- Beranda
- Stories from the Heart
story keluarga indigo.
...
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.

Quote:
KKN Di Dusun Kalimati
Quote:
Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.
Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.
Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.

INDEKS
Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

Quote:
Quote:
Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.
Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.
Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).
INDEKS
Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end

Quote:
Quote:
INDEKS
Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang
Konten Sensitif
Quote:
Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.
INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

Quote:
Quote:
INDEKS
part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
gokil4ever dan 23 lainnya memberi reputasi
22
23.5K
306
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#203
27 Misteri
POV ARDEN
Malam ini juga kami akan mencari Dedi, dan tempat satu satu nya yang akan kami datangi adalah rumah kosong itu.
Kami semua akan ke sana, kecuali Kiki, Alya dan Doni. Aku juga tenang karena Pak Nyoman menemani mereka di rumah.
Mereka sengaja ada ada di rumah saja, siapa tau Dedi tiba tiba pulang sendiri ke rumah, walaupun aku tau itu tidak mungkin.
"Oke... Siap?" tanyaku pada mereka yg sudah berkumpul di halaman.
Mereka mengangguk dengan wajah serius.
Kami jalan kaki ke rumah itu.
Saat ini sudah pukul 21.30
Dan kami sengaja nekad mencari Dedi saat ini juga kareba takut terjadi hal yg buruk padanya.
Bagaimana pun juga dia tanggung jawabku di sini.
Hanya sekitar 10 menit kami sampai di rumah itu.
Semilir angin berhembus agak kencang, hingga membuat beberapa daun dari pohon beringin besar di depan rumah itu berguguran.
Krriiieeettt..
Radit membuka pintu gerbang itu perlahan, namun bunyinya sungguh cumakkan telinga.
Mungkin karena terbuat dari besi dan hampir semuanya sudah berkarat, sehingga bunyinya agak mengganggu jika dibuka.
Kami berjalan masuk ke dalam, menelusuri tiap halaman rumah itu. Rumput liar yg cukup tinggi dengan daun daun yg berserakan menambah kesan mistis rumah ini.
"Serius si Dedi di sana?" tanya Danu.
"May be," sahut Radit.
"Ya di mana lagi coba, kan?kemungkinan besar ya di sini lah," jawab Aretha dengan penuh keyakinan.
Danu mengangguk dengan raut wajah yang tidak bisa ku baca.
Yang jelas dia khawatir dengan keselamatan Dedi. Tidak hanya dia saja, aku dan yg lainnya pun begitu.
Sampai di teras rumah itu, kami berjalan dengan langkah yang perlahan, sambil mengamati keadaan sekeliling kami. Sungguh kotor dan rusak parah rumah ini.
Masih dapat jelas terlihat bekas kebakaran juga, karena banyak yg hangus pada beberapa bagian sudut rumah dan perabotan nya.
Radit maju dan membuka pintu rumah itu.
Ceklek!!
Dia menoleh pada kami dengan wajah keheranan.
Aku hanya mengangguk sekali mengisyaratkan agar dia terus masuk ke dalam rumah itu.
Dengan berbekal beberapa senter di tangan kami, kami mulai masuk ke dalam rumah itu masih dengan pelan pelan. Yah, mungkin lebih mirip pencuri yg masuk ke rumah korbannya.
Di dalam rumah ini pun keadaan sangat kacau. Berantakan, kotor dan hancur.
Ku edarkan pandanganku ke segala tempat berbekal senter di tanganku.
"Gimana nih? Kita berpencar aja apa gimana?" tanya Radit sambil menatapku.
"Eum... Kayanya ide bagus tuh," sahutku.
Kami lalu mencari ke semua tempat dengan cara berpencar.
Mereka sudah berjalan dengan tujuan masing masing. Radit dan Aretha ke lantai 2. Danu, Ari dan Dion ke ruangan lain di lantai 1 ini bersama diriku juga.
Entah kenapa aku sangat tertarik untuk mendekat ke dapur nya.
Aku berjalan ke dapur sambil terus menyenteri jalanku.
Keadaan dapur nya lebih kacau.
Ada bau busuk yg sangat menyengat hidungku. Hingga aku menutup hidung dengan lengan.
"Bau apa sih ini??" gumam ku sendiri.
