Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:


Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir. emoticon-Betty

Supernatural

Quote:


INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan

INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
indrag057Avatar border
bejo.gathelAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.9K
222
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#170
165. Dagon
Aku mengangguk paham, lalu beranjak dari posisi duduk ku sekarang. Tidak langsung bergerak dari lantai yang ku pijak, namun mengumpulkan dulu keberanian yang entah sejak kapan tiba- tiba menghilang. Angin berembus menerpa kulit wajah ku. Dingin, hingga aku memejamkan mata demi mengusir rasa takut ini. Aku mulai melangkah, hingga saat sampai di lorong, kaki ini seolah berhenti secara otomatis. Sudut gelap di ujung sana membuat nyali ku ciut. Namun suara beberapa anak kecil yang berada di balik kamar-kamar ini membuat keberanian ku seolah kembali bangkit. Bagi ku, asal mengetahui masih ada manusia di sini, itu sudah cukup.

"Sayang, hati- hati." Layar ponsel kuhadapkan pada wajahku. Mereka bertiga juga terlihat tegang, di atas kasur masing- masing. Aku mengangguk lantas berjalan selangkah demi selangkah ke ujung koridor. Suasana entah kenapa makin mengerikan. Bagaikan sedang menuju ke ruang eksekusi, aku makin ragu, tapi otakku seolah terus menyuruh untuk tidak berhenti.

Ujung lorong mulai terlihat, tubuh ku makin bergetar saat menyibak korden penghubung dapur dengan koridor ini. Saat kusibak cepat kain panjang di hadapan ku, justru aku tidak menemukan apa pun di dapur yang terbilang cukup besar tersebut. Walau demikian, aku tetap masuk ke dapur dan mencari di mana sosok ibu tadi berada. Bilik kamar mandi ku buka lebar. Ada sekitar 5 bilik kamar mandi di sini, selain ada tungku untuk memasak, ada juga meja dengan kompor gas yang berada di sudut dapur.

"Nggak ada siapa- siapa," ujarku menatap ketiga pria tersebut.

"Ya sudah, kamu balik kamar aja, sayang," suruh Kak Rayi. Aku menurut, lalu berjalan meninggalkan dapur. Tapi belum sampai aku keluar ruangan ini, jendela yang dekat dengan pintu belakang rumah seperti diketuk pelan. Otomatis aku menoleh. "Kalian dengar?" tanya ku pada mereka.

"Apaan?"

"Ada yang ketuk pintu!"

"Pintu mana?"

"Itu di belakang ada pintu, kak," tunjukku lalu mengarahkan layar ke kayu berbentuk persegi panjang di sana.

"Bil ... jangan," desak Kak Rayi, melarangku mendekat.

"Nggak apa-apa, kak."

Langkahku mantap mendekat ke pintu di sana. Kini semua rasa takut justru seolah menguar begitu saja. Saat sampai ke pintu, aku diam sejenak. Ponsel berada di depan tubuh dan tetap kuarahkan ke wajahku. gagang pintu sudah ku genggam erat, pintu perlahan kubuka. Memang tidak dikunci, hingga memudahkan aku membuka nya. Saat sudah setengah terbuka, hawa dingin langsung menyeruak masuk menabrak tubuhku. Terlihat suasana gelap di depan sana. Kebun kebun dengan pemandangan pepohonan yang tinggi, sama seperti saat aku sampai pertama kali di tempat ini. Aroma anyir tercium tiba-tiba. Hidungku bahkan sampai mengerut.

"Bil, lu ngapain?" tanya Kak Roger.

"Nggak ada apa -apa, Kak. Aku buka pintu belakang."

"Serius lu?"

"Coba balik layar nya, Bil."

"Sayang, buruan tutup pintu nya, mending kamu masuk kamar, tunggu Papa kamu balik. Udah malem ini."

"Bentar, kak." Aku menuruti kata- kata Kak Bintang, membalik layar agar mereka dapat melihat pemandangan di luar sana. Jadi aku tidak melihatnya seorang diri sekarang.

"Wow, serem banget. Bener -bener mirip di hutan."

"Tapi nggak ada apa- apa, ya?"

