- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Destiny
...
TS
loveismyname
You Are My Destiny

2008
“SAH!”
Serta merta, kalimat Tahmid bergema ke seluruh ruangan musholla di pagi yang cerah ini. Begitu banyak wajah bahagia sekaligus haru terlihat. Proses akad nikah memang seharusnya menjadi sesuatu yang sakral, yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang melaluinya.
Aku termasuk orang yang berbahagia itu. Di hadapan seorang laki-laki yang barusan menjabat tanganku, yang selanjutnya, beliau secara resmi akan kupanggil Papa, aku tidak bisa menyembunyikan rasa haruku. Di sampingku, seorang wanita yang telah kupilih untuk mendampingiku seumur hidup, terus menerus menutup mukanya dengan kedua tangan, mengucap syukur tiada terkira.
Hai Cantik, semoga kamu bahagia juga di sana. Tunggu kami ya.
Spoiler for PERHATIAN !!:
Spoiler for DISCLAIMER !!:
Enjoy

Note : Gue akan berusaha agar cerita ini bisa selesai. Update, sebisa dan semampu gue aja, karena cerita ini sebenarnya sudah gue selesaikan dalam bentuk Ms.Word. Tapi maaf, gue gak bisa setiap hari ngaskus. mohon pengertiannya.
Index
prolog
part 1 the meeting
part 2 how come?
part 3 why
part 4 swimming
part 5 second meeting
part 6 aku
part 7 love story
part 8 mbak adelle
part 9 got ya!!
part 10 third meeting
part 11 kejadian malam itu
part 12 4th meeting
part 13 family
part 14 putus
part 15 comeback
part 16 morning surprise
part 17 we are different
Intermezzo - behind the scenes
Intermezzo - behind the scenes 2
part 18 aku di sini untukmu
part 19 a morning with her
part 20 don't mess with me 1
part 21 don't mess with me 2
part 22 my life has changed
part 23 mati gue !!
part 24 old friend
part 25 kenapa sih
Intermezzo - behind the scenes 3
part 26 halo its me again
part 27 balikan?
part 28 happy independent day
part 29 duet
part 30 sorry, i cant
part 31 night call
part 32 preparation
part 33 lets get the party started
part 34 sweetest sin
part 35 late 2001
part 36 ramadhan tiba
part 37 itu hurts
part 38 sebuah nasihat
part 39 happy new year
part 40 ombak besar
part 41 don't leave me
part 42 my hero
part 43 my hero 2
part 44 desperate
part 45 hah??
part 46 goodbye
part 47 ombak lainnya
part 48 no party
part 49 self destruction
part 50 diam
part 51 finally
part 52 our journey begin
part 53 her circle
part 54 my first kiss
part 55 sampai kapan
part 56 lost control
part 57 trauma
part 58 the missing story
part 59 akhirnya ketahuan
part 60 perencanaan ulang
part 61 komitmen
part 62 work hard
part 63 tembok terbesar
part 64 melihat sisi lain
part 65 proud
part 66 working harder
part 67 shocking news
part 68 she's gone
Intermezzo behind the scenes 4
part 69 time is running out
part 70 one more step
part 71 bali the unforgettable 1
part 72 bali the unforgettable 2
intermezzo behind the scenes 5
part 73 a plan
part 74 a plan 2
part 75 ultimatum
part 76 the day 1
part 77 the day 2
part 78 the day 3
part 79 judgement day
part 80 kami bahagia
part 81 kami bahagia 2
part 82 we are family
part 83 another opportunity
part 84 new career level
part 85 a gentlemen agreement
part 86 bidadari surga
part 87 pertanyaan mengejutkan
part 88 new place new hope
part 89 cobaan menjelang pernikahan 1
part 90 cobaan menjelang pernikahan 2
part 91 hancur
part 92 jiwa yang liar
part 93 tersesat
part 94 mungkinkah
part 95 faith
part 96 our happiness
part 97 only you
part 98 cepat sembuh sayang
part 99 our journey ends
part 100 life must go on
part 101 a new chapter
part 102 Bandung
part 103 we meet again
part 104 what's wrong
part 105 nginep
part 106 Adelle's POV 1
part 107 a beautiful morning
part 108 - terlalu khawatir
part 109 semangat !!
