- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.5K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•5Anggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#21
Spoiler for 20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.:
Setangkai mawar diletakkan di atas tanah makam yang masih basah, beberapa orang melakukan hal yang sama secara berulang. Tanah pun dipenuhi dengan tangkai-tangkai bunga mawar, orang-orang beranjak pergi meninggalkan Sasa yang masih berdiri menatap ke arah nisan bernama. Pakaiannya yang serba hitam, dengan kacamata yang senada, cukup untuk menggambarkan kesedihannya. Tidak terkecuali Anggi dan Ali yang berdiri di sampingnya, yang bersedia menemaninya sampai kapanpun ia mau.
Sasa mendekat ke arah batu nisan, ia pun berlutut lalu meletakkan buket bunga di antara tangkai-tangkai bunga yang lain. Ia menghela nafasnya, air mata pun kembali menetes begitu saja. Anggi mendekat untuk merangkulnya, dengan harapan dukanya akan sedikit mereda, meskipun sesaat. Secara perlahan, Anggi mengusap punggung Sasa seraya menatap ke arah nisan itu.
“Mar, kamu udah bisa tidur tenang sekarang...”
Ali menghela nafasnya mendengar ucapan itu.
“...aku janji akan ke sini setiap hari, aku janji akan cerita semuanya ke kamu seperti biasa, dan aku janji untuk terus cinta sama kamu.” Ucap Sasa.
“Kamu mau pulang sekarang?...”
Sasa mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Anggi.
“...kalau gitu, kita pamit ya Mar. Sampai bertemu di lain waktu.” Ucap Anggi.
Anggi merangkul Sasa untuk bangun secara perlahan, kemudian mereka berjalan menuju di mana mobil mereka berada. Secara bergantian, Ali mendekat ke arah nisan tersebut seraya berlutut. Ia meletakkan foto mereka berdua semasa baru menjadi asisten detektif, di mana saat itu pula mereka baru berkenalan. Ali pun menyalakan sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya yang disapu langsung oleh angin yang berhembus.
“Gue jadi inget pas kita baru pertama kenal, sama-sama baru diangkat jadi asisten detektif, di mana pendapat kita selalu beda dan ngga pernah akur...”
Brak! Ali membanting laporan yang ia pegang di hadapan Damar yang sedang duduk, ia pun menyalakan sebatang rokok meninggalkan tanya bagi Damar.
“Lo kenapa sih?” Tanya Damar.
“Coba lo baca, masa iya caranya begitu? Yang ada klien kita bakalan cabut lah.” Ucap Ali.
Damar meraih laporan tersebut lalu membacanya.
“Apa yang salah sih? Ini kan salah satu cara pendekatan terhadap terlapor, setelah itu baru kita bisa tentuin langkah berikutnya.” Sahut Damar.
“Kelamaan, mending langsung aja.” Ucap Ali.
“Preventif yang gue lakuin itu bukan tanpa alasan. Itu jadi salah satu perlindungan buat kita sendiri sebelum melangkah ke arah yang lebih subjektif.” Jawab Damar.
“Kalau lo begitu terus, terlapor bisa dapet perlindungan dari pengacaranya lebih cepet. Kita bisa gagal buat interfensi.” Ucap Ali.
"Tetep kita harus preventif dulu...”
“Ngga bisa...” Ali memotong, “kita diburu waktu.”
“Kita bisa dituntut nanti.” Sahut Damar.
“Ngga, kalau kita menang.” Sahut Ali.
Damar bangun dari duduknya.
“Seyakin apa lo bisa menang lawan orang kayak dia? Orang yang punya perlindungan dari kalangan pemerintahan, bahkan jabatannya juga tinggi.” Ucap Damar.
“Gue ngga peduli siapa yang ngelindungin dia. Mau orang pemerintahan dengan jabatan tinggi kek, bahkan kalau dia dilindungin sama kepala detektif kita, akan tetep gue lawan.” Sahut Ali.
“Iya gue paham, kita akan tetep lawan dia, tapi dengan cara yang teratur. Bukan kayak cara lo yang terburu-buru gitu, jadi ngga profesional.” Ucap Damar.
“Ngga profesional? Jadi lo ngerasa profesional banget?” Tanya Ali.
“Kenapa lo jadi nanya gitu? Bukan itu maksud gue...”
“Alah basi...”
Ali meraih laporan itu kembali.
“...kalau lo ngga mau ngerubah, biar gue aja yang jalan sendiri. Lagian juga ada atau ngga ada perubahan dari lo, gue masih bisa ngerubahnya sendiri.” Jelas Ali.
“Eh ngga gitu caranya...” Damar merebut laporan itu, “jangan gegabah kalau sesuatu ngga sesuai sama apa yang lo mau. Kita di sini kerja sama tim, bukan perorangan.”
“Kalau orang-orang timnya kayak lo...”
Ali kembali merebut laporan itu.
