- Beranda
- Stories from the Heart
story keluarga indigo.
...
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.

Quote:
KKN Di Dusun Kalimati
Quote:
Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.
Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.
Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.

INDEKS
Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

Quote:
Quote:
Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.
Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.
Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).
INDEKS
Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end

Quote:
Quote:
INDEKS
Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang
Konten Sensitif
Quote:
Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.
INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

Quote:
Quote:
INDEKS
part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
gokil4ever dan 23 lainnya memberi reputasi
22
23.6K
306
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#187
12. Alya
POV ARDEN
Aku sering disibukan kegiatan OSIS akhir-akhir ini. Sehingga mengharuskan ku sering berada di sekolah hingga sore hari.
Saat itu, aku akan ke mushola sekolah untuk salat ashar. Setelah mengambil air wudhu, aku melangkah masuk ke dalam, segera berjalan ke karpet yang ada di bagian depan mushola. Saat masuk mushola aku mendengar suara lantunan ayat suci alquran. Di dalam mushola memang tidak hanya aku seorang. Masih ada beberapa siswa lain yang juga menjalankan ibadah. Sekilas aku melirik ke salah satu sudut du bagian belakang mushola. Ada seorang gadis yang masih mengenakan mukena tengah membaca al quran di depannya. Suaranya merdu dan lembut sekali. Membuatku betah berlama-lama.
Aku segera melakukan salat sunah dan salat wajib. Selesai salat, kembali aku menoleh ke arah gadis itu. Aku penasaran, siapa dia. Sekilas saat melihat wajahnya, sepertinya dia kakak kelasku. Karena aku pernah melihatnya ada di barisan kelas 2 saat upacara bendera kemarin.
Aku memutuskan duduk sebentar di sini. Menundukkan kepala sambil menikmati dia mengaji
"Alya!!" panggil seseorang dan membuatnya berhenti membaca al quran.
Oh, jadi namanya Alya.
"Yuk, balik sekarang. Keburu sore nih," ajak temannya.
"Iya, sebentar. Aku beres-beres dulu," ucapnya lembut.
Dia mengakhiri baca al quran lalu berkemas dan pergi bersama temannya tadi.
Alya.
Setelah dia pergi, aku pun kembali ke ruang OSIS, karena pekerjaanku belum selesai.
===========
(Flashback part sebelumnya)
Pagi ini Aretha sungguh keterlaluan, dia masih saja malas-malasan dan belum siap mandi. Malas berdebat, aku segera membopongnya dan memasukkan dia ke dalam kamar mandi.
"Kakak tunggu 10 menit! Kalau nggak selesai. Kakak tinggal!" ancamku serius.
Hari ini aku memang ada perlu untuk kegiatan OSIS dan harus sudah ada di sekolah pagi-pagi sekali.
Sampai di sekolah aku segera pergi, meninggalkan Aretha di parkiran. Walau dia terus saja menggerutu dan memanggil namaku.
Dengan sedikit berlari kecil, aku menuju ruang OSIS. Yah, di sanalah tujuan utamaku sebelum masuk ke kelas. Karena terburu-buru dan tidak melihat ke depan, aku menabrak seseorang di persimpangan koridor.
Alya?
Dia ternyata Alya, dan beberapa buku yang tadi dipegangnya jatuh berserakan. Jantungnya seolah berhenti berdetak sedetik. Lalu kembali berpacu lebih cepat.
"Maaf... Nggak sengaja. Mba nya nggak apa-apa, kan?" tanyaku ikut membantunya membereskan buku-buku itu sambil terus menatapnya.
"Iya, nggak apa-apa kok. Aku juga tadi nggak lihat jalan," cetusnya.
Setelah selesai, kami berdiri bersama-sama. Dia tersenyum padaku. Aku pun memberikan buku yang kini berada di tanganku.
"Permisi," katanya pamit.
"Eum ... maaf, Mba," panggilku sedikit menjerit.
Dia berhenti berjalan, lalu menoleh padaku.
"Aku Arden," ucapku sambil mengulurkan tanganku padanya. Entah kenapa aku punya keberanian seperti ini. Untung dia belum jalan terlalu jauh.
Dia menaikkan sudut bibirnya lalu menyambut uluran tanganku.
"Alya," ucapnya.
"Salam kenal ya, Mba. Eum ... aku suka denger kalau Mba Alya baca Quran di mushola. Suara Mba Alya, bagus," kataku memujinya.
Dia terlihat tersipu-sipu sambil menunduk.
"Makasih. ya udah, aku balik kelas dulu," katanya lalu pergi.
Aku menekan kepalaku sambil terus melihatnya berjalan menjauh dariku.
Dia berbeda. Setiap aku melihatnya, aku selalu merasa nyaman. Dan seakan-akan aku ingin terus melihatnya.
"Den!" Danu muncul dan langsung menepuk bahuku agak keras.
"Apaan sih! ngagetin aja!" gerutu ku.
"Ya ampun, makanya jangan ngelamun aja! Dipanggil dari tadi malah bengong!" kata Danu lalu ikut menatap ke koridor di mana Alya pergi, "Eum ... Siapa dia? Cantik juga," ucap Danu sambil ikut menatap Alya yang makin menjauh.
Aku memukul kepalanya, lalu menghimpit lehernya dan menarik Danu ke ruang OSIS. Tak peduli jeritannya sepanjang jalan.
Sejak aku melihat Alya di mushola kemarin, entah kenapa aku terus saja teringat dia. Saking frustrasinya aku sampai menjambak rambutku sendiri.
"Den! Kenapa sih lu?" tanya Dion saat kami sedang rapat OSIS.
"Yon, Arden lagi kesemsem cewek," canda Danu sambil terkekeh.
"Hah? Sama siapa? Serius? Seorang Arden bisa suka juga sama cewek? Luar biasa." Dion tertawa sambil tepuk tangan.
"Sama anak kelas dua. Itu lho si Alya. Eh, Den, dia banyak yang suka loh. Saingan elu berat berat," cetus Danu berbisik padaku.
