- Beranda
- Stories from the Heart
story keluarga indigo.
...
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.

Quote:
KKN Di Dusun Kalimati
Quote:
Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.
Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.
Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.

INDEKS
Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

Quote:
Quote:
Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.
Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.
Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).
INDEKS
Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end

Quote:
Quote:
INDEKS
Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang
Konten Sensitif
Quote:
Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.
INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

Quote:
Quote:
INDEKS
part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
arieaduh dan 22 lainnya memberi reputasi
21
21.8K
306
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#214
38 Naik Kelas 2
"Dek, bunda mana sih?" tanyaku ke Aretha.
Dia bengong sebentar.
"Mm ... Lagi ke rumah kakek. Aku susulin aja apa gimana, Kak?" tanyanya dengan menunjukan raut kecemasan di wajah.
"Iya deh, sana susulin."
Retha dan Radit lalu ke rumah kakek. Untung rumah kakek hanya beberapa meter saja dari rumah kami, sehingga tidak butuh waktu lama, Retha kembali bersama bunda dan ayah.
Dion, aku dan Alya masih terdiam di kamarku. Tidak banyak obrolan dari kami. Hingga saat bunda datang, bunda langsung menatap tajam Dion.
"Kamu habis dari mana??" tanya bunda menyelidik.
"Dari mana apanya tante? Dari rumah," sahutnya dengan kebingungan.
Bunda memutar bola matanya.
"Maksudnya, kamu mulai ngerasa ada yg aneh-aneh itu kapan? Pasti ada penyebab nya."
Dion terlihat berfikir sambil menatap ke langit langit.
"Kayanya sejak kemaren motorku mogok di rumah kosong yang di jalan Adyaksa," jelasnya.
"Loe ngapain sih ke sana sana?" tanya Radit.
"Lagi jalan jalan sama si Dedi. Eh tau tau mogok, pas banget di rumah itu."
"Ih, bisa bisanya sih, Yon. Elu bego apa stupid sih? Bisa-bisanya lewat depan rumah itu?" tanya Radit sambil bergidik ngeri.
"Ya ampun, Dit. Kan kagak sengaja lewat!" serunya.
"Emang kenapa sih? Sama rumah itu?" tanya Alya polos.
Semua menatap Alya, bingung harus menjawab seperti apa, dan ujung ujungnya, aku juga yg disuruh jawab. huft.
====
Flashback Dion.
Malam itu, aku dan Dedi baru saja pulang hang out bersama. Kami habis NOBAR pertandingan bola di cafe Bagus, sepupu Dedi.
Saat itu sudah pukul 23.00
Jalanan sudah sepi, dan hanya menyisakan beberapa kendaraan saja yg lewat. Kami naik motor sendiri sendiri, karena arah rumah kami tidak searah.
Dengan santainya aku dan Dedi naik motor beriringan sambil sesekali kami berceloteh seperti biasa.
Tiba tiba motorku berhenti mendadak. Dedi yg awalnya masih terus berjalan, akhirnya menghentikan laju motornya dan menoleh padaku.
Ku periksa motorku, bensin masih banyak. Mesin barangkali ya.
Akhirnya aku turun dari motor dan mencoba melihat apa yg salah dengan motorku ini.
Dedi berbalik arah dan kini memarkirkan motornya di depan motorku.
"Lah, kenapa sih ,bro??" tanyanya.
"Tau nih, Ded. Apa nya yah?" tanyaku balik, sambil ku garuk garuk kepala.
Dia ikut jongkok di sampingku sambil ikut memeriksa kondisi mesin motorku.
Perasaan, baru seminggu kemaren di service. Masa iya mogok?
Dedi berdiri sambil berkacak pinggang. Dia tengak tengok ke sana kemari.
"Ded! Gimana nih? Bantuin!! Malah bengong aja," gerutuku.
Namun Dedi hanya diam saja.
"Yon, kok baru sadar. Kenapa kita malah berhenti di sini ya? Wah, nggak beres nih," celetuk Dedi sambil tengak tengok makin panik.
"Yah, Mana ku tau. Bodo amat deh, yg penting motor nih, nyala dulu," sahutku yg masih tidak peduli keadaan sekitar.
"Heh!! Bego.. Lihat nih kita lagi di mana!! Malah mikirin motor mulu!!" timpal Dedi.
Akhirnya aku ikut berdiri dan melihat sekeliling kami.
"Hah?! Lho, iya ya, Ded! Waduh gawat nih. Jangan jangan ..."
"Husss!! mending cepet dibenerin deh!!" pinta Dedi.
"Lah gimana? Nggak ngerti nih soal mesin ginian. Elu aja napa!! Kan elu lebih jago!!"
Dedi diam sambil menatap motorku.
"Dorong aja deh, mendingan! Males banget nih, kalau kelamaan di sini.. Mana makin malem, Yon, udah buruan. Dorong. Dorong," suruh Dedi.
Kami memang berhenti di sebuah jalan yg terkenal angker di kota kami.
Dan penyebab nya adalah rumah kosong yg ada di belakang kami ini.
Menurut rumor yg beredar, itu adalah rumah seorang dukun terkenal, tapi telah lama ditinggalkan hampir 10 tahun lamanya.
Dan mungkin banyak peninggalan jin/ setan di sana.
Karena banyak warga yg sering mengalami kejadian janggal jika ada di daerah ini.
Dari yg samar samar melihat makhluk astral, hingga yg sangat jelas melihatnya.
Akhirnya aku menuruti perkataan Dedi dengan mendorong motorku menjauh dan sebisa mungkin pergi dari sini.
Ada kemungkinan juga kalau motor ku ini akibat dikerjai oleh makhluk halus.
Namun, saat mendorong motor ini, entah kenapa rasanya berat sekali. Tidak seperti biasanya.
"Ded! Tungguin woi!" teriakku pada Dedi yg sudah menjalankan motornya agak menjauh dariku.
Dedi menghentikan motornya lalu menoleh padaku.
"Shiiit!! Yon, buruan!! Kalau perlu tinggalin deh tuh motor!! Cepettt! Shiiit! Duh, salah gue apaan sih!!!" dia meracau terus menerus.
"Apaan sih, Ded? Ini bantuin dorong kek. Berat bgt tau," gerutuku.
"Ck. sini deh!! Cepet! Tinggalin tu motor! Gak bakal ilang deh ! Besok pagi kita ambil lagi!!buruan!!" paksanya.
