- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Destiny
...
TS
loveismyname
You Are My Destiny

2008
“SAH!”
Serta merta, kalimat Tahmid bergema ke seluruh ruangan musholla di pagi yang cerah ini. Begitu banyak wajah bahagia sekaligus haru terlihat. Proses akad nikah memang seharusnya menjadi sesuatu yang sakral, yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang melaluinya.
Aku termasuk orang yang berbahagia itu. Di hadapan seorang laki-laki yang barusan menjabat tanganku, yang selanjutnya, beliau secara resmi akan kupanggil Papa, aku tidak bisa menyembunyikan rasa haruku. Di sampingku, seorang wanita yang telah kupilih untuk mendampingiku seumur hidup, terus menerus menutup mukanya dengan kedua tangan, mengucap syukur tiada terkira.
Hai Cantik, semoga kamu bahagia juga di sana. Tunggu kami ya.
Spoiler for PERHATIAN !!:
Spoiler for DISCLAIMER !!:
Enjoy

Note : Gue akan berusaha agar cerita ini bisa selesai. Update, sebisa dan semampu gue aja, karena cerita ini sebenarnya sudah gue selesaikan dalam bentuk Ms.Word. Tapi maaf, gue gak bisa setiap hari ngaskus. mohon pengertiannya.
Index
prolog
part 1 the meeting
part 2 how come?
part 3 why
part 4 swimming
part 5 second meeting
part 6 aku
part 7 love story
part 8 mbak adelle
part 9 got ya!!
part 10 third meeting
part 11 kejadian malam itu
part 12 4th meeting
part 13 family
part 14 putus
part 15 comeback
part 16 morning surprise
part 17 we are different
Intermezzo - behind the scenes
Intermezzo - behind the scenes 2
part 18 aku di sini untukmu
part 19 a morning with her
part 20 don't mess with me 1
part 21 don't mess with me 2
part 22 my life has changed
part 23 mati gue !!
part 24 old friend
part 25 kenapa sih
Intermezzo - behind the scenes 3
part 26 halo its me again
part 27 balikan?
part 28 happy independent day
part 29 duet
part 30 sorry, i cant
part 31 night call
part 32 preparation
part 33 lets get the party started
part 34 sweetest sin
part 35 late 2001
part 36 ramadhan tiba
part 37 itu hurts
part 38 sebuah nasihat
part 39 happy new year
part 40 ombak besar
part 41 don't leave me
part 42 my hero
part 43 my hero 2
part 44 desperate
part 45 hah??
part 46 goodbye
part 47 ombak lainnya
part 48 no party
part 49 self destruction
part 50 diam
part 51 finally
part 52 our journey begin
part 53 her circle
part 54 my first kiss
part 55 sampai kapan
part 56 lost control
part 57 trauma
part 58 the missing story
part 59 akhirnya ketahuan
part 60 perencanaan ulang
part 61 komitmen
part 62 work hard
part 63 tembok terbesar
part 64 melihat sisi lain
part 65 proud
part 66 working harder
part 67 shocking news
part 68 she's gone
Intermezzo behind the scenes 4
part 69 time is running out
part 70 one more step
part 71 bali the unforgettable 1
part 72 bali the unforgettable 2
intermezzo behind the scenes 5
part 73 a plan
part 74 a plan 2
part 75 ultimatum
part 76 the day 1
part 77 the day 2
part 78 the day 3
part 79 judgement day
part 80 kami bahagia
part 81 kami bahagia 2
part 82 we are family
part 83 another opportunity
part 84 new career level
part 85 a gentlemen agreement
part 86 bidadari surga
part 87 pertanyaan mengejutkan
part 88 new place new hope
part 89 cobaan menjelang pernikahan 1
part 90 cobaan menjelang pernikahan 2
part 91 hancur
part 92 jiwa yang liar
part 93 tersesat
part 94 mungkinkah
part 95 faith
part 96 our happiness
part 97 only you
part 98 cepat sembuh sayang
part 99 our journey ends
part 100 life must go on
part 101 a new chapter
part 102 Bandung
part 103 we meet again
part 104 what's wrong
part 105 nginep
part 106 Adelle's POV 1
part 107 a beautiful morning
part 108 - terlalu khawatir
part 109 semangat !!
