Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.
story keluarga indigo.
Quote:



KKN Di Dusun Kalimati

Quote:


Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.

Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.

Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.




story keluarga indigo.



INDEKS

Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.

Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.

Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).

INDEKS

Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end



story keluarga indigo.

Quote:


Quote:



INDEKS

Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang

Konten Sensitif
story keluarga indigo.


Quote:

Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.

INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


INDEKS

part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
ferist123Avatar border
kemintil98Avatar border
arieaduhAvatar border
arieaduh dan 22 lainnya memberi reputasi
21
22.2K
306
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.3KAnggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#191
16 Bukit Bintang
POV NISA

"Gimana, sayang? Kamu suka, kan tempatnya. Aku udah design sesuai keinginan kamu," ucap Indra saat kami berada di restoran yang nantinya akan menjadi bisnis baruku.

Kupandangi setiap detil tempat ini. Aku lalu mengangguk yakin.
Suasananya sungguh nyaman, dengan tema outdoor membuat restoran ini semakin sejuk. Ada banyak tanaman bahkan bunga yang membuat suasana lebih ramai, dan sudah mirip taman bunga jika diamati lagi.

Indra memelukku dari belakang.
"Makasih, ya, Ayah. Udah nyiapin semuanya. Konsepnya bunda suka," tuturku sambil mengelus kepalanya.

"Iya, apa aja aku lakuin buat kamu. Nggak nyangka ya kita bisa sampai dititik ini. Anak anak udah besar dan kita makin tua," ucap Indra dengan tawa khasnya.

"Iya. Makasih ya ayah. Selalu jadi imam yang baik buat kami. Walau sesibuk apa pun kamu, tetep selalu ada waktu buat kami. Dan, makasih selalu mencintai aku terus. Kamu selalu aja manjain aku. Kadang itu yg bikin aku merasa terus muda. Merasa kita kayak pacaran terus." aku tersenyum lalu berbalik menghadap pria yang hebat ini.

"Iyalah, harus dong. Ini rahasia kenapa hubungan kita awet terus sampai sekarang, Nda. Buat ayah, cuma bunda satu satunya wanita yg bisa bikin ayah selalu jatuh cinta lagi dan lagi." kami lalu berpelukan.

"Gombal!"

"Eh, iya, serius."

Seseorang berdeham, membuat perhatian kami teralihkan.
"Maaf, Pak, Bu. Anak anak sudah siap," ucap salah satu pegawai ku.

Aku melepaskan pelukan Indra lalu mengangguk padanya sambil tersenyum.

Ini adalah H-1 restoran ku.
Besok kami akan buka secara resmi. Indra sudah menyiapkan semuanya jauh jauh hari. Mulai dari tempat, konsep, dan beberapa koki serta pelayan nya.

Dan kami berdua yang membeli dan menata segala furniture dan hiasan bahkan lampu dan bunga bunga juga.
Kesibukan Indra sudah agak berkurang dalam beberapa bulan ini. Jadi dia punya banyak waktu untuk menemaniku menyiapkan restoran baru kami.

Aku menggandeng Indra menuju tempat di mana karyawan yang lain berkumpul.
Ada sekitar 20 orang pegawaiku di sini. Aku memberikan sedikit pembekalan untuk menjalankan restoran dengan baik. Customer service yang paling diutamakan di sini. Sikap ramah, sopan dan bersahabat selalu kutekankan pada mereka.

Dan besok, restoran ini resmi kami buka.

============

Aku sudah mengundang beberapa teman-temanku dan teman-teman Indra. Tidak lupa juga seluruh keluarga besar kami dan teman teman dekat Aretha dan Arden.
Hari ini semua bisa makan gratis sebagai syukuran restoran kami.

Pagi pagi sekali kami sekeluarga sudah ada di sini.
"Dek... Tuh Radit!" kataku ke Aretha yang sedang duduk diayunan taman. Dia hanya menoleh sebentar dan senyum ke Radit.
Aku tau, mereka dilema dengan hubungan mereka. Tapi biarlah, semua berjalan mengikuti arus. Toh, beginilah lika liku kehidupan anak remaja. Cinta monyet yang membuat mereka menjadi sejatinya remaja pada umumnya. Aku tidak melarang mereka menjalin hubungan dengan lawan jenis, asal kami tau siapa dan latar belakang keluarganya. Tentu mereka tetap harus dalam koridor peraturan dari kami. Tidak bebas melakukan apa yang mereka mau.
Radit mendekat padaku lalu salim seperti biasa. Dia memang anak yang sopan dan menyenangkan. Radit ini mengingatkanku pada Indra saat muda dulu.

