunga di sana sini ada saung bambu juga dan yang pasti, air terjun nya sungguh mempesona. Di tempat seperti ini masih ada pemandangan indah begini. Sepertinya tidak banyak yang tau tempat ini.
Aku segera masuk ke dalam air, yah.. walau hanya kaki ku saja yang terendam air. Karena aku tidak membawa baju ganti.
Dirga menyusulku. Dan kami tenggelam dalam acara siram menyiram bersama. Sambil tertawa dengan Dirga, aku sedikit melupakan kekesalanku terhadap Radit dan Ester.
" Heii.. Aretha.. Udah yuk. Balik. Udah sore, nanti kamu masuk angin main air terus. "
Dirga menggandengku ke dekat saung lalu mengambil jaket yang tadi diletakan nya dan memakaikan nya padaku.
" Dingin kan?" ucapnya lembut.
Hatiku berdesir mendapat perlakuan darinya. Dia lalu menggandengku berjalan untuk mengantarku pulang.
" Capek yah?" tanyanya.
" Sedikit."
Dia kemudian jongkok di depanku, " Ayo naik. Aku nggak mau kamu kecapean. "
Alhasil aku menurut saja padanya. Dia mengantarku sampai rumah. Sepanjang jalan kami ngobrol, Dirga orang yang menarik, supel dan baik.
Sampai rumah, teman temanku sedang duduk di sana dan sedikit terkejut melihatku di gendong Dirga. Tapi aku tidak melihat Radit sama sekali.
Dirga menurunkan ku di teras.
" Ya udah. Aku balik ya Ta. " katanya, " ayok semua.. Duluan," pamitnya ke teman temanku.
Mereka agak melongo melihat Dirga dan aku.
Kiki mendekat, " Dari mana Tha? kok sama Dirga?"
" Jalan jalan.. Eh, Radit mana?"
" Eum... Dia balik ke kota, nganter Ester pulang," jawab Kiki agak ragu.
Aku hanya berohria lalu masuk ke dalam rumah.
Aku terus ada di kamar sampai maghrib, lalu tak lama aku mendengar suara ramai di depan.
Saat aku keluar, aku melihat Tyas di bopong Dirga masuk ke rumah. Beberapa warga desa juga ada di depan.
" Loh ketemu di mana?" tanya Rizal.
" Ada di tengah hutan." jawab Dirga dengan tergopoh gopoh.
" Ya udah, taruh kamar aja." Kiki mengantar Dirga ke kamar Tyas.
Beberapa warga menjelaskan tentang keadaan Tyas saat ditemukan, Dirga dan warga yang lain mencari Tyas dari sore hari tadi. Dan menemukan nya tergeletak di tengah hutan.
Beruntung Tyas baik baik saja.
Dirga mendekat padaku. Lalu mengerutkan kening.
" Kamu sakit?" tanya nya sambil meletakan punggung tangannya di keningku.
" Demam. Ya ampun. Pasti karena kelamaan main air tadi ya."
" Masa sih? aku nggak apa apa kok"
" Ish.. istirahat aja ya . Yuk aku anter ke kamar kamu" dia menggandengku ke kamar, lalu menyelimuti ku.
" Aku bikin teh anget yah.."
Dia pergi lalu kembali lagi dengan secangkir teh.
Kucecap sedikit demi sedikit. Kepalaku memang agak pusing. Badanku sedikit demam.
"Maaf ya Ta. Gara gara aku, kamu jadi sakit gini."
" Eh.. Nggak apa apa kok. Bukan karena kamu. Akhir akhir ini badanku emang lagi kurang fit. Kecapean barang kali."
" Ya udah. Kamu tidur aja. Besok aku bikinin bubur buat kamu. Biar kamu cepet sembuh."
Dia pun pamit.
Dirga... kenapa dia begitu baik padaku. Dan sangat perhatian.
Dan Radit, kenapa kamu nggak bilang mau pergi? apa aku ini udah nggak kamu anggap?
theorganic.f702 dan 3.maldini memberi reputasi
2