Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:


Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir. emoticon-Betty

Supernatural

Quote:


INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan

INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
indrag057Avatar border
bejo.gathelAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.6K
222
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#156
151. Jiwa Yang Hilang
Tubuhku terasa mulai menghangat, seperti ada hawa panas yang keluar dari dalam tubuhku sendiri. Sampai akhirnya kuberanikan diri membuka mata. Kini keadaan sekitar terlihat berbeda. Di depan ku sekarang malah banyak sekali ruh yang berkeliaran. Mereka kebingungan, putus asa, dan tersesat. Tubuhku limbung, namun Kak RAyi yang memang berada di samping segera memegangi ku. "Bil, kamu nggak apa-apa?" tanya nya cemas.

Kepala ku terasa penuh dengan suara. Suara Kak Rayi, dan suara-suara 'mereka' yang sedang meminta pertolongan. Pandangan ku mulai memburam, namun aku mencoba untuk terus sadar, jangan sampai pingsan. Aku terus berusaha mencari di mana Kak Faza berada.

"Yi, Rayi! Bintang! Roger!" Suara ini terus terdengar makin jelas. Suara Kak Faza, dia terus memanggil teman- teman nya. Aku berusaha mengerjapkan mata agar penglihatan ku kembali jelas. Aku berusaha mencari di mana suara Kak Faza berasal. Hingga akhir nya, aku melihat nya. Kak Faza ada di antara ruh -ruh di depan kami. Mereka bertiga tentu tidak dapat melihat apa yang kulihat. Tapi mereka terlihat panik karena melihat ku yang tidak berbicara apa pun. Memang mulut ku terasa kelu, seolah aku tidak bertenaga bahkan hanya untuk memanggil nama salah satu dari mereka.

"Nabila?!" jerit Kak Rayi yang kini menggoncangkan tubuh ku agak keras. Aku seolah tersadar, dan balik menatapnya. "Kamu kenapa?" tanya nya dengan sorot mata aneh. Aku menunjuk sudut lain, dan menyebut nama Kak Faza.

"Kamu yakin?" tanya Kak Rayi. Aku pun mengangguk, kami berjalan ke arah Kak Faza, dia seolah sedang menunjukkan jalan dan aku pun mengikuti nya bersama mereka bertiga. Dengan takut, aku berusaha menerobos kerumunan arwah-arwah penasaran yang berada di sekitar kami. Mungkin bagi Kak Rayi, Kak Roger dan Kak Bintang sikap ku terlihat aneh, padahal jika mereka bisa melihat sosok di sekitar kami, aku yakin pasti mereka akan bersikap sama sepertiku.

"Bil, ke mana? Masih jauh?" tanya Kak Roger yang terlihat kelelahan. Dahinya mulai banyak peluh yang membuat wajahnya basah seperti mandi keringat. 

"Di sana, kak," tunjukku ke arah Kak Faza berhenti. Aku segera berlari dan mendekat ke tempat di mana ruh Kak Faza diam. Dia menatap ke bawah dengan tatapan sedih. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya basah kuyup. Dan saat sampai di tempat itu, kami cukup terkejut, karena melihat ada sebuah lubang gelap. Ada beberapa pijakan dan pegangan yang sepertinya dibuat untuk naik dan turun ke bawah. Ruh Kak Faza hanya diam sambil menatap ke bawah, seolah-olah ini seperti pertanda ada sesuatu di sana.

"Bil, ngapain kita ke sini?" tanya Kak Bintang. Aku masih terpaku pada lubang gelap di bawah kami.

"Ugh! Bau lumpur lagi!" pekik Kak Roger sambil menutup hidungnya.

"Kak Faza ada di sekitar kita, dia terus melihat ke sana," jelasku menunjuk tempat itu. Semua orang diam dengan pikiran masing-masing. Yakin, kalau mereka juga berpikiran sama sepertiku, tetapi aku yakin kalau mereka ragu untuk melakukan itu.

