Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.
story keluarga indigo.
Quote:



KKN Di Dusun Kalimati

Quote:


Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.

Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.

Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.




story keluarga indigo.



INDEKS

Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.

Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.

Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).

INDEKS

Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end



story keluarga indigo.

Quote:


Quote:



INDEKS

Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang

Konten Sensitif
story keluarga indigo.


Quote:

Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.

INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


INDEKS

part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
ferist123Avatar border
kemintil98Avatar border
arieaduhAvatar border
arieaduh dan 22 lainnya memberi reputasi
21
21.7K
306
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#140
15 Kerja
Atas rekomendasi dan campur tangan mamah Indra, aku sudah mulai bisa bekerja hari ini. Ini hari pertamaku bekerja. Langkahku pelan berjalan masuk ke dalam gedung besar dengan 20 lantai tersebut. Suatu tindakan nepotisme kecil memang. Tapi, aku akan berusaha bekerja keras dan tidak mempermalukan Mamah karena telah membantuku.

Suasana kantornya cukup ramai. Beberapa karyawan dan karyawati sibuk mondar mandir. Sesuai instruksi, aku segera mencari ruangan HRD. Tidak butuh proses yang pelik, karena aku memang sudah diterima di kantor ini. Bagian HRD hanya memberitahu tentang semua sistem kerja yang harus kulakukan selama bekerja. Di bagian mana aku ditempatkan, dan apa saja yang harus kulakukan. Pak Bimo adalah orang yang ramah dan baik, sebagai pimpinan HRD.

Beliau sendiri yang mengantarku ke ruanganku. Dan memperkenalkan ku pada semua orang di sini. Ada sekitar 5 orang yang bekerja dalam 1 ruangan. Setiap meja diberi pembatas separuh badan saja. Dengan kedatanganku menambah anggota menjadi 6 orang. 3 orang laki laki yang bernama Anjar, Dimas dan Fitra.
3 wanita nya Mia, Yuli dan Aku.

Mereka orang orang yang menyenangkan, tidak seperti senior yang sok berkuasa ke juniornya. Karena baru satu hari aku bekerja di sini, mereka terlihat antusias dan menyenangkan.

"Welcome, Nisa ... semoga betah, ya." itu kata pertama yang kudengar dari Mia.
Semua menjabat tanganku dan kami terlibat beberapa obrolan ringan sebelum memulai bekerja. Aku pun tidak sungkan bertanya pada mereka jika ada hal yang tidak ku mengerti.

Dalam keheningan dengan pekerjaan masing masing, pintu ruangan kami diketuk dan otomatis membuat kami melihat ke arah pintu. Kebetulan semuanya terbuat dari kaca. Ini agak aneh, karena mereka bilang jika ada yang ingin masuk ke dalam, pasti langsung membuka pintu. Karena divisi kami memiliki banyak anggota, dan kami bukan salah satu bagian pemimpin perusahaan yang mengharuskan tata Krama untuk setiap tamu yang masuk.

"Mulai deh," kata Yuli, berbisik.

"Nisa ... kamu siap siap aja, ya. Di sini angker," jelas Fitra yang duduknya paling dekat denganku.

"Masa sih, Fit?"

Fitra mengangguk yakin, sambil menatap ngeri ke arah pintu.

Tapi kenapa aku tidak melihat apa pun, ya? Siapa tadi yang mengetuk. Apa karena aku tidak fokus? Karena penasaran, aku mencoba berkonsentrasi kembali, menatap ke pintu. Kini bayangan itu perlahan terlihat. Awalnya samar, namun makin lama jelas. Ada sesosok pria yang sedang berjalan mondar mandir di depan lorong divisi kami.

Kepalanya berdarah, matanya hampir keluar, badannya seperti remuk akibat tergilas sesuatu.
Aku pura pura kembali bekerja. Aku tidak mau berurusan dengan dia. Cukup tahu, dan melihat saja rasanya sudah cukup. Karena rasa penasaran yang ditahan itu tidak enak. Tapi setelah tau, malah makin tidak nyaman.

