- Beranda
- Stories from the Heart
A Man and The Lady
...
TS
robotpintar
A Man and The Lady

Did you know that yesterday I lost the light?, And will you say today feels alright?
Will you cry for yesterday And feel the pain?
This is story about 'a Man and The Lady'
Spoiler for Part #1: A Man and his Little Girl:

Gua menyeruput kopi yang sudah nggak lagi panas sambil berdiri di sisi meja makan. Sementara Anggi menarik ujung kaos gua sambil meracau, ingin cepat berangkat. “Sebentar ya nak”Ucap gua pelan, kemudian membungkuk dan mulai mengikat rambut Anggi yang kini mulai panjang.
“Pake jepit kupu-kupu ya pah?” Tanya Anggi sambil melirik ke arah jepit rambut berbentuk kupu-kupu di tangan gua.
“Iya sayang…” Jawab gua, kemudian mulai memasang jepit rambut berbentuk kupu-kupu di sisi rambutnya.
Begitu selesai, Anggi lantas berlari menuju ke luar. Gua menyambar tas kecil berisi perlengkapan miliknya dan lantas menyusul.
Sepanjang jalan, Anggi nggak berhenti mengoceh. Semua yang baru pertama kali dilihatnya, pasti ia tanyakan. Kenapa burung terbang? Ondel-ondel itu robot atau bukan? Mobil sama motor mahalan mana? Kenapa kita capek? dan banyak pertanyaan-pertanyaan absurd lain yang kadang bikin gua geli sendiri.
Tangannya yang kecil menggenggam ujung jari gua, sementara kakinya sesekali menendang apapun yang menghalangi langkah; bungkus rokok, kaleng soda, hingga kerikil kecil. Kami berjalan menyusuri gang kecil berliku menuju ke Daycare tempatnya bakal menghabiskan waktu hingga siang nanti.
“Hai, Anggi, how are you?” Sapa Miss Rina, salah seorang pengasuh seraya melambai ke arah Anggi, begitu kami tiba di depan gerbang Daycare.
“Titip ya Miss..” Ucap gua seraya menyerahkan tas kecil berisi peralatan milik Anggi. Sementara, Anggi yang langsung berlari masuk ke halaman Daycare bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Sebelum pergi, gua menyempatkan berdiri sebentar, bersandar pada pagar besi pembatas daycare seraya memperhatikan Anggi yang kini sibuk kejar-kejaran dengan teman-temannya. Baru saja sebentar ia beraktivitas, rambutnya yang tadi sudah tertata rapi, kini mulai terlihat semrawut.
Juli, empat tahun yang lalu. Gua berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit, tepat di depan ruang operasi. Sesekali gua mencoba mengintip melalui kaca kecil buram di pintu ruang operasi; tak terlihat apapun. Setelah menunggu hampir satu jam yang terasa seperti setahun, pintu ruang operasi terbuka. Lalu terdengar tangisan yang membahana, suara pertama Anggita Laras Brasen di dunia.
Kini sudah empat tahun berlalu, ia tumbuh menjadi gadis cantik, periang yang punya rasa penasaran setinggi gunung. Nggak seperti anak seusianya yang hidup nyaman dengan kedua orang tua. Anggi, hanya punya gua, Bapaknya. Sejak berusia tiga bulan hingga sekarang, ia sama sekali nggak mengenal sosok bernama; Ibu.
Pernah suatu ketika ia menatap teman-teman yang dijemput dari daycare oleh Ibu-nya. “Kenapa?” Tanya gua sambil berlutut di depannya.
“Mamah aku kemana sih, Pah?” Tanya Anggi dengan suara cadelnya yang khas.
“Mamah Anggi kan nggak ada...” Ucap gua seraya membelai kepalanya.
—
Di toko, terlihat Rohman sudah terlebih dulu tiba dan tengah sibuk menggantungkan dagangan di atas kanopi. Rohman merupakan satu-satunya orang yang membantu gua menjalankan toko plastik dan bahan kue yang terletak nggak begitu jauh dari rumah.
Gua nggak mau Anggi yang tumbuh tanpa Ibu, masih harus ditinggal pergi Bapaknya untuk bekerja nine to five, bekerja kantoran. Makanya gua memutuskan untuk membuka toko ini bersama Rohman. Dengan begini, gua bisa terus mengurus Anggi dari ‘dekat’.
“Udah sarapan Je?” Tanya Rohman begitu gua tiba.
“Udah tadi..” Jawab gua. Kemudian masuk ke toko dan mulai membantunya menata dagangan.
Toko tempat gua berjualan terbilang cukup luas. Lebarnya kurang lebih 5 meter, dengan panjang bangunan kira-kira 10 meter. Terdapat dinding pembatas di antara bangunan yang dibuat oleh penyewa sebelumnya. Sepertinya si penyewa sebelumnya menggunakan bangunan ini sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggal, jadi sekatnya berfungsi memisahkan area usaha dengan tempat tinggal si penyewa.
Ditangan gua, sekat pembatas sengaja nggak gua hilangkan. Bagian belakang sekat gua fungsikan sebagai tempat untuk Anggi beristirahat. Tentu saja lengkap dengan karpet, kasur lantai, Televisi dan meja kecil multifungsi ntuk Anggi makan, menggambar atau mewarnai.
