Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:


Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir. emoticon-Betty

Supernatural

Quote:


INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan

INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
indrag057Avatar border
bejo.gathelAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.5K
222
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#144
139. Pulau Insula Mortem
Namun tawa mereka terhenti seketika, saat suara keras yang berasal dari pintu depan yang tertutup kencang. suara langkah kaki terdengar nyaring, sedang mendekat ke arah mereka. Tentu mereka hanya diam, seolah mengikuti gaya dari patung patung yang mereka temui tadi. Arya melirik ke patung wanita itu, di tangannya ada sebuah logam yang berwarna kekuningan dan mirip seperti apa yang sedang mereka cari. Ia langsung merampasnya dan mundur menjauh. Jantung mereka makin berdetak lebih cepat, apalagi saat bayangan seseorang mulai terlihat memasuki ruangan. Abimanyu bahkan sudah memegang sebuah tombak yang berada di samping patung tadi. Walau ujung tombaknya sudah berkarat, tapi setidaknya benda itu masih bisa digunakan untuk menyerang. Bayangan itu makin dekat dan jelas, sosoknya terlihat seperti laki laki yang memakai jubah dengan celana panjang. Hingga saat sosok itu mulai memasuki koridor dekat mereka, Abi sudah bersiap menyerang, tapi rupanya, dia menjerit dengan menyilangkan kedua tangannya ke depan. "Hei, ini aku!" jeritnya.

"Wira!"

"Om Wira!" jerit mereka bersamaan. Akhirnya mereka bernafas lega dengan meninggalkan degup jantung yang belum beraturan.

"Kok elu di sini?" tanya Gio seperti tidak percaya. "Coba buka mulutnya!" suruh Gio.

"Apa sih?"

"Buka!" paksanya.

Wira mendengus sebal, lalu menurut saja pada apa yang disuruh Gio. Ia menunjukkan gigi giginya dan tidak ada gigi taring lain di sana. "Elu pikir vampir bisa mengubah wujud?!" tanya Wira sebal. Tentu saja fakta itu tidak pernah ada, vampir dan shapeshifter adalah dua makhluk yang berbeda jenis dan kemampuan.

Vampir adalah tokoh dalam mitologi dan legenda yang hidup dengan memakan intisari kehidupan (biasanya dalam bentuk darah) dari makhluk hidup lain.

Sementara itu, menurut sebagian orang, shapeshifter adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengalihbentukkan rupa tubuhnya menjadi rupa tubuh yang lain. Biasanya, hal yang begini dapat dilakukan seperti yang diharapkan dengan bantuan dari pemakaian guna-guna, campur tangan ilahi atau kemampuan yang melekat pada setiap tokoh penghuni dunia sesuai dengan mitologi.

"Ya kali saja elu udah berubah jadi vampire. Siapa tau, kan? Lagian elu ngilang ke mana sih? Lama banget!" tanya Gio meminta penjelasan.

"Ada urusan," jawabnya singkat.

"Bagaimana Galiyan?" tanya Arya.

"Hm, lolos. Aku belum ketemu dia. Kacau semua!" katanya frustrasi.

"Kacau gimana sih?"

"Aku dijebak, rupanya memang nggak seharusnya aku mempercayai orang lain."

"Maksudmu? Dia bohong?"

"Kurang lebihnya begitu, tapi, sudahlah. Bagaimana? Sudah dapat kuncinya?" tanya Wira mengalihkan pembicaraan mereka.

Arya menunjukkan logam kuning di tangannya, menandakan kalau apa yang ditanyakan Wira sudah ada di genggamannya. Wira mengangguk, "ya sudah, ayo, pergi! Tempat ini mengerikan!" ujarnya sambil bergidik ngeri menatap sekitar.

Mereka pun mulai berjalan keluar meninggalkan ruangan itu. Saat sampai di teras, Nayla menahan tangan Arya yang berjalan di sampingnya. "Tunggu!"

"Kenapa?" tanya Arya, heran. Nayla masih memperhatikan depan dan kini beralih ke sekitarnya. Larangan Nayla membuat dua pria yang berjalan lebih dahulu di depan ikut berhenti dan menoleh.