"Ogah!! Kalau ilang, gue yg digantung emak babeh!! Elu mau tanggung jawab?? Ogah deh!!" aku menolak dan tetap kekeh membawa pulang motorku gimana pun caranya.
"Heh!! Ngeyel bgt deh dibilangin!! Mending liat tuh ke belakang kamu yon!!" pintanya.
Glek!!
Pasti ada yg gak beres nih.
Perlahan aku menoleh ke belakang ku.
Deg!!
Kaki ku lemas rasanya. Jantungku serasa berhenti seketika. Keringat ku pun menetes segede jagung.
Di jok belakang motorku, ada seorang wanita yg duduk dengan manisnya di sana.
Dengan rambut tergerai berantakan, pakaian yg sama seperti yg sering kulihat kemarin kemarin. Dia duduk diam, tanpa ekspresi. Wajahnya pucat, dengan mata yg berrongga tanpa bola mata. Meninggalkan ruang kosong dan gelap di sana.
Perutnya terkoyak, hingga isi perutnya terlihat jelas. Dengan usus, jantung, hati dan teman teman nya menggantung bebas di sana.
Darah pun menetes meninggalkan bau anyir bercampur busuk yg membuat perutku mual.
Kini bukan hanya kaki yg lemas, tangan dan seluruh tubuhku juga lemas.
Seseorang menarik tanganku dengan cepat.
Dan ternyata dia adalah Dedi yg seperti sudah geram dengan kengeyelan ku tadi.
Untung motor sudah ku standar kan dengan baik, jadi saat Dedi menarik ku, motorku tidak jatuh.
"Buset. Dibilangin kok ngeyel banget si ni anak satu!! Dibilangin suruh ditinggal aja kan !! Parno sendiri kan elu!!!" runtuk nya sambil terus menarik ku menjauh.
Aku sesekali masih menoleh ke belakang, dan wanita itu masih dengan santainya duduk di sana. Namun hanya diam tanpa ekspresi.
"Tunggu, Ded!!" ku tahan tangan Dedi.
"Apa lagi sih? Buruan!!! Gue gak mau ya, kalau sampai tu setan ngikutin gue ke rumah."
"Motorku aman kan. Ini tengah malem lho, Ded. Kalau ilang gimana?kalau dibegal??"
Plak!
Dedi menjitak kepalaku.
"Bego!! Mana ada begal yg berani ambil motor di sepanjang jalan ini!! Ini jalan teraman dari begal tapi jalan terhoror buat setan! Gitu aja kagak ngerti!!"
Dedi lalu naik motor nya, saat aku menoleh ke belakang. Wanita itu tidak ada di atas motorku.
"Ded. Ded. Dediii.."ku pukul pukul punggung nya.
Dia menoleh dengan malas malasan.
"Apa lagi sih!!"
"Tuh setan gak ada, Ded. Ke mana ya?motor gue ambil aja kali ya.."
"Serah elu dah.."
Namun saat Dedi kembali melihat ke depan, dia malah buru buru menyalakan mesin motornya, dan menarik ku agar segera naik.
Ternyata, wanita itu tengah berdiri 1 meter di depan kami.
"Astagfirulloh hal adzim. Ya Allah. Kenapa kudu ketemu mbak kun sik. duh, motor. Cepet nyala napa!! Gak usah ikutan ngambek kaya motor Dion deh!! Gue jual entar elu ... Plak!!" Dedi meracau sambil menepuk motornya agar bisa jalan.
Berhasil menyala.
Aku langsung naik ke motor Dedi, dan kami langsung pergi dengan segera.
Dedi mengantarku ke rumah, lalu dia segera pulang juga.
Dan sangat kebetulan sekali, kedua orang tuaku tidak ada di rumah. Mereka sedang ada di kota sebelah karena ada urusan kerjaan.
Tanpa pikir panjang, aku masuk saja ke dalam. Toh, aku sudah biasa di rumah sendirian begini.
Langsung masuk kamar dan ganti baju karena bajuku sudah kena keringet gara gara kejadian tadi.
Kini aku sudah bersiap akan tidur. Ku nyalakan Ac terlebih dahulu karena suasana agak panas malam ini.
Sambil menetralkan hati dan pikiran, kucoba untuk memejamkan mataku dan mencoba tidur.
Dugg!!
Dug!!
Dug!!
Terdengar suara dari kaca jendela kamarku.
Akhirnya kubuka kembali mataku, dan kuberanikan diri melongok ke sana, siapa sebenarnya yg iseng.
Kuberjalan pelan menuju jendela kamarku.
Dan saat kubuka korden, wanita itu kini tengah ada di sana. Berdiri mematung dan diam saja seperti tadi.
Kututup korden dengan kasar dan langsung masuk ke selimut.
Duh, mampus deh.
Malah nyusulin sampai sini!
Mana gak ada orang di rumah lagi.
Sreeeekkk
Sreeeekkk.
Seperti ada yg menyeret nyeret sesuatu di lantai. Kuberanikan mengintip nya.
Dan kini ada seorang anak kecil bertelanjang dada hanya memakai popok sedang menyeret kepala seseorang. Darahnya sampai membekas di lantai.
Wah, kok jadi ramai gini ya.
Akhirnya ku ambil ponselku dan berlari keluar kamar.
Berlari sekencang kencang nya meninggalkan rumah.
Bodo amat deh, nggak dikunci.
Kini aku sudah ada di jalanan, dan kuputuskan menghubungi Danu yg rumahnya paling dekat denganku.
Aku beritahu saja kalau malam ini aku menginap di rumahnya.
Dan pagi ini aku diusir dari rumahnya, karena semalaman kami tidak bisa tidur nyenyak karena makhluk itu juga terus datang.
Astaga... Nasibku gini amat ya.
=====
POV ARDEN
"Terus kok bisa masuk sini, Bun. Itu makhluk astralnya?" tanyaku penasaran.
Karena selama ini rumahku ini tidak pernah kemasukan jin maupun setan.
"Jadi gini, Kak. Sekalipun rumah kita udah dipagar sama pakde, nggak menutup kemungkinan kita kecolongan kaya gini. Karena pagar gaib juga ada tingkatan kekuatan nya. Mungkin untuk makhluk yg standar standar aja nggak bakal bisa masuk.
