- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Destiny
...
TS
loveismyname
You Are My Destiny

2008
“SAH!”
Serta merta, kalimat Tahmid bergema ke seluruh ruangan musholla di pagi yang cerah ini. Begitu banyak wajah bahagia sekaligus haru terlihat. Proses akad nikah memang seharusnya menjadi sesuatu yang sakral, yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang melaluinya.
Aku termasuk orang yang berbahagia itu. Di hadapan seorang laki-laki yang barusan menjabat tanganku, yang selanjutnya, beliau secara resmi akan kupanggil Papa, aku tidak bisa menyembunyikan rasa haruku. Di sampingku, seorang wanita yang telah kupilih untuk mendampingiku seumur hidup, terus menerus menutup mukanya dengan kedua tangan, mengucap syukur tiada terkira.
Hai Cantik, semoga kamu bahagia juga di sana. Tunggu kami ya.
Spoiler for PERHATIAN !!:
Spoiler for DISCLAIMER !!:
Enjoy

Note : Gue akan berusaha agar cerita ini bisa selesai. Update, sebisa dan semampu gue aja, karena cerita ini sebenarnya sudah gue selesaikan dalam bentuk Ms.Word. Tapi maaf, gue gak bisa setiap hari ngaskus. mohon pengertiannya.
Index
prolog
part 1 the meeting
part 2 how come?
part 3 why
part 4 swimming
part 5 second meeting
part 6 aku
part 7 love story
part 8 mbak adelle
part 9 got ya!!
part 10 third meeting
part 11 kejadian malam itu
part 12 4th meeting
part 13 family
part 14 putus
part 15 comeback
part 16 morning surprise
part 17 we are different
Intermezzo - behind the scenes
Intermezzo - behind the scenes 2
part 18 aku di sini untukmu
part 19 a morning with her
part 20 don't mess with me 1
part 21 don't mess with me 2
part 22 my life has changed
part 23 mati gue !!
part 24 old friend
part 25 kenapa sih
Intermezzo - behind the scenes 3
part 26 halo its me again
part 27 balikan?
part 28 happy independent day
part 29 duet
part 30 sorry, i cant
part 31 night call
part 32 preparation
part 33 lets get the party started
part 34 sweetest sin
part 35 late 2001
part 36 ramadhan tiba
part 37 itu hurts
part 38 sebuah nasihat
part 39 happy new year
part 40 ombak besar
part 41 don't leave me
part 42 my hero
part 43 my hero 2
part 44 desperate
part 45 hah??
part 46 goodbye
part 47 ombak lainnya
part 48 no party
part 49 self destruction
part 50 diam
part 51 finally
part 52 our journey begin
part 53 her circle
part 54 my first kiss
part 55 sampai kapan
part 56 lost control
part 57 trauma
part 58 the missing story
part 59 akhirnya ketahuan
part 60 perencanaan ulang
part 61 komitmen
part 62 work hard
part 63 tembok terbesar
part 64 melihat sisi lain
part 65 proud
part 66 working harder
part 67 shocking news
part 68 she's gone
Intermezzo behind the scenes 4
part 69 time is running out
part 70 one more step
part 71 bali the unforgettable 1
part 72 bali the unforgettable 2
intermezzo behind the scenes 5
part 73 a plan
part 74 a plan 2
part 75 ultimatum
part 76 the day 1
part 77 the day 2
part 78 the day 3
part 79 judgement day
part 80 kami bahagia
part 81 kami bahagia 2
part 82 we are family
part 83 another opportunity
part 84 new career level
part 85 a gentlemen agreement
part 86 bidadari surga
part 87 pertanyaan mengejutkan
part 88 new place new hope
part 89 cobaan menjelang pernikahan 1
part 90 cobaan menjelang pernikahan 2
part 91 hancur
part 92 jiwa yang liar
part 93 tersesat
part 94 mungkinkah
part 95 faith
part 96 our happiness
part 97 only you
part 98 cepat sembuh sayang
part 99 our journey ends
part 100 life must go on
part 101 a new chapter
part 102 Bandung
part 103 we meet again
part 104 what's wrong
part 105 nginep
part 106 Adelle's POV 1
part 107 a beautiful morning
part 108 - terlalu khawatir
part 109 semangat !!
part 110 kejutan yang menyenangkan
part 111 aku harus bagaimana
part 112 reaksinya
part 113 menjauh?
