- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.9K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#119
Part 115 Archangel
Kampus tidak pernah sepi. Bahkan sampai sore sekali pun. Perpustakaan juga buka sampai pukul 17.00. Nayla yang sedang memilih buku selalu ditemani Arya. Dia duduk di sebuah kursi dan hanya menatap Nayla yang masih memilih buku di rak besar di hadapan mereka..
"Banyak amat!" seru Arya saat Nayla meletakkan beberapa buku di meja. "Mau kamu baca semua?"
"Iya. hehe."
Arya mengambil salah satu buku yang dipilih Nayla. Sampul buku yang menarik, membuat Arya penasaran. "Demon?" tanya Arya sambil membaca blurb di belakang buku itu. "Kamu suka cerita fiksi ginian?"
"Bagus, Arya. Ini seri ketiga yang aku baca. Seru."
"Seru apanya?" tanyanya lalu melempar buku itu kembali ke meja.
"Jadi di sini menceritakan tentang para iblis yang mau membuka segel 66 legion iblis. Ternyata banyak iblis yang menjelma atau bahkan merasuki manusia."
"Ah, fiktif! Percaya aja kamu!"
"Ih kamu nggak percaya! Bentar aku baca sedikit. Sambil tunggu hujan reda," pinta Nayla.
Arya menyandarkan punggungnya di kursi, ia menatap jendela sampingnya yang memang sedang diguyur hujan lebat. Keputusan yang tepat, karena dia menerima ajakan Nayla ke perpustakaan. Jika tidak, pasti dirinya akan basah kuyup tadi.
Arya mulai bosan, ia menggulung kemeja lengan panjangnya hingga siku. Nayla yang menyadari kebosanan Pemuda di depannya lantas tersenyum tipis. Tapi tiba-tiba ia melotot, saat melihat sebuah tato yang ada di pergelangan tangan Arya. Selama ini Nayla tidak melihatnya karena tertutup jam tangan yang biasa Arya pakai, namun sekarang Arya memang sedang tidak memakai jam tangan, dan ia memakai kemeja lengan panjang.
"Arya! Tato ini, kamu bikin di mana?" tanyanya agak histeris.
"Kenapa?"
"Aku pernah lihat simbol ini. Sebentar!" seru Nayla lalu membuka beberapa buku yang ada di depannya. "Nah! Lihat, sama, kan?!"
Arya lantas mengambil buku itu dan mengamatinya lekat-lekat. "Iya, sama. Ini simbol apa?" tanya Arya.
"Kamu nggak tau?"
Arya menggeleng pelan dengan sorot mata yang sangat penasaran.
"Ini sombol penangkal iblis."
"Apa?! Penangkal iblis?"
"Iya, jadi siapa pun yang memakai simbol ini ditubuhnya, maka iblis nggak akan merasukinya. Aku juga punya, tapi dalam bentuk liontin. Ini!" Nayla menunjukkan liontin yang dimaksud.
Ia menatap gadis itu lantas tertawa. "Kamu itu terlalu ambisi sama cerita ini, Nay. makanya terus menghubung-hubungkan!"
"Ih, kamu! Sekarang aku tanya, tato ini kamu dapat dari mana?"
"Eum, ini tato aku bikin pas aku masih SMP, waktu itu ada study tour ke Bali. Di sana ada jasa tato gratis. Pas aku lihat contoh gambarnya, aku langsung setuju saja."
"Tapi ini beneran, Arya. Ini simbol penangkal iblis!"
Arya diam sejenak, ia kembali pada ingatannya beberapa tahun lalu. Ingatannya memang kuat, bahkan kejadian saat dirinya masih kecil juga masih dapat ia ingat sampai sekarang.
"Bagaimana? ada yang aneh nggak sama tukang tato itu?"
"Seingetku, pas dia lihat aku, dia cuma bilang, Archangel."
"Archangel?!"
Suasana perpustakaan terasa sunyi, kini hanya ada mereka berdua yang duduk di lantai paling atas. Sisanya hanya mahasiswa yang ingin berteduh saja di lantai bawah. Hari beranjak sore dengan begitu cepat. Namun hujan masih deras membasahi bumi dan memaksa beberapa orang harus diam di tempatnya sekarang.
"Archangel?" tanya Nayla balik. Arya hanya mengangguk menanggapinya, ia juga bingung dengan reaksi Nayla yang sedikit heboh.
"Archangel apaan sih?"
"Kamu nggak tau?" Tentu saja Arya menggeleng pelan dengan dahi yang berkerut. "Angel."