“...ngga akan maju karir kita di sini.” Ucap Ali
Damar mencoba untuk merebut laporan itu, namun Ali menahannya hingga terjadi adu kekuatan untuk kepemilikan lembaran kertas itu. Tak berselang lama, detektif menghampiri mereka berdua.
“Ada apa ini?...”
Ali dan Damar menatap ke arahnya dengan segan. Detektif itu meraih kertas yang mereka perebutkan, ia membaca secara singkat apa isi dari laporan tersebut.
“...coba jelasin ada apa ini?” Tanyanya.
“Ali minta saya untuk melewati pendekatan preventif terkait klien yang melaporkan suaminya.” Jawab Damar.
“Bukan tanpa alasan Pak, menurut saya itu akan memberikan celah untuk terlapor mendapatkan perlindungan dari kuasa hukumnya.” Sahut Ali.
“Tapi semisal kita melewati itu, kita bisa dilaporkan sama terlapor dengan dugaan pencemaran nama baik. Itu akan berakibat untuk kita dan juga pelapor.” Lanjut Damar.
“Tidak, semisal kita berhasil menginterfensi sesuai dengan target yang dibutuhkan. Contohnya, kita bisa...”
“...begitu aja terus, sampai akhirnya kita bisa disatukan saat Payung Kuning muncul ke permukaan dengan terornya. Sayang banget kasus ini belum selesai, lo jadi ngga bisa tau siapa dalang dari ini semua...”
Ali kembali menghisap rokoknya.
“...tapi satu yang bisa gue janjiin sama lo, kasus ini akan selesai. Kasus ini ngga akan masuk ke dalam daftar merah karena masa usang, ngga akan. Itu janji gue sama lo...”
Ali menyentuh nisan itu sesaat, kemudian ia kembali berdiri.
“...besok gue akan ke sini lagi. Selamat beristirahat Mar.” Ucap Ali.
Ali berjalan dengan santai seraya menghisap rokoknya. Hidup akan terus berjalan sebagaimana mestinya, apapun yang terjadi, apapun yang tertinggal. Hingga tanpa sadari, empat bulan berlalu begitu saja.
Ali yang sedang duduk bersandar pada kursi di siang hari, terdiam menatapi selembar kertas yang sedang ia pandangi sedari pagi. Rokok pun ia hisap lalu dimatikan di dalam asbak, asap dari mulutnya pun berhembus memenuhi ruang kerjanya. Ali membuka laci meja untuk mengambil cap, ia terdiam beberapa saat seraya menatap kertas di atas meja, sementara tangan kanannya sudah memegang cap tersebut. Ali menghela nafas seraya memejamkan matanya secara singkat. Ctak!
“Kasus Tidak Selesai.”
Ali kembali memasukan cap ke dalam laci meja, ia pun beranjak dari kursinya dan berlalu ke luar ruangan seraya membawa laporan tersebut. Ia masuk ke dalam ruang arsip yang berada di bawah tanah, di mana semua laporan dikumpulkan di sana. Setelah melewati beberapa rak berukuran besar, Ali menghentikan langkahnya di sudut ruangan, di mana ada rak yang berukuran lebih kecil.
“Agustus, september, oktober...”
Ali sedang mencari map kertas yang sudah tertulis.
“...ini dia.” Ucap Ali seorang diri.
Sebuah map kertas berwarna merah dengan tulisan "November" pun ia temukan, Ali memasukan laporan ke dalam map tersebut dengan berat hati. Janjinya kepada Damar untuk menyelesaikan kasus pembunuhan itu gagal, kasus itu sudah diputuskan untuk masuk ke dalam daftar merah.
Daftar merah, menjadi tempat berkumpulnya kasus-kasus yang tidak dapat diselesaikan. Ada beberapa alasan kenapa kasus-kasus itu tidak dapat diselesaikan, salah satunya, masa penyelidikan yang diberikan sudah usai dan tidak bisa diperpanjang lagi sesuai ketentuan pengadilan, termasuk kasus pembunuhan itu.
Setelah kematian Damar, tidak ada lagi kasus pembunuhan yang menjurus kepada pelaku yang sama. Hanya ada pelaku-pelaku pembunuhan yang kasusnya sangat mudah untuk dipecahkan. Ali mengajukan penambahan masa waktu penyelidikan, namun pengadilan menolak dengan alasan tidak ada lagi kasus serupa.
Ali berjalan keluar dari kantor menuju di mana mobilnya terparkir, ia pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kantor pada siang ini. Ia kembali menyalakan sebatang rokok selagi menunggu lampu merah, Ali juga menyalakan radio untuk menemaninya selama perjalanan. Tanpa sengaja, ia kembali mengingat kejadian di malam saat Damar ditembak oleh pelaku. Ia merasa semuanya terlalu cepat berlalu, tanpa adanya perlawanan yang berarti.
