Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.
story keluarga indigo.
Quote:



KKN Di Dusun Kalimati

Quote:


Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.

Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.

Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.




story keluarga indigo.



INDEKS

Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.

Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.

Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).

INDEKS

Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end



story keluarga indigo.

Quote:


Quote:



INDEKS

Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang

Konten Sensitif
story keluarga indigo.


Quote:

Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.

INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


INDEKS

part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
kemintil98Avatar border
arieaduhAvatar border
gokil4everAvatar border
gokil4ever dan 23 lainnya memberi reputasi
22
23.5K
306
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#141
16 Pelet
Sore ini aku berencana akan ke RSJ tempat mas Galih di rawat.
Indra tidak bisa mengantar karena masih bekerja sampai malam.

"Nis, kamu jadi ke Rumah sakit?"tanya Dimas selepas kami membereskan meja hendak pulang.

"Hu um.."

"Sama Indra Nis?"tanya Mia.

"Enggak, Indra masih dines. Aku sendiri aja nggak apa apa"

"Aku temenin ya Nis.." seru Anjar.

"Eh... Mmmm.. Boleh deh."kataku yang sebenarnya agak ragu.

"Aku juga ikut ya" timpal Mia.

Agak lega sih, Mia ikut.
"Wah, ayok deh. Makin rame kan lebih asik."kataku menyetujui nya.

"Dimas, nggak ikut?" Mia bertanya lagi.

"Nggak dulu ya guys.. aku ada perlu."

Jadilah kami bertiga pergi ke Rumah sakit naik mobil Anjar.
Aku sengaja duduk di kursi belakang, biar Mia saja yang duduk disebelah Anjar.
Sepertinya Mia menyukai Anjar, tapi Anjar masih cuek saja.

Terlihat dari spion, Anjar berkali kali melirik kepadaku.
Jangan sampai ini jadi cinta segi empat yah atau bahkan belah ketupat.

***

Setengah jam kemudian kami sampai di Rumah Sakit itu.
Saat aku melihat ke sekeliling, aku melihat seseorang yang tidak asing.
Aku menghampirinya, lalu menepuk bahunya, karena dia sedang membantu pasien yang sedang duduk ditaman.

"Indah..."

"Lho Nisa??" Indah kaget melihatku.

Kami berpelukan.
"Kamu nggak bilang kerja disini Ndah?"

Setelah acara lamaranku memang aku dan Indah jarang komunikasi, jadi aku tidak tau kalau Indah bekerja disini.

"Iya, aku kerja disini. Baru 2 mingguan lah Nis, kamu lagi ngapain disini?"tanyanya heran.

"Ah iya, kebetulan banget. Ada pasien namanya Galih nggak ya Ndah. Umurnya sekitar 35 tahun an kalau nggak salah."tanyaku.

"Itu bukan Nis?"kata Indah sambil menunjuk pria yang sedang duduk sendiri di bangku dekat taman.

Ku coba memincingkan mataku mencoba melihat lebih jelas.
"Yang namanya Galih disini cuma dia aja Nis."

"Kayak nya iya deh. Bener Ndah.."

Aku berjalan hendak menghampiri mas Galih, tapi ditahan Indah.
"Hati hati Nis.. dia agak agresif. Suka teriak teriak, kadang sampai lukain orang juga"

"Aku temenin Nis.." Anjar berjalan duluan ke mas Galih.

**
"Mas Galih ya...gimana kabarnya?"tanya Anjar yang sekarang duduk disebelah mas Galih.

Mas Galih hanya diam tak merespon.
"Keluarganya sering ke sini nggak Ndah?"Tanyaku ke Indah yang masih diam saja.

"Mmm... jarang Nis."

"Mas Galih, kenalin aku Niisa.."kataku mencoba mengulurkan tanganku.

"Aaaaarrrrrrrhhhhhh"mas Galih berteriak histeris menunjuk ke pojok taman.

Ada mas Eka disana.

"Tenang mas, nggak apa apa.." Kataku coba menenangkannya.

Tapi malah dia berontak, Dia mendorongku hingga jatuh.

"Aduuuuhhh" aku mengerang kesakitan.
Baru saja datang sudah kena serangan.

"Nis.. kamu nggak apa apa?" Anjar mencoba membantuku berdiri.

"Nisss.. Nisa.. aku bilang juga apa Nis.."  Indah kembali mengingatkan ku atas perkataannya tadi.

