- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.7K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#109
Part 105 Kaki Tangan
Malam yang cukup menegangkan sudah mereka lewati dengan begitu dramatis. Pagi ini mereka bersama-sama memperbaiki rumah Yudis yang cukup berantakan. Bahkan simbol-simbol penangkal werewolf mereka buat ulang di beberapa sudut. Seperti pintu, jendela dan semua jalan keluar masuk yang memungkinkan mereka datang.
Gio datang dengan tampang lesu dan lingkar hitam di bawah matanya. Beberapa kali ia terlihat menguap menahan rasa kantuk yang amat dahsyat. Sudah dapat dipastikan kalau semalaman pasti dia tidak tidur.
"Wow, ada apa ini?" tanya Gio saat melihat kondisi rumah ini tidak sama seperti saat kemarin ia tinggalkan.
"Biasa. Ada serangan, Om," sahut Vin santai, sambil memukul daun pintu dengan palu.
"Gimana di sana?" potong Abi yang memang penasaran dengan keadaan para Lycanoid yang sudah mereka kumpulkan semalam.
Gio duduk di kursi yang ada di teras, menarik nafas panjang dan mengembuskannya kasar. Allea muncul dengan nampan yang berisi beberapa cangkir kopi. "Diminum dulu, Om, biar segeran."
'Terima kasih, All." Gio meraih satu cangkir kopi buatan Allea. Ia mengernyit, sambil menatap sekitar dan juga ke dalam melalui jendela, "Ellea mana?"
"Oh, dia lagi istirahat. Kecapekan."
"Kenapa memangnya?"
Abimanyu menempatkan diri duduk di kursi samping Gio, "mungkin Ellea belum terbiasa sama kemampuannya yang baru. Semalam dia habis-habisan ngeluarin kekuatannya, dan sekarang masih tidur."
"Wow, nggak sangka kalau dia bisa sehebat itu," puji Gio sambil terus menyesap kopi hangat miliknya.
"Tapi semua ada konsekuensinya," sahut Yudis yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Mereka menghentikan sejenak kegiatan mereka, dan berdiskusi hal ini terlebih dahulu. Allea kembali masuk ke dalam untuk melihat kondisi Ellea dan Maya yang sama-sama masih tidur di kamar mereka. Keduanya terlihat sangat kelelahan akibat kejadian semalam. Tenaga mereka bagai terkuras habis.
"Jadi siapa mereka?" tanya Abi menatap ke Rendra. Pemuda itu yang kini menjadi satu koloni dengan Abi, lantas duduk begitu saja di sebuah batu yang ada di depan teras, peluhnya terlihat membanjiri wajah dan tubuhnya yang sedang bertelanjang dada. Barisan ototnya tampak menonjol. Biasanya kaum hawa akan sangat terkesima melihat tubuh macam Rendra yang atletis ini.
"Mereka Dante dan Danial. Mereka berdua adalah anggota pack terlemah, dan kini Ares kembali kehilangan anggotanya lagi. Tapi ini tentu bukan kabar bagus, karena aku yakin, dia dan Ax pasti akan lebih gencar menularkan manusia agar berubah."
"Hm. Paman sendiri bagaimana? Semalam?"
Gio menatap lurus ke depan, mengingat hal luar biasa yang ia alami semalam bersama para makhluk mengerikan itu. "Yang pasti, semua orang yang kita tangkap memang bagian dari Lycanoid. Mereka berubah secara bersamaan setelah terdengar lolongan serigala. Untung jeruji besi di penjara mampu membuat mereka tidak ke mana-mana."
"Lolongan serigala? Bukannya mereka berubah jika terkena sinar bulan, atau melihat bulan purnama, Om?" tanya Vin.
"Entahlah, gue juga nggak ngerti. Tapi inget banget, setelah suara itu muncul, mereka mulai tidak terkendali dan berubah wujud. Beberapa penjaga di sana sempat kebingungan, tapi untuk gue berhasil meyakinkan mereka. Dan sekarang, semua warga pasti sudah tau tentang teror werewolf ini. Kalian tau, kan, kalau gosip akan cepat tersebar di desa ini. Apalagi tentang hal buruk seperti ini, jadi kita harus bersiap menenangkan mereka. Ough, gue butuh tidur sekarang!" gerutu Gio. Wajahnya sudah kacau sekali, dan dia memang benar-benar butuh tidur.
