Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
story keluarga indigo.
story keluarga indigo.
Quote:



KKN Di Dusun Kalimati

Quote:


Kembali ke awal tahun 1990an . Dusun Kalimati kedatangan sekelompok mahasiswa yang hendak KKN. Rupanya salah satu peserta KKN adalah Hermawan, yang biasa dipanggil dengan nama Armand. Dia adalah Kakek Aretha, yang tidak lain adalah ayah Nisa.

Bagai de javu, apa yang dialami oleh Armand juga sama mengerikannya seperti apa yang Aretha alami Di desa itu. Di masa lalu, tempat ini jauh lebih sakral daripada saat Aretha tinggal di sana. Berbagai sesaji diletakkan di beberapa sudut desa. Warga masih banyak yang memeluk kepercayaan memberikan sesaji untuk leluhur. Padahal leluhur yang mereka percayai justru seorang iblis yang sudah hidup selama ribuan tahun.

Banyak rumah yang kosong karena penghuninya sudah meninggal, dan Armand bersama teman temannya justru tinggal di lingkungan kosong itu. Rumah bekas bunuh diri yang letaknya tak jauh dari mereka, membuat semua orang was was saat melewatinya. Apalagi saat malam hari.




story keluarga indigo.



INDEKS

Part 1 sampai di desa
Part 2 rumah posko
part 3 setan rumah sebelau
Part 4 rumah Pak Sobri
Part 5 Kuntilanak
Part 6 Rumah di samping Pak Sobri
Part 7 ada ibu ibu, gaes
Part 8 Mbak Kunti
Part 9 Fendi hilang
Part 10 pencarian
Part 11 proker sumur
Part 12 Fendi yang diteror terus menerus
Part 13 Rencana Daniel
Part 14 Fendi Kesurupan lagi
Part 15 Kepergian Daniel ke Kota
Part 16 Derry yang lain
Part 17 Kegelisahan Armand
Part 18 Bantuan Datang
Part 19 Flashback Perjalanan Daniel
Part 20 Menjemput Kyai di pondok pesantren
Part 21 Leluhur Armand
Part 22 titik terang
Part 23 Bertemu Pak Sobri
Part 24 Sebuah Rencana
Part 25 Akhir Merihim
Part 26 kembali ke rumah

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


Saat hari beranjak petang, larangan berkeliaran di luar rumah serta himbauan menutup pintu dan jendela sudah menjadi hal wajib di desa Alas Ketonggo.

Aretha yang berprofesi menjadi seorang guru bantu, harus pindah di desa Alas Ketonggo, yang berada jauh dari keramaian penduduk.

Dari hari ke hari, ia menemukan banyak keganjilan, terutama saat sandekala(waktu menjelang maghrib).

INDEKS

Part 1 Desa Alas ketonggo
Part 2 Rumah Bu Heni
Part 3 Misteri Rumah Pak Yodi
Part 4 anak ayam tengah malam
part 5 dr. Daniel
Part 6 ummu sibyan
Part 7 tamu aneh
Part 8 gangguan
Part 9 belatung
Part 10 kedatangan Radit
Part 11 Terungkap
Part 12 menjemput Dani
Part 13 nek siti ternyata...
part 14 kisah nek siti
part 15 makanan menjijikkan
Part 16 pengorbanan nenek
Part 17 merihim
Part 18 Iblis pembawa bencana
Part 19 rumah
Part 20 penemuan mayat
Part 21 kantor baru
Part 22 rekan kerja
Part 23 Giska hilang
part 24 pak de yusuf
Part 25 makhluk apa ini
Part 26 liburan
Part 27 kesurupan
Part 28 hantu kamar mandi
Part 29 jelmaan
Part 30 keanehan citra
part 31 end



story keluarga indigo.