part 114 lamaran
part 115 good night
part 116 satu per satu
part 117 si mata elang
part 118 re united
part 119 hari yang baru
part 120 teguran keras
part 121 open up my heart
part 122 pelabuhan hati
part 123 aku akan menjaganya
part 124 masih di rahasiakan
part 125 surprise
part 126 titah ibu
part 127 kembali
part 128 congratulation 1
part 129 congratulation 2
part 130 you are my destiny
epilog 1
epilog 2
epilog 3
epilog 4
epilog 5
side stry 1 mami and clarissa
side story 2 queen
side story 3 us (adelle's pov 2)
tamat
Diubah oleh loveismyname 03-06-2023 11:22
yputra121097703 dan 72 lainnya memberi reputasi
71
103.5K
954
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#197
Part 94 - Mungkinkah?
“Sayang, nanti ke kost ga?” Connie langsung memberondongku, begitu aku mengangkat telepon.
“Ga tau. Kenapa emang?” Aku menjawab singkat.
“Yah.. kesini dong. Kangen.” Connie berkata dengan nada yang lucu.
“Hahahah. Liat ntar deh krim. Ntar gue kabarin.” Aku menjawab.
“Ya udah deh. Dahh sayangku.”
Klik.
Connie memutuskan telepon. Aku menghela nafas.
Aku malas dengan urusan percintaan saat ini. Nama Afei masih lekat di benakku.
Kami masih rutin berkomunikasi dengan email. Bukannya tidak bisa bertemu, tapi kami takut. Ada sebuah ketakutan yang tidak bisa kuceritakan.
Rasa trauma ini benar-benar menyiksaku.
Jumat malam, aku berjalan sendirian di sebuah taman, sepulang kerja. Dulu, aku dan Afei sering ke taman ini. Sekarang sudah jam 22.00. Taman ini masih ramai, karena malam weekend. Masih banyak muda-mudi yang nongkrong di sini.
Aku duduk di sebuah kursi. Menatap kosong ke sebuah kolam ikan. Sudut ini sepi, aku jadi leluasa untuk merenung.
Hanya ada 1 orang wanita duduk tertunduk di kursi yang ada di sebelah kursiku. Dia memakai hoodie hitam yang menutupi kepalanya. Aku tidak bisa melihat seperti apa wajahnya, tapi yang jelas, tubuhnya terlihat kurus.
Aku tidak ambil pusing. Aku hanya ingin bernostalgia.
Pikiranku melayang ke masa indah itu. Ke seseorang yang sangat aku cintai. Dulu, kami bercanda, sambil makan cilok di bangku ini.
Air mataku meleleh. Aku bingung dengan keadaanku saat ini.
Kami sebenarnya bisa saja bersatu kembali, dan melanjutkan rencana pernikahan. Tapi, peristiwa itu benar-benar mengguncang jiwaku. Aku benar-benar trauma.
“Hik…hiks..” Aku mendengar suara tangisan wanita. Sepertinya wanita di seberang kursiku ini sedang menangis.
Ya udah lah. Bukan urusan gue.
Aku kembali focus pada kenanganku. Tapi tiba-tiba..
Tring !! Brugghh !!
“Arrrrgghhhhh…. Huaaaaa..huaaaa!!”
Ada suara benda logam terjatuh, diikuti teriakan memilukan dan tangisan histeris seorang wanita.
Aku segera melirik ke samping, tempat wanita itu berada.
Setelah berteriak tadi, wanita itu terjatuh, dan sekarang posisinya tertelungkup di depan bangku taman yang di dudukinya.
Sejenak aku terdiam, memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Tapi setelah beberapa saat, wanita itu tidak kunjung bergerak.
Aku segera menghampirinya.
Sebelum membalikkan tubuhnya, aku mencoba screening tubuhnya dulu. Aku takut ada bagian tubuh yang cedera dan akan bertambah parah, jika aku paksa untuk mengangkatnya.
Aku mencari bunyi logam apa yang terjatuh tadi. Aku segera menemukan benda itu, tepat di sebelah tangannya.
Pisau lipat !!
Aku segera periksa kembali bagian tubuhnya.
Aman.
Tidak ada darah yang menetes, tidak ada cedera lain yang terlihat.
Dengan hati-hati, aku balikkan tubuhnya, dan aku sibakkan hoodie yang menutup kepalanya.