Arya melongo namun tak lama tertawa lebar. Nayla lantas mendesis sambil tengak tengok sekitarnya. Karena ini adalah perpustakaan, yang mengharuskan orang-orang diam, tidak banyak bicara apalagi tertawa sekeras itu. Tak mempan dengan desisan, Nayla beranjak dan duduk di dekat Arya, lalu menutup mulut pemuda itu rapat-rapat dengan telapak tangannya.
"Eh tapi tunggu bentar deh, Nay," tukas Arya sambil memegang tangan Nayla yang tadi ada di depan mulutnya. "Apa?" sahut Nayla sebal.
"Dia bilang seperti itu, mungkin karena lihat tato di punggungku kali, yah?"
"Tato? Tato apa memangnya?"
"Ini." Arya menaikkan kemejanya ke atas, memperlihatkan sebuah tato yang menutupi hampir semua punggungnya. Tato itu bergambar seorang pria dengan posisi jongkok, kepalanya tertunduk dengan bertumpu pada tangan yang berada di lututnya. Pria itu memakai sayap besar sekali yang berasal dari punggungnya.
"Waw, keren."
Arya kembali menutup tubuhnya, dan kini dengan senyum kemenangan merasa statmentnya adalah yang paling benar. "Nah, kan! Cuma asal ngomong aja dia itu. Karena lihat tato ini!"
"Memangnya tato itu siapa yang buat, dan sejak kapan, Ya?"
"Pas aku sudah akhil balig. Bapak yang bikin ini, bagus, yah?"
Nayla diam sambil berpikir. Rasanya aneh mengetahui tato itu berasal dari bapaknya Arya. Dan dibuat saat Arya masih belum cukup umur. Tato bagi sebagian orang di daerahnya adalah hal yang tabu, dan tidak pernah dianjurkan. Dan yang terjadi sekarang, malah tato itu dibuat oleh ayah Arya sendiri.
"Eh, sudah reda tuh. Pulang, yuk," ajak Arya sambil melihat jendela di dekat mereka. Hujan memang sudah reda, bahkan mereka sendiri tidak menyadarinya. Terlalu asyik berdebat dan membahas hal yang saling bertentangan di antara mereka. Arya yang sangat tidak percaya hal yang sedang Nayla pelajari, membuat Nayla
hal yang sedang Nayla pelajari, membuat Nayla sedikit kesal. Apalagi reaksi Arya yang sangat mengejek dirinya. Tapi Nayla masih penasaran dengan tato yang ada di pergelangan tangan Arya. Karena ia tau kalau simbol itu memang digunakan untuk penangkal iblis. Dan Nayla sendiri sudah pernah melihat iblis sebelumnya.
Mereka berdiri di ambang pintu perpustakaan dengan membawa beberapa tumpukan buku yang sudah dipinjam Nayla dari perpustakaan. Dan akhirnya hari ini dia menjadi salah satu anggota peminjam di perpustakaan kampus.
"Arya, itu Retno sama siapa?" tanya Nayla sambil menunjuk seorang gadis yang di kelilingi beberapa pemuda berjalan ke gedung kampus yang sudah usang. Tempat itu memang sedang direnovasi dan tidak digunakan untuk mengajar selama beberapa tahun ajaran ini.
"Ngapain dia itu!" cetus Arya lalu berjalan menyusul Retno. Nayla yang bingung, lalu mengikuti Arya. Ia juga penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Dari kejauhan Retno terlihat pasrah saja, tapi raut wajahnya aneh. Dia terlihat seperti tubuh tanpa jiwa.
Mereka berdua sampai di gedung tua itu. Banyak bahan material dan tangga kayu yang diletakkan asal. Arya berjalan melewati beberapa palang kayu yang di masih dipasang asal. "Hati-hati," kata Arya sambil menoleh ke belakang. Nayla diam, dan hanya mengangguk paham. Langkah mereka dibuat pelan, karena takut diketahui orang-orang tadi. Firasat mengatakan kalau terjadi sesuatu dengan Retno.
Mereka berjalan naik, melewati tangga. Suara langkah kaki orang di atas mereka jelas terdengar karena jumlah mereka yang cukup banyak. Arya berhenti berjalan, "Kamu jangan ikut deh mendingan."
"Kenapa?"
"Bahaya!"
"Ih, nggak apa-apa. Aku ikut. Buruan, nanti Retno keburu diapa-apain sama mereka, Arya!" Nayla mendorong tubuh Arya agar kembali berjalan. Terpaksa Arya meneruskan niatnya, dan membawa Nayla serta. Gadis di belakangnya termasuk orang yang keras kepala.
Akhirnya mereka sampai di lantai atas. Bersembunyi saat salah satu dari orang tadi menoleh ke belakang, memeriksa apakah ada yang mengikuti mereka atau tidak. Arya lantas kembali berjalan dengan mengendap-endap saat keadaan kembali aman. Mereka masuk ke sebuah ruangan kosong yang berada di ujung koridor. Lagi lagi Arya menoleh sebelum berjalan ke depan," Jangan jauh-jauh dari aku!"