Dan kali ini agak beda ya. Dia lebih kuat. Dan lagi, bunda lama gak baca quran nih. Surat al baqarah, itu untuk perlindungan rumah. Sekali kita baca, selama 3 hari rumah pasti aman dari gangguan apa pun.
Dan ini hampir seminggu, bunda gak baca. kalian juga nih, males sih," gerutu bunda pada kami.
Aku dan Aretha hanya senyum senyum saja. Bener juga sih kata bunda.
"Terus gimana, Bun, si Dion nih. Kasihan," tukas Aretha.
Bunda menatap Dion lalu tersenyum tipis.
"Rukiyah aja ya," saran bunda.
"Terserah deh, Tante," kata Dion pasrah.
"Sekalian rumah kamu. Nanti tante minta tolong pakde nya Arden,"ucap bunda lalu keluar dari kamarku.
Sepertinya rumah kosong itu benar benar mengerikan. Peninggalan nya aja segitu kuat nya.
Mungkin dukun nya juga kuat banget tuh. Ilmu nya pasti tinggi.
Tapi, setinggi apa pun ilmu seseorang, pasti ada yg lebih tinggi lagi.
Di atas langit masih ada langit. Yaitu Allah SWT.
=====
POV ARETHA
Hari senin.
Hari pertama di sekolah setelah liburan seminggu kemarin.
Selama beberapa bulan terakhir ini, tidak banyak kejadian aneh yg kami alami di sekolah.
Semua berjalan lancar tanpa gangguan berarti seperti sebelumnya.
Sosok yg mencari cari tangan, kini telah berhasil menemukan tangan nya.
Yah- walau dia tidak lantas berhenti gentayangan di sekitar sekolah. Namun, intensitasnya sudah tidak terlalu sering.
======
Kami akhirnya berhasil naik ke kelas 2, dan kali ini kelas pun diacak lagi.
Atas izin dari pak Feri, alias om Feri, kami akhirnya dapat menempati 1 kelas bersama sama. Lebih tepatnya kelompok kamu bisa satu kelas sekarang.
Hal yg sangat langka terjadi, terlebih padaku dan kak Arden.
Kembali aku sebangku dengan Kiki, kami duduk di bangku paling depan, pojok, dekat pintu kelas. Meja samping ku ditempati kak Arden dan Dedi. Sedangkan belakang kami persis ada Doni dan Radit.
Danu dan dion ada di belakang kak Arden dan Dedi, sedangkan Ari duduk di meja samping kak Arden, bersama Viktor.
Kami memang lebih suka ada di barisan depan, karena jika ada di bangku belakang, akan tidak konsentrasi dengan pelajaran.
Terlebih kami ada di kelas IPA yg pelajaran nya super duper susah.
Tidak ada waktu untuk main main.
=======
Ini hari pertama MOS anak anak kls 1.
dan kak Arden, Danu, Dion menjadi pengurus untuk MOS karena mereka anggota OSIS. Alhasil, mereka sering keluar kelas.
Selama MOS pun, kami masih santai santai, alias tidak ada pelajaran yg menguras emosi dan jiwa.
"Eh, kantin yuk," ajak Doni.
Aku dan Kiki mengangguk.
Sepertinya tidak masalah juga jika harus ke kantin, daripada bengong di kelas. Malah mengantuk.
Akhirnya kami ke kantin bersama sama. Tanpa tiga orang tadi
Setelah duduk di meja langganan kami, lantas segera memesan makanan dan minuman.
Terlihat dari ujung sekolah, banyak anak anak kelas 1 yg sedang melaksanakan kegiatan mereka sebagai anak baru yg sedang ikut MOS.
"Wuih... banyak cewek cakep nya ya," celetuk Ari sambil cengengesan.
"Bener tuh, Ri. Kali aja kalian pada bisa dapet satu-satu deh," gurau Doni.
"Nah, itu tuh, Ri Cakep tuh," tunjuk Radit juga antusias pada gerombolan anak anak kls 1 tak jauh dari kami.
"Yg mana sih, Dit?" tanya Ari yg seperti nya belum menemukan apa yg ditunjuk Radit.
"Ya ampun, itu yang rambutnya panjang dikepang. Manis banget deh," kata Radit tanpa dosa.
Aku meliriknya tajam. Doni yg melihat reaksiku lalu menyenggol Radit dan mengisyaratkan agar melihat ke arahku.
Sangat jelas sekali dia menelan ludah dan wajahnya berubah pucat saat menoleh padaku.
Kunaikan sebelah alisku dan menatap tajam Radit, bagai elang yg akan memangsa buruan nya.
Dia tersenyum, sambil garuk garuk kepala.
"Sayang, kamu kok cantik banget sih hari ini," rayu nya.
Aku diam dan masih terus menatapnya dingin.
"Mampus lu, Dit.." Doni tertawa ngakak. Ari dan Kiki tertawa bersama sama.
Radit terus berusaha membujukku agar aku tidak ngambek lagi.
Dan, tak lama kak Arden, Danu dan Dion malah ikut bergabung dengan kami.
Terlihat mereka kelelahan.
"Kak, capek banget?" tanyaku sambil terus menatap wajah kak Arden.
"Lumayan. " Dia meraih milk max milikku.
"Den, ajak mereka aja gimana?" tanya Danu.
"Mau ke mana?" Doni penasaran.
"Biasa, Don. MAKRAB besok malam." sahut Danu santai.
"Waaahh. seru nih," kata Ari semangat.
"Iya, kalian ikut ya. Kita kekurangan pengurus, banyak yang nggak bisa datang, sakit," pinta kak Arden.
"Emang boleh, kak?"
"Ya boleh lah."
Mereka asik ngobrol ngalor ngidul, terutama soal MOS dan acara MAKRAB besok malam.
Sebenarnya acaranya itu lebih khusus ke PRAMUKA, pelantikan tamu ambalan, lebih tepatnya. Yang memang biasa diadakan jika siswa baru masuk.
Perhatianku teralihkan, saat ada seorang siswa baru yg lewat di depanku. Beberapa pasang mata juga sama, melihat nya dengan terkesima. Terutama kaum hawa.
Dia memang terlihat tampan dan memiliki wajah yg lumayan.
Tapi, bukan itu yg membuatku terus menatap nya.
Namun, sosok di sampingnya.
Sepertinya dia mempunyai jin pendamping.