"Kalian merasa aneh nggak?" tanya Nayla.

"Aneh? Kenapa?"

"Patungnya!" cetus Ellea yang mulai menyadari maksud Nayla.

Mereka mulai memperhatikan patung patung yang semula berdiri di sisi sisi taman. Dan benar saja kalau patung itu berubah arah dan posisi. Patung yang awalnya menghadap membelakangi rumah, kini seolah berbalik, menghadap rumah yang berarti sedang menatap mereka secara serempak.

Mereka mulai menyadari keanehan ini. Diam dan berusaha mencari akal, dan segala kemungkinan yang akan mereka hadapi. Dan juga mencari tau apa yang sedang terjadi. Alasan patung tersebut berubah posisi. Karena tidak mungkin ada orang yang dengan sengaja menggeser patung patung itu. Satu informasi penting, kalau patung itu menancap kuat di alas bawahnya yang terbuat dari batu. Jika memang bisa digeser itu akan sangat berat sekali. Tentu akan membutuhkan waktu yang lama untuk menggeser satu patung saja, dan di sini ada banyak sekali patung yang serupa.

"Mereka bergerak?"

"Jadi mereka hidup?"

"Kita harus bagaimana sekarang?" tanya Gio menatap awas para patung mengerikan itu.

"Kita jalan biasa saja," saran Wira.

Wira berjalan lebih dahulu, lalu diikuti Gio di belakangnya, dan seterusnya. Langkah mereka pelan karena sambil memperhatikan sekitar. Satu yang mereka takutkan, jika patung patung itu tiba tiba benar benar hidup dan menyerang. Karena nama pulau kematian, pastilah memiliki alasan kuat, dan sejarah serta kejadian nyata yang membuat rumor itu menjadi cerita rakyat di tempat ini.

Arya yang berada di posisi paling akhir, terus menatap samping kanan dan kirinya. Saat dia melewati patung pertama, ia mendengar suara aneh. Arya berhenti sambil melirik ke samping kanannya. Mencoba memeriksa posisi patung itu, apakah masih berada di tempatnya atau tidak. Dari ujung ekor matanya, Arya mengetahui kalau posisi patung itu sudah berubah. Dan makin dekat dengannya.

Arya kembali meneruskan berjalan dengan perasaan was was. Ia terus memperhatikan sekitarnya, dengan cemas. Kembali, suara retakan ia dengar dan sangat dekat dengan telinganya. Arya kembali berhenti, ia diam sambil menatap ke bawah. Nayla yang merasakan keanehan Arya lantas ikut berhenti dan kini menoleh ke belakang. "Arya? Kenapa?" tanyanya yang melihat sikap aneh kekasihnya.

Perlahan Arya menatap Nayla, mulutnya komat kamit dan mengatakan sebuah kata, tanpa mengeluarkan suara. Nayla yang tidak mengerti terus meminta Arya mengulanginya. "Lari!" jerit Arya lalu langsung menyeret tangan Nayla. Berlari mendahului yang lain. Seketika semua teman temannya ikut lari karena terkejut, dan bersamaan dengan itu patung patung itu hidup. Mereka bergerak dengan bunyi retak di beberapa bagian tubuhnya, dan tentu mengejar para manusia itu.

Selain lari kencang, mereka juga menjerit karena ketakutan. Setiap barisan pohon yang mereka lewati mereka gunakan untuk mengalihkan diri dari patung hidup yang kini masih mati matian mengejar mereka. Arya yang cukup jengah dengan kejar kejaran ini lantas melihat sebuah kesempatan untuk menahan mereka. Ia melepaskan tangan Nayla lalu melompat ke sebuah pohon dan mendorong keras tubuhnya. Ia berputar dan kedua kakinya kini mendarat ke dada patung berjubah tersebut. Ia hendak mendorong patung itu, namun nyatanya justru dirinya yang terpental jauh.

"Arya!" jerit Nayla yang kini berhenti berlari dan berbalik menolong kekasihnya. "Kamu nggak apa apa?"

"Nay, lari!" suruh Arya.