Aku sedikit berkecil hati mendengar nya. Tapi, ah ... Sudahlah. Lagipula untuk apa aku mencemaskan hal yang belum pasti?
Jodoh sudah ditentukan Allah. Dan aku masih sekolah, masih jauh untuk memikirkan hal itu.
Pintu diketuk, dan masuklah Om Feri dengan sedikit tergesa-gesa.
"Arden mana?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Ini pak," pekik Danu sambil menunjukku. Om Feri langsung melihat posisiku dan mendekat.
"Ikut yuk!" ajaknya dan berhasil membuatku bingung.
Ada apa ya? Apa Aretha bikin masalah lagi?
Aku pun menuruti saja ajakan Om Feri. Sampai di depan ruang OSIS, dia yang panik kemudian berusaha mengatur nafasnya yang tidak karuan.
"Den! Aretha mana? Di aula ada kesurupan massal!" kata Om Feri ketakutan.
"Hah? Kok bisa, Om? Memang lagi ada acara apa tadi?" tanyaku heran.
"Tadi kls 2 IPA 1 lagi ada penyuluhan di sana. Terus ...."
Om Feri belum selesai bicara, aku langsung berlari ke aula.
Yah, itu kelas Alya dan aku khawatir padanya.nsemoga dia tidak kenapa kenapa.
Om feri berteriak memanggilku, namun aku terus berlari ke aula.
Saat sampai aula, keadaan memang kacau. Kucari sosok wanita yang tengah kupikirkan sekarang.
Itu dia!
Aku mendekati nya, dia sedang membantu temannya yang kesurupan. Alya membacakan ayat ayat alquran dengan sabar. Namun tiba-tiba, dia kena pukul temannya itu hingga jatuh ke lantai.
"Kamu nggak apa-apa, mba? Mana yang sakit?" tanyaku khawatir.
"Aku nggak apa-apa. Tolongin Anggi dong. Dia berdarah," pinta sambil menunjuk temannya yg kesurupan. Memang keadaan nya kacau. Kepalanya berdarah karena sepertinya telah membentur sesuatu.
Aku mendekati Anggi dan kubacakan amalan amalan doa. Dengan mudahnya dapat kusingkirkan makhluk yang mendiami tubuh Anggi. Dia pingsan. Segera kupapah agar berbaring di samping Alya.
Aku kembali celingukan mencari orang yang mungkin ku kenal.
"Dan!!!" Danu dan Dion yang ada di ambang pintu mendekat.
"Kenapa, Den? Kok bisa kacau gini??" tanya Danu.
"Gak tau.. Tolong bawa nih ke UKS. Jangan di sini, takutnya dia kesurupan lagi," pintaku .
Mereka mengangguk dan Danu membopong Anggi keluar.
"Den... Aretha udah tau??" tanya Dion.
"Belum. Cari Aretha deh. Suruh ke sini. Gue nggak bisa tangani sendiri."
Kembali aku mengamati sekitarku, ada beberapa guru yang membantu juga. Mereka juga biasa menangani orang kesurupan seperti nya.
Namun korban kesurupan lebih banyak.
"Mba... Tadi lagi pada ngapain sih? Kok bisa gini?" tanyaku ke Alya yang masih ada di dekatku.
"Aku juga gak tau, Den. Tau tau tadi banyak yang teriak teriak gitu. Terus gini deh," ucapnya cemas.
"Mba Alya nggak usah takut. Aku coba bantu. Mending mba keluar aja ya," Pintaku.
"Tapi kamu gimana?" aku tersenyum sedikit, mendengar perhatian darinya.
"Aku nggak apa-apa." aku lalu menatap Dion yang sepertinya paham maksudnya untuk membawa Alya keluar.
Mereka berdua keluar dari aula.
Tak lama Aretha datang di saat aku sudah kewalahan.
Dan keadaan kembali tenang setelah eyang muncul.
=======
Aretha kembali ke kelas nya bersama Radit, untuk mengisi absen dan setelah itu pulang ke rumah. Karena kejadian ini sekolah di pulangkan awal. Aku tau mereka dekat, dan Radit anak baik. Aku percaya dia bisa menjaga Aretha jika dia tidak sedang bersamaku.
Kuputuskan untuk ke mushola dulu. Rasanya aku ingin menenangkan diri sebentar di sana sebelum pulang.
"Arden!!" Seseorang yang suara sangat familiar memanggilku.
Aku menoleh padanya.
"Iya mba. Gimana temennya? Udah baik baik aja kan?" tanyaku dengan masih mengatur nafasku yg belum stabil.
Keringatku bahkan bercucuran di kening sebesar jagung barangkali.
Alya mendekat lalu mengambil tissue di sakunya dan mengelap keningku.
Hatiku berdesir tak karuan mendapat perlakuan seperti ini.
Aku kenapa, ya? Nanti aku tanya Bunda deh. Kenapa tiap deket Alya jantungku lebih cepat berdetak, aku juga gemetaran.
"Nggak usah, Mba. Biar aku aja." Karena sungkan, ku ambil tissue dari tangannya.
Dia agak malu saat tangan kami bersentuhan.
"Maaf." aku lalu menarik tanganku menjauh.
"Iya, nggak apa-apa. Eum, kamu mau ke mana? Pulang?" tanyanya.
"Enggak. Aku mau ke mushola dulu."
"Eum ... Ini udah bukan waktu buat salat den," katanya sambil melihat jam tangannya.
"Aku nggak mau salat, mau itikaf bentar aja. Gara gara kejadian tadi, aku jadi gelisah gini. mending di sana sebentar."
"Oh gitu. Kamu sering ke mushola buat itikaf?"
"Lumayan. Aku juga suka denger mba Alya baca quran. Suara mba bagus," pujiku.
Dia tersenyum.
"Kalau gitu, aku ikut deh," katanya. Aku sontak terkejut mendengar hal itu. Kegugupan mulai merasuk dalam hati.
"Eh, tapi jangan berdua aja, Mba. Nggak enak. Takut jadi fitnah," kataku.