TIIIN! Ali mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat, ia baru menyadari bahwa lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Pengendara lain yang ada di belakangnya pun protes, Ali kembali mengemudikan mobilnya dan kembali pada realita.
Beberapa saat berlalu, mobil yang dikemudikan Ali sudah terparkir di tepi jalan. Ia sedang duduk di bangku panjang seraya melihat ke arah sekeliling, sampai akhirnya pandangannya tertuju ke arah orang yang datang berjalan mendekat ke arahnya. Ali pun bangun dari duduknya lalu memeluk Sasa, kemudian mereka kembali duduk di bangku.
“Gimana kerjaan lo Sa?” Tanya Ali.
“Aman kok Bang. Bulan depan aku ke luar kota, ada peluncuran busana baru dari perusahaan aku di sana.” Jawab Sasa.
“Ngga bikin acara di sini dong?” Tanya Ali.
“Kayaknya ngga deh Bang, soalnya ada kerja sama dari salah satu perusahaan kosmetik yang ada di sana. Tapi ngga menutup kemungkinan juga kalau dibikin acara lanjutan...”
Ali menganggukkan kepalanya.
“...oh iya, tadi katanya ada yang mau diomongin Bang.” Ucap Sasa.
“Iya, ada yang mau gue omongin...” Ali menghela nafasnya singkat, “kasus pembunuhan Damar dinyatakan ngga selesai oleh pengadilan. Gue udah coba ajuin penambahan waktu, cuma ditolak. Gue minta maaf ya Sa.”
“Mungkin emang udah jalannya seperti ini Bang, terlebih udah ngga ada kasus yang serupa. Makasih ya Bang udah mau berusaha sekuat tenaga...”
Sasa menghela nafasnya cukup panjang.
“...semoga ngga ada lagi kasus-kasus kayak gini.” Ucap Sasa.
“Maaf banget ya Sa.” Ucap Ali.
“Bang Ali ngga salah...” Sasa melempar senyum, “semuanya udah suratan takdir. Ngga ada yang bisa ngerubah itu, mau ngga mau harus dijalanin Bang.”
“Makasih banyak ya Sa.” Ucap Ali.
“Aku yang harusnya bilang makasih. Eh iya, gimana kabarnya Kak Anggi sama Leony? Udah lama aku ngga ketemu sama mereka.” Ucap Sasa.
“Anggi masih dengan kesibukannya. Leony pun sama, apalagi dia udah masuk sekolah. Dia lagi seneng-senengnya ngobrolin temen-temen di sekolah barunya.” Jawab Ali.
“Ah, aku seneng banget dengernya.” Sahut Sasa.
Ali tersenyum, “Dia seseneng itu kalau udah ngobrolin temen-temennya. Abis itu ngobrolin tugas-tugasnya dan ekstrakulikuler, wah banyak deh pokoknya.”
“Wah pasti seru banget, nanti aku main deh ke rumah. Oh iya, Bang Ali ada rencana abis ini? Kalau ngga ada, aku mau ajak Bang Ali.” Ucap Sasa.
“Mau ke mana Sa?” Tanyanya.
“Aku mau traktir Bang Ali, sebagai bentuk terima kasih.” Jawab Sasa.
“Ngga usah Sa...”
“Aku maksa...” Sasa memotong ucapan Ali, “pokoknya Bang Ali harus mau. Kalau ngga mau, aku paksa sampai mau. Kalau masih ngga mau juga, aku marah.”
Ali menghela nafasnya singkat, ia pun mengangguk setuju menerima ajakan dari Sasa. Waktu berlalu hinga malam pun datang, Ali memarkirkan mobilnya di tepi jalan, tepat di belakang mobil Anggi. Ia pun keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Suasana sudah hening, tersisa lampu ruang tamu yang menyala. Ali berjalan menaiki anak tangga, ia pun membuka pintu secara perlahan. Ali mendapati Leony yang sudah tertidur pulas di atas kasurnya, dengan beberapa buku mata pelajaran di sampingnya. Ia berjalan mendekat untuk membereskan buku-buku tersebut dan diletakkan di atas meja. Dengan berhati-hati, Ali mencium kening Leony agar ia tidak mengganggu mimpi indahnya. Ali pun berjalan keluar lalu menutup pintu kamar Leony, ia pun berlalu menuju kamarnya.
Ali tersenyum begitu saja ketika ia melihat Anggi yang juga sudah tertidur, masih mengenakan pakaian kantornya. Ali berjalan menuju meja untuk meletakkan barang-barangnya, sesekali ia melihat ke arah Anggi. Ali pun mendekat untuk mencium kening Anggi, respon Anggi pun tersenyum dalam mimpi indahnya tanpa sadar.
Ali pun berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Beberapa saat berlalu, ia keluar dengan handuk di pundaknya. Ali berjalan keluar dari kamar menuju ruang kerja yang berada di samping. Ia menyalakan lampu lalu berjalan menuju meja kerjanya.
“Apa tuh?...”
