- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.4K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#19
Spoiler for 18. Kebetulan? (Part 2):
Rekaman sudut pelaku pun dimulai, ia berada di lorong Rumah Sakit saat malam. Suasana sudah sepi, ia pun berjalan dengan santai lalu berhenti di pintu ruang otopsi tempat Kania berada. Pelaku mendorong pintu secara perlahan dan masuk ke dalam, dari rekaman pun terlihat Kania yang sedang duduk bersandar membelakangi pelaku.
Dengan santainya pelaku berjalan mendekat dengan sebilah pisau di tangan kanannya, ia pun menutup mulut Kania dari belakang lalu menusukkan pisau ke arah perut Kania. Terdengar rintihan dari mulut Kania yang tertahan oleh tangan pelaku, dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menjaga Kania agar tetap pada posisinya. Pelaku pun menarik pisau ke arah atas untuk membuka perut lebih besar, hingga rintihan Kania berhenti begitu saja.
Pelaku membawa Kania ke arah kasur untuk mendudukkan Kania di kursi yang tersedia, ia pun menarik usus dari dalam perut Kania dan diletakkan di atas kasur. Pelaku nampaknya melihat kalung yang dikenakan Kania, ia menarik paksa kalung tersebut dan dilihat dengan seksama. Beberapa saat berlalu, pelaku pun menjahit kalung tersebut dengan benang di wajah Kania. Ia pun menyisipkan bunga anggrek di antara jahitan tersebut, sampai akhirnya setengah wajahnya selesai dikerjakan.
Video pun berakhir, mungkin saat itu juga ia menyiapkan petunjuk sesuai dengan apa yang Damar temukan. Ia pun menyadarkan tubuhnya seraya mengatur nafasnya, Damar pun sempat melirik ke arah Ali yang masih bertanya-tanya kepada Agung.
Beberapa jam berlalu, Agung pun keluar dari ruangan. Ali mengusap wajahnya beberapa kali lalu bangun dari duduknya, ia mendekat ke arah Damar yang sedang berdiri menatap ke arah luar lewat jendela, dengan rokok yang sudah menyala di tangannya.
“Agung mau bertindak sendiri...”
Damar menatap ke arahnya.
“...dia berencana untuk menembak pelaku langsung jika ada kesempatan, itu yang membuat dia melakukan itu semua kepada dokter Kania.” Ucap Ali.
“Lo bisa liat video di komputer gue.” Sahut Damar.
“Video apa?” Tanya Ali.
“Gue ngga sengaja ketemu dokter Kania, dan dia cerita soal rencana Agung. Akhirnya gue buat rencana sama dia untuk salin rekam jejak di kartu memori yang gue kasih, sayangnya yang ada di kartu memori itu cuma video.” Jelas Damar.
“Video apa sih?...” Ali berlalu menuju kursi Damar, “gue tonton aja nih?”
Damar mengangguk perlahan. Ali pun menonton video tersebut, tentunya ia dibuat tidak percaya dengan apa yang ia saksikan. Damar mendekat ke arah Ali, bersamaan dengan berakhirnya video tersebut. Damar pun menunjuk ke arah kertas yang juga ia temukan, Ali membaca kertas tersebut.
“Maksudnya apa ya?” Tanya Ali bingung.
“Pelaku ada di antara kita...”
Ali menatapnya dengan heran.
“...korban di belakang panggung, pernah kenal sama Anggi. Kasus Pak Candra, ada suara wanita di rekaman itu. Sasa pun semalem ngga di rumah.” Ucap Damar.
“Sasa ngga di rumah? Anggi juga ngga di rumah, dan ada yang belum gue ceritain ke lo...”
Damar menatap Ali dengan curiga.