Agak sedikit mundur ke belakang terdapat area dapur yang berbatasan dengan kamar mandi. Namun, gua dan Rohman jarang menggunakan area dapur, karena sempit dan tak ada ventilasi udara. Membayangkan masak dan berkegiatan di sana saja rasanya sudah gerah bukan kepalang. Jadi, dari seluruh area dapur yang sering kami gunakan hanya wastafel untuk mencuci tangan.
Sementara, pada bagian depan toko terdapat area parkir yang luas. Ya setidaknya cukup luas jika digunakan satu mobil parkir. Gua memasang kanopi penutup diseluruh area halaman toko, selain untuk tempat memajang dagangan dengan cara digantung pada kanopi, juga agar halaman ini bisa digunakan Anggi sebagai tempat bermainnya.
“Gua belom nih…”
“Yaudah sono sarapan…”
Rohman lantas meninggalkan bungkusan besar kemasan styrofoam yang sebelumnya ingin ia gantungkan dan menyebrang, menuju ke warteg untuk memesan kopi. Gua kembali keluar, mengambil bungkusan besar kemasan styrofoam yang ditinggalkan Rohman dan mulai menggantungnya.
Gua tengah duduk di kursi kayu depan toko, merokok, sambil menunggu pelanggan saat sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan toko. Pintu mobil terbuka, seorang perempuan berpenampilan modis turun; “Mas, ada plastik bubble wrap nggak?”
“Ada, berapa meter?” Tanya gua seraya menyelipkan batangan rokok pada penyangga kursi kayu.
“Oh jualnya meteran ya? satu meter deh” Jawabnya.
Jalan tempat toko gua berada nggak cukup lebar, hanya cukup untuk dua mobil berpapasan. Saat ada mobil berhenti sembarangan seperti yang dilakukan oleh perempuan ini, tentu saja bakal menyebabkan antrian kendaraan di belakangnya.
“Mbak, mobilnya masukin aja kesini biar nggak macet…” Ucap gua ke perempuan tersebut sambil menunjuk ke arah halaman toko.
“Udah nggak usah, lo nya aja yang cepetan…” Keluh si perempuan itu.
Gua menghela nafas panjang, kemudian buru-buru menyiapkan pesanan miliknya dan memasukan ke dalam plastik berukuran besar.
“Berapa?” Tanyanya seraya mengeluarkan dompet untuk membayar.
“Enam ribu…” Jawab gua singkat.
Dengan cekatan ia mengeluarkan lembaran uang pecahan 100 ribu dan menyerahkannya. Tentu saja gua nggak langsung menerimanya, karena kondisi masih pagi dan belum ada pembeli, jadi toko jelas nggak ada uang kembalian sebanyak itu. Sementara, uang hasil penjualan kemarin sudah disetorkan oleh Rohman ke Bank.
“Nggak ada uang kecil aja?” Tanya gua, masih belum meraih uang yang ia sodorkan. Perempuan itu lalu kembali memeriksa dompetnya. Sementara antrian di belakang mobilnya semakin panjang, suara klakson pun semarak membuat bising di telinga.
"Nggak ada. Elo kalo di Jepang bisa dituntut, orang jualan kok nggak nyapain kembalian. ” Gumamnya, masih mencari-cari uang receh dari sela-sela dompet.
“Emang lo di Jepang?” Gumam gua pelan, sengaja agar ia nggak mendengarnya.
“Apa?” Tanyanya, sementara tangannya masih sibuk mencari uang receh dari dalam dompet.
“Yaudah nggak usah bayar, bawa aja…” Jawab gua. Mencoba mengikhlaskan uang enam ribu, ketimbang jadi sasaran kemurkaan pengendara jalan yang mengantri di belakang mobilnya.
Tiba-tiba, perempuan tersebut melempar lembaran uang yang sudah digumpal, meraih barang belanjaannya, masuk ke mobil dan bergegas pergi. Sementara, gua hanya menatap ke arah mobil yang perlahan menjauh. Meraih lembaran uang 100 ribuan lecek yang baru saja ia lemparkan dan menaruhnya dalam laci meja kasir.
Sementara dari kejauhan terlihat Rohman berjalan gontai menuju ke arah toko.
“Ada apaan, rame banget?” Tanyanya saat melihat kondisi jalan di depan toko yang masih menyisakan kemacetan, sementara tangannya sibuk memainkan tusuk gigi yang mencuat keluar dari bibirnya.
Gua lalu menceritakan kejadian barusan ke Rohman, tentang seorang perempuan modis yang belanja enam ribu tapi bayar dengan uang 100 ribuan. Dan akibat yang ditimbulkan olehnya; kemacetan.
“Alhamdulillah, rejeki pagi-pagi” Ucapnya.
“Rejeki apanya. Ntar kalo dia kesini lagi dan gua nggak ada, lo balikin duitnya”
Hari semakin siang, satu persatu pelanggan mulai berdatangan. Kebanyakan pelanggan toko plastik kami merupakan pedagang juga. Dari mulai pedagang pecel ayam, tukang nasi goreng hingga bubur ayam. Biasanya barang yang mereka beli berupa kertas bungkus nasi, plastik berukuran kecil untuk wadah sambal, plastik transparan besar hingga kemasan styrofoam untuk wadah makanan.
Selain itu ada pula pelanggan yang merupakan produsen kue, roti dan cake. Pelanggan tipe ini biasanya membeli bahan-bahan makanan seperti; margarin curah, coklat tabur, kertas roti, loyang cetakan, hingga obat pengembang kue.