"Iya, bawel ih!"
Perlahan langkah mereka mulai dekat ke ruangan itu. Samar ada suara orang sedang bergumam dengan kalimat aneh. Saat mereka sudah sampai ke depan pintu itu, Arya mengintip ke salah satu lubang yang ada di pintu. Nayla pun sama, mengikuti Arya mencari lubang lainnya. Kini mereka sudah 26 bisa melihat keadaan di dalam sana. Retno sedang terbaring di sebuah meja besar dengan bentuk salib dengan bagian atas yang berbentuk oval. Di sekelilingnya ada beberapa orang yang memakai jubah dan tudung berwarna hitam. Salah satu dari mereka seolah sedang memimpin ritual, dan yang lain menyahut seperti meng-amini perkataan pemimpinnya.
"Apa-apaan itu!"
"Simbol ANHK."
"Simbol apa?" tanya Arya sambil menoleh ke Nayla yang jongkok di sampingnya.
"Itu yang di bawah Retno simbol ANKH. ANKH itu salah satu simbol kekuatan terdahsyat dari dunia mistik hitam. Katanya itu simbol untuk kehidupan abadi. Dulu ANKH dipergunakan dalam upacara pemujaan RA, dewa matahari Mesir kuno yang diyakini sebagai wujud lain dari setan. Ra juga dianggap sebagai pencipta alam semesta dan disembah oleh orang-orang Mesir kuno. Lingkaran di atas kepala adalah gambaran matahari. Dalam ajaran Mesir kuno, ANHK bermakna sebagai keabadian
hidup.
Syarat utama untuk menggunakan simbol ini, orang-orang Mesir kuno diwajibkan mempersembahkan kesucian para gadis perawan dalam sebuah pesta ritual yang menyeramkan," jelas Nayla lalu ditanggapi dengan tatapan tajam Arya.
Arya lantas berdiri, mundur satu langkah dan menyuruh Nayla menyingkir. Ia langsung menendang kuat-kuat pintu itu hingga jebol. Nayla menatap ngeri ke Arya yang sudah terlihat sangat marah. Arya langsung masuk ke dalam, ia di halangi beberapa orang berjubah hitam itu. Satu persatu pukulan dilayangkan dan membuat mereka terkapar di lantai. Pukulan Arya terlihat sangat kuat, bahkan sekali ia memukul lawan, mereka seolah terpental cukup jauh.
Nayla ikut masuk ke dalam. Ia meletakkan buku-buku yang dibawa dari perpustakaan tadi. Lalu membantu Retno membuka ikatannya. Retno yang masih terlihat seperti orang linglung terus berusaha disadarkan oleh Nayla. la memukul-mukul wajah Retno agar wanita itu kembali pada kesadarannya. "Ret! Retno! Sadar, Ret!" jerit Nayla berusaha sekeras mungkin. Ia lantas meletakkan telapak tangannya di kening Retno," A PRIORI INCANTATEM!"
Retno tersadar. Ia lantas seperti orang panik dan ketakutan. "Lepaskan aku!" raungnya sambil menutup wajahnya sendiri.
"Ret, ini aku, Nayla!" cetusnya sambil memegang kedua bahu gadis itu. Retno menatap Nayla dan akhirnya menangis di pelukannya. "Sh ... sh ... Sudah. Kamu udah aman sekarang. Kita pergi dari sini, ya!" ajak Nayla.
Mereka saling bergandengan tangan dan berjalan ke arah pintu. Arya masih bertarung dengan orang - orang berjubah hitam. Ia masih terlihat baik-baik saja dan mampu menguasai keadaan. Walau di sudut bibirnya terlihat bercak merah karena darahnya sendiri. Tetapi Arya masih bisa berdiri dan memukul lawannya dengan tanpa ampun. "Kalian pergi dulu!" suruh Arya. Nayla mengangguk dan memapah Retno keluar dari ruangan ini. Mereka bergegas pergi sebelum ada orang lain yang menghalangi. Nayla yakin kalau Arya bisa menangani masalahnya di dalam. Tapi ia sempatkan menoleh ke dalam sebelum benar-benar pergi, Arya yang melihat Nayla, lantas mengangguk yakin. Seolah mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
Dua gadis itu segera berjalan keluar. Menapaki lantai kotor di bawah dengan langkah cepat. Nayla bahkan melupakan buku-buku pinjaman nya dari perpustakaan tadi. Sempat khawatir, namun keselamatan mereka jauh lebih penting. Sampai di lantai bawah, mereka berdua menunggu Arya di sebuah bangku yang ada di depan ruang perpustakaan. Suasana di sekitar mereka sudah sunyi. Hanya terdengar bunyi kicauan burung gereja yang kini terlihat ramai memenuhi halaman tengah kampus. Kampus mereka memiliki bentuk persegi, dengan bangunan yang mengelilingi halaman kampus. Sehingga keadaan di tiap ruangan akan terlihat di sisi lain gedung. Nayla beranjak sambil terus menatap ke gedung kosong itu. Arya belum juga keluar, khawatir akan keselamatannya, ia lantas berniat ingin menyusul Arya. "Kamu sini sebentar, ya, Ret."