part 110 kejutan yang menyenangkan
part 111 aku harus bagaimana
part 112 reaksinya
part 113 menjauh?
part 114 lamaran
part 115 good night
part 116 satu per satu
part 117 si mata elang
part 118 re united
part 119 hari yang baru
part 120 teguran keras
part 121 open up my heart
part 122 pelabuhan hati
part 123 aku akan menjaganya
part 124 masih di rahasiakan
part 125 surprise
part 126 titah ibu
part 127 kembali
part 128 congratulation 1
part 129 congratulation 2
part 130 you are my destiny
epilog 1
epilog 2
epilog 3
epilog 4
epilog 5
side stry 1 mami and clarissa
side story 2 queen
side story 3 us (adelle's pov 2)
tamat
Diubah oleh loveismyname 03-06-2023 11:22
yputra121097703 dan 72 lainnya memberi reputasi
71
103.3K
954
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#144
Part 73 - A Plan
Minggu pagi, kami masih leyeh-leyeh di hotel. Kami sepakat, hari ini, agenda kami hanya berdiam di hotel sampai waktu checkout tiba, dan kami akan segera menuju bandara untuk pulang. Jadwal keberangkatan pesawat kami adalah pukul 4 sore waktu Bali. Aku ingin benar-benar memanfaatkan waktu kami semaksimal mungkin.
3 hari terlewati dengan indah. Kami semua bersenang-senang di sini. Bermain, belanja, berfoto, berwisata kuliner, semua sudah lakukan. Itu yang aku inginkan. Sayang tidak ada sahabatku yang lain terutama, Pacul atau Mbak Adelle.
Pacul tidak mau ikut serta dan lebih memilih liburan sendiri dengan istrinya. Jadwalnya bergantian tepat setelah kepulanganku dari Bali.
“Kenapa sayang?” Ujar Afei yang baru selesai mandi. Dia memakai baju berwarna kuning cerah kebesaran, dan wajahnya nampak segar. Afei nampaknya melihat aku sedang termenung.
“Ga papa sayang.” Aku tersenyum kepadanya.
Kekasih ku itu, selalu bisa menawan hatiku. Aku gemas, dan tiba-tiba timbul hasrat yang menggelora terhadapnya. Ingin sekali aku memeluknya, membawanya ke ranjang, menciuminya, lalu…
Aduuhh, cobaannya begini banget yak?
Kadang aku berharap menjadi orang yang santai, seperti Connie, dan beberapa temanku yang lain. Tidak di bebani oleh prinsip-prinsip. Mungkin, 3 hari yang lalu, akan menjadi hari-hari paling indah antara aku dan Afei. Tapi, segera kusingkirkan pikiran itu. Prinsipku tidak akan kurubah. Sex after marriage. Keperawanan seorang wanita adalah hal yang harus dijaga.
Munafik? Ada perbedaan mendasar antara munafik dan memegang teguh prinsip.
“Sayang, nikah sekarang aja yuk sekarang. Terus kita tinggal di sini !!”
Mulutku tidak bisa kukontrol. Cinta yang meluap adalah penyebabnya.
“Aku ga mau kalo di sini. Walaupun indah, di sini bukan tempat yang aku tuju.” Afei berbisik. “Aku pengen tinggal di desa yang tenang. Kita explore lagi yuk kapan-kapan.” Lanjutnya.
Aku mengangguk dan tersenyum. Aku tau persis, seperti apa tempat yang diinginkannya.
Afei kemudian duduk di sofa, bersebelahan denganku. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku, lalu memeluk tubuhku erat.