Ali mendapati ada sebuah kotak yang dibungkus kertas kado di atas mejanya. Ia pun duduk di kursi lalu meraih kotak tersebut.
“...ulang tahun? Masih lama.” Ucap Ali seorang diri.
Ali memutuskan membuka kertas kado yang menyelimuti kotak tersebut untuk menghapus rasa penasarannya. Kertas kado berwarna merah dengan motif garis putih pun terlepas, menyisakan kotak berwarna merah yang senada dengan kertas kadonya. Ali sempat melihat ke arah pintu sesaat, kemudian ia kembali menatapi kotak tersebut lalu membukanya secara perlahan.
Ali menemukan bunga anggrek yang sangat banyak di dalam kotak tersebut, matanya pun terbuka cukup lebar. Ia kembali teringat akan kasus pembunuhan yang gagal ia tangani dan sudah dihentikan oleh pengadilan. Secara perlahan, Ali mengambil bunga itu satu persatu, hingga ia menemukan sebuah plastik berisi kertas dan kartu memori.
Tanpa ragu, Ali membuka plastik itu untuk mengeluarkan dua benda yang ada di sana. Ali meraih kertas terlebih dahulu untuk dibaca.
“Kau sudah kalah. Apa aku bisa membunuhmu sekarang?”
Kejutan pun kembali muncul setelah beberapa lama menghilang, pelaku nampaknya muncul kembali untuk menyelesaikan tugasnya. Ali pun meletakkan kertas itu lalu mengambil kartu memori, ia menyalakan komputer untuk melihat isi dari benda yang ada di genggamannya.
Layar sudah menyala, Ali pun memasukkan kartu memori. Hanya ada satu buah video yang ada di sana, Ali menghela nafasnya singkat lalu memutar video tersebut. Sebuah rekaman dari sudut pelaku pun mulai, ia nampak berjalan dengan santai bersama beberapa orang lain. Ali menajamkan matanya untuk menebak, kira-kira di mana lokasi pelaku itu merekam.
“Ini kan... pemakaman.” Ucap Ali seorang diri.
Benar saja, pelaku berjalan masuk ke dalam kawasan pemakaman. Dengan santainya ia berjalan menaiki bukit hingga ia berhenti tepat di makam Damar. Ali tak melepas pandangannya untuk mencari tahu apa yang akan terjadi kemudian, sampai akhirnya ia dibuat terkejut dengan suara tangisan dari pelaku.
Pelaku nampak berlutut seraya meletakkan bunga anggrek di antara banyaknya bunga mawar yang ada, terdengar isak tangis yang tipis namun mudah terdengar. Akhirnya pelaku bangun lalu meninggalkan makam Damar, dan kembali berjalan menuju jalan raya. Ia sempat berhenti di tepi jalan, tangan kanannya merogoh tas yang ia bawa.
Ali pun kembali dibuat terkejut dengan apa yang dikeluarkan oleh pelaku, ada foto Anggi dan juga Leony dari dalam tas. Pelaku pun menunjuk secara bergantian pada foto tersebut dan berulang, seperti memberi isyarat siapakah korban yang akan ia pilih berikutnya. Jari telunjuknya pun berhenti di foto Leony, pelaku pun meremas foto milik Anggi dan membuangnya ke tepi jalan, ia kembali memasukkan foto Leony dan video pun selesai.
“Pa...”
Dengan cepat Ali menatap ke arah pintu.
“...udah pulang?” Tanya Leony.
Ali bangun dari duduknya, ia menghampiri Leony lalu memeluknya cukup erat. Tentu saja Leony yang baru saja terbangun dibuat bingung dengan apa yang Ali lakukan.
“Papa kenapa?” Tanya Leony.
“Nggapapa...” Ali menghela nafas, “kamu kebangun?”
“Iya, tiba-tiba aja.” Jawabnya.
Ali melepas pelukannya, “Kamu mau tidur sama Papa ngga? Kalau ngga, Papa tidur sama kamu?”
“Papa kenapa?” Tanya Leony.
Ali menggeleng, “Papa cuma kangen aja sama kamu, jadi mumpung ada waktu, kita bisa waktu berkualitas lebih banyak dari biasanya.”
Leony terdiam sesaat, “Boleh deh Pa.”
Ali tersenyum, “Kalau gitu, kamu masuk ke kamar Mama ya. Papa matiin komputer dulu abis itu nyusul ke sana.”
Leony menganggukkan kepalanya secara pelan, ia pun berlalu masuk ke dalam kamar Ali dan Anggi. Sementara itu, Ali berlalu kembali menuju meja kerjanya. Ia memasukkan bunga anggrek kembali pada kotaknya, beserta surat yang sudah ia baca, kemudian ia mematikan komputer dan memasukkan kartu memori ke dalam saku jas yang biasa ia kenakan.