"Kamu mau ke mana, Nay?"
"Aku mau nyusulin Arya, aku takut dia kenapa-napa. Sudah lama banget ini kita nunggu dia di sini!" terang Nayla. "Tapi, Nay!" Kalimat Retno terpotong, karena gadis dengan rambut panjang yang selalu digerai itu, langsung berlari kecil melewati beberapa pohon bougenville yang ditanam rapi sebagai hiasan taman. Tanaman hias yang ada di beberapa sudut taman, dilansir akan membuat lelahnya otak para mahasiswa menjadi sedikit berkurang. Nyatanya hal itu malah jadi ajang bersantai dan pacaran oleh beberapa oknum mahasiswa. Nayla berhenti di tengah taman, saat melihat bayangan besar lewat di bawahnya. Sebuah bayangan dengan bentuk mirip sayap tetapi dengan ukuran yang sangat besar. Ia lantas mendongak ke atas, "apa itu?" tanyanya dalam hati.
Sesuatu yang ia pikir adalah burung rajawali sedang terbang di langit, berputar-putar di sekitar kampus, lalu akhirnya menghilang, terbang lebih tinggi lagi ke atas. Menembus tumpukan awan putih yang terlihat bagai hamparan permadani langit.
"Nay?" Pemilik suara dengan nada barito yang sangat ia kenal, kini sudah ada di hadapannya. Wajahnya lebam di beberapa tempat. Bajunya kotor dan sedikit robek di bagian punggungnya.
"Arya?!" cetusnya lalu memegang wajah pemuda itu dengan gurat kecemasan. "Kamu nggak apa-apa?"
"Masih hidup. Yuk, " ajak Arya sambil menggandeng tangan gadis itu posesif. Mereka mendekat ke Retno yang masih duduk dengan tubuh lemah. Tenaganya seolah sudah habis terserap oleh kejadian tadi. Ia bahkan tidak ingat bagaimana peristiwa tadi berawal. Hingga dirinya yang hampir saja menjadi korban persembahan.
"Mereka siapa?" tanya Nayla.
"Beberapa mahasiswa, tapi beda fakultas. Dan berbeda tingkat juga. Mungkin mereka punya kelompok tertentu. Dan, apa tadi kamu bilang? Simbol itu?"
"ANKH?"
"Yah, itu, bagaimana kamu tau tentang semua itu?" desak Arya dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya.
"Dari buku. Astaga, buku-buku ku!" pekik Nayla, memukul keningnya sendiri.
"Besok aja kita ambil. Pasti nggak akan hilang kok. Sekarang kita pulang dulu, sebentar lagi malam. Kasihan Retno itu," tunjuk Arya. Gadis yang ditunjuk hanya diam, melamun. Sepertinya pengaruh sihir yang ia dapat masih belum hilang sepenuhnya.
"Kalau begitu biar aku anter Retno naik mobilku."
"Aku ikut. Biar aku yang nyetir."
"Terus motor kamu?"
"Aku titipin ke Bang Ucok."
____________________
Di sisi lain, setelah ketiga orang itu pergi dari kampus, seseorang turun dari langit. Ia yang sedari tadi terbang mondar mandir di atas kampus ini. Pencariannya berhasil. Kini ia telah menemukan dua orang yang sejak beberapa bulan belakangan menjadi target pencarian langit dan bumi. Semilir angin malam mulai datang, menerpa anak rambut Wira yang sudah tergerai panjang. Di langit ia tidak pernah memperhatikan penampilannya. Namun setelah ia kembali turun ke bumi, maka ia harus berbaur. Dan tentu mengubah semua penampilannya agar layak dan bisa diterima oleh manusia.
"Kalian masih sama," kata Wira yang sorot matanya sejak tadi terus menangkap pergerakan dua manusia di ujung koridor sana. "Aku harus mendekati mereka, menjadi teman mereka sampai ingatan itu pulih."
Tubuh Wira memancarkan cahaya terang dan seketika membuat penampilannya berubah layaknya manusia normal. Wajahnya yang sudah tampan sejak dulu, akan sangat mudah menarik perhatian lawan jenis dan misinya saat ini adalah mendekati Arya dan Nayla sebelum iblis atau pun fallen angel lain menemukan mereka.