__________
Abimanyu dan Vin datang ke cafe. Mereka sudah absen beberapa hari karena masih sibuk dengan masalah ini. Jadi cafe memang tetap buka dan di urus sementara oleh Joe, Rain, dan Marchel. Suasana cafe masih sama seperti biasanya. Ramai oleh beberapa pengunjung, tapi terlihat sedikit aneh. Beberapa dari mereka tampak lebih pucat dari biasanya.
Rendra menyusul dua temannya itu. Ia juga menyadari keanehan di cafe milik Abimanyu ini. Mereka sadar, sekarang mereka benar-benar harus bertindak lebih tegas. Dan warga memang seharusnya sudah tau tentang tragedi yang menimpa desa. Untuk saling menjaga dan waspada jika ada dari mereka yang ternyata Lycanoid baru.
"Lah, kok ke sini, Ren?" tanya Vin yang terkejut melihat Rendra muncul.
"Kita harus kumpulkan warga dan memeriksa mereka satu persatu untuk mencari Lycanoid. Aku yakin Ares lebih gencar mengambil korban-korbannya. Dan kalau kita nggak bergerak cepat, seluruh warga desa pasti sudah diubah oleh mereka!"
"Bagaimana cara kita tau siapa saja Lycanoid?"
"Aku bisa mengendusnya, tapi dari jarak dekat. Dan sebenarnya aku curiga dengan semua manusia di tempat ini," bisik Rendra sambil menatap sekitarnya.
"Kenapa?"
"Mereka semua terinfeksi!"
"WTF!" umpat Vin.
"Kau yakin, Ren?" tanya Abi, memastikan lagi.
"Yah, lihat wajah mereka. Pucat. Artinya mereka sebentar lagi akan kelaparan dan harus makan. Yang pasti malam nanti akan lebih berat dari malam sebelumnya. Ares benar-benar mengibarkan bendera perang pada kita!"
"Waw, itu sangat menghibur, kawan," cetus Vin.
"Lebih baik kita ke rumah kepala desa, kita harus meminta sarannya. Masalah ini sudah makin pelik, kan? Kita nggak mungkin bisa bergerak sendiri dan sembunyi-sembunyi lagi. Kita harus kerja sama," saran Abi. Rendra dan Vin mengangguk setuju.
Mereka akhirnya pergi ke rumah kepala desa dengan mengendarai mobil Abimanyu. Cafe ia tinggalkan dengan sebuah pesan ke Joe, kalau mereka harus menutup cafe sebelum malam hari.
"Pak Yudis ke mana?" tanya Abi sambil fokus ke kemudinya.
"Dia sedang meracik ramuan untuk Maya. Dan kalau bisa untuk warga yang belum terlanjur minum darah manusia."
"Apakah itu akan berhasil, Ren?" tanya Vin.
"Tenang saja. Dia cukup handal. Semoga saja, ramuan itu bukan hanya untuk menahan hasrat untuk berubah dan membunuh, tapi benar-benar menyembuhkan mereka."
"Yah, semoga saja."
Sampailah di rumah kepala desa. Namanya Ronal. Pria itu berumur 50 tahun dengan menjabar sebagai kepala desa selama 2 periode. Tubuhnya yang tegap dan gagah sangat cocok dijadikan seorang pemimpin. Ronal juga salah satu teman Arya dulu. Maka dari itu, Abi yakin kalau dia bisa diandalkan. Karena mereka sekarang sangat membutuhkan seseorang yang mempercayai hal aneh dan tidak masuk akal. Karena tidak semua orang akan mempercayai cerita werewolf yang kini berkeliaran di lingkungan mereka, kan?
"Loh, Abi?! Tumben kau ke sini?" tanya Ronal begitu dia membuka pintu rumahnya.
"Ada hal penting yang harus kami bicarakan, Pak," kata Abi serius.
"Yah, sudah bisa terbaca dengan kedatanganmu. Mari masuk," ajak Ronal.
Rumah Ronal ada di dekat gerbang desa, maka dari itu dia jarang mengetahui keadaan di dalam desa jika tidak ada orang yang melaporkannya. Apalagi Ronal termasuk orang sibuk yang juga sering pergi ke kota atau desa lain.
"Jadi ada apa? Kalian tidak membawa teroris lagi ke desa kita, kan?" sindirnya, yang masih mengingat kejadian lampau yang sudah memporak-porandakan desa mereka.
"Yah, kurang lebihnya hampir sama, Pak. Kali ini kita kedatangan tamu, yang sudah membuat warga desa yang lain berubah menjadi makhluk mengerikan. Bapak ingat kematian Pak Rahmat?"