“Makasih ya sayang, buat semuanya. Buat cinta kamu yang besar banget, buat semua effort kamu, buat semua kebaikan kamu. Aku mau bilang, aku juga punya cinta yang sama besarnya buat kamu. Buat aku, kamu tuh udah segalanya.” Afei berkata kembali.
Kami bertatapan mesra.
“Lucu ya sayang? Kamu inget kan, waktu kita pertama kali ketemu lagi? Aku udah langsung jatuh cinta sama kamu saat itu. Aku aja bingung, kok bisa aku secepat itu jatuh cinta? Aku juga patah hati banget, waktu denger dari Mbak Adelle, kamu udah punya pacar. Tapi, kamu inget kan waktu aku ke rumah kamu dan kamu sakit itu?” Afei bertanya.
Aku mengangguk. Tentu saja, aku ingat dengan jelas kejadian saat itu.
“Itu adalah tindakan paling nekat yang pernah aku lakukan. Aku sampe sekarang ga habis fikir, kok bisa sih aku senekat itu? Aku udah ngerasain cinta yang besar buat kamu saat itu. Aku ga bisa tahan! Bodo deh, mau di bilang apa juga.” Afei terkikih geli.
Aku ikut tersenyum. Peristiwa itu memang merubah semuanya. Secara tidak langsung, kami saling mengungkapkan perasaan kami saat itu.
“Terus pas kamu cium aku di sana, aku ngerasain getaran yang… Aku gak bisa jelasin kayak apa. Perasaan yang indah banget. Aku ga tahan pengen ngomong aja, kalo aku jatuh cinta sama kamu waktu itu. Dan aku juga ngerasain, kalo kamu juga jatuh cinta kan sama aku ?” Afei bertanya sambil tersenyum. Matanya melirik jahil dan lucu.
“Banget sayang. aku… waktu itu malah, ga mau kamu tinggalin. Aku mau bilang ke kamu, jangan pulang. Temenin aku aja.” Aku berkata jujur.
Wajah Afei merona merah. Afei langsung mencium bibirku. Sebuah getaran hebat kembali merasuk ke jiwaku. Aku bisa merasakan cintanya yang besar. Cinta yang tidak akan bisa kami tahan.
Afei kemudian merubah posisinya. Dia merebahkan tubuhnya, dan kepalanya berada di pangkuanku.
Kami berpandangan dan saling tersenyum. 3 tahun lebih kami berpacaran, sekalipun tidak pernah bertengkar. Aneh sekali. rasa saling mengerti di antara kami, begitu besar. Tentu saja Afei dan aku pernah melakukan kesalahan, terutama, yang berkaitan dengan perbedaan kebiasaan kami. Tapi, tidak pernah berakhir dengan perselisihan.
“Kamu..kamu…harus nikah sama aku!! Ga boleh sama orang lain.” Afei tiba-tiba merajuk.
Aku sedikit tertawa dengan sifat manjanya itu. Aku suka sekali.
“Kalo ga boleh sama papi bobo ho gimana?” Aku bercanda.
“Ada dua pilihan. Aku kabur dari rumah sama kamu, atau kalo kamu ga mau itu, nanti siapapun yang nikah sama kamu, aku isengin seumur hidup. Aku rusuhin!!” Afei berkata sok galak. Tapi wajah cantiknya malah membuatku gemas.
“Iihh aku takut.” Aku meledeknya.
Sepertinya tidak akan ada yang takut kalau Afei marah seperti itu. Wajahnya terlalu imut.
Dasar Sanchai!!
“Aaaaa kamu mah gituuuu.. ga mau ya nikah sama aku?” Afei merajuk kembali.
Aku tertawa terbahak-bahak.
“Emang aku ngomong gitu? Aku tuh sayang banget sama kamu, tau gak?”
Afei kembali tersenyum dan menggenggam jemariku erat.
Aku melihat jam tangan.