part 110 kejutan yang menyenangkan
part 111 aku harus bagaimana
part 112 reaksinya
part 113 menjauh?
part 114 lamaran
part 115 good night
part 116 satu per satu
part 117 si mata elang
part 118 re united
part 119 hari yang baru
part 120 teguran keras
part 121 open up my heart
part 122 pelabuhan hati
part 123 aku akan menjaganya
part 124 masih di rahasiakan
part 125 surprise
part 126 titah ibu
part 127 kembali
part 128 congratulation 1
part 129 congratulation 2
part 130 you are my destiny
epilog 1
epilog 2
epilog 3
epilog 4
epilog 5
side stry 1 mami and clarissa
side story 2 queen
side story 3 us (adelle's pov 2)
tamat
Diubah oleh loveismyname 03-06-2023 11:22
yputra121097703 dan 72 lainnya memberi reputasi
71
103.6K
954
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#174
Part 84 - New Career Level : Unlocked
Aku baru saja sampai di parkiran kantor pagi itu, ketika sebuah telepon masuk. Nomor tidak di kenal.
“Halo.” Aku menjawab telepon
“Selamat pagi Pak Daru. Saya Maya dari PT.A kemarin.”
Oh ternyata Mbak Maya
“Oh pagi Mbak. Bisa dibantu?” Aku bertanya.
“Pak, maaf jika terkesan dadakan. Manajemen sudah approve untuk penerimaan Bapak. Apakah Bapak bisa datang ke kantor kami siang ini, after lunch?” Mbak Maya berkata.
Aku langsung gemetar.
Ini beneran?
Kok bisa? Gue ini masih bocah loh itungannya !!
“Mbak Maya, mohon maaf, saya kan di kantor juga punya tanggung jawab. Saya coba izin dengan atasan saya ya. Ada nomor yang bisa dihubungi kembali?” Aku bertanya.
Mbak Maya memberikan sebuah nomor telepon, dan aku langsung mencatatnya di sebuah kertas. Untung aku selalu bawa pulpen di kantong kemejaku.
“Baik Mbak. Saya minta waktu 30 menit, akan saya hubungi kembali.” Aku berkata.
Aku langsung gedubrakan untuk mencari bos besar.
Aduh, dia belum dateng lagi.
Aku menunggu dulu di ruanganku, sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tak lama, Ci Dewi, sekretaris sekaligus tangan kanan bos besar sudah mengirimiku pesan, memberitahu bahwa bos besar sudah datang.
Aku segera bersiap-siap
“Silahkan Ru. Lu gue izinin.” Bos tanpa basa basi, langsung mengizinkanku untuk pergi, ketika aku memberitahukan kabar bahwa aku di panggil kembali ke PT A.
“Hebat lu. Ando aja mental. Lu bisa tembus!! Ga salah gue rekomendasiin lu.” Bos kembali tersenyum.
“Sekarang, lu delegasiin tugas lu ke anak buah lu, terus siang berangkat. Kalo ternyata prosesnya cepet, sempetin balik ke sini ya. Gue mau discuss masalah pengganti lu. Lu yang nunjuk sendiri siapa pengganti lu.” Lanjutnya.
Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Badanku masih gemetar. Seminggu ini, benar-benar bertubi-tubi keberuntungan yang datang kepadaku.
Benarkah ini rezekinya Afei?
Tapi, aku sempat merasakan gelisah secara tiba-tiba beberapa waktu lalu. Sekilas saja, namun aku mencoba untuk tidak berfikiran aneh-aneh.
Hanya godaan untuk orang yang akan menikah.
Sudahlah, focus saja satu persatu.
Aku kembali berhadapan dengan Pak Deni, Mbak Maya, satu orang wanita paruh baya namun cantik dan keibuan, bernama Ibu Rina serta Mr.Kawakami. Seperti biasa, Mr.Kawakami memasang gestur cengengesan ketika kami bertemu.
Aku baru tahu, ternyata orang jepang bisa cengengesan juga.
“Hei, we meet again!” Mr.Kawakami menyapaku.
“Good afternoon Sir. How are you?” Aku menyapanya.
“Ahhh, too formal. Come on, have a sit.” Mr.Kawakami menyuruhku duduk di kursi yang berada di depannya.