"Ya sudah, Biar aku sama Bintang turun ke bawah." Kalimat Kak Rayi membuat aku dan Kak Roger menatap dua orang itu bergantian. "Serius lu?!" tanya Kak Roger agak terkejut. Kak Rayi mengangguk sambil beralih menatap Kak Bintang meminta persetujuannya. Dan, akhirnya Kak Bintang mengangguk pasrah. Mereka mulai bersiap dan akan segera turun. Tentu menggunakan peralatan yang memadai, senter dan tali.

Sebelum turun, Kak Rayi menoleh kepadaku, "hati-hati ya, Bil. Roger, jagain Nabila. Awas kalau sampai kenapa-napa," katanya sedikit mengancam.

"Iya, bawel banget lu. Aman Nabila sama gue."

Kak Bintang turun terlebih dahulu, sementara Kak Rayi menyusul di belakangnya. Aku kini hanya jongkok di dekat lubang itu. Jujur aku cemas, dan takut terjadi hal buruk pada mereka. Hawa dingin mulai menusuk tulang, wajar saja saat malam datang udara akan semakin menusuk tulang, karena siang hari juga kabut sudah muncul.

"Dingin banget, ya, Bil?" tanya Kak Roger sambil memeluk lengannya sendiri. Padahal dia sudah memakai sweeter tebal. Aku pun merasakan apa yang dia katakan, hanya saja aku terlalu fokus dengan dua orang yang kini sedang berada di bawah sana.

"Tapi aneh nggak sih? Kenapa, ya, di tempat ini bisa sedingin ini. Ini bukan daerah pegunungan loh. Biasanya gue bisa kedinginan gini kalau naik gunung, baru bener-bener dingin kayak gini. Tapi ini dataran rendah. Iya, kan? Masa karena danau? Atau hutannya?"

Aku diam dan membenarkan lagi perkataan Kak Roger. Hal ini membuatku cukup penasaran, akan apa yang terjadi di tempat ini. Kabut? Dingin? Aku makin memfokuskan diri, benar-benar fokus terhadap apa yang ada di sekitarku. Kupejamkan mata, karena dengan begini biasanya aku akan menemukan hal yang mungkin terlewat.

Kini keadaan yang awalnya sunyi, makin ramai. Bahkan terasa sangat berisik. Seolah-olah di sini sangat ramai dengan banyak manusia. Aku beranikan diri membuka mata. Sampai akhirnya aku benar-benar terkejut melihat kondisi tempat ini dalam sudut pandang berbeda.

Di atas danau aku melihat banyak sekali ruh yang bergentayangan. Mereka sama seperti ruh-ruh yang tadi ada di dekat tenda. Namun di danau jauh lebih banyak. Bahkan jika aku perhatikan lagi, kabut tipis yang aku lihat sejak aku datang adalah 'mereka'. Yah, para ruh yang sedang berada di atas danau. Dan aku yakin hawa dingin ini juga berasal dari mereka. Hawa dingin yang tidak biasa dan aneh.

Aku beranjak untuk melihat seberapa jauh dan banyaknya makhluk-makhluk ini. Dan hal ini justru membuatku tercengang karena mereka benar-benar memenuhi seluruh tempat. Bukan hanya di danau, tapi juga hutan sekitar. Hanya saja, danau seperti sebuah magnet. Aura di sana terlihat sangat kuat dan membuat banyak ruh terseret ke atasnya.

"Ya ampun," gumamku sambil menatap seluruh tempat.

"Ya ampun apaan? Bil?" tanya Kak Roger sambil mendekatkan dirinya padaku. Ia ikut melihat ke semua tempat yang kau tatap, tapi terus menampilkan raut wajah kebingungan. "Heh! Elu lihat apa?!" paksanya.

"Kak, apa yang Kakak bilang tadi memang benar."
"Yang mana?"

"Soal keanehan tempat ini. Kenapa di sini sangat dingin dan berkabut, padahal bukan di atas gunung."

"Oke, jadi karena apa?"

"Di sini penuh sama makhluk halus, Kak. Bahkan kabut yang ada di danau, sebenarnya itu karena saking banyaknya mereka di sana. Juga hawa dingin ini, bukan sepenuhnya karena alam. Tapi 'mereka'."

