- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.4K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#20
Spoiler for 19. Hilangnya Penunjuk Arah.:
Sore hari, dengan matahari yang akan segera terbenam. Damar meletakkan bunga di atas tanah galian, di mana ada nisan bernama yang ia kenal. Ia menghela nafas panjang seraya menatap ke arah nisan tersebut, kemudian Damar memejamkan matanya untuk berdoa. Ia kembali membuka matanya lalu menghela nafas singkat.
“Semuanya akan tuntas dok.” Ucap Damar seorang diri.
Damar pun pergi meninggalkan makam Kania, ia berjalan dengan santai seraya menyalakan sebatang rokok. Damar semakin menjauh hingga ia berada di pintu gerbang pemakaman.
Seseorang pun memandang dari kejauhan, berlindung di balik pohon besar, sampai akhirnya ia berjalan mendekat menuju makam Kania setelah Damar tak lagi nampak. Ia berdiri, menatap ke arah nisan bernama, seperti apa yang sebelumnya Damar lakukan.
Sementara itu, Damar pun turun dari bus lalu menyeberangi jalan. Ia kembali masuk ke dalam kantor dan langsung menuju ruangannya. Sudah ada Ali yang sedang menghisap rokok seraya menatap ke arah luar lewat jendela. Ia pun beralih menatap Damar yang datang mendekat ke arahnya.
“Wajar kalau Sasa punya banyak benang jahit.” Sahut Ali.
“Terus gimana dong?” Tanya Damar.
“Apa kita perlu interogasi Talia lagi?” Tanya Ali.
“Perlu ngga perlu sih.” Jawab Damar.
“Lo penasaran ngga sih sama Agung?” Tanya Ali.
“Pak Agung? Penasaran gimana?” Ucap Damar.
“Gue ngerasa, kayaknya alasan untuk bertindak di luar hukum cuma jadi tameng aja. Ngga mungkin untuk ukuran orang kayak dia mau ngelakuin itu hanya karena kasus ini aja.” Jawab Ali.
“Ngga ada yang tau perasaan orang Li.” Sahut Damar.
“Gue mau pantau pergerakannya dia malam ini.” Ucap Ali.
“Ngikutin dia gitu?” Tanya Damar.
Ali mengangguk, “Ngga ada salahnya kan? Semisal ngga terbukti pun gue ngga ngerugiin dia, ini salah satu upaya kita setelah apa yang udah dia lakuin.”
“Setuju sih.” Ucap Damar singkat.
“Lo ikut ngga?” Tanya Ali.
Ctek!Korek api pun membakar sebatang rokok yang sedang dihisap. Asapnya pun berhembus dari mulut Agung yang masih berada di dalam ruangannya pada malam ini. Tok! Tok! Tok! Ajudan Agung masuk ke dalam ruangan.
“Lapor Komandan, mobil sudah siap.” Ucapnya.
“Saya mau pulang sendiri malam ini.” Sahut Agung.
“Ada apa ya Komandan?” Tanya Ajudan heran.
“Nggapapa, saya lagi mau nyetir aja...”
Agung bangun dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah ajudannya. Ia meraih dompet di saku lalu mengeluarkan beberapa lembar uang yang ia berikan kepada ajudannya.
“...ini buat ongkos kamu pulang sama besok ke rumah saya lagi.” Ucapnya.
“Siap Komandan...” Ajudan memberikan kunci, “ini kuncinya. Kalau gitu, mohon izin pulang Komandan. Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya.”
Agung menganggukkan kepalanya. Beberapa menit berlalu, Agung mematikan rokoknya ke dalam asbak. Ia pun keluar dari ruangan lalu mengunci pintu. Agung berjalan keluar dari gedung menuju di mana mobilnya terparkir. Suasana kantor sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang berjaga pada malam ini.
Agung pun masuk ke dalam mobil untuk kembali ke rumah. Suasana malam tidak seramai biasanya, Agung membuka kaca jendela lalu menyalakan sebatang rokok. Ia pun menyalakan radio untuk menemaninya selama perjalanan. Lantunan lagu pun terdengar, Agung menganggukkan kepalanya mengikuti irama dari lagu tersebut.
Beberapa saat di perjalanan, akhirnya Agung tiba. Ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan, kemudian ia keluar dari mobil dan berjalan menuju rumahnya. Agung merogoh saku, ia mengambil kunci untuk membuka pintu. Setelah itu, ia masuk ke dalam rumah.
Agung berlalu melewati ruang tamu yang sudah gelap, kemudian ia membuka pintu yang ada di samping secara perlahan. Ia dapat melihat anaknya yang sudah tertidur dengan lelap di atas kasur. Ia kembali menutup pintu dan berlalu menaiki anak tangga.
Agung kembali membuka sebuah pintu, ia melihat istrinya yang juga sudah tertidur di atas kasur. Agung berjalan mendekat dengan pelan ke arah istrinya yang tidur membelakanginya. Agung mengecup sisi kepala istrinya dengan hangat, kemudian ia kembali keluar dari dalam kamar. Agung pun kembali berjalan menuju ruangan yang ada di samping, yang merupakan ruang kerjanya.
Agung membuka pintu tersebut untuk masuk ke dalam, namun langkahnya terhenti begitu saja. Matanya terbuka dengan lebar ketika melihat istrinya yang sudah mati dengan posisi berdiri dan bersandar pada dinding. Tangannya membentang ke samping dengan jahitan disekelilingnya, yang menopang tubuh tak berdaya. Sebilah pisau sudah menancap di atas kepalanya, perutnya pun sudah terbelah dan ususnya sudah terburai menggantung keluar.