Aku terus memeriksa tempat ini. Berharap ada petunjuk keberadaan Dedi.
Saat aku mengarah kan senter ke dekat kompor, aku seperti melihat ada bayangan yg sedang duduk di sana.
Ku arahkan senter itu ke bayangan yg ku maksud.
Namun, tidak ku temukan apa pun.
Aku terus mencari apakah ada petunjuk soal keberadaan Dedi lainnya.
Hawa di sekitarku berubah panas. Padahal aku sangat yakin, saat kami masuk tadi cuaca sedang dingin. Bahkan kami semua memakai jaket sebelum akan kemari.
Dugg!!
Duggg!!
Duggg!!
Aku menoleh ke sumber suara. Suara itu berasal dari sebuah meja nakas yg sudah rapuh.njuamati meja ini, mencari sumber suara yg barusan kudengar tadi. Meja ini kosong. Tidak ada apa pun di sana.
Tunggu!!
Apa ini.
Di belakang meja nakas ini seperti ada garis panjang. Karena penasaran aku menggeser meja sedikit.
Begitu terkejutnya aku saat melihat apa yg ada di baliknya.
Sebuah pintu!
'Pintu apa ini?'
Kriiieeettt.
Ternyata tidak terkunci.
Ukuran pintu ini tidak sebesar pintu pada umumnya. Hanya sekitar separuh saja.
Dan saat kubuka, ternyata ada tangga yg mengarah ke bawah.
Rupanya ini pintu bawah tanah.
Namun sangat gelap dan pengap.
"Den!!!" Radit menepuk bahunya hingga aku sedikit terkejut.
"Astagfirulloh ... Ngagetin aja ih.." gerutu ku kesal.
Dia malah terkekeh geli.
"Kak... Apa tuh?" tanya Areta terus menatap lorong gelap di hadapan kami.
"Iya ih, serem banget sih. Ruangan apa tuh? Kayak rumah di luar negri aja, ada ruang bawah tanahnya,"ucap Radit sambil ikut melongok ke ruangan itu.
Terdengar suara langkah kaki mendekat pada kami.
Ternyata Danu, Ari dan Dion.
"Heh! Ada orang di luar. Gimana nih!!" tanya Ari agak panik.
Dan memang benar ada seseorang yg masuk ke halaman rumah ini. Dari yg kulihat, dia sepertinya seorang pria.
"Eh, mending ngumpet aja deh. Perasaan gue gak enak. Serius," pinta Dion.
"Iya, setuju. Ngumpet di mana nih? "tanya Danu.
"Situ aja tuh. Muat buat kita semua," saran Ari. Dia menunjuk ruang bawah tanah tadi.
Aku berfikir sebentar. Entahlah, rasanya sungguh berat uNtuk melangkah masuk ke sana. Aku tidak tau apa yg ada di dalam sana, bagaimana kondisi nya, dan satu yg pasti, hawa di ruangan itu lebih panas dari rumah ini.
Namun Dion sudah lebih dulu berjalan masuk ke sana. Dengan bantuan senter di tangannya membuat dirinya sapat melihat Keadaan di bawah dengan jelas.
Akhirnya yg lain pun mengikuti nya masuk karena pria di luar itu sudah mulai masuk ke dalam rumah ini.
Aneh sekali bukan. Rumah ini sudah lama kosong. Siapa orang itu dan mau apa dia ke mari?
Klekk!
Pintu kami tutup setelah semua masuk.
Ruangan ini tidak terlalu besar.
"Eh... ada saklar tuh. Buat lampu kali ya," celetuk Radit
Kemudian dia menyalakan nya, dan benar saja, ruangan ini menjadi terang. Walau lampunya sedikit redup namun, itu lebih baik daripada harus gelap gelapan.
Kami makin dapat melihat jelas sekarang, dan di sini seperti gudang saja. Banyak sekali barang barang yg sepertinya memang tidak terpakai.
"Eh.. Ini apa lagi ya. Banyak banget rahasia di rumah ini deh," celetuk Danu.
Dia sedang menatap sebuah pintu lagi. Kali ini pintunya berukuran normal.
"Buka deh!!" pinta Retha.
Danu mengangguk.
Namun, terkunci.