"Eum, aku ajak Anggi aja ya." Kami lalu ke UKS untuk menjemput Anggi. Keadaan dia juga sudah lebih baik, namun terlihat masih pucat.
Di mushola kami melakukan aktifitas masing masing. Aku duduk agak menjauh dari Alya, dan lebih memilih berdzikir sendiri.
Alya kembali membuka alquran dan membacanya. Kembali hatiku merasa tenang dan nyaman. Rasanya aku ingin terus mendengarnya membaca alquran setiap hari seumur hidupku.
Ya Allah, jika engkau berkenan. Semoga dia menjadi jodoh hamba.
Pov Aretha
"Kak ... Yuk, pulang," ajakku
Kini aku sedang ada di kelas Kak Arden. Memang sudah menjadi kebiasaan kami. Jika salah satu sudah pulang lebih dulu, maka yang lain akan mendatangi kelas dan berakhir dengan pulang bersama.
Kak Arden yang sedang membereskan buku-buku nya, menoleh. Kemudian menolak ajakan ku. "Kamu pulang sama Radit aja, ya. Kakak masih ada urusan di sekolah. Mau ke mushola," ucapnya.
"Hah? Mau ngapain?" kini aku duduk di kursi samping meja Kak Arden, merajuk dan sedikit kesal.
"Ya udah. Pulang bareng aku aja, Tha," kata Radit menimpali.
Mereka ini memang duduk sebangku sejak awal masuk sekolah.
"Iya. Itu sih gampang nanti. Tapi kakak mau ngapain? Bukannya nggak ada EKSKUL hari ini? OSIS juga perasaan udah nggak banyak kegiatan, kan? Danu sama Dion aja udah pulang tuh," cetus ku heran.
Memang akhir - akhir ini Kak Arden sering sekali ijin ke mushola. Aku juga bingung kenapa. Kalau istirahat juga kadang ke mushola. Kalau nggak, biasanya ke perpustakaan. Udah jarang kulihat ada di kantin.
"Emang nggak ada EKSKUL, Tha. Kakak mau salat di mushola dulu."
Aky meliriknya curiga, namun apa boleh buat. Kalau itu yang dia inginkan.
"Oh gitu. Ya udah deh. Aku balik sama Radit jadinya?" tanyaku lagi.
Kak Arden mengangguk. Akhirnya aku pergi meninggalkan kelas dan Kak Arden. Pulang bersama Radit.
Sepanjang jalan aku dan Radit banyak diam. Aku agak kikuk setelah dia bilang kalau sudah ijin bunda. Jadi maksudnya apa, ya?
Hubungan kami apa dong sekarang.
"Eh Tha. Kamu udah tau belum kalo Arden lagi naksir cewek?" tanya Radit memecah kesunyian di antara kami. Mungkin kalau kami naik motor tidak akan berpengaruh banyak, jika tidak ada pembicaraan apa pun. Sayangnya kami naik mobil sekarang.
"Hah! Serius? Siapa?!" Aku benar benar terkejut dengan kalimat Radit barusan.
Karena seumur umur, Kak Arden ini belum pernah dekat sama perempuan lain selain aku dan Bunda. Jadi ini pertama kalinya. Wajar saja aku terkejut.
"Jadi kamu belum tau, Tha?" tanya Radit.
"Belum. Aku malah baru tau dari kamu nih!"
"Kata Danu sih anak kelas dua. Namanya ... Al ... Alya! Iya bener. Alya," jelas Radit sambil menerawang mengingat nama perempuan itu.
"Alya? Kls 2?" tanyaku, lalu diam sambil membayangkan seperti apa sih wanita yang bernama Alya? Sampai - sampai Kak Arden tertarik padanya. Dia pasti bukan wanita sembarangan. Aku yakin itu.
"Iya. Coba deh kamu tanya Arden. Kayaknya sih Alya spesial banget. Tumben tumbenan si Arden naksir cewek. Kupikir dia gak normal." Dia lantas tertawa. Aku melirik dan langsung mencubit lengan kirinya, gemas. Alhasil aku mendapat balasan ditatap dalam oleh pria di sampingku ini.
Dan sikapnya berhasil membuatku salah tingkah, kembali menatap ke depan. Jalanan sepi karena barusan diguyur hujan.
"Eh, Tha," panggil Radit pelan.
"Hm." aku sama sekali tidak menoleh ke Radit.
"Kita makan bakso dulu yuk," ajaknya.
"Ayuk!" kataku semangat.
Dia tersenyum lalu kami menuju warung bakso langganan ku yg letaknya ada di dekat alun alun.
Aku sangat suka makan bakso di sana bersama Kiki. Kami berdua adalah pecinta bakso dan sudah menjajal warung bakso di seluruh kota ini. Dan di sana adalah yang terbaik.
Kami sampai. Lahan parkir nya cukup sempit. Dan aku yakin di dalam pasti ramai. Semoga kami masih mendapatkan tempat duduk di dalam.
Radit segera memesan 2 porsi bakso kami. Kami memilih duduk di meja tengah di mana tempat itu baru saja di tinggalkan pelanggan sebelumnya. Masih berantakan dengan bekas mangkuk yang sudah habis.
Aku meraih ponselku.
"Mau ngapain, Tha?" tanya Radit yang duduk di hadapanku.
"Ngabarin Bunda. Takut nyariin," jawabku santai.
"Nggak usah. Aku udah kasih tau Bunda kok barusan," katanya membuatku melongo dan menutup kembali benda pipih ini.
Baiklah, Bunda sama Radit sudah saling tukar nomor HP nih kayaknya.
"Eh, Tha. Kamu kenapa suka makan di sini? Kan ada tuh, warung bakso deket sini juga yang enak. Terkenal banget, kan?" tanyanya.
"Duh,nggak deh. Nggak bakal makan di sana aku," jawabku sambil menekan kepala.
"Kenapa?"
Es jeruk pun datang. Aku langsung menyeruputnya karena udara panas yang sudah membuatku haus sejak tadi.
"Aku pernah diajak Kiki ke sana, kan, " ucapku sambil meminum es jeruk
"Terus? Nggak enak? Enak kan? Aku aja sering nya ke sana malah."
