Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.
story keluarga indigo.
Quote:



KKN Di Dusun Kalimati

Quote:


Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.

Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.

Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.




story keluarga indigo.



INDEKS

Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.

Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.

Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).

INDEKS

Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end



story keluarga indigo.

Quote:


Quote:



INDEKS

Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang

Konten Sensitif
story keluarga indigo.


Quote:

Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.

INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


INDEKS

part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
kemintil98Avatar border
arieaduhAvatar border
gokil4everAvatar border
gokil4ever dan 23 lainnya memberi reputasi
22
23.5K
306
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#215
39. Lorong Bawah Tanah
Karena suruhan kak Arden, alhasil aku dan yg lainnya ikut juga acara hari ini.

Penerimaan tamu ambalan.

Ini memang kegiatan pramuka, dan kebetulan kak Arden juga seorang bantara.

Kak Arden emang aktif di organisasi. Berbeda denganku yang sama sekali tidak tertarik dengan kegiatan sekolah seperti ini.

Dan sabtu sore ini, kami sudah berkumpul di halaman sekolah.
Dengan memakai seragam pramuka juga pastinya, karena kami akan membantu acara untuk kali ini, berhubung ada beberapa pengurus pramuka yg tidak bisa datang. Jadi mereka kekurangan tenaga.

Setelah upacara pembukaan, acara pun dimulai.
Pertama, ISOMA. Karena ini sudah masuk waktu salat ashar.

Bagi yg muslim pun, dibolehkan salat dulu dan istirahat sebelum mengikuti acara inti nanti malam.

"Tha, lihat tuh. Si playboy," tunjuk Kiki ke sudut sekolah.

Kupincingkan mataku untuk melihat siapa yg dimaksud Kiki.

Leo?

Dia sedang mengobrol dengan Wina, salah satu bantara kelas 2.
Wah, memang pantas julukan playboy itu dia sandang.
Siapa aja dia deketin. Parah banget.
Dan anehnya semua selalu bertekuk lutut sama Leo.

Sosok yg mendampingi nya pun selalu ada di dekatnya. Mengerikan.

Setelah ISOMA,waktu nya untuk pembekalan dari kakak pembina pramuka. Lalu dilanjutkan game game seru lain nya.

Hingga suara azan maghrib berkumandangan, semua menghentikan aktifitasnya lalu bersiap untuk salat.

"Tha, aku pergi dulu ya," kata Radit yg tiba tiba menghadang ku setelah selesai salat.

"Mau ke mana?"

"Ambil konsumsi nih. Jam segini belum dianter," gerutunya sambil melihat jam di pergelangan tangan nya.

"Kamu sendirian?"

"Enggak. Sama Doni juga. Banyak soal nya, Tha."

"Ya udah, hati-hati ya."

"Harus nya aku yg bilang gitu, sayang," sahutnya sambil terus melihat ke belakangku.

"Hah? Apaan? Orang kamu yg mau pergi. Kok aku yg suruh hati-hati?" tanyaku heran.

"Hati-hati sama itu tuh." Dia menunjuk seseorang dengan mengangkat dagunya.

Saat aku menoleh, ternyata Leo sedang berdiri tak jauh dari kami, sambil memasukan tangan nya ke saku celana.
Dia terlihat sedang memperhatikan kami yg sedang ngobrol.

"Ck. Udah ah, ngapain sih ngurusin dia? Udah sana buruan berangkat. Keburu kita kelaparan," bujukku sambil mendorong Radit pelan.

"Iya iya..m Tapi, kamu beneran hati-hati ya, Tha. Jangan deket-deket dia." Kembali dia pasang muka serius.

"Iya, Raditya. Aku nggak deket deket dia kok. Udah ya, kamu jangan khawatir gitu. "

Akhirnya Radit pun pergi bersama Doni untuk mengambil konsumsi.

=======

Pukul 19.30

Malam ini kami semua berkumpul di lapangan, karena ada pengisian dari kakak pembina pramuka dari luar sekolah.
Pimpinan KWARTIT RANTING pun didatangkan juga untuk ikut mengawasi acara ini.