"Enggak! Kita hadapi bersama. Lagi pula nggak ada tempat kita melarikan diri dari sini! Kita harus hadapi mereka!" cetusnya dengan tatapan nanar. Kalimat Nayla memang benar. Ke mana pun mereka berlari toh tidak ada tempat untuk melarikan diri. Mereka masih berada di tempat yang sama, tanpa ada jalan keluar yang bisa menyelamatkan mereka dari teror patung hidup itu.

Semua teman temannya juga mulai berhenti berlari, karena patung patung itu berlari lebih cepat dari mereka dan kini sudah berdiri di depan. Menghadang para manusia yang sangat kurang ajar berani masuk ke wilayah mereka.

"Kalian mau apa?!" tanya Abimanyu lantang. Walau dia sebenarnya takut dan ragu, tapi ia tidak ingin menunjukan perasaan itu di depan para musuhnya.

Salah satu dari patung yang berdiri paling depan, menunjuk mereka satu persatu. Lalu telunjuknya mengarah ke lehernya mengisyaratkan 'mati'.

"Oh, tidak semudah itu, manusia batu!" cetus Abi. Ia mengambil sebuah palu yang memang sengaja dibawa. Ia mulai berencana menyerang para patung itu. Karena apa yang Nayla katakan memang benar. Kalau sejauh apa pun mereka berlari, mereka tidak akan bisa kabur.

Pulau ini tidak terlalu besar tapi juga sangat mudah untuk memutarinya dan tidak butuh waktu lama. Terlebih lagi, topografinya yang gersang tidak memberikan tempat untuk bersembunyi. Entah bersembunyi di balik pohon besar atau semak semak. Di sini tidak ada satu pun makhluk hidup yang berhasil bertahan hidup lama. Seolah tanah yang mereka pijak terkutuk, namun kenapa patung yang terbuat dari batu justru bisa hidup dengan baik. Bahkan mirip pasukan robot pembunuh.

Satu pukulan palu dari Abi membuat wajah patung tersebut remuk. Tapi anehnya tak berapa lama kemudian, remukan itu kembali menyatu. Abi menatap takjub sekaligus takut. Bagaimana lagi cara menghancurkan mereka, jika dengan pukulan palu saja, mereka tidak bisa mati.

Mereka semua mulai melawan dengan sekuat tenaga. Alat alat yang mereka bawa cukup untuk mengulur waktu. Tembakan dari pistol yang Gio bawa pun, tidak begitu berpengaruh banyak. Mereka akan lumpuh sementara dan kemudian bangkit kembali.

"Mereka ini apa!" pekik Gio mulai putus asa. Amunisinya yang mulai menipis membuatnya semakin cemas.

"Aneh memang. Nggak ada patung yang bisa hidup seperti itu, sekalipun mereka dirasuki iblis, maka tembakan ini harusnya berhasil!" tukas Ellea yang memang memegang senjata yang sama sepeti Gio. Dan peluru yang mereka pakai adalah peluru perak.

Hanya saja yang mereka hadapi bukanlah iblis dan sejenisnya.

"Hei, ini sihir, kan?" jerit Nayla yang sedang bersembunyi di balik tubuh Arya. Arya terus menembak mereka dengan Glock 20 miliknya.

"Sihir?" tanya Arya yang fokusnya terbagi.

"Aku yakin banget. Ini sihir, ada sumbernya sekaligus menjadi kelemahannya."

"Terus di mana, Nay?! Kelemahan dan sumbernya?" tanya Gio yang mulai kewalahan.

Nayla diam, sambil terus berfikir. Ia mengingat semua hal yang mereka temui sejak menginjakkan kaki di pulau ini. Sampai akhirnya, kunci yang kini muncul di saku belakang Arya, kunci yang tadi sudah mereka ambil dari rumah mengerikan tadi membuatnya mengingat sesuatu.

"Aku tau! Kita balik ke rumah tadi!" jerit Nayla dan membuat semua orang kebingungan. Nayla menyeret Arya agar segera meninggalkan patung patung yang mengamuk itu. Dan otomatis semua orang mengikutinya. Mungkin cara ini akan berhasil, pikir mereka. Kontribusi Nayla selama ini juga cukup bagus dalam menghadapi mereka. Dia termasuk peka dan cepat tanggap, apalagi segala pengetahuan yang ia punya, menjadikan salah satu bekal yang sangat bermanfaat bagi kelompok ini.