Gila banget, masih kelas 1 udah punya jin pendamping gitu.
Buat apa sih?
"Ehem..." Radit berdeham yg sepertinya sengaja melakukan itu karena aku yg terus melihat anak itu.
"Kenapa??" tanyaku ketus.
"Segitunya ngeliatin dia," gerutu nya.
"Siapa?"
"Kamu lah.."
"Aku? Ngeliatin siapa??"
Dia mendengus sebal.
"Itu anak kelas 1, Aretha." Radit menunjuk anak itu dan terlihat makin kesal.
Aku sontak tertawa kencang.
"Heh! Malah ketawa. Apa yg lucu!!'
"Kamu pikir aku ngeliatain dia?!"
Radit mengangguk pelan.
"aku bukan lihat dia. Tapi yg di sampingnya," bisikku pelan.
Otomatis semua menoleh padaku.
"Serius, Tha?
"Yang mana sih?"
"Di sebelahnya? Maksudnya apa, Tha?"
"Khodam!"
"Wah, keren."
Dan jadilah dia menjadi bahan gosip kami siang ini. Usut punya usut dia bernama, Leo.
Dari sumber yg dapat kami percaya, Leo ini playboy.
Kelas kakap lah intinya. Dia terkenal suka gonta ganti cewek dalam waktu singkat.
Dan info ini kami dapat dari Ari, dia memang bagai infotainment.
Segala macam gosip dapat kami dengar dari nya.
"Kamu jangan deket deket dia lho, Tha!!" ancam Radit serius.
Aku malah tertawa melihatnya cemberut seperti itu.
Aku pamit ke toilet ke mereka.
Awalnya Radit ngotot mau ikut aku, tapi ku omelin saja dia.
Masa iya, sampai toilet juga dia ngintilin aku terus?
Saat masuk ke toilet, rasanya bulu kudukku meremang.
Suasana sangat sepi.
Aku masuk dan segera memilih bilik toilet yg biasa ku pakai selama ini.
Di sini ada 5 bilik toilet yg disekat sekat.
Saat aku di dalam bilik toilet, aku mendengar ada yg masuk ke dalam bilik sampingku.
Kudengar toilet di flush dan terdengar air mengalir dari sana.
Ah, setidaknya aku tidak sendirian di toilet. Nggak asik banget kan.
Kudengar kembali toilet di flush.
Bahkan sepertinya dia melakukan nya beberapa kali.
Aneh banget sih? Iseng gitu.
Saat aku keluar dan mencuci tanganku di wastafel, aku sedikit mengernyitkan kening karena di cermin depanku, semua bilik toilet dalam keadaan terbuka.
Perasaanku tidak enak.
Karena penasaran, aku dekati satu persatu bilik toilet di sini, siapa tau, ada yg ngumpet dan sengaja ngerjain aku. Biar aku takut.
Kriiieeet
Kosong.
Kembali aku berjalan lagi
Kriiieeert.
Lagi lagi kosong.
Kriiieeettt...
Degg!!
Kali ini sosok itu terlihat jelas di depanku.
Seorang siswa yg masih memakai seragam sekolah, sedang jongkok di atas kloset sambil memainkan tombol flush berkali kali.
Aku mundur, dia yg awalnya memunggungi ku, kini perlahan menoleh dan menatap ku diam. Dia menyeringai dengan seringai yg menakutkan.
Badanku seperti terhipnotis, dan sulit untuk digerakkan.
Bahkan untuk mengedipkan mata saja, aku tidak bisa.
Sosok itu turun perlahan dari kloset, dan kini aku dapat dengan jelas melihat nya.
Lehernya seperti hampir putus dan terdapat luka robek yg menganga lebar. Saat dia berjalan, kepalanya seperti akan jatuh ke lantai.
Aku ngeri melihatnya.
Kubaca doa dalam hati, dan perlahan badanku bisa bergerak, walau pelan.
Karena terlalu memaksakan, untuk berjalan, aku sampai terjatuh dan menabrak tempat sampah yg dekat denganku.
Aku terus menarik tubuhku di lantai. Untung lantainya bersih.
Tiba tiba ada yg masuk ke dalam, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, saat aku mendongak kan kepalaku, ternyata dia adalah anak kelas 1 tadi, Leo.
Leo masuk lalu jongkok di depanku.
"Kamu gak papa?" tanyanya cemas.
Namun aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan nya. Lidahku terasa kelu.
Leo kemudian berdiri dan berdiri di depan pintu bilik toilet tadi.
Dia terdiam dengan tatapan mata yg dingin dan tajam, sambil menggumam sesuatu, dia melakukan gerakan yg aneh, dan jin pendamping yg tadi kulihat, kini muncul lagi.
Seperti nya mereka sedang menghadapi sosok mengerikan tadi.
Tak berapa lama, Leo menghampiriku lagi dengan sigap langsung membopongku keluar toilet.
Kami terus berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan tatapan macam macam dari teman teman, maupun adik kelas yg lain.
Aneh nya, aku pasrah saja dibopong begini sama dia.
"Heh!! Apa apaan nih!! Turunin dia!!" tiba tiba Radit muncul dengan wajah yg penuh amarah.
"Kenapa sih? Orang aku cuma mau nolongin dia kok?" tanya Leo santai.
Radit makin kesal bahkan kini mencengkram kerah baju Leo.
Akhirnya Leo menurunkan ku dari gendongan nya.
Dan sepertinya mereka benar benar akan berkelahi.
Waduh, gawat deh.
"Dit. Udah, Dit. Udah. Dia bener kok. Tadi dia cuma nolongin aku aja. Nggak lebih. Udah ya, Dit," bujukku pada Radit sambil berdiri di hadapan nya agar dia tidak terus terusan menatap Leo dengan tatapan dingin seperti ini.
"Ada apa sih ini?" tiba tiba kak Arden sudah ada di antara kami, lalu menatap Radit, Leo dan aku bergantian.
Banyak juga yg ikut mengerubungi kami sekarang.
Namanya ribut di sekolah itu, bakal jadi tontonan gratis yg sangat menarik untuk banyak orang.
Karena merasa keadaan tidak cukup nyaman, kami pindah ke tempat yg lebih privasi lagi.
Kini kami ada di ruang OSIS, dan akhirnya kuceritakan apa yg terjadi tadi. Mendengar itu, Radit jadi cemas, dan terus menanyaiku dengan pertanyaan beruntun.