"Ya. Lalu?"
"Beberapa warga desa banyak yang menghilang, kan? Mereka sudah berubah, bukan menjadi manusia seutuhnya lagi."
"Maksud kalian, mereka menjadi ... zombie?"
"Werewolf, lebih tepatnya."
"Apa?! Kalian nggak bercanda, kan?" desah Ronal masih tidak yakin atas perkataan mereka bertiga.
"Kami serius!"
"Eum, baiklah. Beri aku bukti, baru aku akan percaya."
"Kita sudah nggak punya waktu lagi untuk membuktikan, karena sekarang juga, kita harus mengumpulkan warga untuk memilih, mana warga yang masih murni manusia, mana yang sudah terinfeksi. Dan, saat malam datang, anda akan tau kebenarannya, Pak."
"Bi, Pak Kades nggak tau soal penjara semalam?" bisik Vin.
"Hm, entahlah."
"Penjara? Kenapa?"
Dan cerita tentang beberapa warga yang kini sudah ada di dalam jeruji besi, menjadi topik hangat bagi mereka. Dan, untuk meyakinkan Ronal, mereka memutuskan pergi ke penjara guna memberikan dia bukti.
"Kalian pergi saja dulu. Aku harus mencari watcher. Pasti dia salah satu warga di desa ini," kata Rendra.
"Watcher?!"
"Orang yang menjadi kaki tangan werewolf dan musuh dalam selimut manusia. Pasti dia yang sudah mencorat coret simbol di rumah Pak Yudistira. Aku harus segera menemukannya, kalau tidak, dia akan melakukan hal yang sama lagi nanti." Perkataan Rendra memang sangat masuk akal.
"Oke."
Mereka berpencar untuk melakukan tugas masing-masing. Rendra yang terbiasa bergerak sendiri mulai menelusuri pengkhianat yang sudah merugikan mereka, hingga Lycans bisa masuk ke rumah Yudis. Ia yakin, kalau orang itu ada di antara mereka. Dan Rendra harus segera menemukannya. Karena sekuat apa pun mereka membuat penangkal werewolf, jika masih ada wathcer di antara mereka, maka semua akan percuma.
Ronal tampak terkejut melihat beberapa orang warganya yang berada di balik jeruji besi. Beberapa petugas polisi yang berjaga, bingung harus menjelaskan apa tentang penangkapan massal warga desa yang dilakukan oleh Abi, Gio, dan Vin. Tidak ada yang berani melawan Abimanyu di desa itu. Semua tau sepak terjang Abi yang telah beberapa kali membuat gempar desa Amethys.
"Ini?" tanya Ronal meminta penjelasan. Ia menunjuk ke sel-sel tahanan yang ini penuh sesak.
"Kami bisa jelaskan. Eum, Pak, bisa tolong perlihatkan CCTV semalam?" pinta Abi ke petugas jaga. Ia mengangguk dan membawa mereka ke sebuah ruangan lain di ujung koridor.
Kejadian peristiwa semalam memang sengaja di rekam, untuk membuktikan kalau ucapan Abi bukan omong kosong belaka. Hal yang tidak masuk di alak memang seharusnya dilengkapi bukti yang nyata, agar mereka percaya dan mengerti. Ronal melongo sambil geleng-geleng kepala melihat menit demi menit kejadian itu. Hal aneh yang akan tidak ia percayai jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri. "Ini gila!" gumamnya. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ronal lagi.
"Gini, Pak. Kita harus mengumpulkan warga. Semua warga. Nanti kita akan pilih, mana warga yang sudah terinfeksi, mana yang belum. Warga yang sudah terinfeksi, harus di karantina. Terutama jika hari sudah menjelang malam. Karena di saat-saat seperti itu, mereka akan berubah," jelas Abimanyu.
"Sebentar. Bukannya, kalau setahu saya, manusia macam ini akan berubah saat bulan purnama, kan?" tanya Ronal. "Seenggaknya saya sering menonton film macam ini."
"Mereka lain, Pak. Karena perubahan mereka terjadi bukan hanya karena bulan purnama saja, tapi karena panggilan dari alpha-nya," tukas Vin.
"Alpha?"
"Yah, semacam pemimpinnya. Dia juga yang mengubah mereka semua menjadi makhluk mengerikan itu."
"Ada, kah, cara untuk menyembuhkan mereka?" tanya Ronal dengan penuh harap.