“Rina san, please start the meeting. You can explain to Daru san about our plan. In Bahasa will be just fine.” Mr Kawakami berkata.
“Oke Daru. Jadi gini.” Ibu Rina memulai. “Sebenarnya, kami nyari cepat manajer berpengalaman. Sayangnya, kamu ga qualified untuk itu. Atau saya lebih suka nyebutnya, belum qualified.” Lanjutnya.
Lah terus ngapain gue dipanggil kemari?
Kata Mbak Maya, gue confirm diterima?
Otakku berkecamuk. Lagi-lagi, kebiasaan jelekku untuk overthinking muncul. Padahal, pembicaraan belum selesai.
“Tapi, Mr.Kawakami sangat tertarik sama kamu. Kamu menarik, dan presentasi kamu kemarin itu menjadi bahan perbincangan kami. Sangat sayang kalau kami melepas kamu gitu aja.”
“Kami punya solusi lain. Kamu kami tawarkan untuk posisi Chief Staff atau bahasa umumnya, team leader, di sebuah sub divisi. Kalau kamu achieve dalam 3 tahun, kamu bisa kami promosikan sebagai assistant manager. Bisa lebih cepat kalau kamu extraordinary. Bagaimana?” Bu Rina menjelaskan.
“Kamu sudah tau kan perusahaan ini bergerak di bidang apa? Seharusnya kamu bisa meraba, seperti apa job desc kamu nanti.” lanjutnya.
Nahh kan !! Kurang-kurangin overthinking, Daru !!
“Sebelumnya, saya mau berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Saya tidak keberatan dengan posisi itu. Saya menerima Bu.” Aku berkata.
Aku sebenarnya senang luar biasa, tapi aku tahan sebisa mungkin euphoria itu.
“Yes!!” Suara Mr.Kawakami mengagetkanku.
Wah, kayaknya jepang edan nih. Demen banget cengengesan dan ngagetin orang.
“So, it is clear for us. Now is our HRD turn. We’ll offer something you can’t reject. Deni san, make it quick.” Mr. Kawakami kemudian menjabat tanganku erat.
“See you soon.” Dia kembali cengengesan.
Pernah lihat tokoh Morimoto di film Tokyo drift? Tuh persis seperti itu cengengesannya Mr. Kawakami. Gesturnya ya, bukan wajahnya. Wajahnya sih tidak mirip sama sekali.
Ibu Rina dan Mr.Kawakami meninggalkan ruangan. Sekarang tinggal Pak Deni dan Mbak Maya. Sepertinya, kami akan bernegosiasi soal gaji, dan fasilitas.
Mbak Mala mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkan kepada Pak Deni. Pak Deni menjelaskan secara rinci, apa yang akan aku dapatkan disini. Aku mendengarkan dengan seksama.
Setelah beberapa lama, Pak Deni selesai menjelaskan. Di situ, aku terdiam tak mampu berkata-kata.
Gila !! pantas saja turnover pegawai di perusahaan ini rendah.
Standar Gaji dan fasilitasnya luar biasa!!
Aku hampir saja meledak kegirangan.
Aku mendapatkan gaji lebih besar dari perusahaan lamaku. Padahal aku hanya chief staff saja, bukan division head. Belum lagi, fasilitas kesehatan berupa asuransi swasta, dengan budget per tahunnya yang buat geleng kepala. Masih di tambah dengan fasilitas loan untuk karyawan. Dari mulai laptop, sampai rumah dan mobil.
Masih ada lagi, aku juga mendapatkan bayaran lembur jika memang ada kerjaan yang harus selesai, dengan hitungan perjam di hari kerja, dan menjadi dua kali lipat di weekend.
Ini sih Gila !!
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Jauh sekali kelasnya dengan perusahaan lamaku, dimana aku hanya mendapatkan ucapan terima kasih, jika pulang larut malam.
Tanpa pikir panjang, aku segera menyetujui hal itu. Setelah itu, kami sedikit berdebat masalah tanggal masuk ku ke perusahaan ini. Aku meminta one month notice, tapi dari mereka hanya mau 2 minggu. Setelah sedikit bernegosiasi, kami sepakat di 3 minggu.
Jadi 3 minggu lagi, aku baru masuk ke perusahaan ini. Aku tidak bisa meninggalkan begitu saja kantor lamaku. Biar bagaimanapun, perusahaan itu sangat berjasa di hidupku.