Agung mendekat perlahan, tubuhnya bergetar tak percaya, hingga tetesan air mata keluar begitu saja. Pikirannya bergerak lebih cepat ketika sebelumnya ia mencium istrinya yang tertidur di atas kasur. Dengan cepat ia keluar dari ruangannya dan kembali bergegas menuju kamarnya. Ia kembali dibuat terkejut ketika tidak ada orang di atas kasur. Nafasnya terengah-engah seraya melihat ke arah sekeliling, ia mencari-cari sekiranya adakah tanda-tanda orang bisa masuk ke dalam kamarnya.
Agung keluar dari kamarnya dan berlalu menuju lantai bawah. Ia membuka pintu kamar anaknya dan menemukan anaknya yang masih tertidur. Ia berjalan mendekat dan membuka selimut yang menutupi tubuh anaknya. Agung kembali dibuat tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Didapatinya tubuh anaknya yang sudah bersimbah darah dengan pisau yang menancap pada perutnya. Matanya masih menatap dalam raga yang sudah tak bernyawa, Agung pun berteriak histeris tak percaya. Ia melihat ke arah sekeliling untuk mencari adakah celah seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Agung keluar dari kamar anaknya, ia kembali menghentikan langkahnya ketika ia melihat seseorang yang mengenakan alat pelindung diri lengkap berwarna hitam, dari ujung kepala hingga sepatunya. Sarung tangan karet yang ia kenakan pun menggenggam sebilah pisau yang sudah ternoda dengan darah. Wajahnya pun ditutup dengan topeng kain dan kacamata dengan warna hitam yang senada.
“Siapa lo!” Ucap Agung.
Terdengar suara tawa pelan, Agung semakin terkejut ketika mendengar suara tawa itu merupakan suara tawa seorang wanita. Agung mengarahkan tangannya ke arah samping di mana pistolnya tersimpan, sayangnya pistolnya tidak ada di sana. Ia kembali teringat bahwa hari ini ia tidak membawa pistol dan menyimpannya di dalam lemari pakaian di kamarnya. Pergerakannya seakan terbaca, pelaku itu berjalan cepat mendekat ke arahnya. Tangannya mengayunkan pisau ke arah depan, Agung berhasil menghindar dan mendorong pelaku hingga menjauh darinya. Kesempatan ini dimanfaatkan Agung untuk berlari menuju lantai atas.
Dengan cepat Agung berlari menuju kamarnya, sayangnya pelaku pun juga mengejar dengan kecepatan yang tak terduga. Ia mengayunkan pisau dari belakang, namun Agung kembali menghindar dengan menundukkan badannya. Agung berhasil membuka pintu dan berada di balik pintu. Terjadi adu kekuatan mendorong pintu antara pelaku dan Agung. Pelaku menancapkan pisau hingga menembus pintu, jaraknya hanya dua ruas jari dari pandangan Agung.
Dengan cepat Agung melepas dorongannya hingga berhasil membuat pelaku terjatuh, ia bergegas untuk mengambil pistol di lemari. Sayangnya pintu lemari terkunci, Agung melihat ke arah lubang kunci, namun tidak menemukan kuncinya di sana. Ia melihat ke arah meja di mana biasanya kunci lemari berada, dengan cepat ia beranjak menuju meja untuk mencari kunci tersebut.
Bersamaan dengan itu pula, pelaku bangun dan kembali berlari menuju Agung. Ia mengarahkan pisau ke punggung dengan cukup keras, hingga berhasil menancap dan membuat Agung tersungkur. Agung berlutut di depan meja, ia pun menahan rasa sakit dari pisau tersebut. Ia menatap ke arah pelaku yang berjalan pelan dan mendekat ke arahnya. Secara perlahan, pelaku mencabut pisau dari punggung Agung. Tentunya Agung merasakan sakit yang luar biasa dari tindakan pelaku, hingga pisau pun kembali pada genggaman pelaku.
Terdengar lagi suara tawa dari pelaku, Agung yang mendengar itu sudah tidak berdaya menatap ke arahnya. Pelaku kembali mengangkat tangannya untuk kembali menusukan pisau ke arah Agung. Namun dengan sekuat tenaga, Agung menabrakan dirinya pada pelaku, hingga kepala mereka beradu. Pelaku pun tersungkur, dan dengan tenaga yang tersisa, Agung kembali bangun untuk mengambil kunci yang ada di meja.
Agung mengerang kesakitan, ia pun memejamkan matanya beberapa kali seraya berlutut di depan meja. Tangannya mencoba meraih kunci tanpa bantuan pandangannya, dan berhasil. Kunci pun ia genggam, dan dengan tertatih, Agung beranjak menuju lemari. Agung memasukkan kunci ke dalam lubang dengan tubuhnya yang sudah bergetar hebat, menahan sakit yang ada di punggungnya dengan sekuat tenaga. Bersamaan dengan itu pula, sang pelaku mencoba kembali bangun seraya memegang kepalanya. Ia pun meraih pisau yang terlepas tidak jauh dari tangannya.
Ckrek! Agung berhasil membuka lemari, ia mencoba untuk meraih pistol yang ada di dalam lemari. Bersamaan dengan itu pula, pelaku berlari dengan cepat seraya menghunuskan pisau ke arah depan. Agung membalikkan badan dengan pistol yang sudah ada di genggamannya, ibu jarinya melepas pengaman pada pistol dan DOR!
*
“Lo yakin nih?” Tanya Damar.
Ali menganggukkan kepalanya tanpa memandang ke arah Damar, terlebih ia sedang mengemudikan mobilnya pada malam ini. Damar menghela nafasnya, kemudian ia membuka kaca jendela lalu menyalakan sebatang rokok. Ia menatap kaca spion samping dan melihat ke arah belakang dengan pikirannya yang sedang bermain-main dengan liarnya.
Pencariannya terhadap Sasa menghasilkan banyaknya penemuan benang jahit. Itu semua masih berhubungan dengan pekerjaannya, namun meninggalkan kesan curiga. Sementara pada Anggi yang dilakukan oleh Ali, tidak ada satupun penemuan yang mengarahkannya sebagai pelaku. Damar pun mencoba memikirkan siapa lagi terduga yang kira-kira mempunyai kemungkinan untuk menjadi pelaku, dan nama Agung pun kembali terlintas.