Ada pula pelanggan yang diistilahkan oleh Rohman sebagai ‘Bebek Kanyut’, yaitu jenis pelanggan yang emang pas mau beli barang, kebetulan melihat toko kami di pinggir jalan. Untuk tipe pelanggan seperti ini biasanya, Rohman bakal nanya tempat tinggal si pelanggan. Kalau tinggalnya dekat, ia bakal memberikan bonus kecil, seperti tambahan barang yang dibeli. Agar mereka merasa diperlakukan istimewa, dan kembali berbelanja disini.
Rohman juga nggak segan untuk mengantar pesanan walaupun jumlah barang yang dibeli nggak banyak. Ya asal nganternya nggak terlalu jauh aja.
Ia sejatinya bukan orang dengan pendidikan yang tinggi. Tapi, ia tipe orang yang mau belajar dan mencoba banyak hal baru. Gua bahkan hanya perlu mengarahkan kelicikan yang ia punya, untuk membuatnya menjadi pakar strategi marketing low-end business seperti sekarang.
“Assalamualaikum…” Sapa Pak Haji Ramlan yang datang dengan sepeda motor.
“Waalaikumsalam…” Jawab gua, kemudian berdiri dan menghampirinya.
“Je, anterin terigu 2 karung yak” Ucap Pak Haji Ramlan seraya mengeluarkan gepokan uang dari saku celananya.
“Anter ke rumah apa kemana nih Pak Haji?” Tanya Gua.
“Ya kerumah lah…” Jawabnya seraya menyerahkan uang pembayaran.
Pak Haji Ramlan adalah pemilik bangunan Toko yang gua tempati saat ini. Tak hanya toko ini saja, Counter ponsel di sebelah, Warung sembako di sebelahnya lagi, Bengkel sepeda motor di sebelahnya lagi dan Kios penjual Fried Chicken di ujung, juga merupakan miliknya.
Selain itu, ia juga punya puluhan kontrakan, pabrik genteng, konveksi dan puluhan toko kain di Cipadu, Cipulir juga Tanah Abang. Rumahnya yang besar dan megah berdiri nggak begitu jauh dari lokasi toko. Saking megah dan besar, bagian rooftop rumahnya bisa terlihat dari depan toko.
Akhir-akhir ini beliau sering mondar-mandir ke toko untuk membeli bahan kue. Konon, Anak bungsunya tengah melakukan riset untuk memproduksi kue kering.
“Ntar Rohman yang nganter yak Pak Haji…” Ucap gua sebelum Pak Haji Ramlan pergi.
“Iya…” Jawabnya.
Semakin siang, intensitas pelanggan yang datang semakin tinggi. Saking sibuknya, kadang kami sama sekali nggak punya kesempatan untuk duduk, apalagi saat harus jaga sendirian seperti sekarang ini, karena Rohman harus mengantar barang.
Gua melirik ke arah jam tangan yang menunjukkan pukul 12 siang lebih sedikit. Sebentar lagi Anggi selesai dari Daycare-nya, dan gua harus menjemputnya.
Sejatinya, ada dua pilihan saat gua mendaftarkan Anggi ke Daycare. Full day dan Half Day, Sesuai namanya; Full Day berarti si anak akan terus berada di Daycare sepanjang hari. Kebanyakan yang mengambil paket ini adalah para anak yang kedua orang tuanya sibuk bekerja, hingga tak ada waktu untuk mengasuh anak. Sementara, untuk yang Half Day, pengasuhan akan selesai setelah jam 1 siang. Seandainya, kita telat menjemput maka sisa waktu yang dihabiskan anak di daycare akan di charge di bulan berikutnya.
Gua jelas nggak mengambil opsi Full day. Buat apa? toh gua membuka usaha toko plastik agar bisa punya lebih banyak waktu untuk Anggi.
Rohman baru kembali ke toko begitu jam menunjukkan pukul setengah satu. Setelah memarkir sepeda motornya, Rohman nggak langsung masuk ke toko. Ia duduk di kursi kayu panjang di depan toko dan mulai merokok.
“Gua jemput Anggi dulu ya Man…” Ucap gua, sambil meraih topi dan bergegas pergi.
“Nggak pake motor?” Tanya Rohman.
“Nggak ah jalan aja…”
Lokasi Daycare tempat gua menitipkan Anggi nggak begitu jauh. Jika ditempuh lewat jalan utama, paling hanya menghabiskan waktu 5 menit dengan berjalan kaki. Kalau jalan mundur, ya mungkin bisa setengah jam.
Ada alternatif jalan lain, yaitu lewat jalan ‘ngampung’. Melalui gang kecil berliku yang tentu saja memakan waktu sedikit lebih lama. Dan, gua selalu memilih jalan ‘ngampung’ jika berjalan bersama dengan Anggi, karena relatif aman tanpa ada kendaraan yang ngebut.
Anggi terlihat sedang duduk di ujung perosotan saat gua tiba di Daycare. Seperti biasa, ia duduk sambil menatap teman-teman dijemput oleh ibunya. Gua berjalan mendekat, begitu menyadari kehadiran gua, Anggi lantas berdiri dan berteriak; “Papah..” kemudian berlari dan memeluk gua.
“Ayo bilang apa ke Miss Rina…” Bisik gua ke Anggi.
“Thank you, miss…” Ucapnya cadel.
“You’re welcome, take care Anggi” Balas Miss Rina, si pembimbing di Daycare.