Setelah pengisian ini itu, dilanjutkan acara selanjutnya.

Dengan berbekal buku SKU pramuka, para tamu ambalan atau siswa baru kini sedang mulai sibuk mencari kami,kakak bantara. Tentu ada sesi ujian agar buku SKU pramuka nya terisi penuh.

Mulai dari hafalan dasa darma, tri satya, semaphore dan masih banyak lagi.

Nanti malam acara yg selalu menjadi agenda wajib tiap persami dan acara yang paling ku hindari dilaksanakan.

Jurit malam

Memang diantara sekian banyak acara, hanya acara ini yang paling aku benci. Masih teringat jelas, saat aku jurit malam dulu.
Aku dan Dion dikerjai, oleh makhluk penghuni sekolah ini.
Semoga nanti malam aman terkendali. Aku males jerit jeritan di acara jurit malam nanti.

Pukul 22.30

Jurit malam pun akan dimulai, dan agenda nya sama seperti tahun tahun yg sudah sudah.

Tiap kelompok yg diisi beberapa orang, mulai berjalan dari pos 1 hingga pos terakhir untuk mengambil bendera semaphore.
Namun kali ini, satu kelompok tidak hanya 2 orang saja, tapi 3 orang.

Duh, kenapa 3 ya? Ganjil gitu..

Namun, ini sudah keputusan dari kakak pembina. Jadi sudah tidak bisa diubah lagi.

Akan ada 10 pos yg harus didatangi.
"Kak, kok perasaanku nggak enak ya." sambil ku tekan dadaku karena rasa yg entah apa yg kini kurasakan.
Yang jelas aku tidak nyaman dengan keadaan kali ini. Seperti akan terjadi sesuatu.
Huft, semoga hanya perasanku saja.

"Kakak juga takut ada sesuatu, Tha. Gini, kita keliling buat patroli. Jagain mereka, biar acara ini lancar sampai selesai nanti," saran kak Arden.

"Iya kak, setuju."

Memang bukan termasuk ide cemerlang, tetapi kami tidak mungkin membiarkan keadaan kacau malam ini.

Kami mulai berkeliling dengan berpencar, dan kami bagi kelompok menjadi 3 orang tiap kelompoknya.
Aku, Radit dan Danu pergi ke sisi kanan.
Kak Arden, Doni dan Dedi ke sisi kiri.
Dan Dion dan Ari ke sisi tengah.
Kiki menunggu di depan, dan terus mengawasi keadaan dari sana.

Sebelumnya kami membawa walky talkie kami. Sejak kapan kami memakai benda ini?
Sejak hari ini.
Entah kenapa, kak Arden menyuruh kami memakai ini.

Aku, Radit dan Danu mulai menyusuri lorong sekolah yg temaram. Karena beberapa lampu memang sengaja dimatikan.
Kami memeriksa tiap ruang kelas.
Memastikan bahwa semua aman, dan tidak ada yg sembunyi di dalam kemas juga.

Brakk!!
Brraaak!!
Brraaakk!!

Tiba tiba terdengar derap langkah beberapa orang. Seperti sedang berbaris. Kami berhenti, lalu saling tatap bingung. Semua menoleh kesana-kemari mencari sumber suara itu.

"Apaan tuh, Tha?" tanya Danu sambil berbisik.

"Sstt.. " Kuedarkan pandanganku ke sekitar kami.
Samar samar di ujung depan kami, aku melihat beberapa orang bergerombol membentuk barisan yg rapi. Dengan pakaian tentara yg aneh.

"Mampus!!!" Aku melotot lalu menarik mereka berdua masuk ke salah 1 ruang kelas.

"Apaan sih, Tha?" tanya Radit bingung.

"Ada tentara. Setan tentara," ucapku lalu bersembunyi bersama mereka.

"Hah? Setan tentara?" tanya Danu bingung.

Aku mengangguk yakin.
Tak lama suara itu makin terdengar jelas. Mereka berdua ikut melotot dan makin menunduk, takut ketahuan.