"Pagi, Tante. Wah... Restonya keren banget deh," pujinya sambil melihat sekeliling.

"Insya Allah, Dit.m. Semoga pelanggan betah di sini, ya. "

"Pastilah, tante. Tempatnya enak kok, asik. Radit pasti bakal sering ke sini," katanya lagi. Dia menoleh ke Aretha yang masih asik main ayunan. Terkadang putriku itu memang masih memiliki sifat kekanak-kanakan.

"Dah sana, temuin Aretha. Kalau mau pesan makanan atau minuman, bilang aja, ya."

"Iya, tante..m Eh, Arden mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Radit sambil celingukan.

"Tante suruh jemput siapa itu, ck.. Alya. Iya, Alya. Tante juga pengen kenal dong sama Alya."

"Oh iya iya. Bener juga tuh. Eum.ya udah, Radit ke Aretha dulu, ya, tante," ucapnya pamit.

Aku pun mengangguk.
Tak lama aku juga melihat beberapa rombongan yang sangat kutunggu.
Aku berjalan dengan semangat ke depan. Indra kebetulan sudah ada di depan dan menyambut mereka duluan.

"Hai ... Dateng juga! Barengan nih?" tanya ku ke mereka.

"Iya, Nis. Udah janjian dari kemaren. Tapi nungguin nih bocah lama banget," ucap Dimas sambil menunjuk Fitra. Mereka datang bertiga. Dimas, Fitra dan Dani.

"Kamu gimana kabar, Nis?" tanya Dani.

"Alhamdulillah sehat. Lah, nyonya mana, Dan? Nggak ikut?" tanyaku karena tidak melihat istri Dani.

"Lagi mudik. Jadi bujangan dulu deh. Jadi puas godain kamu," guraunya padaku.

"Eh ... Awas ya macem-macem.. Bini gue nih." Imdra lalu merangkul ku. Seolah menunjukan sikap protektif berlebihan.

"Becanda kali, Ndra. Hahahaha," kata Dani lantas tertawa puas
Indra memang agak cemburu dengan Dani dari dulu. Tapi dia justru lebih sering menyuruh Dani menemaniku. Jika dia sibuk dengan pekerjaannya. Aneh memang.

Aku mempersilahkan mereka duduk di tempat yang masih kosong. Belum lama kami duduk, datang lagi Mia dan Wisnu.

"Lho anak-anak nggak ikut, Mi??" tanyaku menyambutnya sambil saling menempelkan pipi masing-masing.

"Enggak, Nis. Sama nenek nya. Lagi demam," katanya.

"Ya Allah. Ya udah, duduk dulu deh," ajakku sambil menggandeng Mia duduk bersama Dani dan yang lainnya.

"Nu, tambah item aja. Elu udah berpetualang ke mana aja?" ledek Fitra.

"Elu pikir elu kagak item? Rambut lu kok aneh sih, Fit?" tanya Wisnu heran.

Dandanan Fitra ini mirip anime. Rambutnya disisir ke depan sehingga menghalangi pandangan mata. Ini orang makin berumur makin aneh saja kelakuannya.

"Iya nih, sebelum negara api diserang," jawabnya nggak nyambung sama sekali sambil meraba poninya.

Plaaakkk!!
"Kumat! Nis, cariin cewek nih! Biar sembuh," umpat Dimas.

"Elu pikir gue gila? Elu aja jomblo, ngatain gue segala," Fitrs membela diri.
Mereka berdua ini tidak banyak berubah, masih sama seperti dulu. sering berkelahi

"Udah ah. Berisik banget tau. Pesan makan yuk. Kalian rese kalau lagi lapar!" potong Dani.

"Ide bagus. Nis, pesen banyak boleh ya. Hehe," canda Fitra.

"Iya boleh."

Lama sekali kami tidak berkumpul seperti ini. Kadang aku merindukan saat-saat aku bersama mereka.

Datang lagi Ferli, Feri, Indah dan Nindi bersama-sama.
Aku beranjak dan menyambut kedatangan mereka, begitu juga dengan Indra. Kami berpelukan dan menanyakan kabar masing masing.

