- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.5K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#17
Spoiler for 16. Kebetulan? (Part 2):
Mereka sempat berpelukan sebelum Damar berjalan menuju halte. Sasa melambaikan tangan, begitu bus yang dinaiki Damar bergerak menuju halte berikutnya. Akhirnya Damar kembali masuk ke dalam kantor, ia pun langsung menuju ruangannya.
Damar mendapati Ali yang sedang menatap layar komputer tanpa mengalihkan pandangannya, ia nampak serius dengan apa yang sedang ia kerjakan. Damar yang penasaran pun mendekat lalu melihat apa yang ia kerjakan.
“Brengsek...” Damar memukul lengan Ali pelan, “malah belanja online dia, gue kira lagi baca-baca jurnal.”
“Gue lagi cari hadiah buat Anggi.” Jawabnya.
“Hadiah? Ulang tahun?” Tanya Damar.
“Hari jadi pernikahan.” Ucapnya.
Damar menganggukkan kepalanya, “Lo mau beli apaan tahun ini? Gaun? Tas? Cincin? Gelang? Perlengkapan masak kayak dua tahun lalu? Atau cuma makan malem kayak tahun lalu?”
“Apa ya yang belum dan juga bagus?” Tanya Ali.
“Kalung?” Tanya Damar.
“Kalung?...” Ali menatap Damar, “kalung yang kayak gimana ya yang bagus?”
“Lo pikirin aja, kira-kira apa yang merepresentasikan Anggi dalam sebuah bentuk. Mungkin liontin hati, atau liontin keping, atau liontin taring harimau nih kayak yang gue pakai.” Jawab Damar.
“Muka gila lo, masa iya Anggi gue kasih itu.” Ucap Ali.
“Bisa aja ya kalau dia representasi dari serem dan galak. Lo takut kan kalau Anggi udah marah? Lo cuma bisa diem kan?” Ucap Damar.
“Bener sih, masa itu? Yang ada nanti malah dimarahin lagi gue sama dia.” Sahut Ali.
“Ya lo pikirin yang lain...”
Damar berlalu untuk duduk di kursinya.
“...kan lo yang lebih kenal Anggi.” Ucap Damar.
Ali mulai mencari apa yang disarankan oleh Damar. Tanpa terasa, hari sudah berganti menjadi malam. Ali mematikan komputernya lalu bangun dari duduknya. Ia berlalu menuju jas yang digantung, ia pun mengenakan jas tersebut lalu keluar dari dalam ruangan.
Suasana kantor sudah sepi, hanya ada beberapa lampu yang menyala. Damar pun sudah pulang terlebih dahulu, karena urusannya sudah selesai. Ali berjalan dengan santai menuju halaman depan, ia pun menyalakan sebatang rokok lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
Sebuah pesan datang dari Anggi yang memberitahukan bahwa ia akan lembur pada malam ini, Ali pun membalas pesan itu. Ali berlalu menuju di mana mobilnya terparkir, ia masuk ke dalam lalu menyalakan mesin. Tak lama kemudian, Ali mengemudikan mobilnya menuju rumah.
Beberapa saat berlalu, Ali memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Ia keluar dari dalam mobil dan berlalu menuju rumah. Ali membuka pintu dan menemukan Leony yang sedang berada di dapur. Leony pun menyadari kedatangan Ali, ia pun menyapa dengan tersenyum. Ali berjalan mendekat ke arahnya, ia melihat Leony yang sedang mengolah beberapa bahan.
“Kamu masak?” Tanya Ali.
“ Iya. Tadinya aku mau masakin buat Mama juga, tapi Mama ngabarin kalau lembur malam ini. Papa belum makan kan?” Tanya Leony.
“Belum, baru aja Papa mau ngajak kamu makan di luar, eh kamu masak...” Ali mencuci tangannya, “jadi, apa yang bisa Papa bantu?”
“Ngga usah Pa, papa ganti baju aja di atas.” Jawab Leony.
“Okelah kalau begitu.” Ucap Ali.
Ali berlalu menuju lantai atas untuk mengganti pakaiannya. Tak membutuhkan waktu lama bagi Ali untuk kembali turun ke lantai bawah, ia melihat Leony yang sudah mulai memasak entah apa.
“Papa duduk aja nih?” Tanya Ali.