"Hah, Gila! Serius lu?"

"Iya. Di danau seperti ada tarikan kuat, yang membuat makhluk halus mendekat. Tapi yang pasti itu jahat."

"Terus bagaimana, Bil?"

"Sepertinya ada yang mengikat 'mereka' dan bikin semua makhluk ini nggak bisa pergi."

"Apa dong?"

Aku diam, terus mencari hal aneh atau apa pun yang mungkin mengantarkan ku pada sumber masalah ini. Dan tatapan mataku terhenti pada seseorang. Ia berdiri di tengah danau, penampilannya yang lain dari yang lain lah yang membuat aku yakin, kalau dia memang berbeda.

"Kak, kalau 10 menit lagi aku nggak balik, bangunin aku. Terserah bagaimana caranya, pokoknya Kak Roger harus sadarkan aku!" titahku.

"Bentar. Bentar. maksud lu apaan sih? Nggak balik? Mau ke mana memang? Terus bangunin? Hah?! gue nggak ngerti Nabila!"

Aku tidak menjawabnya, karena sudah tidak ada waktu lagi. Kini aku duduk bersila, dan mulai meditasi. Entah apakah ini akan berhasil atau tidak, karena aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Aku hanya sering mendengar dari Pak Dio, supir Papa. Kalau mau menghadapi makhluk halus, tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa. Mereka halus, dan aku harus menghadapi mereka dengan cara yang sama. Aku harus melepaskan ruhku, dan melawannya. Sudah banyak buku yang kubaca tentang meraga sukma. Dan, kini waktunya aku mempraktekkan nya.

Segala perkataan Kak Roger tidak kuhiraukan, karena aku harus melakukannya. Aku mulai memejamkan mata, dan butuh konsentrasi tinggi, hingga perlahan suara Kak Roger terdengar samar. Hal ini membuatku terjaga karena khawatir jika terjadi sesuatu padanya.

Tapi saat aku membuka mata dan berdiri, Kak Roger justru jongkok sambil mengajak orang lain berbicara, saat aku menoleh rupanya itu adalah tubuhku. Dan tandanya kalau aku memang sudah berhasil dengan cara ini. Melepaskan ruh dan memasuki dunia gaib, membuatku kini pusing. Kepalaku berat apalagi dengan banyak suara berisik dari makhluk-makhluk ini. Mereka menjerit dan menangis, bahkan meraung meminta pertolongan. TAngan ku diraih dan aku tersudutkan. MAkin lama aku makin jengah, aku lelah, dan muak dengan perlakuan mereka. Aku menutup kepalaku, dan sontak menjerit keras-keras. Tiba-tiba mereka menghilang dengan sinar yang langsung redup dalam waktu detik.

Keadaan terasa lebih sunyi. Dan kini hanya ada aku dan pria di atas danau itu. Jarak kami cukup jauh, tapi aku mampu melihat kalau dia punya kekuatan yang besar. Jujur, aku tidak tau harus berbuat apa sekarang.

"Kehidupan mereka itu hampir sama seperti kita, itulah kenapa banyak orang bilang kalau kita hidup berdampingan dengan mereka. Jadi jenis mereka pun beragam. Ada yang baik, ada yang jahat. Dan biasanya yang kuat adalah yang umurnya sudah lama, ratusan bahkan ribuan tahun." Aku teringat perkataan Pak Dio saat aku menanyakan hal-hal gaib, dia adalah seorang indigo dan sudah lama terbiasa dengan hal ini. Dan aku sangat suka mengobrol dengannya untuk membahas hal seperti ini.

"Biasanya yang paling kuat apa, Pak?"

"Banyak, Neng. Salah satunya Bathara kala. Demikian kami menyebutnya. Dalam ajaran agama Hindu, Kala adalah putera Dewa Siwa yang bergi dewa penguasa waktu (kata kala berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya waktu). Dewa Kala sering disimbolkan sebagai rakshasa yang berwajah menyeramkan, hampir tidak menyerupai seorang Dewa. Dalam filsafat Hindu, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya. Jika ada yang bersikeras ingin hidup lama dengan kemauan sendiri, maka ia akan dibinasakan oleh Kala. Maka dari itu, wajah Kala sangat menakutkan, bersifat memaksa semua orang."

