- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.6K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#133
129 Ungkapan Perasaan
"Untuk menemukan Azazil itu adalah hal mudah. Tapi sekarang yang harus kita pikirkan, bagaimana kita harus melenyapkan dia," tutur Wira.
"Jadi bener, kalau para iblis itu sedang membuat pasukan?" tanya Arya.
Suasana taman siang ini cukup sunyi. Beberapa mahasiswa memilih mencari tempat yang menyenangkan. Seperti kantin, halaman depan kampus, atau kedai makanan yang tersebar di sekitar kampus. Namun baik Wira, Arya dan Nayla memilih mencari tempat sunyi, karena apa yang akan mereka diskusikan adalah hal yang tidak boleh ada orang lain yang tau.
"Iya. Mereka berniat menyerang langit. Dan kalian adalah panglima yang mampu memimpin mereka. Dulu kamu adalah Samyaza. Dan Nayla adalah Lilith. Kita harus membunuh Azazil terlebih dahulu," jelas Wira serius.
Kedua manusia yang disebut sebut sebagai panglima para iblis hanya mampu diam membisu. Pikiran mereka berkecamuk. Ini bagai mimpi, atau berharap kalau Wira sedang gila dengan membuat sebuah sandiwara aneh seperti sekarang. Samyaza? Lilith? Bahkan bagi Arya nama nama itu sangat asing di telinganya. Membayangkan kalau dirinya adalah bagian dari malaikat sekaligus iblis dalam satu waktu. Ini sungguh menggelikan.
"Caranya?"
Wira menjentikkan jarinya, lalu di tangannya kini ada sebuah buku tebal, terlihat rapuh, dengan sampul hitam. Terdapat gambar pentagram di sampul bukunya.
"Apa itu?" tanya Nayla sedikit terkejut melihat kemampuan ajaib Wira.
'Buku harian salah satu malaikat!" kata Wita tanpa rasa bersalah.
"Malaikat mana? Bukan punyamu, kan?
"Eum, bukan. Aku baru pinjem tadi. Sstt. Kita baca dulu," bisik Wira yang kini duduk di kursi taman, diapit Arya dan Nayla di kanan dan kirinya. Mereka diam sambil menunggu Wira mengucapkan sesuatu.
"Sebenarnya Azazil sedang terkurung di sebuah makam tua," kata Wira setelah membaca ssatu bait pertama kalimat aneh tersebut.
"Makam tua?"
"Dulu, dia adalah kaki tangan Lucifer. Mereka pernah melakukan pemberontakan dan membuat bumi hampir mengalami bencana besar. Mereka membangkitkan para iblis dan mengeluarkan semua setan dari neraka. Banyak manusia yang menjadi korban. Mereka berdua membuat pasukan perang untuk menghancurkan dunia. Dan kita turut andil dalam hal itu. Wah ini sih aku tau, bukan rahasia umum lagi," gumamnya seolah berbicara sendiri. Nayla dan Arya yang ikut menatap buku tersebut tidak mengerti sama sekali atas rentetan huruf aneh di depan mereka.
"Kita, itu berarti kita bertiga, kan?"
"Iya, kita bertiga." Wira berhenti menatap buku tersebut lalu beralih ke dua orang di sampingnya.
"Dan sekarang, dia akan melakukan hal yang sama. Azazil akan mengumpulkan lagi tentaranya yang dulu. Untuk melakukan hal tersebut lagi."
"Tapi Wira, kami nggak mau melakukan hal itu sekarang. Jadi itu bukan masalah, kan?" potong Nayla. Kalimat Nayl membuat Wira tersenyum sinis. Begitulah yang mereka lakukan dulu, menentang semua rencana jahat Azazil, tapi pada akhirnya mereka tetap membantu Azazil.
"Karena ingatan kalian belum kembali sepenuhnya. Kalian masih berfikir seperti itu sekarang. Karena saat seluruh ingatan itu kembali, maka antara kebaikan dan kejahatan itu hanya sebatas benang tipis, Nay."
"..." Nayla tidak paham, hanya terus menatap Wira dengan seribu pertanyaan di kepalanya.
"Ingat! Azazil bisa melakukan apa saja agar kalian mau memihak padanya. Bahkan rela menjadi budaknya," jelas Wira.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Arya.
"Tato yang ada pada kalian, adalah salah satu penangkal dari mereka dan makhluk jahat lainnya. Mereka tidak akan dengan mudah menemukan kalian. Tapi, aku rasa, sekarang mereka mulai mencium keberadaan kalian."
Arya menatap tato dipergelangan tangannya. Mengusapnya sambil mengingat perkataan Nayla tentang tato tato di tubuhnya. "Archangel? Fallen angel?" gumam Arya dalam hati.
"Walau Azazil terkurung, tapi dia bisa mengendalikan orang orangnya melalui pikiran. Dia akan melakukan perang di bumi, lalu setelah bumi hancur, maka langit akan menjadi sasaran selanjutnya. Dengan begitu, neraka akan menguasai seluruh alam semesta."
"Tunggu sebentar! Ke mana Tuhan? Masa sih, Tuhan membiarkan semua itu terjadi? Aneh!" cetus Nayla.
"Tuhan ada. Di sana," tunjuk Wira ke langit. "Tapi DIA tidak akan ikut campur masalah ini. DIA ingin kita berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan semua yang kita punya. Dan melihat, siapa yang pantas bertahan dan siapa yang harus kalah dalam pertarungan!"
"Maksudmu, nggak ada dari iblis atau manusia yang DIA pilih? Dan saat kita bertarung, DIA akan diam saja?"
"Kalian nggak sadar, kalau dunia makin tua. Kiamat sudah makin dekat. Mungkin ini salah satu cara-NYA untuk menyeleksi."
"Dan kita harus saling bunuh?" tanya Nayla masih tidak habis pikir dengan apa yang sedang ia hadapi kini.
"Terkadang begitulah kehidupan. Kita harus berjuang, kan? Jadi gimana? Kalian bersedia membantuku menemukan Azazil dan melenyapkannya, agar semua kekacauan ini berakhir. Dunia akan kembali aman terkendali. Begitu juga langit," tawar Wira menatap dua orang itu satu persatu.