Langkah mereka terus cepat dan mulai memasuki halaman rumah itu. Sampai di teras rupanya pintu tertutup. Padahal seingat mereka, setelah meninggalkan rumah ini, mereka bahkan tidak menutup pintunya sama sekali. Dan sekarang justru tertutup dan terkunci. Arya berusaha membuka pintu itu.

"Eh tunggu! Lihat mereka!" ujar Wira yang berdiri paling belakang, menunjuk ke halaman rumah ini. Saat mereka menoleh secara serempak, hal aneh kembali terjadi, para patung tadi kini sudah kembali berdiri di tempatnya dan juga dengan posisi yang sama seperti saat mereka datang.

"Kok, bisa begitu?" tanya Ellea, heran.

"Arya buruan buka pintunya!" sergah Gio memaksa. Berkali kali ia mencoba memasukkan kawat yang biasa ia pakai untuk membuka pintu rumahnya jika ia pulang malam, tak juga berhasil. Seolah pintu ini terkunci paten. Karena tidak sabar, Arya lalu berdiri, mundur sedikit, dan menendang pintu itu kuat kuat.

"Gila!" ungkap Gio.

"Anggap saja rumah sendiri," kata Arya saat memasuki tempat itu. Abimanyu lantas kembali menutup pintu itu sambil mengamati patung patung yang kini diam di tempatnya. Benar benar aneh pikirnya.

Mereka kembali ke patung wanita yang tadi menyimpan kunci yang sudah mereka ambil tadi. Nayla menatapnya lekat lekat, dan mencari keanehan atau apa pun petunjuk yang bisa ia pakai untuk memecahkan misteri ini dan mengeluarkan mereka dari pulau ini dengan selamat. Ia mencari tiap detil petunjuk yang mungkin ada di patung tersebut.

"Kenapa harus patung ini, Nay?"

"Karena cuma patung ini yang ada di dalam, dan lihat, dia pakai mahkota, sekaligus kunci yang kita ambil tadi, dia yang pegang!" tunjuk Nayla ke wanita yang terbuat dari batu tersebut. Ellea yang ikut mencari langsung melotot saat melihat nama yang tertera di bawah kaki patung itu. "Elenore Fransiska?"

"Mungkin itu namanya! Biar gue cari tau siapa dia!" cetus Gio lalu mengeluarkan laptop dari tasnya.

"Ada sinyal, Paman?" tanya Abimanyu.

"Ada. Tumben, ya?" sahut Gio sambil menatap pemuda itu. Abi hanya menarik sebelah bibirnya sambil tetap waspada dan mengawasi jendela dan arah pintu di depan.

Gerakan jemari Gio yang cepat, kini langsung menampilkan sebuah informasi lengkap tentang siapa wanita yang ada di patung depan mereka. "Elenore Fransiska, adalah seorang putri dari sebuah kerajaan Bartosya yang mendapat serangan dari musuhnya. Dia melarikan diri dari istananya dibantu seorang dayang kerajaan."

"Wow, kabur ke sini gitu? Bukannya kerajaan itu jauh ya, dari tempat ini?" tanya Ellea.

"Pakai pesawat kali," cetus Arya asal. Padahal di jaman itu belum ada pesawat terbang seperti sekarang.

"No, pakai mesin waktu!" timpal Gio.

"Ngawur!" sahut Nayla.

"Lah beneran nih. Gue bacain lagi, ya."

"..."

"Elenore dan dayang istana yang tertangkap oleh musuh, akhirnya dimasukan ke dalam penjara untuk mendapat giliran dihukum gantung. Tapi saat giliran mereka, ternyata mereka hilang tanpa jejak. Sipir penjara itu melihat ada tanda lingkaran hitam di tembok tempat mereka di kurung. Lingkaran itu berwarna hitam dengan bau belerang yang pekat. Disinyalir, kalau mereka melintasi waktu dan pergi ke tempat yang tidak bisa ditemukan oleh musuh kerajaannya."