“...kalung yang ada di wajah Kania, sama persis dengan yang gue beliin buat Anggi. Gue beli kalung itu untuk hadiah hari pernikahan, dan belinya sama Leony. Saat gue kasih kalung itu ke Anggi, ekspresinya dia keliatan terkejut. Tapi gue ngerasa, terkejutnya lebih ke arah panik.” Jelas Ali.
“Lo yakin dia panik?” Tanya Damar.
Ali mengangguk pelan, “Gue udah lama sama Anggi, jadi gue bisa bedain ekspresinya dia.”
“Sasa pun selalu ngga ada di malam sebelum pembunuhan.” Ucap Damar.
“Anggi pun sama...” Ali menghela nafasnya, “apa mungkin Mar?”
Damar menggeleng, “Kita pun ngga bisa lupain Talia kalau gitu, dan sekarang bertambah dengan Agung yang mulai menginterfensi diluar wewenangnya dia.”
“Mungkin ngga sih? Salah ngga sih yang kita lakuin? Curiga sama pasangan kita sendiri?...”
Damar menggelengkan kepalanya pelan.
“...gue ngerasa ngga pantes Mar.” Keluh Ali.
“Gue juga sama.” Ucap Damar.
Suasana menjadi canggung begitu saja, membiarkan Ali dan Damar dalam perasaan bersalahnya, hingga malam pun tiba dengan sinar rembulan yang menemani.
“Sayang...”
Damar menatap ke arah Sasa.
“...kamu nggapapa?...”
Damar mengangguk dengan pelan tanpa mengucapkan kata-kata, Sasa pun berjalan mendekat ke arahnya lalu mencium keningnya.
“...kamu keliatan capek banget, ayo ke kamar.” Ajak Sasa.
Sasa menggenggam tangan Damar dan menariknya hingga berhasil bangun dari duduknya, ia menuntun Damar untuk keluar dari ruang kerja menuju kamar mereka. Sasa pun mendorong Damar pelan hingga ia terbaring di atas kasur, Sasa menyusul kemudian untuk berbaring di sampingnya.
“Kamu kenapa?...”
Damar menatap Sasa dalam diam.
“...kalau ada apa-apa, cerita ke aku. Mungkin dengan cerita ke aku, beban kamu seenggaknya bisa lebih ringan. Jangan lupa, kamu makhluk sosial. Kamu juga butuh bantuan dari orang lain.” Ucap Sasa.
Damar menghela nafasnya, “Maafin aku ya, aku lagi ngerasa bingung sekarang. Kasus pembunuhan dokter Kania, jadi bikin aku ngerasa kayak semuanya makin berantakan.”
“Berantakan? Coba cerita.” Pinta Sasa.
“Semakin lama, kasus pembunuhan semakin deket, dan korban-korbannya juga yang mulai terlibat dalam penyelidikan kasus. Mulai dari Pak Candra, sampai terakhir dokter Kania. Jadi seakan-akan, siapapun yang bantu kita akan jadi korban berikutnya." Jawab Damar.
“Maksudnya kamu, pelakunya tau siapa kalian?” Tanya Sasa.
“Itu tebakan aku aja, karena bukan kebetulan kalau korbannya orang-orang yang bantu kita. Maksudku, di antara banyaknya orang di luar sana, kenapa targetnya orang-orang di dekat kita? Itu yang bikin aku mikir kayak gitu.” Jelas Damar.
“Siapa menurut tebakan kamu?” Tanya Sasa.
“Pa...”
Ali menatap ke arah Leony.
“...Papa kenapa?” Tanya Leony.
“Papa kenapa?” Tanya Ali bingung.
“Papa dari tadi pulang sampai sekarang kok melamun terus, ada masalah Pa? Atau Papa capek aja karena seharian investigasi kasus?” Tanya Leony.
“Iya, Papa agak capek aja.” Jawab Ali berbohong.
“Kamu istirahat aja...”
Ali menatap Anggi yang sedang mencuci piring.
“...biar pikiran kamu ngga pusing, dan kamu ngga sakit...”