Gua lantas melepas topi yang gua kenakan dan memasangkannya di kepala Anggi. Sinar matahari hari ini sedang terik, dan gua meninggalkan payung satu-satunya di rumah. Sambil membetulkan posisi topi gua yang menutupi hampir seluruh kepalanya, Anggi mulai bercerita tentang kejadian-kejadian di Daycare. Gua mendengarkannya dengan serius sambil sesekali memberi tanggapan, layaknya tengah ngobrol dengan orang dewasa.
Setibanya di Toko, gua mendudukan Anggi di kursi dan menyiapkan makan untuknya. Sejak ia bisa makan, gua sudah membiasakannya untuk makan sendiri. Banyak orang yang komplain tentang cara gua memberi makan Anggi. Ada yang bilang ‘Kalo anak kecil makan sendiri pasti berantakan’ ya, kalo berantakan tinggal di beresin, apa susahnya. Ada juga yang bilang ‘Kok tega anak kecil disuruh makan sendiri’ ya harus tega, biar dia terbiasa mandiri.
Gua meletakkan piring plastik berwarna pink yang berisi nasi, telur dadar dan sayur sop di atas meja. Menu favorit Anggi yang gua beli di warteg seberang jalan. Ia tersenyum kemudian mulai makan. Sementara gua memeriksa isi tas milik Anggi. Mengeluarkan kotak makan miliknya yang kini kosong lalu mencucinya.
Begitu Anggi selesai makan ia langsung bermain. Iya, Anggi banyak menghabiskan waktunya bermain di dalam toko. Kadang ia berkeliling rak barang, sambil berlagak menjadi seorang pelari atau duduk di meja kasir, berpura-pura melayani pelanggan. Toko ini merupakan wahana permainannya.
Biasanya setelah puas bermain dan kelelahan, ia akan berbaring di kasur kecil di belakang toko dengan botol susu di tangannya. Nggak butuh waktu lama buatnya untuk tidur begitu berbaring. Iya Pelor; Nempel langsung Molor.
Anggi bakal bangun saat hari menjelang sore. Setelah tidur, gua memberikannya kesempatan untuk bermain di luar toko. Biasanya, Galih, anak pemilik Konter Ponsel yang jadi teman bermainnya. Atau, ia akan ke belakang toko, tempat dimana banyak anak-anak seusianya menghabiskan sore dengan bermain bersama.
Selepas Maghrib, gua tengah duduk di kursi kayu depan toko, bersiap-siap untuk pulang sambil menunggu Rohman mengantarkan pesanan. Sementara, Anggi sibuk menonton acara kartun di televisi di dalam toko. Dari kejauhan terlihat mobil sedan hitam yang tadi pagi pengemudinya melempar uang ke arah gua. Ia berhenti tepat di depan toko, kali ini ia memarkir mobilnya dengan benar dan santun hingga nggak mengganggu kendaraan lain yang lewat.
Perempuan itu turun dari mobil dan berjalan mendekat. Sementara gua langsung bergegas masuk ke dalam, mengambil lembaran uang 100 ribuan lecek dari laci meja kasir untuk mengembalikan uang itu padanya.
“Jadi berapa yang tadi?” Tanyanya.
“Nggak usah…” Jawab gua seraya mengembalikan lembaran uang miliknya. Dengan cepat ia meraih lembaran uang tersebut dan menukarnya dengan selembar 10 ribuan.
Gua tersenyum, dan mengulang kembali ucapan sebelumnya; “Nggak usah mbak”
Ia menatap gua tajam, sebelum akhirnya memasukkan kembali lembaran uang tersebut ke dalam dompet. Tanpa kata, ia berbalik dan pergi menuju ke mobilnya. Gua menebak kalau perempuan tersebut bukan orang sembarangan, atau paling tidak anak orang kaya, terlihat dari mobil sedan yang ia kendarai; terlampau mewah untuk seorang pekerja kantoran biasa.
Sebelum pulang, gua menyempatkan diri untuk membeli ayam goreng dari kios di ujung bangunan untuk makan malam Anggi. Begitu Rohman kembali dari mengantar pesanan, gua lantas mengajak Anggi untuk pulang. Agak sulit memisahkan Anggi dengan acara kartun kesayangannya itu, hingga gua harus rela menunggu sampai acara tersebut selesai.
Gua menggendong Anggi di punggung sementara tangan kanan gua memegang tas dan plastik bungkusan berisi ayam goreng. Dengan Anggi di gendongan, gua melangkah menyusuri jalan tanpa trotoar. Sesekali gua merapat ke sisi jalan saat ada sorotan lampu mobil mendekat, takut keserempet. Gua sengaja memilih lewat sisi jalan utama agar bisa sampai di rumah lebih cepat.
Di kejauhan gua melihat sedan hitam berhenti di tepi jalan dengan kedua lampu hazard menyala dan bagasi belakang dibiarkan terbuka. Di sisi mobil terlihat, seorang perempuan tengah sibuk dengan ponselnya, perempuan yang sama dengan yang melempar uang ke arah gua, ia tengah menunduk dan memeriksa ban bagian depan sebelah kiri.
“Kenapa mbak?” Tanya gua, sementara Anggi menggeliat di punggung gua, penasaran dengan apa yang terjadi.
Perempuan itu lalu menoleh, lalu dengan cepat mengarahkan senter dari ponselnya ke arah gua. Sambil memicingkan mata dan mengangkat tangan karena silau.
“Nggak tau, tadi pas lagi jalan tiba-tiba kayak bocor gitu..” Jawabnya seraya menunjuk ke arah ban depan sebelah kiri dengan senter dari ponselnya.