"Udah.. udah.. Aku nggak apa apa kok." aku berdiri lagi dibantu Anjar.

Aku membaca beberapa doa dengan khusyu dan yakin.
Mas Eka hilang.

"Mas Galih. Mas Galih ada masalah apa sama mas Eka? biar Nisa bantu. Biar mas Galih nggak dihantui terus."

"Huhuhuhu.. Maaf ka.. maafin aku ka.. Aku yang salah. Aku yang fitnah kamu.. maaf." kata mas Galih sambil menangis.

"Mas Galih mau aku temuin sama orang tuanya mas Eka? mas Galih harus minta maaf, mas Galih juga harus membersihkan nama baik mas Eka di Kantor.." pintaku.

"Tapi aku takut, dia selalu muncul setiap saat. Aku takut, dia pengen bunuh aku..." dia masih saja menangis.

Aku pikir mas Galih ini waras, hanya saja dia terlalu lelah terus menerus diteror mas Eka.
Dia sadar dengan yang dia ucapkan bahkan bisa diajak komunikasi.

"Sholat taubat dulu mas, minta ampun sama Allah.. nanti aku anter ke rumah mas Eka. Kasian mas Eka, nama baiknya tercoreng karena kasus di Kantor dulu, sampai tetangganya juga berfikir buruk.."

Mas Galih hanya menangis.
"Nis, udah ah.. Mending balik aja yuk" ajak Mia.

"Iya Nis, dia masih belum bisa diajak komunikasi lebih baik lagi, besok aja kita kesini lagi."saran Anjar.

Aku hanya bisa menghela nafas berat, ya baiklah. Mungkin harus perlahan.

"Ndah, aku balik dulu ya. Kalau ada apa apa sama mas Galih, kabarin ya Ndah." ucapku sebelum pergi.

"Iya Niss..beres.. Salam buat Indra."

"Iya, nanti aku sampein.."

Kami memutuskan pulang.
"Makan dulu yuk. Laper. "celetuk Mia.

"Mmm... aku pulang aja deh, kalian berdua aja. Aku turunin disini. Nanti biar naik taksi"kataku mencoba membuka ruang agar Mia& Anjar bisa bersama.

"Jangan Nis, aku anter sampai rumah aja ya, apa ikut aja makan.."kata Anjar.

"Duh, aku masih kenyang. ah..., turunin di rumah itu aja Njar.."kataku menunjuk rumah Indra.

"Rumah siapa Nis? kok banyak penjaganya?" Mia heran.

"Rumah Indra.. aku turun disana aja ya."kataku.

Akhirnya Anjar menurunkan ku didepan rumah Indra.
Saat kami parkir didepan, ada penjaga yang hendak menghampiri mobil  Anjar. Tapi begitu aku keluar dari mobil, dia mengurungkan niatnya lalu tersenyum kepadaku.

"Mba Nisaa.. kirain siapa."katanya menjadi ramah.

"Iya pak.. Mamah didalem nggak ya?"tanyaku.

"Ada kok. Ibu dan bapak dirumah, yapi mas Indra belum pulang mba"katanya lagi.

"Iya pak, nggak apa apa. Saya masuk ya"kataku.

Lalu dibuka lah pintu gerbang rumah dan aku pun masuk.

"Assalamualaikum" saat kulihat papah Indra sedang membaca koran diteras.

"Wa alaikum salam..ooohh Nisa..baru pulang kerja ya" tanya papah Indra yang melihat bajuku yang masih mengenakan baju kerja.

"Iya pah.. tadi dianter temen, lewat sini jadi aku mampir sekalian. Mamah mana Pah?"tanyaku sambil menjabat tangan beliau dan mencium punggung tangannya.

"Ada didalem. Masuk aja. Indra pulang malem kayaknya."

"Iya, Nisa tau tadi Indra udah ngabarin. Ya udah Nisa masuk dulu ya Pah.."kataku.
Aku pun masuk kedalam, kulihat mamah Indra sedang menonton Tv saja.

"Mamahhhh"

"Eh.. Nisa.. sama siapa?"tanya mamah Indra sambil memelukku lalu mencium pipiku.

"Sendiri mah, tadi lewat sini. Jadi mampir."

"Oh gitu, Indra pulangnya agak malem" ujar beliau.

"Iya, Nisa tau mah. tadi Nisa habis nengok temen di Rumah Sakit pas lewat sini jadi Nisa pulang kesini aja deh. Dirumah juga sepi."kataku sambil memeluk mamah Indra.