"Jangan-jangan dia ...." batinku.

Seolah mengerti sedang kupikirkan, pria itu mendekat. Dengan jalan melayang. Tidak menyentuh air barang 1 senti sekali pun.

"Mau apa kamu di sini?!" tanyanya dengan suara berat dan menggetarkan tubuhku.

"Maaf, kami cuma mau menjemput teman kami saja. Tidak lebih dari itu."

"Semua orang yang ada di tempat ini, sudah menjadi milikku! Tidak bisa diambil lagi!"

Aku menelan ludah, dan bingung harus berkata apa lagi. Ini kali pertama aku bertemu makhluk sejenis Bathara kala. Makhluk yang menjadi mitos terjadinya gerhana bulan.

"Tapi aku pikir, kamu mengambil jiwa mereka dengan paksa?! Dan rasanya itu tidak boleh, kan?"

Dia diam. Aku juga heran, kenapa aku bisa berkata demikian. Karena yang aku pikir, hilangnya Kak Faza dan yang lain memang aneh. Apalagi melihat banyak nya ruh di tempat ini. Tadi. Ah, iya, tadi sangat banyak dan sekarang ke mana mereka?

Aku menyapu pandang ke sekitar, dan baru menyadari kalau mereka benar benar hilang semua.

"Kenapa? Kamu heran? Bukan nya kamu yang mengusir mereka?!"

Aku kembali menatap nya tajam, rupa nya dia bisa membaca pikiranku jadi aku harus lebih hati-hati.

"Dan, rasanya mang seharusnya mereka tidak ada di sini, kan? Jadi kenapa anda menahan ruh mereka di tempat ini?!" tanyaku tegas.

"Bukan urusanmu!"

"Tentu saja itu menjadi urusanku. Karena salah satu jiwa uang anda ambil adalah temanku! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

"Karena mereka semua hilang, maka kau sebagai gantinya!"

"Jangan harap!" Aku berbalik badan, dan mencoba kembali ke tubuhku. Tapi tiba-tiba bahuku ditarik oleh dia. Panas dan sakit. Seperti ada rasa terbakar jika tangannya menyentuh ku. Aku otomatis menjerit dan meronta. Anehnya dia terpental jauh.

"Bil! Nabila! Bangun!" suara Kak Roger terdengar jelas di dekat telingaku.

Dan tanpa aku sadari, aku sudah kembali ke dalam tubuhku. Dengan Kak Roger di samping ku dan melihatku panik.

"Syukurlah!" katanya lalu duduk begitu saja di tanah.

"Kenapa?" pertanyaan itu keluar dari suara yang kami kenal. Kak Rayi. Dia muncul dengan membawa Kak Faza dan Kak Bintang di belakang mereka.

"Faza!" jerit Kak Roger, senang. Dia terlihat sangat bahagia melihat temannya berhasil ditemukan.

Kak Faza hanya diam, tersenyum dengan.wajah pucat. Tapi aku yakin, dia memang Kak Faza yang asli.

"Ketemu di mana?" tanya Kak Roger.

"Jadi di bawah banyak tubuh manusia yang sudah membusuk. Tapi untung kita cepat menemukan Faza. Kalau nggak, mungkin dia bernasib sama seperti yang lain," jelas Kak Bintang.

"Sepertinya kita harus menelpon polisi. Agar mayat mayat itu di makamkan dengan layak."

Keadaan sudah kembali baik baik saja. Dan udara di sekitar kami seolah menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Aku tersenyum saat melihat kondisi tempat ini yang berbeda dari sebelum nya. Walau aku tidak tau ke mana makhluk jahat itu pergi, tapi aku harap dia tidak lagi menahan jiwa jiwa manusia dengan cara jahat lagi.

Kami memutuskan kembali ke tenda. Karena Kak Faza sudah ditemukan, dan tentu kami butuh istirahat. Aku pun merasa sangat lelah.