Pada akhirnya, Radit meminta maaf pada Leo karena kesalahpahaman tadi.
Namun, saat Leo menatapku, aku merasa aneh. Entah bagaimana aku menjelaskan nya.
======
Dia bengong sebentar.
"Mm ... Lagi ke rumah kakek. Aku susulin aja apa gimana, Kak?" tanyanya dengan menunjukan raut kecemasan di wajah.
"Iya deh, sana susulin."
Retha dan Radit lalu ke rumah kakek. Untung rumah kakek hanya beberapa meter saja dari rumah kami, sehingga tidak butuh waktu lama, Retha kembali bersama bunda dan ayah.
Dion, aku dan Alya masih terdiam di kamarku. Tidak banyak obrolan dari kami. Hingga saat bunda datang, bunda langsung menatap tajam Dion.
"Kamu habis dari mana??" tanya bunda menyelidik.
"Dari mana apanya tante? Dari rumah," sahutnya dengan kebingungan.
Bunda memutar bola matanya.
"Maksudnya, kamu mulai ngerasa ada yg aneh-aneh itu kapan? Pasti ada penyebab nya."
Dion terlihat berfikir sambil menatap ke langit langit.
"Kayanya sejak kemaren motorku mogok di rumah kosong yang di jalan Adyaksa," jelasnya.
"Loe ngapain sih ke sana sana?" tanya Radit.
"Lagi jalan jalan sama si Dedi. Eh tau tau mogok, pas banget di rumah itu."
"Ih, bisa bisanya sih, Yon. Elu bego apa stupid sih? Bisa-bisanya lewat depan rumah itu?" tanya Radit sambil bergidik ngeri.
"Ya ampun, Dit. Kan kagak sengaja lewat!" serunya.
"Emang kenapa sih? Sama rumah itu?" tanya Alya polos.
Semua menatap Alya, bingung harus menjawab seperti apa, dan ujung ujungnya, aku juga yg disuruh jawab. huft.
====
Flashback Dion.
Malam itu, aku dan Dedi baru saja pulang hang out bersama. Kami habis NOBAR pertandingan bola di cafe Bagus, sepupu Dedi.
Saat itu sudah pukul 23.00
Jalanan sudah sepi, dan hanya menyisakan beberapa kendaraan saja yg lewat. Kami naik motor sendiri sendiri, karena arah rumah kami tidak searah.
Dengan santainya aku dan Dedi naik motor beriringan sambil sesekali kami berceloteh seperti biasa.
Tiba tiba motorku berhenti mendadak. Dedi yg awalnya masih terus berjalan, akhirnya menghentikan laju motornya dan menoleh padaku.
Ku periksa motorku, bensin masih banyak. Mesin barangkali ya.
Akhirnya aku turun dari motor dan mencoba melihat apa yg salah dengan motorku ini.
Dedi berbalik arah dan kini memarkirkan motornya di depan motorku.
"Lah, kenapa sih ,bro??" tanyanya.
"Tau nih, Ded. Apa nya yah?" tanyaku balik, sambil ku garuk garuk kepala.
Dia ikut jongkok di sampingku sambil ikut memeriksa kondisi mesin motorku.
Perasaan, baru seminggu kemaren di service. Masa iya mogok?
Dedi berdiri sambil berkacak pinggang. Dia tengak tengok ke sana kemari.
"Ded! Gimana nih? Bantuin!! Malah bengong aja," gerutuku.
Namun Dedi hanya diam saja.
"Yon, kok baru sadar. Kenapa kita malah berhenti di sini ya? Wah, nggak beres nih," celetuk Dedi sambil tengak tengok makin panik.
"Yah, Mana ku tau. Bodo amat deh, yg penting motor nih, nyala dulu," sahutku yg masih tidak peduli keadaan sekitar.
"Heh!! Bego.. Lihat nih kita lagi di mana!! Malah mikirin motor mulu!!" timpal Dedi.
Akhirnya aku ikut berdiri dan melihat sekeliling kami.
"Hah?! Lho, iya ya, Ded! Waduh gawat nih. Jangan jangan ..."
"Husss!! mending cepet dibenerin deh!!" pinta Dedi.
"Lah gimana? Nggak ngerti nih soal mesin ginian. Elu aja napa!! Kan elu lebih jago!!"
Dedi diam sambil menatap motorku.
"Dorong aja deh, mendingan! Males banget nih, kalau kelamaan di sini.. Mana makin malem, Yon, udah buruan. Dorong. Dorong," suruh Dedi.
Kami memang berhenti di sebuah jalan yg terkenal angker di kota kami.
Dan penyebab nya adalah rumah kosong yg ada di belakang kami ini.
Menurut rumor yg beredar, itu adalah rumah seorang dukun terkenal, tapi telah lama ditinggalkan hampir 10 tahun lamanya.
Dan mungkin banyak peninggalan jin/ setan di sana.
Karena banyak warga yg sering mengalami kejadian janggal jika ada di daerah ini.
Dari yg samar samar melihat makhluk astral, hingga yg sangat jelas melihatnya.
Akhirnya aku menuruti perkataan Dedi dengan mendorong motorku menjauh dan sebisa mungkin pergi dari sini.
Ada kemungkinan juga kalau motor ku ini akibat dikerjai oleh makhluk halus.
Namun, saat mendorong motor ini, entah kenapa rasanya berat sekali. Tidak seperti biasanya.
"Ded! Tungguin woi!" teriakku pada Dedi yg sudah menjalankan motornya agak menjauh dariku.
Dedi menghentikan motornya lalu menoleh padaku.
"Shiiit!! Yon, buruan!! Kalau perlu tinggalin deh tuh motor!! Cepettt! Shiiit! Duh, salah gue apaan sih!!!" dia meracau terus menerus.
"Apaan sih, Ded? Ini bantuin dorong kek. Berat bgt tau," gerutuku.
"Ck. sini deh!! Cepet! Tinggalin tu motor! Gak bakal ilang deh ! Besok pagi kita ambil lagi!!buruan!!" paksanya.
"Ogah!! Kalau ilang, gue yg digantung emak babeh!! Elu mau tanggung jawab?? Ogah deh!!" aku menolak dan tetap kekeh membawa pulang motorku gimana pun caranya.