Quote:


Quote:



INDEKS

Part 1 kehidupan baru
Part 2 desa alas purwo
part 3 rumah mes
part 4 kamar mandi rusak
part 5 malam pertama di rumah baru
part 6 bu jum
part 7 membersihkan rumah
part 8 warung bu darsi
part 9 pak rt
part 10 kegaduhan
part 11 teteh
part 12 flashback
part 13 hendra kena teror
part 14 siapa makhluk itu?
part 15 wanita di kebun teh
part 16 anak hilang
part 17 orang tua kinanti
part 18 gangguan di rumah
part 19 curahan hati pak slamet
part 20 halaman belakang rumah
part 21 kondangan
part 22 warung gaib
part 23 sosok lain
part 24 misteri kematian keisha
part 25 hendra di teror
part 26 mimpi yang sama
part 27 kinanti masih hidup
part 28 Liya
part 29 kembali ke dusun kalimati
part 30 desa yg aneh
part 31 ummu sibyan
part 32 nek siti
part 33 tersesat
part 34 akhir kisah
part 35 nasib sial bu jum
part 36 pasukan lengkap
part 37 godaan alam mimpi
part 38 tahun 1973
part 39 rumah sukarta
part 40 squad yusuf
part 41 aretha pulang

Konten Sensitif
story keluarga indigo.


Quote:

Kembali ke kisah Khairunisa. Ini season pertama dari keluarga Indigo. Dulu pernah saya posting, sekarang saya posting ulang. Harusnya sih dibaca dari season ini dulu. Duh, pusing nggak ngab. Mon maap ya. Silakan disimak. Semoga suka. Eh, maaf kalau tulisan kali ini berantakan. Karena ini trit pertama dulu di kaskus, terus ga sempet ane revisi.

INDEKS
part 1 Bertemu Indra
part 2 misteri olivia
part 3 bersama indra
part 4 kak adam
part 5 pov kak adam
part 6 mantra malik jiwa
part 7 masuk alam gaib
part 8 vila angker
part 9 kepergian indra
part 10 pria itu
part 11 sebuah insiden
part 12 cinta segitiga
part 13 aceh
part 14 lamaran
part 15 kerja
part 16 pelet
part 17 pertunangan kak yusuf
part 18 weding
part 19 madu pernikahan
part 20 Bali
part 21 pulang
part 22 Davin
part 23 tragedi
part 24 penyelamatan
part 25 istirahat
part 26 hotel angker
part 27 diana
part 28 kecelakaan
part 29 pemulihan
part 30 tumbal
part 31 vila Fergie
part 32 misteri vila
part 33 kembali ingat
part 34 kuliner malam
part 35 psikopat
part 36 libur
part 37 sosok di rumah om gunawan
part 38 sosok pendamping
part 39 angel kesurupan
part 40 Diner
part 41 diculik
part 42 trimester 3
part 43 kelahiran
part 44 rumah baru
part 45 holiday
part 46nenek aneh
part 47 misteri kolam
part 48 tamu

story keluarga indigo.

Quote:


Quote:


INDEKS

part 1 masuk SMU
part 2 bioskop
part 3 Makrab
part 4 kencan
part 5 pentas seni
part 6 lukisan
part 7 teror di rumah kiki
part 8 Danu Dion dalam bahaya
part 9 siswa baru
part 10 Fandi
part 11 Eyang Prabumulih
part 12 Alya
part 13 cinta segitiga
part 14 maaf areta
part 15 i love you
part 16 bukit bintang
part 17 ujian
part 18 liburan
part 19 nenek lestari
part 20 jalan jalak
part 21 leak
part 22 rangda
INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 18-05-2023 21:46
kemintil98Avatar border
arieaduhAvatar border
gokil4everAvatar border
gokil4ever dan 23 lainnya memberi reputasi
22
23.5K
306
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#134
11. Sebuah Insiden
Kami bergegas ke Aula pesantren.
Kok bisa kesurupan sih, katanya kak Arif tadi mereka nggak bakal bisa masuk. Aku berjalan tertatih.
Firman langsung menggendongku tanpa bertanya dulu.

Sampai di Aula. Banyak teriakan di sana sini, ada yang menangis, tertawa bahkan berlari lari.

Oh tidak! sedangkan yang menangani hanya aku, kak Arif dan kak Yusuf saja.

