- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.4K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#15
Spoiler for 14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2):
Damar berlalu menuju dapur dan memeriksa tempat sampah yang ada di sana secara diam-diam, ia pun menemukan sebuah bungkus plastik dengan tulisan “ginjal sapi 200 gram” beserta harganya. Damar bernafas lega setelah mengetahui bahan makanan yang akan ia makan, bukan berasal dari korban. Ia pun mencuci tangan lalu kembali untuk duduk.
“Kamu mau nasinya banyak?” Tanya Sasa.
“Boleh, mumpung lauknya enak banget.” Jawabnya.
Sasa menuangkan nasi ke atas piring Damar. Beberapa lauk ia ambil dan dituangkan juga ke piringnya. Mereka pun mulai makan setelah Damar memimpin doa.
Suapan pertama berhasil membuat Damar terkesima dengan masakan Sasa. Ia pun mengacungkan ibu jarinya di hadapannya, Sasa pun tersenyum melihat reaksi Damar.
“Wah, ini enak banget.” Ucap Damar.
“Akhirnya aku berhasil.” Ucap Sasa.
Mereka melanjutkan makan malam ini dengan tenang. Makan malam pun berakhir, Damar mencuci piring yang digunakan untuk mereka makan, sementara Sasa merapihkan meja makan.
“Kamu mau minum apa?” Tanya Sasa.
“Aku ikut aja.” Jawabnya.
Sasa mengambil cangkir dari lemari, ia mengambil teh celup dari toples. Kemudian Sasa menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi teh tersebut. Damar pun selesai dengan tugasnya, kemudian mereka beralih menuju halaman depan untuk duduk menatap jalanan yang sudah sepi. Mereka meminum teh secara perlahan.
“Eh, aku mau tanya. Korban pembunuhan semalem itu salah satu profesi ahli yang kamu ceritain apa bukan ya?” Tanya Sasa.
“Iya, dia salah satu informan kami.” Jawabnya.
“Apa mungkin pelaku tau siapa informan kalian?” Tanyanya.
“Ada kemungkinan meskipun kecil.” Jawab Damar.
“Motifnya masih belum ketebak juga?” Tanya Sasa.
“Belum ketahuan...” Damar menatap Sasa, “kamu... semalem jadi meeting?”
“Ngga jadi. Kita pindah ke salah satu kedai di deket kantor. Soalnya mereka lupa booking ruangan, jadinya ngga ada yang jaga.” Jawabnya.
“Pindah?” Tanya Damar.
Sasa mengangguk, “Jadi, semisal kita mau meeting di luar jam kantor, harus booking ruangan dulu biar ada yang jaga. Mereka lupa, jadinya mau ngga mau kita pindah deh.”
Damar menghela nafasnya cukup dalam, kemudian ia memeluk Sasa dan berhasil membuat Sasa kebingungan. Pelukan cukup erat diberikan Damar, sebagai tanda permintaan maaf telah mencurigai Sasa terkait kasus pembunuhan semalam. Sasa yang tak tau maksudnya pun hanya bisa bertanya.
“Kamu kenapa?” Tanyanya.
“Nggapapa.” Jawab Damar.
“Kamu baik-baik aja kan?” Tanya Sasa lagi.
Damar mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Malam pun terus berlalu, Damar sedang menatap Sasa yang sudah terlelap dalam tidurnya. Wajah cantiknya memancarkan kedamaian dalam keheningan malam. Tangan Damar secara perlahan menyeka rambut yang menutupi sebagian wajah Sasa, Damar pun menghela nafasnya ketika kembali mengingat apa yang ia lakukan secara diam-diam kepada Sasa.
Menaruh curiga menjadi benteng awal bagi Damar untuk bisa mencari petunjuk tentang kasus yang sedang diusut, ia tidak menyadari bahwa siapapun bisa dicurigai, sekalipun itu Sasa. Damar mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Sasa. Senyuman pun Sasa berikan tanpa sadar hingga berhasil menghapus rasa bersalah yang Damar rasakan.
Sementara itu, di Rumah Sakit.
“Dok, ngga pulang?...”
Kania menatap ke arah dua dokter pendampingnya yang sudah mengenakan tas di punggung mereka.
“...udah jam segini.” Ucap dokter itu.
“Kalian duluan aja.” Jawabnya.
“Kami pulang duluan ya dok.” Ucapnya.
Kania tersenyum seraya melambaikan tangannya kepada mereka. Setelah mereka keluar dari ruangan, Kania kembali menatap layar komputernya. Ia sempat melepas kacamata yang ia kenakan untuk mengistirahatkan matanya sejenak, ia meraih gelas berisi air dingin untuk diminum beberapa teguk.
“Ada yang aneh...”
Kania sedang membaca laporan tentang korban yang dibunuh di toko jahitnya sendiri.
“...tapi apa ya?” Tanyanya seorang diri.
Kania kembali melihat foto-foto yang sudah diambil oleh tim forensik di tempat kejadian. Ia memajukan wajahnya untuk melihat lebih dekat pada layar komputer, ia pun melihat ke arah sudut di mana pintu ruangan belakang toko jahit sedikit terbuka dan ada bayangan seseorang yang ada di sana.
Ia memastikan apa yang dilihat, Kania kembali mengenakan kacamatanya dan apa yang ia lihat memanglah benar. Ia bangun dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangan. Kania membuka pintu, namun langkahnya terhenti begitu saja.
“Dokter...”
“Pak Agung...”
Ali bangun dari duduknya, ia keluar bersama Anggi dan juga Talia dari ruang pemeriksaan di kantor polisi. Talia masih menjalani wajib lapor sesuai ketentuan, setelah ia melaporkan kejadian pembunuhan.
“Jadi, Talia masih harus wajib lapor?” Tanya Anggi.
Ali menganggukkan kepala.
“Makasih ya Kak Anggi udah mau nemenin aku.” Sahut Talia.
“Nggapapa kok...” Anggi menatap Ali, “kamu mau ke kantor atau mau ke tempat kejadian?”
“Kayaknya aku mau ke tempat kejadian, aku ngerasa masih ada yang janggal di sana. Damar juga lagi di perjalanan mau ke sana.” Jawabnya.