"Heh!! Ngeyel bgt deh dibilangin!! Mending liat tuh ke belakang kamu yon!!" pintanya.
Glek!!
Pasti ada yg gak beres nih.
Perlahan aku menoleh ke belakang ku.
Deg!!
Kaki ku lemas rasanya. Jantungku serasa berhenti seketika. Keringat ku pun menetes segede jagung.
Di jok belakang motorku, ada seorang wanita yg duduk dengan manisnya di sana.
Dengan rambut tergerai berantakan, pakaian yg sama seperti yg sering kulihat kemarin kemarin. Dia duduk diam, tanpa ekspresi. Wajahnya pucat, dengan mata yg berrongga tanpa bola mata. Meninggalkan ruang kosong dan gelap di sana.
Perutnya terkoyak, hingga isi perutnya terlihat jelas. Dengan usus, jantung, hati dan teman teman nya menggantung bebas di sana.
Darah pun menetes meninggalkan bau anyir bercampur busuk yg membuat perutku mual.
Kini bukan hanya kaki yg lemas, tangan dan seluruh tubuhku juga lemas.
Seseorang menarik tanganku dengan cepat.
Dan ternyata dia adalah Dedi yg seperti sudah geram dengan kengeyelan ku tadi.
Untung motor sudah ku standar kan dengan baik, jadi saat Dedi menarik ku, motorku tidak jatuh.
"Buset. Dibilangin kok ngeyel banget si ni anak satu!! Dibilangin suruh ditinggal aja kan !! Parno sendiri kan elu!!!" runtuk nya sambil terus menarik ku menjauh.
Aku sesekali masih menoleh ke belakang, dan wanita itu masih dengan santainya duduk di sana. Namun hanya diam tanpa ekspresi.
"Tunggu, Ded!!" ku tahan tangan Dedi.
"Apa lagi sih? Buruan!!! Gue gak mau ya, kalau sampai tu setan ngikutin gue ke rumah."
"Motorku aman kan. Ini tengah malem lho, Ded. Kalau ilang gimana?kalau dibegal??"
Plak!
Dedi menjitak kepalaku.
"Bego!! Mana ada begal yg berani ambil motor di sepanjang jalan ini!! Ini jalan teraman dari begal tapi jalan terhoror buat setan! Gitu aja kagak ngerti!!"
Dedi lalu naik motor nya, saat aku menoleh ke belakang. Wanita itu tidak ada di atas motorku.
"Ded. Ded. Dediii.."ku pukul pukul punggung nya.
Dia menoleh dengan malas malasan.
"Apa lagi sih!!"
"Tuh setan gak ada, Ded. Ke mana ya?motor gue ambil aja kali ya.."
"Serah elu dah.."
Namun saat Dedi kembali melihat ke depan, dia malah buru buru menyalakan mesin motornya, dan menarik ku agar segera naik.
Ternyata, wanita itu tengah berdiri 1 meter di depan kami.
"Astagfirulloh hal adzim. Ya Allah. Kenapa kudu ketemu mbak kun sik. duh, motor. Cepet nyala napa!! Gak usah ikutan ngambek kaya motor Dion deh!! Gue jual entar elu ... Plak!!" Dedi meracau sambil menepuk motornya agar bisa jalan.
Berhasil menyala.
Aku langsung naik ke motor Dedi, dan kami langsung pergi dengan segera.
Dedi mengantarku ke rumah, lalu dia segera pulang juga.
Dan sangat kebetulan sekali, kedua orang tuaku tidak ada di rumah. Mereka sedang ada di kota sebelah karena ada urusan kerjaan.
Tanpa pikir panjang, aku masuk saja ke dalam. Toh, aku sudah biasa di rumah sendirian begini.
Langsung masuk kamar dan ganti baju karena bajuku sudah kena keringet gara gara kejadian tadi.
Kini aku sudah bersiap akan tidur. Ku nyalakan Ac terlebih dahulu karena suasana agak panas malam ini.
Sambil menetralkan hati dan pikiran, kucoba untuk memejamkan mataku dan mencoba tidur.
Dugg!!
Dug!!
Dug!!
Terdengar suara dari kaca jendela kamarku.
Akhirnya kubuka kembali mataku, dan kuberanikan diri melongok ke sana, siapa sebenarnya yg iseng.
Kuberjalan pelan menuju jendela kamarku.
Dan saat kubuka korden, wanita itu kini tengah ada di sana. Berdiri mematung dan diam saja seperti tadi.
Kututup korden dengan kasar dan langsung masuk ke selimut.
Duh, mampus deh.
Malah nyusulin sampai sini!
Mana gak ada orang di rumah lagi.
Sreeeekkk
Sreeeekkk.
Seperti ada yg menyeret nyeret sesuatu di lantai. Kuberanikan mengintip nya.
Dan kini ada seorang anak kecil bertelanjang dada hanya memakai popok sedang menyeret kepala seseorang. Darahnya sampai membekas di lantai.
Wah, kok jadi ramai gini ya.
Akhirnya ku ambil ponselku dan berlari keluar kamar.
Berlari sekencang kencang nya meninggalkan rumah.
Bodo amat deh, nggak dikunci.
Kini aku sudah ada di jalanan, dan kuputuskan menghubungi Danu yg rumahnya paling dekat denganku.
Aku beritahu saja kalau malam ini aku menginap di rumahnya.
Dan pagi ini aku diusir dari rumahnya, karena semalaman kami tidak bisa tidur nyenyak karena makhluk itu juga terus datang.
Astaga... Nasibku gini amat ya.
=====
POV ARDEN
"Terus kok bisa masuk sini, Bun. Itu makhluk astralnya?" tanyaku penasaran.
Karena selama ini rumahku ini tidak pernah kemasukan jin maupun setan.
"Jadi gini, Kak. Sekalipun rumah kita udah dipagar sama pakde, nggak menutup kemungkinan kita kecolongan kaya gini. Karena pagar gaib juga ada tingkatan kekuatan nya. Mungkin untuk makhluk yg standar standar aja nggak bakal bisa masuk.
Dan kali ini agak beda ya. Dia lebih kuat. Dan lagi, bunda lama gak baca quran nih. Surat al baqarah, itu untuk perlindungan rumah. Sekali kita baca, selama 3 hari rumah pasti aman dari gangguan apa pun.
Dan ini hampir seminggu, bunda gak baca. kalian juga nih, males sih," gerutu bunda pada kami.