"Dia putri kerajaan atau penyihir sebenernya?" tanya Wira.

"Putri kerajaan yang belajar ilmu sihir. Dan dayang itu yang mengajarinya!" jelas Gio menatap mereka jengah.

"Oke, jadi, mungkin dia membuat patung patung itu untuk melindungi sang putri? Kalau kalau musuh mereka ke sini dan membunuh Eleanore?" pungkas Nayla.

"Jadi itu alasan mereka bangun saat kita hendak pergi tadi?" tambah Abi menarik benang merah masalah ini.

"Terus gimana cara kita pergi? Kalau tiap kita ninggalin halaman rumah ini, mereka justru bangun dan mengejar kita?" rengek Ellea.

"Masalahnya mereka bukan makhluk halus atau makhluk yang bisa kita bunuh! Jadi bagaimana cara kita menghadapi mereka!"

"Pasti ada cara!"

"Hey, Gi, apa ada informasi tentang kunci yang tadi ada di tangan dia?" tanya Arya.

"Sebentar!" Ia kembali mengetik dan menjelajah ke dalam dunianya. Untung di tempat ini jaringan internet lancar. Dan memudahkan mereka untuk menggali informasi.

"Nah, ketemu!"

"Apa?"

"Benda ini hadiah dari sang raja, cuma itu."

"Sang raja dapat dari mana, Om?" tanya Abi.

"Tunggu, siapa nama rajanya?" potong Wira.

"Raja Nihamk!"

"Apa? Nihamk?" tanya Wira mengulangi perkataan Gio. Gio mengangguk pelan. "Kenapa sih? Elu kenal?"

"Gila! Dia itu Nephilim!" ungkap Wira yang mulai paham akar permasalahan ini.

"Nephilim?" gumam Ellea. Abi menggenggam tangan gadis itu sambil tersenyum.

"Yah, nephilim. Dan dia pasti yang membuat semua jebakan di luar."

"Tapi dia sudah mati, Ra. Di sini disebutkan begitu. Seluruh anggota kerajaan dibantai, tinggal putrinya aja sama dayangnya."

"Kalian nggak tau, ya, kalau nephilim itu kuat. Mereka juga nggak gampang mati seperti manusia lainnya."

"Terus Elenore mati kenapa?" tanya Nayla.

"Di sini cuma disebutkan kalau Eleanore meninggal karena sakit keras."

"Dayangnya bagaimana?"

"Dayangnya ..." Gio kembali membaca semua informasi yang ada di depannya," tetap ada di pulau ini dan dia juga yang membuat patung ini. Dulu tempat ini ramai penduduk. Tapi setelah Eleanore meninggal, satu persatu dari penduduk mati juga. Katanya wabah penyakit."

"Eleanore dikubur di mana?"

"Nggak disebutkan."

Semua diam, berpikir kembali karena hal tersebut belum memberikan titik terang apa pun untuk mengeluarkan mereka dari tempat ini. Arya tiba tiba mengangkat patung tersebut, ia kesal dan langsung membantingnya ke lantai. Pahatan batu itu kemudian pecah, sedetik kemudian beberapa kerangka tubuh manusia terlihat dibalik patung itu.

"Apa apaan ini!" pekik Gio.

"Jadi ... Dayang itu membuat patung ini dari tubuh Eleanore sendiri?!"

Semua orang tampak terkejut mendapati tubuh seorang manusia yang dibuat patung. Bukannya di kuburkan dengan layak. Akhirnya mereka sepakat untuk menguburkan mayat itu dengan layak.

Mereka sudah menggali tanah yang cukup dalam, di sekitar gedung ini dan menguburkan mayat Eleanore di sana. Semoga acara penguburan yang layak untuk sang putri mampu mematahkan semua hal buruk di pulau ini. Setidaknya itu yang mereka ketahui dari beberapa peristiwa yang terjadi belakangan. Mayat yang tidak dikuburkan dengan layak akan menjadi roh gentayangan sampai mayatnya mendapatkan tempat yang layak.