Damar menghisap rokoknya, dan asapnya pun menghilang dalam sekejap karena angin malam yang menyambut. Bersamaan dengan itu, Ali memutar setir kemudi dan membelokkan mobil ke persimpangan jalan. Ia memelankan laju mobil ketika mereka akan segera tiba di lokasi.
“Udah mau sampai nih.” Ucap Ali.
Damar kembali menghisap rokok dan membuang puntung yang masih menyala ke luar, hingga Ali pun menghentikan mobilnya tepat di seberang rumah Agung. Damar memeriksa barang bawaannya, sementara Ali menajamkan matanya ke arah seberang. DOR! Ali dan Damar dibuat terkejut dengan suara tersebut, Ali sempat menatap ke arah Damar dan beradu tatap dalam diam.
“Lo denger kan?” Tanya Ali.
“Ayo cepet keluar!” Ucap Damar.
“Bawa pistol!” Ucap Ali.
Damar membuka laci mobil untuk mengambil pistol, ia membawa pistol tersebut di tangannya. Mereka keluar dari mobil dan bergegas ke seberang jalan, Damar sudah memposisikan pistolnya dalam posisi siaga. Ali bersandar pada dinding di samping pintu, Damar pun menunggu. Mereka saling beradu pandang dan menganggukkan kepala, Ali pun membuka pintu, lalu Damar masuk ke dalam terlebih dahulu disusul Ali yang berjalan sambil memegang pundak kiri Damar.
Damar mengarahkan pistolnya ke arah pintu yang terbuka, mereka pun berjalan mendekat ke arah kamar anaknya Agung. Dari luar pun mereka dapat melihat korban yang sudah tak bernyawa di atas kasur, terlebih selimut yang sebelumnya sudah dibuka oleh Agung.
“Itu... siapa?” Tanya Damar.
“Kayaknya...”
“Ssst!...”
Tek! Tek! Tek! Terdengar suara yang berasal dari lantai atas hingga membuat Damar memerintahkan Ali untuk diam, ia pun menunjuk ke arah atas beberapa kali. Ali mengangguk mengerti, mereka berjalan dengan pelan menuju anak tangga. Damar mengepal tangan kirinya di samping telinga, Ali pun menghentikan langkahnya setelah melihat instruksi tersebut. Damar menyentuh telinganya dengan jari telunjuk beberapa kali, Ali pun fokus untuk mendengarkan.
“Hm... Hmm hm... Hmmm hm...”
Ali menelan ludahnya ketika mendengar suara wanita yang sedang bersenandung tanpa kata-kata, ia pun menguatkan genggamannya pada pundak Damar. Hanya berselang beberapa detik saja, Damar merentangkan jari tangan kirinya di samping telinga, Ali pun menepuk pundak Damar tiga kali pertanda setuju. Mereka kembali berjalan menaiki anak tangga menuju pintu di mana suara wanita itu berasal.
Ali dan Damar menghentikan langkahnya, tepat sebelum mereka memasuki ruangan yang dituju. Damar menghela nafasnya panjang, sampai akhirnya Ali menepuk pundaknya satu kali dan secara cepat mereka beranjak masuk ke dalam ruangan itu. Hanya satu langkah dari pintu, mereka kembali menghentikan langkah secara bersamaan.
Damar tak melepas posisi siaganya dengan mengarahkan pistol ke arah depan, namun tangannya bergetar ketika melihat apa yang ada di hadapannya. Pelaku sedang menjahit secara manual dengan tangannya, ia menjahit seluruh tubuh Agung pada kursi. Pelaku menarik benang hingga terlihat kulit Agung yang tertarik, kemudian ia membuat simpul mati sebagai tanda pekerjaannya sudah selesai.
“Angkat tangan!...”
Pelaku nampak sedikit terkejut setelah mendengar suara Damar. Ia terdiam sesaat lalu bangun dari duduknya membelakangi mereka.
"...jangan bergerak atau saya tembak!” Ucap Damar.
DOR! Pelaku membalikkan badannya dengan cepat dan melepas peluru dari pistol yang ada di tangan kirinya. Peluru pun bersarang pada dada Damar hingga ia tersungkur, namun berhasil ditahan oleh Ali dari belakang hingga ia terduduk.
“Mar!...”
Ali menepuk pipi Damar beberapa kali ketika ia mendapati mata Damar yang tertutup setengah.
“...Mar, bangun Mar!” Teriak Ali.
Pelaku sempat terdiam menatap ke arah mereka, tangan kirinya yang sedang memegang pistol pun bergetar. Ali pun merebut pistol yang berada pada tangan Damar, bersamaan dengan pelaku yang berlari ke arah jendela. DOR! Tembakan Ali meleset ke arah kaca jendela hingga pecah tak beraturan, pelaku pun memanfaatkan itu untuk keluar lewat jendela tersebut.
DOR! Ali kembali melepas peluru namun hanya mengenai kayu yang menopang kaca, pelaku pun berhasil lari dari pandangannya. Ali kembali menatap Damar yang semakin terpejam, ia pun kembali menepuk pipi Damar beberapa kali dengan keras.
“Mar, tahan Mar...”
Ali meraih ponselnya dari saku celana untuk menghubungi ambulans dan pihak kepolisian.
“...Halo, saya Ali Mahardika dari detektif. Saya minta pertolongan ambulans di Perumahan Bina nomor tiga belas. Ada satu korban penembakan yang membutuhkan pertolongan dengan segera, saya minta cepat!...”
Ali menekan nomor lain.
“...Halo, saya Ali Mahardika dari detektif. Ada kasus pembunuhan di Perumahan Bina nomor tiga belas. Ada beberapa korban, salah satu di antaranya tertembak di dada. Segera kirim pasukan sekarang!...”