Tubuhku langsung terduduk lemas, ketika aku melihat wajahnya.
Badanku langsung bergetar hebat.
Wanita itu…
AFEI !!
Aku tidak bisa menahan air mataku untuk jatuh, melihat kondisinya.
Tiba-tiba, aku mendengar derap langkah beberapa orang yang mendekat.
“Kenapa mas?” Tanya salah satu orang yang ada di situ.
“Ini temen saya pingsan Mas. Gak tau kenapa.” Ujarku beralasan. Sebisa mungkin aku menutupi kesedihanku.
“Waduh, repot ini urusannya.” Kata seseorang yang lain.
“Udah ga papa mas, biar saya yang urus. Mas ga perlu khawatir. Tapi saya minta tolong boleh? Tolong beli air mineral sebotol. Ini uangnya.” AKu memberikan selembar uang kepada orang itu.
Lalu, orang-orang itu pun pergi. Aku menidurkan Afei di bangku taman. Tak lama, orang yang tadi kumintai tolong, kembali sambil membawa sebotol air mineral. Aku mengambilnya dan mengucapkan terima kasih.
Aku mengeluarkan tissue, lalu ku basahkan dengan air, dan membasuh wajahnya dengan tisu yang basah itu. Air mataku mengalir deras. Wajahnya tirus dan kotor, matanya cekung dan ada sedikit lingkaran hitam, dan badannya sangat kurus. Sewaktu mengangkatnya tadi, aku tidak kesulitan. Ringan sekali. Kecantikannya juga memudar. Raut wajahnya kusut, terlihat sekali beban yang ada di wajahnya.
Tissue yang pertama sudah kotor, namun, wajahnya terlihat lebih bersinar. Kecantikannya mulai terlihat, walau masih jauh dengan yang aku tahu.
Aku kembali membasuh wajahnya dengan air. Kali ini tanpa tissue. Aku membasuh air ke wajahnya dengan tanganku. Dan berhasil. Dia menggerakkan kepalanya, tak lama matanya membuka perlahan.
Begitu melihatku, dia tidak terkejut, tapi malah tersenyum manis. Mata sipitnya meredup. Aku membalas senyumnya.
Tangannya bergerak membelai pipiku.
“Mimpi ini nyata banget, sayang. aku bisa ngerasain wajah kamu.” Afei berkata pelan. Suaranya begitu menyayat hati.
Aku tidak tahan !! Air mataku jatuh semakin deras.
“Kamu kenapa nangis sayang? Seneng ya ketemu aku? Air mata kamu, juga terasa nyata banget.” Lanjutnya sambil terus membelai wajahku, dan mengusap air mataku.
Aku menangis terisak. Afei mengira dia masih bermimpi. Sudah sebegitu terluka jiwanya.
“Sayang, disini, di mimpi ini, ga boleh ada kesedihan. Kita harus bahagia disini. Yuk kita nikah sekarang. Terus kita pulang. Aku akan melayani kamu sebaik mungkin.” Afei berkata.
“Kita ga usah bangun lagi ya sayang. kita hidup selamanya disini.” Afei tersenyum.
Namun senyumnya, menyakitkan hatiku. Pedih sekali melihatnya.
Wahai Tuhan, kenapa Kau pertemukan kami di sini kembali? Tidak puaskah Kau menyiksa kami?
“Sa..yang… ini bukan mimpi. Ini aku. kita masih di taman.” Aku berusaha berbicara untuk menyadarkannya.
Setelah aku berkata itu, baru dia terkejut. Matanya langsung melirik sekitar. Dia seperti baru tersadar.
“Sa..yang…. kamu kok bisa di sini ?? kenapa ada kamu di sini sayang? huhuhuhuhuh.” Afei akhirnya sadar. tangannya menjulur ingin memelukku.
Aku pun menyambut dan memeluknya yang masih rebahan di kursi.
Ya Tuhan, tubuhnya kurus sekali. Aku benar-benar tidak kuat. Aku menangis tersedu bersamanya.
Keadaan Afei sangat menyedihkan. Harum tubuhnya hilang, berganti dengan bau yang kurang sedap. Rambutnya mengering, dan terasa kasar. Bibirnya pecah-pecah, kulitnya sangat pucat dan terasa kering di tanganku.