“Aku boleh ikut ngga?” Tanya Anggi.
“Kamu mau ikut?” Tanya Ali balik.
Anggi mengangguk, “Aku penasaran sama kasus pembunuhan satu ini, karena menurutku ini punya motif tersendiri, terlepas dari kasus-kasus sebelumnya.”
“Oke kalau gitu.” Jawabnya.
“Tal, kamu mau ikut?” Tanya Anggi.
“Aku harus balik ke kantor Kak, pergerakanku lagi dibatasi.” Jawabnya.
“Oh iya, aku lupa. Kalau gitu, kamu hati-hati ya.” Ucap Anggi.
Mereka pun berpisah di kantor polisi, Ali dan Anggi berpindah menuju tempat kejadian. Setibanya di sana, sudah ada Damar yang sedang memeriksa sudut ruangan. Damar menyadari kedatangan mereka, tentunya ia dibuat bingung dengan kedatangan Anggi.
“Loh ada Anggi juga?” Tanyanya heran.
“Anggi minta ikut.” Jawabnya pelan.
“Hai Mar, maaf ya kalau ganggu.” Ucapnya.
“Nggapapa kok, nanti minta pasangin sarung tangan sama Ali. Kita jangan sampai nodain tempat kejadian.” Ucap Damar.
Anggi mengangguk, Ali pun memasangkan sarung tangan pada tangan Anggi. Ia pun juga melakukan hal yang sama, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya mencari petunjuk tentang kasus pembunuhan Candra.
“Ngomongin sarung tangan. Lo mikir ngga sih Mar, kalau semua kasus sama sekali ngga ninggalin sidik jari. Sangat rapi, kayak terlalu profesional.” Ucap Ali.
“Kalau itu gue setuju, bisa aja dia emang udah persiapin semua dengan baik.” Jawab Damar.
Mereka berlalu menuju pintu yang menuju ruangan belakang, di mana mereka sama sekali belum pernah masuk ke sana.
“Lo penasaran ngga sama ruangan ini?” Tanya Damar.
“Penasaran sih. Masuk kali ya?” Ucap Ali.
“Aku... boleh ikut?” Tanya Anggi.
Ali dan Damar sempat beradu pandang singkat, Damar pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Ali memegang gagang pintu lalu mendorongnya ke dalam. Mereka pun mendapati sebuah ruangan yang gelap, Ali pun menekan saklar untuk menyalakan lampu.
Sebuah lampu kuning menerangi ruangan yang berisi bahan-bahan kain dan juga benang-benang. Ali masuk terlebih dahulu disusul Damar dan Anggi.
“Akhirnya...”
Ali menunjuk ke salah satu kain yang berwarna merah.
“...semoga ini pertanda baik.” Ucap Ali.
“Ada apaan?” Tanya Damar.
Tangan Ali meraih sebuah benda yang sepertinya terjatuh dengan tidak sengaja di kain itu. Dengan hati-hati, ia menunjukkan benda itu kepada Damar dan Anggi.
“Sehelai rambut.” Ucap Ali.
Damar mengambil plastik dari sakunya, Ali memasukkan sehelai rambut tersebut ke dalam plastik kedap udara. Damar pun memasukkan plastik ke dalam sakunya.
“Kita bawa ke dokter Kania nanti.” Sahut Damar.
Ali mengangguk, “Kita periksa lagi ruangan ini, gue ngerasa kalau akan ada titik terang dari kasus ini. Udah cukup gue ngerasa ngga berguna jadi detektif.”
Mereka pun memeriksa ruangan itu lebih dalam setelah penemuan barang bukti, dengan teliti pun Ali dan Damar menajamkan pandangan mereka di antara barang-barang dan penerangan yang seadanya.
Sekilas Damar melihat tangan Anggi yang menyentuh kain-kain yang ada di sana, mungkin ia penasaran dengan benda-benda itu dalam pikirnya.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Ali menutup pintu ruangan itu setelah Damar dan Anggi keluar. Mereka pun berkumpul di halaman depan toko, disaksikan beberapa orang yang berdiri di balik garis pembatas yang masih penasaran.
“Lo ngga siaran?” Tanya Damar.
“Sore Mar, tadi gue juga abis nemenin Talia buat wajib lapor di kantor polisi. Karena masih ada waktu, jadi gue minta Ali ikut ke sini.” Jawab Anggi.
“Kita mau ke dokter Kania?” Tanya Ali.
Pandangan mereka pun tertuju pada mobil yang menepi, Agung keluar dari dalam mobil seorang diri lalu mendekat ke arah mereka. Agung menjabat tangan mereka, ia pun dikejutkan dengan kehadiran Anggi yang juga ada di sana.
“Bukannya kamu pembawa acara berita LTV? Dan juga kalau ngga salah, kamu yang ada di tempat kejadian di Balai Kota?" Tanya Agung penasaran.
“Betul Pak.” Jawabnya.
“Dia istri saya Pak.” Sahut Ali.
“Oh istri kamu? Wah, cocok kalau begitu...”
Anggi tersenyum menanggapi perkataanya.
“...jadi, ada perkembangan dari kasus ini?” Tanya Agung.
“Kami akan menuju Rumah Sakit Pak...”
Damar menunjukkan plastik berisi helai rambut.
“...kami ingin periksa barang bukti ini bersama dokter Kania.” Ucap Damar,
“Mungkin kalian harus menunda itu, dokter Kania sedang tidak enak badan. Dia butuh istirahat beberapa hari ke depan setelah saya bertemu dengannya semalam. Kalian menemukan ini di mana?” Ucap Agung.
“Ruangan belakang Pak.” Jawab Ali.
“Kalian mendobrak pintu itu?” Tanya Agung heran.
“Tidak Pak.” Ucap Ali.
“Bukannya ruangan itu terkunci?...”
Ali dan Damar beradu pandang dengan heran.
“…tim forensik membatalkan pemeriksaan kemarin karena ruangan itu terkunci. Rencana awal, pintu itu akan dibuka dengan alat besok. Kalau begitu, saya akan perintahkan tim forensik menuju sini sekarang.” Ucap Agung.