Ali mematikan panggilan tersebut dan kembali menatap Damar.
“...Mar, bantuan segera datang. Tahan Mar.” Ucapnya.
Ali mencoba menghentikan pendarahan yang berasal dari dada Damar dengan tangannya, secara perlahan tangan Damar menggenggam tangan Ali. Ia terdengar bergumam dengan tidak jelas, Ali mendekatkan wajahnya pada Damar untuk mendengar apa yang coba diucapkan oleh Damar.
“Ti... Titip...” Damar menghela nafasnya, “Sa... Sasa.”
“Ngga! Lo akan baik-baik aja.” Ucap Ali.
Genggaman Damar semakin melemah, Ali menekan dada Damar lebih kuat untuk menghentikan pendarahan. Ia pun tak kuasa menahan air matanya, melihat Damar yang semakin tak berdaya di hadapannya.
“Mar, tahan Mar...”
Satu ambulans bersama beberapa mobil kepolisian datang. Dua petugas ambulans mengeluarkan kasur lipat dari belakang dan berlari ke dalam. Beberapa petugas kepolisian membuat barikade untuk mencegah orang lain dari luar, dan beberapa lainnya masuk ke dalam rumah. Seorang petugas berposisi siaga dengan mengarahkan pistol ke arah depan, ia masuk terlebih dahulu untuk memastikan keadaan, diikuti petugas ambulans dan anggota kepolisian lain.
Beberapa petugas mendekat ke arah kamar di mana anak Agung sudah terbaring tak bernyawa. Sisanya berjalan menaiki anak tangga, hingga mereka masuk ke dalam ruangan di mana Ali sudah terduduk seraya menangis di hadapan Damar, yang sudah melepas genggamannya dan menutup matanya. Petugas ambulans mendekat untuk memeriksa denyut nadi di tangan Damar, tidak ada tanda-tanda yang tersisa. Ali menangis semakin menjadi, ketika petugas tersebut menyilangkan kedua tanganya.
“Jangan pergi Mar...”
Hilang arah, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana saat ini. Kompas yang selama ini menunjukkan jalan pun hilang, tenggelam di lautan dalam yang entah di mana dasarnya. Membuat pendayung kapal kayu yang sedang terombang-ambing pun mematung, membiarkan arus dengan sengaja mengambil alih kemudi entah ke mana arahnya. Pendayung itu hanya bisa menangisi keadaannya, kehilangan kompas berharganya yang selama ini ia jaga sebaik mungkin.
Ali hanya bisa menangis seraya memandangi Damar yang sudah tak bernyawa, terbaring di atas kasur ditutupi selimut putih. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, seseorang yang sudah menjadi rekanannya sejak memulai karir bersama-sama, harus mati begitu saja. Ali menyesali perbuatannya, harusnya ia yang memegang pistol, berada di depan, dan berada di atas kasur itu.
Brak! Pintu terbuka dengan keras dari luar. Sasa berlari dengan cepat disusul Anggi, hingga ia menghentikan langkahnya di samping kasur. Tangisnya sudah tak terbendung, tangannya yang bergetar pun membuka selimut secara perlahan. Tangisannya semakin menjadi ketika ia melihat Damar dengan wajah pucat yang sudah memejamkan matanya, Anggi yang juga sudah meneteskan air mata pun merangkul Sasa.
“Damar...”
Sasa tak bisa menahan sakit yang ia rasakan.
“...jangan pergi.” Ucapnya.
Anggi menguatkan genggamannya pada pundak Sasa, tak ada sepatah kata yang bisa ia ucapkan untuk menguatkan keadaan saat ini. Sasa memegang kepala Damar dengan kedua tangannya, ia mencium keningnya dengan tubuh yang bergetar. Ali pun berjalan mendekat ke belakang Sasa, Anggi menyadari kedatangannya hingga ia menoleh ke arahnya. Ali berlutut di hadapan Sasa seraya memejamkan matanya.
“Sa... maafin gue Sa...”
Secara perlahan, Sasa pun menatap Ali yang sudah berlutut.
“...gue ngga berhasil... lindungin Damar....”
Sasa dan Anggi pun ikut berlutut di hadapan Ali.
“...harusnya... gue yang mati...”
Plak!Sasa menampar Ali dengan cepat, tentunya itu membuat Anggi terkejut. Tamparan itu berhasil membuat Ali menghentikan ucapannya, ia pun membuka matanya yang sudah berlinang air mata. Ali memberanikan diri untuk menatap mata Sasa, hingga adu pandang pun terjadi.
“Bang Ali... nggapapa kan? Ada yang luka?” Tanya Sasa.
Pertanyaan Sasa semakin membuat Ali merasa bersalah, hingga ia kembali menangis. Sasa pun meraih tangan Ali dan mengusapnya dengan ibu jarinya.
“Makasih ya Bang Ali... udah jadi temen yang baik, jadi rekan yang sabar... sampai akhir hidupnya Damar. Sekarang, Damar... udah bisa tidur dengan nyenyak...”
Ali tak menghentikan tangisnya.
“...maafin Damar ya kalau dia punya salah, kalau dia suka ngerepotin, maafin ya Bang.” Ucap Sasa.
“Damar ngga pernah ngerepotin, Damar... ngga punya salah...”
Ucapan Ali kembali terhenti ketika Sasa memeluknya dengan hangat, ia tak mampu melanjutkan ucapannya ketika tangisnya lebih menggambarkan perasaannya saat ini. Anggi pun memeluk mereka berdua dengan tubuhnya yang bergetar tak bisa menahan kesedihan yang terjadi di hadapannya.
Kesedihan yang terasa atas kehilangan sosok berharga, membekas selama-lamanya. Mungkin akan hilang, namun tak selamanya. Penyesalan pun sama, selalu berandai-andai jika itu semua tak terjadi. Semuanya sudah terjadi dan tak bisa diulang dengan skenario yang lebih baik, meninggalkan yang tersisa, untuk melanjutkan hidup bagaimanapun keadaannya. Lalu, bagaimana caranya?