"Jadi habis kami baru parkir motor. Kan langsung masuk ke depan warungnya, kepalaku langsung pusing. Terus ... Aku lihat anak kecil lagi nangkring di atas kuali nya sambil ngiler. Air liurnya netes ke kuali kuah baksonya, Dit. Itu yang bikin enak," jawabku sambil mengaduk es jeruk dengan sedotan.
Radit sontak tersedak es jeruk.
Dia melotot melihatku.
"Serius, Tha?!"
"Iyalah, masa aku becanda."
"Ih... Sialan!" umpatnya kesal.
Dia memang sering makan di sana katanya. Soalnya tempat fitnes dia dekat sama warung bakso itu.
Dan warung bakso itu salah satu tempat makan yang memakai jin penglaris. Di kota ku memang ada beberapa tempat makan yang melakukan hal ini. Bahkan mungkin banyak lagi di kota lain.
Bakso datang dan kami langsung makan.
"Tha.. Nih." Radit menyuapiku tetelan. Dia tau, kalau ini yang kusuka dari bakso di sini.
Dan, aku mau saja disuapin seperti itu.
Astaga! Aretha!
Sekitar 30 menit kami di sana. Bakso kami habis. Setelah membayar kami pulang.
________
Hari menjelang sore saat kami sampai rumah. Ternyata Kak Arden sudah pulang, dan kini sedang ngobrol dengan Bunda dan Ayah di teras.
"Assalamualaikum," sapaku setelah turun dari mobil Radit.
Radit pun ikut turun dari mobil dan salim ke Ayah dan Bunda.
"Hm... Pacaran dulu nih pasti," ledek Kak Arden.
"Enak aja. Habis makan bakso. Bunda tau, kan?" tanyaku sambil menatap Bunda yang sedang menyesap teh nya.
Bunda hanya mengangguk dan tersenyum.
"Sini, Dit. Duduk dulu," kata Bunda ramah.
Aneh memang. Bunda kalau tentang Radit selalu lunak. Radit ini pakai pelet apa, ya.
"Kak, kenalin dong, sama gebetan baru kakak," ledekku sambil senyum senyum nakal ke Kak Arden.
"Gebetan baru apaan? Ngarang deh kamu. Elu pasti ya, Dit. Dasar ember!" kesal Kak Arden melotot ke Radit.
Radit hanya cengengesan.
"Gebetan?" Bunda tengak tengok bergantian ke aku dan kak Arden meminta penjelasan.
"Apa sih, Nda. Ngeliatinnya gitu amat." Kak Arden salah tingkah.
"Kayaknya anak Ayah udah pada punya gebetan semua, ya," gumam Ayah sambil berdeham.
"Aretha jangan didengerin, Yah. Dia kan suka usil," elak Kak Arden.
"Ih, masih aja ngelak. Tanya tuh Radit. Dia aja tau, Yah. " Aku makin menyudutkan Kak Arden.
Aku juga heran kenapa kak Arden merahasiakan semua ini dari kami. Mungkin malu.
Alhasil Kak Arden menjadi target interogasi Bunda. Ayah hanya menyimak sambil menikmati kopinya.
Radit ada di rumah kami sampai menjelang maghrib. Akhir-akhir ini dia memang sering ada di rumah kami. Bahkan hampir setiap hari.
=============
Pagi ini setelah sampai parkiran. Aku berencana ke ruang musik karena ada buku yang kemarin tertinggal di sana.
Sampai di sana, sudah ada seorang wanita yang sedang bermain piano seorang diri.
Awalnya aku ragu untuk masuk namun dia kemudian tersenyum padaku saat mengetahui aku berada di depan pintu.
"Maaf, mau ambil buku aja kok. Ketinggalan," kataku terpaksa masuk sambil cengengesan.
Dia hanya melempar senyum padaku.
Dia lalu berhenti main piano.
"Iya, nggak apa-apa. Aku juga udahan kok ini. Mau balik kelas. Oh iya kamu kelas satu, ya?" tanyanya padaku.
"Iya, mbak nya kelas berapa?" tanyaku balik.
"Aku kelas dua. Nama kamu siapa?kamu yang suka nge-band juga kan ya di sini, ya?"
"Iya, mba. Oh iya, aku Aretha. Mba siapa?"
"Aretha? Aku Alya," ucapnya.
Aku menelan ludah dan melotot menatap wanita di depanku ini.
'Alya? apa ini yang namanya Alya? Yang Kak Arden suka?' batinku.
"Kok bengong?" tanyanya.
Aku memang diam saja, setelah dia bilang namanya Alya.
"Eh, enggak kok. Hehe." Aku malah jadi salah tingkah.
"Ya udah yuk, keluar. Sebentar lagi masuk," ajaknya.
Kupandangi terus dia. Dan ini pertama kalinya aku melihat gadis pujaan kakakku. Dia sepertinya baik, ramah, sopan dan cantik. Pantas saja kak Arden suka sama dia.
"Oh iya. Eum, mba Alya kenal kak Arden?" tanyaku.
Dia menghentikan langkahnya lalu menoleh padaku.
"Kamu? Aretha adiknya Arden?" tanyanya.
Aku mengangguk, dia malah senyum senyum.
"Ya ampun. Maaf ya, aku baru tau. Pantas aja, nama kamu nggak asing. Soalnya Arden nggak pernah kasih tau kamu seperti apa. Aku cuma denger aja, dia sering cerita soal kamu," jelas nya.
Suaranya halus dan lembut. Aku merasa nyaman ada di dekatnya.
"Emang kak Arden cerita apa?" tanyaku penasaran.
"Ya banyak. Soal kamu." Kami lalu berjalan bersama menuju kelas. Kebetulan kelas mba Alya searah denganku. Dan kami malah asyik ngobrol. Ternyata mbak Alya enak juga diajak ngobrol, orang nya asik.
"Ya udah, Tha. Aku duluan, ya." Dia pamit karena sekarang kami sudah ada di depan kelasnya. Sampai nggak sadar.