Segudang tanya pun berputar-putar di kepala mereka. Beberapa saat berlalu, tim forensik datang untuk memeriksa ruangan tersebut dipimpim Agung. Sementara itu, Ali, Anggi, dan Damar sudah berada di dalam mobil.
“Kok aneh ya?” Tanya Ali.
“Kemarin kalian ngga periksa ruangan itu?” Tanya Anggi.
Damar menggeleng, “Kami terlalu fokus dengan mesin jahit tua yang menjadi salah satu alat yang digunakan untuk membunuh korban.”
“Apa mungkin pelaku sempat kembali ke sini?” Tanya Anggi lagi.
Ali menghembuskan asap rokok, “Kemungkinannya terlalu kecil, butuh nyali sangat besar jika pelaku ingin datang kembali ke sini. Tapi jika memang benar, entah apa yang ada di kepalanya.”
“Kira-kira, apa yang bikin dia bisa dateng lagi?” Tanya Anggi.
“Ngga mungkin ada yang ketinggalan sih, buktinya kita aja ngga bisa nemuin apa-apa. Kalau cuma mau memastikan, bisa jadi sih. Kita harus tau jalan pikir pembunuh dulu untuk bisa jawab itu.” Jawab Damar.
Suasana hening terjadi di dalam mobil begitu saja. Ali menatap keluar dari jendela yang terbuka, ia mencoba menerka apa yang bisa menjadi motif pembunuh itu, jika memang benar ia kembali ke tempat kejadian.
“Mungkin ngga sih kalau dia kayak nostalgia aja?...”
Ali dan Damar menatap ke arah Anggi bersama-sama.
“...jadi, kesannya dia kayak bangga sama hasil karyanya?” Tanya Anggi.
“Apa mungkin ya?” Tanya Ali.
“Narsis maksudnya?” Tanya Damar.
Ali dan Anggi menganggukkan kepala mereka bersamaan. Damar menghela nafasnya, ia mencoba memikirkan kemungkinan yang bermunculan. Jika memang benar sang pelaku bersifat narsis, bagaimana dengan kasus yang pertama dan kedua? Apa mungkin sebenarnya pelaku juga kembali datang ke tempat kejadian pertama dan kedua tanpa sepengetahuan siapapun?
Siang pun menjelang, Damar turun dari bus lalu berjalan dengan santainya. Ia memutuskan untuk naik kendaraan umum setelah mengetahui Ali akan mengantar Anggi menuju kantornya. Damar masuk ke dalam gerai dan membeli es serut. Setelah memesan, ia pun duduk di bangku yang menghadap ke arah jalan.
Tak membutuhkan waktu lama untuk pesanannya disajikan di atas meja. Satu suapan berhasil membuat dahaganya lepas begitu saja, ia pun melanjutkannya tanpa tergesa-gesa. Ting! Damar mengambil ponselnya dari saku kemeja, ia membaca pesan masuk yang ada.
“Bubar aja ya, gue mau nemenin Anggi.” Ali.
Damar membalas pesan dari Ali seraya memakan es serut, kemudian ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja. Beberapa suapan berlalu, Damar menatap ke arah luar, raut wajahnya berubah ketika melihat Kania yang sedang berjalan di seberang jalan. Damar berkedip beberapa kali, ia memastikan apakah yang dia lihat adalah benar.
Kenyataannya berkata benar, Kania sedang berjalan dengan santainya. Damar pun bangun dari duduknya, ia keluar dari gerai tanpa menghabiskan pesanannya.
Damar melihat ke arah kiri dan kanan, ia pun menyeberangi jalan lalu berjalan lebih cepat untuk menghampiri Kania. Ia menepuk pundak Kania hingga berhasil mendapatkan perhatiannya.
“Eh, Pak Damar. Saya kira siapa.” Ucap Kania.
“Saya kira, saya salah liat. Apa kabar dok?” Ucap Damar.
“Baik kok. Kok tumben sendirian Pak? Biasanya sama Pak Ali.” Ucap Kania.
“Oh, tadi Ali nganter istrinya. Ngomong-ngomong, dokter bukannya lagi ngga enak badan?” Tanya Ali.
“Ngga enak badan? Saya baik-baik aja Pak. Barusan saya dari Rumah Sakit, abis ada pertemuan sama beberapa dokter ahli.” Ucap Kania.
Damar kembali mengingat ucapan Agung beberapa saat yang lalu, apa yang ia katakan berbeda dengan apa yang Damar lihat di hadapannya. Kania nampak baik-baik saja, bahkan ia bercerita mengenai apa yang baru saja ia lakukan.
“Pak Damar...”
Damar kembali menatap Kania.
“...Pak Damar baik-baik aja kan?” Tanya Kania.
“Nggapapa kok dok, saya tiba-tiba aja kepikiran sesuatu.” Sanggahnya.
“Kebetulan ada Pak Damar, apa ada waktu? Ada yang mau saya tanyakan.” Tanya Kania.
“Saya lagi istirahat di seberang, mungkin bisa sekalian dok.” Jawabnya.
“Boleh kalau gitu.” Ucap Kania.
Mereka kembali masuk ke dalam gerai, Kania sempat memesan untuknya, lalu mereka duduk di tempat di mana Damar duduk sebelumnya. Pesanannya pun disajikan di atas meja, Kania mencicipi es serut yang ia pesan.
“Enak juga ternyata, padahal saya udah sering lewat sini tapi belum pernah mampir.” Ucap Kania.
“Salah satu tempat yang saya kunjungi kalau ada waktu dok, karena emang rasanya ngga bisa bohong. Oh iya, tadi dokter mau tanya soal apa ya?” Kata Damar.
“Saya boleh tanya ngga, gimana prosedur detektif yang bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam menangani kasus? Apakah hak dalam bekerja sama rata, atau ada wewenang lebih yang dimiliki oleh salah satu pihak?” Tanya Kania.
Damar berpikir sejenak, “Kalau prosedur, kita punya wewenang yang sama, dalam artian kita bisa usut bareng-bareng sampai tuntas. Mungkin bedanya kalau pihak kepolisian punya wewenang untuk merekomendasikan hukuman kepada pengadilan, sementara kami ngga bisa.”