“Semuanya akan tuntas dok.” Ucap Damar seorang diri.
Damar pun pergi meninggalkan makam Kania, ia berjalan dengan santai seraya menyalakan sebatang rokok. Damar semakin menjauh hingga ia berada di pintu gerbang pemakaman.
Seseorang pun memandang dari kejauhan, berlindung di balik pohon besar, sampai akhirnya ia berjalan mendekat menuju makam Kania setelah Damar tak lagi nampak. Ia berdiri, menatap ke arah nisan bernama, seperti apa yang sebelumnya Damar lakukan.
Sementara itu, Damar pun turun dari bus lalu menyeberangi jalan. Ia kembali masuk ke dalam kantor dan langsung menuju ruangannya. Sudah ada Ali yang sedang menghisap rokok seraya menatap ke arah luar lewat jendela. Ia pun beralih menatap Damar yang datang mendekat ke arahnya.
“Wajar kalau Sasa punya banyak benang jahit.” Sahut Ali.
“Terus gimana dong?” Tanya Damar.
“Apa kita perlu interogasi Talia lagi?” Tanya Ali.
“Perlu ngga perlu sih.” Jawab Damar.
“Lo penasaran ngga sih sama Agung?” Tanya Ali.
“Pak Agung? Penasaran gimana?” Ucap Damar.
“Gue ngerasa, kayaknya alasan untuk bertindak di luar hukum cuma jadi tameng aja. Ngga mungkin untuk ukuran orang kayak dia mau ngelakuin itu hanya karena kasus ini aja.” Jawab Ali.
“Ngga ada yang tau perasaan orang Li.” Sahut Damar.
“Gue mau pantau pergerakannya dia malam ini.” Ucap Ali.
“Ngikutin dia gitu?” Tanya Damar.
Ali mengangguk, “Ngga ada salahnya kan? Semisal ngga terbukti pun gue ngga ngerugiin dia, ini salah satu upaya kita setelah apa yang udah dia lakuin.”
“Setuju sih.” Ucap Damar singkat.
“Lo ikut ngga?” Tanya Ali.
Ctek!Korek api pun membakar sebatang rokok yang sedang dihisap. Asapnya pun berhembus dari mulut Agung yang masih berada di dalam ruangannya pada malam ini. Tok! Tok! Tok! Ajudan Agung masuk ke dalam ruangan.
“Lapor Komandan, mobil sudah siap.” Ucapnya.
“Saya mau pulang sendiri malam ini.” Sahut Agung.
“Ada apa ya Komandan?” Tanya Ajudan heran.
“Nggapapa, saya lagi mau nyetir aja...”
Agung bangun dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah ajudannya. Ia meraih dompet di saku lalu mengeluarkan beberapa lembar uang yang ia berikan kepada ajudannya.
“...ini buat ongkos kamu pulang sama besok ke rumah saya lagi.” Ucapnya.
“Siap Komandan...” Ajudan memberikan kunci, “ini kuncinya. Kalau gitu, mohon izin pulang Komandan. Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya.”
Agung menganggukkan kepalanya. Beberapa menit berlalu, Agung mematikan rokoknya ke dalam asbak. Ia pun keluar dari ruangan lalu mengunci pintu. Agung berjalan keluar dari gedung menuju di mana mobilnya terparkir. Suasana kantor sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang berjaga pada malam ini.
Agung pun masuk ke dalam mobil untuk kembali ke rumah. Suasana malam tidak seramai biasanya, Agung membuka kaca jendela lalu menyalakan sebatang rokok. Ia pun menyalakan radio untuk menemaninya selama perjalanan. Lantunan lagu pun terdengar, Agung menganggukkan kepalanya mengikuti irama dari lagu tersebut.
Beberapa saat di perjalanan, akhirnya Agung tiba. Ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan, kemudian ia keluar dari mobil dan berjalan menuju rumahnya. Agung merogoh saku, ia mengambil kunci untuk membuka pintu. Setelah itu, ia masuk ke dalam rumah.
Agung berlalu melewati ruang tamu yang sudah gelap, kemudian ia membuka pintu yang ada di samping secara perlahan. Ia dapat melihat anaknya yang sudah tertidur dengan lelap di atas kasur. Ia kembali menutup pintu dan berlalu menaiki anak tangga.
Agung kembali membuka sebuah pintu, ia melihat istrinya yang juga sudah tertidur di atas kasur. Agung berjalan mendekat dengan pelan ke arah istrinya yang tidur membelakanginya. Agung mengecup sisi kepala istrinya dengan hangat, kemudian ia kembali keluar dari dalam kamar. Agung pun kembali berjalan menuju ruangan yang ada di samping, yang merupakan ruang kerjanya.
Agung membuka pintu tersebut untuk masuk ke dalam, namun langkahnya terhenti begitu saja. Matanya terbuka dengan lebar ketika melihat istrinya yang sudah mati dengan posisi berdiri dan bersandar pada dinding. Tangannya membentang ke samping dengan jahitan disekelilingnya, yang menopang tubuh tak berdaya. Sebilah pisau sudah menancap di atas kepalanya, perutnya pun sudah terbelah dan ususnya sudah terburai menggantung keluar.
Agung mendekat perlahan, tubuhnya bergetar tak percaya, hingga tetesan air mata keluar begitu saja. Pikirannya bergerak lebih cepat ketika sebelumnya ia mencium istrinya yang tertidur di atas kasur. Dengan cepat ia keluar dari ruangannya dan kembali bergegas menuju kamarnya. Ia kembali dibuat terkejut ketika tidak ada orang di atas kasur. Nafasnya terengah-engah seraya melihat ke arah sekeliling, ia mencari-cari sekiranya adakah tanda-tanda orang bisa masuk ke dalam kamarnya.