Namun ... Saat Mbak Alya masuk kelas, aku merasa ada sesuatu yang mengikutinya. Samar samar tapi tidak begitu jelas.
Kuamati terus hingga mba Alya duduk di bangkunya.
Ada yang aneh. Tapi aku belum tau apa.
Aku sering disibukan kegiatan OSIS akhir-akhir ini. Sehingga mengharuskan ku sering berada di sekolah hingga sore hari.
Saat itu, aku akan ke mushola sekolah untuk salat ashar. Setelah mengambil air wudhu, aku melangkah masuk ke dalam, segera berjalan ke karpet yang ada di bagian depan mushola. Saat masuk mushola aku mendengar suara lantunan ayat suci alquran. Di dalam mushola memang tidak hanya aku seorang. Masih ada beberapa siswa lain yang juga menjalankan ibadah. Sekilas aku melirik ke salah satu sudut du bagian belakang mushola. Ada seorang gadis yang masih mengenakan mukena tengah membaca al quran di depannya. Suaranya merdu dan lembut sekali. Membuatku betah berlama-lama.
Aku segera melakukan salat sunah dan salat wajib. Selesai salat, kembali aku menoleh ke arah gadis itu. Aku penasaran, siapa dia. Sekilas saat melihat wajahnya, sepertinya dia kakak kelasku. Karena aku pernah melihatnya ada di barisan kelas 2 saat upacara bendera kemarin.
Aku memutuskan duduk sebentar di sini. Menundukkan kepala sambil menikmati dia mengaji
"Alya!!" panggil seseorang dan membuatnya berhenti membaca al quran.
Oh, jadi namanya Alya.
"Yuk, balik sekarang. Keburu sore nih," ajak temannya.
"Iya, sebentar. Aku beres-beres dulu," ucapnya lembut.
Dia mengakhiri baca al quran lalu berkemas dan pergi bersama temannya tadi.
Alya.
Setelah dia pergi, aku pun kembali ke ruang OSIS, karena pekerjaanku belum selesai.
===========
(Flashback part sebelumnya)
Pagi ini Aretha sungguh keterlaluan, dia masih saja malas-malasan dan belum siap mandi. Malas berdebat, aku segera membopongnya dan memasukkan dia ke dalam kamar mandi.
"Kakak tunggu 10 menit! Kalau nggak selesai. Kakak tinggal!" ancamku serius.
Hari ini aku memang ada perlu untuk kegiatan OSIS dan harus sudah ada di sekolah pagi-pagi sekali.
Sampai di sekolah aku segera pergi, meninggalkan Aretha di parkiran. Walau dia terus saja menggerutu dan memanggil namaku.
Dengan sedikit berlari kecil, aku menuju ruang OSIS. Yah, di sanalah tujuan utamaku sebelum masuk ke kelas. Karena terburu-buru dan tidak melihat ke depan, aku menabrak seseorang di persimpangan koridor.
Alya?
Dia ternyata Alya, dan beberapa buku yang tadi dipegangnya jatuh berserakan. Jantungnya seolah berhenti berdetak sedetik. Lalu kembali berpacu lebih cepat.
"Maaf... Nggak sengaja. Mba nya nggak apa-apa, kan?" tanyaku ikut membantunya membereskan buku-buku itu sambil terus menatapnya.
"Iya, nggak apa-apa kok. Aku juga tadi nggak lihat jalan," cetusnya.
Setelah selesai, kami berdiri bersama-sama. Dia tersenyum padaku. Aku pun memberikan buku yang kini berada di tanganku.
"Permisi," katanya pamit.
"Eum ... maaf, Mba," panggilku sedikit menjerit.
Dia berhenti berjalan, lalu menoleh padaku.
"Aku Arden," ucapku sambil mengulurkan tanganku padanya. Entah kenapa aku punya keberanian seperti ini. Untung dia belum jalan terlalu jauh.
Dia menaikkan sudut bibirnya lalu menyambut uluran tanganku.
"Alya," ucapnya.
"Salam kenal ya, Mba. Eum ... aku suka denger kalau Mba Alya baca Quran di mushola. Suara Mba Alya, bagus," kataku memujinya.
Dia terlihat tersipu-sipu sambil menunduk.
"Makasih. ya udah, aku balik kelas dulu," katanya lalu pergi.
Aku menekan kepalaku sambil terus melihatnya berjalan menjauh dariku.
Dia berbeda. Setiap aku melihatnya, aku selalu merasa nyaman. Dan seakan-akan aku ingin terus melihatnya.
"Den!" Danu muncul dan langsung menepuk bahuku agak keras.
"Apaan sih! ngagetin aja!" gerutu ku.
"Ya ampun, makanya jangan ngelamun aja! Dipanggil dari tadi malah bengong!" kata Danu lalu ikut menatap ke koridor di mana Alya pergi, "Eum ... Siapa dia? Cantik juga," ucap Danu sambil ikut menatap Alya yang makin menjauh.
Aku memukul kepalanya, lalu menghimpit lehernya dan menarik Danu ke ruang OSIS. Tak peduli jeritannya sepanjang jalan.
Sejak aku melihat Alya di mushola kemarin, entah kenapa aku terus saja teringat dia. Saking frustrasinya aku sampai menjambak rambutku sendiri.
"Den! Kenapa sih lu?" tanya Dion saat kami sedang rapat OSIS.
"Yon, Arden lagi kesemsem cewek," canda Danu sambil terkekeh.
"Hah? Sama siapa? Serius? Seorang Arden bisa suka juga sama cewek? Luar biasa." Dion tertawa sambil tepuk tangan.
"Sama anak kelas dua. Itu lho si Alya. Eh, Den, dia banyak yang suka loh. Saingan elu berat berat," cetus Danu berbisik padaku.
Aku sedikit berkecil hati mendengar nya. Tapi, ah ... Sudahlah. Lagipula untuk apa aku mencemaskan hal yang belum pasti?
Jodoh sudah ditentukan Allah. Dan aku masih sekolah, masih jauh untuk memikirkan hal itu.
Pintu diketuk, dan masuklah Om Feri dengan sedikit tergesa-gesa.