“Hukuman itu berdasarkan apa?” Tanya Kania lanjut.
“Apa yang dia lakukan, ditarik garis ke pasal-pasal yang udah ada. Pasal-pasal itu bisa dibantah jika ngga ada barang bukti yang pasti. Maka dari itu, kami bekerja untuk mengumpulkan bukti-bukti agar pasal itu bisa dikenakan ke pelaku seandainya dia tertangkap...”
Kania mengangguk mendengar penjelasan Damar.
“...ngomong-ngomong, ada persoalan apa dok sampai tanya soal itu?” Tanya Damar penasaran.
Kania melihat ke arah sekeliling, kemudian ia mendekatkan kursinya untuk lebih dekat dengan Damar. Ia pun menghela nafas singkat.
“Pak Agung menemui saya semalam di Rumah Sakit. Dia meminta saya untuk menghapus rekam jejak dari korban terakhir dalam kasus pembunuhan...”
“Dokter.” Sapa Agung.
“Pak Agung...” Kania sedikit terkejut, “kok ada di sini Pak? Apa ada keperluan lain?”
“Ngga sih, kebetulan saya memang mau bertemu dengan dokter. Ada waktu sebentar dok?” Tanya Agung.
Kania menganggukkan kepalanya. Mereka pun berpindah menuju halaman depan Rumah Sakit. Agung datang sekembalinya dari gerai dengan membawa dua gelas teh hangat, ia memberikan satu gelas kepada Kania.
“Terima kasih Pak.” Ucap Kania.
Agung mengangguk seraya tersenyum. Ia mengambil bungkus rokok dari saku jasnya, kemudian ia menyalakan satu batang rokok. Tangannya mengulurkan bungkus rokok yang sudah terbuka kepada Kania. Satu batang rokok pun Kania ambil lalu dinyalakan dengan korek milik Agung.
“Jadi, ada apa ya Pak?” Tanya Kania.
Agung menghembuskan asap rokok, “Ada yang ingin saya minta kepada dokter, mengenai kasus pembunuhan di toko jahit kemarin. Saya ingin meminta dokter untuk menghapus rekam jejak dari korban tersebut.”
“Dihapus?” Tanya Kania heran.
“Iya, saya minta untuk dihapus.” Jawab Agung.
“Saya boleh tau kenapa Pak?” Tanyanya lagi.
“Hanya untuk mempermudah penyelidikan.” Jawabnya.
Kania menatap Agung dalam diam, kemudian ia memandang ke arah jalan yang sudah mulai sepi. Ia menghisap rokok lalu menghembuskan asapnya ke arah depan.
“...jadi apa itu diperbolehkan Pak?” Tanya Kania.
“Kalau rekam jejak itu menjadi salah satu barang bukti, maka itu bisa termasuk tindak pidana...” Damar menghela nafasnya, “tapi, apa Pak Agung menjelaskan maksud dari penyelidikan itu dok?”
Kania menggeleng, “Pak Agung hanya berucap seperti itu, tidak ada penjelasan lain. Itu yang membuat saya bertanya kepada Pak Damar.”
“Ada apa ya kira-kira?” Tanya Damar seorang diri.
“Saya minta tolong sama Pak Damar ya, jangan sampai ada orang lain yang tau.” Ucap Kania.
Damar mengangguk, “Mungkin kita juga harus punya rencana cadangan dok. Permintaan Pak Agung kita turuti, tapi kita tetap simpan rekam jejak yang sudah ada untuk berjaga-jaga.”
“Apa ngga masalah Pak?” Tanya Kania ragu.
“Salin datanya di sini...”
Damar memberikan kartu memori yang diambil dari saku celananya. Kania pun menerima kartu memori itu.
“...jadi dokter bisa menunjukkan rekam jejak yang sudah terhapus kepada Pak Agung jika dia meminta buktinya.” Jelas Damar.
Kania menganggukkan kepalanya, ia pun memasukkan kartu memori yang ia terima ke dalam tas kecil yang ia bawa. Isi kepala Damar kembali bermain setelah mendengar cerita Kania, apa yang membuat Agung melakukan hal seperti itu.
“Pak Damar...”
Damar menatap ke arah Kania.
“...mungkin ngga sih kalau Pak Agung pelakunya?”
Ting! Leony membuka matanya secara perlahan, ia terbangun di tengah malam setelah mendengar bunyi dari ponselnya. Ia meraih ponselnya yang ada di atas meja dan melihat apa yang ada di sana. Hanya beberapa pemberitahuan dari sosial media, mulai dari sekilas berita hingga gosip selebriti yang entah kebenarannya.
Leony kembali meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian ia meregangkan tangannya ke arah langit-langit. Leony merubah posisinya menjadi duduk di tepi kasur, ia sempat memandang kosong ke arah luar lewat jendela, sampai akhirnya ia bangun dari duduknya dan keluar dari kamar.
Secara perlahan, Leony berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Ia membuka lemari es untuk mengambil minuman botol dingin dari dalam. Ia membuka tutup botol dengan sekuat tenaga namun tidak berhasil. Leony mengambil kain lalu meletakkannya di atas tutup botol, ia kembali mencoba untuk membuka tutup botol itu sekali lagi, berhasil.
Beberapa tegukan cukup untuk meredakan dahaganya yang baru saja terbangun di tengah malam. Leony membawa minuman botol itu ke dalam kamarnya. Belum sempat ia menutup pintu, ia melihat cahaya dari luar. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dari luar.
Leony mendapati Anggi yang masuk ke dalam rumah. Anggi sempat menuju dapur untuk mencuci tangannya, kemudian ia beranjak menuju lantai atas dan kembali menuju kamar. Leony menutup pintu kamarnya dan kembali duduk di tepi kasur.
“Bukannya Mama pulang sama Papa ya tadi?...”
Leony sempat terdiam, ia kembali minum secara perlahan.
“...mungkin ada urusan kantor lagi.” Ucapnya seorang diri.