"Ke kunci, gaes," katanya sambil menatap kami.
Kriiieeettt
Degg!!
Pintu ruangan ini, terbuka.
Kami semua saling lempar pandangan dan sedikit panik.
"Ngumpet," bisik Radit lalu mengajak kami bersembunyi di balik beberapa barang di sini.
Jantungku berdegup agak cepat.
Apa mungkin pria tadi kemari?
Siapa sebenarnya dia? Dan mau apa dia ke mari.
Apa dia pemilik rumah ini ya. Karena dia tau tentang ruangan ini.
Langkah kaki pun terdengar masuk ke ruangan ini.
Kami makin menyembunyikan diri agar tidak terlihat dan jangan sampai ketauan.
Pria itu mengamati sekeliling nya.
Dia diam sebentar.
"Apa aku lupa tidak mematikan lampu, ya kemarin?" gumamnya.
Ah, sepertinya dia curiga. Semoga dia tidak menemukan kami di sini.
Dia lalu berjalan menuju pintu yg tadi ditemukan Danu.
Bunyi suara kunci pun terdengar jelas sekali.
Kriiiieeeet!!
Pintu pun terbuka.
Aku mengintip dari tempatku bersembunyi. Sebenarnya ada apa di dalam sana. Kenapa sangat rahasia sekali.
'Apa, itu?sm seperti seorang anak kecil' gumamku dalam hati.
Tiba tiba aku merasakan seperti ada yg menarik narik bajuku, dan saat aku menoleh. Jantungku hampir copot, melihat sosok anak kecil yang muncul di sampingku
Wajahnya pucat pasi. Matanya hitam bahkan tidak ada bola matanya.
Dia meraih tanganku lalu menunjuk ke ruangan itu.
Badanku mulai demam, dan entah kenapa aku diam saja tidak melakukan apa pun.
Dia terus menunjuk ke ruangan itu.
Apa maksudnya?
Apa dia ingin aku masuk ke sana?
Bahuku disentuh Aretha dan sosok anak itu hilang.
"Kakak gak papa, kan?" tanya Retha sambil berbisik.
Aku hanya mengangguk.
"Di dalem sana, Tha," kataku sambil menunjuk ruangan itu.
Aretha mengangguk.
Pranggg!!
Semua orang menoleh. Dion sepertinya tidak sengaja menjatuhkan pajangan yg ada di sampingnya.
Kami semua melotot ke arahnya karena kecerobohannya itu.
"Siapa itu!" teriak pria tadi.
Kami malah makin bersembunyi takut ketauan.
Pria itu keluar sambil terus mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Rupanya ada penyusup," ucapnya sinis. Dia tau kedatangan kami rupanya.
Kudengar langkah kakinya makin mendekati kami.
Dia terus berjalan, dan tiba tiba..
Dia menarik Dion ke dalam dekapannya sambil menempelkan pisau di leher Dion.
"Aahh.." Aretha teriak karena sedikit terkejut.
"Mau apa kalian?" tanya pria itu.
"Kami... Kami mencari teman kami pak," kata Danu.
"Teman. Kenapa nyari ke sini??" bentaknya.
"Ya kali aja dia di sini pak, "Jawab Radit cuek. Bener bener ni anak. Gila
"Kamu!! Kurang ajar!!" bentak bapak itu lagi.
"Lah, bapak yg kurang aja. Temen saya itu lho, mau diapain coba!!"ucap Radit dengan tidak menunjukan ekspresi takut sedikit pun.
"Kalau mau saya bunuh gimana? hah!! Kalian berani!!"ancamnya.
"Saya? Ya jelas berani pak. Ngapain saya takut.." Radit bersikap santai sekali menanggapi pria ini.
Radit mengangguk ke Dion, seperti sebuah kode satu sama lain, lalu Dion menginjak kaki bApakk itu. Pegangan nya akhirnya mengendur dan kesempatan itu tidak disia siakan Dion. Dia menunduk dan Radit langsung menendang kepala bapak itu keras keras.
Dengan sekali tendang, bapak itu jatuh ke belakang, telak.
Dion menjauh, dan kami pun ikut menjauh darinya.
Segera saja aku masuk ke ruangan itu.
"Ya ampun, Ded!' teriakku.