Setelah semua selesai, kami semua bersalaman. Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali atas kesempatan yang sudah diberikan.
Di perjalanan pulang, aku teringat pesan ayah, di hari pertama aku masuk kerja di kantor lamaku.
“Alhamdulillaaahhh sayanggg.” Afei berteriak panjang di telepon sore itu, saat aku memberitahunya kejadian hari ini.
“Sebenarnya kamu ga perlu seeffort itu sayang. penghasilan dari usaha kamu udah cukup banget buat kita nanti.” Afei berkata.
“Aku kangen sayang. Pengen ketemu.” Lanjutnya.
Aku tersenyum membayangkan wajah manjanya nya saat mengatakan hal itu.
Kalau bukan karena wanita ini, aku mungkin sekarang sudah menjadi tidak jelas. Aku mungkin sedang terpuruk menerima nasib burukku karena kuliah tidak sesuai dengan jurusan yang aku inginkan. Aku mungkin sedang nongkrong dan mabuk-mabukan untuk menghilangkan stress.
Karena wanita ini, aku punya tujuan. Karena wanita ini, aku berani merubah semua rencana hidupku. Karena wanita ini, tubuhku seperti tidak merasa letih untuk bekerja.
Fei, kamu gak akan pernah tahu, betapa berartinya kamu di hidup aku.
“Iya, aku ke rumah kamu deh. Sekalian bantu-bantu acara besok. Masih sesuai rencana kan?” Aku bertanya.
“Masih sayang. tapi kayaknya minus koh afung. Dia kerja kayaknya.” Afei menjawab.
“Sayang, aku degdegan. Hihihih..” Afei tertawa geli.
“Hahahahah, kok deg-degan? Kan yang menegangkan udah lewat. Besok cuma acara tunangan sayang. hahahaha.” Ujarku terbahak-bahak.
“Hihihi, Maksud aku, deg-degan seneng gitu. Bukan deg-degan tegang. Aku bahagiaaaaaaa banget.”
Aku sampai di rumah Afei tepat ketika adzan Isya berkumandang. Setelah parkir motor, aku izin untuk sholat sebentar ke mushola.
Rumah Afei dekat dengan mushola legendaris ini. Mushola yang menjadi saksi lahirnya cinta kami yang membara.
Selesai makan malam, aku berinisiatif membantu Afei dan Mami. Sebenarnya, acara pertunangan kami sederhana saja. Hanya pertemuan dua keluarga untuk sekedar meresmikan hubungan kami. Sekalian menentukan tanggal pernikahan.
Keluarga kami menyerahkan semua urusan pernikahan kepada kami, yang langsung disambut Afei dengan senang hati. Afei memang tidak bekerja. Melamar pekerjaan pun tidak.
Aku tidak khawatir. Dia mau kerja atau jadi ibu rumah tangga, tidak ada masalah untukku. Yang penting dia senang.
Afei bilang, dia yang akan merencanakan pernikahan kami sebaik mungkin.
Setelah membereskan dan menata rumah, aku dan Afei duduk berdua di teras sambil mengobrol dan minum teh. Teh yang dibuatkan mami ini enak sekali. Aku yang penasaran sempat mengintip ke dapur untuk melihatnya. Ada tulisan china di bungkusnya.
Ah nanti saja deh nanyanya.
Seperti biasa, kami sudah terlibat obrolan seru. Ini termasuk satu hal yang selalu membuatku bingung. Afei sangat cerewet ketika bersamaku. Dia bisa membahas apa saja. Tapi jika dengan orang lain, dia menjadi pendiam. Karakter kami untuk hal ini sama persis. Aku juga seperti itu.
“Sayang, kamu gak gerah dari tadi pake jaket terus?” Afei bertanya.
“Ah nggak kok. Ini jaket gak terlalu tebel. Males aku lepasnya. Takut ketinggalan pas pulang.” Aku beralasan.
Sebisa mungkin aku menyembunyikan luka di lenganku. Memang sudah agak kering, karena bantuan obat china dari Ko Along. Tapi jahitannya masih terlihat jelas.
Kami menghentikan obrolan kami ketika melihat sebuah motor masuk ke halaman rumah, dan parkir tepat di depan kami. Si pengendara membuka helmnya, dan membuatku langsung waspada.