"Eh, itu apa di sana," kata Kak Rayi.

"Mana?" tanya Kak Bintang dan Kak Roger bersamaan.

"Di balik pohon depan itu!"

Otomatis aku mengernyitkan kening dan berusaha mempertajam penglihatan di tengah suasana malam halaman belakang rumah itu, yang sebenar nya tidak ada bedanya dengan pemandangan di depan mau pun samping rumah. Semua tampak sama.

Sebuah benda terlihat buram, karena gelapnya malam, dan rimbunnya pepohonan. Tetapi rasanya justru dia terlihat unik dari sekitar. Sebuah tubuh terlihat makin jelas. Bersembunyi di balik pohon di luar sana. Tubuhku kaku, bahkan menelan ludah berkali- kali rasa nya tidak membantu tenggorokan ku yang makin kering.

"Masuk!" jerit suara di luar sana, nyaring sekali di telinga. Anehnya pintu tiba -tiba tertutup cepat dan keras. Membuat aku terlonjak kaget, dan segera berlari keluar. Lorong kamar- kamar ini terdengar sunyi, aku mengetuk semua pintu dan berharap ada satu saja orang yang keluar dari dalam sana. Telepon masih menyala, dan aku malah tidak memperdulikan teriakan Kak Rayi, Kak Bintang dan KAk Roger.

Sampai akhirnya aku sampai di ruang tengah, dan hendak membuka pintu depan. Tetapi pintu itu justru sudah dibuka terlebih dahulu oleh seseorang. Beberapa orang kini mulai masuk ke dalam, rupanya mereka orang-orang yang mengantar Om Dewa ke pemakaman. Aku mencari wajah -wajah yang paling aku inginkan. Papa!

"Bil? Kenapa?" tanya Papa yang heran melihatku berdiri mematung di depan pintu, bahkan menghalangi orang-orang yang hendak masuk. Aku lantas memeluknya dan menangis sejadi jadinya. Ponsel di ambil oleh Om Gio. "Hei, kenapa sayang?" tanya Papa lagi. Aku melepaskan pelukanku lalu menunjuk ke koridor yang mengarah ke dapur. Aku lantas menceritakan semua, Om Gio juga mendengar penjelasan dari iga pemuda di sambungan video yang belum kumatikan sejak tadi.

"Maaf, anak, tapi semua orang pergi ke pemakaman. Nggak ada satu pun yang tinggal di rumah," kata salah satu kerabat Om Dewa. Tubuhku luruh ke lantai setelah menceritakan semua dan mendengar penjelasan kalau ternyata sejak tadi aku seorang diri di rumah. Lantas suara siapa yang kudengar di bilik-bilik kamar tadi? Astaga.

Hawa dingin membuat tubuhku makin nyaman bergelung dengan selimut. Dari atas kepalaku terasa angin yang berembus cukup kencang. Membuat rasa dingin ini makin gencar kurasakan. Sinar matahari perlahan mulai mengganggu acara tidurku. Apalagi dengan suara obrolan Tante Rani dan Tante Jean, aku sadar kalau ini sudah pagi. Tapi aku masih mengantuk.

"Bil ... Nabila. Ponsel kamu bunyi tuh." Suara Tante Jean membuat aku kembali dari alam mimpi dan mengerjap. Perlahan membuka mata dan berusaha meraih benda pipih yang sejak tadi bergetar di atas meja nakas samping ku.

Kak Rayi!

"Ya halo?"

"Pagi, sayang," sapa sebuah suara dari seberang.

"Pagi banget sih nelpon nya," gerutu. ku sebal. 

"Eh, pagi banget? Hei sayang, ini udah jam berapa coba? Lihat tuh! Ish, pasti belum bangun, dan masih bau iler nih!"

Aku lantas menatap layar ponsel ini dan membelalak. "Astaga! Jam 8!" setuju, langsung duduk di kasur dengan rambut acak-acakan. Lantas menyapu pandang sekitar. Tante Jean dan Tante Rani terkekeh menatapku. Mereka terlihat sudah segar dengan rambut yang basah habis keramas.

"Tante ... Kok aku nggak dibangunin?" tanyaku sedikit merajuk.