Beberapa saat berlalu, Ali pun masuk ke dalam kamar dan sudah menemukan Leony yang tidur di samping Anggi. Ali mendekat dan ikut berbaring di sana. Ia memandang dalam diam, dua orang wanita yang sangat ia cintai. Rasa khawatir kembali muncul ketika apa yang baru saja ia temukan di dalam ruang kerjanya, apakah mungkin pelaku akan kembali?
Sasa mendekat ke arah batu nisan, ia pun berlutut lalu meletakkan buket bunga di antara tangkai-tangkai bunga yang lain. Ia menghela nafasnya, air mata pun kembali menetes begitu saja. Anggi mendekat untuk merangkulnya, dengan harapan dukanya akan sedikit mereda, meskipun sesaat. Secara perlahan, Anggi mengusap punggung Sasa seraya menatap ke arah nisan itu.
“Mar, kamu udah bisa tidur tenang sekarang...”
Ali menghela nafasnya mendengar ucapan itu.
“...aku janji akan ke sini setiap hari, aku janji akan cerita semuanya ke kamu seperti biasa, dan aku janji untuk terus cinta sama kamu.” Ucap Sasa.
“Kamu mau pulang sekarang?...”
Sasa mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Anggi.
“...kalau gitu, kita pamit ya Mar. Sampai bertemu di lain waktu.” Ucap Anggi.
Anggi merangkul Sasa untuk bangun secara perlahan, kemudian mereka berjalan menuju di mana mobil mereka berada. Secara bergantian, Ali mendekat ke arah nisan tersebut seraya berlutut. Ia meletakkan foto mereka berdua semasa baru menjadi asisten detektif, di mana saat itu pula mereka baru berkenalan. Ali pun menyalakan sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya yang disapu langsung oleh angin yang berhembus.
“Gue jadi inget pas kita baru pertama kenal, sama-sama baru diangkat jadi asisten detektif, di mana pendapat kita selalu beda dan ngga pernah akur...”
Brak! Ali membanting laporan yang ia pegang di hadapan Damar yang sedang duduk, ia pun menyalakan sebatang rokok meninggalkan tanya bagi Damar.
“Lo kenapa sih?” Tanya Damar.
“Coba lo baca, masa iya caranya begitu? Yang ada klien kita bakalan cabut lah.” Ucap Ali.
Damar meraih laporan tersebut lalu membacanya.
“Apa yang salah sih? Ini kan salah satu cara pendekatan terhadap terlapor, setelah itu baru kita bisa tentuin langkah berikutnya.” Sahut Damar.
“Kelamaan, mending langsung aja.” Ucap Ali.
“Preventif yang gue lakuin itu bukan tanpa alasan. Itu jadi salah satu perlindungan buat kita sendiri sebelum melangkah ke arah yang lebih subjektif.” Jawab Damar.
“Kalau lo begitu terus, terlapor bisa dapet perlindungan dari pengacaranya lebih cepet. Kita bisa gagal buat interfensi.” Ucap Ali.
"Tetep kita harus preventif dulu...”
“Ngga bisa...” Ali memotong, “kita diburu waktu.”
“Kita bisa dituntut nanti.” Sahut Damar.
“Ngga, kalau kita menang.” Sahut Ali.
Damar bangun dari duduknya.
“Seyakin apa lo bisa menang lawan orang kayak dia? Orang yang punya perlindungan dari kalangan pemerintahan, bahkan jabatannya juga tinggi.” Ucap Damar.
“Gue ngga peduli siapa yang ngelindungin dia. Mau orang pemerintahan dengan jabatan tinggi kek, bahkan kalau dia dilindungin sama kepala detektif kita, akan tetep gue lawan.” Sahut Ali.
“Iya gue paham, kita akan tetep lawan dia, tapi dengan cara yang teratur. Bukan kayak cara lo yang terburu-buru gitu, jadi ngga profesional.” Ucap Damar.
“Ngga profesional? Jadi lo ngerasa profesional banget?” Tanya Ali.
“Kenapa lo jadi nanya gitu? Bukan itu maksud gue...”
“Alah basi...”
Ali meraih laporan itu kembali.
“...kalau lo ngga mau ngerubah, biar gue aja yang jalan sendiri. Lagian juga ada atau ngga ada perubahan dari lo, gue masih bisa ngerubahnya sendiri.” Jelas Ali.
“Eh ngga gitu caranya...” Damar merebut laporan itu, “jangan gegabah kalau sesuatu ngga sesuai sama apa yang lo mau. Kita di sini kerja sama tim, bukan perorangan.”
“Kalau orang-orang timnya kayak lo...”
Ali kembali merebut laporan itu.
“...ngga akan maju karir kita di sini.” Ucap Ali
Damar mencoba untuk merebut laporan itu, namun Ali menahannya hingga terjadi adu kekuatan untuk kepemilikan lembaran kertas itu. Tak berselang lama, detektif menghampiri mereka berdua.
“Ada apa ini?...”