Ko Afung.
“Ngapain pulang?? Mau ngerusuhin acara gue?”
Aku terkejut luar biasa saat mendengar bentakan Afei.
Aku segera melihat ke arahnya.
Aku menemukan sebuah ekspresi yang tidak pernah aku temukan di wajah Afei sebelumnya.
Wajahnya nampak sangar dan di penuhi aura kemarahan yang dahsyat !!
“Halo.” Aku menjawab telepon
“Selamat pagi Pak Daru. Saya Maya dari PT.A kemarin.”
Oh ternyata Mbak Maya
“Oh pagi Mbak. Bisa dibantu?” Aku bertanya.
“Pak, maaf jika terkesan dadakan. Manajemen sudah approve untuk penerimaan Bapak. Apakah Bapak bisa datang ke kantor kami siang ini, after lunch?” Mbak Maya berkata.
Aku langsung gemetar.
Ini beneran?
Kok bisa? Gue ini masih bocah loh itungannya !!
“Mbak Maya, mohon maaf, saya kan di kantor juga punya tanggung jawab. Saya coba izin dengan atasan saya ya. Ada nomor yang bisa dihubungi kembali?” Aku bertanya.
Mbak Maya memberikan sebuah nomor telepon, dan aku langsung mencatatnya di sebuah kertas. Untung aku selalu bawa pulpen di kantong kemejaku.
“Baik Mbak. Saya minta waktu 30 menit, akan saya hubungi kembali.” Aku berkata.
Aku langsung gedubrakan untuk mencari bos besar.
Aduh, dia belum dateng lagi.
Aku menunggu dulu di ruanganku, sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tak lama, Ci Dewi, sekretaris sekaligus tangan kanan bos besar sudah mengirimiku pesan, memberitahu bahwa bos besar sudah datang.
Aku segera bersiap-siap
“Silahkan Ru. Lu gue izinin.” Bos tanpa basa basi, langsung mengizinkanku untuk pergi, ketika aku memberitahukan kabar bahwa aku di panggil kembali ke PT A.
“Hebat lu. Ando aja mental. Lu bisa tembus!! Ga salah gue rekomendasiin lu.” Bos kembali tersenyum.
“Sekarang, lu delegasiin tugas lu ke anak buah lu, terus siang berangkat. Kalo ternyata prosesnya cepet, sempetin balik ke sini ya. Gue mau discuss masalah pengganti lu. Lu yang nunjuk sendiri siapa pengganti lu.” Lanjutnya.
Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Badanku masih gemetar. Seminggu ini, benar-benar bertubi-tubi keberuntungan yang datang kepadaku.
Benarkah ini rezekinya Afei?
Tapi, aku sempat merasakan gelisah secara tiba-tiba beberapa waktu lalu. Sekilas saja, namun aku mencoba untuk tidak berfikiran aneh-aneh.
Hanya godaan untuk orang yang akan menikah.
Sudahlah, focus saja satu persatu.
Aku kembali berhadapan dengan Pak Deni, Mbak Maya, satu orang wanita paruh baya namun cantik dan keibuan, bernama Ibu Rina serta Mr.Kawakami. Seperti biasa, Mr.Kawakami memasang gestur cengengesan ketika kami bertemu.
Aku baru tahu, ternyata orang jepang bisa cengengesan juga.
“Hei, we meet again!” Mr.Kawakami menyapaku.
“Good afternoon Sir. How are you?” Aku menyapanya.
“Ahhh, too formal. Come on, have a sit.” Mr.Kawakami menyuruhku duduk di kursi yang berada di depannya.
“Rina san, please start the meeting. You can explain to Daru san about our plan. In Bahasa will be just fine.” Mr Kawakami berkata.
“Oke Daru. Jadi gini.” Ibu Rina memulai. “Sebenarnya, kami nyari cepat manajer berpengalaman. Sayangnya, kamu ga qualified untuk itu. Atau saya lebih suka nyebutnya, belum qualified.” Lanjutnya.
Lah terus ngapain gue dipanggil kemari?
Kata Mbak Maya, gue confirm diterima?
Otakku berkecamuk. Lagi-lagi, kebiasaan jelekku untuk overthinking muncul. Padahal, pembicaraan belum selesai.