"Pak Yudis sedang mencari cara. Dia bilang ada ramuan yang bisa menetralisir atau menahan hasrat membunuh dan memakan manusia yang memang pasti ada dalam diri mereka. Yah, semoga berhasil."
Gio datang dengan tampang lesu dan lingkar hitam di bawah matanya. Beberapa kali ia terlihat menguap menahan rasa kantuk yang amat dahsyat. Sudah dapat dipastikan kalau semalaman pasti dia tidak tidur.
"Wow, ada apa ini?" tanya Gio saat melihat kondisi rumah ini tidak sama seperti saat kemarin ia tinggalkan.
"Biasa. Ada serangan, Om," sahut Vin santai, sambil memukul daun pintu dengan palu.
"Gimana di sana?" potong Abi yang memang penasaran dengan keadaan para Lycanoid yang sudah mereka kumpulkan semalam.
Gio duduk di kursi yang ada di teras, menarik nafas panjang dan mengembuskannya kasar. Allea muncul dengan nampan yang berisi beberapa cangkir kopi. "Diminum dulu, Om, biar segeran."
'Terima kasih, All." Gio meraih satu cangkir kopi buatan Allea. Ia mengernyit, sambil menatap sekitar dan juga ke dalam melalui jendela, "Ellea mana?"
"Oh, dia lagi istirahat. Kecapekan."
"Kenapa memangnya?"
Abimanyu menempatkan diri duduk di kursi samping Gio, "mungkin Ellea belum terbiasa sama kemampuannya yang baru. Semalam dia habis-habisan ngeluarin kekuatannya, dan sekarang masih tidur."
"Wow, nggak sangka kalau dia bisa sehebat itu," puji Gio sambil terus menyesap kopi hangat miliknya.
"Tapi semua ada konsekuensinya," sahut Yudis yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Mereka menghentikan sejenak kegiatan mereka, dan berdiskusi hal ini terlebih dahulu. Allea kembali masuk ke dalam untuk melihat kondisi Ellea dan Maya yang sama-sama masih tidur di kamar mereka. Keduanya terlihat sangat kelelahan akibat kejadian semalam. Tenaga mereka bagai terkuras habis.
"Jadi siapa mereka?" tanya Abi menatap ke Rendra. Pemuda itu yang kini menjadi satu koloni dengan Abi, lantas duduk begitu saja di sebuah batu yang ada di depan teras, peluhnya terlihat membanjiri wajah dan tubuhnya yang sedang bertelanjang dada. Barisan ototnya tampak menonjol. Biasanya kaum hawa akan sangat terkesima melihat tubuh macam Rendra yang atletis ini.
"Mereka Dante dan Danial. Mereka berdua adalah anggota pack terlemah, dan kini Ares kembali kehilangan anggotanya lagi. Tapi ini tentu bukan kabar bagus, karena aku yakin, dia dan Ax pasti akan lebih gencar menularkan manusia agar berubah."
"Hm. Paman sendiri bagaimana? Semalam?"
Gio menatap lurus ke depan, mengingat hal luar biasa yang ia alami semalam bersama para makhluk mengerikan itu. "Yang pasti, semua orang yang kita tangkap memang bagian dari Lycanoid. Mereka berubah secara bersamaan setelah terdengar lolongan serigala. Untung jeruji besi di penjara mampu membuat mereka tidak ke mana-mana."
"Lolongan serigala? Bukannya mereka berubah jika terkena sinar bulan, atau melihat bulan purnama, Om?" tanya Vin.
"Entahlah, gue juga nggak ngerti. Tapi inget banget, setelah suara itu muncul, mereka mulai tidak terkendali dan berubah wujud. Beberapa penjaga di sana sempat kebingungan, tapi untuk gue berhasil meyakinkan mereka. Dan sekarang, semua warga pasti sudah tau tentang teror werewolf ini. Kalian tau, kan, kalau gosip akan cepat tersebar di desa ini. Apalagi tentang hal buruk seperti ini, jadi kita harus bersiap menenangkan mereka. Ough, gue butuh tidur sekarang!" gerutu Gio. Wajahnya sudah kacau sekali, dan dia memang benar-benar butuh tidur.
__________
Abimanyu dan Vin datang ke cafe. Mereka sudah absen beberapa hari karena masih sibuk dengan masalah ini. Jadi cafe memang tetap buka dan di urus sementara oleh Joe, Rain, dan Marchel. Suasana cafe masih sama seperti biasanya. Ramai oleh beberapa pengunjung, tapi terlihat sedikit aneh. Beberapa dari mereka tampak lebih pucat dari biasanya.