Leony meletakkan minuman botol di atas meja dan kembali meraih ponselnya. Ia kembali merebahkan dirinya seraya melihat sosial media yang tak pernah sepi akan pemberitaan. Hingga akhirnya Leony kembali terlelap dalam tidurnya tanpa disengaja.
“Kamu mau nasinya banyak?” Tanya Sasa.
“Boleh, mumpung lauknya enak banget.” Jawabnya.
Sasa menuangkan nasi ke atas piring Damar. Beberapa lauk ia ambil dan dituangkan juga ke piringnya. Mereka pun mulai makan setelah Damar memimpin doa.
Suapan pertama berhasil membuat Damar terkesima dengan masakan Sasa. Ia pun mengacungkan ibu jarinya di hadapannya, Sasa pun tersenyum melihat reaksi Damar.
“Wah, ini enak banget.” Ucap Damar.
“Akhirnya aku berhasil.” Ucap Sasa.
Mereka melanjutkan makan malam ini dengan tenang. Makan malam pun berakhir, Damar mencuci piring yang digunakan untuk mereka makan, sementara Sasa merapihkan meja makan.
“Kamu mau minum apa?” Tanya Sasa.
“Aku ikut aja.” Jawabnya.
Sasa mengambil cangkir dari lemari, ia mengambil teh celup dari toples. Kemudian Sasa menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi teh tersebut. Damar pun selesai dengan tugasnya, kemudian mereka beralih menuju halaman depan untuk duduk menatap jalanan yang sudah sepi. Mereka meminum teh secara perlahan.
“Eh, aku mau tanya. Korban pembunuhan semalem itu salah satu profesi ahli yang kamu ceritain apa bukan ya?” Tanya Sasa.
“Iya, dia salah satu informan kami.” Jawabnya.
“Apa mungkin pelaku tau siapa informan kalian?” Tanyanya.
“Ada kemungkinan meskipun kecil.” Jawab Damar.
“Motifnya masih belum ketebak juga?” Tanya Sasa.
“Belum ketahuan...” Damar menatap Sasa, “kamu... semalem jadi meeting?”
“Ngga jadi. Kita pindah ke salah satu kedai di deket kantor. Soalnya mereka lupa booking ruangan, jadinya ngga ada yang jaga.” Jawabnya.
“Pindah?” Tanya Damar.
Sasa mengangguk, “Jadi, semisal kita mau meeting di luar jam kantor, harus booking ruangan dulu biar ada yang jaga. Mereka lupa, jadinya mau ngga mau kita pindah deh.”
Damar menghela nafasnya cukup dalam, kemudian ia memeluk Sasa dan berhasil membuat Sasa kebingungan. Pelukan cukup erat diberikan Damar, sebagai tanda permintaan maaf telah mencurigai Sasa terkait kasus pembunuhan semalam. Sasa yang tak tau maksudnya pun hanya bisa bertanya.
“Kamu kenapa?” Tanyanya.
“Nggapapa.” Jawab Damar.
“Kamu baik-baik aja kan?” Tanya Sasa lagi.
Damar mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Malam pun terus berlalu, Damar sedang menatap Sasa yang sudah terlelap dalam tidurnya. Wajah cantiknya memancarkan kedamaian dalam keheningan malam. Tangan Damar secara perlahan menyeka rambut yang menutupi sebagian wajah Sasa, Damar pun menghela nafasnya ketika kembali mengingat apa yang ia lakukan secara diam-diam kepada Sasa.
Menaruh curiga menjadi benteng awal bagi Damar untuk bisa mencari petunjuk tentang kasus yang sedang diusut, ia tidak menyadari bahwa siapapun bisa dicurigai, sekalipun itu Sasa. Damar mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Sasa. Senyuman pun Sasa berikan tanpa sadar hingga berhasil menghapus rasa bersalah yang Damar rasakan.
Sementara itu, di Rumah Sakit.
“Dok, ngga pulang?...”
Kania menatap ke arah dua dokter pendampingnya yang sudah mengenakan tas di punggung mereka.
“...udah jam segini.” Ucap dokter itu.
“Kalian duluan aja.” Jawabnya.
“Kami pulang duluan ya dok.” Ucapnya.
Kania tersenyum seraya melambaikan tangannya kepada mereka. Setelah mereka keluar dari ruangan, Kania kembali menatap layar komputernya. Ia sempat melepas kacamata yang ia kenakan untuk mengistirahatkan matanya sejenak, ia meraih gelas berisi air dingin untuk diminum beberapa teguk.
“Ada yang aneh...”
Kania sedang membaca laporan tentang korban yang dibunuh di toko jahitnya sendiri.
“...tapi apa ya?” Tanyanya seorang diri.
Kania kembali melihat foto-foto yang sudah diambil oleh tim forensik di tempat kejadian. Ia memajukan wajahnya untuk melihat lebih dekat pada layar komputer, ia pun melihat ke arah sudut di mana pintu ruangan belakang toko jahit sedikit terbuka dan ada bayangan seseorang yang ada di sana.
Ia memastikan apa yang dilihat, Kania kembali mengenakan kacamatanya dan apa yang ia lihat memanglah benar. Ia bangun dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangan. Kania membuka pintu, namun langkahnya terhenti begitu saja.
“Dokter...”
“Pak Agung...”
*
Ali bangun dari duduknya, ia keluar bersama Anggi dan juga Talia dari ruang pemeriksaan di kantor polisi. Talia masih menjalani wajib lapor sesuai ketentuan, setelah ia melaporkan kejadian pembunuhan.
“Jadi, Talia masih harus wajib lapor?” Tanya Anggi.
Ali menganggukkan kepala.
“Makasih ya Kak Anggi udah mau nemenin aku.” Sahut Talia.
“Nggapapa kok...” Anggi menatap Ali, “kamu mau ke kantor atau mau ke tempat kejadian?”
“Kayaknya aku mau ke tempat kejadian, aku ngerasa masih ada yang janggal di sana. Damar juga lagi di perjalanan mau ke sana.” Jawabnya.
“Aku boleh ikut ngga?” Tanya Anggi.
“Kamu mau ikut?” Tanya Ali balik.