Ku ajak mereka bergabung dengan Mia dan lainnya juga.
Kini lengkap sudah sahabatku. Mereka semua berkumpul di sini.

Masing masing menceritakan kehidupan mereka setelah kami terpisah. Kadang membuatku tertawa hingga sakit perut jika mendengarnya. Mereka tidak banyak berubah, walau penampilan mereka sudah makin berbeda. Sesuai dengan umur kami sekarang. Yah, kami tidak muda lagi.

"Nis, siapa tuh anak? Pacar Aretha?" tanya Dimas sambil melihat Radit.

"Oh. Temen sekolah," jawabku santai.

"Anaknya Wirawan, kan tuh," terka nya lagi.

"Iya."

"Aretha tuh mirip banget Nisa. Beuh, gue yang jadi wali kelas nya kewalahan, gaes. Kalau bukan anak elu, udah gue jitak dia!" umpat Feri geram.

Aku dan Indra saling pandang dan tertawa.
"Maaf, Pak guru. Mohon bimbingan nya, ya," rayu Indra.

"Heran gue. Emak sama anak sama aja. huh!!"

"Kalau Arden mirip Indra ya?" tanya Mia.

"Iya, Arden mirip Indra tuh. Cuma cuek nya naudzubillah. Dia itu ganteng loh, dan banyak cewek yang naksir dia. Eh tapi katanya dia lagi deket sama anak kakak kelas nya, Nis. Kalian udah tau?" tanya Feri pada kami.

"Udah dong," jawab Indra santai.
Ya beginilah kami, kalau sudah berkumpul yang dibahas nggak jauh soal anak.

Dan yang kami bicarakan pun muncul.
Arden dan seorang anak gadis yg anggun. Dalam sekali lihat saja aku sudah bisa menilai.
Pantas Arden suka padanya. Dia memang lain. Aura nya bersih.

Arden lalu mendekat dan salim ke aku, Indra dan yang lainnya.
"Bun, ini Alya," kata Arden memperkenalkan nya pada kami.

"Oh ini yang bikin anak ayah sering ninggalin adik nya pulang sendiri?" sindir Indra.
Dan langsung kusikut dia seketika. Karena kulihat Alya dan Arden tampak malu malu dengan perkataan Indra barusan.

"Oh ini yang namanya alya?" dia senyum dan mengangguk. "Cantik sekali."

"Iya tante, saya Alya. Salam kenal."

"Ya udah, tuh Radit sama yang lain udah di sana. Kalian ke sana aja. Mau makan apa pesan saja ya Alya. Jangan malu-malu," kataku.

"Iya tante."

"Ya udah, Bun. Arden ke sana ya." Mereka lalu berkumpul dengan teman teman mereka yang sudah datang sedari tadi.

"Nis, bentar lagi elu punya mantu ya," ledek Fitra.

"Eh, Fit, Nisa aja mau punya mantu. Masa elu masih jomblo. Haduh. payah!" ledek Feri.

"Diem lu, guru gila!" umpat Fitra.

"Udah, udah. Ayok, dimakan dulu."

Rasanya hidupku sempurna, aku selalu dikelilingi orang orang yg menyayangiku seperti mereka.
Indra, laki laki yang selalu mencintaiku dengan segala hal yg aku punya, kini makin lama makin tampan jika dilihat. Dia makin berwibawa. Pesonanya mampu membuat wanita mana pun tergila gila padanya. Tak jarang aku sering kesal jika melihat ponsel Indra yang penuh chat dari perempuan lain. Namun, Indra tidak menggubris mereka. Buktinya dia tidak pernah membalas satu pun pesan - pesan itu.
Dia tidak pernah malu untuk menunjukan keromantisannya di depan banyak orang.
Seperti sekarang, dia menggenggam tanganku sambil ngobrol dengan yang lain. Dia selalu mengerti apa yang kurasakan dan yang kumau. Aku begitu beruntung mendapatkannya.

Persahabatan itu bagai sekotak crayon yang beraneka warna. Namun coba jika mereka dipadukan, pasti menghasilkan pelangi yang indah. Begitupula dengan persahabatan kami.

======

"Ta! Yuk buruan. Jadi nggak nih?" tanya Kak Arden sambil melihat jam tangannya.

Aku yang masih berdandan menoleh sebentar lalu sekali lagi mematutkan diri di depan cermin.
"Oke. Yuk. Eh Bang Aim sama Mba Ais udah dateng?" tanyaku.