“Iya, duduk aja Pa.” Pinta Leony.
Ali pun menuruti ucapan Leony, ia duduk di kursi. Tak lama berselang, Leony datang dengan membawakan satu piring berisi masakan yang sudah ia buat.
“Apa namanya ini? Menarik banget.” Tanya Ali.
“Jamur dan daging saus tiram.” Jawab Leony.
Leony pun duduk di hadapan Ali, mereka pun mulai berdoa. Ali mencoba masakan yang dibuat Leony, ia pun menatap Leony dalam diam.
“Kenapa Pa? Ngga enak ya?” Tanya Leony.
“Resep Mama?” Tanya Ali.
Leony menggelengkan kepalanya.
“Wah, Mama harus tau ini. Besok kalau Mama libur, kamu harus bikinin ini lagi. Ini enak banget sumpah, Papa ngga bohong." Ucap Ali.
“Beneran Pa?” Tanya Leony.
“Beneran, kamu coba sendiri.” Ucap Ali.
Leony mencoba masakannya sendiri, dan apa yang diucapkan Ali memang benar. Masakannya sendiri cukup membuatnya terkejut, ia pun kembali makan bersama dengan Ali pada malam hari ini.
Makan malam pun usai, Ali dan Leony berpindah menuju halaman belakang. Ali menyalakan sebatang rokok sementara Leony sedang bermain dengan ponselnya.
“Kamu mau bantuin Papa ngga?” Tanya Ali.
“Bantuin apa Pa?” Tanya Leony.
“Kamu tau ngga, di mana cari kalung yang bagus buat Mama?” Tanya Ali.
“Kalung?...”
Leony sempat menatap Ali yang dibalas dengan anggukan kepala, Leony kembali menatap ponselnya dan membuka aplikasi belanja online yang ada di sana.
“...kayaknya aku tau satu toko yang bagus.” Ucap Leony.
“Di mana itu?” Tanya Ali.
“Sebentar...” Leony berkutat dengan ponselnya, “nah, ini dia. Salah satu toko yang aku tau jual aksesoris yang bagus-bagus.”
Leony menunjukkan ponselnya kepada Ali. Ada beberapa model kalung yang ada di sana, Leony mulai mengarahkan ponselnya untuk membantu Ali mencari kalung yang tepat untuk Anggi. Satu persatu kalung mereka lihat, mulai dari yang berbahan emas, perak, plastik, dan berbagai macam liontinnya juga.
“Yang ini?” Tanya Leony.
Ali menggelengkan kepalanya.
“Hm, kalau yang ini?” Tanya Leony.
Ali kembali menggelengkan kepalanya.
“Bentar deh, emang Mama sukanya yang kayak gimana Pa?” Tanya Leony lagi.
Ali berpikir sejenak, “Mama kamu itu, sukanya yang punya arti buat kehidupan dia. Entah itu Papa, Mama kamu sendiri, dan sekarang ada kamu. Bukan yang cuma beli karena modelnya bagus gitu.”
Leony menganggukkan kepalanya, ia mulai mencari-cari lagi apa saja yang dijual di toko tersebut.
“Nah...”
Leony menghentikan pergerakannya.
“...itu Mama kamu banget.” Ucap Ali.
“Papa yakin?” Tanya Leony.
“Sangat yakin.” Jawab Ali.
“Oke kalau gitu...” Leony membaca deskripsi kalung tersebut, "bahannya bagus, liontinnya juga bagus. Ngomong-ngomong, tokonya deket sini Pa. Kita bisa beli sekarang nih kalau Papa mau.”
“Serius kamu? Kalau gitu kita berangkat sekarang.” Ajak Ali.
Mereka pun bergegas menuju toko yang dimaksud oleh Leony. Benar saja, tokonya berlokasi tidak jauh dari rumah mereka dan masih buka. Ali dan Leony pun masuk ke dalam toko tersebut, mereka mendapati banyak sekali aksesoris yang dijual di sini. Ali pun mendekat ke arah salah satu karyawan yang sedang menjaga etalase.
“Permisi...”
Ali menunjukkan gambar kalung yang dimaksud kepada pelayan tersebut.
“...apa model ini masih ada?” Tanya Ali.
“Oh, masih ada satu Pak. Mari ikut saya.” Ajaknya.