Ketiga pria itu berjalan terlebih dahulu, Kak Faza hanya tertawa saat Kak Roger dan Kak Bintang mencandainya. Aku dan Kak Rayi berjalan di belakang mereka. Tapi tiba- tiba Kak Faza berhenti lalu menoleh padaku.

"Makasih, ya. Mereka semua sekarang sudah bebas, berkat kamu."

"Hah? Eh, iya," sahutku terkejut dengan kalimat nya yang tiba tiba itu.

Ketiga teman nya hanya menatapku dan Kak Faza bergantian. "Duh, gue lapar. Ada makanan gak?" tanya Kak Faza dan membuat Kak Roger dan Kak Bintang kembali merangkul nya. Menggiring ke tenda.

"Bil, apa yang kamu lakukan saat aku nggak ada?" tanya Kak Rayi penasaran.

Aku tersenyum, lalu menggeleng. Kami menyusul mereka bertiga yang sudah sampai tenda. Aku juga lapar, semoga masih ada makanan untuk ku juga. Ah, lelah sekali hari ini.

Suara beberapa orang terdengar riuh di telingaku, namun rasa nya aku masih enggan membuka mata. Tubuhku rasanya sangat lelah sejak semalam. Panggilan Kak Roger justru membuatku makin bergelung dengan selimut. Pagi ini terasa dingin, tapi dingin yang wajah. Ah, rasanya aku masih ingin tidur lebih lama lagi. Namun, dering panggilan di ponselku terdengar lebih nyaring dari suara Kak Roger, karena benda tersebut aku letakan di bawah bantal tidurku. Aku mengerjap dan melihat layar pipih itu.

"Loh, ada sinyal?" tanya Kak Bintang yang ternyata berdiri di dekat kasur tidurku. Aku hanya menatapnya sebentar dan beralih kembali ke layar datar di tangan. "Papa?!" pekikku.

Entah kenapa aku langsung duduk, ragu untuk menjawab telepon dari Papa, tapi kalau aku tidak mengangkatnya maka akan terjadi perang dunia ketiga di rumah nanti. Aku berdeham, sementara Kak Bintang perlahan menyingkir sambil keluar dari tenda. Rupanya di luar sudah ada Kak Roger dan Kak Faza yang sedang memancing ikan di danau.

Aku menggeser ke kanan tombol dilayar. Meletakkan benda pipih itu ke dekat telinga, berdeham untuk menetralkan suaraku. "Ya, Pah?" tanyaku dengan ragu. Bagaimana pun juga aku takut Papa marah. Karena aku tidak pulang ke rumah.

"Kamu di mana?" tanya sebuah suara dari seberang. Datar dan dingin, khas Papaku.

"Nabila lagi camping sama teman-teman, Pah. Ini mau pulang kok," sahutku berusaha setenang mungkin menjawab.

"Camping? Pulang sekarang!"

Dan telepon dimatikan. Aku merasa lemas, gawai kupegang erat di tangan, netraku menatap ketiga pria di luar sana yang masih asyik memancing. Menarik nafas, dan menikmati udara pagi yang masih sangat segar, semoga membantu hati dan pikiranku menjadi lebih jernih.

"Bil?" panggil Kak Rayi yang sedang membereskan barang-barangnya. Dia memang tidur tidak begitu jauh dari kasur milikku. Alhasil aku menoleh padanya sambil membereskan selimut yang kupakai tadi. Rasa kantukku sekejap hilang, bahkan aku seolah tidak ingin bernafas setelah mendapat telepon dari Papa. Kak Rayi mendekat, dan menarik kursi lalu duduk di dekatku. "Kenapa?"

"Nggak apa-apa kok." Kupaksakan tersenyum agar dia tidak berpikir yang tidak-tidak. Namun Kak Rayi masih tetap diam di kursi itu.

"Kamu nggak pamit sama Papa kamu, ya?"

Aku melirik ke arahnya sambil menarik nafas panjang. Acara merapikan selimut berakhir, dan benda tersebut kini sedang ku peluk erat. "Hubunganku sama Papa memang nggak begitu baik, Kak. Papa terlalu ... mengekang semua hal yang ingin aku lakukan. Bahkan Papa nggak tau kalau aku ikut taekwondo di sekolah."