Anggi mengangguk, “Aku penasaran sama kasus pembunuhan satu ini, karena menurutku ini punya motif tersendiri, terlepas dari kasus-kasus sebelumnya.”
“Oke kalau gitu.” Jawabnya.
“Tal, kamu mau ikut?” Tanya Anggi.
“Aku harus balik ke kantor Kak, pergerakanku lagi dibatasi.” Jawabnya.
“Oh iya, aku lupa. Kalau gitu, kamu hati-hati ya.” Ucap Anggi.
Mereka pun berpisah di kantor polisi, Ali dan Anggi berpindah menuju tempat kejadian. Setibanya di sana, sudah ada Damar yang sedang memeriksa sudut ruangan. Damar menyadari kedatangan mereka, tentunya ia dibuat bingung dengan kedatangan Anggi.
“Loh ada Anggi juga?” Tanyanya heran.
“Anggi minta ikut.” Jawabnya pelan.
“Hai Mar, maaf ya kalau ganggu.” Ucapnya.
“Nggapapa kok, nanti minta pasangin sarung tangan sama Ali. Kita jangan sampai nodain tempat kejadian.” Ucap Damar.
Anggi mengangguk, Ali pun memasangkan sarung tangan pada tangan Anggi. Ia pun juga melakukan hal yang sama, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya mencari petunjuk tentang kasus pembunuhan Candra.
“Ngomongin sarung tangan. Lo mikir ngga sih Mar, kalau semua kasus sama sekali ngga ninggalin sidik jari. Sangat rapi, kayak terlalu profesional.” Ucap Ali.
“Kalau itu gue setuju, bisa aja dia emang udah persiapin semua dengan baik.” Jawab Damar.
Mereka berlalu menuju pintu yang menuju ruangan belakang, di mana mereka sama sekali belum pernah masuk ke sana.
“Lo penasaran ngga sama ruangan ini?” Tanya Damar.
“Penasaran sih. Masuk kali ya?” Ucap Ali.
“Aku... boleh ikut?” Tanya Anggi.
Ali dan Damar sempat beradu pandang singkat, Damar pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Ali memegang gagang pintu lalu mendorongnya ke dalam. Mereka pun mendapati sebuah ruangan yang gelap, Ali pun menekan saklar untuk menyalakan lampu.
Sebuah lampu kuning menerangi ruangan yang berisi bahan-bahan kain dan juga benang-benang. Ali masuk terlebih dahulu disusul Damar dan Anggi.
“Akhirnya...”
Ali menunjuk ke salah satu kain yang berwarna merah.
“...semoga ini pertanda baik.” Ucap Ali.
“Ada apaan?” Tanya Damar.
Tangan Ali meraih sebuah benda yang sepertinya terjatuh dengan tidak sengaja di kain itu. Dengan hati-hati, ia menunjukkan benda itu kepada Damar dan Anggi.
“Sehelai rambut.” Ucap Ali.
Damar mengambil plastik dari sakunya, Ali memasukkan sehelai rambut tersebut ke dalam plastik kedap udara. Damar pun memasukkan plastik ke dalam sakunya.
“Kita bawa ke dokter Kania nanti.” Sahut Damar.
Ali mengangguk, “Kita periksa lagi ruangan ini, gue ngerasa kalau akan ada titik terang dari kasus ini. Udah cukup gue ngerasa ngga berguna jadi detektif.”
Mereka pun memeriksa ruangan itu lebih dalam setelah penemuan barang bukti, dengan teliti pun Ali dan Damar menajamkan pandangan mereka di antara barang-barang dan penerangan yang seadanya.
Sekilas Damar melihat tangan Anggi yang menyentuh kain-kain yang ada di sana, mungkin ia penasaran dengan benda-benda itu dalam pikirnya.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Ali menutup pintu ruangan itu setelah Damar dan Anggi keluar. Mereka pun berkumpul di halaman depan toko, disaksikan beberapa orang yang berdiri di balik garis pembatas yang masih penasaran.
“Lo ngga siaran?” Tanya Damar.
“Sore Mar, tadi gue juga abis nemenin Talia buat wajib lapor di kantor polisi. Karena masih ada waktu, jadi gue minta Ali ikut ke sini.” Jawab Anggi.
“Kita mau ke dokter Kania?” Tanya Ali.
Pandangan mereka pun tertuju pada mobil yang menepi, Agung keluar dari dalam mobil seorang diri lalu mendekat ke arah mereka. Agung menjabat tangan mereka, ia pun dikejutkan dengan kehadiran Anggi yang juga ada di sana.
“Bukannya kamu pembawa acara berita LTV? Dan juga kalau ngga salah, kamu yang ada di tempat kejadian di Balai Kota?" Tanya Agung penasaran.
“Betul Pak.” Jawabnya.
“Dia istri saya Pak.” Sahut Ali.
“Oh istri kamu? Wah, cocok kalau begitu...”
Anggi tersenyum menanggapi perkataanya.
“...jadi, ada perkembangan dari kasus ini?” Tanya Agung.
“Kami akan menuju Rumah Sakit Pak...”
Damar menunjukkan plastik berisi helai rambut.
“...kami ingin periksa barang bukti ini bersama dokter Kania.” Ucap Damar,
“Mungkin kalian harus menunda itu, dokter Kania sedang tidak enak badan. Dia butuh istirahat beberapa hari ke depan setelah saya bertemu dengannya semalam. Kalian menemukan ini di mana?” Ucap Agung.
“Ruangan belakang Pak.” Jawab Ali.
“Kalian mendobrak pintu itu?” Tanya Agung heran.
“Tidak Pak.” Ucap Ali.
“Bukannya ruangan itu terkunci?...”
Ali dan Damar beradu pandang dengan heran.
“…tim forensik membatalkan pemeriksaan kemarin karena ruangan itu terkunci. Rencana awal, pintu itu akan dibuka dengan alat besok. Kalau begitu, saya akan perintahkan tim forensik menuju sini sekarang.” Ucap Agung.
Segudang tanya pun berputar-putar di kepala mereka. Beberapa saat berlalu, tim forensik datang untuk memeriksa ruangan tersebut dipimpim Agung. Sementara itu, Ali, Anggi, dan Damar sudah berada di dalam mobil.