Wira membuka halaman awal buku tersebut. Sebuah buku yang ditulis oleh Enoch. Seorang saksi kunci pertarungan malaikat dan para iblis. Enoch dianggap sebagai salah satu malaikat tertinggi serta kerap bertugas sebagai juru tulis setiap kejadian yang pernah terjadi dan akan terjadi. Dan Wira mencuri buku catatan itu dari Enoch.
"Azazil bersembunyi di sebuah makam tua. Untuk dapat ke tempat tersebut, kita harus menyelesaikan beberapa ujian."
"Ujian?"
Tulisan dengan bahasa enochian tersebut cukup fasih dibaca Wira karena memang itu bahasa yang biasa ia pakai dengan sesama malaikat.
"Di sini disebutkan, kalau Azazil terikat kuat di tempat itu. Tempat yang memiliki sebuah kalimat 'Ketika aku bangkit dari kematian, maka dunia akan bergetar'. Tempat itu jauh dari peradaban manusia. Di kelilingi hutan dan beberapa makhluk buas di sekitarnya." Wira menarik nafas panjang. Ia yang tidak mengetahui letak tempat tersebut mulai berfikir keras mencari jawabannya.
"Di makam itu ada sebuah gua, dan ada10 kunci untuk dapat membukanya."
"Wira! Maksudmu kita harus membebaskan Azazil, gitu?" potong Arya dengan pertanyaan lain.
"Untuk membunuhnya, kita harus membebaskan dia dulu, Ya."
"Kamu gila?! Membebaskan iblis dan membunuh dia? Bukannya itu bunuh diri, yah?" tanya Nayla yang memang masuk akal.
"Bukannya itu memang masuk akal? Coba pikir, gimana cara kita bunuh Azazil kalau dia ada di dalam kurungan? Karena kita memang harus membunuhnya, menusuk jantungnya atau menebas kepalanya, walau harus dengan bertarung."
"Tapi... Kita? Melawan Azazil?! Kamu gila, Ra?!" pekik Nayla.
"Eum, bukan itu bagian tergilanya. Aku yakin kalian akan menganggap ku lebih gila setelah mendengar kelanjutan kalimat ini," tunjuk Wira sambil menatap buku di tangannya.
"Sayangnya bukan kita yang bisa membunuh Azazil," jelas Wira dengan terlihat ragu menatap dua orang di sampingnya itu.
"Lalu?"
"Seorang putra malaikat terkutuk dan Nephilim terakhir di bumi!" katanya dingin. Mendengar hal itu, kedua manusia tersebut saling pandang, bingung.
"Siapa mereka? Kamu tau?" tanya Arya penasaran. Wira mengangguk pelan.
"Aku sudah ketemu dua orang itu. Salah satunya ... Adalah putra kalian!"
Arya dan Nayla melotot. Kedua bola mata mereka membulat sempurna mendengar kata "putra kalian." Kejutan lain yang disajikan Wira benar-benar membuat jantung mereka terus berdesir bagai ada di wahana roller coaster.
"Apa?! Putra kami? Maksudmu?!" tanya Arya meminta penjelasan lebih.
"Di kehidupan kalian yang lalu, kalian berhasil memiliki seorang putra. Dia sudah tumbuh dewasa sekarang. Bahkan mirip denganmu, Ya." Wira terkekeh sambil mengingat semua sikap Abimanyu yang ia kenal selama ini.
"..." Dahi Arya berkerut dengan kepala yang berdenyut. Sementara Nayla masih melongo tak percaya.
"Hanya dia satu satunya anak yang kalian punya selama beberapa kehidupan yang sudah kalian jalani selama ini. Yah, aku akui, kemarin adalah kehidupan terbaik yang kalian alami. Karena sebelumnya kisah cinta kalian selalu berakhir tragis. Kalian selalu mati sebelum bersatu. Dan biasanya kita akan menjalani hubungan cinta yang rumit." Sangat lucu bagi Wira jika mengingat persaingan di antara dirinya dan Arya dalam mendapatkan hati Nayla.
"Di mana dia sekarang?" tanya Nayla gugup sekaligus penasaran.
"Ada di sebuah desa. Agak jauh dari sini. Eum, sangat jauh lebih tepatnya. Dia anak laki laki yang tangguh. Keras dan hebat. Dia menjalani kehidupannya dengan baik selama ini, walau banyak cobaan yang selama ini mengintainya. Bahkan dia tidak mudah mati, karena dia adalah anak kalian. Dia ditakdirkan hidup abadi. Namanya ... Abimanyu Maheswara."
_______
Nayla memutuskan pindah tempat kos. Ia cemas jika sewaktu waktu anak buah Azazil akan kembali datang menemuinya. Arya pun juga cemas jika terjadi hal buruk pada gadis itu nanti. Mereka kini berada di sebuah penginapan yang sengaja Nayla sewa untuk beberapa hari ke depan, sampai akhirnya dia mendapatkan tempat tinggal yang aman nanti. Sikap Arya sedikit berubah. Tidak lagi sama seperti Arya yang biasanya Nayla kenal.
Malam ini hujan mengguyur kota dengan cukup deras. Membuat Arya terpaksa harus tinggal lebih lama di penginapan karena tidak mungkin dia pulang dengan kondisi cuaca yang demikian ekstremnya. Nayla baru saja membuat dua cangkir teh hangat untuk menghangatkan tubuh keduanya. Sebelum sampai di penginapan, mereka sudah berbelanja keperluan sederhana agar memudahkan Nayla untuk tidak bolak balik keluar. Karena keadaan di luar juga tidak memungkinkan bagi mereka untuk berkeliaran seperti biasanya. Para iblis pasti sedang mencari mereka berdua. Apalagi Adriel sudah tewas, otomatis kawanannya pasti akan mencari keberadaannya. Dan tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui kematian sesama kaumnya.
"Nay ...," panggil Arya dengan kedua tangan memegang cangkir teh hangat. Mereka tengah duduk di karpet bulu yang ada di depan ranjang berukuran king tersebut. Salah satu fasilitas dalam penginapan karena tidak disediakan kursi atau sofa untuk duduk duduk santai.