Mereka berpindah menuju etalase lain. Benar saja, hanya tersisa satu kalung yang diinginkan Ali. Pegawai itu mengambil kalung tersebut lalu memberikannya kepada Ali, dan kalung itu sesuai dengan apa yang Ali inginkan.
“Saya mau bungkus ini ya.” Ucap Ali.
“Pa...”
Ali menatap ke arah Leony yang berada di sampingnya. Ia melihat Leony yang sedang mengenakan kalung dengan liontin taring harimau.
“...bagus ngga?” Tanya Leony.
Ali sempat tertawa, “Kamu kayak Om Damar.”
“Om Damar pakai kalung ini juga?” Tanya Leony.
Ali mengangguk, “Bedanya kalau Om Damar, talinya warna hitam. Kalau yang kamu pake warna abu-abu. Kalau kamu mau, sini sekalian.”
“Emang boleh Pa?” Tanya Leony.
Ali menganggukkan kepalanya lalu mengambil kalung yang dikenakan oleh Leony. Ia pun membawa kalung tersebut untuk sekalian dibayarkan. Akhirnya, mereka pun keluar dari toko bersamaan dengan berakhirnya jam buka toko tersebut. Ali mengalungkan kalung taring harimau kepada Leony.
“Emang cocok buat kamu.” Ucap Ali.
“Makasih ya Pa...”
Mereka masuk ke dalam mobil dan berlalu kembali ke rumah.
“...ngomong-ngomong, Papa mau kasih itu kapan?” Tanya Leony.
“Besok pagi.” Jawabnya.
“Papa romantis juga,” Ucap Leony.
“Ngga juga. Papa cuma coba buat Mama kamu seneng aja. Mama kamu itu teliti banget orangnya, sama apapun dia akan inget.” Ucap Ali.
“Oh jadi besok hari ulang tahun Mama?” Tanya Leony.
“Ulang tahun pernikahan.” Jawab Ali.
“Oalah, aku kira ulang tahun Mama. Papa sama Mama biasanya ngapain buat ngerayain ulang tahun pernikahan?” Tanya Leony.
“Dulu sih wajib makan malem di luar. Cuma beberapa tahun terakhir jadi makan di rumah aja karena kesibukan kita masing-masing.” Sahut Ali.
“Kalau gitu, besok aku yang masak buat kalian.” Ucap Leony.
Ali tersenyum menanggapi ucapan Leony. Malam berlalu begitu saja, Ali sudah berada di dalam kamar. Ia memandangi kalung yang sedang ia pegang, kemudian ia kembali memasukkan kalung tersebut ke dalam kotak dan meletakkan kotak tersebut di atas meja. Ali memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah akan rutinitas.
Pagi pun tiba, Anggi memarkirkan mobilnya di belakang mobil Ali. Ia pun keluar dari mobil dan berjalan menuju halaman depan rumah. Anggi membuka pintu dan mendapati Ali dan Leony yang sedang menonton televisi. Mereka pun menatap ke arah Anggi yang berjalan mendekat ke arah mereka.
“Eh Mama...”
Leony bangun dari duduknya lalu memeluk Anggi.
“...selamat hari pernikahan ya Ma.” Ucap Leony.
“Loh kamu tau?...” Anggi terkejut, “Papa cerita ya?”
Leony melepas pelukannya seraya mengangguk. Ali pun menghampiri Anggi lalu memeluknya dengan hangat. Leony pun memberikan ruang untuk mereka.
“Selamat hari pernikahan ya.” Ucap Ali.
“Makasih ya Sayang.” Ucap Anggi.
Ali melepas pelukannya, kemudian ia merogoh saku celananya dan memberikan kotak berwarna merah kepada Anggi.
“Apa ini?” Tanya Anggi.
“Buka aja.” Ucap Ali.
Anggi membuka kotak tersebut. Ia pun mengambil kalung yang sudah dibeli oleh Ali dan Leony semalam. Sebuah kalung berbahan emas putih dengan liontin kecil berbentuk merpati. Anggi pun menatap Ali yang sudah tersenyum kepadanya.