Matahari mulai bergeser dari tempatnya. Semburat merah mulai tampak di langit jingga. Kini mereka hendak melanjutkan misi lainnya. Mereka sudah berdiri di antara patung patung tadi. Berjalan pelan sambil terus waspada, jika sampai patung patung itu kembali hidup, maka mereka akan berlari kembali ke rumah itu. Begitulah rencananya. Semoga setelah apa yang mereka lakukan tadi, patung patung penjaga istana akan berhenti bergerak dan mereka pun bisa pergi dari tempat itu dengan tenang.

Ternyata benar, hingga beberapa meter meninggalkan rumah itu, patung di halaman hanya diam, tanpa bergerak sama sekali. "Kita berhasil?" tanya Gio sambil berjalan mundur, memperhatikan patung patung yang hampir membunuh mereka tadi. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya, karena mereka pun sedang berpikir seperti yang Gio pikirkan. Mereka terus berjalan sambil memperhatikan benda mati yang terkadang bisa hidup itu.

Semua bersorak saat mereka sudah sampai ke pantai. Dan mereka kini telah menghancurkan kutukan pulau kematian ini, dan mendapatkan kunci ketiga yang mereka cari.

Abi menghubungi nomor yang tadi mengantar mereka ke pulau ini. Sambil menunggu jemputan untuk mereka, para gadis malah bermain main di pantai. Mereka berkejar kejaran sambil memungut binatang laut yang terdampar di pantai. Bahkan bermain adu kepompong sambil tertawa riang. Mereka bahkan sampai lupa, kapan terakhir kali mereka menikmati liburan seperti ini. Dan, pantai merupakan tempat yang disukai oleh hampir sebagian besar orang orang itu. Moodbooster bagi Abimanyu dan kedua orang tuanya. Kesukaan mereka berdua tidak berubah. Sama seperti dulu, dan tentu, Gio, Ellea dan Wira juga menikmati indahnya pantai ini. Menatap sunset yang mulai terlihat di ujung laut.

Mereka duduk berjejeran di pasir pantai. Nayla bersandar di bahu Arya. Diam tanpa sepatah kata pun. Ellea memeluk lengan Abimanyu erat. Tidak ada yang tidak menyukai ciptaan Tuhan yang satu ini. Senja, sunset, dan pantai. Kolaborasi yang sangat menarik dan indah tentunya.

Arya menatap kunci yang ada di genggaman tangannya, ia tersenyum tipis. "7 lagi, " gumamnya dalam hati. Tapi beberapa detik kemudian, perasaannya tidak enak. Ia merasakan sakit di dadanya yang entah karena apa. Perasaan ini seolah muncul tiba tiba dan tidak bisa ditebak dan ditahan. Hingga saat jemputan mereka datang, mereka seolah enggan beranjak, karena tempat ini terlihat nyaman sekarang. Hanya saja, matahari yang sebentar lagi hilang dari peredarannya, mengharuskan mereka kembali, dan tidak memungkinkan kalau mereka menginap di tempat ini. Pulau Insula Mortem.

"Wah, kalian masih hidup," ujar pria pemilik perahu.

"Apa kubilang, kami akan hidup dan kembali," sahut Gio bangga, memakai kaca mata hitamnya dan mulai menikmati angin laut yang makin kencang.

Kembali pulang, walau mereka masih jauh dari rumah. Bahkan tidak ada yang menjamin, apakah mereka akan pulang ke rumah lagi, atau tidak. Perjalanan ini sangat panjang dan berat. Dan akan banyak hal yang harus dikorbankan untuk kepentingan bersama.

Angin menerpa wajah Nayla, ia menekan dadanya karena rasa nyeri yang tiba tiba datang tanpa sebab. "Kenapa aku terus merasakan hal tidak enak seperti ini. Perasaan apa ini."

Tanpa Nayla tau, Arya juga merasakan hal yang sama. Mereka sama sama berusaha menutupinya. Lalu membiarkannya saja. Karena ini sudah sering mereka rasakan. Perasaan tidak enak, sejak mereka memulai perjalanan pertama.
tariganna
itkgid
bejo.gathel
bejo.gathel dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.