“Tapi, Mr.Kawakami sangat tertarik sama kamu. Kamu menarik, dan presentasi kamu kemarin itu menjadi bahan perbincangan kami. Sangat sayang kalau kami melepas kamu gitu aja.”
“Kami punya solusi lain. Kamu kami tawarkan untuk posisi Chief Staff atau bahasa umumnya, team leader, di sebuah sub divisi. Kalau kamu achieve dalam 3 tahun, kamu bisa kami promosikan sebagai assistant manager. Bisa lebih cepat kalau kamu extraordinary. Bagaimana?” Bu Rina menjelaskan.
“Kamu sudah tau kan perusahaan ini bergerak di bidang apa? Seharusnya kamu bisa meraba, seperti apa job desc kamu nanti.” lanjutnya.
Nahh kan !! Kurang-kurangin overthinking, Daru !!
“Sebelumnya, saya mau berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Saya tidak keberatan dengan posisi itu. Saya menerima Bu.” Aku berkata.
Aku sebenarnya senang luar biasa, tapi aku tahan sebisa mungkin euphoria itu.
“Yes!!” Suara Mr.Kawakami mengagetkanku.
Wah, kayaknya jepang edan nih. Demen banget cengengesan dan ngagetin orang.
“So, it is clear for us. Now is our HRD turn. We’ll offer something you can’t reject. Deni san, make it quick.” Mr. Kawakami kemudian menjabat tanganku erat.
“See you soon.” Dia kembali cengengesan.
Pernah lihat tokoh Morimoto di film Tokyo drift? Tuh persis seperti itu cengengesannya Mr. Kawakami. Gesturnya ya, bukan wajahnya. Wajahnya sih tidak mirip sama sekali.
Ibu Rina dan Mr.Kawakami meninggalkan ruangan. Sekarang tinggal Pak Deni dan Mbak Maya. Sepertinya, kami akan bernegosiasi soal gaji, dan fasilitas.
Mbak Mala mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkan kepada Pak Deni. Pak Deni menjelaskan secara rinci, apa yang akan aku dapatkan disini. Aku mendengarkan dengan seksama.
Setelah beberapa lama, Pak Deni selesai menjelaskan. Di situ, aku terdiam tak mampu berkata-kata.
Gila !! pantas saja turnover pegawai di perusahaan ini rendah.
Standar Gaji dan fasilitasnya luar biasa!!
Aku hampir saja meledak kegirangan.
Aku mendapatkan gaji lebih besar dari perusahaan lamaku. Padahal aku hanya chief staff saja, bukan division head. Belum lagi, fasilitas kesehatan berupa asuransi swasta, dengan budget per tahunnya yang buat geleng kepala. Masih di tambah dengan fasilitas loan untuk karyawan. Dari mulai laptop, sampai rumah dan mobil.
Masih ada lagi, aku juga mendapatkan bayaran lembur jika memang ada kerjaan yang harus selesai, dengan hitungan perjam di hari kerja, dan menjadi dua kali lipat di weekend.
Ini sih Gila !!
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Jauh sekali kelasnya dengan perusahaan lamaku, dimana aku hanya mendapatkan ucapan terima kasih, jika pulang larut malam.
Tanpa pikir panjang, aku segera menyetujui hal itu. Setelah itu, kami sedikit berdebat masalah tanggal masuk ku ke perusahaan ini. Aku meminta one month notice, tapi dari mereka hanya mau 2 minggu. Setelah sedikit bernegosiasi, kami sepakat di 3 minggu.
Jadi 3 minggu lagi, aku baru masuk ke perusahaan ini. Aku tidak bisa meninggalkan begitu saja kantor lamaku. Biar bagaimanapun, perusahaan itu sangat berjasa di hidupku.
Setelah semua selesai, kami semua bersalaman. Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali atas kesempatan yang sudah diberikan.
Di perjalanan pulang, aku teringat pesan ayah, di hari pertama aku masuk kerja di kantor lamaku.
Quote:
“Alhamdulillaaahhh sayanggg.” Afei berteriak panjang di telepon sore itu, saat aku memberitahunya kejadian hari ini.
“Sebenarnya kamu ga perlu seeffort itu sayang. penghasilan dari usaha kamu udah cukup banget buat kita nanti.” Afei berkata.