Anggi mendekat ke arah Ali dan Leony.
“...ayo kita istirahat.” Ajak Anggi.
Leony menganggukkan kepalanya lalu bangun dari duduknya, Ali pun menyusul kemudian bersama Anggi. Setibanya di lantai atas, Leony memeluk Anggi dan berganti memeluk Ali.
“Selamat tidur ya Pa, Ma.” Ucap Leony.
“Selamat tidur sayang.” Jawab Anggi.
Leony masuk ke dalam kamar, Ali dan Anggi pun juga masuk ke dalam kamar. Tangan Anggi mengarahkan Ali dari belakang, ia mengarahkan Ali menuju kasur lalu memaksanya untuk merebahkan diri di sana. Anggi pun mematikan lampu lalu menyusul kemudian.
“Kamu kenapa? Coba cerita.” Ucap Anggi.
“Aku bingung, kayaknya pelaku semakin deket.” Ucap Ali.
“Semakin deket?” Tanya Anggi heran.
Ali mengangguk, “Aku ngerasa kayak pelakunya mulai interfensi ke orang-orang sekitar kita. Sebut aja Pak Candra, ketika dia bantu kita, dia jadi korban. Terus dokter Kania, dia pun akhirnya jadi korban. Abis ini siapa lagi? Bisa jadi Damar, Pak Agung, atau siapapun yang terlibat di kasus ini.”
“Tapi apa itu jadi acuan? Maksud aku, antara Pak Candra dan Dokter Kania kan jaraknya cukup lama. Terlebih dokter Kania lebih dikenal dibandingkan Pak Candra, tapi justru Pak Candra yang dibunuh duluan.” Ucap Anggi.
“Itu yang bikin aku sama Damar bingung, dan menurut kami, pelaku adalah orang dekat. Kalau memang pelaku bukan orang dekat, dia bisa milih korban secara acak di luar sana.” Jawab Ali.
“Apa mungkin ini kebetulan aja? Pelaku sebenernya milih korban secara acak, tapi berkesinambungan untuk kalian? Bisa jadi kan?” Tanya Anggi.
“Menurut Damar, dia pernah bertatapan dengan pelaku di Rumah Sakit saat konferensi pers kasus pembunuhan pertama. Itu semakin menguatkan kalau pelaku tau siapa orang yang membantu kami.” Ucap Ali.
Anggi menggenggam tangan Ali untuk menenangkannya, ia pun mencium bibirnya singkat. Tangan Ali menyeka rambut yang menutupi sedikit wajah Anggi.
“Aku khawatir kalau pelaku sampai tau siapa keluarga kita. Ada kamu, Leony, Damar, dan Sasa, aku ngga mau kalian jadi korban berikutnya.” Ucap Ali.
“Kamu jangan khawatir, semuanya akan baik-baik aja.” Ucap Anggi.
“Semoga.” Ucap Ali.
Anggi tersenyum, kemudian ia mendekatkan posisi tidurnya pada Ali. Malam pun berlalu, Anggi sudah terlelap dalam tidurnya. Tidak dengan Ali, yang masih memandanginya dalam kesunyian malam. Drrt!
Ali meraih ponselnya yang ada di atas meja tanpa merubah posisinya. Ia pun berhasil meraih ponsel itu dan membaca pesan masuk yang memang sudah ia tunggu.
“Sekarang.” Damar.
Secara perlahan, Ali bangun dari tidurnya agar tidak mengganggu Anggi. Ia pun keluar dari kamar dan berlalu menuju lantai bawah, sesuai dengan rencana yang sudah dibuat dengan Damar di kantor.
“Jadi gimana nih?” Tanya Ali.
“Gimana kalau kita cek seisi rumah masing-masing? Tanpa mengurangi rasa hormat gue sama Anggi, mungkin aja ada alat-alat atau temuan lain yang bisa jadi petunjuk. Gue juga akan ngelakuin itu.” Ucap Damar.