"Toilet ah," kata yuli lalu berjalan keluar ruangan. Aku terus memperhatikan Yuli, karena sosok tersebut masih ada di depan lorong. Anehnya, Yuli diikuti olehnya. Ah, semoga dia baik baik saja.

"Emangnya angker gimana sih, Fit?" tanyaku mulai penasaran.

"Kabarnya dulu ada karyawan yang bunuh diri. Loncat dari basemen atas. Arwahnya gentayangan." Fitra berbisik ke arahku.

"Suka nongol gitu?" tanyaku lagi.

"Iya, kadang gitu. Kadang cuma suara, kayak tadi. Atau bau aneh."

"Dia dari divisi kita, ya?"

Mendengar pertanyaan ku, mereka menatapku bersamaan.

"Kok kamu tau, Nis?" tanya Anjar lalu mendekati ku.

"Eum... iya, tadi dia mondar mandir di depan," kataku ragu.

"Hah? Serius? Kamu bisa liat, Nis?" Dimas ikut heboh.

"Emang dia bunuh diri kenapa, ya?" tanyaku penasaran.

"Kabarnya stres akibat tekanan hidup." Anjar yang menjelaskan.

Yuli kembali dari toilet, dan makhluk itu masih saja mengikutinya.
Kebetulan Yuli duduk di depanku. Hingga aku mampu melihat dengan jelas.

Bau anyir dari sosok itu membuatku mual. Aku menutup hidungku. Fitra yang melihatku malah bingung. Karena aku yakin dia juga pasti mencium baunya.

"Eh, bau apa ya ini?" tanyanya sambil menutup hidungnya sama sepertiku.

Aku melirik tajam ke Fitra dan memberikan isyarat agar dia diam. Dia yang paham, langsung menutup rapat mulutnya. Wajahnya pucat dan ia kembali meneruskan pekerjaannya. Padahal aku tau kalau sebenarnya Fitra tidak fokus. Hanya agar terlihat sibuk saja.

Yuli memijat bahunya. Terlihat terganggu atas sesuatu yang tidak dia lihat. Tapi aku melihatnya.
"Kenapa, Yul?" tanyaku dingin sambil menatap makhluk itu.

"Bahuku sakit deh. Salah urat kali, ya," katanya berasumsi sendiri.

Aku menggumamkan doa dalam hati agar makhluk itu pergi. Semakin lama dia di sini maka aku juga tidak tahan. Sosok itu melirik tajam ke arahku. Merasa terusik dan pasti dia menyadari kalau aku bisa melihatnya. Ia mendekat ke mejaku.

Aku diam tanpa reaksi heboh seperti biasanya, mencoba lebih berani menghadapinya.
Teringat ucapan Indra," lawan rasa takutmu, Nis." Setidaknya aku harus mencobanya sekarang.

Sosok itu terus menatapku dingin. Badanku sudah gemetaran. Kakiku lemas, bahkan aku merasa tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhku.

"Astagfirullohaladzim." Sebuah suara pria setengah baya membuatku mulai bisa menggerakan tubuh. Beliau merapalkan doa doa untukku.

"Alhamdulillah. Makasih, Pak Dikin," kata Mia pada pria tersebut. Aku menoleh ke arahnya, penasaran siapa yang sudah menolongku kali ini. Dari pakaiannya dia pasti OB di kantor ini.

Pak Dikin juga memberiku minum yang sudah dibacakan doa.

"Minum dulu, Mba. Oalah.. Hari pertama kerja udah dapet sambutan ya, mba," ujarnya. Aku tidak menyahut hanya menerima gelas itu lalu meneguknya.

"Kamu nggak apa apa, Nis?" tanya Anjar, terlihat cemas. Aku hanya menggeleng menanggapi.

Sepertinya Pak Dikin bisa peka terhadap makhluk halus juga. Wah, ini bagus kalau begitu. Aku bisa sharing seputar penghuni kantor ini dengan beliau. Sesuatu yang jarang terjadi selama ini. Setelah aku sudah tenang Pak Dikin pergi kembali bekerja.