"Arden mana?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Ini pak," pekik Danu sambil menunjukku. Om Feri langsung melihat posisiku dan mendekat.
"Ikut yuk!" ajaknya dan berhasil membuatku bingung.
Ada apa ya? Apa Aretha bikin masalah lagi?
Aku pun menuruti saja ajakan Om Feri. Sampai di depan ruang OSIS, dia yang panik kemudian berusaha mengatur nafasnya yang tidak karuan.
"Den! Aretha mana? Di aula ada kesurupan massal!" kata Om Feri ketakutan.
"Hah? Kok bisa, Om? Memang lagi ada acara apa tadi?" tanyaku heran.
"Tadi kls 2 IPA 1 lagi ada penyuluhan di sana. Terus ...."
Om Feri belum selesai bicara, aku langsung berlari ke aula.
Yah, itu kelas Alya dan aku khawatir padanya.nsemoga dia tidak kenapa kenapa.
Om feri berteriak memanggilku, namun aku terus berlari ke aula.
Saat sampai aula, keadaan memang kacau. Kucari sosok wanita yang tengah kupikirkan sekarang.
Itu dia!
Aku mendekati nya, dia sedang membantu temannya yang kesurupan. Alya membacakan ayat ayat alquran dengan sabar. Namun tiba-tiba, dia kena pukul temannya itu hingga jatuh ke lantai.
"Kamu nggak apa-apa, mba? Mana yang sakit?" tanyaku khawatir.
"Aku nggak apa-apa. Tolongin Anggi dong. Dia berdarah," pinta sambil menunjuk temannya yg kesurupan. Memang keadaan nya kacau. Kepalanya berdarah karena sepertinya telah membentur sesuatu.
Aku mendekati Anggi dan kubacakan amalan amalan doa. Dengan mudahnya dapat kusingkirkan makhluk yang mendiami tubuh Anggi. Dia pingsan. Segera kupapah agar berbaring di samping Alya.
Aku kembali celingukan mencari orang yang mungkin ku kenal.
"Dan!!!" Danu dan Dion yang ada di ambang pintu mendekat.
"Kenapa, Den? Kok bisa kacau gini??" tanya Danu.
"Gak tau.. Tolong bawa nih ke UKS. Jangan di sini, takutnya dia kesurupan lagi," pintaku .
Mereka mengangguk dan Danu membopong Anggi keluar.
"Den... Aretha udah tau??" tanya Dion.
"Belum. Cari Aretha deh. Suruh ke sini. Gue nggak bisa tangani sendiri."
Kembali aku mengamati sekitarku, ada beberapa guru yang membantu juga. Mereka juga biasa menangani orang kesurupan seperti nya.
Namun korban kesurupan lebih banyak.
"Mba... Tadi lagi pada ngapain sih? Kok bisa gini?" tanyaku ke Alya yang masih ada di dekatku.
"Aku juga gak tau, Den. Tau tau tadi banyak yang teriak teriak gitu. Terus gini deh," ucapnya cemas.
"Mba Alya nggak usah takut. Aku coba bantu. Mending mba keluar aja ya," Pintaku.
"Tapi kamu gimana?" aku tersenyum sedikit, mendengar perhatian darinya.
"Aku nggak apa-apa." aku lalu menatap Dion yang sepertinya paham maksudnya untuk membawa Alya keluar.
Mereka berdua keluar dari aula.
Tak lama Aretha datang di saat aku sudah kewalahan.
Dan keadaan kembali tenang setelah eyang muncul.
=======
Aretha kembali ke kelas nya bersama Radit, untuk mengisi absen dan setelah itu pulang ke rumah. Karena kejadian ini sekolah di pulangkan awal. Aku tau mereka dekat, dan Radit anak baik. Aku percaya dia bisa menjaga Aretha jika dia tidak sedang bersamaku.
Kuputuskan untuk ke mushola dulu. Rasanya aku ingin menenangkan diri sebentar di sana sebelum pulang.
"Arden!!" Seseorang yang suara sangat familiar memanggilku.
Aku menoleh padanya.
"Iya mba. Gimana temennya? Udah baik baik aja kan?" tanyaku dengan masih mengatur nafasku yg belum stabil.
Keringatku bahkan bercucuran di kening sebesar jagung barangkali.
Alya mendekat lalu mengambil tissue di sakunya dan mengelap keningku.
Hatiku berdesir tak karuan mendapat perlakuan seperti ini.
Aku kenapa, ya? Nanti aku tanya Bunda deh. Kenapa tiap deket Alya jantungku lebih cepat berdetak, aku juga gemetaran.
"Nggak usah, Mba. Biar aku aja." Karena sungkan, ku ambil tissue dari tangannya.
Dia agak malu saat tangan kami bersentuhan.
"Maaf." aku lalu menarik tanganku menjauh.
"Iya, nggak apa-apa. Eum, kamu mau ke mana? Pulang?" tanyanya.
"Enggak. Aku mau ke mushola dulu."
"Eum ... Ini udah bukan waktu buat salat den," katanya sambil melihat jam tangannya.
"Aku nggak mau salat, mau itikaf bentar aja. Gara gara kejadian tadi, aku jadi gelisah gini. mending di sana sebentar."
"Oh gitu. Kamu sering ke mushola buat itikaf?"
"Lumayan. Aku juga suka denger mba Alya baca quran. Suara mba bagus," pujiku.
Dia tersenyum.
"Kalau gitu, aku ikut deh," katanya. Aku sontak terkejut mendengar hal itu. Kegugupan mulai merasuk dalam hati.
"Eh, tapi jangan berdua aja, Mba. Nggak enak. Takut jadi fitnah," kataku.
"Eum, aku ajak Anggi aja ya." Kami lalu ke UKS untuk menjemput Anggi. Keadaan dia juga sudah lebih baik, namun terlihat masih pucat.
Di mushola kami melakukan aktifitas masing masing. Aku duduk agak menjauh dari Alya, dan lebih memilih berdzikir sendiri.