Dedi benar ada di sana. Dengan kondisi tangan kaki yg terikat dan mulut yang disumpal.
Segera saja aku menghampirinya.
"Ya ampun, Ded!! Kok elo bisa di sini sih?" tanya Danu, sambil ikut membantuku melepaskan ikatan di kaki Dedi.
Kulepaskan kain yg menyumpal mulutnya.
Nafasnya tersengal sengal.
Wajah Dedi pucat sekali. Dia melirik ke samping kanannya dengan tatapan ngeri. Aku ikut menoleh ke tempat yg dia tatap.
'Masya Allah!!'
Anak kecil itu ada di sana, sosok yang tadi aku lihat, sedang terbujur kaku.
Sosoknya pun ada di dekat pintu sambil menatap tubuhnya yg terbaring di sebuah ranjang kayu tanpa kasur.
"Mayat!" pekik Radit.
"Ya Allah..." Aretha melihat nya miris bahkan menekan kepalanya dan menatap sudut lain. Mungkin dia tidak tahan melihat hal itu.
Kudekati tubuh dari anak itu, ku pegang juga.
"Den!! Dia diawetin sama tu org gila!!"kata Dedi.
"Apa? diawetin? Gila kali ya!!" teriak Dion.
"Ih. Ngeri banget sih!" ucap Ari sambil bergidik.
"Eh, Dit!! Mana tu bapak?!!"tanyaku ke Radit.
"Lupa gue!!" sambil menepuk jidatnya sendiri lalu keluar mencari bapak itu.
"Ilang, Den!!kabur!!"teriak Radit dari luar.
Braaaakkk!!!
Terdengar pintu ditutup dengan kencang.
Aku segera keluar bersama yg lain.
Kulihat Radit sedang berusaha membuka pintu penghubung ruangan ini dengan dapur tadi.
"Ke kunci gaes!!!" teriaknya.
"Apa! waduh!!" pekik Ari ikut mencoba membuka pintu itu. Yang lain pun mendekat.
Dan fix, pintu terkunci. Lebih tepatnya dikunci dari luar.
Siapa lagi kalau bukan bapak tadi.
"Duh, gimana dong." Areta mulai panik.
Gak lucu juga kalau malam ini kami terkunci di ruangan ini, dengan mayat anak itu di sana.
Mana hape gak ada yg dibawa lagi.
Huft..
Malam ini juga kami akan mencari Dedi, dan tempat satu satu nya yang akan kami datangi adalah rumah kosong itu.
Kami semua akan ke sana, kecuali Kiki, Alya dan Doni. Aku juga tenang karena Pak Nyoman menemani mereka di rumah.
Mereka sengaja ada ada di rumah saja, siapa tau Dedi tiba tiba pulang sendiri ke rumah, walaupun aku tau itu tidak mungkin.
"Oke... Siap?" tanyaku pada mereka yg sudah berkumpul di halaman.
Mereka mengangguk dengan wajah serius.
Kami jalan kaki ke rumah itu.
Saat ini sudah pukul 21.30
Dan kami sengaja nekad mencari Dedi saat ini juga kareba takut terjadi hal yg buruk padanya.
Bagaimana pun juga dia tanggung jawabku di sini.
Hanya sekitar 10 menit kami sampai di rumah itu.
Semilir angin berhembus agak kencang, hingga membuat beberapa daun dari pohon beringin besar di depan rumah itu berguguran.
Krriiieeettt..
Radit membuka pintu gerbang itu perlahan, namun bunyinya sungguh cumakkan telinga.
Mungkin karena terbuat dari besi dan hampir semuanya sudah berkarat, sehingga bunyinya agak mengganggu jika dibuka.
Kami berjalan masuk ke dalam, menelusuri tiap halaman rumah itu. Rumput liar yg cukup tinggi dengan daun daun yg berserakan menambah kesan mistis rumah ini.
"Serius si Dedi di sana?" tanya Danu.
"May be," sahut Radit.
"Ya di mana lagi coba, kan?kemungkinan besar ya di sini lah," jawab Aretha dengan penuh keyakinan.
Danu mengangguk dengan raut wajah yang tidak bisa ku baca.