"Nis, tadi kenapa sih?" tanya Fitra yang sangat penasaran. Aku menarik nafas panjang lalu menatap mereka satu persatu. Mereka semua mengerubungi ku karena mencemaskan keadaanku.

"Jadi bau yang anyir tadi dari setan itu ya, Nis?" tanya Fitra lagi. Aku hanya diam menatapnya datar dengan memegang gelas yang berisi air mineral tadi.

"Nis, jawab dong!"

Aku yang memang belum fokus karena masih teringat hal tadi, akhirnya terlihat seperti orang linglung.

"Nis, jangan nakutin dong.. Pak Dikin udah balik tuh.. kamu nggak kerasukan lagi, kan?" tanya Mia.

"Iya, aku nggak apa apa. Masih lemes aja. Apa salahku sih, baru aja hari pertama kerja," Gumamku sambil menekan kepala.

"Dia kan dulu duduknya di situ, Nis. Di meja yang kamu tempati," bisik Fitra, menatap kursi yang kutempati dengan tatapan ngeri.

"Apa?!"

Jadi tempat kerjanya dulu itu di meja yang sekarang aku gunakan? Ah sial. bener benar sial.

"Orang sebelum aku yang kerja di meja ini gimana?" tanyaku ke mereka.

"Nggak ada yang betah, Nis. Semua pasti langsung resign setelah 1 minggu. Ada yang kesurupan, diikutin sampai rumah, sering digangguin saat kerja, " terang Mia.

" Ya Allah." aku langsung menyembunyikan wajahku di meja kerja sambil menutupinya dengan tangan. Rasanya aku frustrasi sekali sekarang.

Tunggu! tapi kenapa dia tadi juga ngikutin Yuli, ya. Dan diam cukup lama juga di meja Yuli.

"Ngomong ngomong, Eh Yuli, kamu udah berapa lama kerja di sini?" tanyaku.

"Aku? Baru dua bulan ini," sahutnya yang kini duduk menghadap padaku dengan memutar kursinya ke belakang

Aku pusing jadinya. Masalah ini masih menjadi teka teki yang belum bisa kupecahkan dengan cepat. Aku putuskan ke Pantry membuat kopi. Sekalian jalan jalan menghirup udara segar. Semoga bisa membantu.

Letak pantry yang memang ada di lantai ini memudahkan ku menemukannya. Apalagi sudah ada papan petunjuk di atasnya. Saat aku membuka pintu, ada Pak Dikin  sedang duduk di salah satu kursi. Menatapku dengan wajah datar. Sepertinya ia sedang kelelahan karena bekerja seharian. Apalagi di umur nya yang sudah tidak lagi muda.

"Gimana, Mba? Ada yang bisa saya bantu?"

"Mau bikin kopi, Pak."

"Tadi pesan aja lewat telepon, Mba. Kan nanti saya antar ke ruangan."

"Nggak usah, pak. Pengen jalan jalan sekalian."

"Bapak udah selesai kerjaannya?"tanyaku basa basi.

Aku memang sengaja ingin menemui pak Dikin, menanyakan masalah tadi.

"Udah ini mba, lanjutin nanti lagi. Istirahat dulu. capek"katanya sambil mengibas ngibaskan topinya ke wajahnya.

"Mba nya mau nanya apa ke bapak.." tanyanya seolah tau.

"Bapak kayak dukun aja deh. Hehe.."

"Dukun pijet mba.. Jeehe" beliau berusaha melucu.

"Itu loh pak, tadi tuh beneran arwah penasaran salah  satu karyawan sini?"

"Ya bisa jadi mba. Dia memang pernah kerja disini, udah lama banget, pas saya baru kerja disini. Jadi dia bunuh diri mba, mungkin karena tekanan hidup.."jelas pak Dikin.

"Jadi bener, kalau dia dulu yang duduk di meja saya ya pak?"

"Iya mba.. udah berkali kali yang nempatin meja nya mba ndak betah. Paling lama 1 bulan.. semoga mba Nisa bisa lama ya kerja disini.."