Suara derap langkah kaki nya sungguh keras.
Namun, tiba tiba mereka berhenti. Persis di depan kelas yg kami pakai untuk bersembunyi.

Dan kudengar salah 1 dari mereka berteriak dengan bahasa belanda. Yang aku tidak mengerti maksud perkataan nya.

"Google translate, Dit," pintaku.

Radit dan Danu melotot padaku.

"Kenapa?" tanyaku heran.

Mereka berdua mendengus sebal.
Salah ku apa ya? Ada yang tau gak?

Dan setelah mengatakan itu, pintu kelas terbuka dengan kasar.

Braaakkk!!
Kami makin sembunyi di balik kursi di depan kami.
Namun kami masih bisa melihat sosok itu dari kolong meja.
Terlihat, kaki nya saja yg ngambang. Dia hanya berdiri mematung seperti mencari sesuatu. Namun tak lama dia pergi.

Terdengar lagi teriakan yg keras, lalu mereka sepertinya pergi meninggalkan kelas ini. Danu mengintip dari jendela samping kami.
Radit pun ikut penasaran.

"Aman," bisik mereka bersamaan.

Fyuuuhhhh

Akhirnya kami bisa bernafas lega.
"Ya udah yuk lanjut," ajakku ke mereka.

Kami kembali berjalan di koridor kelas. Kali ini kami bertemu mba tanpa tangan yg sedang duduk di ruang kelas dengan tangan yg dia letakan di meja. Seolah olah dia sedang mengikuti pelajaran di kelas.
Aku lewat dan bergidik ngeri melihatnya.

Moga aja nggak ngikutin deh.

Brak brak brak.

Ada seseorang berlari.
"Heh! Sapa tuh???" tanya Danu sambil menunjuk orang tadi.

"Orang apa setan, Tha?" tanya Radit.

"Orang," sahutku.

"Ngapain dia ke sana?"tanya danu.

"Kejar!!!" lalu aku berlari ke arah orang tadi menghilang.

Walky talkie ku berbunyi,
"Dek... kalian lihat Friska nggak? Anak IPA , yg rambutnya panjang, dikepang."

"Enggak kak. kenapa sih?"

"Dia ngilang dari kelompoknya. Kata Kiki barusan."

"Apa? Jangan jangan yg tadi"

"Yg tadi? Mana??"

"Tadi kita lihat ada yg lari ke belakang sekolah. Ini mau ku kejar.."

"Oke, Tha... Kalian susulin dulu. Nanti kakak nyusul!!"

Wah mulai gak beres nih.

"Ke mana lagi itu anak?"

"Iya, larinya cepat banget deh. atlit lari jangan-jangan," celetuk Radit.

Aku memutar bola mataku sebal dan meliriknya.

"Tha, serius kan dia si Friska? Bukan Friska jadi jadian?" tanya Danu.

"Iya, aku yakin dia manusia. Cuma kalau Friska apa bukan, nggak tau. Yang namanya Friska aja, aku nggak paham kayak apa. Anak kelas berapa sih? Angkatan kita?" tanyaku.

Danu malah berdeham sambil melirik Radit. Sementara Radit garuk garuk kepalanya yg entah beneran gatal karena belum keramas seminggu atau pura pura gatal.

"Kenapa sih??" tanyaku ke mereka.

"Friska itu... Anak kelas satu. Katanya Dedi, Radit pernah bilang kalau dia itu manis, pas di kantin waktu itu," terang Danu sambil cekikikan.

"Oh gitu... Ya ya ya ya." Aku melirik Radit dengan tatapan tajam.

Radit cuma bisa senyum getir.
Saat di belakang sekolah, suasana nampak sepi sekali, dan gelap. Lampu di sini sengaja tidak dinyalakan. Karena memang bukan wilayah untuk kegiatan PTA hari ini.
Hawa sekitarku berubah panas. Pertanda ada yg tidak beres di sini. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, mencari keberadaan Friska berada.
Namun, anehnya tidak ada sama sekali batang hidungnya nongol di sini.
Apa bukan ke sini ya tadi?
Aku kembali melihat ke awal kami datang, dan tidak ada jalan lain selain ke sini.