"Hm?" sahut Nayla sambil menikmati teh hangat di tangannya.
"Keadaan kamu bagaimana?"
"What? Aku? Maksudnya?" tanya Nayla terkejut dengan pertanyaan Arya barusan. Rasanya seperti tersedak teh yang sedang ia minum. Nayla lantas menatap Arya yang sama sekali tidak melihatnya. Hanya sibuk menghitung tiap rintik hujan yang terlihat dari jendela sampingnya.
"Ya perasaan kamu, setelah tau tentang kita dulu."
"Eum, bagaimana ya. Entahlah, Ya. Aku juga bingung. Semua terasa masih abu abu buatku. Aku ingin menganggap ini cuma mimpi atau khayalan yang selama ini memang ada di pikiranku. Tapi ... Semua terasa makin nyata. Apalagi saat aku mengelak dan menganggap semua omong kosong. Dan satu hal yang paling aku ingin tau," potong Nayla lalu menatap Arya yang kini juga menatapnya.
"Apa?"
"Apakah di kehidupan ini, kita juga akan bersama? Eum, maksudku Wira bilang kalau kita akan terus menjalani kehidupan yang sama. Kita selalu bersama di tiap kehidupan selama ini, kan?" tanya Nayla dengan kalimat yang berputar putar dan hampir membuat tawa Arya meledak. Tapi rasanya momen ini tidak ingin ia rusak dengan mencandai Nayla seperti biasanya. Yang akan berujung membuat gadis di sampingnya kesal sambil menunjukkan bibirnya yang mengerucut seperti biasanya.
"Aku juga nggak tau. Mungkin aja sih. Tapi buatku satu yang pasti," tukas Arya tersenyum lalu menatap lagi gadis itu. Nayla yang masih menunggu kalimat selanjutnya hanya diam dengan ekspresi polosnya. "Kalau aku memang suka sama kamu sejak pertama kita ketemu." Arya tersenyum, menatap cangkir teh yang ada di antara kedua lututnya yang sedang duduk bersila. Nayla diam, bagai mematung, terhipnotis oleh kalimat Arya tadi.
"Mungkin ini akan terus berlanjut di kehidupan kita selanjutnya. Dan aku akui, kalau aku memang setuju sama kata kata Wira yang satu ini. Aku memang jatuh cinta sama kamu. Sejak pertama kali aku melihatmu. "
"..."
"Tapi kamu tau sendiri, kan, kalau aku ini orangnya kaku. Dingin bahkan terkesan menyebalkan. Aku sadar, kalau kamu sering kesel sama aku. Aku memang sengaja bikin kamu marah, aku sengaja mencari perhatian, dan aku sengaja buat terus deket sama kamu, dengan berbagai cara. Aku bahkan nggak rela kalau kamu deket atau dideketin laki laki lain. Siapa pun itu, bakal aku hadang. Rian, senior kita, atau bahkan Wira sekali pun. Aku cemburu, Nay. Aku ...." Kalimat Arya terhenti, saat bibir ranum Nayla mendarat mulus di bibirnya. Hangat dan lembut. Bibir mereka saling berpagutan, Arya yang awalnya diam, kini mulai menyambut ciuman hangat Nayla. Hingga akhirnya beberapa detik kemudian, mereka saling melepas ciuman masing-masing. Keduanya masih menempelkan dahi, yang membuat jarak mereka masih sangat dekat. Membuat nafas mereka terasa berembus mengenai wajah masing-masing.
"Aku juga sayang kamu, Arya. Kamu memang nyebelin. Banget! Manusia terangkuh dan terdingin yang pernah aku temui. " Nayla terkekeh, membuat Arya juga terhipnotis dengan tawa renyah gadis itu. Arya mengusap lembut wajah Nayla yang masih sangat dekat dengannya.
"Kalau memang ini adalah kutukan buat aku, aku rela menjalaninya seumur hidup. Bahkan sampai kiamat sekali pun."
"Ya, kamu penasaran nggak sama ... anak kita?" tanya gadis di sampingnya yang kini sedang bersandar di dada bidang Arya. Arya merentangkan tangan kirinya untuk memberi keleluasaan Nayla bermanja ria di dekatnya.
Mereka masih duduk di lantai, yang dilapisi karpet tebal sambil menikmati suara hujan yang belum juga reda sejak beberapa jam lalu. Tangan kanan Arya ia gunakan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Sementara kepalanya menempel pada gadis di sampingnya.
"Eum, yah lumayan. Walau rasanya aneh banget, Nay. Siapa namanya tadi?"
"Abimanyu, Ya. Abimanyu Maheswara. Aku yakin pasti kamu yang kasih nama," cetusnya lalu menatap pemuda itu dengan tatapan manja.
"Kenapa? Kok bisa nebak gitu?"
"Habisnya, namanya mencerminkan kamu banget. Aku yakin dia pasti mirip kamu. Hm, menyebalkan," kekeh Nayla dengan maksud menyindir Arya yang masih tetap saja bersikap cuek. Arya tersenyum sambil meliriknya, ia menampilkan wajah mengerikan. Hingga membuat tawa Nayla terhenti. "Awas, ya, kamu!" cetus Arya dengan smirk yang membuat Nayla takut.
Tiba tiba Arya mengangkat tubuh Nayla, hingga membuat Nayla makin ketakutan sekaligus penasaran. Ia menjerit dan meronta meminta dilepaskan. Namun Arya malah tertawa sambil merebahkan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Dalam beberapa detik, mereka berdua sama sama terdiam. Saling tatap dengan dalam dan penuh perasaan. Arya yang berada di atas tubuh Nayla lantas tersenyum, wajahnya kian mendekat pada Nayla yang pasrah sejak tubuhnya diangkat pemuda itu.