“Sekilas berita. Kasus pembunuhan kembali terjadi semalam, kali ini berlokasi di Rumah Sakit Internasional. Diketahui, korban berjenis kelamin wanita berinisial K yang merupakan dokter spesialis forensik. Belum diketahui apa yang menjadi motif kasus pembunuhan tersebut. Pihak detektif dan juga kepolisian sedang mengidentifikasi tempat kejadian untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
Damar mendapati Ali yang sedang menatap layar komputer tanpa mengalihkan pandangannya, ia nampak serius dengan apa yang sedang ia kerjakan. Damar yang penasaran pun mendekat lalu melihat apa yang ia kerjakan.
“Brengsek...” Damar memukul lengan Ali pelan, “malah belanja online dia, gue kira lagi baca-baca jurnal.”
“Gue lagi cari hadiah buat Anggi.” Jawabnya.
“Hadiah? Ulang tahun?” Tanya Damar.
“Hari jadi pernikahan.” Ucapnya.
Damar menganggukkan kepalanya, “Lo mau beli apaan tahun ini? Gaun? Tas? Cincin? Gelang? Perlengkapan masak kayak dua tahun lalu? Atau cuma makan malem kayak tahun lalu?”
“Apa ya yang belum dan juga bagus?” Tanya Ali.
“Kalung?” Tanya Damar.
“Kalung?...” Ali menatap Damar, “kalung yang kayak gimana ya yang bagus?”
“Lo pikirin aja, kira-kira apa yang merepresentasikan Anggi dalam sebuah bentuk. Mungkin liontin hati, atau liontin keping, atau liontin taring harimau nih kayak yang gue pakai.” Jawab Damar.
“Muka gila lo, masa iya Anggi gue kasih itu.” Ucap Ali.
“Bisa aja ya kalau dia representasi dari serem dan galak. Lo takut kan kalau Anggi udah marah? Lo cuma bisa diem kan?” Ucap Damar.
“Bener sih, masa itu? Yang ada nanti malah dimarahin lagi gue sama dia.” Sahut Ali.
“Ya lo pikirin yang lain...”
Damar berlalu untuk duduk di kursinya.
“...kan lo yang lebih kenal Anggi.” Ucap Damar.
Ali mulai mencari apa yang disarankan oleh Damar. Tanpa terasa, hari sudah berganti menjadi malam. Ali mematikan komputernya lalu bangun dari duduknya. Ia berlalu menuju jas yang digantung, ia pun mengenakan jas tersebut lalu keluar dari dalam ruangan.
Suasana kantor sudah sepi, hanya ada beberapa lampu yang menyala. Damar pun sudah pulang terlebih dahulu, karena urusannya sudah selesai. Ali berjalan dengan santai menuju halaman depan, ia pun menyalakan sebatang rokok lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
Sebuah pesan datang dari Anggi yang memberitahukan bahwa ia akan lembur pada malam ini, Ali pun membalas pesan itu. Ali berlalu menuju di mana mobilnya terparkir, ia masuk ke dalam lalu menyalakan mesin. Tak lama kemudian, Ali mengemudikan mobilnya menuju rumah.
Beberapa saat berlalu, Ali memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Ia keluar dari dalam mobil dan berlalu menuju rumah. Ali membuka pintu dan menemukan Leony yang sedang berada di dapur. Leony pun menyadari kedatangan Ali, ia pun menyapa dengan tersenyum. Ali berjalan mendekat ke arahnya, ia melihat Leony yang sedang mengolah beberapa bahan.
“Kamu masak?” Tanya Ali.
“ Iya. Tadinya aku mau masakin buat Mama juga, tapi Mama ngabarin kalau lembur malam ini. Papa belum makan kan?” Tanya Leony.
“Belum, baru aja Papa mau ngajak kamu makan di luar, eh kamu masak...” Ali mencuci tangannya, “jadi, apa yang bisa Papa bantu?”
“Ngga usah Pa, papa ganti baju aja di atas.” Jawab Leony.
“Okelah kalau begitu.” Ucap Ali.
Ali berlalu menuju lantai atas untuk mengganti pakaiannya. Tak membutuhkan waktu lama bagi Ali untuk kembali turun ke lantai bawah, ia melihat Leony yang sudah mulai memasak entah apa.
“Papa duduk aja nih?” Tanya Ali.
“Iya, duduk aja Pa.” Pinta Leony.
Ali pun menuruti ucapan Leony, ia duduk di kursi. Tak lama berselang, Leony datang dengan membawakan satu piring berisi masakan yang sudah ia buat.