Agung keluar dari kamarnya dan berlalu menuju lantai bawah. Ia membuka pintu kamar anaknya dan menemukan anaknya yang masih tertidur. Ia berjalan mendekat dan membuka selimut yang menutupi tubuh anaknya. Agung kembali dibuat tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Didapatinya tubuh anaknya yang sudah bersimbah darah dengan pisau yang menancap pada perutnya. Matanya masih menatap dalam raga yang sudah tak bernyawa, Agung pun berteriak histeris tak percaya. Ia melihat ke arah sekeliling untuk mencari adakah celah seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Agung keluar dari kamar anaknya, ia kembali menghentikan langkahnya ketika ia melihat seseorang yang mengenakan alat pelindung diri lengkap berwarna hitam, dari ujung kepala hingga sepatunya. Sarung tangan karet yang ia kenakan pun menggenggam sebilah pisau yang sudah ternoda dengan darah. Wajahnya pun ditutup dengan topeng kain dan kacamata dengan warna hitam yang senada.
“Siapa lo!” Ucap Agung.
Terdengar suara tawa pelan, Agung semakin terkejut ketika mendengar suara tawa itu merupakan suara tawa seorang wanita. Agung mengarahkan tangannya ke arah samping di mana pistolnya tersimpan, sayangnya pistolnya tidak ada di sana. Ia kembali teringat bahwa hari ini ia tidak membawa pistol dan menyimpannya di dalam lemari pakaian di kamarnya. Pergerakannya seakan terbaca, pelaku itu berjalan cepat mendekat ke arahnya. Tangannya mengayunkan pisau ke arah depan, Agung berhasil menghindar dan mendorong pelaku hingga menjauh darinya. Kesempatan ini dimanfaatkan Agung untuk berlari menuju lantai atas.
Dengan cepat Agung berlari menuju kamarnya, sayangnya pelaku pun juga mengejar dengan kecepatan yang tak terduga. Ia mengayunkan pisau dari belakang, namun Agung kembali menghindar dengan menundukkan badannya. Agung berhasil membuka pintu dan berada di balik pintu. Terjadi adu kekuatan mendorong pintu antara pelaku dan Agung. Pelaku menancapkan pisau hingga menembus pintu, jaraknya hanya dua ruas jari dari pandangan Agung.
Dengan cepat Agung melepas dorongannya hingga berhasil membuat pelaku terjatuh, ia bergegas untuk mengambil pistol di lemari. Sayangnya pintu lemari terkunci, Agung melihat ke arah lubang kunci, namun tidak menemukan kuncinya di sana. Ia melihat ke arah meja di mana biasanya kunci lemari berada, dengan cepat ia beranjak menuju meja untuk mencari kunci tersebut.
Bersamaan dengan itu pula, pelaku bangun dan kembali berlari menuju Agung. Ia mengarahkan pisau ke punggung dengan cukup keras, hingga berhasil menancap dan membuat Agung tersungkur. Agung berlutut di depan meja, ia pun menahan rasa sakit dari pisau tersebut. Ia menatap ke arah pelaku yang berjalan pelan dan mendekat ke arahnya. Secara perlahan, pelaku mencabut pisau dari punggung Agung. Tentunya Agung merasakan sakit yang luar biasa dari tindakan pelaku, hingga pisau pun kembali pada genggaman pelaku.
Terdengar lagi suara tawa dari pelaku, Agung yang mendengar itu sudah tidak berdaya menatap ke arahnya. Pelaku kembali mengangkat tangannya untuk kembali menusukan pisau ke arah Agung. Namun dengan sekuat tenaga, Agung menabrakan dirinya pada pelaku, hingga kepala mereka beradu. Pelaku pun tersungkur, dan dengan tenaga yang tersisa, Agung kembali bangun untuk mengambil kunci yang ada di meja.
Agung mengerang kesakitan, ia pun memejamkan matanya beberapa kali seraya berlutut di depan meja. Tangannya mencoba meraih kunci tanpa bantuan pandangannya, dan berhasil. Kunci pun ia genggam, dan dengan tertatih, Agung beranjak menuju lemari. Agung memasukkan kunci ke dalam lubang dengan tubuhnya yang sudah bergetar hebat, menahan sakit yang ada di punggungnya dengan sekuat tenaga. Bersamaan dengan itu pula, sang pelaku mencoba kembali bangun seraya memegang kepalanya. Ia pun meraih pisau yang terlepas tidak jauh dari tangannya.
Ckrek! Agung berhasil membuka lemari, ia mencoba untuk meraih pistol yang ada di dalam lemari. Bersamaan dengan itu pula, pelaku berlari dengan cepat seraya menghunuskan pisau ke arah depan. Agung membalikkan badan dengan pistol yang sudah ada di genggamannya, ibu jarinya melepas pengaman pada pistol dan DOR!
*
“Lo yakin nih?” Tanya Damar.
Ali menganggukkan kepalanya tanpa memandang ke arah Damar, terlebih ia sedang mengemudikan mobilnya pada malam ini. Damar menghela nafasnya, kemudian ia membuka kaca jendela lalu menyalakan sebatang rokok. Ia menatap kaca spion samping dan melihat ke arah belakang dengan pikirannya yang sedang bermain-main dengan liarnya.
Pencariannya terhadap Sasa menghasilkan banyaknya penemuan benang jahit. Itu semua masih berhubungan dengan pekerjaannya, namun meninggalkan kesan curiga. Sementara pada Anggi yang dilakukan oleh Ali, tidak ada satupun penemuan yang mengarahkannya sebagai pelaku. Damar pun mencoba memikirkan siapa lagi terduga yang kira-kira mempunyai kemungkinan untuk menjadi pelaku, dan nama Agung pun kembali terlintas.