Aku mendekat ke salah 1 wanita yang tertawa melengking.
Aku pegang kepalanya lalu kubacakan doa doa rukiyah, dia sempat melawan bahkan aku ditendangnya jatuh.
Mita membantuku berdiri. Firman memegangi wanita itu.
Kulanjutkan doa ku lagi, lama kelamaaan dia tersadar. lalu kak Yusuf memberikan air doa.

"Niss. masih banyak, bantu kakak ya," kulihat kak Yusuf sudah kelelahan.

Korban kesurupan seperti tidak ada habisnya.
Pasti ini ada yang mengendalikan.

Kuamati sekelilingku.
Tak jauh dari kami ada seorang bapak bapak berpenampilan aneh, seperti dukun di film film. Aku berjalan perlahan mendekatinya.

"Nis.. mau ke mana?" tanya Firman.

"Siapa itu?" tanyaku sambil menunjuk pria tadi.

"Ki Gondrong!!" kata Firman lantang. terlihat raut wajah tidak suka dari Firman saat menatap ki Gondrong itu.

Menurut penuturan Firman, Ki gondrong memang dikenal sebagai dukun di sini.
Beberapa daerah di Kalimantan memang masih kental dengan hal mistis. Sepertinya ki Gondrong tidak suka dengan berdirinya pesantren di daerah ini.

Aku dan Firman mendekat ke arah nya. Sambil membaca doa dalam hati.

"Hentikan sekarang juga!!" kataku meninggikan nada bicaraku ke pria itu.

Dia hanya tersenyum sinis.
Aku melemparkan nya batu. Dan kena kepalanya.
Dia tersulut emosi seketika lalu mendekatiku, Firman berdiri di hadapanku.

Mereka terlibat adu mulut. lalu ki Gondrong itu melancarkan pukulan nya, Firman terpental jauh.
Pasti dia memakai ilmu nya.

Saat Firman berdiri, aku menyentuh tulang belakang Firman sambil membaca doa agar firman tidak terpengaruh dengan kekuatan hitam ki Gondrong.

Benar saja dengan mudah Firman bisa membuat ki Gondrong jatuh tersungkur tak berdaya. Seketika orang orang yang kesurupan sadar dengan sendirinya.

Kak Arif datang mendekat.
"Dia kak penyebab nya," kataku menunjuknya.

"Makasih Nisa. kakak nggak sadar tadi kalau dia dalang nya."
Kak Arif membawa ki Gondrong dengan dibantu Firman dan beberapa orang lain. Entah mau dibawa ke mana.

Aku membantu Mita dan kak Yusuf di Aula.

Malam ini sungguh di luar dugaan. Rasa lelah menyelimutiku. Dan membuatku tertidur di kamarku. Sambil memeluk boneka dari Indra tentunya.


Hari ini aku berencana pergi ke kota dengan Mita. Beberapa bahan pokok  pesantren sudah semakin menipis. Kak Yusuf menyuruhku ikut agar tidak bosan berada di dalam pesantren terus. Dan tentu agar bisa menikmati suasana kota di Kalimantan. Walau mungkin akan sama saja seperti di kota kota yang lain.

Kami akan berangkat bertiga naik mobil kak Arif. Tentu bersama Firman. Karena dia adalah orang yang bertanggung jawab untuk segala kebutuhan pesantren. Aku dan Mita sudah menunggu beberapa menit di depan mobil. Hingga akhirnya tak berapa lama kemudian, dari kejauhan aku melihat Anggie dengan Firman yang membawa tas besar.

"Anggie ikut juga, Mit?" tanyaku dengan berbisik.

"Iya, Kak. Katanya mau ke kota, mau ngajar di sana sementara," sahut Mita.

Baru aku tau kalau Anggie adalah seorang guru di sebuah sekolah swasta di kota. Saat mereka sudah dekat, Anggie berbasa basi seperti biasa. Aku hanya menanggapi dengan senyum tipis. Sementara Mita dan Anggie memang sudah cukup akrab. Atau memang Mita seorang anak yang supel. Jadi dia mudah akrab dengan orang lain.