"Kakak jemput mba Aisyah kamu sama Bang Aim. Tuh udah di depan."

Mba Aisyah memang paling takut kalau disuruh bonceng motor Bang Aim. Soalnya naik motornya gila gilaan. Makanya kalau kami akan hang out bareng mereka, aku yg bonceng Bang Aim. mba Aisyah sama kak Arden.

Kami berencana mau nonton bareng. Ini hari minggu, dan sudah menjadi kebiasaan kami jalan jalan bersama. Madang dua minggu sekali kadang sebulan sekali. Yang jelas, ini merupakan agenda rutin kami.

Aku dan Mak Arden keluar dan mendapati Bang Aim sedang asyik makan sosis bakar buatan Bunda.
"Lha... Udah siap! Aku masih makan nih. Sebentar, ya," ucap Bang Aim sambil sibuk meniup sosis yang masih panas.

"Iya, santai aja kali, Bang," sahutku.

Setelah makan selesai, lebih tepatnya ngemil. Kami langsung naik motor menuju tempat tujuan kami. Namun sebelumnya mampir dulu ke rumah Mba Ais. Kebetulan rumah kami tidak begitu jauh satu sama lain. Dan ini memudahkan kami untuk saling bertemu jika ada waktu luang.

"Assalamualaikum, Pakde," seruku saat kami sudah akan pergi.

Sesuai rencana awal, kami akan menonton bioskop. Setelah semua sudah siap, kami berempat segera pergi ke bioskop. Hanya butuh sekitar 20 menit bagi Kak Arden, dan 15 menit bagi Bang Aim, kami sudah sampai di bioskop yang menjadi target hang out kami.

Namun saat akan mengantre, kami menghentikan langkah, begitu melihat deretan panjang antrean orang yang hendak menonton bioskop juga.

"Ya ampun, ramainya."

"Duh, males banget, Bang. Nggak jadi aja deh, " protesku.

"Gimana, Den? Ais?" tanya Bang Aim pada mereka.

"Iya deh, males. Besok lagi aja kalau udah agak sepi." Mba Ais pun setuju. Memang film yang sedang diputar adalah salah satu film incaran kami sejak lama. Dan kami harus menonton nya. Tapi paling males kalau nonton dengan keadaan penonton membeludag begini. Sudah pasti  antre tiketnya akan lama, capek. Belum lagi di dalam gedung rasanya penuh sesak. Padahal semua duduk di kursi dan sesuai sama jumlah maksimal di dalam gedung.
Tapi tetap saja malas.

"Terus mau ke mana?" tanya kak Arden.

"Hm... Batur Agung Mount of Fun aja gimana?  Kita main flying fox," ajak Bang Aim.

Plakk!
"Setuju, Bang, " ucapku sambil menepuk bahunya

"Ih, kaget! Kamu nih, kebiasaan," gerutunya sebal.

Aku hanya menaikan dua jariku ke samping sambil tertawa.

Akhirnya kami ke tempat itu. Dan bermain flying fox di sana.
Lokasinya yang berada di kaki gunung Slamet membuat kami harus menempuh perjalanan yang cukup lama. Hampir 30 menit aku dan bang Aim sudah sampai aja di sini, karena Bang Aim naik motornya sudah mirip pembalap.
kak Arden yang tertinggal jauh tampak santai aja. Karena memang mereka berdua, tidak begitu suka balapan.

Aku dan Bang Aim sampai duluan.
"Tha, beli minum dulu, yuk. Tuh ada warung. Sambil nunggu Arden. Lama pasti nih," ucap Bang Aim sambil melepas jaketnya.

"Oke. Traktir tapi lho."

"Beres."

Kami memutuskan minum es kelapa muda dulu di sana. Suasana nya masih agak sejuk. Maklum kami sekarang ada di kaki gunung.

"Eh Bang, kemaren kok nggak dateng pas bunda launching resto??" protesku sambil melirik kepadanya.

"Hehehe. Sorry, Tha. Sibuk kuliah aku. Gimana? Resto bunda? Pasti keren deh."

"Iya dong. Pasti."

Bang aim ini sudah mulai masuk kuliah tahun ini sebagai mahasiswa baru. Dia memang saudara sepupu paling tua dari kami. Saat masih asyik mengobrol, tiba-tiba seorang menarik tanganku agak kasar.