"Habisnya kamu tidurnya nyenyak banget, Bil. Jadi kami nggak tega banguninnya. Apalagi semalem kamu banyak mengigau."

"...."

"Halo? Nabila? Sayang?" Jeritan Kak Rayi membuatku tersadar kalau ada seseorang di seberang sana yang sedang aku lupakan keberadaannya.

"Eh. Iya, kak. Gimana?" Kembali layar pipih ini kudekatkan ke telinga.

"Buruan mandi. Sarapan. Aku sekolah dulu."

"Eh, iya. Udah di sekolah ini, kan?"

"Udah, tapi Bu Helina belum datang."

"Oh, oke. Ya udah, aku mau mandi dulu ya. Bye, Kak Rayi."

"Iya, bye Nabila sayang."

Telepon diakhiri. Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sungguh menyegarkan udara pagi hari di tempat ini. Jendela kamar seolah menjadi magnet dan membuat tubuhku otomatis berjalan ke sumber cahaya di kamar ini. Angin dingin menerpa kulit wajahku, segar dan menyejukkan. Aku memejamkan mata, merasakan tiap sensasi dingin yang ditawarkan semesta.

"Ih, anak gadis malah diem aja di depan jendela. Mandi, gih!" kata Tante Rani.

"Dingin ah, tante. Pasti airnya kayak es!" elakku malah memeluk tubuhku sendiri. Rasanya udara seperti ini lebih cocok untuk menikmati secangkir teh hangat sambil memandang suasana hutan di sana. Yah, suasana hutan di depan. Kini senyumku justru pudar saat mengingat bagaimana mencekamnya kehidupan di luar sana semalam. "Eum, Papa di mana, Tante?" tanyaku menatap kedua wanita dewasa yang sedang membahas perihal kematian Om Dewa kemarin.

"Ada itu di teras." Tante Jean menunjuk ke arah luar dengan dagunya. Karena kedua tangannya tengah memegang cangkir berisi teh hangat. Aroma melatinya terasa begitu pekat.

"Kita pulang kapan, tante?" tanyaku lagi.

"Eum, kalau nggak salah kita harus di sini tiga harian, Bil. Opa Hans ingin di sini dulu, selagi acara tahlilan untuk Om Dewa digelar. Jadi minimal tiga hari lagi kita pulang," jelas Tante Jean. " Kasihan juga Tante Rani, kalau nggak ada teman di sini, kan?" Dan kalimat terakhir itu membuatku maklum. Memang sepanjang aku melihat, posisi tante Rani seperti tidak ada apa-apanya di sini. Padahal dia adalah istri sah Om Dewa.

"Aku cari Papa dulu." Telapak kakiku mulai menginjak lantai kayu, dingin seperti berembun. Begitu keluar kamar, suasana di koridor tampak ramai, beberapa sanak saudara Om Dewa lalu lalang. Dari ibu-ibu paruh baya, anak kecil sampai orang tua. Aku terus mencari di mana keberadaan Papa. Suaranya mulai terdengar saat aku berjalan menuju ruang tengah. Rupanya mereka ada di halaman depan.

Asap rokok seolah menyamarkan keberadaan mereka, namun begitu aku muncul dari balik pintu, Papa segera mematikan rokok di tangannya lalu mendekat. "Pagi, sayang. Udah bangun?" tanya Papa lalu menarikku ke dalam pelukannya. Aku hanya pasrah sambil menikmati momen yang jarang sekali terjadi. Aroma parfum Papa yang bercampur asap rokok nya, justru membuatku merasakan kedamaian.

"Pagi, Pa. Baru saja." Pelukan dilepaskan, aku lantas menatap Om Gio dan Opa Hans yang sedang berdiskusi serius. "Lagi bahas apa? Serius banget?" tanyaku segera.

"Eum, kami lagi bahas soal kematian Om Dewa."

"Memangnya kenapa, Pa? Ada yang nggak beres?"

"Hm, sepertinya begitu, Bil. Makanya Opa mengajak kita untuk tinggal lebih lama di sini, karena nanti Papa sama Om Gio dan Opa mau ke lokasi kematian Om Dewa."