Aku tak berkomentar apa pun.
Jadilah kami berempat pergi naik mobil kak Arif.
Firman dan Anggie duduk di depan.
Aku dan Mita di belakang.
Anggie dan Firman terlihat bahagia dengan senyum dan tawa mereka sepanjang perjalanan.

Aku hanya memandang keluar jendela. Ada rasa sakit melihat hal itu terjadi di depanku. Tapi aku bisa apa?

"Nisa bakal lama kan di sini?" tanya Anggie tiba tiba membuyarkan lamunanku.

Firman melirikku dari kaca spion. Aku melihat nya dengan jelas.

"Eum. nggak tau juga. liat sikon aja. Kalau betah ya lama," kataku mencoba bersikap wajar.

"Katanya sempet kuliah ya, Nis?" tanyanya lagi.

"Iya, dulu kuliah di luar kota juga. Cuma aku nggak lanjutin, sebenernya udah sampai semester akhir. Tinggal beberapa bulan lagi aku lulus."

"Sayang banget nggak dilanjutin. Kenapa nggak lanjut, Nis?"

"Males, Nggie. Aku udah nggak semangat lagi kuliah. Udah males mikir. pusing."

"Hm.. oh iya, 3 bulan lagi aku sama Firman mau nikah. Kamu harus dateng, ya."

"Inshaa Allah." Hanya itu yang mampu kuucapkan. Aku kembali memalingkan wajahku ke jendela mobil.
Sesekali Firman masih saja menatapku dari spion depan. Mita juga melirik kami, bingung. Ia pasti tau bagaimana posisiku di antara mereka berdua.

Aku sangat menyadarinya, hanya ku biarkan saja.
Pasti mereka kasian melihatku.

Anggie ini orangnya supel, pintar dan baik. Pantas saja Firman menyukainya. Mereka juga terlihat cocok satu sama lain.

Ponsel ku berdering. Ada panggilan masuk menggunakan video call. Senyum sumringah tercipta dari bibirku. Melihat penelepon yang sangat ku rindu.
"Wah, bisa video call sekarang. perasaan kemaren susah banget," kataku berbicara sendiri.

"Di Pesantren kan susah signalnya, kak. Kalau di sini jangan tanya deh," kata Mita.

Aku mengangkat panggilan itu
Dari teman temanku.

"Nisa!" jerit Indah dengan suara cempreng khasnya.

"Assalamualaikum, salam dulu dong," timpalku dan membuat wajah Indah malu, menutup mulutnya menahan tawa.

"Eh, iya, lupa! Wa alaikum salam, ukhti. Eh, kamu ke mana sih, Nis? Pergi ke Kalimantan nggak kasih kabar! Kami nyariin kamu ke rumah tau!" sinis Indah. Dan wajah teman temanku yang lain mulai terlihat.

"Iya nih. Kamu ngapain sih ke sana. Kayak di sini nggak ada manusia aja!" tambah Ferli.

"Kamu pikir aku ke sini nyari setan? Ngawur!" timpalku.

"Nis, dicari Reno tuh!" cetus Nindi.

"Ih ngapain itu orang nyariin aku? Belum puas, bikin aku nyasar di alam gaib?"

"Nisa! Kamu kok sinis banget sama Reno!" rengek Indah.

"Ih Indah kamu kenapa belain tuh cowok sih!" sinisku.

"Kamu nggak tau ya, Nis? Mereka balikan lagi," bisik Ferli, mencondongkan tubuhnya ke depan kamera.

"What?!" pekikku. Wajah Feri kemudian muncul, mendominasi.
"Dapet cowok Kalimantan kagak lu, Nis? Katanya cewek sana cantik cantik, cowoknya juga pasti ganteng ganteng tuh!" ujarnya.

"Apa sih, Fer! Otakmu itu loh!"

"Ya, kan, kamu harus move on dari Indra, Nis. Buka hati kamu buat laki lali lain," timpal Feri.