Arya mencium kening Nayla lembut. Kemudian tersenyum. Kecupannya beralih ke mata kanan Nayla, lalu ke mata kirinya, secara perlahan. Jantung Nayla berdegup makin cepat, ia gugup mendapat perlakuan manis dari Arya. Sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Dan bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya sama sekali. Ciuman itu terhenti saat Arya menatap bibir ranum gadis itu. Ia menyapu lembut, lalu kembali mendaratkan ciuman di bibir kenyal Nayla. Cukup lama mereka berpagutan, sampai akhirnya tangan Arya mulai masuk ke pakaian Nayla, tapi sedetik kemudian ia kembali melepaskannya, dan juga ciuman mereka. Nayla yang sudah tegang akhirnya mampu bernafas lega sekarang. Lalu kata maaf meluncur dengan mulus dari mulut Arya, diakhiri dengan kecupan di dahi gadis itu. Arya lantas beranjak ke kamar mandi. Eh, mau apa dia, ya? Hahaha.
***
Wira baru saja menghubungi ponsel Arya, guna menanyakan di mana keberadaan mereka sekarang. Rupanya mereka harus bergerak cepat kali ini. Jejak pengikut Azazil sudah mulai tercium Wira.
"Wira mau ke sini," ujar Arya setelah panggilan tersebut diakhiri. Nayla yang sedang mengeringkan rambutnya setelah mandi hanya mengangguk paham. Namun ada hitungan detik, tiba-tiba mereka merasakan embusan angin dan seseorang sudah muncul dari sudut ruangan kamar sempit ini.
"Astaga!" pekik Nayla langsung menekan dadanya, sedikit kesal dan takut bercampur menjadi satu. Wira hanya menggaruk tengkuknya merasa bersalah. "Jadi begitu kemampuan kalian? Lalu mobilmu untuk apa?" tanya Arya sarkas.
"Ayolah, Ya. Itu cuma buat penyamaran saja. Kita ada hal yang lebih penting daripada membahas mobil. Wira melirik Nayla yang masih memakai piyama mandi dengan rambut basah, lalu beralih ke Arya sambil berdeham. "Apa?!" tanya Arya menaikkan sebelah alisnya.
"Nggak apa-apa." Wira lantas duduk di pinggir ranjang, menunggu Nayla mengenakan pakaiannya di kamar mandi.
Hujan sudah mulai reda, meninggalkan hawa dingin yang cukup membuat tubuh menggigil jika tidak mengenakan pakaian hangat. Nayla membuatkan dua cangkir kopi dan secangkir susu hangat untuk dirinya. Kopi diletakkan di meja nakas dan kini Arya mengambil salah satu cangkir kopi dan mulai menghirup aromanya. Sementara Wira hanya diam sambil menatap mereka yang sibuk menikmati minuman hangat tersebut. "Kamu nggak mau minum dulu?" tanya Nayla ke Wira. Wira tersenyum, memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. "Aku nggak perlu makan dan minum," ujarnya pelan. Arya meneguk pelan kopi di tangannya sambil menelaah perkataan Wira. Tak lama ia mengangguk paham.
"Jadi bagaimana cara kita menemukan Azazil?" tanya Nayla.
"Sama seperti yang aku bilang kemarin. Kita harus menemukan sepuluh kunci dari 10 tempat berbeda. Kunci itu akan kita pakai untuk membuka kurungan Azazil. Kita tidak bisa melakukan semua hanya bertiga," jelas Wira sambil menatap dua orang itu dalam.
"Hm, kita harus mengajak Abimanyu, begitu, kan? Jadi kita akan pergi berempat?"
"No, karena Nephilim terakhir sekarang adalah kekasih Abimanyu. Jadi kita akan membawanya juga."
"Apa?! Abimanyu, berpacaran sama Nephilim?!" pekik Nayla sedikit tidak percaya. Wira mengangguk, pertanda iya. "Jadi kalian siap bertemu anak kalian?" tanya Wira.
Nayla dan Arya saling lempar pandang, lalu mengangguk perlahan bersama sama.
"Aku harap kalian nggak kaget, ya, nanti."
"Kenapa?"
"Hm, kita lihat saja nanti."
Kedua pria dan wanita yang baru saja mengikrarkan cinta mereka hanya saling menatap bingung dengan menampilkan dahi yang berkerut, namun tidak di tanggapi oleh Wira. "Kita teleportasi atau ...?" tanya Arya. Wira tidak menjawab, malah memegang bahu kedua orang itu, dan hilang.
Suasana penginapan yang baru saja ada di sekitar mereka kini berubah menjadi pemandangan alam dengan barisan pohon pinus di sekitarnya. Arya dan Nayla terkejut, namun keduanya langsung merasa mual dan kini memuntahkan semua isi perutnya.
"Maaf, lupa bilang kalau ini efeknya, eum, bagi manusia," gumam Wira. Ia lantas memperhatikan sekitar. Ia mendarat di tempat yang cukup jauh dari keramaian manusia. Ia menatap kedua ujung jalan raya yang sunyi. Menunggu dan berharap ada kendaraan yang lewat dan mau membawa mereka ke tempat Abimanyu. "Huh, kalau saja aku bisa menjelajah tempat ini dengan mudah. Pasti udah sampai di rumah Abi!" cetus Wira menggumam.
"Hei, mana? Nggak ada apa apa di sini. Hutan? Abimanyu itu Tarzan atau apa?" tanya Arya sinis. Ia masih merasakan mual dan tak nyaman di perutnya. Lalu mendekat ke Nayla yang kini duduk di sebuah batu besar yang berada tak jauh dari jalan raya. Arya lantas mendekat dan memeriksa kondisi Nayla.
"Sorry, desa ini punya semacam penangkal. Beberapa kemampuan tertentu nggak bisa dipakai di sini," jelas Wira, sambil mendekat pada dua orang itu yang masih merasakan mabuk dengan perjalanan yang ia bawa tadi.
"Penangkal?"
"Iya. Ada sesuatu di tanah ini yang membuat beberapa kemampuanku nggak bisa maksimal. Dan pasti beberapa kemampuan makhluk lain juga. Tapi bukan berarti desa ini aman dari serangan iblis dan sejenisnya. Justru anak kalian sudah pernah menghadapi banyak makhluk aneh di luar dugaan kalian," jelas Wira sambil memperhatikan sekitar, membuat Arya dan Nayla makin penasaran.