Yang jelas dia khawatir dengan keselamatan Dedi. Tidak hanya dia saja, aku dan yg lainnya pun begitu.
Sampai di teras rumah itu, kami berjalan dengan langkah yang perlahan, sambil mengamati keadaan sekeliling kami. Sungguh kotor dan rusak parah rumah ini.
Masih dapat jelas terlihat bekas kebakaran juga, karena banyak yg hangus pada beberapa bagian sudut rumah dan perabotan nya.
Radit maju dan membuka pintu rumah itu.
Ceklek!!
Dia menoleh pada kami dengan wajah keheranan.
Aku hanya mengangguk sekali mengisyaratkan agar dia terus masuk ke dalam rumah itu.
Dengan berbekal beberapa senter di tangan kami, kami mulai masuk ke dalam rumah itu masih dengan pelan pelan. Yah, mungkin lebih mirip pencuri yg masuk ke rumah korbannya.
Di dalam rumah ini pun keadaan sangat kacau. Berantakan, kotor dan hancur.
Ku edarkan pandanganku ke segala tempat berbekal senter di tanganku.
"Gimana nih? Kita berpencar aja apa gimana?" tanya Radit sambil menatapku.
"Eum... Kayanya ide bagus tuh," sahutku.
Kami lalu mencari ke semua tempat dengan cara berpencar.
Mereka sudah berjalan dengan tujuan masing masing. Radit dan Aretha ke lantai 2. Danu, Ari dan Dion ke ruangan lain di lantai 1 ini bersama diriku juga.
Entah kenapa aku sangat tertarik untuk mendekat ke dapur nya.
Aku berjalan ke dapur sambil terus menyenteri jalanku.
Keadaan dapur nya lebih kacau.
Ada bau busuk yg sangat menyengat hidungku. Hingga aku menutup hidung dengan lengan.
"Bau apa sih ini??" gumam ku sendiri.
Aku terus memeriksa tempat ini. Berharap ada petunjuk keberadaan Dedi.
Saat aku mengarah kan senter ke dekat kompor, aku seperti melihat ada bayangan yg sedang duduk di sana.
Ku arahkan senter itu ke bayangan yg ku maksud.
Namun, tidak ku temukan apa pun.
Aku terus mencari apakah ada petunjuk soal keberadaan Dedi lainnya.
Hawa di sekitarku berubah panas. Padahal aku sangat yakin, saat kami masuk tadi cuaca sedang dingin. Bahkan kami semua memakai jaket sebelum akan kemari.
Dugg!!
Duggg!!
Duggg!!
Aku menoleh ke sumber suara. Suara itu berasal dari sebuah meja nakas yg sudah rapuh.njuamati meja ini, mencari sumber suara yg barusan kudengar tadi. Meja ini kosong. Tidak ada apa pun di sana.
Tunggu!!
Apa ini.
Di belakang meja nakas ini seperti ada garis panjang. Karena penasaran aku menggeser meja sedikit.
Begitu terkejutnya aku saat melihat apa yg ada di baliknya.
Sebuah pintu!
'Pintu apa ini?'
Kriiieeettt.
Ternyata tidak terkunci.
Ukuran pintu ini tidak sebesar pintu pada umumnya. Hanya sekitar separuh saja.
Dan saat kubuka, ternyata ada tangga yg mengarah ke bawah.
Rupanya ini pintu bawah tanah.
Namun sangat gelap dan pengap.
"Den!!!" Radit menepuk bahunya hingga aku sedikit terkejut.
"Astagfirulloh ... Ngagetin aja ih.." gerutu ku kesal.
Dia malah terkekeh geli.
"Kak... Apa tuh?" tanya Areta terus menatap lorong gelap di hadapan kami.
"Iya ih, serem banget sih. Ruangan apa tuh? Kayak rumah di luar negri aja, ada ruang bawah tanahnya,"ucap Radit sambil ikut melongok ke ruangan itu.
Terdengar suara langkah kaki mendekat pada kami.
Ternyata Danu, Ari dan Dion.
"Heh! Ada orang di luar. Gimana nih!!" tanya Ari agak panik.
Dan memang benar ada seseorang yg masuk ke halaman rumah ini. Dari yg kulihat, dia sepertinya seorang pria.