Alya kembali membuka alquran dan membacanya. Kembali hatiku merasa tenang dan nyaman. Rasanya aku ingin terus mendengarnya membaca alquran setiap hari seumur hidupku.
Ya Allah, jika engkau berkenan. Semoga dia menjadi jodoh hamba.
Pov Aretha
"Kak ... Yuk, pulang," ajakku
Kini aku sedang ada di kelas Kak Arden. Memang sudah menjadi kebiasaan kami. Jika salah satu sudah pulang lebih dulu, maka yang lain akan mendatangi kelas dan berakhir dengan pulang bersama.
Kak Arden yang sedang membereskan buku-buku nya, menoleh. Kemudian menolak ajakan ku. "Kamu pulang sama Radit aja, ya. Kakak masih ada urusan di sekolah. Mau ke mushola," ucapnya.
"Hah? Mau ngapain?" kini aku duduk di kursi samping meja Kak Arden, merajuk dan sedikit kesal.
"Ya udah. Pulang bareng aku aja, Tha," kata Radit menimpali.
Mereka ini memang duduk sebangku sejak awal masuk sekolah.
"Iya. Itu sih gampang nanti. Tapi kakak mau ngapain? Bukannya nggak ada EKSKUL hari ini? OSIS juga perasaan udah nggak banyak kegiatan, kan? Danu sama Dion aja udah pulang tuh," cetus ku heran.
Memang akhir - akhir ini Kak Arden sering sekali ijin ke mushola. Aku juga bingung kenapa. Kalau istirahat juga kadang ke mushola. Kalau nggak, biasanya ke perpustakaan. Udah jarang kulihat ada di kantin.
"Emang nggak ada EKSKUL, Tha. Kakak mau salat di mushola dulu."
Aky meliriknya curiga, namun apa boleh buat. Kalau itu yang dia inginkan.
"Oh gitu. Ya udah deh. Aku balik sama Radit jadinya?" tanyaku lagi.
Kak Arden mengangguk. Akhirnya aku pergi meninggalkan kelas dan Kak Arden. Pulang bersama Radit.
Sepanjang jalan aku dan Radit banyak diam. Aku agak kikuk setelah dia bilang kalau sudah ijin bunda. Jadi maksudnya apa, ya?
Hubungan kami apa dong sekarang.
"Eh Tha. Kamu udah tau belum kalo Arden lagi naksir cewek?" tanya Radit memecah kesunyian di antara kami. Mungkin kalau kami naik motor tidak akan berpengaruh banyak, jika tidak ada pembicaraan apa pun. Sayangnya kami naik mobil sekarang.
"Hah! Serius? Siapa?!" Aku benar benar terkejut dengan kalimat Radit barusan.
Karena seumur umur, Kak Arden ini belum pernah dekat sama perempuan lain selain aku dan Bunda. Jadi ini pertama kalinya. Wajar saja aku terkejut.
"Jadi kamu belum tau, Tha?" tanya Radit.
"Belum. Aku malah baru tau dari kamu nih!"
"Kata Danu sih anak kelas dua. Namanya ... Al ... Alya! Iya bener. Alya," jelas Radit sambil menerawang mengingat nama perempuan itu.
"Alya? Kls 2?" tanyaku, lalu diam sambil membayangkan seperti apa sih wanita yang bernama Alya? Sampai - sampai Kak Arden tertarik padanya. Dia pasti bukan wanita sembarangan. Aku yakin itu.
"Iya. Coba deh kamu tanya Arden. Kayaknya sih Alya spesial banget. Tumben tumbenan si Arden naksir cewek. Kupikir dia gak normal." Dia lantas tertawa. Aku melirik dan langsung mencubit lengan kirinya, gemas. Alhasil aku mendapat balasan ditatap dalam oleh pria di sampingku ini.
Dan sikapnya berhasil membuatku salah tingkah, kembali menatap ke depan. Jalanan sepi karena barusan diguyur hujan.
"Eh, Tha," panggil Radit pelan.
"Hm." aku sama sekali tidak menoleh ke Radit.
"Kita makan bakso dulu yuk," ajaknya.
"Ayuk!" kataku semangat.
Dia tersenyum lalu kami menuju warung bakso langganan ku yg letaknya ada di dekat alun alun.
Aku sangat suka makan bakso di sana bersama Kiki. Kami berdua adalah pecinta bakso dan sudah menjajal warung bakso di seluruh kota ini. Dan di sana adalah yang terbaik.
Kami sampai. Lahan parkir nya cukup sempit. Dan aku yakin di dalam pasti ramai. Semoga kami masih mendapatkan tempat duduk di dalam.
Radit segera memesan 2 porsi bakso kami. Kami memilih duduk di meja tengah di mana tempat itu baru saja di tinggalkan pelanggan sebelumnya. Masih berantakan dengan bekas mangkuk yang sudah habis.
Aku meraih ponselku.
"Mau ngapain, Tha?" tanya Radit yang duduk di hadapanku.
"Ngabarin Bunda. Takut nyariin," jawabku santai.
"Nggak usah. Aku udah kasih tau Bunda kok barusan," katanya membuatku melongo dan menutup kembali benda pipih ini.
Baiklah, Bunda sama Radit sudah saling tukar nomor HP nih kayaknya.
"Eh, Tha. Kamu kenapa suka makan di sini? Kan ada tuh, warung bakso deket sini juga yang enak. Terkenal banget, kan?" tanyanya.
"Duh,nggak deh. Nggak bakal makan di sana aku," jawabku sambil menekan kepala.
"Kenapa?"
Es jeruk pun datang. Aku langsung menyeruputnya karena udara panas yang sudah membuatku haus sejak tadi.
"Aku pernah diajak Kiki ke sana, kan, " ucapku sambil meminum es jeruk
"Terus? Nggak enak? Enak kan? Aku aja sering nya ke sana malah."
"Jadi habis kami baru parkir motor. Kan langsung masuk ke depan warungnya, kepalaku langsung pusing. Terus ... Aku lihat anak kecil lagi nangkring di atas kuali nya sambil ngiler. Air liurnya netes ke kuali kuah baksonya, Dit. Itu yang bikin enak," jawabku sambil mengaduk es jeruk dengan sedotan.