Astaghfirullah… ampuni semua dosaku Tuhan. Jangan siksa Afei seperti ini.
“Sayang..ba..danku le..mes.. “ Afei berbisik.
“kamu kenapa sayang? Kamu bisa bangun ga?” Aku langsung panik.
Afei menggeleng lemah.
“Ini, minum air ini dulu ya. Bibir kamu kering. Kamu dehidrasi sayang.” Aku meminumkan air mineral itu perlahan. Afei menurutinya. Dia minum pelan-pelan. Setelah selesai, aku kembali memeluk tubuhnya.
“kamu mau apa sa..yang..?” Afei kembali berbisik. Suaranya lemah sekali.
“Kita ke rumah sakit yuk. Aku mau gendong kamu.” Aku berkata lembut. Afei tidak melawan.
Ketika tubuhnya terangkat di pelukanku, tangannya memeluk leherku.
“Aku berat ga sayang? Aku gendut ya?” Afei bertanya saat aku berjalan menggendongnya.
Aku kembali menangis.
“Ga papa kok kamu gendut. Kita kan mau gendut bareng-bareng.” Aku memaksakan senyumku. Afei ikut tersenyum.
Dia mungkin teringat posisi ini beberapa tahun yang lalu. Saat kami menghabiskan banyak sekali makanan, di sebuhah saung dengan pemandangan yang indah.
Aku menambah kecepatan jalanku, sampai di pinggir jalan, ada taksi yang mangkal.
“Rumah sakit terdekat Pak.”
Afei sudah masuk ruang perawatan. Dia di infus, dan sedang dalam keadaan tertidur. Afei dehidrasi parah dan kurang asupan. Dokter mendiagnosa, Afei tidak makan banyak beberapa hari bahkan beberapa bulan belakangan. Berat badannya menyusut. Pantas aku tidak kesulitan menggendongnya.
Saat ini, dia sedang di observasi dan sedang menunggu hasil tes dari lab, untuk beberapa hal.
Aku terpaksa menelepon ko Along dan mengabari hal ini. Mereka sekeluarga langsung bergegas menuju rumah sakit.
Aku berdiri di samping ranjangnya. Wanita yang sangat aku cintai ini, sedang terkulai lemah dengan infus yang menancap di tangan kirinya, selang oksigen di hidungnya, serta alat yang memonitor detak jantungnya.
Perlahan air mataku kembali mengalir. Aku sungguh tidak kuat melihat perubahan fisik Afei yang sungguh drastis. Sudah beberapa bulan kami tidak bertemu. Terakhir sewaktu kami mencoba menghabisi hidup kami.
Memori tentang kejadian itu, malah membuatku semakin menderita.
Pintu ruangan terbuka perlahan, lalu masuklah Ko Along, papi dan mami.
Hatiku di penuhi keharuan yang luar biasa. Aku merindukan mereka semua. Sudah cukup lama kami tidak bertemu.
Aku berlari dan menangis terisak sambil memeluk kaki mami..
Mami pun langsung menangis. Dia malah ikut berlutut, dan memelukku. Mami memegang kepalaku, lalu mencium kening, dan kedua pipiku.
“Duhh, calon mantu mami yang paling gagah dan ganteng, bisa nangis begini? Maafin mami ya.” Mami berkata pelan.
Aku tidak kuat menahannya. Aku malah semakin keras menangis.
Maafkan aku atas segalanya, Mami.
Setelah memastikan keadaan Afei stabil, aku dan Ko Along kembali ke taman. Kami hendak mengambil motor, aku mengambil motorku, dan Ko Along mengambil motor Afei.
Aku melihat motor mio kuning itu. Motor itu bersih dan mulus sekali, seperti motor baru. Hatiku kembali tersayat.
Aku masih ingat tingkah konyolnya saat pertama membawa motor itu. Aku masih ingat, saat pertama kami berjalan-jalan dengan motor itu. Air mataku kembali terjatuh. Ko Along melihat ku sambil menepuk pundakku.
“Lu tau, Afei kegirangan setengah mati, waktu Sueb nganterin motor ini. Motor ini di rawat banget sama Afei. Liat body nya? Kinclong banget. Sebulan sekali, motor ini di service dan pernah di salon juga. Waktu itu, ada anak toko yang parkir terlalu mepet, dan sedikit ngebaret motornya. Afei ngamuk parah. Dia ngamuk sampe nangis kenceng. Anak toko itu kaget. Soalnya Afei biasanya di toko pendiem banget dan ga bawel. Bahkan sampe ada yang salah hitung uang aja, dia ga marah. Cuma negur biasa. Tapi begitu motornya di senggol, dia ngamuk. “ Ko Along tersenyum.