"Radit?!" pekikku.
Aku benar benar kaget karena melihat Radit yang sudah ada di hadapanku sekarang.
Padahal sebelumnya dia bilang kalau mau pergi ke gereja dan setelah itu mau ke rumah saudaranya yang sedang sakit. Tapi kenapa sekarang justru dia di sini.

Radit makin menarikku menjauh dari bang Aim.
Bang Aim hanya menaikkan sebelah alisnya melihat kami, saat awalnya hendak menghampiriku namun aku melarangnya. Sepertinya dia paham situasi ini

"Kok kamu di sini, Dit?" tanyaku heran.

"Kamu sendiri ngapain di sini?"tanya Radit ketus sambil menghilangkan tangan di depan dada, menatap tajam padaku dan sesekali melirik bang Aim.

"Aku lagi main sama bang Aim. Tadi kita mau nonton, cuma bioskop nya penuh. Bang Aim ngajak ke sini," jelasku.

"Oh gitu? Kenapa nggak sama Arden aja? Terus siapa dia?" tanya Radit dengan muka kusut.

Tunggu! Jangan bilang kalau dia ini sedang cemburu. Aku lalu tertawa sambil menutup mulutku.
"Kok ketawa?" tanya Radit makin kesal.
Bang Aim lalu mendekat dan seketika merangkul ku dan berbisik padaku.
"Siapa dia? Cemburu sama Abang, ya, Tha? Pacar kamu pasti nih," bisiknya sambil menatap tajam Radit yang makin emosi.

Aku melingkarkan tanganku ke pinggang Bang Aim. Dan membuat Radit makin melotot.

Tak lama Kak Arden datang dan heran melihat Radit ada di sini.
"Lho, Dit? Kok elu di sini?" tanya kak Arden. Radit hanya diam.
Kak Arden melihat ku dan bang Aim yang senyum senyum. Lantas melotot

"Dek! Jangan becanda deh. Kamu mau bangunin macan tidur. Besok ambruk sekolah, kalau kamu terusin," tegurnya.

"Iya deh." Akhirnya drama ini ku akhiri, aku melepaskan tanganku dari bang Aim.
Kini kutarik tangan Radit dan mengajaknya ngobrol agak jauh.

"Apa sih, Tha. Mau ngapain sih? Udah sana kamu lanjutin aja jalan jalannya. Aku mau balik." dia ngambek.
Sumpah lucu banget lihat Radit ngambek begini.

"Kamu cemburu ya," cecarku.

"Enggak," jawabnya ketus tanpa melihatku.

"Serius?" ledekku.

"Nggak tau ah. Aku balik ya." Kali ini dia bener bener marah. Belum pernah aku melihat sikap Radit semarah ini.

Saat dia hendak pergi, aku memeluknya seketika. Entah mendapat dorongan dari mana. Aku melakukan hal ini. Ini benar benar refleks. Aku tidak merencanakan nya dan tidak memikirkan nya sebelumnya. Yang kutau, aku tidak ingin Radit makin kesal.

Radit diam.
"Dia Bang Aim. Kakak sepupuku, Dit," jelasku masih dalam keadaan memeluknya.

"Hah?! Bohong."

"Ih gak percaya bangett sih." kulepaskan pelukanku dan kupencet hidungnya yang mancung.

"Dit... Nggak usah ngambek gitu kenapa sih. Jelek tau. Bang Aim emang sepupu kita "ucap kak Arden. Yang tiba-tiba sudah ada bersama kami.

Radit menatap kak Arden dan aku sambil berfikir.
Bang Aim dan mba Ais cuma senyum senyum. Lalu bang aim berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya ke Radit.
"Aku Ibrahim. Kakak sepupunya mereka," katanya memperkenalkan diri.

Dengan malu malu Radit menjabat tangan Bang Aim juga. "maaf bang. Aku nggak tau," katanya sambil cengengesan.

"Iya, nggak apa-apa. Kemaren aku gak dateng sih pas launching resto tante Nisa, jadi kita nggak ketemu ya," terang bang Aim. Memperkuat pernyataannya.

Radit hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Plakkk!!
"Kamu ngapain coba di sini? katanya mau ke gereja?" tanyaku gantian kesal.

"Ye... Udah kok. Tadi pas baru keluar gereja aku lihat kamu lewat, jadinya aku ikutin," kata Radit dengan memelankan suaranya.

Kak Arden tertawa kencang.
"Cemburu ni ye," ledek nya.