"Jadi bener, kalau para iblis itu sedang membuat pasukan?" tanya Arya.
Suasana taman siang ini cukup sunyi. Beberapa mahasiswa memilih mencari tempat yang menyenangkan. Seperti kantin, halaman depan kampus, atau kedai makanan yang tersebar di sekitar kampus. Namun baik Wira, Arya dan Nayla memilih mencari tempat sunyi, karena apa yang akan mereka diskusikan adalah hal yang tidak boleh ada orang lain yang tau.
"Iya. Mereka berniat menyerang langit. Dan kalian adalah panglima yang mampu memimpin mereka. Dulu kamu adalah Samyaza. Dan Nayla adalah Lilith. Kita harus membunuh Azazil terlebih dahulu," jelas Wira serius.
Kedua manusia yang disebut sebut sebagai panglima para iblis hanya mampu diam membisu. Pikiran mereka berkecamuk. Ini bagai mimpi, atau berharap kalau Wira sedang gila dengan membuat sebuah sandiwara aneh seperti sekarang. Samyaza? Lilith? Bahkan bagi Arya nama nama itu sangat asing di telinganya. Membayangkan kalau dirinya adalah bagian dari malaikat sekaligus iblis dalam satu waktu. Ini sungguh menggelikan.
"Caranya?"
Wira menjentikkan jarinya, lalu di tangannya kini ada sebuah buku tebal, terlihat rapuh, dengan sampul hitam. Terdapat gambar pentagram di sampul bukunya.
"Apa itu?" tanya Nayla sedikit terkejut melihat kemampuan ajaib Wira.
'Buku harian salah satu malaikat!" kata Wita tanpa rasa bersalah.
"Malaikat mana? Bukan punyamu, kan?
"Eum, bukan. Aku baru pinjem tadi. Sstt. Kita baca dulu," bisik Wira yang kini duduk di kursi taman, diapit Arya dan Nayla di kanan dan kirinya. Mereka diam sambil menunggu Wira mengucapkan sesuatu.
"Sebenarnya Azazil sedang terkurung di sebuah makam tua," kata Wira setelah membaca ssatu bait pertama kalimat aneh tersebut.
"Makam tua?"
"Dulu, dia adalah kaki tangan Lucifer. Mereka pernah melakukan pemberontakan dan membuat bumi hampir mengalami bencana besar. Mereka membangkitkan para iblis dan mengeluarkan semua setan dari neraka. Banyak manusia yang menjadi korban. Mereka berdua membuat pasukan perang untuk menghancurkan dunia. Dan kita turut andil dalam hal itu. Wah ini sih aku tau, bukan rahasia umum lagi," gumamnya seolah berbicara sendiri. Nayla dan Arya yang ikut menatap buku tersebut tidak mengerti sama sekali atas rentetan huruf aneh di depan mereka.
"Kita, itu berarti kita bertiga, kan?"
"Iya, kita bertiga." Wira berhenti menatap buku tersebut lalu beralih ke dua orang di sampingnya.
"Dan sekarang, dia akan melakukan hal yang sama. Azazil akan mengumpulkan lagi tentaranya yang dulu. Untuk melakukan hal tersebut lagi."
"Tapi Wira, kami nggak mau melakukan hal itu sekarang. Jadi itu bukan masalah, kan?" potong Nayla. Kalimat Nayl membuat Wira tersenyum sinis. Begitulah yang mereka lakukan dulu, menentang semua rencana jahat Azazil, tapi pada akhirnya mereka tetap membantu Azazil.
"Karena ingatan kalian belum kembali sepenuhnya. Kalian masih berfikir seperti itu sekarang. Karena saat seluruh ingatan itu kembali, maka antara kebaikan dan kejahatan itu hanya sebatas benang tipis, Nay."
"..." Nayla tidak paham, hanya terus menatap Wira dengan seribu pertanyaan di kepalanya.
"Ingat! Azazil bisa melakukan apa saja agar kalian mau memihak padanya. Bahkan rela menjadi budaknya," jelas Wira.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Arya.
"Tato yang ada pada kalian, adalah salah satu penangkal dari mereka dan makhluk jahat lainnya. Mereka tidak akan dengan mudah menemukan kalian. Tapi, aku rasa, sekarang mereka mulai mencium keberadaan kalian."
Arya menatap tato dipergelangan tangannya. Mengusapnya sambil mengingat perkataan Nayla tentang tato tato di tubuhnya. "Archangel? Fallen angel?" gumam Arya dalam hati.
"Walau Azazil terkurung, tapi dia bisa mengendalikan orang orangnya melalui pikiran. Dia akan melakukan perang di bumi, lalu setelah bumi hancur, maka langit akan menjadi sasaran selanjutnya. Dengan begitu, neraka akan menguasai seluruh alam semesta."
"Tunggu sebentar! Ke mana Tuhan? Masa sih, Tuhan membiarkan semua itu terjadi? Aneh!" cetus Nayla.
"Tuhan ada. Di sana," tunjuk Wira ke langit. "Tapi DIA tidak akan ikut campur masalah ini. DIA ingin kita berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan semua yang kita punya. Dan melihat, siapa yang pantas bertahan dan siapa yang harus kalah dalam pertarungan!"
"Maksudmu, nggak ada dari iblis atau manusia yang DIA pilih? Dan saat kita bertarung, DIA akan diam saja?"
"Kalian nggak sadar, kalau dunia makin tua. Kiamat sudah makin dekat. Mungkin ini salah satu cara-NYA untuk menyeleksi."
"Dan kita harus saling bunuh?" tanya Nayla masih tidak habis pikir dengan apa yang sedang ia hadapi kini.
"Terkadang begitulah kehidupan. Kita harus berjuang, kan? Jadi gimana? Kalian bersedia membantuku menemukan Azazil dan melenyapkannya, agar semua kekacauan ini berakhir. Dunia akan kembali aman terkendali. Begitu juga langit," tawar Wira menatap dua orang itu satu persatu.