“Apa namanya ini? Menarik banget.” Tanya Ali.
“Jamur dan daging saus tiram.” Jawab Leony.
Leony pun duduk di hadapan Ali, mereka pun mulai berdoa. Ali mencoba masakan yang dibuat Leony, ia pun menatap Leony dalam diam.
“Kenapa Pa? Ngga enak ya?” Tanya Leony.
“Resep Mama?” Tanya Ali.
Leony menggelengkan kepalanya.
“Wah, Mama harus tau ini. Besok kalau Mama libur, kamu harus bikinin ini lagi. Ini enak banget sumpah, Papa ngga bohong." Ucap Ali.
“Beneran Pa?” Tanya Leony.
“Beneran, kamu coba sendiri.” Ucap Ali.
Leony mencoba masakannya sendiri, dan apa yang diucapkan Ali memang benar. Masakannya sendiri cukup membuatnya terkejut, ia pun kembali makan bersama dengan Ali pada malam hari ini.
Makan malam pun usai, Ali dan Leony berpindah menuju halaman belakang. Ali menyalakan sebatang rokok sementara Leony sedang bermain dengan ponselnya.
“Kamu mau bantuin Papa ngga?” Tanya Ali.
“Bantuin apa Pa?” Tanya Leony.
“Kamu tau ngga, di mana cari kalung yang bagus buat Mama?” Tanya Ali.
“Kalung?...”
Leony sempat menatap Ali yang dibalas dengan anggukan kepala, Leony kembali menatap ponselnya dan membuka aplikasi belanja online yang ada di sana.
“...kayaknya aku tau satu toko yang bagus.” Ucap Leony.
“Di mana itu?” Tanya Ali.
“Sebentar...” Leony berkutat dengan ponselnya, “nah, ini dia. Salah satu toko yang aku tau jual aksesoris yang bagus-bagus.”
Leony menunjukkan ponselnya kepada Ali. Ada beberapa model kalung yang ada di sana, Leony mulai mengarahkan ponselnya untuk membantu Ali mencari kalung yang tepat untuk Anggi. Satu persatu kalung mereka lihat, mulai dari yang berbahan emas, perak, plastik, dan berbagai macam liontinnya juga.
“Yang ini?” Tanya Leony.
Ali menggelengkan kepalanya.
“Hm, kalau yang ini?” Tanya Leony.
Ali kembali menggelengkan kepalanya.
“Bentar deh, emang Mama sukanya yang kayak gimana Pa?” Tanya Leony lagi.
Ali berpikir sejenak, “Mama kamu itu, sukanya yang punya arti buat kehidupan dia. Entah itu Papa, Mama kamu sendiri, dan sekarang ada kamu. Bukan yang cuma beli karena modelnya bagus gitu.”
Leony menganggukkan kepalanya, ia mulai mencari-cari lagi apa saja yang dijual di toko tersebut.
“Nah...”
Leony menghentikan pergerakannya.
“...itu Mama kamu banget.” Ucap Ali.
“Papa yakin?” Tanya Leony.
“Sangat yakin.” Jawab Ali.
“Oke kalau gitu...” Leony membaca deskripsi kalung tersebut, "bahannya bagus, liontinnya juga bagus. Ngomong-ngomong, tokonya deket sini Pa. Kita bisa beli sekarang nih kalau Papa mau.”
“Serius kamu? Kalau gitu kita berangkat sekarang.” Ajak Ali.
Mereka pun bergegas menuju toko yang dimaksud oleh Leony. Benar saja, tokonya berlokasi tidak jauh dari rumah mereka dan masih buka. Ali dan Leony pun masuk ke dalam toko tersebut, mereka mendapati banyak sekali aksesoris yang dijual di sini. Ali pun mendekat ke arah salah satu karyawan yang sedang menjaga etalase.
“Permisi...”
Ali menunjukkan gambar kalung yang dimaksud kepada pelayan tersebut.
“...apa model ini masih ada?” Tanya Ali.
“Oh, masih ada satu Pak. Mari ikut saya.” Ajaknya.
Mereka berpindah menuju etalase lain. Benar saja, hanya tersisa satu kalung yang diinginkan Ali. Pegawai itu mengambil kalung tersebut lalu memberikannya kepada Ali, dan kalung itu sesuai dengan apa yang Ali inginkan.