"Nggak bakal. Udah aku kunci hatiku dari yang lain."

"Jangan giti dong, Nis," cetus Ferli.

"Udah ih, nggak usah dibahas lagi. Bawel banget deh kalian!"

"Eh kamu lagi di mana? Tumben bisa di telepon?"

"Lagi di jalan, mau ke kota."

"Wuih, gadis desa mau jalan jalan ke kota. Eh coba kasih liat gimana suasana Kalimantan," pinta Indah.

Aku membalikkan kamera agar mereka bisa melihat sekitar ku. Namun baru beberapa detik, mereka kembali menjerit bersamaan.

"Apa sih?! Teriak teriak. Berisik banget!" omelku sebal.

"Kamu lagi sama Indra?"

Jantungku terasa berdesir, aku yakin mereka melihat Firman tadi. Firman melirik padaku.

"Ngaco deh! Mana ada!"

"Lah itu yang lagi nyetir mobil! Itu Indra, kan?"

"Oh, bukan ih. Itu Firman, pengurus pesantren."

"Kok mirip banget, Nis. Pantesan kamu betah di sana."

Sontak aku matikan panggilan itu sepihak. Aku tidak enak dengan Anggie, dan benar saja, suasana menjadi kikuk sekarang.

"Maaf ya, temen temen ku bawel, rempong banget," kataku mencoba tertawa.

"Indra itu siapax Nis?" Anggie angkat bicara.

"Eumm... bukan siapa siapa kok." aku merasa malas membahas itu lagi. Kapan aku bisa move on kalau mereka selalu mengungkit Indra.

Berkali kali Indah menelfonku lagi tapi selalu aku reject.

***

Kami sampai di Bandara. Anggie akan naik pesawat pergi ke kota yang dituju.
Kami bersalaman. Firman dan Anggie saling berpelukkan, Firman mengecup kening Anggie. Aku memalingkan wajahku dan segera pergi dari sana. Kini aku duduk di sebuah kursi dekat Bandara.
Mita pergi membeli minum. Panas juga di sini.

Tak lama, Firman kembali dan duduk di sebelahku.
"Maaf ya, Nis," katanya membuatku mengernyitkan kening.

"Maaf buat apa?" tanyaku dingin.

"Soal aku sama Anggie."

"Itu kan hak kamu. Kenapa kamu harus minta maaf? Aku nggak berhak marah, Man. Karena aku bukan siapa siapa kamu!" kataku dingin.
Sementara dia terdiam membisu.

Setelah Mita datang kami segera pergi membeli keperluan pesantren.

Selama 4 jam kami berbelanja.
Kami kembali ke mobil kami dengan beberapa kantung belanjaan.

"Nis, kamu duduk di depan aja ya," pinta Firman.

Aku segera duduk dijok depan bersebelahan dengan Firman tanpa mengelak atau berdebat. Aku lelah.
Mita asyik mendengarkan musik lewat ponselnya dengan memakai earphone.

Firman sesekali melirikku saat perjalanan pulang.

Tiba tiba Firman mempercepat laju mobil.
"Kenapa ngebut? Nggak bisa pelan aja?" tanyaku.

"Kita diikuti," ucap Firman sambil menatap spion.

Aku melihat ke belakang. Memang ada mobil hitam yang sepertinya mengikuti kami.

"Mereka ngikutin kita dari tadi, Nis. Sepertinya niat mereka nggak baik"

Insting Firman hampir seperti Indra.
Tapi ternyata mobil tadi berhasil menyalip kami dan berhenti di depan kami.
Firman mengerem mendadak.

Beberapa orang keluar berdandan seperti preman.

"Kamu sini aja, kunci pintunya."
Ini bagai de javu, lagi, karena aku pernah mengalami sebelumnya dengan Indra.

Mita sedikit panik. Aku ikut keluar dari mobil
"Mita, kunci mobil. Jangan buka. ini buat jaga jaga," kataku memberikan Mita kunci inggris yang ku ambil dari dash board depan. Mita mengangguk mengerti. Tatapan matanya menyiratkan kecemasan dan rasa takut. Entah untuk dirinya sendiri, aku atau Firman. Mungkin kami semua.