Aku pusing.
Udah capek badan dari tadi mondar mandir ke sana ke mari. lapar, eh ini suruh nyariin orang ilang.
Aku pengen tidur, ngantuk bgt rasanya.
Ya Allah, kangen kasur. huft.

Tak lama kak Arden datang dengan yg lain, dan ada ... Leo?

Ngapain sih ni anak ikut?

Radit terlihat sangat tidak suka melihat Leo datang bersama kak Arden. Dia lalu menarik ku ke sampingnya. Tapi aku malah senyum senyum. Rasanya aku suka, kalau Radit cemburu  seperti ini.

"Gimana? Ketemu?" tanya kak Arden.

"Kagak. Raib ke mana sih itu anak ya?" sahut Danu dengan mendengus sebal.

"Ikut gue!!" kata Leo lalu ngeloyor begitu saja melewati kami.
Dia membawa kami ke bawah tangga dekat gudang.
Ternyata ada pintu kecil di sini, di bawah tangga.

Pintu ke mana ya?

"Aku kok baru tau di sini ada pintu?" tanyaku.

"Ya kamu main nya cuma ke kantin, perpus. Mana tau ada pintu rahasia gini,"jawab Leo santai..m

Apa? kamu? Bukan nya dia biasa manggil elo gue?

Radit makin sebal dengan Leo yg sok akrab dengan ku.

Kreeekkk.
Kreeeekkk

"Ke kunci gaess," kata Ari saat membuka pintu tersebut.

"Minggir." Leo masuk ke kerumunan dan kini berada di depan pintu itu. Dengan sekali tendangan dari Leo, pintu langsung terbuka lebar.

Kini hanya terlihat lorong yg sangat gelap di hadapan kami.
Entah di mana ujung lorong ini.

Apa ini yg katanya lorong bawah tanah yg menghubungkan dengan sekolah sebelah?

"Serius dia ke sini?" tanya Danu.

"Iya, ih. Gelap gini. Gak mungkin kayaknya deh. Secara cewek gitu loh," timpal Ari.

"Ya kalau dia sadar ya nggak bakal ke sini. Orang dia lagi ketempelan," ujar Leo menanggapi dengan santai,"kalau kalian takut, biar gue aja yg masuk."
Dia masuk begitu saja meninggalkan kami di luar.

Berani banget dia sumpah.
Eh, nggak heran sih, temen nya aja jin. Pantes aja dia santai gitu.

Kami saling pandang, menunggu kesepakatan bersama, kira kira mau masuk apa nggak nih.
Dan setelah diakhiri anggukan dari kak Arden, kami putuskan masuk ke dalam.
Walau diiringi dengan dengusan Ari yg sudah pasti tidak setuju dengan hal ini.
Kami nyalakan senter karena lorong ini begitu gelap.

"Ini PLN sentimen banget deh. Pakai dimatiin listrik di mari," celetuk Dion.

Plaaakk!

"Bego!! Mana mungkin listrik sampai kemari. Ini kan bekas tempat persembunyian jaman penjajahan dulu! Mana ada listrik nya!!" tukas Dedi.

"Iya, bego banget, lagian ngapain ni tempat dikasih listrik. Tempat jin buang anak gini mana mungkin dikasih listrik. Kurang kerjaan banget PLN," tambah Danu.

"Heh! Gak usah sebut sebut jin deh!!" timpal Ari sambil bergidik ngeri.

"Udah udah. Jangan pada ribut. Kita fokus dulu nyari Friska," sahut kak Arden.

Kami terus menelusuri lorong ini. Entah akan ada di mana ujung nya.
Namun, kami menjadi bimbang dengan apa yg ada di hadapan kami sekarang. Dua buah lorong yg terpisah.

"Duh, mampus deh! Gimana dong  ini?" tanya Ari.

"Kita bagi dua kelompok deh, dan pakai walkie talkie nya buat komunikasi," saran kak Arden.