Rendra menyusul dua temannya itu. Ia juga menyadari keanehan di cafe milik Abimanyu ini. Mereka sadar, sekarang mereka benar-benar harus bertindak lebih tegas. Dan warga memang seharusnya sudah tau tentang tragedi yang menimpa desa. Untuk saling menjaga dan waspada jika ada dari mereka yang ternyata Lycanoid baru.
"Lah, kok ke sini, Ren?" tanya Vin yang terkejut melihat Rendra muncul.
"Kita harus kumpulkan warga dan memeriksa mereka satu persatu untuk mencari Lycanoid. Aku yakin Ares lebih gencar mengambil korban-korbannya. Dan kalau kita nggak bergerak cepat, seluruh warga desa pasti sudah diubah oleh mereka!"
"Bagaimana cara kita tau siapa saja Lycanoid?"
"Aku bisa mengendusnya, tapi dari jarak dekat. Dan sebenarnya aku curiga dengan semua manusia di tempat ini," bisik Rendra sambil menatap sekitarnya.
"Kenapa?"
"Mereka semua terinfeksi!"
"WTF!" umpat Vin.
"Kau yakin, Ren?" tanya Abi, memastikan lagi.
"Yah, lihat wajah mereka. Pucat. Artinya mereka sebentar lagi akan kelaparan dan harus makan. Yang pasti malam nanti akan lebih berat dari malam sebelumnya. Ares benar-benar mengibarkan bendera perang pada kita!"
"Waw, itu sangat menghibur, kawan," cetus Vin.
"Lebih baik kita ke rumah kepala desa, kita harus meminta sarannya. Masalah ini sudah makin pelik, kan? Kita nggak mungkin bisa bergerak sendiri dan sembunyi-sembunyi lagi. Kita harus kerja sama," saran Abi. Rendra dan Vin mengangguk setuju.
Mereka akhirnya pergi ke rumah kepala desa dengan mengendarai mobil Abimanyu. Cafe ia tinggalkan dengan sebuah pesan ke Joe, kalau mereka harus menutup cafe sebelum malam hari.
"Pak Yudis ke mana?" tanya Abi sambil fokus ke kemudinya.
"Dia sedang meracik ramuan untuk Maya. Dan kalau bisa untuk warga yang belum terlanjur minum darah manusia."
"Apakah itu akan berhasil, Ren?" tanya Vin.
"Tenang saja. Dia cukup handal. Semoga saja, ramuan itu bukan hanya untuk menahan hasrat untuk berubah dan membunuh, tapi benar-benar menyembuhkan mereka."
"Yah, semoga saja."
Sampailah di rumah kepala desa. Namanya Ronal. Pria itu berumur 50 tahun dengan menjabar sebagai kepala desa selama 2 periode. Tubuhnya yang tegap dan gagah sangat cocok dijadikan seorang pemimpin. Ronal juga salah satu teman Arya dulu. Maka dari itu, Abi yakin kalau dia bisa diandalkan. Karena mereka sekarang sangat membutuhkan seseorang yang mempercayai hal aneh dan tidak masuk akal. Karena tidak semua orang akan mempercayai cerita werewolf yang kini berkeliaran di lingkungan mereka, kan?
"Loh, Abi?! Tumben kau ke sini?" tanya Ronal begitu dia membuka pintu rumahnya.
"Ada hal penting yang harus kami bicarakan, Pak," kata Abi serius.
"Yah, sudah bisa terbaca dengan kedatanganmu. Mari masuk," ajak Ronal.
Rumah Ronal ada di dekat gerbang desa, maka dari itu dia jarang mengetahui keadaan di dalam desa jika tidak ada orang yang melaporkannya. Apalagi Ronal termasuk orang sibuk yang juga sering pergi ke kota atau desa lain.
"Jadi ada apa? Kalian tidak membawa teroris lagi ke desa kita, kan?" sindirnya, yang masih mengingat kejadian lampau yang sudah memporak-porandakan desa mereka.
"Yah, kurang lebihnya hampir sama, Pak. Kali ini kita kedatangan tamu, yang sudah membuat warga desa yang lain berubah menjadi makhluk mengerikan. Bapak ingat kematian Pak Rahmat?"
"Ya. Lalu?"
"Beberapa warga desa banyak yang menghilang, kan? Mereka sudah berubah, bukan menjadi manusia seutuhnya lagi."