"Aku ...."

"Nggak boleh ikut. Kamu harus di sini sama Tante Jean dan Tante Rani. Mereka butuh bantuan kamu di sini. Karena selama satu minggu, akan ada acara berdoa bersama untuk Om Dewa."

Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. "Oke?" tanya Papa menegaskan.

"Yeah, Oke," aku menyahut pasrah namun rasanya tidak rela jika pembagian tugasnya seperti ini. Apa karena aku perempuan? Ah, tindakan diskriminasi sekali.

___________________

Kini aku berada di ruangan yang telah berhasil memberikan mimpi buruk nyata semalam. Dapur. Yah, memang tugas wanita adalah berkutat di dapur. Akan banyak makanan yang dimasak untuk acara nanti malam. Di sini hampir semua wanita berperan dengan tugas masing-masing. Mengupas bawah, memotong, memilih sayuran, atau bagian potong memotong daging atau ayam. Aku hanya diam sambil menyaksikan para wanita dewasa itu meracik makanan dengan obrolan khas wanita seumuran mereka.

"Bil, kamu ikut Zahra saja cuci perkakas untuk nanti malam," tunjuk Tante Rani ke sebuah kotak berisi piring dan gelas melamin yang cukup banyak. "Ke sungai aja, airnya jernih. Tempatnya luas, kamu pasti suka." Tante Rani menatap seorang gadis yang seumuran denganku yang baru aku tau namanya Zahra. Kepala terangguk dengan otomatis. Rasanya pekerjaan yang diberikan Papa tidak menyenangkan. Aku lebih suka jika pergi bersama mereka bertiga tadi.

Zahra mulai berjalan lebih dulu, sambil membawa kotak tersebut. Memang tidak berat karena bukan terbuat dari barang pecah belah. Rupanya sungai yang dimaksud Tante Rani cukup jauh dari rumah. Di sepanjang perjalanan hanya barisan pepohonan yang aku lihat. Zahra selaku tour guide memberikan penjelasan serta pengalamannya selama tinggal di tempat ini. Rupanya dia cukup ramah, dan baik.

Suara riak air terdengar. Aku mulai antusias karena ingin melihat bagaimana pemandangan sungai seperti apa yang dijelaskan oleh Zahra tadi. "Nah itu dia!" tunjuk Zahra ke bawah kami. Satu kata yang mampu aku deskripsikan saat melihat barisan air jernih di bawah kami. "Wow."

Zahra segera berlari kecil ke bawah, melewati jalanan berbatu dengan lincah. Aku mengikuti dengan rasa bahagia yang sudah membuncah. Sampai di tepi sungai, aku segera mengikutinya. Alhasil kami bermain air, saling siram dan berpegangan tangan melawan derasnya arus.

"Ra, bagaimana tinggal di desa? Seru, ya?" tanyaku saat kami sedang mulai mencuci perabotan tadi.

"Yah, gini lah, Bil. Seru sih. Tapi setiap tempat, entah desa atau kota pasti ada plus dan minusnya."

"Emangnya minusnya tinggal di desa apa, Ra? Perasaan sinyal hand phone masih bisa masuk," sahutku menebak dengan sok tau.

"Iya. Justru kami nggak begitu tertarik sama gadget, kadang aku ingin ke kota itu buat nonton bioskop atau jalan-jalan ke mall. Di sini jauh, Bil."

"Oh iya juga. Tapi kalau aku tinggal di desa kayaknya betah deh. Bisa main air di sungai gini, seru banget!" kataku antusias.

"Iya kalau matahari muncul mah, seru. Tapi kalau matahari udah tenggelam ya ... serem," kata Zahra berbisik.

Kalimatnya langsung menarik perhatianku. Rasanya ini saat yang tepat membahas kejadian semalam yang aku alami. "Eum, Ra. Memangnya kamu sering mengalami hal serem?" tanyaku ragu.

"Iya lumayan, Bil. Apalagi di desa kami ini kan cukup jauh dari jalan, banyak pohon dan tempat yang memang angker. Sebulan lalu aja, ada kuyang yang melintas. Huh. seram!"

"Eh, kalau mariaban? Pernah lihat?" tanyaku.