“Saya mau bungkus ini ya.” Ucap Ali.
“Pa...”
Ali menatap ke arah Leony yang berada di sampingnya. Ia melihat Leony yang sedang mengenakan kalung dengan liontin taring harimau.
“...bagus ngga?” Tanya Leony.
Ali sempat tertawa, “Kamu kayak Om Damar.”
“Om Damar pakai kalung ini juga?” Tanya Leony.
Ali mengangguk, “Bedanya kalau Om Damar, talinya warna hitam. Kalau yang kamu pake warna abu-abu. Kalau kamu mau, sini sekalian.”
“Emang boleh Pa?” Tanya Leony.
Ali menganggukkan kepalanya lalu mengambil kalung yang dikenakan oleh Leony. Ia pun membawa kalung tersebut untuk sekalian dibayarkan. Akhirnya, mereka pun keluar dari toko bersamaan dengan berakhirnya jam buka toko tersebut. Ali mengalungkan kalung taring harimau kepada Leony.
“Emang cocok buat kamu.” Ucap Ali.
“Makasih ya Pa...”
Mereka masuk ke dalam mobil dan berlalu kembali ke rumah.
“...ngomong-ngomong, Papa mau kasih itu kapan?” Tanya Leony.
“Besok pagi.” Jawabnya.
“Papa romantis juga,” Ucap Leony.
“Ngga juga. Papa cuma coba buat Mama kamu seneng aja. Mama kamu itu teliti banget orangnya, sama apapun dia akan inget.” Ucap Ali.
“Oh jadi besok hari ulang tahun Mama?” Tanya Leony.
“Ulang tahun pernikahan.” Jawab Ali.
“Oalah, aku kira ulang tahun Mama. Papa sama Mama biasanya ngapain buat ngerayain ulang tahun pernikahan?” Tanya Leony.
“Dulu sih wajib makan malem di luar. Cuma beberapa tahun terakhir jadi makan di rumah aja karena kesibukan kita masing-masing.” Sahut Ali.
“Kalau gitu, besok aku yang masak buat kalian.” Ucap Leony.
Ali tersenyum menanggapi ucapan Leony. Malam berlalu begitu saja, Ali sudah berada di dalam kamar. Ia memandangi kalung yang sedang ia pegang, kemudian ia kembali memasukkan kalung tersebut ke dalam kotak dan meletakkan kotak tersebut di atas meja. Ali memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah akan rutinitas.
Pagi pun tiba, Anggi memarkirkan mobilnya di belakang mobil Ali. Ia pun keluar dari mobil dan berjalan menuju halaman depan rumah. Anggi membuka pintu dan mendapati Ali dan Leony yang sedang menonton televisi. Mereka pun menatap ke arah Anggi yang berjalan mendekat ke arah mereka.
“Eh Mama...”
Leony bangun dari duduknya lalu memeluk Anggi.
“...selamat hari pernikahan ya Ma.” Ucap Leony.
“Loh kamu tau?...” Anggi terkejut, “Papa cerita ya?”
Leony melepas pelukannya seraya mengangguk. Ali pun menghampiri Anggi lalu memeluknya dengan hangat. Leony pun memberikan ruang untuk mereka.
“Selamat hari pernikahan ya.” Ucap Ali.
“Makasih ya Sayang.” Ucap Anggi.
Ali melepas pelukannya, kemudian ia merogoh saku celananya dan memberikan kotak berwarna merah kepada Anggi.
“Apa ini?” Tanya Anggi.
“Buka aja.” Ucap Ali.
Anggi membuka kotak tersebut. Ia pun mengambil kalung yang sudah dibeli oleh Ali dan Leony semalam. Sebuah kalung berbahan emas putih dengan liontin kecil berbentuk merpati. Anggi pun menatap Ali yang sudah tersenyum kepadanya.
*
“Sekilas berita. Kasus pembunuhan kembali terjadi semalam, kali ini berlokasi di Rumah Sakit Internasional. Diketahui, korban berjenis kelamin wanita berinisial K yang merupakan dokter spesialis forensik. Belum diketahui apa yang menjadi motif kasus pembunuhan tersebut. Pihak detektif dan juga kepolisian sedang mengidentifikasi tempat kejadian untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
ø
0
Kutip
Balas