Wira membuka halaman awal buku tersebut. Sebuah buku yang ditulis oleh Enoch. Seorang saksi kunci pertarungan malaikat dan para iblis. Enoch dianggap sebagai salah satu malaikat tertinggi serta kerap bertugas sebagai juru tulis setiap kejadian yang pernah terjadi dan akan terjadi. Dan Wira mencuri buku catatan itu dari Enoch.
"Azazil bersembunyi di sebuah makam tua. Untuk dapat ke tempat tersebut, kita harus menyelesaikan beberapa ujian."
"Ujian?"
Tulisan dengan bahasa enochian tersebut cukup fasih dibaca Wira karena memang itu bahasa yang biasa ia pakai dengan sesama malaikat.
"Di sini disebutkan, kalau Azazil terikat kuat di tempat itu. Tempat yang memiliki sebuah kalimat 'Ketika aku bangkit dari kematian, maka dunia akan bergetar'. Tempat itu jauh dari peradaban manusia. Di kelilingi hutan dan beberapa makhluk buas di sekitarnya." Wira menarik nafas panjang. Ia yang tidak mengetahui letak tempat tersebut mulai berfikir keras mencari jawabannya.
"Di makam itu ada sebuah gua, dan ada10 kunci untuk dapat membukanya."
"Wira! Maksudmu kita harus membebaskan Azazil, gitu?" potong Arya dengan pertanyaan lain.
"Untuk membunuhnya, kita harus membebaskan dia dulu, Ya."
"Kamu gila?! Membebaskan iblis dan membunuh dia? Bukannya itu bunuh diri, yah?" tanya Nayla yang memang masuk akal.
"Bukannya itu memang masuk akal? Coba pikir, gimana cara kita bunuh Azazil kalau dia ada di dalam kurungan? Karena kita memang harus membunuhnya, menusuk jantungnya atau menebas kepalanya, walau harus dengan bertarung."
"Tapi... Kita? Melawan Azazil?! Kamu gila, Ra?!" pekik Nayla.
"Eum, bukan itu bagian tergilanya. Aku yakin kalian akan menganggap ku lebih gila setelah mendengar kelanjutan kalimat ini," tunjuk Wira sambil menatap buku di tangannya.
"Sayangnya bukan kita yang bisa membunuh Azazil," jelas Wira dengan terlihat ragu menatap dua orang di sampingnya itu.
"Lalu?"
"Seorang putra malaikat terkutuk dan Nephilim terakhir di bumi!" katanya dingin. Mendengar hal itu, kedua manusia tersebut saling pandang, bingung.
"Siapa mereka? Kamu tau?" tanya Arya penasaran. Wira mengangguk pelan.
"Aku sudah ketemu dua orang itu. Salah satunya ... Adalah putra kalian!"
Arya dan Nayla melotot. Kedua bola mata mereka membulat sempurna mendengar kata "putra kalian." Kejutan lain yang disajikan Wira benar-benar membuat jantung mereka terus berdesir bagai ada di wahana roller coaster.
"Apa?! Putra kami? Maksudmu?!" tanya Arya meminta penjelasan lebih.
"Di kehidupan kalian yang lalu, kalian berhasil memiliki seorang putra. Dia sudah tumbuh dewasa sekarang. Bahkan mirip denganmu, Ya." Wira terkekeh sambil mengingat semua sikap Abimanyu yang ia kenal selama ini.
"..." Dahi Arya berkerut dengan kepala yang berdenyut. Sementara Nayla masih melongo tak percaya.
"Hanya dia satu satunya anak yang kalian punya selama beberapa kehidupan yang sudah kalian jalani selama ini. Yah, aku akui, kemarin adalah kehidupan terbaik yang kalian alami. Karena sebelumnya kisah cinta kalian selalu berakhir tragis. Kalian selalu mati sebelum bersatu. Dan biasanya kita akan menjalani hubungan cinta yang rumit." Sangat lucu bagi Wira jika mengingat persaingan di antara dirinya dan Arya dalam mendapatkan hati Nayla.
"Di mana dia sekarang?" tanya Nayla gugup sekaligus penasaran.
"Ada di sebuah desa. Agak jauh dari sini. Eum, sangat jauh lebih tepatnya. Dia anak laki laki yang tangguh. Keras dan hebat. Dia menjalani kehidupannya dengan baik selama ini, walau banyak cobaan yang selama ini mengintainya. Bahkan dia tidak mudah mati, karena dia adalah anak kalian. Dia ditakdirkan hidup abadi. Namanya ... Abimanyu Maheswara."
_______
Nayla memutuskan pindah tempat kos. Ia cemas jika sewaktu waktu anak buah Azazil akan kembali datang menemuinya. Arya pun juga cemas jika terjadi hal buruk pada gadis itu nanti. Mereka kini berada di sebuah penginapan yang sengaja Nayla sewa untuk beberapa hari ke depan, sampai akhirnya dia mendapatkan tempat tinggal yang aman nanti. Sikap Arya sedikit berubah. Tidak lagi sama seperti Arya yang biasanya Nayla kenal.
Malam ini hujan mengguyur kota dengan cukup deras. Membuat Arya terpaksa harus tinggal lebih lama di penginapan karena tidak mungkin dia pulang dengan kondisi cuaca yang demikian ekstremnya. Nayla baru saja membuat dua cangkir teh hangat untuk menghangatkan tubuh keduanya. Sebelum sampai di penginapan, mereka sudah berbelanja keperluan sederhana agar memudahkan Nayla untuk tidak bolak balik keluar. Karena keadaan di luar juga tidak memungkinkan bagi mereka untuk berkeliaran seperti biasanya. Para iblis pasti sedang mencari mereka berdua. Apalagi Adriel sudah tewas, otomatis kawanannya pasti akan mencari keberadaannya. Dan tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui kematian sesama kaumnya.
"Nay ...," panggil Arya dengan kedua tangan memegang cangkir teh hangat. Mereka tengah duduk di karpet bulu yang ada di depan ranjang berukuran king tersebut. Salah satu fasilitas dalam penginapan karena tidak disediakan kursi atau sofa untuk duduk duduk santai.