"Kamu udah makan?"

"Belum. Nanti aja mah, masih kenyang."

Aku agak menguap. Karena memang rasanya penat sekali memikirkan masalah mas Eka& mas Galih.
Aku takut mas Galih belum sadar sepenuhnya. Jadi solusiku tadi entah kapan bisa dilakukannya dan otomatis entah kapan kantor akan lebih tenang.

"Kamu capek ya.. sana istirahat aja di kamar Indra"

"Iya, agak ngantuk mah. Nisa ke kamar dulu ya Mah."

"Iya sana.. Istirahat ya.."

Aku segera masuk ke kamar Indra. Tanpa babibu lagi aku langsung tiduran di ranjang.
Ku tengok hp ku, sepertinya pesan ku belum dibaca oleh Indra.

Lama kelamaan mataku terasa berat dan aku pun tertidur.

***

Aku merasakan ada yang memelukku dari belakang.
Indra.

"Kamu udah pulang Ndra?"tanyaku sambil melihat ke belakangku.

"Udah, udah setengah jam yang lalu. kamu bobonya nyenyak banget sih."

"Mmmmm.. iya, ngantuk banget tadi. Berarti udah malem donk ini?"

"Udah jam 8 sayang"

"Ya ampun.. lama banget aku tidur ya.."

"Kamu udah sholat belum?" tanyanya.

"Lagi nggak sholat Ndra."
Aku berbalik lalu memeluk Indra. Masih ngantuk rasanya.
Tapi tenang begitu ada dipelukkan Indra.

"Bobo sini aja?"tawarnya.

"Hmm.. Nggak ah. ntar aku diomelin kak Adam.."

Indra hanya tertawa.
"Ya udah, makan dulu yuk. Terus aku anter pulang. kamu nggak ngabarin rumah tadi? mamah kamu telfon aku "

"Hm.. iya, lupa. Aku capek banget."

"Hm...., dasar.. ya udah yuk. Mamah udah nyuruh makan"

Kami segera keluar kamar dan menuju ruang makan.
Sudah ada orang tua Indra.

"Makan dulu Nis."

"Mau nginep aja disini?"

"Enggak pah, pulang aja. Maaf ya mah..pah Nisa tidurnya lama banget."

" Nggak apa apa.. namanya juga capek."

Segera kami menyantap hidangan malam ini.
Lalu setelah selesai, kami ngobrol sebentar dan Indra mengantarku pulang.

============

Pagi pagi sekali aku sudah berangkat ke kantor dengan membonceng kak Yusuf. Kak Yusuf akan keluar kota selama beberapa hari. Sampai di loby kantor. Aku terkejut dengan seseorang yang sedang duduk di sana.

"Mas Galih ?"
langsung aku berjalan cepat ke arahnya. Mas Galih ini terlihat lebih baik, penampilannya rapi dan terlihat lebih tenang.

"Nisa.. aku sengaja nunggu kamu disini."kata mas Galih.

Dia terlihat lain, tidak seperti kemarin saat aku menemuinya di Rumah Sakit.

"Lho.. mas Galih udah sehat?" tanyaku masih keheranan.

Bahkan aku menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Alhamdulillah. Aku ngikutin saran kamu kemarin. Hari ini aku mau ke pimpinan perusahaan, Aku mau mengakui semua kesalahanku. Aku juga udah pasrah kalau aku harus diPenjara. Aku udah ke Rumah Eka semalem. Aku udah minta maaf ke keluarganya."kata kata nya membuatku kaget.
Reaksinya bisa secepat itu? kupikir dia tidak mendengarku kemarin.

"Alhamdulillah.. Semoga jadi lebih baik ya mas kedepannya nanti."kataku.

"Iya Nis, makasih ya buat semuanya." Aku mengangguk senang.

Lega rasanya semua sudah berjalan dengan baik. Tinggal aku lihat hasilnya. Semoga mas Eka sudah tidak mengganggu karyawan disini lagi setelah ini. Aku masuk ke ruanganku, sudah ada Yuli dan Dimas.

"Pagiiii"sapaku ke mereka.

"Pagi Nis.. tumben pagi banget datengnya."

"Iya, tadi bareng kakakku soalnya"

Tak lama Anjar datang, sepertinya dari pantry karena membawa kopi agak banyak. Dia membuat kopi untuk kami. Tumben... batinku.