Ali dan Damar menatap ke arahnya dengan segan. Detektif itu meraih kertas yang mereka perebutkan, ia membaca secara singkat apa isi dari laporan tersebut.
“...coba jelasin ada apa ini?” Tanyanya.
“Ali minta saya untuk melewati pendekatan preventif terkait klien yang melaporkan suaminya.” Jawab Damar.
“Bukan tanpa alasan Pak, menurut saya itu akan memberikan celah untuk terlapor mendapatkan perlindungan dari kuasa hukumnya.” Sahut Ali.
“Tapi semisal kita melewati itu, kita bisa dilaporkan sama terlapor dengan dugaan pencemaran nama baik. Itu akan berakibat untuk kita dan juga pelapor.” Lanjut Damar.
“Tidak, semisal kita berhasil menginterfensi sesuai dengan target yang dibutuhkan. Contohnya, kita bisa...”
“...begitu aja terus, sampai akhirnya kita bisa disatukan saat Payung Kuning muncul ke permukaan dengan terornya. Sayang banget kasus ini belum selesai, lo jadi ngga bisa tau siapa dalang dari ini semua...”
Ali kembali menghisap rokoknya.
“...tapi satu yang bisa gue janjiin sama lo, kasus ini akan selesai. Kasus ini ngga akan masuk ke dalam daftar merah karena masa usang, ngga akan. Itu janji gue sama lo...”
Ali menyentuh nisan itu sesaat, kemudian ia kembali berdiri.
“...besok gue akan ke sini lagi. Selamat beristirahat Mar.” Ucap Ali.
Ali berjalan dengan santai seraya menghisap rokoknya. Hidup akan terus berjalan sebagaimana mestinya, apapun yang terjadi, apapun yang tertinggal. Hingga tanpa sadari, empat bulan berlalu begitu saja.
Ali yang sedang duduk bersandar pada kursi di siang hari, terdiam menatapi selembar kertas yang sedang ia pandangi sedari pagi. Rokok pun ia hisap lalu dimatikan di dalam asbak, asap dari mulutnya pun berhembus memenuhi ruang kerjanya. Ali membuka laci meja untuk mengambil cap, ia terdiam beberapa saat seraya menatap kertas di atas meja, sementara tangan kanannya sudah memegang cap tersebut. Ali menghela nafas seraya memejamkan matanya secara singkat. Ctak!
“Kasus Tidak Selesai.”
Ali kembali memasukan cap ke dalam laci meja, ia pun beranjak dari kursinya dan berlalu ke luar ruangan seraya membawa laporan tersebut. Ia masuk ke dalam ruang arsip yang berada di bawah tanah, di mana semua laporan dikumpulkan di sana. Setelah melewati beberapa rak berukuran besar, Ali menghentikan langkahnya di sudut ruangan, di mana ada rak yang berukuran lebih kecil.
“Agustus, september, oktober...”
Ali sedang mencari map kertas yang sudah tertulis.
“...ini dia.” Ucap Ali seorang diri.
Sebuah map kertas berwarna merah dengan tulisan "November" pun ia temukan, Ali memasukan laporan ke dalam map tersebut dengan berat hati. Janjinya kepada Damar untuk menyelesaikan kasus pembunuhan itu gagal, kasus itu sudah diputuskan untuk masuk ke dalam daftar merah.
Daftar merah, menjadi tempat berkumpulnya kasus-kasus yang tidak dapat diselesaikan. Ada beberapa alasan kenapa kasus-kasus itu tidak dapat diselesaikan, salah satunya, masa penyelidikan yang diberikan sudah usai dan tidak bisa diperpanjang lagi sesuai ketentuan pengadilan, termasuk kasus pembunuhan itu.
Setelah kematian Damar, tidak ada lagi kasus pembunuhan yang menjurus kepada pelaku yang sama. Hanya ada pelaku-pelaku pembunuhan yang kasusnya sangat mudah untuk dipecahkan. Ali mengajukan penambahan masa waktu penyelidikan, namun pengadilan menolak dengan alasan tidak ada lagi kasus serupa.
Ali berjalan keluar dari kantor menuju di mana mobilnya terparkir, ia pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kantor pada siang ini. Ia kembali menyalakan sebatang rokok selagi menunggu lampu merah, Ali juga menyalakan radio untuk menemaninya selama perjalanan. Tanpa sengaja, ia kembali mengingat kejadian di malam saat Damar ditembak oleh pelaku. Ia merasa semuanya terlalu cepat berlalu, tanpa adanya perlawanan yang berarti.
TIIIN! Ali mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat, ia baru menyadari bahwa lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Pengendara lain yang ada di belakangnya pun protes, Ali kembali mengemudikan mobilnya dan kembali pada realita.
Beberapa saat berlalu, mobil yang dikemudikan Ali sudah terparkir di tepi jalan. Ia sedang duduk di bangku panjang seraya melihat ke arah sekeliling, sampai akhirnya pandangannya tertuju ke arah orang yang datang berjalan mendekat ke arahnya. Ali pun bangun dari duduknya lalu memeluk Sasa, kemudian mereka kembali duduk di bangku.