Aku dan Aretha hanya senyum senyum saja. Bener juga sih kata bunda.
"Terus gimana, Bun, si Dion nih. Kasihan," tukas Aretha.
Bunda menatap Dion lalu tersenyum tipis.
"Rukiyah aja ya," saran bunda.
"Terserah deh, Tante," kata Dion pasrah.
"Sekalian rumah kamu. Nanti tante minta tolong pakde nya Arden,"ucap bunda lalu keluar dari kamarku.
Sepertinya rumah kosong itu benar benar mengerikan. Peninggalan nya aja segitu kuat nya.
Mungkin dukun nya juga kuat banget tuh. Ilmu nya pasti tinggi.
Tapi, setinggi apa pun ilmu seseorang, pasti ada yg lebih tinggi lagi.
Di atas langit masih ada langit. Yaitu Allah SWT.
=====
POV ARETHA
Hari senin.
Hari pertama di sekolah setelah liburan seminggu kemarin.
Selama beberapa bulan terakhir ini, tidak banyak kejadian aneh yg kami alami di sekolah.
Semua berjalan lancar tanpa gangguan berarti seperti sebelumnya.
Sosok yg mencari cari tangan, kini telah berhasil menemukan tangan nya.
Yah- walau dia tidak lantas berhenti gentayangan di sekitar sekolah. Namun, intensitasnya sudah tidak terlalu sering.
======
Kami akhirnya berhasil naik ke kelas 2, dan kali ini kelas pun diacak lagi.
Atas izin dari pak Feri, alias om Feri, kami akhirnya dapat menempati 1 kelas bersama sama. Lebih tepatnya kelompok kamu bisa satu kelas sekarang.
Hal yg sangat langka terjadi, terlebih padaku dan kak Arden.
Kembali aku sebangku dengan Kiki, kami duduk di bangku paling depan, pojok, dekat pintu kelas. Meja samping ku ditempati kak Arden dan Dedi. Sedangkan belakang kami persis ada Doni dan Radit.
Danu dan dion ada di belakang kak Arden dan Dedi, sedangkan Ari duduk di meja samping kak Arden, bersama Viktor.
Kami memang lebih suka ada di barisan depan, karena jika ada di bangku belakang, akan tidak konsentrasi dengan pelajaran.
Terlebih kami ada di kelas IPA yg pelajaran nya super duper susah.
Tidak ada waktu untuk main main.
=======
Ini hari pertama MOS anak anak kls 1.
dan kak Arden, Danu, Dion menjadi pengurus untuk MOS karena mereka anggota OSIS. Alhasil, mereka sering keluar kelas.
Selama MOS pun, kami masih santai santai, alias tidak ada pelajaran yg menguras emosi dan jiwa.
"Eh, kantin yuk," ajak Doni.
Aku dan Kiki mengangguk.
Sepertinya tidak masalah juga jika harus ke kantin, daripada bengong di kelas. Malah mengantuk.
Akhirnya kami ke kantin bersama sama. Tanpa tiga orang tadi
Setelah duduk di meja langganan kami, lantas segera memesan makanan dan minuman.
Terlihat dari ujung sekolah, banyak anak anak kelas 1 yg sedang melaksanakan kegiatan mereka sebagai anak baru yg sedang ikut MOS.
"Wuih... banyak cewek cakep nya ya," celetuk Ari sambil cengengesan.
"Bener tuh, Ri. Kali aja kalian pada bisa dapet satu-satu deh," gurau Doni.
"Nah, itu tuh, Ri Cakep tuh," tunjuk Radit juga antusias pada gerombolan anak anak kls 1 tak jauh dari kami.
"Yg mana sih, Dit?" tanya Ari yg seperti nya belum menemukan apa yg ditunjuk Radit.
"Ya ampun, itu yang rambutnya panjang dikepang. Manis banget deh," kata Radit tanpa dosa.
Aku meliriknya tajam. Doni yg melihat reaksiku lalu menyenggol Radit dan mengisyaratkan agar melihat ke arahku.
Sangat jelas sekali dia menelan ludah dan wajahnya berubah pucat saat menoleh padaku.
Kunaikan sebelah alisku dan menatap tajam Radit, bagai elang yg akan memangsa buruan nya.
Dia tersenyum, sambil garuk garuk kepala.
"Sayang, kamu kok cantik banget sih hari ini," rayu nya.
Aku diam dan masih terus menatapnya dingin.
"Mampus lu, Dit.." Doni tertawa ngakak. Ari dan Kiki tertawa bersama sama.
Radit terus berusaha membujukku agar aku tidak ngambek lagi.
Dan, tak lama kak Arden, Danu dan Dion malah ikut bergabung dengan kami.
Terlihat mereka kelelahan.
"Kak, capek banget?" tanyaku sambil terus menatap wajah kak Arden.
"Lumayan. " Dia meraih milk max milikku.
"Den, ajak mereka aja gimana?" tanya Danu.
"Mau ke mana?" Doni penasaran.
"Biasa, Don. MAKRAB besok malam." sahut Danu santai.
"Waaahh. seru nih," kata Ari semangat.
"Iya, kalian ikut ya. Kita kekurangan pengurus, banyak yang nggak bisa datang, sakit," pinta kak Arden.
"Emang boleh, kak?"
"Ya boleh lah."
Mereka asik ngobrol ngalor ngidul, terutama soal MOS dan acara MAKRAB besok malam.
Sebenarnya acaranya itu lebih khusus ke PRAMUKA, pelantikan tamu ambalan, lebih tepatnya. Yang memang biasa diadakan jika siswa baru masuk.
Perhatianku teralihkan, saat ada seorang siswa baru yg lewat di depanku. Beberapa pasang mata juga sama, melihat nya dengan terkesima. Terutama kaum hawa.
Dia memang terlihat tampan dan memiliki wajah yg lumayan.
Tapi, bukan itu yg membuatku terus menatap nya.
Namun, sosok di sampingnya.
Sepertinya dia mempunyai jin pendamping.
Gila banget, masih kelas 1 udah punya jin pendamping gitu.
Buat apa sih?
"Ehem..." Radit berdeham yg sepertinya sengaja melakukan itu karena aku yg terus melihat anak itu.
"Kenapa??" tanyaku ketus.
"Segitunya ngeliatin dia," gerutu nya.
"Siapa?"