Aku yang lupa di mana posisi motorku, langsung mengedarkan pandangan. Namun tidak lama, aku segera menyadari sesuatu yang janggal. Motorku dan motor Afei ternyata saling berhadapan. Aku tidak tahu siapa yang datang lebih dulu, yang pasti aku tidak sadar saat aku datang ke sini.
“Ru, kalo lu pengen nerusin lagi hubungan lu sama Afei, kita keluarga dukung kok. Papi waktu itu ga bermaksud membatalkan, cuma menunda sebentar sampe masalahnya kelar. Ru, kita akan dukung lu habis-habisan. Kita saling jaga ke depannya.” Ko Along berkata lagi.
“Gue juga maunya gitu Ko. Tapi…” Aku terdiam, tak mampu meneruskan.
“Ru, gue ga bermaksud maksa. Tapi, saran gue, lu segera pikirin. Gue pernah denger, satu anak toko nikah, akadnya dulu. Itupun sederhana, cuma ijab Kabul dan selesai. Dia bilang, secara agama itu sah. Ru, kalo lu memutuskan untuk meneruskan, saran gue, langsung kalian adakan pernikahan. Cukup ijab Kabul aja. Masalah yang lain kita pikirin belakangan.” Ko Along masih berbicara dan itu membuatku terkejut.
“Tapi ko, itu cuma sah secara agama, bukan resmi negara. Kasian Afei, kekuatan hukumnya jadi ga kuat.” Aku mencoba menjelaskan.
Ko Along mendekatiku dan berbisik.
“Gue tau berhadapan sama siapa. Sah secara agama cukup.” Bisiknya. “pikirin segera ya Ru.”
Aku semakin terdiam.
“Motor baru Ru?”
“Yah, motor gue kan ancur Ko.” Aku tersenyum getir.
Ko Along tersenyum.
“Keren juga.” Ko Along berkata sambil melihat ke arah Shogun SP ku.
“Ah kerenan Avanza lu.” Jawabku bercanda
“Lu kalo mau, udah beli mobil macem begitu. Cash 3 mobil langsung juga bisa.” Ko Along masih tertawa.
“Yuk, gue duluan. Kabarin kalo udah ada keputusan.” Ko Along segera berlalu dengan motor matic kecil itu.
Aku terdiam kembali.
Mungkinkah?
Quote:
“Ga tau. Kenapa emang?” Aku menjawab singkat.
“Yah.. kesini dong. Kangen.” Connie berkata dengan nada yang lucu.
“Hahahah. Liat ntar deh krim. Ntar gue kabarin.” Aku menjawab.
“Ya udah deh. Dahh sayangku.”
Klik.
Connie memutuskan telepon. Aku menghela nafas.
Aku malas dengan urusan percintaan saat ini. Nama Afei masih lekat di benakku.
Kami masih rutin berkomunikasi dengan email. Bukannya tidak bisa bertemu, tapi kami takut. Ada sebuah ketakutan yang tidak bisa kuceritakan.
Rasa trauma ini benar-benar menyiksaku.
Jumat malam, aku berjalan sendirian di sebuah taman, sepulang kerja. Dulu, aku dan Afei sering ke taman ini. Sekarang sudah jam 22.00. Taman ini masih ramai, karena malam weekend. Masih banyak muda-mudi yang nongkrong di sini.
Aku duduk di sebuah kursi. Menatap kosong ke sebuah kolam ikan. Sudut ini sepi, aku jadi leluasa untuk merenung.
Hanya ada 1 orang wanita duduk tertunduk di kursi yang ada di sebelah kursiku. Dia memakai hoodie hitam yang menutupi kepalanya. Aku tidak bisa melihat seperti apa wajahnya, tapi yang jelas, tubuhnya terlihat kurus.
Aku tidak ambil pusing. Aku hanya ingin bernostalgia.
Pikiranku melayang ke masa indah itu. Ke seseorang yang sangat aku cintai. Dulu, kami bercanda, sambil makan cilok di bangku ini.