Masih jam 9 pagi, dan kami sudah selesai beres-beres. Masih ada waktu 3 jam lagi sampai check out. Aku rasa ini saat yang tepat untuk sebuah obrolan serius.
“Sayang, bangun deh. Aku mau ngomong serius boleh?” Ujarku.
Afei menurutiku. Kami kemudian duduk di kursi dengan meja bundar di tengahnya. Kami duduk saling berhadapan.
“Sayang.” Aku memanggilnya. Afei langsung melihatku.
“Tinggal sedikit lagi kan? Aku mau kasih tau, aku udah siap menghadap orang tua kamu. Aku akan hadapi semua resikonya. Rencana kamu gimana?” Aku bertanya ke Afei.
Afei menarik nafas berat. Wajahnya yang tadi ceria, tiba-tiba mendung. Aku menenangkannya dengan menggenggam jemarinya.
“Akhirnya, kita sampai ke tahap ini ya Gol?” Ujar Afei.
Matanya menerawang ke luar jendela. Terlihat Meilan dan Connie yang sedang bermain air di kolam renang.
“Gak ada acara lain ya, sayang? Harus ngadep keluargaku?” Tanyanya lagi.
Aku tersenyum dan menggeleng.
“Resikonya besar kan? Kamu bisa aja dibenci keluargaku, terutama Ko Afung. Dan kita bisa aja dipaksa berpisah. Terus, hubungan keluarga kita yang selama ini sangat baik, bisa rusak. Aku mau kok, Ka-win lari sama kamu. Gak usah ngadep keluargaku, Gol.” Afei berbicara. Ada nada putus asa di suaranya.
Aku mendekatkan wajahku.
“Justru kalo kita ka-win lari, segalanya akan lebih rumit, sayang. Kita itu bertetangga. Keluargaku berteman baik sama keluarga kamu. Mau lari kemana? Nanti mereka yang ribut dong.” Aku berkata sambil tersenyum.
“Aku memang dididik seperti ini sama Ayah. Hormati semua orang. Terutama orang tua. Aku gak takut !! Aku akan hadapi, dan aku akan pastikan, kamu baik-baik aja. Ini resiko kita sayang.” Aku melanjutkan.
Afei kemudian tersenyum.
“Kamu ke rumah aku, sabtu ini ya?” Afei akhirnya berkata. “Kenapa sabtu? Karena biasanya, keluargaku santai di rumah dan biasanya komplit. Paling Ko Afung saja yang sering ilang-ilangan. Dia gak punya jam kerja pasti. Nanti aku kasih pengantar ke Papi, kalo kamu mau ketemu.” Lanjutnya.
“Kamu mau bawa orang tua kamu langsung, atau kamu sendiri?” Afei bertanya.
“Aku sendiri dulu. Aku ga mau mengorbankan hubungan kedua orang tua kita. Walaupun pasti ada pengaruhnya sih. Dan lagi, aku ga mau keluargaku mempengaruhi keputusan orang tua kamu. Aku ingin lihat, reaksi alami mereka. Bagaimana cara orang tua kamu bersikap dan mengambil keputusan, tanpa harus sungkan sama keluargaku. Tapi kalo ada perubahan rencana, aku kasih tau.” Aku berkata.
Aku menggenggam tangannya, dan menciumnya mesra.
“Fei, kamu dulu pernah bilang, kamu punya rencana, untuk perbedaan kita. Aku boleh tau? Atau harus nunggu pas pertemuan?”Aku bertanya.
Afei menatapku dalam, dan mengeratkan genggamannya.
“Sayang, sebelum aku kasih tau rencanaku, aku cerita sedikit ya.” Afei berucap.
“Aku ga tau kalo keluarga Chinese yang lain, tapi dalam keluarga besarku, ada sentimen negative yang kuat terhadap dua hal: Muslim, dan pribumi. Aku, dari kecil udah di wanti-wanti, agar tidak menikahi pria dengan dua kondisi itu. Terutama, untuk kategori pertama. Kalau untuk berteman atau berpartner bisnis, ga ada masalah.” Afei menunduk.