"Oh, belum sih, cuma memang kata Ibuku kadang suka muncul di malam tertentu, makanya kami nggak boleh keluar malam-malam."

Aku diam dan mencoba mencerna kalimatnya. Berarti sosok semalam memang sudah biasa berkeliaran di sini. Jadi aku tidak perlu membesar-besarkan masalah ini.

"Eh, kata bapak ... semalam kamu diganggu?" tanya Zahra antusias. Aku menatapnya lalu mengangguk pelan. "Kayak gimana sosoknya?" tanyanya antusias.

"Nenek nenek. Mirip manusia biasa sih. Aku pikir saudara kalian. Jadi ngga berpikir kalau itu hantu."

"Oh, jangan-jangan Nek Sanja."

'Nek Sanja siapa?"

"Dia itu leluhur kami. Memang sering menampakkan diri, kadang justru dia muncul karena mau melindungi anggota keluarga. Mungkin semalam ada yang mau ganggu kamu, jadi Nek Sanja datang."

"Hm, mungkin sih."

Bunyi kepakan sayap di atas mengalihkan perhatianku. Aku mendongak dan mendapat sesuatu melintas di atas kami. Sesuatu yang besar, dan rasanya sama seperti yang aku lihat sebelumnya. "Dagon!" sebuah suara terdengar nyaring di telingaku. Suara wanita yang sudah berumur. Aku lantas menyapu pandang sekitar, di salah satu pohon besar tak jauh dari kami, ada seseorang yang sedang bersembunyi. Wanita tua, seperti ... Nek Sanja?!

"Dagon?" Nama tersebut terus terngiang di kepalaku sejak aku dan Zahra pulang dari sungai tadi sore. Matahari sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. Aku yang sejak tadi duduk di ayunan halaman depan hanya diam mengikuti gerak benda yang sedang kududuki sejak tadi. Bukan ayunan seperti yang biasa ada di sekolah TK, tapi ayunan buatan ayah Zahra untuk para anak kecil di sini. Terbuat dari potongan ban bekas, dan diikat tali dan di sambungkan ke batang pohon dekat rumah. Sungguh suasana yang sangat nyaman. Bahkan jika di rumahku ada benda ini, aku akan duduk di halaman setiap sore.

Papa belum pulang, aku mulai cemas memikirkan keadaan mereka. Berkali-kali layar datar di genggaman selalu ku tatap. Berharap Papa memberi kabar, apa pun itu. Sementara semua pesanku belum juga sampai padanya. Mungkin Papa dan yang lain ada di tempat yang tidak ada sinyal ponsel.

Suasana sore hari memang saat yang tepat untuk anak-anak bermain di luar rumah. Hal yang jarang sekali kutemui di sekitar rumahku. Karena aku anak tunggal dan karena aku tinggal di kompleks perumahan dengan gerbang tinggi di tiap bangunannya. Tidak ada keramahan yang disajikan oleh tiap orang. Berbeda dengan di sini. Walau beberapa orang terkadang menatapku aneh, mungkin karena aku orang asing, dan jarang ada orang dari luar daerah ini berkunjung.

Dagon. Karena penasaran, aku surfing nama tersebut lewat daring. Dahi ku mengkerut membaca begitu banyak hal tentang Dagon. Makhluk ini entah hanya sebuah karangan atau memang nyata, di luar sana Dagon disebutkan merupakan Dewa.

"Dewa ikan?!" gumam ku setelah membaca kalimat yang panjang lebar tersebut.

"Tapi ... Nenek Sanja kenapa menyebutkan nama itu, ya? Kalau hal itu merujuk ke makhluk yang kemarin terbang di atas ku, penjelasan ini sama sekali nggak cocok untuk Dagon!" Kembali aku berdiskusi dengan diriku sendiri. Hal yang biasa terjadi jika sedang dilanda kebingungan. Apalagi nama Dagon itu sendiri baru pertama kali aku dengar. Berarti dia bukan makhluk aneh macam vampir atau wendigo. Mungkin dia memang salah satu dewa.