"Oke deh. Yuk.." sahut Dedi semangat.

Akhirnya kami pun terbagi menjadi 2 kelompok.
Aku, Radit, Doni, Danu dan Dion.

Sisanya dikelompok kak Arden.
Aku berjalan menyusuri lorong sebelah kanan.
Jalanan yg agak becek, membuat langkah kaki berdecak membuat suara berisik di sepanjang lorong.

Deg!
Duh, pakai acara nongol lagi. males banget, sumpah.
Seorang pejuang dengan pakaian coklat, dan bendera merah putih yg diikat di lengan nya terlihat sedang mondar mandir di depan kami.
Kutarik Danu yg terus berjalan.

"Apaan sih, Aretha?"gerutunya.

"Nanti dulu."

"Kenapa?"

"Itu tuh, "kutunjuk di mana sosok itu berada.

Mereka menatap nya namun malah kembali melihatku bingung.

"Kalian nggak liat, ya?"tanyaku sambil kupandangi wajah mereka satu persatu.

Mereka menggeleng.
Kutepuk jidatku, entah karena kesal, sebal, gemas, ah pokoknya semua jadi satu deh.

Aku mengisyaratkan mereka jongkok untuk bersembunyi.
Kami jongkok dibalik tumpukan kayu yg sudah lapuk.
"Eh, Tha. Jita mau ngapain di mari?" tanya Dion.

"Ntar. Aku baca doa dulu buat yg di depan. Aku males kalau nanti dia ngikutin kita," sahutku.
Lalu gumam kan beberapa doa.

Dan tak lama sosok itu pergi dari sana.
"Aman," bisikku ke belakangku. Aku kini berdiri kembali. Diteruskan oleh Radit. Karena posisi kami sekarang seperti sedang berbaris.
"Aman," sahut Radit lalu dia menoleh sedikit ke belakangnya.

"Aman.."

"Aman."

"Aman."

"Aman."

"Ya udah yuk. Lanjut," ajakku ke mereka.

Tapi tunggu..?
Satu, dua, tiga, empat, lima... En... Enam???

"Eh, Aku salah denger nggak sih?"
Aku berhenti berjalan dan Radit yg ada di belakangku akhirnya menabrak ku.

"Duh, Sayang. Kok berhenti mendadak sih?" gerutunya.

"Kok enam ya tadi?" tanyaku ke dia.

"Enam? Apanya yg enam??"

"Yg nyahut tadi..m Kan harusnya 5??" tanyaku lalu melongok ke mereka.

Wajah mereka memucat.
Lalu saling lirik dan terakhir yg mereka tuju adalah Dion. Karena dia yg paling belakang.
Dion terlihat menelan ludah, dan gemetaran.
Di belakang nya ada sesosok wanita dengan memakai pakaian yg bagus. Mirip noni belanda jaman dulu, dengan wajah cantik, namun pucat pasi. Membawa payung yg penuh dengan darah. Dia menyeringai pada kami.

Aku langsung berlari, diikuti mereka sambil teriak teriak tidak jelas.
Akhirnya tepat di ujung lorong aku melihat sebuah pintu.

"Jalan keluar tuh kayanya," seruku.

"Buruan."

Saat sampai di pintu itu, keadaan memang terkunci.
"Duh, kan.. Pakai dikUnci lagi nih.."

"Minggir minggir." Radit menendang pintu itu hingga terbuka.

Dan ternyata kak Arden sudah ada di sana bersama yg lain, dan ada Friska dan Leo juga.
Friska dalam kondisi tidak sadar sedang dibopong Redi.
Dan setelah ku amati, ternyata kami sedang ada di sekolah sebelah.

"Huft... Gak lagi lagi deh masuk situ. Sumpah," kataku sambil ngos-ngosan.

"Capek ya, sayang?" Tanya Radit sambil membetulkan anak rambutku yg berantakan.
Leo langsung pergi begitu saja ke gerbang sekolah depan, dia lompati pagar itu dengan mudahnya.
Dasar aneh!
3.maldini
johny251976
theorganic.f702
theorganic.f702 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.