“Gimana kerjaan lo Sa?” Tanya Ali.
“Aman kok Bang. Bulan depan aku ke luar kota, ada peluncuran busana baru dari perusahaan aku di sana.” Jawab Sasa.
“Ngga bikin acara di sini dong?” Tanya Ali.
“Kayaknya ngga deh Bang, soalnya ada kerja sama dari salah satu perusahaan kosmetik yang ada di sana. Tapi ngga menutup kemungkinan juga kalau dibikin acara lanjutan...”
Ali menganggukkan kepalanya.
“...oh iya, tadi katanya ada yang mau diomongin Bang.” Ucap Sasa.
“Iya, ada yang mau gue omongin...” Ali menghela nafasnya singkat, “kasus pembunuhan Damar dinyatakan ngga selesai oleh pengadilan. Gue udah coba ajuin penambahan waktu, cuma ditolak. Gue minta maaf ya Sa.”
“Mungkin emang udah jalannya seperti ini Bang, terlebih udah ngga ada kasus yang serupa. Makasih ya Bang udah mau berusaha sekuat tenaga...”
Sasa menghela nafasnya cukup panjang.
“...semoga ngga ada lagi kasus-kasus kayak gini.” Ucap Sasa.
“Maaf banget ya Sa.” Ucap Ali.
“Bang Ali ngga salah...” Sasa melempar senyum, “semuanya udah suratan takdir. Ngga ada yang bisa ngerubah itu, mau ngga mau harus dijalanin Bang.”
“Makasih banyak ya Sa.” Ucap Ali.
“Aku yang harusnya bilang makasih. Eh iya, gimana kabarnya Kak Anggi sama Leony? Udah lama aku ngga ketemu sama mereka.” Ucap Sasa.
“Anggi masih dengan kesibukannya. Leony pun sama, apalagi dia udah masuk sekolah. Dia lagi seneng-senengnya ngobrolin temen-temen di sekolah barunya.” Jawab Ali.
“Ah, aku seneng banget dengernya.” Sahut Sasa.
Ali tersenyum, “Dia seseneng itu kalau udah ngobrolin temen-temennya. Abis itu ngobrolin tugas-tugasnya dan ekstrakulikuler, wah banyak deh pokoknya.”
“Wah pasti seru banget, nanti aku main deh ke rumah. Oh iya, Bang Ali ada rencana abis ini? Kalau ngga ada, aku mau ajak Bang Ali.” Ucap Sasa.
“Mau ke mana Sa?” Tanyanya.
“Aku mau traktir Bang Ali, sebagai bentuk terima kasih.” Jawab Sasa.
“Ngga usah Sa...”
“Aku maksa...” Sasa memotong ucapan Ali, “pokoknya Bang Ali harus mau. Kalau ngga mau, aku paksa sampai mau. Kalau masih ngga mau juga, aku marah.”
Ali menghela nafasnya singkat, ia pun mengangguk setuju menerima ajakan dari Sasa. Waktu berlalu hinga malam pun datang, Ali memarkirkan mobilnya di tepi jalan, tepat di belakang mobil Anggi. Ia pun keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Suasana sudah hening, tersisa lampu ruang tamu yang menyala. Ali berjalan menaiki anak tangga, ia pun membuka pintu secara perlahan. Ali mendapati Leony yang sudah tertidur pulas di atas kasurnya, dengan beberapa buku mata pelajaran di sampingnya. Ia berjalan mendekat untuk membereskan buku-buku tersebut dan diletakkan di atas meja. Dengan berhati-hati, Ali mencium kening Leony agar ia tidak mengganggu mimpi indahnya. Ali pun berjalan keluar lalu menutup pintu kamar Leony, ia pun berlalu menuju kamarnya.
Ali tersenyum begitu saja ketika ia melihat Anggi yang juga sudah tertidur, masih mengenakan pakaian kantornya. Ali berjalan menuju meja untuk meletakkan barang-barangnya, sesekali ia melihat ke arah Anggi. Ali pun mendekat untuk mencium kening Anggi, respon Anggi pun tersenyum dalam mimpi indahnya tanpa sadar.
Ali pun berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Beberapa saat berlalu, ia keluar dengan handuk di pundaknya. Ali berjalan keluar dari kamar menuju ruang kerja yang berada di samping. Ia menyalakan lampu lalu berjalan menuju meja kerjanya.
“Apa tuh?...”
Ali mendapati ada sebuah kotak yang dibungkus kertas kado di atas mejanya. Ia pun duduk di kursi lalu meraih kotak tersebut.
“...ulang tahun? Masih lama.” Ucap Ali seorang diri.