"Hm, sebagian besar orang tua memang begitu, kan? Itu artinya mereka khawatir sama keselamatan kamu. Pasti Papa kamu punya alasan sendiri kenapa melakukan itu. Tapi bukan berarti kamu harus menentang dia terus, Bil. Mungkin caranya harus dirubah. Cara pandang kita dengan orang tua memang tidak sama."

"Iya, aku ngerti, Kak. Tapi ... entahlah, rasanya aku kesal sama semua yang ada di sekitarku. Papa, mama yang sekarang udah nggak sama kami lagi, walau semua terasa sama buat aku. Mama meninggal atau enggak, Mama dan aku sudah lama nggak ngobrol karena mama sakit. Bedanya, selama ini aku masih bisa melihat mama, walau cuma diam dengan banyak alat bantu kehidupan di dekatnya. Aku tau, kalau mama sebenarnya udah nggak bisa diselamatkan, tapi papa selalu larang dokter buat melepas alat bantu kehidupannya. Tapi, papa justru sibuk sendiri. Sama pekerjaannya, Papa nggak pernah peduli sama aku. Aku muak, Kak, sama semua yang ada di kehidupan aku."

"Semua?" tanya Kak Rayi. Aku kembali menatapnya, sorot mata itu terlihat tidak biasa. Dan anehnya membuat jantungku berdegup lebih cepat. "Aku juga?" tanyanya lagi, tatapannya terasa sangat dalam seolah menembus ke jantung hatiku. Astaga, kenapa ini. Kenapa aku gemetaran.

"Ih, Kak Rayi ngomong apa sih," tampikku mencoba bersikap wajar. Dia tertawa, lalu mengalihkan tatapannya ke teman-temannya di luar. "Nanti aku coba ketemu Papa kamu, bagaimana? Biar aku jelaskan masalah ini, biar kamu nggak dimarahi?"

"Eum, nggak usah, Kak. Percuma. Papa nggak akan mau dengerin. Aku tau bagaimana watak Papa." Aku mulai berkemas, memasukkan barang-barangku ke dalam tas.

"Hm, ya sudah. Kalau begitu kita pulang sekarang saja. Biar aku panggil yang lain untuk siap-siap," ujar Kak Rayi, kemudian berjalan keluar tenda memanggil teman-temannya yang lain.

Dalam perjalanan aku banyak diam, mobil terasa ramai karena kedatangan Kak Faza, dia banyak bercerita tentang hal yang dialaminya kemarin. Semua orang tentu penasaran atas apa yang terjadi padanya. Jujur, aku tidak begitu mendengarkan penjelasannya. Aku memilih menatap ke arah jendela dengan headset di telinga, mendengarkan lagu-lagu yang menenangkan. Rasanya pulang adalah mimpi buruk yang nyata. Aku lelah jika harus bertengkar lagi dengan Papa, tapi aku juga tidak mungkin tinggal diam jika Papa mengatakan hal-hal yang menyakiti hatiku. Aku yakin, apa yang aku lakukan sudah benar. Aku hanya membantu orang-orang.

Kak Roger menyenggolku dan menunjuk ke depan, aku memang yang saat ini tidak mendengar suara lain selain yang ada di benda kecil di telingaku lantas melihat gerak bibir Kak Roger. Akhirnya aku melepaskan headset ini dan menatap ke arah depan. Kak Rayi dan Kak Bintang sedang menatapku, bahkan keempat pria itu. "Kenapa?" tanyaku bingung.

"Udah sampai rumah," sahut Kak Bintang menunjuk ke depan. Saat aku memperhatikan keadaan di luar, rupanya aku sudah sampai di halaman rumahku sendiri. Aku benar-benar tidak sadar, dan sebuah mobil terparkir di sana membuatku lemas. Papa di rumah.

"Terima kasih," kataku langsung membuka pintu mobil sampingku.

"Take care, Bil," seru Kak Roger. "Bil, thanks," sahut Kak Faza lembut.
unclevello
tariganna
regmekujo
regmekujo dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.