"Nisa! ngapain keluar balik ke mobil!" teriak Firman.

Aku seolah tidak mendengar perkataannya sedikitpun.
Mereka mulai mendekatiku, aku raih tangannya dan kupelintir lalu ku banting ke tanah.

Mereka kaget dengan gerakan ku yang cepat, tak mereka duga sebelumnya. Melihat aku bisa melawan, semua menyerang ku dan Firman bersama sama. Ada sekitar 10 orang.
Firman menghadapi 5 orang, aku pun juga. Satu orang membawa pisau. aku pasrah saja, kalau aku tidak selamat tak apalah. Karena aku belum pernah menghadapi musuh yang memegang senjata. Alhasil pria itu berhasil menusuk lenganku dengan pisaunya.

Ku pukul tenggorokannya dengan satu kali pukul, dia pingsan atau mati aku tidak peduli.

Teman teman nya yang lain juga menyerang ku dengan membabi buta.
Aku lawan sekuat tenaga. Semoga aku bisa bertahan.

Tak lama kami berhasil memukul mundur orang orang itu.

Firman mengalami luka di pelipis matanya karena dipukul dengan balok kayu. Telapak tangannya juga berdarah kena senjata tajam.

"Ya ampun. Berdarah, Firman. Ayo balik ke mobil. Aku obatin," kataku cemas.

Aku mengobati luka Firman, untung mobil kak Arif ada kotak P3K nya juga. Mita membantuku menyiapkan obat dan plester untuk Firman.

Aku merasa sakit di bagian siku kiriku. Terasa basah. Karena aku memakai jaket darah yang merembes jadi tidak begitu terlihat.
Aku juga terluka rupanya. Aku sampai tidak sadar.
Tapi aku diam saja. Kubiarkan saja, nanti ku obati di Pesantren saat kami sampai.

Perjalanan pun kami lanjutkan tanpa ada halangan lagi.
Agak lama memang sekitar beberapa jam sampai pesantren.

***
Sesampainya di pesantren , Firman dan Mita turun terlebih dahulu untuk mengambil belanjaan di bagasi mobil.
Aku melihat ke cermin, terlihat wajahku pucat, bajuku sudah basah karena darahku sendiri.
Sepertinya aku kehilangan banyak darah.
Perlahan aku keluar dari mobil dan berjalan gontai.
Tapi pandanganku makin lama makin kabur. Aku terjatuh. Samar samar kudengar teriakkan memanggilku
" Nisa!!"

***

Aku melihat Indra, ya Indra. dia tersenyum kepadaku. Lalu mengulurkan tangannya, aku pun meraihnya. Dia membawaku berkeliling , ini Taman bunga. Bahagia sekali rasanya.
Apa aku udah mati, ya?

"Kenapa kamu pergi, Ndra."

"Aku selalu di sini, Nis. di hati kamu. Aku nggak pernah ke mana mana," katanya lembut.

Tiba tiba suasana berubah gelap, Indra menghilang lagi, aku berlari mencarinya.
Berteriak memanggil namanya.

"Indra!!"

"Niss. Bangun. Nisa!!" Aku mendengar suara kak Yusuf, samar.
Perlahan ku buka mataku. Dan kini wajah mereka jelas terlihat.

"Alhamdulillah kamu udah sadar." sekarang suara kak Adam juga ada.

"Kak Adam?" Aku memeluk kak Adam seketika. Kangen rasanya. Lama tidak melihat Kak Adam.

"Aku di mana sih ini? kak Adam kok di sini juga?" tanyaku masih belum begitu sadar sepenuhnya.

"Kamu pingsan, Dek. Kamu kehabisan banyak darah kemaren," kata kak Yusuf.

"Yusuf telepon Kakak, langsung deh kakak ke sini." kak Adam membelai kepalaku.

"Kirain aku udah mati kak," gurauku.