"Amiin.. Trus meja depan saya, gimana pak?"tanyaku masih penasaran.

"Menurut rumor sih, Yang bunuh diri namanya mas Eka.. dia ada masalah sama temen 1 divisi, ya itu yang mejanya didepan mba Nisa.. nggak lama setelah mas Eka meninggal, mas Galih gila.. Sekarang di RSJ mba.."kata pak Dikin berbisik.

"Masya allah.. Ada masalah apa ya pak? sampai mas Galih nya kayak gitu dan mas  Eka bunuh diri.."

"Nggak tau mba.."

Kopi selesai ku buat. Aku pamit ke pak Dikin hendak kembali ke ruanganku.

Jarak pantry ke ruanganku tidak begitu jauh sebenarnya. Hanya melewati gudang dan toilet.
Aku melihat ada OB yang sedang mengepel lantai.
Kaki ku kembali lemas, seakan tidak percaya, yang didepanku adalah pak Dikin.
Pak Dikin menatapku bingung.

"Mba Nisa kenapa? sakit? kok wajahnya pucat?"tanya pak Dikin .

Aku amati lekat lekat...
Ini beneran pak Diikin bukan ya? kok tiba tiba sudah ngepel disini. Perasaan tadi ada di pantry .

"Pak Dikin kok disini? bukannya tadi pak Dikin di.... "aku menunjuk pantry. Pak Dikin bingung.

"Mba Nisa kenapa? saya dari tadi disini kok.. habis ngepel depan."

"Tadi saya ketemu pak Dikin dipantry pak... sampai ngobrol lama juga kok.. itu siapa berarti ..."kataku lemas

"Ya Allah.. Memang sering kejadian kayak gini mba.. ayok bapak antar ke ruangan mba Nisa. Bapak bawakan kopinya ya."

Aku berjalan ke ruangan ku dengan langkah yang ringan sekali. Pandanganku buram.

"Lho mba Nisaa.. mba... mba... tolong.. tolong.."
Aku masih mendengar suara pak Dikin. Lalu sunyi.

***
Bau minyak kayu putih ada diujung hidungku.
Perlahan aku membuka mataku.
Sudah ada Mia, Yuli, Anjar dan beberapa karyawan OB.

"Alhamdulillah udah sadar..."

"Minum dulu mba Nisa.."

"Kenapa sih Nis.. ok bisa pingsan gini?"tanya Yuli.

"Eh jangan ditanyain dulu kasian Nisa.."kata Mia.

"Nis, aku anterin pulang ya..tadi aku udah ijin sama bos.. Yuk.."kata Anjar.

Aku mengikuti saja ajakan Anjar.
Aku pulang diantar Anjar.

Sampai dirumah, aku mengajak Anjar mampir. Tapi dia menolak karena masih harus kerja lagi.

Aku masuk kerumah disana ada kak Shinta bersama Aim.
"Lho kok udah pulang Nis?"

"Huft.... Baru hari pertama udah berat kak!!"kataku sambil merebahkan diri di sofa depan tv.

"Kerjaannya ngapain sih? berat banget emangnya?"tanya kak Shinta sambil memeluk Aim.

"Kerjaan nya sih enteng. Biasa aja.. Penghuninya yang luar biasa "kataku

"Hah... banyak Nis?"

"Baru 1 yang nongol kak. Tapi... ah gitulah.. Nisa pusing..."kataku sambil menutup kepalaku dengan bantal yang ada disofa.
Dan akhirnya aku tertidur.

***

"Niss... mandi dulu sana.. udah sore.. tidur mulu deh.."suara kak Yusuf membangunkanku.

"Hmmm...."aku beranjak masuk ke kamarku.

Aku hendak melanjutkan tidur tapi Indra menelfonku.

"Ya?"

"Assalamualaikum." Suara Indra lembut.

"Wa alaikum salam."

"Kamu kenapa, sayang? kok males banget angkat teleponnya?"'