“Perlu bantuan?” Tanya gua pelan. Perempuan tersebut nggak langsung menjawab. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa was was yang nggak bisa disembunyikan. Lumrah sih, seorang perempuan menyematkan kecurigaan kepada pria asing di pinggir jalan. Pun, kami sudah dua kali bertemu, sebagai pembeli dan penjual.
Ia menggelengkan kepalanya.
Gua mengangguk dan berlalu melewatinya, melanjutkan perjalanan dengan Anggi masih berada di gendongan gua menuju ke rumah.
Sesampainya dirumah, gua dan Anggi langsung makan malam. Setelah makan, Anggi langsung menuang kotak plastik besar berisi mainan dan mulai bermain sendiri. Sesekali, ia mencoba mengajak gua untuk bermain peran dengannya.
Lelah bermain, ia mendekat dan bicara; “Pah, susu…” Pintanya manja.
“Yaudah beresin mainannya, cuci kaki, sikat gigi terus masuk kamar, nanti papah bikinin susu…” Jawab gua.
Anggi lantas mulai menuruti permintaan gua, memunguti satu persatu mainan yang berserakan ke dalam kotak plastik besar. Lalu berlari menuju ke kamar mandi untuk sikat gigi dan mencuci kakinya.
Setelah membuat susu dan menemani Anggi tidur, gua keluar menuju teras, duduk di kursi bambu dan mulai merokok. Sesekali gua mengecek email melalui ponsel dan beberapa pesan masuk yang perlu untuk segera gua respon.
Gua meraih bungkus rokok yang kini kosong. ‘Yah..’

Diubah oleh robotpintar 01-09-2023 09:23
bukanrangerpink dan 246 lainnya memberi reputasi
243
355K
Kutip
2.3K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#751
#60 - Three of Us
Spoiler for #60 - Three of Us:
Begitu mendengar kalimat yang gua lontarkan barusan, terlihat perubahaan ekspresi dan seutas senyum di bibirnya.
“...”
“... Masing-masing dari kita mulai lagi dari awal. Gua dengan jalan yang gua pilih, dan elo dengan jalan yang lo pilih.”Gua menambahkan.
Aldina lalu mencoba menepis tangan gua dari bahunya dan mengangkat kepalanya kemudian menatap gua. Ujung matanya mulai berair, lalu dengan sekuat tenaga ia memukul gua.
Gua terdiam saat menerima pukulannya.
Setelah puas memukul, ia menangis dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu gua.
“... Coba deh buat merelakan sesuatu, meninggalkan semua kenangan masa lalu dibelakang, dan kita moving forward…”
“...”
“... Lo tau kan, kalo nggak bisa ada dua matahari dalam satu dunia?” Tanya gua.
Sambil menyeka air mata di pipi dengan punggung tangannya, ia menjawab; “Iya..”
“...”
“... Cuma bisa ada satu matahari di dunia. Dan matahari itu bukan gue kan?”
“...”
“... Bukan gue kan, Je?” Tanyanya lagi.
“Bukan..” Gua menjawab singkat.
Aldina lalu membuka kepalan tangannya. Terlihat sepasang cincin yang sepertinya sejak tadi ia genggam. Sepasang cincin yang merupakan cincin pernikahan kami berdua. Cincin dimana terukir nama kami masing-masing, cincin yang dulu pernah menyatukan kami.
Sambil terus menangis, ia kembali menggenggam kedua cincin tersebut, mengangkat tinggi-tinggi tangannya ke udara dan melemparkannya ke arah laut lepas.
Tak ada suara gemercik, karena ditelan deru ombak yang menerjang deretan batuan besar tempat kami duduk.
Bersamaan dengan tenggelamnya kedua cincin tersebut, hilang pula harapannya.
Sesaat kemudian, Aldina berusaha untuk berdiri. Namun, gua dengan cepat mencegahnya. Ia kembali duduk dan menghela nafas panjang.
“Jangan takut, Ce… Gua nggak pernah kemana-mana kok”
“...”
“... Once lo butuh gua, gua pasti bakal ada untuk elo…” Gua menambahkan.
“Sebagai apa?” Tanyanya pelan.
“Sebagai orang yang pernah menjadi bagian hidup lo..”
“...”
“... Dan mungkin aja, one day, gua juga bakal butuh elo. Dan gua berharap lo bakal hadir sebagai orang yang pernah mengisi hati gua…”
“...”
“... Saat ini, sekarang ini, gua cuma minta dua hal dari lo..”
“Apa?”
“Pertama; Mau kan lo merelakan gua?” Tanya gua.
“Seandainya gue nggak mau gimana?” Ia balik bertanya.
“Ya, gua nggak bakal move forward.. Gua mungkin bakal terus sendiri aja…”
“Jangan!!” Aldina merespon dengan cepat.
Gua lalu menoleh dan menatap ke arahnya.
“... Jangan!” Ia mengulang ucapannya.
“...”
“... Go on, gue bakal belajar untuk merelakan elo…” Gumamnya pelan.
“...”
“... Walaupun nggak gampang, tapi paling nggak salah satu dari kita harus bahagia…” Tambahnya.
“Emang bakal terdengar egois; tapi, jujur, gua nggak mau kalau cuma gua aja yang bahagia..”
“...”
“... Gua mau lo juga move forward dan mencoba mencari kebahagiaan lo sendiri…”
“I Will…” Jawabnya singkat.
“Kedua; Pulanglah ke Medan, temuin Bapak… Dia udah kangen berat sama anak perempuan satu-satunya..”