"Maksud kalian, mereka menjadi ... zombie?"
"Werewolf, lebih tepatnya."
"Apa?! Kalian nggak bercanda, kan?" desah Ronal masih tidak yakin atas perkataan mereka bertiga.
"Kami serius!"
"Eum, baiklah. Beri aku bukti, baru aku akan percaya."
"Kita sudah nggak punya waktu lagi untuk membuktikan, karena sekarang juga, kita harus mengumpulkan warga untuk memilih, mana warga yang masih murni manusia, mana yang sudah terinfeksi. Dan, saat malam datang, anda akan tau kebenarannya, Pak."
"Bi, Pak Kades nggak tau soal penjara semalam?" bisik Vin.
"Hm, entahlah."
"Penjara? Kenapa?"
Dan cerita tentang beberapa warga yang kini sudah ada di dalam jeruji besi, menjadi topik hangat bagi mereka. Dan, untuk meyakinkan Ronal, mereka memutuskan pergi ke penjara guna memberikan dia bukti.
"Kalian pergi saja dulu. Aku harus mencari watcher. Pasti dia salah satu warga di desa ini," kata Rendra.
"Watcher?!"
"Orang yang menjadi kaki tangan werewolf dan musuh dalam selimut manusia. Pasti dia yang sudah mencorat coret simbol di rumah Pak Yudistira. Aku harus segera menemukannya, kalau tidak, dia akan melakukan hal yang sama lagi nanti." Perkataan Rendra memang sangat masuk akal.
"Oke."
Mereka berpencar untuk melakukan tugas masing-masing. Rendra yang terbiasa bergerak sendiri mulai menelusuri pengkhianat yang sudah merugikan mereka, hingga Lycans bisa masuk ke rumah Yudis. Ia yakin, kalau orang itu ada di antara mereka. Dan Rendra harus segera menemukannya. Karena sekuat apa pun mereka membuat penangkal werewolf, jika masih ada wathcer di antara mereka, maka semua akan percuma.
Ronal tampak terkejut melihat beberapa orang warganya yang berada di balik jeruji besi. Beberapa petugas polisi yang berjaga, bingung harus menjelaskan apa tentang penangkapan massal warga desa yang dilakukan oleh Abi, Gio, dan Vin. Tidak ada yang berani melawan Abimanyu di desa itu. Semua tau sepak terjang Abi yang telah beberapa kali membuat gempar desa Amethys.
"Ini?" tanya Ronal meminta penjelasan. Ia menunjuk ke sel-sel tahanan yang ini penuh sesak.
"Kami bisa jelaskan. Eum, Pak, bisa tolong perlihatkan CCTV semalam?" pinta Abi ke petugas jaga. Ia mengangguk dan membawa mereka ke sebuah ruangan lain di ujung koridor.
Kejadian peristiwa semalam memang sengaja di rekam, untuk membuktikan kalau ucapan Abi bukan omong kosong belaka. Hal yang tidak masuk di alak memang seharusnya dilengkapi bukti yang nyata, agar mereka percaya dan mengerti. Ronal melongo sambil geleng-geleng kepala melihat menit demi menit kejadian itu. Hal aneh yang akan tidak ia percayai jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri. "Ini gila!" gumamnya. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ronal lagi.
"Gini, Pak. Kita harus mengumpulkan warga. Semua warga. Nanti kita akan pilih, mana warga yang sudah terinfeksi, mana yang belum. Warga yang sudah terinfeksi, harus di karantina. Terutama jika hari sudah menjelang malam. Karena di saat-saat seperti itu, mereka akan berubah," jelas Abimanyu.
"Sebentar. Bukannya, kalau setahu saya, manusia macam ini akan berubah saat bulan purnama, kan?" tanya Ronal. "Seenggaknya saya sering menonton film macam ini."
"Mereka lain, Pak. Karena perubahan mereka terjadi bukan hanya karena bulan purnama saja, tapi karena panggilan dari alpha-nya," tukas Vin.
"Alpha?"
"Yah, semacam pemimpinnya. Dia juga yang mengubah mereka semua menjadi makhluk mengerikan itu."
"Ada, kah, cara untuk menyembuhkan mereka?" tanya Ronal dengan penuh harap.
"Pak Yudis sedang mencari cara. Dia bilang ada ramuan yang bisa menetralisir atau menahan hasrat membunuh dan memakan manusia yang memang pasti ada dalam diri mereka. Yah, semoga berhasil."
regmekujo dan 4 lainnya memberi reputasi
5