Kepalaku langsung dijitak kak Adam. Dan mendapat omelan panjang lebar.

"Eh Kak Shinta mana?"

"Nggak ikut. kan lagi hamil, Nis. Biar aja dirumah."

"Assalamualaikum." kudengar suara Firman masuk ke ruang rawat inapku. Yah, Rumah sakit. Seperti biasa.

"Wa alaikum salam." kami menjawab bersamaan.

"Eh Firman. masuk sini," ajak kak Yusuf.

"Wah.. Nis.. Bener ya. Bagai kembar," seru Kak Adam dengan berbisik.
Aku memang menceritakan soal Firman ke kak Adam lewat telepon beberapa hari lalu. Aku diam saja tak menanggapinya.

"Ya udah, kakak ke administrasi dulu ya. kak Adam, temenin yuk," ajak kak Yusuf.

"Oh.. oke oke."kak Adam melirik kami penuh arti. Sepertinya mereka sengaja meninggalkan kami berduaan di sini.

Setelah mereka pergi, Dirman mendekat duduk di kursi ranjangku.

"Berapa lama aku di sini?" tanyaku tanpa menatapnya.

"4 hari, Nis." Firman masih menatapku sedih. Terlihat dari ujung ekor mataku.

"Hmm.. agak lama ya dari yang sebelumnya. Biasanya aku paling lama cuma 3 hari pingsan," kataku cuek. Aku memang sudah terbiasa terbangun di Rumah Sakit.

Tiba tiba Firman langsung memelukku.
Astaga!! Hatiku berdesir, lagi. Rasa nyaman dan rinduku kepada Indra seakan terbayarkan dengan pelukan Firman.

"Aku khawatir banget, Niss. Takut kamu nggak bangun lagi," katanya.

"Kalau nggak bangun lagi ya bagus kan, aku bisa ketemu Indra. Nggak perlu kayak gini terus. Hidup tapi seperti mati."

Firman merapatkan jari telunjuknya ke arah bibirku dan menggeleng.

"Kamu nggak boleh ngomong gitu Nis. Banyak yang sayang sama kamu, peduli sama kamu. Kenapa kamu selalu nyakitin diri kamu sendiri??"

"Aku nggak merasa tersakiti."

"Bohong!! Kamu bahkan lebih mementingkan luka ku yang hanya sedikit ini, Nis... kamu nggak peduli dengan luka yang ada di tangan mu sendiri!" katanya dengan penuh emosi.

"Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit, Firman.. Kamu nggak usah heran gitu."

"Indra beruntung dicintai olehmu. Dia beruntung banget. kamu harus semangat demi Indra." kata Firman.

"Bullshit!" gumamku.

Kak Adam dan kak Yusuf masuk ke ruangan ku, dan membuat Firman agak menjauh.

"Untung kamu cepet dapet transfusi darah," kata kak Adam begitu sampai ruanganku.

"Makasih ya, Firman, " Kata kak Yusuf. Aku menatap mereka dengan ekspresi bingung.

Kak Yusuf melihat kebingungan dari wajahku.
"Firman yang mendonorkan darahnya buat kamu. Saat kamu pulang dari kota, kamu pingsan. Firman langsung membawa kamu balik ke mobil, terus ke Rumah Sakit terdekat. Kamu kehilangan banyak darah," terang kak Yusuf.

Aku memalingkan wajahku ke sudut kamar ini, sedari tadi aku sudah menyadari kehadiran makhluk lain di sini.

"Nisa mau pulang sekarang," kataku.
Kak Yusuf mengerti alasanku.

"Kalau males ngeliat, pegang aja Firman. Mereka hilang, kan?" tanya kak Yusuf. Aku mengernyitkan kening.
Kok kak Yusuf bisa tau ya?

"Hah? sama kayak Indra juga, Nis?" tanya kak Adam antusias.

Aku akhirnya boleh pulang sore itu juga. Rasanya istirahat di kamar ini sudah lebih dari cukup, sambil memeluk boneka dari Indra.
coeloet
theorganic.f702
regmekujo
regmekujo dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.