"Banyak amat!" seru Arya saat Nayla meletakkan beberapa buku di meja. "Mau kamu baca semua?"
"Iya. hehe."
Arya mengambil salah satu buku yang dipilih Nayla. Sampul buku yang menarik, membuat Arya penasaran. "Demon?" tanya Arya sambil membaca blurb di belakang buku itu. "Kamu suka cerita fiksi ginian?"
"Bagus, Arya. Ini seri ketiga yang aku baca. Seru."
"Seru apanya?" tanyanya lalu melempar buku itu kembali ke meja.
"Jadi di sini menceritakan tentang para iblis yang mau membuka segel 66 legion iblis. Ternyata banyak iblis yang menjelma atau bahkan merasuki manusia."
"Ah, fiktif! Percaya aja kamu!"
"Ih kamu nggak percaya! Bentar aku baca sedikit. Sambil tunggu hujan reda," pinta Nayla.
Arya menyandarkan punggungnya di kursi, ia menatap jendela sampingnya yang memang sedang diguyur hujan lebat. Keputusan yang tepat, karena dia menerima ajakan Nayla ke perpustakaan. Jika tidak, pasti dirinya akan basah kuyup tadi.
Arya mulai bosan, ia menggulung kemeja lengan panjangnya hingga siku. Nayla yang menyadari kebosanan Pemuda di depannya lantas tersenyum tipis. Tapi tiba-tiba ia melotot, saat melihat sebuah tato yang ada di pergelangan tangan Arya. Selama ini Nayla tidak melihatnya karena tertutup jam tangan yang biasa Arya pakai, namun sekarang Arya memang sedang tidak memakai jam tangan, dan ia memakai kemeja lengan panjang.
"Arya! Tato ini, kamu bikin di mana?" tanyanya agak histeris.
"Kenapa?"
"Aku pernah lihat simbol ini. Sebentar!" seru Nayla lalu membuka beberapa buku yang ada di depannya. "Nah! Lihat, sama, kan?!"
Arya lantas mengambil buku itu dan mengamatinya lekat-lekat. "Iya, sama. Ini simbol apa?" tanya Arya.
"Kamu nggak tau?"
Arya menggeleng pelan dengan sorot mata yang sangat penasaran.
"Ini sombol penangkal iblis."
"Apa?! Penangkal iblis?"
"Iya, jadi siapa pun yang memakai simbol ini ditubuhnya, maka iblis nggak akan merasukinya. Aku juga punya, tapi dalam bentuk liontin. Ini!" Nayla menunjukkan liontin yang dimaksud.
Ia menatap gadis itu lantas tertawa. "Kamu itu terlalu ambisi sama cerita ini, Nay. makanya terus menghubung-hubungkan!"
"Ih, kamu! Sekarang aku tanya, tato ini kamu dapat dari mana?"
"Eum, ini tato aku bikin pas aku masih SMP, waktu itu ada study tour ke Bali. Di sana ada jasa tato gratis. Pas aku lihat contoh gambarnya, aku langsung setuju saja."
"Tapi ini beneran, Arya. Ini simbol penangkal iblis!"
Arya diam sejenak, ia kembali pada ingatannya beberapa tahun lalu. Ingatannya memang kuat, bahkan kejadian saat dirinya masih kecil juga masih dapat ia ingat sampai sekarang.
"Bagaimana? ada yang aneh nggak sama tukang tato itu?"
"Seingetku, pas dia lihat aku, dia cuma bilang, Archangel."
"Archangel?!"
Suasana perpustakaan terasa sunyi, kini hanya ada mereka berdua yang duduk di lantai paling atas. Sisanya hanya mahasiswa yang ingin berteduh saja di lantai bawah. Hari beranjak sore dengan begitu cepat. Namun hujan masih deras membasahi bumi dan memaksa beberapa orang harus diam di tempatnya sekarang.
"Archangel?" tanya Nayla balik. Arya hanya mengangguk menanggapinya, ia juga bingung dengan reaksi Nayla yang sedikit heboh.
"Archangel apaan sih?"
"Kamu nggak tau?" Tentu saja Arya menggeleng pelan dengan dahi yang berkerut. "Angel."
Arya melongo namun tak lama tertawa lebar. Nayla lantas mendesis sambil tengak tengok sekitarnya. Karena ini adalah perpustakaan, yang mengharuskan orang-orang diam, tidak banyak bicara apalagi tertawa sekeras itu. Tak mempan dengan desisan, Nayla beranjak dan duduk di dekat Arya, lalu menutup mulut pemuda itu rapat-rapat dengan telapak tangannya.