“Kalau gitu, gue juga minta maaf lah sama Sasa.” Ucap Ali.
“Oke, periksa tempat-tempat yang sekiranya bisa jadi tempat persembunyian, termasuk lemari es dan garasi.” Ucap Damar.
“Tengah malem berarti?” Tanya Ali.
“Ya, pas mereka tidur.” Ucap Damar.
Ali pun tiba di dapur, ia membuka lemari es untuk memeriksa apakah ada celah untuk menyembunyikan barang-barang. Ali mengeluarkan beberapa barang-barang yang memenuhi lemari es, namun ia tak juga menemukan benda-benda mencurigakan di sana. Ali kembali memasukkan barang-barang ke posisinya semula untuk mengurangi rasa curiga.
Ali berlalu untuk membuka pintu yang mengarah ke garasi, ia menyalakan lampu hingga menerangi seisi garasi. Secara perlahan, Ali memeriksa alat perkakas yang biasa digunakan. Ali kembali teringat dengan video rekaman pembunuhan Kania, ia pun mencari pisau yang digunakan pada rekaman tersebut.
Beberapa saat dalam pencarian, ia tidak menemukan benda yang dicari, bahkan benda-benda yang sekiranya bisa digunakan untuk membunuh sesuai dengan hasil otopsi. Ali menghela nafasnya singkat, ia pun menghubungi Damar untuk memberikan kabar.
“Nihil Mar.” Ali.
Ali pun kembali mematikan lampu dan menutup pintu. Ia berjalan pelan untuk kembali menuju lantai atas. Ali membuka pintu secara perlahan dan masuk ke dalam kamar, ia menemukan Anggi yang masih tertidur dengan pulasnya. Ali pun kembali merebahkan dirinya di samping Anggi, dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia sempat mencium kening Anggi.
“Maaf ya.” Ucapnya pelan.
Ali pun kembali pada posisinya lalu memejamkan mata. Ia berdoa, semoga apa yang baru saja ia lakukan tanpa sepengetahuan Anggi, bisa dimaafkan. Drrt!
“Sasa cuma punya banyak benang jahit.”
Dengan santainya pelaku berjalan mendekat dengan sebilah pisau di tangan kanannya, ia pun menutup mulut Kania dari belakang lalu menusukkan pisau ke arah perut Kania. Terdengar rintihan dari mulut Kania yang tertahan oleh tangan pelaku, dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menjaga Kania agar tetap pada posisinya. Pelaku pun menarik pisau ke arah atas untuk membuka perut lebih besar, hingga rintihan Kania berhenti begitu saja.
Pelaku membawa Kania ke arah kasur untuk mendudukkan Kania di kursi yang tersedia, ia pun menarik usus dari dalam perut Kania dan diletakkan di atas kasur. Pelaku nampaknya melihat kalung yang dikenakan Kania, ia menarik paksa kalung tersebut dan dilihat dengan seksama. Beberapa saat berlalu, pelaku pun menjahit kalung tersebut dengan benang di wajah Kania. Ia pun menyisipkan bunga anggrek di antara jahitan tersebut, sampai akhirnya setengah wajahnya selesai dikerjakan.
Video pun berakhir, mungkin saat itu juga ia menyiapkan petunjuk sesuai dengan apa yang Damar temukan. Ia pun menyadarkan tubuhnya seraya mengatur nafasnya, Damar pun sempat melirik ke arah Ali yang masih bertanya-tanya kepada Agung.
Beberapa jam berlalu, Agung pun keluar dari ruangan. Ali mengusap wajahnya beberapa kali lalu bangun dari duduknya, ia mendekat ke arah Damar yang sedang berdiri menatap ke arah luar lewat jendela, dengan rokok yang sudah menyala di tangannya.
“Agung mau bertindak sendiri...”
Damar menatap ke arahnya.