"Hm ... aku ngantuk, Ndra. Maaf ya. kamu kapan pulang?"

"Kangen, ya."

"Iya lah."

"2 hari lagi, ya. Sabar."

"Hm. Lama." aku merajuk.

"Hehe. eh kata mamah kamu hari ini udah masuk kerja? gimana hari pertama kerja?"

"Huft ... lemes. makanya aku pulang cepet tadi."

"Lho kenapa? kok lemes gitu?"

"Banyak setan nya, Ndra," kataku merengek.

"Kalau kamu nggak mau nerusin, ya udah, resign aja, sayang. setelah kita nikah nanti, kamu nggak usah kerja juga nggak apa apa. Di rumah aja," pintanya.

"Tapi di rumah terus juga bosen, Ndra."

"Terus gimana?"

"Aku terusin dulu aja deh. gampang kalau besok aku nggak kuat aku resign aja."

"Ya udah terserah kamu aja Nis.. kamu lagi ngapain nih? udah mandi belom? sholat ashar dulu.."

"Lagi tidur tadi.. "

"Ya udah,sekarang mandi.. sholat dulu. Nanti kita telfonan lagi "

Aku pun mengakhiri telfonku dengan Indra.
Aku bergegas mandi kemudian sholat.
Lalu aku kekamar Aim. Bermain dengan Aim sebentar.

" Nis.. ada tamu tuh.."kata kak a
Adam yang barusan pulang kerja.

"Siapa?"

"Kakak belum pernah liat. Cowok. hayoo ati ati...ntar ketauan Indra lho."ledeknya.

"Ih apaan sih kakak.."
Aku menuju ke teras. Ternyata Anjar.
"Hai  Njar... Udah pulang kerja?"tanyaku basa basi.

"Baru aja Nis.. mampir kesini sekalian pulang. Kamu gimana?"

"Aku udah nggak apa apa kok. Istirahat bentar juga udah fresh lagi. Eh mau minum apa?"

"Apa aja deh Nis.."
"Bentar yaa.. Mboook.."teriakku ke dalam rumah.

"Ya neng.." si mbok udah nongol aja di depan pintu .

"Bikinin minum ya..kopi.."

"Neng mau dibikinin sekalian?"

"Nggak usah.."kataku.

Si mbok pun masuk kedalam.

"Btw rumah kamu sebelah mana Njar? kok bisa lewat sini?"tanyaku penasaran.

"Deket kok Nis.. Kita 1 kompleks kok, cuma aku di blok ujung sendiri"katanya.

"Oooo..iya to.. Aku baru tau. hehe"

"Iya, kalau kamu mau bareng berangkat sama pulang kerja, ayok aja.."ajaknya.

"Hehehe. Iya, gampang Njar..."

Terdengar langkah kaki didalam rumah, kak Adam.

"Niss... Indra balik kapan sih?"tanya kak Adam sambil berdiri disebelahku.

"2 hari lagi katanya kak. Kenapa?"

"Ada perlu aja.. Ini siapa
Nis"tanya kak Adam ke Anjar.

"Ini Anjar kak.. temen kerja Nisa.."kataku
Lalu Anjar menjabat tangan kak Adam saling memperkenalkan diri.

"Ya udah Nis..aku balik dulu ya.."

"Ooh gitu.. iya Njar.. makasih ya udah mampir."

Anjar pamit juga ke kak Adam.

"hati hati Nis.. dia playboy..dia suka sama kamu.. kakak nggak mau sampai hubunganmu sama Indra rusak gara gara dia.."kata kak Adam.

"Iya kak.. Nisa bakal jaga jarak.."

Kak Adam ini memang selalu tepat menebak karakter orang.
Berkali kali kak Adam memperingatkanku dulu, saat ada yang berusaha mendekatiku.
Dan memang, orang orang yang kak Asam black list, memang bukan orang yang cukup baik untukku.

Hanya ke Indra saja, kak Adam yakin kalau Indra inshaa Allah yang terbaik untukku.

==========
coeloet
theorganic.f702
regmekujo
regmekujo dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.