"Eh tapi tunggu bentar deh, Nay," tukas Arya sambil memegang tangan Nayla yang tadi ada di depan mulutnya. "Apa?" sahut Nayla sebal.
"Dia bilang seperti itu, mungkin karena lihat tato di punggungku kali, yah?"
"Tato? Tato apa memangnya?"
"Ini." Arya menaikkan kemejanya ke atas, memperlihatkan sebuah tato yang menutupi hampir semua punggungnya. Tato itu bergambar seorang pria dengan posisi jongkok, kepalanya tertunduk dengan bertumpu pada tangan yang berada di lututnya. Pria itu memakai sayap besar sekali yang berasal dari punggungnya.
"Waw, keren."
Arya kembali menutup tubuhnya, dan kini dengan senyum kemenangan merasa statmentnya adalah yang paling benar. "Nah, kan! Cuma asal ngomong aja dia itu. Karena lihat tato ini!"
"Memangnya tato itu siapa yang buat, dan sejak kapan, Ya?"
"Pas aku sudah akhil balig. Bapak yang bikin ini, bagus, yah?"
Nayla diam sambil berpikir. Rasanya aneh mengetahui tato itu berasal dari bapaknya Arya. Dan dibuat saat Arya masih belum cukup umur. Tato bagi sebagian orang di daerahnya adalah hal yang tabu, dan tidak pernah dianjurkan. Dan yang terjadi sekarang, malah tato itu dibuat oleh ayah Arya sendiri.
"Eh, sudah reda tuh. Pulang, yuk," ajak Arya sambil melihat jendela di dekat mereka. Hujan memang sudah reda, bahkan mereka sendiri tidak menyadarinya. Terlalu asyik berdebat dan membahas hal yang saling bertentangan di antara mereka. Arya yang sangat tidak percaya hal yang sedang Nayla pelajari, membuat Nayla
hal yang sedang Nayla pelajari, membuat Nayla sedikit kesal. Apalagi reaksi Arya yang sangat mengejek dirinya. Tapi Nayla masih penasaran dengan tato yang ada di pergelangan tangan Arya. Karena ia tau kalau simbol itu memang digunakan untuk penangkal iblis. Dan Nayla sendiri sudah pernah melihat iblis sebelumnya.
Mereka berdiri di ambang pintu perpustakaan dengan membawa beberapa tumpukan buku yang sudah dipinjam Nayla dari perpustakaan. Dan akhirnya hari ini dia menjadi salah satu anggota peminjam di perpustakaan kampus.
"Arya, itu Retno sama siapa?" tanya Nayla sambil menunjuk seorang gadis yang di kelilingi beberapa pemuda berjalan ke gedung kampus yang sudah usang. Tempat itu memang sedang direnovasi dan tidak digunakan untuk mengajar selama beberapa tahun ajaran ini.
"Ngapain dia itu!" cetus Arya lalu berjalan menyusul Retno. Nayla yang bingung, lalu mengikuti Arya. Ia juga penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Dari kejauhan Retno terlihat pasrah saja, tapi raut wajahnya aneh. Dia terlihat seperti tubuh tanpa jiwa.
Mereka berdua sampai di gedung tua itu. Banyak bahan material dan tangga kayu yang diletakkan asal. Arya berjalan melewati beberapa palang kayu yang di masih dipasang asal. "Hati-hati," kata Arya sambil menoleh ke belakang. Nayla diam, dan hanya mengangguk paham. Langkah mereka dibuat pelan, karena takut diketahui orang-orang tadi. Firasat mengatakan kalau terjadi sesuatu dengan Retno.
Mereka berjalan naik, melewati tangga. Suara langkah kaki orang di atas mereka jelas terdengar karena jumlah mereka yang cukup banyak. Arya berhenti berjalan, "Kamu jangan ikut deh mendingan."
"Kenapa?"
"Bahaya!"
"Ih, nggak apa-apa. Aku ikut. Buruan, nanti Retno keburu diapa-apain sama mereka, Arya!" Nayla mendorong tubuh Arya agar kembali berjalan. Terpaksa Arya meneruskan niatnya, dan membawa Nayla serta. Gadis di belakangnya termasuk orang yang keras kepala.
Akhirnya mereka sampai di lantai atas. Bersembunyi saat salah satu dari orang tadi menoleh ke belakang, memeriksa apakah ada yang mengikuti mereka atau tidak. Arya lantas kembali berjalan dengan mengendap-endap saat keadaan kembali aman. Mereka masuk ke sebuah ruangan kosong yang berada di ujung koridor. Lagi lagi Arya menoleh sebelum berjalan ke depan," Jangan jauh-jauh dari aku!"
"Iya, bawel ih!"