"Pagi Niss.. aku bikinin kopi nih"katanya sambil meletakan cangkir ke mejaku.

"Wah.. makasih. tumben nih bikinin kopi." tanyaku heran.

"Iya, aku bawa kopi sendiri. Kemaren dapet kopi dari Brazil.. mamahku yang dapet. Biar kalian nyobain. Aku bikinin sekalian semuanya."terangnya.

Aku tidak menaruh curiga lagi lalu aku langsung meminumnya, agak aneh rasanya. Aku agak mengernyitkan kening sambil berfikir.

"Emang agak lain rasanya Nis. Tapi kalau diminum agak banyakan pasti bikin fresh badan sama pikiran."kata Anjar.

Aku kemudian meminum lagi hingga setengah cangkir. Entah kenapa aku menurut saja, padahal sangat jelas rasanya aneh, mau diminum berliter liter rasanya juga sama. Tapi, bukannya badanku segar malah aku merasa pusing. Badanku terasa panas. Aku mencoba berjalan ke air minum pojok ruangan. Tapi seperti ringan sekali. Saat pak Dikin hendak masuk, pak Dikin menangkapku yang akan jatuh.

"Ya Allah mba Nisa.. kenapa mba?"tanyanya bingung.

"Niss. kamu nggak apa apa? kamu belum sarapan ya?"tanya Anjar yang sekarang memegangiku.

Aku tidak mampu menjawabnya.

"Aku anter ke Puskesmas dulu aja ya Nis." Aku dibawanya ke mobil Anjar.

Saat dimobil, Anjar memberikan ku air minum lagi. Kali ini air mineral, saat kupegang dingin sekali seperti habis dari dalam kulkas.

"Minum dulu Nis, siapa tau jadi mendingan."

Aku menurut saja apa yang dikatakan Anjar. Anjar menjalankan mobilnya, aku masih pusing, kulihat puskesmas sudah dilewatinya.

"Kita mau kemana Njar?"aku bergumam.

Anjar diam saja, hapeku berdering. Aku tidak melihat layar langsung ku angkat telfonku.

"Halo..."

"Nisss... kamu udah nyampe kantor ya?"suara pria dari seberang.

"Udah, ini siapa ya?"tanyaku yang masih merasa pusing sekali.

"Lho..., ini Indra Nis. kamu masih ngantuk?"

"Indra siapa sih?"aku masih ngelantur.

Seakan akan aku tidak ingat dengan Indra. Anjar langsung mengambil hapeku dan mematikannya.

"Nggak usah ngobrol sama orang lain! aku disini Nis.!"katanya.

Lalu menghentikan mobil dipinggir jalan.

"Sekarang kamu cuma dengerin kata kataku aja Nisa! Aku sayang kamu Nis!"

"Iya, Anjar aku juga sayang sama kamu"kata kata ku makin ngelantur.

Hatiku sadar apa yang kukatakan tapi pikiranku seolah menolaknya. Aku menuruti saja yang wisnu katakan.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu mobil Anjar, bahkan terkesan memukul mukul dengan keras.

"Bukaaaa!!! atau aku pecahin nih kaca!! "katanya.

Anjar membuka pintu mobil disebelahku. Aku ditarik paksa oleh laki laki itu.

"Kamu apain adikku?!!
bukannya ini jam kantor??!! kenapa kelayapan disini sih??"
dia masih membentak bentak Anjar.
Aku diam saja, tapi badanku masih lemas.

"Pergi kamu!! sampai Nisa kenapa napa, aku bakal habisin kamu! denger!!?" ancamnya.

Lalu dia membawaku masuk ke mobilnya.

"Kamu siapa sih? marah marah mulu.. aku mau sama Anjar.. bukaaa!!"kataku sambil memukul mukul pintu mobil.

"Nisa.. ini kak Adam Nis! kamu diapain sih sama dia. Bisa lupa sama kakak?? kita pulang!!"

Karena aku berontak kak Adam mengikat tangan dan kakiku. Sampai dirumah, kak Shinta kaget melihatku diikat oleh kak Adam.

"Ya ampun mas.. Nisa kenapa? kok diiket gini?"

"Tau nih..dia jadi aneh!!" Lalu kudengar kak Adam menelfon beberapa orang.

aku mual, aku muntah muntah di ruang tengah.

"Astagfiruloh haladzim..."teriak kak Shinta.