“Ditambah, efek dari tragedy 98 lalu, Kamu masih inget kan?” Afei bertanya. Aku mengangguk.
Afei menghentikan perkataannya. Aku hanya bisa terdiam. Tiba-tiba, sebersit rasa ragu, terbit di hatiku. Dari ceritanya tadi, jika pun dia ingin mengikutiku, resikonya besar sekali. Aku adalah seorang family man, yang menempatkan keluarga di atas segalanya. Aku sampai rela mengikuti ayah agar tidak ada perpecahan antara ayah dengan Mbak Icha dan Clarissa.
“Tapi, beda dengan keluarga kamu.” Afei meneruskan. “Tante Ahmad pernah ngomong, syarat utama jadi istri kamu hanya seorang muslimah. Titik. Tidak ada embel-embel suku dan ras. Alasannya, suku dan ras sampai kapanpun tidak akan bisa di rubah. Sedangkan keyakinan, bisa saja berubah, tergantung dari perjalanan hidup seseorang. Tante Ahmad juga bilang, kalo nanti di saat akhir, aku tetap tidak dikasih hidayah, tolong lepaskan kamu pelan-pelan. Kita berteman baik dan bersahabat seperti biasa.”
“Tapi aku terkesan sama keluarga kamu. Nggak sekalipun, mereka membujuk aku untuk mengikuti kamu. Menyindir aja nggak. Malah waktu aku belajar puasa dulu itu, Tante Ahmad langsung ngamuk sama kamu kan? Dikira kamu maksa aku. Tante ahmad sayang banget sama aku. Dan itu terjadi, bukan waktu dia tahu kita pacaran aja ya, tapi dari aku kecil, nyokap kamu tuh care banget sama aku.”
“Terus, Clarissa, kakak angkat kamu, dia katolik kan?” Afei bertanya. “Itu membuktikan, kalo keluarga kamu sangat terbuka. Walaupun prinsip dasarnya tidak bisa diganggu gugat. Kalo menurut tante Ahmad, Agama adalah prinsip dasar hidup seseorang. Sangat sulit jika ada dua prinsip dalam satu bahtera rumah tangga. Kasihan anak-anaknya nanti.”
“Sayang, aku udah pertimbangkan semua. Dari keadaan-keadaan yang aku amati, dari diskusi-diskusiku dengan teman terdekatku, termasuk si eskrim. Dan setelah aku fikirkan matang-matang….” Afei berhenti sejenak, dan menarik nafas dalam.
“Aku akan ngikutin kamu sayang. Aku akan jadi mualaf.”
Afei berkata tanpa ragu, dan tersenyum.
Giliran aku yang membisu.
3 hari terlewati dengan indah. Kami semua bersenang-senang di sini. Bermain, belanja, berfoto, berwisata kuliner, semua sudah lakukan. Itu yang aku inginkan. Sayang tidak ada sahabatku yang lain terutama, Pacul atau Mbak Adelle.
Pacul tidak mau ikut serta dan lebih memilih liburan sendiri dengan istrinya. Jadwalnya bergantian tepat setelah kepulanganku dari Bali.
Spoiler for pacul:
Quote:
“Kenapa sayang?” Ujar Afei yang baru selesai mandi. Dia memakai baju berwarna kuning cerah kebesaran, dan wajahnya nampak segar. Afei nampaknya melihat aku sedang termenung.
“Ga papa sayang.” Aku tersenyum kepadanya.
Kekasih ku itu, selalu bisa menawan hatiku. Aku gemas, dan tiba-tiba timbul hasrat yang menggelora terhadapnya. Ingin sekali aku memeluknya, membawanya ke ranjang, menciuminya, lalu…
Aduuhh, cobaannya begini banget yak?