Air mataku meleleh. Aku bingung dengan keadaanku saat ini.
Kami sebenarnya bisa saja bersatu kembali, dan melanjutkan rencana pernikahan. Tapi, peristiwa itu benar-benar mengguncang jiwaku. Aku benar-benar trauma.
“Hik…hiks..” Aku mendengar suara tangisan wanita. Sepertinya wanita di seberang kursiku ini sedang menangis.
Ya udah lah. Bukan urusan gue.
Aku kembali focus pada kenanganku. Tapi tiba-tiba..
Tring !! Brugghh !!
“Arrrrgghhhhh…. Huaaaaa..huaaaa!!”
Ada suara benda logam terjatuh, diikuti teriakan memilukan dan tangisan histeris seorang wanita.
Aku segera melirik ke samping, tempat wanita itu berada.
Setelah berteriak tadi, wanita itu terjatuh, dan sekarang posisinya tertelungkup di depan bangku taman yang di dudukinya.
Sejenak aku terdiam, memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Tapi setelah beberapa saat, wanita itu tidak kunjung bergerak.
Aku segera menghampirinya.
Sebelum membalikkan tubuhnya, aku mencoba screening tubuhnya dulu. Aku takut ada bagian tubuh yang cedera dan akan bertambah parah, jika aku paksa untuk mengangkatnya.
Aku mencari bunyi logam apa yang terjatuh tadi. Aku segera menemukan benda itu, tepat di sebelah tangannya.
Pisau lipat !!
Aku segera periksa kembali bagian tubuhnya.
Aman.
Tidak ada darah yang menetes, tidak ada cedera lain yang terlihat.
Dengan hati-hati, aku balikkan tubuhnya, dan aku sibakkan hoodie yang menutup kepalanya.
Tubuhku langsung terduduk lemas, ketika aku melihat wajahnya.
Badanku langsung bergetar hebat.
Wanita itu…
AFEI !!
Aku tidak bisa menahan air mataku untuk jatuh, melihat kondisinya.
Tiba-tiba, aku mendengar derap langkah beberapa orang yang mendekat.
“Kenapa mas?” Tanya salah satu orang yang ada di situ.
“Ini temen saya pingsan Mas. Gak tau kenapa.” Ujarku beralasan. Sebisa mungkin aku menutupi kesedihanku.
“Waduh, repot ini urusannya.” Kata seseorang yang lain.
“Udah ga papa mas, biar saya yang urus. Mas ga perlu khawatir. Tapi saya minta tolong boleh? Tolong beli air mineral sebotol. Ini uangnya.” AKu memberikan selembar uang kepada orang itu.
Lalu, orang-orang itu pun pergi. Aku menidurkan Afei di bangku taman. Tak lama, orang yang tadi kumintai tolong, kembali sambil membawa sebotol air mineral. Aku mengambilnya dan mengucapkan terima kasih.
Aku mengeluarkan tissue, lalu ku basahkan dengan air, dan membasuh wajahnya dengan tisu yang basah itu. Air mataku mengalir deras. Wajahnya tirus dan kotor, matanya cekung dan ada sedikit lingkaran hitam, dan badannya sangat kurus. Sewaktu mengangkatnya tadi, aku tidak kesulitan. Ringan sekali. Kecantikannya juga memudar. Raut wajahnya kusut, terlihat sekali beban yang ada di wajahnya.
Tissue yang pertama sudah kotor, namun, wajahnya terlihat lebih bersinar. Kecantikannya mulai terlihat, walau masih jauh dengan yang aku tahu.
Aku kembali membasuh wajahnya dengan air. Kali ini tanpa tissue. Aku membasuh air ke wajahnya dengan tanganku. Dan berhasil. Dia menggerakkan kepalanya, tak lama matanya membuka perlahan.
Begitu melihatku, dia tidak terkejut, tapi malah tersenyum manis. Mata sipitnya meredup. Aku membalas senyumnya.
Tangannya bergerak membelai pipiku.
“Mimpi ini nyata banget, sayang. aku bisa ngerasain wajah kamu.” Afei berkata pelan. Suaranya begitu menyayat hati.
Aku tidak tahan !! Air mataku jatuh semakin deras.
“Kamu kenapa nangis sayang? Seneng ya ketemu aku? Air mata kamu, juga terasa nyata banget.” Lanjutnya sambil terus membelai wajahku, dan mengusap air mataku.