"Hm?" sahut Nayla sambil menikmati teh hangat di tangannya.
"Keadaan kamu bagaimana?"
"What? Aku? Maksudnya?" tanya Nayla terkejut dengan pertanyaan Arya barusan. Rasanya seperti tersedak teh yang sedang ia minum. Nayla lantas menatap Arya yang sama sekali tidak melihatnya. Hanya sibuk menghitung tiap rintik hujan yang terlihat dari jendela sampingnya.
"Ya perasaan kamu, setelah tau tentang kita dulu."
"Eum, bagaimana ya. Entahlah, Ya. Aku juga bingung. Semua terasa masih abu abu buatku. Aku ingin menganggap ini cuma mimpi atau khayalan yang selama ini memang ada di pikiranku. Tapi ... Semua terasa makin nyata. Apalagi saat aku mengelak dan menganggap semua omong kosong. Dan satu hal yang paling aku ingin tau," potong Nayla lalu menatap Arya yang kini juga menatapnya.
"Apa?"
"Apakah di kehidupan ini, kita juga akan bersama? Eum, maksudku Wira bilang kalau kita akan terus menjalani kehidupan yang sama. Kita selalu bersama di tiap kehidupan selama ini, kan?" tanya Nayla dengan kalimat yang berputar putar dan hampir membuat tawa Arya meledak. Tapi rasanya momen ini tidak ingin ia rusak dengan mencandai Nayla seperti biasanya. Yang akan berujung membuat gadis di sampingnya kesal sambil menunjukkan bibirnya yang mengerucut seperti biasanya.
"Aku juga nggak tau. Mungkin aja sih. Tapi buatku satu yang pasti," tukas Arya tersenyum lalu menatap lagi gadis itu. Nayla yang masih menunggu kalimat selanjutnya hanya diam dengan ekspresi polosnya. "Kalau aku memang suka sama kamu sejak pertama kita ketemu." Arya tersenyum, menatap cangkir teh yang ada di antara kedua lututnya yang sedang duduk bersila. Nayla diam, bagai mematung, terhipnotis oleh kalimat Arya tadi.
"Mungkin ini akan terus berlanjut di kehidupan kita selanjutnya. Dan aku akui, kalau aku memang setuju sama kata kata Wira yang satu ini. Aku memang jatuh cinta sama kamu. Sejak pertama kali aku melihatmu. "
"..."
"Tapi kamu tau sendiri, kan, kalau aku ini orangnya kaku. Dingin bahkan terkesan menyebalkan. Aku sadar, kalau kamu sering kesel sama aku. Aku memang sengaja bikin kamu marah, aku sengaja mencari perhatian, dan aku sengaja buat terus deket sama kamu, dengan berbagai cara. Aku bahkan nggak rela kalau kamu deket atau dideketin laki laki lain. Siapa pun itu, bakal aku hadang. Rian, senior kita, atau bahkan Wira sekali pun. Aku cemburu, Nay. Aku ...." Kalimat Arya terhenti, saat bibir ranum Nayla mendarat mulus di bibirnya. Hangat dan lembut. Bibir mereka saling berpagutan, Arya yang awalnya diam, kini mulai menyambut ciuman hangat Nayla. Hingga akhirnya beberapa detik kemudian, mereka saling melepas ciuman masing-masing. Keduanya masih menempelkan dahi, yang membuat jarak mereka masih sangat dekat. Membuat nafas mereka terasa berembus mengenai wajah masing-masing.
"Aku juga sayang kamu, Arya. Kamu memang nyebelin. Banget! Manusia terangkuh dan terdingin yang pernah aku temui. " Nayla terkekeh, membuat Arya juga terhipnotis dengan tawa renyah gadis itu. Arya mengusap lembut wajah Nayla yang masih sangat dekat dengannya.
"Kalau memang ini adalah kutukan buat aku, aku rela menjalaninya seumur hidup. Bahkan sampai kiamat sekali pun."
"Ya, kamu penasaran nggak sama ... anak kita?" tanya gadis di sampingnya yang kini sedang bersandar di dada bidang Arya. Arya merentangkan tangan kirinya untuk memberi keleluasaan Nayla bermanja ria di dekatnya.
Mereka masih duduk di lantai, yang dilapisi karpet tebal sambil menikmati suara hujan yang belum juga reda sejak beberapa jam lalu. Tangan kanan Arya ia gunakan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Sementara kepalanya menempel pada gadis di sampingnya.
"Eum, yah lumayan. Walau rasanya aneh banget, Nay. Siapa namanya tadi?"
"Abimanyu, Ya. Abimanyu Maheswara. Aku yakin pasti kamu yang kasih nama," cetusnya lalu menatap pemuda itu dengan tatapan manja.
"Kenapa? Kok bisa nebak gitu?"
"Habisnya, namanya mencerminkan kamu banget. Aku yakin dia pasti mirip kamu. Hm, menyebalkan," kekeh Nayla dengan maksud menyindir Arya yang masih tetap saja bersikap cuek. Arya tersenyum sambil meliriknya, ia menampilkan wajah mengerikan. Hingga membuat tawa Nayla terhenti. "Awas, ya, kamu!" cetus Arya dengan smirk yang membuat Nayla takut.
Tiba tiba Arya mengangkat tubuh Nayla, hingga membuat Nayla makin ketakutan sekaligus penasaran. Ia menjerit dan meronta meminta dilepaskan. Namun Arya malah tertawa sambil merebahkan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Dalam beberapa detik, mereka berdua sama sama terdiam. Saling tatap dengan dalam dan penuh perasaan. Arya yang berada di atas tubuh Nayla lantas tersenyum, wajahnya kian mendekat pada Nayla yang pasrah sejak tubuhnya diangkat pemuda itu.