“Buat apa? Buat apa gue pulang kalo harus menerima murka darinya?”
“Bapak udah nggak marah, Ce… Kalaupun dulu dia marah, itu karena dia sayang banget sama elo…”
“...”
“... Mau kan?”Tanya gua lagi.
“...”
“... Ce? Mau kan? Apa perlu gua temenin?”
Aldina lalu mengangguk pelan.
“Gue juga punya permintaan..” Ucapnya.
“Apa?”
“Gue mau ngobrol sama Lady…”
“Bukannya udah?”
“Bertiga, Sama elo…”
“Hah?”
“...”
“... Yaudah, nanti kapan-kapan kita ngobrol bertiga…”
“Nggak! sekarang. Gue mau ngobrol sekarang. Lo pasti kesini sama dia kan? sama Lady?”
“Kok lo tau?”
“Karena nggak mungkin si bocah ingusan itu, membiarkan elo nyusul gue sendirian kesini..” Jawabnya.
Gua tersenyum, meraih kepala dan mengecup keningnya dengan lembut.
—
Tak ada kata-kata lagi setelahnya. Kami hanya duduk terdiam seraya saling menyandarkan bahu, menatap ke arah matahari yang perlahan mulai hilang.
Sementara, area di sekitar mercusuar semakin lama semakin lengang. Sebagian besar turis dan wisatawan yang sebelumnya ramai berkerumun, mulai pulang. Sementara, sebagian kecil sisanya memilih menghabiskan malam di sebuah restoran besar yang terletak nggak jauh dari sana.
“Lo bawa mobil?” Tanya gua.
Aldina lalu menggeleng; “...”
“... Lah terus naik apa kesini?” Tanya gua lagi.
“Taksi…” Ia menjawab singkat.
“Hah!? habis berapa duit?”
“Nggak tau, gue udah nggak begitu peduli sama uang soalnya…” Ucapnya santai.
Gua lalu berdiri, meraih tangan dan membantunya berdiri. Kami berjalan berdua bersisian, sambil sesekali menyenggol bahu dan melempar senyum. Walaupun ada segurat kesedihan terlihat dari senyumnya, namun gua merasa kalau ini adalah sebuah awal. Sebuah awal dari keniscayaan.
Masih sambil terus berjalan, gua meraih bahu dan merangkulnya. “Gua nggak mau menghibur lo. Tapi, nanti kalo lo cari pasangan, harus yang lebih pinter dari gua ya..”
“Idih… susah kali nyari yang lebih pinter dari lo. Kalo nyari yang lebih ganteng; banyak!!!” Serunya, seraya mencubit lengan gua.
“...”
“... Eh, tunggu deh, gue masih penasaran lho”
“Penasaran kenapa?” Tanya gua.
“Sebenernya apa sih hebatnya si Lady itu?”
“Hahaha… Ntar lo tanya aja sendiri…” Jawab gua.
Kami berdua masuk ke dalam mobil dan bergegas pulang.
“Drop gue di Pine grove ya…” Ucapnya.
“Lah katanya mau ngobrol sama Lady?” Tanya gua.
“Besok aja deh.. Kasih gue alamat hotel tempat lo nginep aja. Besok gue kesana…”
Gua lantas menyebutkan nama hotel tempat kami menginap beserta nomor kamarnya.
“Kalian nggak sekamar kan?” Tanyanya.
“...”
“... Kalian sekamar?” Tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit meninggi.
“Claire yang mesenin kamarnya, bukan gua yang mau…”
“Wah… Gila sih.. Nggak bisa kalo kayak gini. Gue ikut! gue nggak jadi turun di Pine grove”
Nggak lama berselang, Aldina akhirnya ikut bersama dengan gua menuju ke hotel. Sampai saat ini, Aldina belumlah tau kalau Anggi juga turut serta bersama dengan kami. Dan gua sengaja, nggak langsung memberitahunya. Merasa, ini merupakan saat yang tepat untuk memperkenalkan Anggi dengan Ibunya.
Karena lupa membawa kartu akses, gua berdiri di depan pintu kamar dan mengetuknya beberapa kali. Nggak lama berselang, pintu terbuka; Lady berdiri diambang pintu. Ia sepertinya sudah bersiap untuk tidur, terlihat dari setelan piyama berwarna merah muda.
“Lama banget…” Gumamnya pelan, sambil pasang tampang cemberut. Matanya lalu beralih ke sosok perempuan yang berdiri tepat di belakang gua; Aldina.
Lady melirik sebentar, kemudian melengos, meninggalkan kami berdua dengan membiarkan pintu kamar masih dalam keadaan terbuka.
Gua dan Aldina masuk ke dalam kamar.
Tiba-tiba Aldina menghentikan langkahnya begitu melihat Anggi tengah terbaring, tertidur pulas di atas ranjang. Ia buru-buru mencubit punggung gua dan berbisik; “Anggi ikut?”
“Iya..” Gua menjawab pelan.
Seketika, Aldina berbalik dan bersiap untuk kembali keluar. Namun, gua dengan cepat meraih tangan dan menariknya hingga ia duduk di sofa panjang di sisi jendela. Sementara, Lady terlihat duduk membelakangi kami di tepian ranjang; masih pasang tampang BT.
“Lad.. Sstt, Lad..” Gua memanggil namanya sambil berbisik, takut membangunkan Anggi.
Lady menoleh.
Gua melambai, memberikan kode kepadanya agar mendekat.