Aku menangis terisak. Afei mengira dia masih bermimpi. Sudah sebegitu terluka jiwanya.
“Sayang, disini, di mimpi ini, ga boleh ada kesedihan. Kita harus bahagia disini. Yuk kita nikah sekarang. Terus kita pulang. Aku akan melayani kamu sebaik mungkin.” Afei berkata.
“Kita ga usah bangun lagi ya sayang. kita hidup selamanya disini.” Afei tersenyum.
Namun senyumnya, menyakitkan hatiku. Pedih sekali melihatnya.
Wahai Tuhan, kenapa Kau pertemukan kami di sini kembali? Tidak puaskah Kau menyiksa kami?
“Sa..yang… ini bukan mimpi. Ini aku. kita masih di taman.” Aku berusaha berbicara untuk menyadarkannya.
Setelah aku berkata itu, baru dia terkejut. Matanya langsung melirik sekitar. Dia seperti baru tersadar.
“Sa..yang…. kamu kok bisa di sini ?? kenapa ada kamu di sini sayang? huhuhuhuhuh.” Afei akhirnya sadar. tangannya menjulur ingin memelukku.
Aku pun menyambut dan memeluknya yang masih rebahan di kursi.
Ya Tuhan, tubuhnya kurus sekali. Aku benar-benar tidak kuat. Aku menangis tersedu bersamanya.
Keadaan Afei sangat menyedihkan. Harum tubuhnya hilang, berganti dengan bau yang kurang sedap. Rambutnya mengering, dan terasa kasar. Bibirnya pecah-pecah, kulitnya sangat pucat dan terasa kering di tanganku.
Astaghfirullah… ampuni semua dosaku Tuhan. Jangan siksa Afei seperti ini.
“Sayang..ba..danku le..mes.. “ Afei berbisik.
“kamu kenapa sayang? Kamu bisa bangun ga?” Aku langsung panik.
Afei menggeleng lemah.
“Ini, minum air ini dulu ya. Bibir kamu kering. Kamu dehidrasi sayang.” Aku meminumkan air mineral itu perlahan. Afei menurutinya. Dia minum pelan-pelan. Setelah selesai, aku kembali memeluk tubuhnya.
“kamu mau apa sa..yang..?” Afei kembali berbisik. Suaranya lemah sekali.
“Kita ke rumah sakit yuk. Aku mau gendong kamu.” Aku berkata lembut. Afei tidak melawan.
Ketika tubuhnya terangkat di pelukanku, tangannya memeluk leherku.
“Aku berat ga sayang? Aku gendut ya?” Afei bertanya saat aku berjalan menggendongnya.
Aku kembali menangis.
“Ga papa kok kamu gendut. Kita kan mau gendut bareng-bareng.” Aku memaksakan senyumku. Afei ikut tersenyum.
Dia mungkin teringat posisi ini beberapa tahun yang lalu. Saat kami menghabiskan banyak sekali makanan, di sebuhah saung dengan pemandangan yang indah.
Aku menambah kecepatan jalanku, sampai di pinggir jalan, ada taksi yang mangkal.
“Rumah sakit terdekat Pak.”
Afei sudah masuk ruang perawatan. Dia di infus, dan sedang dalam keadaan tertidur. Afei dehidrasi parah dan kurang asupan. Dokter mendiagnosa, Afei tidak makan banyak beberapa hari bahkan beberapa bulan belakangan. Berat badannya menyusut. Pantas aku tidak kesulitan menggendongnya.
Saat ini, dia sedang di observasi dan sedang menunggu hasil tes dari lab, untuk beberapa hal.
Aku terpaksa menelepon ko Along dan mengabari hal ini. Mereka sekeluarga langsung bergegas menuju rumah sakit.
Aku berdiri di samping ranjangnya. Wanita yang sangat aku cintai ini, sedang terkulai lemah dengan infus yang menancap di tangan kirinya, selang oksigen di hidungnya, serta alat yang memonitor detak jantungnya.
Perlahan air mataku kembali mengalir. Aku sungguh tidak kuat melihat perubahan fisik Afei yang sungguh drastis. Sudah beberapa bulan kami tidak bertemu. Terakhir sewaktu kami mencoba menghabisi hidup kami.
Quote:
Memori tentang kejadian itu, malah membuatku semakin menderita.