“Aku kangen sayang. Pengen ketemu.” Lanjutnya.
Aku tersenyum membayangkan wajah manjanya nya saat mengatakan hal itu.
Kalau bukan karena wanita ini, aku mungkin sekarang sudah menjadi tidak jelas. Aku mungkin sedang terpuruk menerima nasib burukku karena kuliah tidak sesuai dengan jurusan yang aku inginkan. Aku mungkin sedang nongkrong dan mabuk-mabukan untuk menghilangkan stress.
Karena wanita ini, aku punya tujuan. Karena wanita ini, aku berani merubah semua rencana hidupku. Karena wanita ini, tubuhku seperti tidak merasa letih untuk bekerja.
Fei, kamu gak akan pernah tahu, betapa berartinya kamu di hidup aku.
“Iya, aku ke rumah kamu deh. Sekalian bantu-bantu acara besok. Masih sesuai rencana kan?” Aku bertanya.
“Masih sayang. tapi kayaknya minus koh afung. Dia kerja kayaknya.” Afei menjawab.
“Sayang, aku degdegan. Hihihih..” Afei tertawa geli.
“Hahahahah, kok deg-degan? Kan yang menegangkan udah lewat. Besok cuma acara tunangan sayang. hahahaha.” Ujarku terbahak-bahak.
“Hihihi, Maksud aku, deg-degan seneng gitu. Bukan deg-degan tegang. Aku bahagiaaaaaaa banget.”
Aku sampai di rumah Afei tepat ketika adzan Isya berkumandang. Setelah parkir motor, aku izin untuk sholat sebentar ke mushola.
Rumah Afei dekat dengan mushola legendaris ini. Mushola yang menjadi saksi lahirnya cinta kami yang membara.
Selesai makan malam, aku berinisiatif membantu Afei dan Mami. Sebenarnya, acara pertunangan kami sederhana saja. Hanya pertemuan dua keluarga untuk sekedar meresmikan hubungan kami. Sekalian menentukan tanggal pernikahan.
Keluarga kami menyerahkan semua urusan pernikahan kepada kami, yang langsung disambut Afei dengan senang hati. Afei memang tidak bekerja. Melamar pekerjaan pun tidak.
Aku tidak khawatir. Dia mau kerja atau jadi ibu rumah tangga, tidak ada masalah untukku. Yang penting dia senang.
Afei bilang, dia yang akan merencanakan pernikahan kami sebaik mungkin.
Setelah membereskan dan menata rumah, aku dan Afei duduk berdua di teras sambil mengobrol dan minum teh. Teh yang dibuatkan mami ini enak sekali. Aku yang penasaran sempat mengintip ke dapur untuk melihatnya. Ada tulisan china di bungkusnya.
Ah nanti saja deh nanyanya.
Seperti biasa, kami sudah terlibat obrolan seru. Ini termasuk satu hal yang selalu membuatku bingung. Afei sangat cerewet ketika bersamaku. Dia bisa membahas apa saja. Tapi jika dengan orang lain, dia menjadi pendiam. Karakter kami untuk hal ini sama persis. Aku juga seperti itu.
“Sayang, kamu gak gerah dari tadi pake jaket terus?” Afei bertanya.
“Ah nggak kok. Ini jaket gak terlalu tebel. Males aku lepasnya. Takut ketinggalan pas pulang.” Aku beralasan.
Sebisa mungkin aku menyembunyikan luka di lenganku. Memang sudah agak kering, karena bantuan obat china dari Ko Along. Tapi jahitannya masih terlihat jelas.
Kami menghentikan obrolan kami ketika melihat sebuah motor masuk ke halaman rumah, dan parkir tepat di depan kami. Si pengendara membuka helmnya, dan membuatku langsung waspada.
Ko Afung.
“Ngapain pulang?? Mau ngerusuhin acara gue?”
Aku terkejut luar biasa saat mendengar bentakan Afei.
Aku segera melihat ke arahnya.
Aku menemukan sebuah ekspresi yang tidak pernah aku temukan di wajah Afei sebelumnya.
Wajahnya nampak sangar dan di penuhi aura kemarahan yang dahsyat !!
yuaufchauza dan 24 lainnya memberi reputasi
25
Tutup