"Kamu lah.."
"Aku? Ngeliatin siapa??"
Dia mendengus sebal.
"Itu anak kelas 1, Aretha." Radit menunjuk anak itu dan terlihat makin kesal.
Aku sontak tertawa kencang.
"Heh! Malah ketawa. Apa yg lucu!!'
"Kamu pikir aku ngeliatain dia?!"
Radit mengangguk pelan.
"aku bukan lihat dia. Tapi yg di sampingnya," bisikku pelan.
Otomatis semua menoleh padaku.
"Serius, Tha?
"Yang mana sih?"
"Di sebelahnya? Maksudnya apa, Tha?"
"Khodam!"
"Wah, keren."
Dan jadilah dia menjadi bahan gosip kami siang ini. Usut punya usut dia bernama, Leo.
Dari sumber yg dapat kami percaya, Leo ini playboy.
Kelas kakap lah intinya. Dia terkenal suka gonta ganti cewek dalam waktu singkat.
Dan info ini kami dapat dari Ari, dia memang bagai infotainment.
Segala macam gosip dapat kami dengar dari nya.
"Kamu jangan deket deket dia lho, Tha!!" ancam Radit serius.
Aku malah tertawa melihatnya cemberut seperti itu.
Aku pamit ke toilet ke mereka.
Awalnya Radit ngotot mau ikut aku, tapi ku omelin saja dia.
Masa iya, sampai toilet juga dia ngintilin aku terus?
Saat masuk ke toilet, rasanya bulu kudukku meremang.
Suasana sangat sepi.
Aku masuk dan segera memilih bilik toilet yg biasa ku pakai selama ini.
Di sini ada 5 bilik toilet yg disekat sekat.
Saat aku di dalam bilik toilet, aku mendengar ada yg masuk ke dalam bilik sampingku.
Kudengar toilet di flush dan terdengar air mengalir dari sana.
Ah, setidaknya aku tidak sendirian di toilet. Nggak asik banget kan.
Kudengar kembali toilet di flush.
Bahkan sepertinya dia melakukan nya beberapa kali.
Aneh banget sih? Iseng gitu.
Saat aku keluar dan mencuci tanganku di wastafel, aku sedikit mengernyitkan kening karena di cermin depanku, semua bilik toilet dalam keadaan terbuka.
Perasaanku tidak enak.
Karena penasaran, aku dekati satu persatu bilik toilet di sini, siapa tau, ada yg ngumpet dan sengaja ngerjain aku. Biar aku takut.
Kriiieeet
Kosong.
Kembali aku berjalan lagi
Kriiieeert.
Lagi lagi kosong.
Kriiieeettt...
Degg!!
Kali ini sosok itu terlihat jelas di depanku.
Seorang siswa yg masih memakai seragam sekolah, sedang jongkok di atas kloset sambil memainkan tombol flush berkali kali.
Aku mundur, dia yg awalnya memunggungi ku, kini perlahan menoleh dan menatap ku diam. Dia menyeringai dengan seringai yg menakutkan.
Badanku seperti terhipnotis, dan sulit untuk digerakkan.
Bahkan untuk mengedipkan mata saja, aku tidak bisa.
Sosok itu turun perlahan dari kloset, dan kini aku dapat dengan jelas melihat nya.
Lehernya seperti hampir putus dan terdapat luka robek yg menganga lebar. Saat dia berjalan, kepalanya seperti akan jatuh ke lantai.
Aku ngeri melihatnya.
Kubaca doa dalam hati, dan perlahan badanku bisa bergerak, walau pelan.
Karena terlalu memaksakan, untuk berjalan, aku sampai terjatuh dan menabrak tempat sampah yg dekat denganku.
Aku terus menarik tubuhku di lantai. Untung lantainya bersih.
Tiba tiba ada yg masuk ke dalam, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, saat aku mendongak kan kepalaku, ternyata dia adalah anak kelas 1 tadi, Leo.
Leo masuk lalu jongkok di depanku.
"Kamu gak papa?" tanyanya cemas.
Namun aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan nya. Lidahku terasa kelu.
Leo kemudian berdiri dan berdiri di depan pintu bilik toilet tadi.
Dia terdiam dengan tatapan mata yg dingin dan tajam, sambil menggumam sesuatu, dia melakukan gerakan yg aneh, dan jin pendamping yg tadi kulihat, kini muncul lagi.
Seperti nya mereka sedang menghadapi sosok mengerikan tadi.
Tak berapa lama, Leo menghampiriku lagi dengan sigap langsung membopongku keluar toilet.
Kami terus berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan tatapan macam macam dari teman teman, maupun adik kelas yg lain.
Aneh nya, aku pasrah saja dibopong begini sama dia.
"Heh!! Apa apaan nih!! Turunin dia!!" tiba tiba Radit muncul dengan wajah yg penuh amarah.
"Kenapa sih? Orang aku cuma mau nolongin dia kok?" tanya Leo santai.
Radit makin kesal bahkan kini mencengkram kerah baju Leo.
Akhirnya Leo menurunkan ku dari gendongan nya.
Dan sepertinya mereka benar benar akan berkelahi.
Waduh, gawat deh.
"Dit. Udah, Dit. Udah. Dia bener kok. Tadi dia cuma nolongin aku aja. Nggak lebih. Udah ya, Dit," bujukku pada Radit sambil berdiri di hadapan nya agar dia tidak terus terusan menatap Leo dengan tatapan dingin seperti ini.
"Ada apa sih ini?" tiba tiba kak Arden sudah ada di antara kami, lalu menatap Radit, Leo dan aku bergantian.
Banyak juga yg ikut mengerubungi kami sekarang.
Namanya ribut di sekolah itu, bakal jadi tontonan gratis yg sangat menarik untuk banyak orang.
Karena merasa keadaan tidak cukup nyaman, kami pindah ke tempat yg lebih privasi lagi.
Kini kami ada di ruang OSIS, dan akhirnya kuceritakan apa yg terjadi tadi. Mendengar itu, Radit jadi cemas, dan terus menanyaiku dengan pertanyaan beruntun.
Pada akhirnya, Radit meminta maaf pada Leo karena kesalahpahaman tadi.
Namun, saat Leo menatapku, aku merasa aneh. Entah bagaimana aku menjelaskan nya.
======
theorganic.f702 dan 2 lainnya memberi reputasi
3