Terlihat muntahanku agak kehitaman. Kak Shinta ketakutan melihatku. Indra barusan datang.

"Kak... gimana Nisa? Dia kenapa sih kak."tanya Indra.

"Tadi aku ambil dia dari mobil Anjar.. udah kayak gitu. Nggak tau diapain sama Anjar. Brengsek!!" umpatnya.

Indra mendekatiku lalu memelukku.
"Nis.. ini aku Nis.. badan nya panas banget kak.."kata Indra.

Tiba tiba aku dorong Indra menjauh, aku kembali histeris tak terkendali.

"Pergi!! Pergi kalian!! Mana Anjar? "kataku ke mereka.

Indra memelukku erat, aku dorong lagi, bahkan aku tampar dia. Aku makin liar tak terkendali seperti aku dikendalikan sesuatu yang aku tidak tau apa.

"Udah!! Iket lagi aja Ndra. kita tunggu Yusuf pulang! aku udah nyuruh dia pulang cepet.."kata kak Adam.

Kemudian mereka mengikatku, agar aku tidak pergi kemana mana, aku juga diikat diatas ranjangku. Aku masih saja berteriak, lalu mulutku ditutup kain dan diikat juga. Semua orang sudah dirumah papah dan mamah yang tadi sudah pergi kerja, kemudian pulang lagi karena mendengar kabarku.

"Anjar yang nglakuin ini kak?"Indra terlihat sangat marah Hendak pergi tapi ditahan kak Adam.

"Udah Ndra.. nanti aja.. kita urus dulu Nisa. Baru kita bikin perhitungan sama dia!"kak Adam tak kalah marahnya.

1 jam kemudian kak Yusuf datang dengan kak Arif.
"Nisa gimana kak?"tanya kak Yusuf lalu masuk ke kamarku disusul kak Arif.

Aku masih saja berontak berusaha melepaskan diri.

"Astagfirullohhaladzim.."itu yang pertama kali diucapkan kak Yusuf saat melihatku.

"Gimana Suf.. Nisa kenapa sih?"

"Nisa kena ilmu hitam, sejenis pelet kak. Tapi reaksinya cepet banget ya. Yang aku liat, ini belum lama." Kak Yusuf pasti heran.

Karena tadi pagi aku masih normal tidak seperti ini.
"Udah Suf.. yuk kita coba hilangin"kata kak Arif.

Kak Yusuf& kak Arif melakukan rukiyah kepadaku, dengan dibacakan ayat suci Alquran aku meronta ronta dan menangis histeris.

"Buka ikatan yang dimulut kak" Saat dibuka aku kembali muntah muntah dengan warna yang sama seperti saat pertama aku muntah.

Sekitar 1 jam kemudian aku mulai lemas, aku sudah tidak berteriak lagi& menangis lagi.

"Kak..."
itu kata yang kuucap pertama kali saat melihat kak Yusuf duduk didekatku masih membaca ayat ayat Alquran.

"Alhamdulillah... Nisa.. kamu udah sadar?"tanya kak Adam.

"Ada apa sih ini? rame banget.. kok aku diiket?"kataku yang masih bingung.

Indra mendekat. "Nis... Kamu inget aku?"tanyanya

"Ya ingetlah, Indra... Kenapa? kok kamu nanya gitu?"kataku.

Indra memelukku."aku khawatir banget waktu kamu nggak kenalin aku Nis.."katanya berbisik ditelingaku.

"Sakit.. lepasin iketannya.."pintaku.

Lalu ikatan tangan dan kaki dilepaskan. Aku pun diantar mamah ke kamar mandi untuk membersihkan diri akibat muntahan tadi.

Indra juga ke kamar mandi belakang berganti pakaian dengan yang lebih bersih lagi, karena tadi memelukku dan terkena muntahan ku juga.
Setelah sprei diganti, aku disuruh tidur di kamar saja. Badanku lemas sekali, seakan tidak ada tenaga. Indra menemaniku dikamar dengan kak Shinta.

"Nis, kamu dikasih apa sama Anjar?"tanya kak Yusuf saat masuk kekamarku.

"Anjar? Mmm.. tadi pagi dia bikinin kita kopi kak, katanya kopi Brazil, cuma pas aku minum agak aneh sih rasanya.
Habis itu aku pusing.. aku nggak begitu inget lagi.." kataku yang masih memegangi kepalaku.