“Kok aneh ya?” Tanya Ali.
“Kemarin kalian ngga periksa ruangan itu?” Tanya Anggi.
Damar menggeleng, “Kami terlalu fokus dengan mesin jahit tua yang menjadi salah satu alat yang digunakan untuk membunuh korban.”
“Apa mungkin pelaku sempat kembali ke sini?” Tanya Anggi lagi.
Ali menghembuskan asap rokok, “Kemungkinannya terlalu kecil, butuh nyali sangat besar jika pelaku ingin datang kembali ke sini. Tapi jika memang benar, entah apa yang ada di kepalanya.”
“Kira-kira, apa yang bikin dia bisa dateng lagi?” Tanya Anggi.
“Ngga mungkin ada yang ketinggalan sih, buktinya kita aja ngga bisa nemuin apa-apa. Kalau cuma mau memastikan, bisa jadi sih. Kita harus tau jalan pikir pembunuh dulu untuk bisa jawab itu.” Jawab Damar.
Suasana hening terjadi di dalam mobil begitu saja. Ali menatap keluar dari jendela yang terbuka, ia mencoba menerka apa yang bisa menjadi motif pembunuh itu, jika memang benar ia kembali ke tempat kejadian.
“Mungkin ngga sih kalau dia kayak nostalgia aja?...”
Ali dan Damar menatap ke arah Anggi bersama-sama.
“...jadi, kesannya dia kayak bangga sama hasil karyanya?” Tanya Anggi.
“Apa mungkin ya?” Tanya Ali.
“Narsis maksudnya?” Tanya Damar.
Ali dan Anggi menganggukkan kepala mereka bersamaan. Damar menghela nafasnya, ia mencoba memikirkan kemungkinan yang bermunculan. Jika memang benar sang pelaku bersifat narsis, bagaimana dengan kasus yang pertama dan kedua? Apa mungkin sebenarnya pelaku juga kembali datang ke tempat kejadian pertama dan kedua tanpa sepengetahuan siapapun?
Siang pun menjelang, Damar turun dari bus lalu berjalan dengan santainya. Ia memutuskan untuk naik kendaraan umum setelah mengetahui Ali akan mengantar Anggi menuju kantornya. Damar masuk ke dalam gerai dan membeli es serut. Setelah memesan, ia pun duduk di bangku yang menghadap ke arah jalan.
Tak membutuhkan waktu lama untuk pesanannya disajikan di atas meja. Satu suapan berhasil membuat dahaganya lepas begitu saja, ia pun melanjutkannya tanpa tergesa-gesa. Ting! Damar mengambil ponselnya dari saku kemeja, ia membaca pesan masuk yang ada.
“Bubar aja ya, gue mau nemenin Anggi.” Ali.
Damar membalas pesan dari Ali seraya memakan es serut, kemudian ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja. Beberapa suapan berlalu, Damar menatap ke arah luar, raut wajahnya berubah ketika melihat Kania yang sedang berjalan di seberang jalan. Damar berkedip beberapa kali, ia memastikan apakah yang dia lihat adalah benar.
Kenyataannya berkata benar, Kania sedang berjalan dengan santainya. Damar pun bangun dari duduknya, ia keluar dari gerai tanpa menghabiskan pesanannya.
Damar melihat ke arah kiri dan kanan, ia pun menyeberangi jalan lalu berjalan lebih cepat untuk menghampiri Kania. Ia menepuk pundak Kania hingga berhasil mendapatkan perhatiannya.
“Eh, Pak Damar. Saya kira siapa.” Ucap Kania.
“Saya kira, saya salah liat. Apa kabar dok?” Ucap Damar.
“Baik kok. Kok tumben sendirian Pak? Biasanya sama Pak Ali.” Ucap Kania.
“Oh, tadi Ali nganter istrinya. Ngomong-ngomong, dokter bukannya lagi ngga enak badan?” Tanya Ali.
“Ngga enak badan? Saya baik-baik aja Pak. Barusan saya dari Rumah Sakit, abis ada pertemuan sama beberapa dokter ahli.” Ucap Kania.
Damar kembali mengingat ucapan Agung beberapa saat yang lalu, apa yang ia katakan berbeda dengan apa yang Damar lihat di hadapannya. Kania nampak baik-baik saja, bahkan ia bercerita mengenai apa yang baru saja ia lakukan.
“Pak Damar...”
Damar kembali menatap Kania.
“...Pak Damar baik-baik aja kan?” Tanya Kania.
“Nggapapa kok dok, saya tiba-tiba aja kepikiran sesuatu.” Sanggahnya.
“Kebetulan ada Pak Damar, apa ada waktu? Ada yang mau saya tanyakan.” Tanya Kania.
“Saya lagi istirahat di seberang, mungkin bisa sekalian dok.” Jawabnya.
“Boleh kalau gitu.” Ucap Kania.
Mereka kembali masuk ke dalam gerai, Kania sempat memesan untuknya, lalu mereka duduk di tempat di mana Damar duduk sebelumnya. Pesanannya pun disajikan di atas meja, Kania mencicipi es serut yang ia pesan.
“Enak juga ternyata, padahal saya udah sering lewat sini tapi belum pernah mampir.” Ucap Kania.
“Salah satu tempat yang saya kunjungi kalau ada waktu dok, karena emang rasanya ngga bisa bohong. Oh iya, tadi dokter mau tanya soal apa ya?” Kata Damar.
“Saya boleh tanya ngga, gimana prosedur detektif yang bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam menangani kasus? Apakah hak dalam bekerja sama rata, atau ada wewenang lebih yang dimiliki oleh salah satu pihak?” Tanya Kania.
Damar berpikir sejenak, “Kalau prosedur, kita punya wewenang yang sama, dalam artian kita bisa usut bareng-bareng sampai tuntas. Mungkin bedanya kalau pihak kepolisian punya wewenang untuk merekomendasikan hukuman kepada pengadilan, sementara kami ngga bisa.”
“Hukuman itu berdasarkan apa?” Tanya Kania lanjut.