Arya mencium kening Nayla lembut. Kemudian tersenyum. Kecupannya beralih ke mata kanan Nayla, lalu ke mata kirinya, secara perlahan. Jantung Nayla berdegup makin cepat, ia gugup mendapat perlakuan manis dari Arya. Sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Dan bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya sama sekali. Ciuman itu terhenti saat Arya menatap bibir ranum gadis itu. Ia menyapu lembut, lalu kembali mendaratkan ciuman di bibir kenyal Nayla. Cukup lama mereka berpagutan, sampai akhirnya tangan Arya mulai masuk ke pakaian Nayla, tapi sedetik kemudian ia kembali melepaskannya, dan juga ciuman mereka. Nayla yang sudah tegang akhirnya mampu bernafas lega sekarang. Lalu kata maaf meluncur dengan mulus dari mulut Arya, diakhiri dengan kecupan di dahi gadis itu. Arya lantas beranjak ke kamar mandi. Eh, mau apa dia, ya? Hahaha.
***
Wira baru saja menghubungi ponsel Arya, guna menanyakan di mana keberadaan mereka sekarang. Rupanya mereka harus bergerak cepat kali ini. Jejak pengikut Azazil sudah mulai tercium Wira.
"Wira mau ke sini," ujar Arya setelah panggilan tersebut diakhiri. Nayla yang sedang mengeringkan rambutnya setelah mandi hanya mengangguk paham. Namun ada hitungan detik, tiba-tiba mereka merasakan embusan angin dan seseorang sudah muncul dari sudut ruangan kamar sempit ini.
"Astaga!" pekik Nayla langsung menekan dadanya, sedikit kesal dan takut bercampur menjadi satu. Wira hanya menggaruk tengkuknya merasa bersalah. "Jadi begitu kemampuan kalian? Lalu mobilmu untuk apa?" tanya Arya sarkas.
"Ayolah, Ya. Itu cuma buat penyamaran saja. Kita ada hal yang lebih penting daripada membahas mobil. Wira melirik Nayla yang masih memakai piyama mandi dengan rambut basah, lalu beralih ke Arya sambil berdeham. "Apa?!" tanya Arya menaikkan sebelah alisnya.
"Nggak apa-apa." Wira lantas duduk di pinggir ranjang, menunggu Nayla mengenakan pakaiannya di kamar mandi.
Hujan sudah mulai reda, meninggalkan hawa dingin yang cukup membuat tubuh menggigil jika tidak mengenakan pakaian hangat. Nayla membuatkan dua cangkir kopi dan secangkir susu hangat untuk dirinya. Kopi diletakkan di meja nakas dan kini Arya mengambil salah satu cangkir kopi dan mulai menghirup aromanya. Sementara Wira hanya diam sambil menatap mereka yang sibuk menikmati minuman hangat tersebut. "Kamu nggak mau minum dulu?" tanya Nayla ke Wira. Wira tersenyum, memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. "Aku nggak perlu makan dan minum," ujarnya pelan. Arya meneguk pelan kopi di tangannya sambil menelaah perkataan Wira. Tak lama ia mengangguk paham.
"Jadi bagaimana cara kita menemukan Azazil?" tanya Nayla.
"Sama seperti yang aku bilang kemarin. Kita harus menemukan sepuluh kunci dari 10 tempat berbeda. Kunci itu akan kita pakai untuk membuka kurungan Azazil. Kita tidak bisa melakukan semua hanya bertiga," jelas Wira sambil menatap dua orang itu dalam.
"Hm, kita harus mengajak Abimanyu, begitu, kan? Jadi kita akan pergi berempat?"
"No, karena Nephilim terakhir sekarang adalah kekasih Abimanyu. Jadi kita akan membawanya juga."
"Apa?! Abimanyu, berpacaran sama Nephilim?!" pekik Nayla sedikit tidak percaya. Wira mengangguk, pertanda iya. "Jadi kalian siap bertemu anak kalian?" tanya Wira.
Nayla dan Arya saling lempar pandang, lalu mengangguk perlahan bersama sama.
"Aku harap kalian nggak kaget, ya, nanti."
"Kenapa?"
"Hm, kita lihat saja nanti."
Kedua pria dan wanita yang baru saja mengikrarkan cinta mereka hanya saling menatap bingung dengan menampilkan dahi yang berkerut, namun tidak di tanggapi oleh Wira. "Kita teleportasi atau ...?" tanya Arya. Wira tidak menjawab, malah memegang bahu kedua orang itu, dan hilang.
Suasana penginapan yang baru saja ada di sekitar mereka kini berubah menjadi pemandangan alam dengan barisan pohon pinus di sekitarnya. Arya dan Nayla terkejut, namun keduanya langsung merasa mual dan kini memuntahkan semua isi perutnya.
"Maaf, lupa bilang kalau ini efeknya, eum, bagi manusia," gumam Wira. Ia lantas memperhatikan sekitar. Ia mendarat di tempat yang cukup jauh dari keramaian manusia. Ia menatap kedua ujung jalan raya yang sunyi. Menunggu dan berharap ada kendaraan yang lewat dan mau membawa mereka ke tempat Abimanyu. "Huh, kalau saja aku bisa menjelajah tempat ini dengan mudah. Pasti udah sampai di rumah Abi!" cetus Wira menggumam.
"Hei, mana? Nggak ada apa apa di sini. Hutan? Abimanyu itu Tarzan atau apa?" tanya Arya sinis. Ia masih merasakan mual dan tak nyaman di perutnya. Lalu mendekat ke Nayla yang kini duduk di sebuah batu besar yang berada tak jauh dari jalan raya. Arya lantas mendekat dan memeriksa kondisi Nayla.
"Sorry, desa ini punya semacam penangkal. Beberapa kemampuan tertentu nggak bisa dipakai di sini," jelas Wira, sambil mendekat pada dua orang itu yang masih merasakan mabuk dengan perjalanan yang ia bawa tadi.
"Penangkal?"
"Iya. Ada sesuatu di tanah ini yang membuat beberapa kemampuanku nggak bisa maksimal. Dan pasti beberapa kemampuan makhluk lain juga. Tapi bukan berarti desa ini aman dari serangan iblis dan sejenisnya. Justru anak kalian sudah pernah menghadapi banyak makhluk aneh di luar dugaan kalian," jelas Wira sambil memperhatikan sekitar, membuat Arya dan Nayla makin penasaran.
regmekujo dan 6 lainnya memberi reputasi
7