"Untung kakak belum jauh tadi, mampir rumah Arif dulu. Jadi bisa langsung pulang lagi"kata kak Yusuf. Indra masih setia disampingku.

"Lho Ndra, kamu nggak kerja? sana berangkat aja.. Aku udah nggak kenapa napa kok."pintaku.

"Nggak, aku ijin tadi begitu aku telfon kamu trus kamu ngomongnya ngelantur."katanya masih khawatir.

"Aku kenapa sih kak.. perutku juga masih nggak enak banget.."

"Kamu dipelet sama Anjar.. tapi udah kakak buang semua, Insha Allah udah nggak apa apa.. Kamu lagi haid ya?"tanya kak Yusuf.

Aku mengangguk. "Memang lebih gampang saat haid Nis.. karena kamu nggak sholat dan sedang dalam keadaan kotor, mungkin karena itu juga efeknya bisa sampai kayak gini."

" Nekad banget sih tu anak.."kataku sebal.

"Makanya nggak usah deket deket lagi sama dia, jangan mau nerima apapun dari dia, kalau perlu kamu resign aja Nis!!"saran kak Adam.

"Resign?"

"Iya, daripada dia bikin kamu kayak gini lagi, untung tadi kakak pas lagi ada perlu didaerah situ, ngliat kamu dimobil bareng Anjar perasaan kakak udah nggak enak banget.. habis itu Indra BBM kakak katanya kamu aneh. Ya udah kakak tarik aja kamu keluar dari mobil dia.."kak Adam masih kesal.

"Ya udah, lebih baik Nisa suruh istirahat dulu, biar cepet sehat. Nis, ini air diminum ya, sampai habis. Biar sisa sisa yang masih diperut cepet ilang juga"kata kak Arif sambil memberikan 1 botol besar air mineral.

Bisa kembung nih aku minum sebanyak ini. Aku hanya mengangguk.
Satu persatu mereka meninggalkan kamarku, hanya tinggal Indra saja.

"Aku juga keluar aja ya Nis, kamu istirahat. Kalau ada apa apa panggil aku aja"katanya.

****

Pusing dan mual masih kurasakan. Aku keluar kamar hendak mengambil makanan. Rasanya aku lapar, walau aku masih mual. Aku berjalan masih sempoyongan keluar kamar. Semua orang yang ada diruang tengah menatapku iba.

"Nis, mau kemana?"tanya mamah yang beranjak menghampiriku.

"Laper mah, mau ambil roti tawar"kataku sambil berjalan menuju dapur.
Mamah mengikutiku karena khawatir. Kak Shinta yang ada didapur sedang memasak melihatku sedih. Bau aroma dapur membuatku makin mual. Aku pun muntah muntah lagi dan pingsan. Segera aku dibawa Rumah Sakit oleh keluargaku. Muntahanku masih berwarna hitam.

Sampai di Rumah Sakit aku dirawat setelah dokter memeriksa kondisiku. HB ku sangat rendah hanya 3. Wajahku pucat bibirku membiru. Indra dan kak Adam pergi entah kemana, disini hanya ada papah, kak Yusuf dan kak Arif saja. Mamah dirumah menemani kak Shinta.

***

Aku sadar saat mendengar kumandang adzan maghrib yang entah dari mana.

"Nis, Gimana? apa yang sakit?"tanya papah khawatir.

Aku hanya menggeleng lemas.

"Mau makan Nis?"tanya kak Yusuf.

Aku masih menggeleng.

"Rif, Nisa gimana nih? udah nggak apa apa kan?"tanya kak Yusuf memandang kak Arif yang sedari tadi menatapku lekat lekat.

Seperti meneliti setiap inci dari ku.

"Nggak apa apa kok Suf. Tinggal pemulihan aja. Wajar Nisa kaya gini, dia kan muntah muntah terus tadi. Diminumin air doa aja. Inshaa Allah cepet pulih"kata kak Arif.

***

Aku dirawat hingga 4 hari, sampai kondisi benar benar fit.

Indra, kak Yusuf, kak Adam berjaga bergantian setiap hari. Indra setiap malam tidur di Rumah Sakit menemaniku. Walau sudah ada kak Adam atau kak Yusuf yang menjaga. Akhirnya hari ke 5 aku sudah bisa pulang, wajahku sudah segar, aku pun sudah tidak muntah muntah lagi. Dan yang pasti aku sudah tidak ingat Anjar lagi.
itkgid
theorganic.f702
regmekujo
regmekujo dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.