“...dia berencana untuk menembak pelaku langsung jika ada kesempatan, itu yang membuat dia melakukan itu semua kepada dokter Kania.” Ucap Ali.
“Lo bisa liat video di komputer gue.” Sahut Damar.
“Video apa?” Tanya Ali.
“Gue ngga sengaja ketemu dokter Kania, dan dia cerita soal rencana Agung. Akhirnya gue buat rencana sama dia untuk salin rekam jejak di kartu memori yang gue kasih, sayangnya yang ada di kartu memori itu cuma video.” Jelas Damar.
“Video apa sih?...” Ali berlalu menuju kursi Damar, “gue tonton aja nih?”
Damar mengangguk perlahan. Ali pun menonton video tersebut, tentunya ia dibuat tidak percaya dengan apa yang ia saksikan. Damar mendekat ke arah Ali, bersamaan dengan berakhirnya video tersebut. Damar pun menunjuk ke arah kertas yang juga ia temukan, Ali membaca kertas tersebut.
“Maksudnya apa ya?” Tanya Ali bingung.
“Pelaku ada di antara kita...”
Ali menatapnya dengan heran.
“...korban di belakang panggung, pernah kenal sama Anggi. Kasus Pak Candra, ada suara wanita di rekaman itu. Sasa pun semalem ngga di rumah.” Ucap Damar.
“Sasa ngga di rumah? Anggi juga ngga di rumah, dan ada yang belum gue ceritain ke lo...”
Damar menatap Ali dengan curiga.
“...kalung yang ada di wajah Kania, sama persis dengan yang gue beliin buat Anggi. Gue beli kalung itu untuk hadiah hari pernikahan, dan belinya sama Leony. Saat gue kasih kalung itu ke Anggi, ekspresinya dia keliatan terkejut. Tapi gue ngerasa, terkejutnya lebih ke arah panik.” Jelas Ali.
“Lo yakin dia panik?” Tanya Damar.
Ali mengangguk pelan, “Gue udah lama sama Anggi, jadi gue bisa bedain ekspresinya dia.”
“Sasa pun selalu ngga ada di malam sebelum pembunuhan.” Ucap Damar.
“Anggi pun sama...” Ali menghela nafasnya, “apa mungkin Mar?”
Damar menggeleng, “Kita pun ngga bisa lupain Talia kalau gitu, dan sekarang bertambah dengan Agung yang mulai menginterfensi diluar wewenangnya dia.”
“Mungkin ngga sih? Salah ngga sih yang kita lakuin? Curiga sama pasangan kita sendiri?...”
Damar menggelengkan kepalanya pelan.
“...gue ngerasa ngga pantes Mar.” Keluh Ali.
“Gue juga sama.” Ucap Damar.
Suasana menjadi canggung begitu saja, membiarkan Ali dan Damar dalam perasaan bersalahnya, hingga malam pun tiba dengan sinar rembulan yang menemani.
“Sayang...”
Damar menatap ke arah Sasa.
“...kamu nggapapa?...”
Damar mengangguk dengan pelan tanpa mengucapkan kata-kata, Sasa pun berjalan mendekat ke arahnya lalu mencium keningnya.
“...kamu keliatan capek banget, ayo ke kamar.” Ajak Sasa.
Sasa menggenggam tangan Damar dan menariknya hingga berhasil bangun dari duduknya, ia menuntun Damar untuk keluar dari ruang kerja menuju kamar mereka. Sasa pun mendorong Damar pelan hingga ia terbaring di atas kasur, Sasa menyusul kemudian untuk berbaring di sampingnya.
“Kamu kenapa?...”
Damar menatap Sasa dalam diam.
“...kalau ada apa-apa, cerita ke aku. Mungkin dengan cerita ke aku, beban kamu seenggaknya bisa lebih ringan. Jangan lupa, kamu makhluk sosial. Kamu juga butuh bantuan dari orang lain.” Ucap Sasa.