Damar menghisap rokoknya, dan asapnya pun menghilang dalam sekejap karena angin malam yang menyambut. Bersamaan dengan itu, Ali memutar setir kemudi dan membelokkan mobil ke persimpangan jalan. Ia memelankan laju mobil ketika mereka akan segera tiba di lokasi.
“Udah mau sampai nih.” Ucap Ali.
Damar kembali menghisap rokok dan membuang puntung yang masih menyala ke luar, hingga Ali pun menghentikan mobilnya tepat di seberang rumah Agung. Damar memeriksa barang bawaannya, sementara Ali menajamkan matanya ke arah seberang. DOR! Ali dan Damar dibuat terkejut dengan suara tersebut, Ali sempat menatap ke arah Damar dan beradu tatap dalam diam.
“Lo denger kan?” Tanya Ali.
“Ayo cepet keluar!” Ucap Damar.
“Bawa pistol!” Ucap Ali.
Damar membuka laci mobil untuk mengambil pistol, ia membawa pistol tersebut di tangannya. Mereka keluar dari mobil dan bergegas ke seberang jalan, Damar sudah memposisikan pistolnya dalam posisi siaga. Ali bersandar pada dinding di samping pintu, Damar pun menunggu. Mereka saling beradu pandang dan menganggukkan kepala, Ali pun membuka pintu, lalu Damar masuk ke dalam terlebih dahulu disusul Ali yang berjalan sambil memegang pundak kiri Damar.
Damar mengarahkan pistolnya ke arah pintu yang terbuka, mereka pun berjalan mendekat ke arah kamar anaknya Agung. Dari luar pun mereka dapat melihat korban yang sudah tak bernyawa di atas kasur, terlebih selimut yang sebelumnya sudah dibuka oleh Agung.
“Itu... siapa?” Tanya Damar.
“Kayaknya...”
“Ssst!...”
Tek! Tek! Tek! Terdengar suara yang berasal dari lantai atas hingga membuat Damar memerintahkan Ali untuk diam, ia pun menunjuk ke arah atas beberapa kali. Ali mengangguk mengerti, mereka berjalan dengan pelan menuju anak tangga. Damar mengepal tangan kirinya di samping telinga, Ali pun menghentikan langkahnya setelah melihat instruksi tersebut. Damar menyentuh telinganya dengan jari telunjuk beberapa kali, Ali pun fokus untuk mendengarkan.
“Hm... Hmm hm... Hmmm hm...”
Ali menelan ludahnya ketika mendengar suara wanita yang sedang bersenandung tanpa kata-kata, ia pun menguatkan genggamannya pada pundak Damar. Hanya berselang beberapa detik saja, Damar merentangkan jari tangan kirinya di samping telinga, Ali pun menepuk pundak Damar tiga kali pertanda setuju. Mereka kembali berjalan menaiki anak tangga menuju pintu di mana suara wanita itu berasal.
Ali dan Damar menghentikan langkahnya, tepat sebelum mereka memasuki ruangan yang dituju. Damar menghela nafasnya panjang, sampai akhirnya Ali menepuk pundaknya satu kali dan secara cepat mereka beranjak masuk ke dalam ruangan itu. Hanya satu langkah dari pintu, mereka kembali menghentikan langkah secara bersamaan.
Damar tak melepas posisi siaganya dengan mengarahkan pistol ke arah depan, namun tangannya bergetar ketika melihat apa yang ada di hadapannya. Pelaku sedang menjahit secara manual dengan tangannya, ia menjahit seluruh tubuh Agung pada kursi. Pelaku menarik benang hingga terlihat kulit Agung yang tertarik, kemudian ia membuat simpul mati sebagai tanda pekerjaannya sudah selesai.
“Angkat tangan!...”
Pelaku nampak sedikit terkejut setelah mendengar suara Damar. Ia terdiam sesaat lalu bangun dari duduknya membelakangi mereka.
"...jangan bergerak atau saya tembak!” Ucap Damar.
DOR! Pelaku membalikkan badannya dengan cepat dan melepas peluru dari pistol yang ada di tangan kirinya. Peluru pun bersarang pada dada Damar hingga ia tersungkur, namun berhasil ditahan oleh Ali dari belakang hingga ia terduduk.
“Mar!...”
Ali menepuk pipi Damar beberapa kali ketika ia mendapati mata Damar yang tertutup setengah.
“...Mar, bangun Mar!” Teriak Ali.
Pelaku sempat terdiam menatap ke arah mereka, tangan kirinya yang sedang memegang pistol pun bergetar. Ali pun merebut pistol yang berada pada tangan Damar, bersamaan dengan pelaku yang berlari ke arah jendela. DOR! Tembakan Ali meleset ke arah kaca jendela hingga pecah tak beraturan, pelaku pun memanfaatkan itu untuk keluar lewat jendela tersebut.
DOR! Ali kembali melepas peluru namun hanya mengenai kayu yang menopang kaca, pelaku pun berhasil lari dari pandangannya. Ali kembali menatap Damar yang semakin terpejam, ia pun kembali menepuk pipi Damar beberapa kali dengan keras.
“Mar, tahan Mar...”
Ali meraih ponselnya dari saku celana untuk menghubungi ambulans dan pihak kepolisian.
“...Halo, saya Ali Mahardika dari detektif. Saya minta pertolongan ambulans di Perumahan Bina nomor tiga belas. Ada satu korban penembakan yang membutuhkan pertolongan dengan segera, saya minta cepat!...”
Ali menekan nomor lain.
“...Halo, saya Ali Mahardika dari detektif. Ada kasus pembunuhan di Perumahan Bina nomor tiga belas. Ada beberapa korban, salah satu di antaranya tertembak di dada. Segera kirim pasukan sekarang!...”
Ali mematikan panggilan tersebut dan kembali menatap Damar.
“...Mar, bantuan segera datang. Tahan Mar.” Ucapnya.