Ogah-ogahan, Lady berdiri dan berjalan gontai, mengambil kursi kerja dari ujung ruangan, menariknya mendekat dan duduk di hadapan kami berdua.
“Apa?” Tanyanya, dengan suara rendah dan ketus.
“Aldina mau ngomong” Ucap gua seraya menunjuk ke arah Aldina.
Sebelum mulai bicara, Aldina sempat melirik ke arah Anggi, memastikan kalau ia masih terlelap.
“Udah ngomong aja, Anggi kalo tidur kayak Papahnya; kayak kebo!” Respon Lady begitu melihat sikap Aldina barusan.
Aldina berdehem sebentar kemudian mulai buka suara.
“Apa kabar Lad?” Tanyanya ke Lady.
“Alah, udah nggak usah banyak intro deh..” Ucap Lady.
“Heh, gini-gini gue lebih tua dari elo. Bisa sopan dikit nggak?” Aldina bicara, kini nada suaranya mulai sedikit tinggi.
‘Duh, gawat nih. Yang satu dibesarkan oleh orang tua Batak yang keras, yang satu lagi dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua; sama-sama keras’ batin gua dalam hati.
“Emang lebih tua berarti lebih bijak?” Lady nggak mau kalah.
Gua menghela nafas dalam-dalam, kemudian mulai berdiri dan memposisikan diri diantara mereka berdua.
“Mau ngobrol apa mau debat?” Tanya gua ke mereka berdua.
“Minggir lo!!” Lady dan Aldina bicara secara nyaris bersamaan, membuat gua sedikit terkejut dan mundur beberapa langkah.
“Heh, lo denger ya.. Kalo sampe lo ngecewain Jeje, apa lagi sampe ninggalin dia, gue cari lo sampe ke neraka..” Ucap Aldina sambil mengarahkan jarinya ke Lady.
“Heh, gue nggak kayak elo ya.. Yang dengan gampangnya ninggalin dia!” Lady membalas, mungkin saking kesalnya, ia sampai berdiri dan mendekat ke arah Aldina.
Aldina yang nggak terima dengan ucapan dari Lady ikut berdiri; “Elo anak kecil tau apaan!?”
“Gue tau semua!! dan gue bukan anak kecil!!” Balas Lady. Kini posisi keduanya semakin dekat.
Gua memijat kening sebentar, kemudian berusaha melerai. “Lad” Ucap gua ke Lady.
Begitu mendengar ucapan gua, Lady langsung terdiam dan mundur beberapa langkah. Ia lalu menatap gua tajam, sementara matanya mulai berlinang.
“Kenapa cuma gue.. kan dia yang mulai…” Gumam Lady yang kini mulai terisak.
Gua kembali menghela nafas, kemudian berpaling ke Aldina; “Lo mau ngobrol kan, bukan berdebat?” Tanya gua pelan.
“Tuh, giliran sama dia lo nggak nge-gas” Lady kembali bicara, dan tangisnya pun pecah.
Gua tersenyum lalu meraih tangan dan mulai menggenggamnya. “Nggak, gua nggak nge-gas kok” Ucap gua pelan.
“Sorry… gue yang salah..” Aldina buka suara, sementara pandangannya ia tujukan ke arah lain. Mungkin enggan melihat gua memegang tangan Lady.
Setelah terdiam cukup lama, dan merasa masing-masing sudah bisa mengontrol emosinya, kami kembali bicara.
Aldina menarik nafas dalam-dalam, sambil mengepalkan kedua tangan dan menundukkan kepala, ia bicara; “Sorry ya Lad… Gue sebenernya cuma mau bilang kalo lo jangan sampe ninggalin Jeje. Gue dulu masih muda, naif dan labil, gue tau gue salah… dan gue nggak mau lo ngikutin jejak gue…”
“Iya…” Jawab Lady pelan.
“Gue titip Jeje sama Anggi ya..”
“Iya..”
“And thank you, kemaren udah ngasih kabar waktu Anggi sakit..”
Aldina lalu berpaling ke arah gua.
“Elo juga! kalo ada apa-apa sama Anggi, kasih tau gue…”
“Iya Sorry…”
Jauh dari dugaan gua, Aldina lalu kembali berdiri, mendekat ke arah Lady dan langsung memeluknya. Lady pun sepertinya sama dengan gua; sama-sama terkejut. Namun, dengan cepat ia membalas pelukan Aldina sambil memberi tepukan lembut di punggungnya.
Lalu terdengar gumaman samar dari Aldina; “Inget ya, kalo lo pergi dari dia, gua patahin batang leher lo..”
Nggak mau kalah, Lady pun melakukan hal yang sama; “Kan gue udah bilang, gue nggak kayak elo nenek sihir…”
“Hey, C’mon…” Ucap gua pelan.
Aldina lantas melepas pelukannya dan tersenyum, layaknya tak terjadi apa-apa. Ia lalu mendekat ke ranjang, memberikan kecupan lembut kepada Anggi lalu pergi.
—
Gua duduk di tepi ranjang. Sementara, Lady berada di sisi satunya, kami saling membelakangi.
“Kenapa sih lo tadi cuma manggil nama gue. Kan dia yang duluan mulai, bukan gue..” Lady menggumam pelan.
“Iya Sorry. Gue nggak mau aja lo jadi keliatan jahat…” Ucap gua.
“...”
“... Lagian kok bisa-bisanya lo jadi ketus begitu ke dia. Bukannya sebelumnya kalian sempet ngobrol banyak berdua?”