Perlahan langkah mereka mulai dekat ke ruangan itu. Samar ada suara orang sedang bergumam dengan kalimat aneh. Saat mereka sudah sampai ke depan pintu itu, Arya mengintip ke salah satu lubang yang ada di pintu. Nayla pun sama, mengikuti Arya mencari lubang lainnya. Kini mereka sudah 26 bisa melihat keadaan di dalam sana. Retno sedang terbaring di sebuah meja besar dengan bentuk salib dengan bagian atas yang berbentuk oval. Di sekelilingnya ada beberapa orang yang memakai jubah dan tudung berwarna hitam. Salah satu dari mereka seolah sedang memimpin ritual, dan yang lain menyahut seperti meng-amini perkataan pemimpinnya.
"Apa-apaan itu!"
"Simbol ANHK."
"Simbol apa?" tanya Arya sambil menoleh ke Nayla yang jongkok di sampingnya.
"Itu yang di bawah Retno simbol ANKH. ANKH itu salah satu simbol kekuatan terdahsyat dari dunia mistik hitam. Katanya itu simbol untuk kehidupan abadi. Dulu ANKH dipergunakan dalam upacara pemujaan RA, dewa matahari Mesir kuno yang diyakini sebagai wujud lain dari setan. Ra juga dianggap sebagai pencipta alam semesta dan disembah oleh orang-orang Mesir kuno. Lingkaran di atas kepala adalah gambaran matahari. Dalam ajaran Mesir kuno, ANHK bermakna sebagai keabadian
hidup.
Syarat utama untuk menggunakan simbol ini, orang-orang Mesir kuno diwajibkan mempersembahkan kesucian para gadis perawan dalam sebuah pesta ritual yang menyeramkan," jelas Nayla lalu ditanggapi dengan tatapan tajam Arya.
Arya lantas berdiri, mundur satu langkah dan menyuruh Nayla menyingkir. Ia langsung menendang kuat-kuat pintu itu hingga jebol. Nayla menatap ngeri ke Arya yang sudah terlihat sangat marah. Arya langsung masuk ke dalam, ia di halangi beberapa orang berjubah hitam itu. Satu persatu pukulan dilayangkan dan membuat mereka terkapar di lantai. Pukulan Arya terlihat sangat kuat, bahkan sekali ia memukul lawan, mereka seolah terpental cukup jauh.
Nayla ikut masuk ke dalam. Ia meletakkan buku-buku yang dibawa dari perpustakaan tadi. Lalu membantu Retno membuka ikatannya. Retno yang masih terlihat seperti orang linglung terus berusaha disadarkan oleh Nayla. la memukul-mukul wajah Retno agar wanita itu kembali pada kesadarannya. "Ret! Retno! Sadar, Ret!" jerit Nayla berusaha sekeras mungkin. Ia lantas meletakkan telapak tangannya di kening Retno," A PRIORI INCANTATEM!"
Retno tersadar. Ia lantas seperti orang panik dan ketakutan. "Lepaskan aku!" raungnya sambil menutup wajahnya sendiri.
"Ret, ini aku, Nayla!" cetusnya sambil memegang kedua bahu gadis itu. Retno menatap Nayla dan akhirnya menangis di pelukannya. "Sh ... sh ... Sudah. Kamu udah aman sekarang. Kita pergi dari sini, ya!" ajak Nayla.
Mereka saling bergandengan tangan dan berjalan ke arah pintu. Arya masih bertarung dengan orang - orang berjubah hitam. Ia masih terlihat baik-baik saja dan mampu menguasai keadaan. Walau di sudut bibirnya terlihat bercak merah karena darahnya sendiri. Tetapi Arya masih bisa berdiri dan memukul lawannya dengan tanpa ampun. "Kalian pergi dulu!" suruh Arya. Nayla mengangguk dan memapah Retno keluar dari ruangan ini. Mereka bergegas pergi sebelum ada orang lain yang menghalangi. Nayla yakin kalau Arya bisa menangani masalahnya di dalam. Tapi ia sempatkan menoleh ke dalam sebelum benar-benar pergi, Arya yang melihat Nayla, lantas mengangguk yakin. Seolah mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
Dua gadis itu segera berjalan keluar. Menapaki lantai kotor di bawah dengan langkah cepat. Nayla bahkan melupakan buku-buku pinjaman nya dari perpustakaan tadi. Sempat khawatir, namun keselamatan mereka jauh lebih penting. Sampai di lantai bawah, mereka berdua menunggu Arya di sebuah bangku yang ada di depan ruang perpustakaan. Suasana di sekitar mereka sudah sunyi. Hanya terdengar bunyi kicauan burung gereja yang kini terlihat ramai memenuhi halaman tengah kampus. Kampus mereka memiliki bentuk persegi, dengan bangunan yang mengelilingi halaman kampus. Sehingga keadaan di tiap ruangan akan terlihat di sisi lain gedung. Nayla beranjak sambil terus menatap ke gedung kosong itu. Arya belum juga keluar, khawatir akan keselamatannya, ia lantas berniat ingin menyusul Arya. "Kamu sini sebentar, ya, Ret."