Ali mencoba menghentikan pendarahan yang berasal dari dada Damar dengan tangannya, secara perlahan tangan Damar menggenggam tangan Ali. Ia terdengar bergumam dengan tidak jelas, Ali mendekatkan wajahnya pada Damar untuk mendengar apa yang coba diucapkan oleh Damar.
“Ti... Titip...” Damar menghela nafasnya, “Sa... Sasa.”
“Ngga! Lo akan baik-baik aja.” Ucap Ali.
Genggaman Damar semakin melemah, Ali menekan dada Damar lebih kuat untuk menghentikan pendarahan. Ia pun tak kuasa menahan air matanya, melihat Damar yang semakin tak berdaya di hadapannya.
“Mar, tahan Mar...”
Satu ambulans bersama beberapa mobil kepolisian datang. Dua petugas ambulans mengeluarkan kasur lipat dari belakang dan berlari ke dalam. Beberapa petugas kepolisian membuat barikade untuk mencegah orang lain dari luar, dan beberapa lainnya masuk ke dalam rumah. Seorang petugas berposisi siaga dengan mengarahkan pistol ke arah depan, ia masuk terlebih dahulu untuk memastikan keadaan, diikuti petugas ambulans dan anggota kepolisian lain.
Beberapa petugas mendekat ke arah kamar di mana anak Agung sudah terbaring tak bernyawa. Sisanya berjalan menaiki anak tangga, hingga mereka masuk ke dalam ruangan di mana Ali sudah terduduk seraya menangis di hadapan Damar, yang sudah melepas genggamannya dan menutup matanya. Petugas ambulans mendekat untuk memeriksa denyut nadi di tangan Damar, tidak ada tanda-tanda yang tersisa. Ali menangis semakin menjadi, ketika petugas tersebut menyilangkan kedua tanganya.
“Jangan pergi Mar...”
*
Hilang arah, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana saat ini. Kompas yang selama ini menunjukkan jalan pun hilang, tenggelam di lautan dalam yang entah di mana dasarnya. Membuat pendayung kapal kayu yang sedang terombang-ambing pun mematung, membiarkan arus dengan sengaja mengambil alih kemudi entah ke mana arahnya. Pendayung itu hanya bisa menangisi keadaannya, kehilangan kompas berharganya yang selama ini ia jaga sebaik mungkin.
Ali hanya bisa menangis seraya memandangi Damar yang sudah tak bernyawa, terbaring di atas kasur ditutupi selimut putih. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, seseorang yang sudah menjadi rekanannya sejak memulai karir bersama-sama, harus mati begitu saja. Ali menyesali perbuatannya, harusnya ia yang memegang pistol, berada di depan, dan berada di atas kasur itu.
Brak! Pintu terbuka dengan keras dari luar. Sasa berlari dengan cepat disusul Anggi, hingga ia menghentikan langkahnya di samping kasur. Tangisnya sudah tak terbendung, tangannya yang bergetar pun membuka selimut secara perlahan. Tangisannya semakin menjadi ketika ia melihat Damar dengan wajah pucat yang sudah memejamkan matanya, Anggi yang juga sudah meneteskan air mata pun merangkul Sasa.
“Damar...”
Sasa tak bisa menahan sakit yang ia rasakan.
“...jangan pergi.” Ucapnya.
Anggi menguatkan genggamannya pada pundak Sasa, tak ada sepatah kata yang bisa ia ucapkan untuk menguatkan keadaan saat ini. Sasa memegang kepala Damar dengan kedua tangannya, ia mencium keningnya dengan tubuh yang bergetar. Ali pun berjalan mendekat ke belakang Sasa, Anggi menyadari kedatangannya hingga ia menoleh ke arahnya. Ali berlutut di hadapan Sasa seraya memejamkan matanya.
“Sa... maafin gue Sa...”
Secara perlahan, Sasa pun menatap Ali yang sudah berlutut.
“...gue ngga berhasil... lindungin Damar....”
Sasa dan Anggi pun ikut berlutut di hadapan Ali.
“...harusnya... gue yang mati...”
Plak!Sasa menampar Ali dengan cepat, tentunya itu membuat Anggi terkejut. Tamparan itu berhasil membuat Ali menghentikan ucapannya, ia pun membuka matanya yang sudah berlinang air mata. Ali memberanikan diri untuk menatap mata Sasa, hingga adu pandang pun terjadi.
“Bang Ali... nggapapa kan? Ada yang luka?” Tanya Sasa.
Pertanyaan Sasa semakin membuat Ali merasa bersalah, hingga ia kembali menangis. Sasa pun meraih tangan Ali dan mengusapnya dengan ibu jarinya.
“Makasih ya Bang Ali... udah jadi temen yang baik, jadi rekan yang sabar... sampai akhir hidupnya Damar. Sekarang, Damar... udah bisa tidur dengan nyenyak...”
Ali tak menghentikan tangisnya.
“...maafin Damar ya kalau dia punya salah, kalau dia suka ngerepotin, maafin ya Bang.” Ucap Sasa.
“Damar ngga pernah ngerepotin, Damar... ngga punya salah...”
Ucapan Ali kembali terhenti ketika Sasa memeluknya dengan hangat, ia tak mampu melanjutkan ucapannya ketika tangisnya lebih menggambarkan perasaannya saat ini. Anggi pun memeluk mereka berdua dengan tubuhnya yang bergetar tak bisa menahan kesedihan yang terjadi di hadapannya.
Kesedihan yang terasa atas kehilangan sosok berharga, membekas selama-lamanya. Mungkin akan hilang, namun tak selamanya. Penyesalan pun sama, selalu berandai-andai jika itu semua tak terjadi. Semuanya sudah terjadi dan tak bisa diulang dengan skenario yang lebih baik, meninggalkan yang tersisa, untuk melanjutkan hidup bagaimanapun keadaannya. Lalu, bagaimana caranya?
ø
0
Kutip
Balas