Ali memutuskan membuka kertas kado yang menyelimuti kotak tersebut untuk menghapus rasa penasarannya. Kertas kado berwarna merah dengan motif garis putih pun terlepas, menyisakan kotak berwarna merah yang senada dengan kertas kadonya. Ali sempat melihat ke arah pintu sesaat, kemudian ia kembali menatapi kotak tersebut lalu membukanya secara perlahan.
Ali menemukan bunga anggrek yang sangat banyak di dalam kotak tersebut, matanya pun terbuka cukup lebar. Ia kembali teringat akan kasus pembunuhan yang gagal ia tangani dan sudah dihentikan oleh pengadilan. Secara perlahan, Ali mengambil bunga itu satu persatu, hingga ia menemukan sebuah plastik berisi kertas dan kartu memori.
Tanpa ragu, Ali membuka plastik itu untuk mengeluarkan dua benda yang ada di sana. Ali meraih kertas terlebih dahulu untuk dibaca.
“Kau sudah kalah. Apa aku bisa membunuhmu sekarang?”
Kejutan pun kembali muncul setelah beberapa lama menghilang, pelaku nampaknya muncul kembali untuk menyelesaikan tugasnya. Ali pun meletakkan kertas itu lalu mengambil kartu memori, ia menyalakan komputer untuk melihat isi dari benda yang ada di genggamannya.
Layar sudah menyala, Ali pun memasukkan kartu memori. Hanya ada satu buah video yang ada di sana, Ali menghela nafasnya singkat lalu memutar video tersebut. Sebuah rekaman dari sudut pelaku pun mulai, ia nampak berjalan dengan santai bersama beberapa orang lain. Ali menajamkan matanya untuk menebak, kira-kira di mana lokasi pelaku itu merekam.
“Ini kan... pemakaman.” Ucap Ali seorang diri.
Benar saja, pelaku berjalan masuk ke dalam kawasan pemakaman. Dengan santainya ia berjalan menaiki bukit hingga ia berhenti tepat di makam Damar. Ali tak melepas pandangannya untuk mencari tahu apa yang akan terjadi kemudian, sampai akhirnya ia dibuat terkejut dengan suara tangisan dari pelaku.
Pelaku nampak berlutut seraya meletakkan bunga anggrek di antara banyaknya bunga mawar yang ada, terdengar isak tangis yang tipis namun mudah terdengar. Akhirnya pelaku bangun lalu meninggalkan makam Damar, dan kembali berjalan menuju jalan raya. Ia sempat berhenti di tepi jalan, tangan kanannya merogoh tas yang ia bawa.
Ali pun kembali dibuat terkejut dengan apa yang dikeluarkan oleh pelaku, ada foto Anggi dan juga Leony dari dalam tas. Pelaku pun menunjuk secara bergantian pada foto tersebut dan berulang, seperti memberi isyarat siapakah korban yang akan ia pilih berikutnya. Jari telunjuknya pun berhenti di foto Leony, pelaku pun meremas foto milik Anggi dan membuangnya ke tepi jalan, ia kembali memasukkan foto Leony dan video pun selesai.
“Pa...”
Dengan cepat Ali menatap ke arah pintu.
“...udah pulang?” Tanya Leony.
Ali bangun dari duduknya, ia menghampiri Leony lalu memeluknya cukup erat. Tentu saja Leony yang baru saja terbangun dibuat bingung dengan apa yang Ali lakukan.
“Papa kenapa?” Tanya Leony.
“Nggapapa...” Ali menghela nafas, “kamu kebangun?”
“Iya, tiba-tiba aja.” Jawabnya.
Ali melepas pelukannya, “Kamu mau tidur sama Papa ngga? Kalau ngga, Papa tidur sama kamu?”
“Papa kenapa?” Tanya Leony.
Ali menggeleng, “Papa cuma kangen aja sama kamu, jadi mumpung ada waktu, kita bisa waktu berkualitas lebih banyak dari biasanya.”
Leony terdiam sesaat, “Boleh deh Pa.”
Ali tersenyum, “Kalau gitu, kamu masuk ke kamar Mama ya. Papa matiin komputer dulu abis itu nyusul ke sana.”
Leony menganggukkan kepalanya secara pelan, ia pun berlalu masuk ke dalam kamar Ali dan Anggi. Sementara itu, Ali berlalu kembali menuju meja kerjanya. Ia memasukkan bunga anggrek kembali pada kotaknya, beserta surat yang sudah ia baca, kemudian ia mematikan komputer dan memasukkan kartu memori ke dalam saku jas yang biasa ia kenakan.
Beberapa saat berlalu, Ali pun masuk ke dalam kamar dan sudah menemukan Leony yang tidur di samping Anggi. Ali mendekat dan ikut berbaring di sana. Ia memandang dalam diam, dua orang wanita yang sangat ia cintai. Rasa khawatir kembali muncul ketika apa yang baru saja ia temukan di dalam ruang kerjanya, apakah mungkin pelaku akan kembali?
ø
0
Kutip
Balas