"Eh, mending ngumpet aja deh. Perasaan gue gak enak. Serius," pinta Dion.
"Iya, setuju. Ngumpet di mana nih? "tanya Danu.
"Situ aja tuh. Muat buat kita semua," saran Ari. Dia menunjuk ruang bawah tanah tadi.
Aku berfikir sebentar. Entahlah, rasanya sungguh berat uNtuk melangkah masuk ke sana. Aku tidak tau apa yg ada di dalam sana, bagaimana kondisi nya, dan satu yg pasti, hawa di ruangan itu lebih panas dari rumah ini.
Namun Dion sudah lebih dulu berjalan masuk ke sana. Dengan bantuan senter di tangannya membuat dirinya sapat melihat Keadaan di bawah dengan jelas.
Akhirnya yg lain pun mengikuti nya masuk karena pria di luar itu sudah mulai masuk ke dalam rumah ini.
Aneh sekali bukan. Rumah ini sudah lama kosong. Siapa orang itu dan mau apa dia ke mari?
Klekk!
Pintu kami tutup setelah semua masuk.
Ruangan ini tidak terlalu besar.
"Eh... ada saklar tuh. Buat lampu kali ya," celetuk Radit
Kemudian dia menyalakan nya, dan benar saja, ruangan ini menjadi terang. Walau lampunya sedikit redup namun, itu lebih baik daripada harus gelap gelapan.
Kami makin dapat melihat jelas sekarang, dan di sini seperti gudang saja. Banyak sekali barang barang yg sepertinya memang tidak terpakai.
"Eh.. Ini apa lagi ya. Banyak banget rahasia di rumah ini deh," celetuk Danu.
Dia sedang menatap sebuah pintu lagi. Kali ini pintunya berukuran normal.
"Buka deh!!" pinta Retha.
Danu mengangguk.
Namun, terkunci.
"Ke kunci, gaes," katanya sambil menatap kami.
Kriiieeettt
Degg!!
Pintu ruangan ini, terbuka.
Kami semua saling lempar pandangan dan sedikit panik.
"Ngumpet," bisik Radit lalu mengajak kami bersembunyi di balik beberapa barang di sini.
Jantungku berdegup agak cepat.
Apa mungkin pria tadi kemari?
Siapa sebenarnya dia? Dan mau apa dia ke mari.
Apa dia pemilik rumah ini ya. Karena dia tau tentang ruangan ini.
Langkah kaki pun terdengar masuk ke ruangan ini.
Kami makin menyembunyikan diri agar tidak terlihat dan jangan sampai ketauan.
Pria itu mengamati sekeliling nya.
Dia diam sebentar.
"Apa aku lupa tidak mematikan lampu, ya kemarin?" gumamnya.
Ah, sepertinya dia curiga. Semoga dia tidak menemukan kami di sini.
Dia lalu berjalan menuju pintu yg tadi ditemukan Danu.
Bunyi suara kunci pun terdengar jelas sekali.
Kriiiieeeet!!
Pintu pun terbuka.
Aku mengintip dari tempatku bersembunyi. Sebenarnya ada apa di dalam sana. Kenapa sangat rahasia sekali.
'Apa, itu?sm seperti seorang anak kecil' gumamku dalam hati.
Tiba tiba aku merasakan seperti ada yg menarik narik bajuku, dan saat aku menoleh. Jantungku hampir copot, melihat sosok anak kecil yang muncul di sampingku
Wajahnya pucat pasi. Matanya hitam bahkan tidak ada bola matanya.
Dia meraih tanganku lalu menunjuk ke ruangan itu.
Badanku mulai demam, dan entah kenapa aku diam saja tidak melakukan apa pun.
Dia terus menunjuk ke ruangan itu.
Apa maksudnya?
Apa dia ingin aku masuk ke sana?
Bahuku disentuh Aretha dan sosok anak itu hilang.
"Kakak gak papa, kan?" tanya Retha sambil berbisik.
Aku hanya mengangguk.
"Di dalem sana, Tha," kataku sambil menunjuk ruangan itu.
Aretha mengangguk.
Pranggg!!
Semua orang menoleh. Dion sepertinya tidak sengaja menjatuhkan pajangan yg ada di sampingnya.
Kami semua melotot ke arahnya karena kecerobohannya itu.