“Kalo sekarang gimana nggak kesel. Lo tau-tau bawa dia kesini…”
“...”
“... gue kan takut. Gue pikir lo berubah pikiran…”
Gua berdiri, memutari ranjang dan mendekat ke arahnya. Lady mendongak, menatap gua dengan kedua matanya yang basah. “Gua kan udah janji, bakal balik ke elo…” Ucap gua seraya membungkuk di hadapannya.
Lady lantas membelai kepala gua, wajahnya kini terlihat semakin sedih, sambil terisak ia lalu bicara; “Besok kita jalan-jalan ya Je, tadi gue bosen banget. Masa di Kanada tapi cuma diem di kamar…”
“Iya… besok kita jalan-jalan..”
—
Besoknya, pagi-pagi sekali kami bertiga sudah bersiap. Hari ini, gua akan membawa Lady untuk berkeliling Halifax, mengunjungi beberapa tempat wisata sambil berbelanja. Namun, Lady menolak.
“Gue mau ke kampus lo, ke apartemen lo, ke rumah yang dulu lo tinggalin, pokoknya gue mau napak tilas kehidupan lo waktu disini…” Ucapnya, menolak ajakan gua ke tempat wisata.
“...”
“... Tapi kalo urusan belanja, tetep..” Tambahnya.
Saat hendak berangkat, ponsel gua bergetar, sebuah notifikasi pesan singkat masuk. Gua mengernyitkan dahi, karena jarang mendapat sebuah pesan yang bukan dari aplikasi chat, nomornya pun asing.
‘Je, hari ini gue mau ketemu sama Anggi.. as her mom - Dince’
Rupanya pesan dari Aldina.
‘Ok’ gua lantas membalas pesannya.
“Siapa?” tanya Lady.
“Aldina”
“Mau ngapain?” Tanyanya lagi.
“Dia mau ketemu Anggi..”
“Oh, baguslah..” Jawabnya ketus.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah kampus dimana gua berkuliah dulu. Anggi yang berenergi lebih terlihat berlarian kesana-kemari di sekitar area taman kampus. Sementara, Lady berusaha mengikuti dan mengejarnya dari belakang.
“Ini tempat sekolah Papah tau nggi…” Ucap Lady ke Anggi yang kini berada di gendongan gua.
“Iya Pah?” Tanya Anggi, mencoba mengkonfirmasi.
“Iya…”
“Sekolah Papah gede, tapi nggak ada ayunannya…” Ucap Anggi.
“Haha, iya ya…”
Setelah bosan berkeliling, Lady duduk di salah satu anak tangga yang menuju ke perpustakaan utama kampus; kelelahan. Dengan kaos berwarna hijau dan celana selutut bernada sama ia terlihat menawan, sebuah bucket hat yang sebelumnya ia kenakan dipakainya untuk mengibas tubuhnya yang kegerahan. Sementara, Anggi yang belum juga lelah masih sibuk berlarian kesana-kemari.
Gua duduk di salah satu anak tangga di sebelah Lady, seraya menatap Anggi.
“Lo sering kesini dulu? ke perpustakaan?” Tanya Lady seraya menunjuk ke arah pintu perpustakaan yang kini tertutup.
“Lumayan sering..”
“Ngapain?” tanyanya
“Haha, ya belajar lah..” Jawab gua.
Ia lalu menatap gua, membetulkan posisi topi bucket yang gua kenakan dan berbisik; “Foto berdua yuk, kita kan belum pernah foto berdua..”
“Masa?”
“Iya..”
Lady lantas meraih ponsel gua, memasang mode timer pada kamera, menyandarkannya pada salah satu tiang lampu, kemudian kembali duduk dan berpose; ‘Cekrek’
Setelah beberapa pose, Lady lantas memilih foto terbaik dan menggunakannya sebagai wallpaper ponsel gua, display picture pada akun email gua dan semua hal lain yang berhubungan dengan gua. Ia mengembalikan ponsel ke gua lalu bicara; "Nanti, pas ketemu sama Aldina, HP lo harus menghadap ke atas..."
--
John Mayer - Half of My Heart
I was born in the arms of imaginary friends
free to roam, made a home out of everywhere I've been
then you come crashing in, like the realest thing
trying my best to understand all that your love can bring
oh half of my heart's got a grip on the situation
half of my heart takes time
half of my heart's got a right mind to tell you
that I can't keep loving you (can't keep loving you)
oh, with half of my heart
I was made to believe i'd never love somebody else
I made a plan, stay the man who can only love himself
lonely was the song I sang, 'til the day you came
Showing me another way and all that my love can bring
oh half of my heart's got a grip on the situation
half of my heart takes time
half of my heart's got a right mind to tell you
that I can't keep loving you (can't keep loving you)
oh, with half of my heart
with half of my heart
your faith is strong
but I can only fall short for so long
Down the road, later on
you will hate that I never gave more to you than half of my heart
but I can't stop loving you
I can't stop loving you [x3]
but I can't stop loving you with half of my...
half of my heart
half of my heart
half of my heart's got a real good imagination
half of my heart's got you
half of my heart's got a right mind to tell you
that half of my heart won't do
half of my heart is a shotgun wedding to a bride with a paper ring
And half of my heart is the part of a man who's never truly loved anything
half of my heart
Diubah oleh robotpintar 13-11-2023 10:34
jiyanq dan 59 lainnya memberi reputasi
60
Kutip
Balas
Tutup