"Sialan." Radit mengapit leher kak Arden dengan lengannya karena malu terus menerus diejek.

"Udah udah, yuk masuk. Keburu siang nih," ajak mba Ais.

Akhirnya Radit ikut juga.
Kami seharian ada di sini. Bermain flying fox, lalu ke kolam pemancingan dan terakhir mencoba wahana arum jeram. Semua merasa senang.

Hingga sore harinya, kami memutuskan ke mushola dulu untuk salat ashar.

Radit seperti biasa menunggu di depan mushola.
Setelah salat, kami makan jagung bakar dulu sambil ngobrol-ngobrol.

Aku melihat sosok hitam mengerikan terus berjalan mengikuti seorang pengunjung.
Seketika aku memalingkan wajahku ke arah lain. Sosok itu juga menatapku tajam. Mungkin karena dia tau kalau aku bisa melihatnya juga.

"Tha... kenapa?" tanya bang Aim yg duduknya di depanku.

"Tuh. "Aku mengisyaratkan mereka melihat ke sosok tadi.

Mereka serempak menoleh ke pemuda yang kumaksud.
"Kamu udah ada radit masih aja melirik cowok lain. Gantengan Radit ke mana- mana kali, Tha," ucap bang Aim ngawur.

"Ih.. Yang ngeliatin cowok itu siapa?"

"Lah kamu nyuruh kita liat tuh cowok? Maksudnya apa coba?" tanya bang Aim lagi.

Oh iya, aku lupa kalau mereka tidak bisa melihat sosok itu.

"Nggak apa-apa," gerutuku sebal sambil makan jagung bakar denga kesal.

"Udah ah, biar aja, Dek. Yang penting nggak gangguin kita," kata kak Arden santai.

"Ini kalian lagi ngomongin setan?" tanya bang Aim sambil berbisik.

"Iyalah, Bang, kalau yang beginian ya cuma mereka berdua aja yg ngerti," tutur Radit.

"Selama ada mba Aisyah, 'dia' nggak bakal berani deketin kita, " sahut kak Arden.

Mba aisyah bingung sambil melongo.
"Kok aku? Emang aku kenapa? Aku aja nggak bisa lihat kayak kalian?" tanyanya.

"Mba Aisyah aja yang nggak tau, kalau  ada yang jagain terus tuh."aku menunjuk sosok di belakangnya
Yah, mbak Aisyah punya sosok pendamping. Dan itu suruhan pak dhe Yusuf pastinya.

Mbak Aisyah menoleh lalu bergidik ngeri.
"Jangan nakut-nakutin deh," katanya.

"Ya nggak usah takut kali. Orang nggak nyeremin kok, Mba," kataku agar dia tidak takut. Tapi memang nggak nyeremin kok, serius.
Cantik pula, cuma jangan ditanya gimana kekuatannya. Luar biasa. Karena aku pernah melihat kemampuannya.

Setelah asik bermain di sini mbak Aisyah minta ke bukit bintang.
Namun sebelum ke sana kami ke mushola dulu untuk salat maghrib.
Dan setelah itu makan dulu di sebuah warung tenda.

Setelah agak malam, walau baru sekitar pukul 18.30 malam, kami lalu ke lokasi.

Ternyata di sana sudah ramai pengunjung. Kebanyakan sih berpasang pasangan.
Kami duduk di tempat itu. Tempatnya mirip stadion untuk menonton basket di sekolah.
Aku dan mba Aisyah diapit kak Arden dan Bang Aim juga Radit.

Makin malam suasana makin dingin. Apalagi kami ada di atas bukit yg sudah pasti angin pun agak kencang.
Radit melepaskan jaketnya lalu memakaikan nya padaku.
Tak banyak obrolan saat ini, kami asyik dengan pikiran masing masing sambil menatap jutaan bintang di langit.

Radit menggenggam tanganku erat.
"Dingin ya?" tanyanya lalu menggosok gosokan tanganku agar lebih hangat.
Aku hanya melemparkan senyum saja padanya.

Yah, Radit selalu seperti ini.
Dan aku, makin terbiasa dengan perlakuan istimewanya padaku.
Kami memang tidak ada kata pacaran atau apalah itu. Namun semua orang tau kalau Radit menyayangiku dan aku pun sama.

=======
3.maldini
johny251976
theorganic.f702
theorganic.f702 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.