"Siapa itu!" teriak pria tadi.
Kami malah makin bersembunyi takut ketauan.
Pria itu keluar sambil terus mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Rupanya ada penyusup," ucapnya sinis. Dia tau kedatangan kami rupanya.
Kudengar langkah kakinya makin mendekati kami.
Dia terus berjalan, dan tiba tiba..
Dia menarik Dion ke dalam dekapannya sambil menempelkan pisau di leher Dion.
"Aahh.." Aretha teriak karena sedikit terkejut.
"Mau apa kalian?" tanya pria itu.
"Kami... Kami mencari teman kami pak," kata Danu.
"Teman. Kenapa nyari ke sini??" bentaknya.
"Ya kali aja dia di sini pak, "Jawab Radit cuek. Bener bener ni anak. Gila
"Kamu!! Kurang ajar!!" bentak bapak itu lagi.
"Lah, bapak yg kurang aja. Temen saya itu lho, mau diapain coba!!"ucap Radit dengan tidak menunjukan ekspresi takut sedikit pun.
"Kalau mau saya bunuh gimana? hah!! Kalian berani!!"ancamnya.
"Saya? Ya jelas berani pak. Ngapain saya takut.." Radit bersikap santai sekali menanggapi pria ini.
Radit mengangguk ke Dion, seperti sebuah kode satu sama lain, lalu Dion menginjak kaki bApakk itu. Pegangan nya akhirnya mengendur dan kesempatan itu tidak disia siakan Dion. Dia menunduk dan Radit langsung menendang kepala bapak itu keras keras.
Dengan sekali tendang, bapak itu jatuh ke belakang, telak.
Dion menjauh, dan kami pun ikut menjauh darinya.
Segera saja aku masuk ke ruangan itu.
"Ya ampun, Ded!' teriakku.
Dedi benar ada di sana. Dengan kondisi tangan kaki yg terikat dan mulut yang disumpal.
Segera saja aku menghampirinya.
"Ya ampun, Ded!! Kok elo bisa di sini sih?" tanya Danu, sambil ikut membantuku melepaskan ikatan di kaki Dedi.
Kulepaskan kain yg menyumpal mulutnya.
Nafasnya tersengal sengal.
Wajah Dedi pucat sekali. Dia melirik ke samping kanannya dengan tatapan ngeri. Aku ikut menoleh ke tempat yg dia tatap.
'Masya Allah!!'
Anak kecil itu ada di sana, sosok yang tadi aku lihat, sedang terbujur kaku.
Sosoknya pun ada di dekat pintu sambil menatap tubuhnya yg terbaring di sebuah ranjang kayu tanpa kasur.
"Mayat!" pekik Radit.
"Ya Allah..." Aretha melihat nya miris bahkan menekan kepalanya dan menatap sudut lain. Mungkin dia tidak tahan melihat hal itu.
Kudekati tubuh dari anak itu, ku pegang juga.
"Den!! Dia diawetin sama tu org gila!!"kata Dedi.
"Apa? diawetin? Gila kali ya!!" teriak Dion.
"Ih. Ngeri banget sih!" ucap Ari sambil bergidik.
"Eh, Dit!! Mana tu bapak?!!"tanyaku ke Radit.
"Lupa gue!!" sambil menepuk jidatnya sendiri lalu keluar mencari bapak itu.
"Ilang, Den!!kabur!!"teriak Radit dari luar.
Braaaakkk!!!
Terdengar pintu ditutup dengan kencang.
Aku segera keluar bersama yg lain.
Kulihat Radit sedang berusaha membuka pintu penghubung ruangan ini dengan dapur tadi.
"Ke kunci gaes!!!" teriaknya.
"Apa! waduh!!" pekik Ari ikut mencoba membuka pintu itu. Yang lain pun mendekat.
Dan fix, pintu terkunci. Lebih tepatnya dikunci dari luar.
Siapa lagi kalau bukan bapak tadi.
"Duh, gimana dong." Areta mulai panik.
Gak lucu juga kalau malam ini kami terkunci di ruangan ini, dengan mayat anak itu di sana.
Mana hape gak ada yg dibawa lagi.
Huft..
theorganic.f702 dan 2 lainnya memberi reputasi
3