Pintu ruangan terbuka perlahan, lalu masuklah Ko Along, papi dan mami.
Hatiku di penuhi keharuan yang luar biasa. Aku merindukan mereka semua. Sudah cukup lama kami tidak bertemu.
Aku berlari dan menangis terisak sambil memeluk kaki mami..
Mami pun langsung menangis. Dia malah ikut berlutut, dan memelukku. Mami memegang kepalaku, lalu mencium kening, dan kedua pipiku.
“Duhh, calon mantu mami yang paling gagah dan ganteng, bisa nangis begini? Maafin mami ya.” Mami berkata pelan.
Aku tidak kuat menahannya. Aku malah semakin keras menangis.
Maafkan aku atas segalanya, Mami.
Setelah memastikan keadaan Afei stabil, aku dan Ko Along kembali ke taman. Kami hendak mengambil motor, aku mengambil motorku, dan Ko Along mengambil motor Afei.
Aku melihat motor mio kuning itu. Motor itu bersih dan mulus sekali, seperti motor baru. Hatiku kembali tersayat.
Aku masih ingat tingkah konyolnya saat pertama membawa motor itu. Aku masih ingat, saat pertama kami berjalan-jalan dengan motor itu. Air mataku kembali terjatuh. Ko Along melihat ku sambil menepuk pundakku.
“Lu tau, Afei kegirangan setengah mati, waktu Sueb nganterin motor ini. Motor ini di rawat banget sama Afei. Liat body nya? Kinclong banget. Sebulan sekali, motor ini di service dan pernah di salon juga. Waktu itu, ada anak toko yang parkir terlalu mepet, dan sedikit ngebaret motornya. Afei ngamuk parah. Dia ngamuk sampe nangis kenceng. Anak toko itu kaget. Soalnya Afei biasanya di toko pendiem banget dan ga bawel. Bahkan sampe ada yang salah hitung uang aja, dia ga marah. Cuma negur biasa. Tapi begitu motornya di senggol, dia ngamuk. “ Ko Along tersenyum.
Aku yang lupa di mana posisi motorku, langsung mengedarkan pandangan. Namun tidak lama, aku segera menyadari sesuatu yang janggal. Motorku dan motor Afei ternyata saling berhadapan. Aku tidak tahu siapa yang datang lebih dulu, yang pasti aku tidak sadar saat aku datang ke sini.
“Ru, kalo lu pengen nerusin lagi hubungan lu sama Afei, kita keluarga dukung kok. Papi waktu itu ga bermaksud membatalkan, cuma menunda sebentar sampe masalahnya kelar. Ru, kita akan dukung lu habis-habisan. Kita saling jaga ke depannya.” Ko Along berkata lagi.
“Gue juga maunya gitu Ko. Tapi…” Aku terdiam, tak mampu meneruskan.
“Ru, gue ga bermaksud maksa. Tapi, saran gue, lu segera pikirin. Gue pernah denger, satu anak toko nikah, akadnya dulu. Itupun sederhana, cuma ijab Kabul dan selesai. Dia bilang, secara agama itu sah. Ru, kalo lu memutuskan untuk meneruskan, saran gue, langsung kalian adakan pernikahan. Cukup ijab Kabul aja. Masalah yang lain kita pikirin belakangan.” Ko Along masih berbicara dan itu membuatku terkejut.
“Tapi ko, itu cuma sah secara agama, bukan resmi negara. Kasian Afei, kekuatan hukumnya jadi ga kuat.” Aku mencoba menjelaskan.
Ko Along mendekatiku dan berbisik.
“Gue tau berhadapan sama siapa. Sah secara agama cukup.” Bisiknya. “pikirin segera ya Ru.”
Aku semakin terdiam.
“Motor baru Ru?”
“Yah, motor gue kan ancur Ko.” Aku tersenyum getir.
Ko Along tersenyum.
“Keren juga.” Ko Along berkata sambil melihat ke arah Shogun SP ku.
“Ah kerenan Avanza lu.” Jawabku bercanda
“Lu kalo mau, udah beli mobil macem begitu. Cash 3 mobil langsung juga bisa.” Ko Along masih tertawa.
“Yuk, gue duluan. Kabarin kalo udah ada keputusan.” Ko Along segera berlalu dengan motor matic kecil itu.
Aku terdiam kembali.
Mungkinkah?
yuaufchauza dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Tutup