Radit sontak tersedak es jeruk.
Dia melotot melihatku.
"Serius, Tha?!"
"Iyalah, masa aku becanda."
"Ih... Sialan!" umpatnya kesal.
Dia memang sering makan di sana katanya. Soalnya tempat fitnes dia dekat sama warung bakso itu.
Dan warung bakso itu salah satu tempat makan yang memakai jin penglaris. Di kota ku memang ada beberapa tempat makan yang melakukan hal ini. Bahkan mungkin banyak lagi di kota lain.
Bakso datang dan kami langsung makan.
"Tha.. Nih." Radit menyuapiku tetelan. Dia tau, kalau ini yang kusuka dari bakso di sini.
Dan, aku mau saja disuapin seperti itu.
Astaga! Aretha!
Sekitar 30 menit kami di sana. Bakso kami habis. Setelah membayar kami pulang.
________
Hari menjelang sore saat kami sampai rumah. Ternyata Kak Arden sudah pulang, dan kini sedang ngobrol dengan Bunda dan Ayah di teras.
"Assalamualaikum," sapaku setelah turun dari mobil Radit.
Radit pun ikut turun dari mobil dan salim ke Ayah dan Bunda.
"Hm... Pacaran dulu nih pasti," ledek Kak Arden.
"Enak aja. Habis makan bakso. Bunda tau, kan?" tanyaku sambil menatap Bunda yang sedang menyesap teh nya.
Bunda hanya mengangguk dan tersenyum.
"Sini, Dit. Duduk dulu," kata Bunda ramah.
Aneh memang. Bunda kalau tentang Radit selalu lunak. Radit ini pakai pelet apa, ya.
"Kak, kenalin dong, sama gebetan baru kakak," ledekku sambil senyum senyum nakal ke Kak Arden.
"Gebetan baru apaan? Ngarang deh kamu. Elu pasti ya, Dit. Dasar ember!" kesal Kak Arden melotot ke Radit.
Radit hanya cengengesan.
"Gebetan?" Bunda tengak tengok bergantian ke aku dan kak Arden meminta penjelasan.
"Apa sih, Nda. Ngeliatinnya gitu amat." Kak Arden salah tingkah.
"Kayaknya anak Ayah udah pada punya gebetan semua, ya," gumam Ayah sambil berdeham.
"Aretha jangan didengerin, Yah. Dia kan suka usil," elak Kak Arden.
"Ih, masih aja ngelak. Tanya tuh Radit. Dia aja tau, Yah. " Aku makin menyudutkan Kak Arden.
Aku juga heran kenapa kak Arden merahasiakan semua ini dari kami. Mungkin malu.
Alhasil Kak Arden menjadi target interogasi Bunda. Ayah hanya menyimak sambil menikmati kopinya.
Radit ada di rumah kami sampai menjelang maghrib. Akhir-akhir ini dia memang sering ada di rumah kami. Bahkan hampir setiap hari.
=============
Pagi ini setelah sampai parkiran. Aku berencana ke ruang musik karena ada buku yang kemarin tertinggal di sana.
Sampai di sana, sudah ada seorang wanita yang sedang bermain piano seorang diri.
Awalnya aku ragu untuk masuk namun dia kemudian tersenyum padaku saat mengetahui aku berada di depan pintu.
"Maaf, mau ambil buku aja kok. Ketinggalan," kataku terpaksa masuk sambil cengengesan.
Dia hanya melempar senyum padaku.
Dia lalu berhenti main piano.
"Iya, nggak apa-apa. Aku juga udahan kok ini. Mau balik kelas. Oh iya kamu kelas satu, ya?" tanyanya padaku.
"Iya, mbak nya kelas berapa?" tanyaku balik.
"Aku kelas dua. Nama kamu siapa?kamu yang suka nge-band juga kan ya di sini, ya?"
"Iya, mba. Oh iya, aku Aretha. Mba siapa?"
"Aretha? Aku Alya," ucapnya.
Aku menelan ludah dan melotot menatap wanita di depanku ini.
'Alya? apa ini yang namanya Alya? Yang Kak Arden suka?' batinku.
"Kok bengong?" tanyanya.
Aku memang diam saja, setelah dia bilang namanya Alya.
"Eh, enggak kok. Hehe." Aku malah jadi salah tingkah.
"Ya udah yuk, keluar. Sebentar lagi masuk," ajaknya.
Kupandangi terus dia. Dan ini pertama kalinya aku melihat gadis pujaan kakakku. Dia sepertinya baik, ramah, sopan dan cantik. Pantas saja kak Arden suka sama dia.
"Oh iya. Eum, mba Alya kenal kak Arden?" tanyaku.
Dia menghentikan langkahnya lalu menoleh padaku.
"Kamu? Aretha adiknya Arden?" tanyanya.
Aku mengangguk, dia malah senyum senyum.
"Ya ampun. Maaf ya, aku baru tau. Pantas aja, nama kamu nggak asing. Soalnya Arden nggak pernah kasih tau kamu seperti apa. Aku cuma denger aja, dia sering cerita soal kamu," jelas nya.
Suaranya halus dan lembut. Aku merasa nyaman ada di dekatnya.
"Emang kak Arden cerita apa?" tanyaku penasaran.
"Ya banyak. Soal kamu." Kami lalu berjalan bersama menuju kelas. Kebetulan kelas mba Alya searah denganku. Dan kami malah asyik ngobrol. Ternyata mbak Alya enak juga diajak ngobrol, orang nya asik.
"Ya udah, Tha. Aku duluan, ya." Dia pamit karena sekarang kami sudah ada di depan kelasnya. Sampai nggak sadar.
Namun ... Saat Mbak Alya masuk kelas, aku merasa ada sesuatu yang mengikutinya. Samar samar tapi tidak begitu jelas.
Kuamati terus hingga mba Alya duduk di bangkunya.
Ada yang aneh. Tapi aku belum tau apa.
theorganic.f702 dan 3 lainnya memberi reputasi
4