Kadang aku berharap menjadi orang yang santai, seperti Connie, dan beberapa temanku yang lain. Tidak di bebani oleh prinsip-prinsip. Mungkin, 3 hari yang lalu, akan menjadi hari-hari paling indah antara aku dan Afei. Tapi, segera kusingkirkan pikiran itu. Prinsipku tidak akan kurubah. Sex after marriage. Keperawanan seorang wanita adalah hal yang harus dijaga.
Munafik? Ada perbedaan mendasar antara munafik dan memegang teguh prinsip.
“Sayang, nikah sekarang aja yuk sekarang. Terus kita tinggal di sini !!”
Mulutku tidak bisa kukontrol. Cinta yang meluap adalah penyebabnya.
“Aku ga mau kalo di sini. Walaupun indah, di sini bukan tempat yang aku tuju.” Afei berbisik. “Aku pengen tinggal di desa yang tenang. Kita explore lagi yuk kapan-kapan.” Lanjutnya.
Aku mengangguk dan tersenyum. Aku tau persis, seperti apa tempat yang diinginkannya.
Afei kemudian duduk di sofa, bersebelahan denganku. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku, lalu memeluk tubuhku erat.
“Makasih ya sayang, buat semuanya. Buat cinta kamu yang besar banget, buat semua effort kamu, buat semua kebaikan kamu. Aku mau bilang, aku juga punya cinta yang sama besarnya buat kamu. Buat aku, kamu tuh udah segalanya.” Afei berkata kembali.
Kami bertatapan mesra.
“Lucu ya sayang? Kamu inget kan, waktu kita pertama kali ketemu lagi? Aku udah langsung jatuh cinta sama kamu saat itu. Aku aja bingung, kok bisa aku secepat itu jatuh cinta? Aku juga patah hati banget, waktu denger dari Mbak Adelle, kamu udah punya pacar. Tapi, kamu inget kan waktu aku ke rumah kamu dan kamu sakit itu?” Afei bertanya.
Aku mengangguk. Tentu saja, aku ingat dengan jelas kejadian saat itu.
“Itu adalah tindakan paling nekat yang pernah aku lakukan. Aku sampe sekarang ga habis fikir, kok bisa sih aku senekat itu? Aku udah ngerasain cinta yang besar buat kamu saat itu. Aku ga bisa tahan! Bodo deh, mau di bilang apa juga.” Afei terkikih geli.
Aku ikut tersenyum. Peristiwa itu memang merubah semuanya. Secara tidak langsung, kami saling mengungkapkan perasaan kami saat itu.
“Terus pas kamu cium aku di sana, aku ngerasain getaran yang… Aku gak bisa jelasin kayak apa. Perasaan yang indah banget. Aku ga tahan pengen ngomong aja, kalo aku jatuh cinta sama kamu waktu itu. Dan aku juga ngerasain, kalo kamu juga jatuh cinta kan sama aku ?” Afei bertanya sambil tersenyum. Matanya melirik jahil dan lucu.
“Banget sayang. aku… waktu itu malah, ga mau kamu tinggalin. Aku mau bilang ke kamu, jangan pulang. Temenin aku aja.” Aku berkata jujur.
Wajah Afei merona merah. Afei langsung mencium bibirku. Sebuah getaran hebat kembali merasuk ke jiwaku. Aku bisa merasakan cintanya yang besar. Cinta yang tidak akan bisa kami tahan.
Afei kemudian merubah posisinya. Dia merebahkan tubuhnya, dan kepalanya berada di pangkuanku.
Kami berpandangan dan saling tersenyum. 3 tahun lebih kami berpacaran, sekalipun tidak pernah bertengkar. Aneh sekali. rasa saling mengerti di antara kami, begitu besar. Tentu saja Afei dan aku pernah melakukan kesalahan, terutama, yang berkaitan dengan perbedaan kebiasaan kami. Tapi, tidak pernah berakhir dengan perselisihan.
“Kamu..kamu…harus nikah sama aku!! Ga boleh sama orang lain.” Afei tiba-tiba merajuk.