Damar menghela nafasnya, “Maafin aku ya, aku lagi ngerasa bingung sekarang. Kasus pembunuhan dokter Kania, jadi bikin aku ngerasa kayak semuanya makin berantakan.”
“Berantakan? Coba cerita.” Pinta Sasa.
“Semakin lama, kasus pembunuhan semakin deket, dan korban-korbannya juga yang mulai terlibat dalam penyelidikan kasus. Mulai dari Pak Candra, sampai terakhir dokter Kania. Jadi seakan-akan, siapapun yang bantu kita akan jadi korban berikutnya." Jawab Damar.
“Maksudnya kamu, pelakunya tau siapa kalian?” Tanya Sasa.
“Itu tebakan aku aja, karena bukan kebetulan kalau korbannya orang-orang yang bantu kita. Maksudku, di antara banyaknya orang di luar sana, kenapa targetnya orang-orang di dekat kita? Itu yang bikin aku mikir kayak gitu.” Jelas Damar.
“Siapa menurut tebakan kamu?” Tanya Sasa.
“Pa...”
Ali menatap ke arah Leony.
“...Papa kenapa?” Tanya Leony.
“Papa kenapa?” Tanya Ali bingung.
“Papa dari tadi pulang sampai sekarang kok melamun terus, ada masalah Pa? Atau Papa capek aja karena seharian investigasi kasus?” Tanya Leony.
“Iya, Papa agak capek aja.” Jawab Ali berbohong.
“Kamu istirahat aja...”
Ali menatap Anggi yang sedang mencuci piring.
“...biar pikiran kamu ngga pusing, dan kamu ngga sakit...”
Anggi mendekat ke arah Ali dan Leony.
“...ayo kita istirahat.” Ajak Anggi.
Leony menganggukkan kepalanya lalu bangun dari duduknya, Ali pun menyusul kemudian bersama Anggi. Setibanya di lantai atas, Leony memeluk Anggi dan berganti memeluk Ali.
“Selamat tidur ya Pa, Ma.” Ucap Leony.
“Selamat tidur sayang.” Jawab Anggi.
Leony masuk ke dalam kamar, Ali dan Anggi pun juga masuk ke dalam kamar. Tangan Anggi mengarahkan Ali dari belakang, ia mengarahkan Ali menuju kasur lalu memaksanya untuk merebahkan diri di sana. Anggi pun mematikan lampu lalu menyusul kemudian.
“Kamu kenapa? Coba cerita.” Ucap Anggi.
“Aku bingung, kayaknya pelaku semakin deket.” Ucap Ali.
“Semakin deket?” Tanya Anggi heran.
Ali mengangguk, “Aku ngerasa kayak pelakunya mulai interfensi ke orang-orang sekitar kita. Sebut aja Pak Candra, ketika dia bantu kita, dia jadi korban. Terus dokter Kania, dia pun akhirnya jadi korban. Abis ini siapa lagi? Bisa jadi Damar, Pak Agung, atau siapapun yang terlibat di kasus ini.”
“Tapi apa itu jadi acuan? Maksud aku, antara Pak Candra dan Dokter Kania kan jaraknya cukup lama. Terlebih dokter Kania lebih dikenal dibandingkan Pak Candra, tapi justru Pak Candra yang dibunuh duluan.” Ucap Anggi.
“Itu yang bikin aku sama Damar bingung, dan menurut kami, pelaku adalah orang dekat. Kalau memang pelaku bukan orang dekat, dia bisa milih korban secara acak di luar sana.” Jawab Ali.
“Apa mungkin ini kebetulan aja? Pelaku sebenernya milih korban secara acak, tapi berkesinambungan untuk kalian? Bisa jadi kan?” Tanya Anggi.
“Menurut Damar, dia pernah bertatapan dengan pelaku di Rumah Sakit saat konferensi pers kasus pembunuhan pertama. Itu semakin menguatkan kalau pelaku tau siapa orang yang membantu kami.” Ucap Ali.