“Apa yang dia lakukan, ditarik garis ke pasal-pasal yang udah ada. Pasal-pasal itu bisa dibantah jika ngga ada barang bukti yang pasti. Maka dari itu, kami bekerja untuk mengumpulkan bukti-bukti agar pasal itu bisa dikenakan ke pelaku seandainya dia tertangkap...”
Kania mengangguk mendengar penjelasan Damar.
“...ngomong-ngomong, ada persoalan apa dok sampai tanya soal itu?” Tanya Damar penasaran.
Kania melihat ke arah sekeliling, kemudian ia mendekatkan kursinya untuk lebih dekat dengan Damar. Ia pun menghela nafas singkat.
“Pak Agung menemui saya semalam di Rumah Sakit. Dia meminta saya untuk menghapus rekam jejak dari korban terakhir dalam kasus pembunuhan...”
“Dokter.” Sapa Agung.
“Pak Agung...” Kania sedikit terkejut, “kok ada di sini Pak? Apa ada keperluan lain?”
“Ngga sih, kebetulan saya memang mau bertemu dengan dokter. Ada waktu sebentar dok?” Tanya Agung.
Kania menganggukkan kepalanya. Mereka pun berpindah menuju halaman depan Rumah Sakit. Agung datang sekembalinya dari gerai dengan membawa dua gelas teh hangat, ia memberikan satu gelas kepada Kania.
“Terima kasih Pak.” Ucap Kania.
Agung mengangguk seraya tersenyum. Ia mengambil bungkus rokok dari saku jasnya, kemudian ia menyalakan satu batang rokok. Tangannya mengulurkan bungkus rokok yang sudah terbuka kepada Kania. Satu batang rokok pun Kania ambil lalu dinyalakan dengan korek milik Agung.
“Jadi, ada apa ya Pak?” Tanya Kania.
Agung menghembuskan asap rokok, “Ada yang ingin saya minta kepada dokter, mengenai kasus pembunuhan di toko jahit kemarin. Saya ingin meminta dokter untuk menghapus rekam jejak dari korban tersebut.”
“Dihapus?” Tanya Kania heran.
“Iya, saya minta untuk dihapus.” Jawab Agung.
“Saya boleh tau kenapa Pak?” Tanyanya lagi.
“Hanya untuk mempermudah penyelidikan.” Jawabnya.
Kania menatap Agung dalam diam, kemudian ia memandang ke arah jalan yang sudah mulai sepi. Ia menghisap rokok lalu menghembuskan asapnya ke arah depan.
“...jadi apa itu diperbolehkan Pak?” Tanya Kania.
“Kalau rekam jejak itu menjadi salah satu barang bukti, maka itu bisa termasuk tindak pidana...” Damar menghela nafasnya, “tapi, apa Pak Agung menjelaskan maksud dari penyelidikan itu dok?”
Kania menggeleng, “Pak Agung hanya berucap seperti itu, tidak ada penjelasan lain. Itu yang membuat saya bertanya kepada Pak Damar.”
“Ada apa ya kira-kira?” Tanya Damar seorang diri.
“Saya minta tolong sama Pak Damar ya, jangan sampai ada orang lain yang tau.” Ucap Kania.
Damar mengangguk, “Mungkin kita juga harus punya rencana cadangan dok. Permintaan Pak Agung kita turuti, tapi kita tetap simpan rekam jejak yang sudah ada untuk berjaga-jaga.”
“Apa ngga masalah Pak?” Tanya Kania ragu.
“Salin datanya di sini...”
Damar memberikan kartu memori yang diambil dari saku celananya. Kania pun menerima kartu memori itu.
“...jadi dokter bisa menunjukkan rekam jejak yang sudah terhapus kepada Pak Agung jika dia meminta buktinya.” Jelas Damar.
Kania menganggukkan kepalanya, ia pun memasukkan kartu memori yang ia terima ke dalam tas kecil yang ia bawa. Isi kepala Damar kembali bermain setelah mendengar cerita Kania, apa yang membuat Agung melakukan hal seperti itu.
“Pak Damar...”
Damar menatap ke arah Kania.
“...mungkin ngga sih kalau Pak Agung pelakunya?”
Ting! Leony membuka matanya secara perlahan, ia terbangun di tengah malam setelah mendengar bunyi dari ponselnya. Ia meraih ponselnya yang ada di atas meja dan melihat apa yang ada di sana. Hanya beberapa pemberitahuan dari sosial media, mulai dari sekilas berita hingga gosip selebriti yang entah kebenarannya.
Leony kembali meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian ia meregangkan tangannya ke arah langit-langit. Leony merubah posisinya menjadi duduk di tepi kasur, ia sempat memandang kosong ke arah luar lewat jendela, sampai akhirnya ia bangun dari duduknya dan keluar dari kamar.
Secara perlahan, Leony berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Ia membuka lemari es untuk mengambil minuman botol dingin dari dalam. Ia membuka tutup botol dengan sekuat tenaga namun tidak berhasil. Leony mengambil kain lalu meletakkannya di atas tutup botol, ia kembali mencoba untuk membuka tutup botol itu sekali lagi, berhasil.
Beberapa tegukan cukup untuk meredakan dahaganya yang baru saja terbangun di tengah malam. Leony membawa minuman botol itu ke dalam kamarnya. Belum sempat ia menutup pintu, ia melihat cahaya dari luar. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dari luar.
Leony mendapati Anggi yang masuk ke dalam rumah. Anggi sempat menuju dapur untuk mencuci tangannya, kemudian ia beranjak menuju lantai atas dan kembali menuju kamar. Leony menutup pintu kamarnya dan kembali duduk di tepi kasur.
“Bukannya Mama pulang sama Papa ya tadi?...”
Leony sempat terdiam, ia kembali minum secara perlahan.
“...mungkin ada urusan kantor lagi.” Ucapnya seorang diri.
Leony meletakkan minuman botol di atas meja dan kembali meraih ponselnya. Ia kembali merebahkan dirinya seraya melihat sosial media yang tak pernah sepi akan pemberitaan. Hingga akhirnya Leony kembali terlelap dalam tidurnya tanpa disengaja.
ø
0
Kutip
Balas