Aku sedikit tertawa dengan sifat manjanya itu. Aku suka sekali.
“Kalo ga boleh sama papi bobo ho gimana?” Aku bercanda.
Quote:
“Ada dua pilihan. Aku kabur dari rumah sama kamu, atau kalo kamu ga mau itu, nanti siapapun yang nikah sama kamu, aku isengin seumur hidup. Aku rusuhin!!” Afei berkata sok galak. Tapi wajah cantiknya malah membuatku gemas.
“Iihh aku takut.” Aku meledeknya.
Sepertinya tidak akan ada yang takut kalau Afei marah seperti itu. Wajahnya terlalu imut.
Dasar Sanchai!!
“Aaaaa kamu mah gituuuu.. ga mau ya nikah sama aku?” Afei merajuk kembali.
Aku tertawa terbahak-bahak.
“Emang aku ngomong gitu? Aku tuh sayang banget sama kamu, tau gak?”
Afei kembali tersenyum dan menggenggam jemariku erat.
Aku melihat jam tangan.
Masih jam 9 pagi, dan kami sudah selesai beres-beres. Masih ada waktu 3 jam lagi sampai check out. Aku rasa ini saat yang tepat untuk sebuah obrolan serius.
“Sayang, bangun deh. Aku mau ngomong serius boleh?” Ujarku.
Afei menurutiku. Kami kemudian duduk di kursi dengan meja bundar di tengahnya. Kami duduk saling berhadapan.
“Sayang.” Aku memanggilnya. Afei langsung melihatku.
“Tinggal sedikit lagi kan? Aku mau kasih tau, aku udah siap menghadap orang tua kamu. Aku akan hadapi semua resikonya. Rencana kamu gimana?” Aku bertanya ke Afei.
Afei menarik nafas berat. Wajahnya yang tadi ceria, tiba-tiba mendung. Aku menenangkannya dengan menggenggam jemarinya.
“Akhirnya, kita sampai ke tahap ini ya Gol?” Ujar Afei.
Matanya menerawang ke luar jendela. Terlihat Meilan dan Connie yang sedang bermain air di kolam renang.
“Gak ada acara lain ya, sayang? Harus ngadep keluargaku?” Tanyanya lagi.
Aku tersenyum dan menggeleng.
“Resikonya besar kan? Kamu bisa aja dibenci keluargaku, terutama Ko Afung. Dan kita bisa aja dipaksa berpisah. Terus, hubungan keluarga kita yang selama ini sangat baik, bisa rusak. Aku mau kok, Ka-win lari sama kamu. Gak usah ngadep keluargaku, Gol.” Afei berbicara. Ada nada putus asa di suaranya.
Aku mendekatkan wajahku.
“Justru kalo kita ka-win lari, segalanya akan lebih rumit, sayang. Kita itu bertetangga. Keluargaku berteman baik sama keluarga kamu. Mau lari kemana? Nanti mereka yang ribut dong.” Aku berkata sambil tersenyum.
“Aku memang dididik seperti ini sama Ayah. Hormati semua orang. Terutama orang tua. Aku gak takut !! Aku akan hadapi, dan aku akan pastikan, kamu baik-baik aja. Ini resiko kita sayang.” Aku melanjutkan.
Afei kemudian tersenyum.
“Kamu ke rumah aku, sabtu ini ya?” Afei akhirnya berkata. “Kenapa sabtu? Karena biasanya, keluargaku santai di rumah dan biasanya komplit. Paling Ko Afung saja yang sering ilang-ilangan. Dia gak punya jam kerja pasti. Nanti aku kasih pengantar ke Papi, kalo kamu mau ketemu.” Lanjutnya.
“Kamu mau bawa orang tua kamu langsung, atau kamu sendiri?” Afei bertanya.