Anggi menggenggam tangan Ali untuk menenangkannya, ia pun mencium bibirnya singkat. Tangan Ali menyeka rambut yang menutupi sedikit wajah Anggi.
“Aku khawatir kalau pelaku sampai tau siapa keluarga kita. Ada kamu, Leony, Damar, dan Sasa, aku ngga mau kalian jadi korban berikutnya.” Ucap Ali.
“Kamu jangan khawatir, semuanya akan baik-baik aja.” Ucap Anggi.
“Semoga.” Ucap Ali.
Anggi tersenyum, kemudian ia mendekatkan posisi tidurnya pada Ali. Malam pun berlalu, Anggi sudah terlelap dalam tidurnya. Tidak dengan Ali, yang masih memandanginya dalam kesunyian malam. Drrt!
Ali meraih ponselnya yang ada di atas meja tanpa merubah posisinya. Ia pun berhasil meraih ponsel itu dan membaca pesan masuk yang memang sudah ia tunggu.
“Sekarang.” Damar.
Secara perlahan, Ali bangun dari tidurnya agar tidak mengganggu Anggi. Ia pun keluar dari kamar dan berlalu menuju lantai bawah, sesuai dengan rencana yang sudah dibuat dengan Damar di kantor.
“Jadi gimana nih?” Tanya Ali.
“Gimana kalau kita cek seisi rumah masing-masing? Tanpa mengurangi rasa hormat gue sama Anggi, mungkin aja ada alat-alat atau temuan lain yang bisa jadi petunjuk. Gue juga akan ngelakuin itu.” Ucap Damar.
“Kalau gitu, gue juga minta maaf lah sama Sasa.” Ucap Ali.
“Oke, periksa tempat-tempat yang sekiranya bisa jadi tempat persembunyian, termasuk lemari es dan garasi.” Ucap Damar.
“Tengah malem berarti?” Tanya Ali.
“Ya, pas mereka tidur.” Ucap Damar.
Ali pun tiba di dapur, ia membuka lemari es untuk memeriksa apakah ada celah untuk menyembunyikan barang-barang. Ali mengeluarkan beberapa barang-barang yang memenuhi lemari es, namun ia tak juga menemukan benda-benda mencurigakan di sana. Ali kembali memasukkan barang-barang ke posisinya semula untuk mengurangi rasa curiga.
Ali berlalu untuk membuka pintu yang mengarah ke garasi, ia menyalakan lampu hingga menerangi seisi garasi. Secara perlahan, Ali memeriksa alat perkakas yang biasa digunakan. Ali kembali teringat dengan video rekaman pembunuhan Kania, ia pun mencari pisau yang digunakan pada rekaman tersebut.
Beberapa saat dalam pencarian, ia tidak menemukan benda yang dicari, bahkan benda-benda yang sekiranya bisa digunakan untuk membunuh sesuai dengan hasil otopsi. Ali menghela nafasnya singkat, ia pun menghubungi Damar untuk memberikan kabar.
“Nihil Mar.” Ali.
Ali pun kembali mematikan lampu dan menutup pintu. Ia berjalan pelan untuk kembali menuju lantai atas. Ali membuka pintu secara perlahan dan masuk ke dalam kamar, ia menemukan Anggi yang masih tertidur dengan pulasnya. Ali pun kembali merebahkan dirinya di samping Anggi, dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia sempat mencium kening Anggi.
“Maaf ya.” Ucapnya pelan.
Ali pun kembali pada posisinya lalu memejamkan mata. Ia berdoa, semoga apa yang baru saja ia lakukan tanpa sepengetahuan Anggi, bisa dimaafkan. Drrt!
“Sasa cuma punya banyak benang jahit.”
ø
Diubah oleh beavermoon 11-05-2023 18:42
0
Kutip
Balas