"Kamu mau ke mana, Nay?"
"Aku mau nyusulin Arya, aku takut dia kenapa-napa. Sudah lama banget ini kita nunggu dia di sini!" terang Nayla. "Tapi, Nay!" Kalimat Retno terpotong, karena gadis dengan rambut panjang yang selalu digerai itu, langsung berlari kecil melewati beberapa pohon bougenville yang ditanam rapi sebagai hiasan taman. Tanaman hias yang ada di beberapa sudut taman, dilansir akan membuat lelahnya otak para mahasiswa menjadi sedikit berkurang. Nyatanya hal itu malah jadi ajang bersantai dan pacaran oleh beberapa oknum mahasiswa. Nayla berhenti di tengah taman, saat melihat bayangan besar lewat di bawahnya. Sebuah bayangan dengan bentuk mirip sayap tetapi dengan ukuran yang sangat besar. Ia lantas mendongak ke atas, "apa itu?" tanyanya dalam hati.
Sesuatu yang ia pikir adalah burung rajawali sedang terbang di langit, berputar-putar di sekitar kampus, lalu akhirnya menghilang, terbang lebih tinggi lagi ke atas. Menembus tumpukan awan putih yang terlihat bagai hamparan permadani langit.
"Nay?" Pemilik suara dengan nada barito yang sangat ia kenal, kini sudah ada di hadapannya. Wajahnya lebam di beberapa tempat. Bajunya kotor dan sedikit robek di bagian punggungnya.
"Arya?!" cetusnya lalu memegang wajah pemuda itu dengan gurat kecemasan. "Kamu nggak apa-apa?"
"Masih hidup. Yuk, " ajak Arya sambil menggandeng tangan gadis itu posesif. Mereka mendekat ke Retno yang masih duduk dengan tubuh lemah. Tenaganya seolah sudah habis terserap oleh kejadian tadi. Ia bahkan tidak ingat bagaimana peristiwa tadi berawal. Hingga dirinya yang hampir saja menjadi korban persembahan.
"Mereka siapa?" tanya Nayla.
"Beberapa mahasiswa, tapi beda fakultas. Dan berbeda tingkat juga. Mungkin mereka punya kelompok tertentu. Dan, apa tadi kamu bilang? Simbol itu?"
"ANKH?"
"Yah, itu, bagaimana kamu tau tentang semua itu?" desak Arya dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya.
"Dari buku. Astaga, buku-buku ku!" pekik Nayla, memukul keningnya sendiri.
"Besok aja kita ambil. Pasti nggak akan hilang kok. Sekarang kita pulang dulu, sebentar lagi malam. Kasihan Retno itu," tunjuk Arya. Gadis yang ditunjuk hanya diam, melamun. Sepertinya pengaruh sihir yang ia dapat masih belum hilang sepenuhnya.
"Kalau begitu biar aku anter Retno naik mobilku."
"Aku ikut. Biar aku yang nyetir."
"Terus motor kamu?"
"Aku titipin ke Bang Ucok."
____________________
Di sisi lain, setelah ketiga orang itu pergi dari kampus, seseorang turun dari langit. Ia yang sedari tadi terbang mondar mandir di atas kampus ini. Pencariannya berhasil. Kini ia telah menemukan dua orang yang sejak beberapa bulan belakangan menjadi target pencarian langit dan bumi. Semilir angin malam mulai datang, menerpa anak rambut Wira yang sudah tergerai panjang. Di langit ia tidak pernah memperhatikan penampilannya. Namun setelah ia kembali turun ke bumi, maka ia harus berbaur. Dan tentu mengubah semua penampilannya agar layak dan bisa diterima oleh manusia.
"Kalian masih sama," kata Wira yang sorot matanya sejak tadi terus menangkap pergerakan dua manusia di ujung koridor sana. "Aku harus mendekati mereka, menjadi teman mereka sampai ingatan itu pulih."
Tubuh Wira memancarkan cahaya terang dan seketika membuat penampilannya berubah layaknya manusia normal. Wajahnya yang sudah tampan sejak dulu, akan sangat mudah menarik perhatian lawan jenis dan misinya saat ini adalah mendekati Arya dan Nayla sebelum iblis atau pun fallen angel lain menemukan mereka.
regmekujo dan 6 lainnya memberi reputasi
7