“Aku sendiri dulu. Aku ga mau mengorbankan hubungan kedua orang tua kita. Walaupun pasti ada pengaruhnya sih. Dan lagi, aku ga mau keluargaku mempengaruhi keputusan orang tua kamu. Aku ingin lihat, reaksi alami mereka. Bagaimana cara orang tua kamu bersikap dan mengambil keputusan, tanpa harus sungkan sama keluargaku. Tapi kalo ada perubahan rencana, aku kasih tau.” Aku berkata.
Aku menggenggam tangannya, dan menciumnya mesra.
“Fei, kamu dulu pernah bilang, kamu punya rencana, untuk perbedaan kita. Aku boleh tau? Atau harus nunggu pas pertemuan?”Aku bertanya.
Afei menatapku dalam, dan mengeratkan genggamannya.
“Sayang, sebelum aku kasih tau rencanaku, aku cerita sedikit ya.” Afei berucap.
“Aku ga tau kalo keluarga Chinese yang lain, tapi dalam keluarga besarku, ada sentimen negative yang kuat terhadap dua hal: Muslim, dan pribumi. Aku, dari kecil udah di wanti-wanti, agar tidak menikahi pria dengan dua kondisi itu. Terutama, untuk kategori pertama. Kalau untuk berteman atau berpartner bisnis, ga ada masalah.” Afei menunduk.
“Ditambah, efek dari tragedy 98 lalu, Kamu masih inget kan?” Afei bertanya. Aku mengangguk.
Afei menghentikan perkataannya. Aku hanya bisa terdiam. Tiba-tiba, sebersit rasa ragu, terbit di hatiku. Dari ceritanya tadi, jika pun dia ingin mengikutiku, resikonya besar sekali. Aku adalah seorang family man, yang menempatkan keluarga di atas segalanya. Aku sampai rela mengikuti ayah agar tidak ada perpecahan antara ayah dengan Mbak Icha dan Clarissa.
“Tapi, beda dengan keluarga kamu.” Afei meneruskan. “Tante Ahmad pernah ngomong, syarat utama jadi istri kamu hanya seorang muslimah. Titik. Tidak ada embel-embel suku dan ras. Alasannya, suku dan ras sampai kapanpun tidak akan bisa di rubah. Sedangkan keyakinan, bisa saja berubah, tergantung dari perjalanan hidup seseorang. Tante Ahmad juga bilang, kalo nanti di saat akhir, aku tetap tidak dikasih hidayah, tolong lepaskan kamu pelan-pelan. Kita berteman baik dan bersahabat seperti biasa.”
“Tapi aku terkesan sama keluarga kamu. Nggak sekalipun, mereka membujuk aku untuk mengikuti kamu. Menyindir aja nggak. Malah waktu aku belajar puasa dulu itu, Tante Ahmad langsung ngamuk sama kamu kan? Dikira kamu maksa aku. Tante ahmad sayang banget sama aku. Dan itu terjadi, bukan waktu dia tahu kita pacaran aja ya, tapi dari aku kecil, nyokap kamu tuh care banget sama aku.”
“Terus, Clarissa, kakak angkat kamu, dia katolik kan?” Afei bertanya. “Itu membuktikan, kalo keluarga kamu sangat terbuka. Walaupun prinsip dasarnya tidak bisa diganggu gugat. Kalo menurut tante Ahmad, Agama adalah prinsip dasar hidup seseorang. Sangat sulit jika ada dua prinsip dalam satu bahtera rumah tangga. Kasihan anak-anaknya nanti.”
“Sayang, aku udah pertimbangkan semua. Dari keadaan-keadaan yang aku amati, dari diskusi-diskusiku dengan teman terdekatku, termasuk si eskrim. Dan setelah aku fikirkan matang-matang….” Afei berhenti sejenak, dan menarik nafas dalam.
“Aku akan ngikutin kamu sayang. Aku akan jadi mualaf.”
Afei berkata tanpa ragu, dan tersenyum.
Giliran aku yang membisu.
yuaufchauza dan 19 lainnya memberi reputasi
20