"Hm, dewa juga bisa jahat sih. Tapi, ini dewa ikan. Masa bisa terbang? Masa penjelmaan ikan Torani? Kan nggak masuk akal!" Aku menampik semua kemungkinan yang baru saja lewat di kepala. Sejauh yang aku tau, ikan Torani adalah satu-satunya ikan yang bisa terbang.

"Eh, suara itu, seperti kepakan sayap burung besar!" Fakta lain kembali mencuat. Membuatku benar-benar yakin kalau Dagon itu bukan dewa ikan. Tapi sejenis burung? Ah, mungkin saja.

Tante Jean keluar dari pintu rumah. Menyapu pandangan ke segala arah, dan berakhir tersenyum saat melihatku. Ia lantas mendekat sambil membawa sesuatu di tangannya. Sepertinya makanan.

Sebuah piring dengan ditutupi daun pisang kini tampak jelas di depanku. "Itu apa, tante?" tanyaku begitu dia duduk di kursi kayu, depanku.

"Nih, kamu harus cobain. Ini namanya Manday." Daun pisang itu dibuka dan menampilkan makanan yang terlihat asing buatku.

"Wah, aku pikir manday itu senjata khas daerah sini, tante."

Tante Jean melirikku sebal. "Itu mandau!" katanya sambil melotot dan menaikkan nada bicaranya. Hal itu berhasil membuatku tertawa lepas setelah sekian lama berada di tempat ini. Tante Jean yang awalnya gemas pada sikapku, ikut tertawa sambil memencet hidungku. "Kamu ini! Pinter banget plesetinnya!"

"Ya enggak gitu, tante. Kan aku memang nggak tau tentang mandau itu, taunya mandau," jelas ku.

"Kamu itu memang aneh. Perempuan kok malah lebih suka dan tertarik sama senjata tajam, bela diri, ckckck. Sebenernya kamu ini dulu reinkarnasi siapa sih, Bil! Wonder women kali, ya." Kembali tawa kami berdua lepas begitu saja.

Manday di tangan Tante Jean mulai kami cicipi, rasanya cukup enak. Aku baru tau, kalau Manday adalah berasal dari kulit cempedak. Wah, sesuatu yang benar-benar baru. Sebenarnya kalau makanan jenis ini, aku pernah menikmatinya, gudeg Jogja. Tetapi rasanya manis dan lezat. Wah, ternyata aku suka manday. Malah aku belum melihat mandau sejak kemarin.

"Tante ... Memangnya apa yang sebenarnya terjadi dengan Om Dewa? Papa, Opa, sama Om Gio mau apa ke tempat itu?" tanyaku penasaran. Karena aku belum juga mendapat kabar dan informasi apa pun, apa dan sedang apa mereka di sana. Bahkan tempatnya juga aku tidak tau di mana.

"Hm. Tante juga kurang tau, Bil. Yang jelas, kematian Dewa bukan murni kecelakaan. Kamu mencurigai kalau dia sengaja dicelakai. Tetapi bagaimana dan oleh siapa, kami belum tau. Karena itu, mereka mencari jejak atau informasi apa pun yang mungkin tertinggal di tempat kejadian.

"Apa om Dewa punya musuh, Tante?"

"Kalau Rani bilang, Dewa sama sekali nggak punya musuh, Bil. Dia orang baik, sering membantu orang, walau dia selalu berpindah tempat, tapi di semua tempat yang dia datangi, dia nggak pernah membuat masalah."

"Tante ... Terkadang orang jahat ke kita juga nggak selalu karena kita jahat juga, kan? Mungkin ada yang nggak suka atau dengki sama Om Dewa, bisa jadi, kan?"

Tante Jean mengangguk sambil melamun. "Kamu bener juga. Nggak sangka, Nabila sudah besar. Papa kamu pasti bangga punya anak seperti kamu."

"Ah, tante bisa saja!"

Sampai malam, Papa belum juga pulang atau bahkan ada kabar. Sampai akhirnya adik om Dewa datang dengan tergopoh-gopoh. Dia adalah orang yang ikut mengantar Papa, Opa, dan Om Gio ke tempat itu. Tapi kenapa dia pulang seorang diri?
unclevello
tariganna
regmekujo
regmekujo dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.