- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.9K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#99
Part 95 Hewan Atau Manusia
Pintu cafe mulai dipasang papan bertuliskan "Close". Pengunjung mulai menyelesaikan makan mereka dan satu persatu beranjak pulang. Sebelum pulang selalu diadakan briefing harian guna membahas semua hal yang berkaitan penjualan dan suka duka yang dialami seharian.
"Kalian tau kasus penemuan mayat Pak Rahmat?" tanya Vin memulai pembicaraan setelah briefing selesai.
"Oh, iya, Bang. Ngeri! Tadi pas berangkat saja gue sempet ngeliat. Astaga. Nggak nafsu makan deh habis itu," kata Joe mengingat kejadian pagi tadi.
"Memangnya kalian nggak denger suara aneh begitu, Bang? Kan kejadiannya di dekat rumah Bang Abi?" tanya Rain penasaran. Wajar pertanyaan itu terlontar dari mulutnya, karena memang lokasi penemuan mayat sangat dekat dengan rumah Abimanyu.
"Heh! Kan kejadiannya mungkin sudah agak lama kata Pak Kades, mayatnya sudah lama di sana," bela Maya.
"Tunggu! Seberapa banyak kalian tau soal kasus ini? Katanya Pak Rahmat bukan korban pertama?" tanya Abimanyu. Ia memang ingin mendengar lebih rinci dari pandangan orang lain tentang masalah ini.
"Iya, Bang. Waktu korban pertama itu, saya ketemu mereka beberapa jam sebelum mereka ditemukan meninggal." Marcel angkat bicara, membuat mereka penasaran.
"Jam berapa elu ketemu dia, Cel?" tanya Gio yang duduk di dekat jendela sambil menyulut rokok.
"Sekitar jam-jam pulang kerja gini, Om. Kan saya kalau pulang jalan kaki, nah papasan sama mereka. Sempet saya dengar obrolan mereka waktu itu. Katanya si istri ngerasa denger suara berisik di belakang rumah. Dia ketakutan, dan mereka itu kalau nggak salah dalam perjalanan ke rumah Pak Kades buat lapor."
"Suara berisik yang kayak bagaimana? Kamu tau?"
"Katanya kayak garukan di pintu atau dinding."
"Terus?"
"Ya terus saya lanjut pulang. Eh besoknya mereka diketemukan sudah meninggal. Serem!" kata Marcel sambil bergidik ngeri.
"Menurut kalian apa yang membunuh mereka sampai mayatnya kayak gitu?" tanya Abimanyu serius.
"Kok Bang Abi nanyanya, apa? Bukan siapa?" Maya mulai menyadari ada hal yang tidak beres di desanya, melihat reaksi Abimanyu yang seperti itu.
"Yah, karena kalau manusia nggak akan bisa melakukan perbuatan seperti itu, May," jawab Abi santai.
"Mendingan mulai besok cafe ditutup lebih cepat, Bi. Kasihan mereka kalau pulang kemaleman, kita nggak tau sedang terjadi apa di desa kita, kan?" ujar Gio memberikan saran.
"Iya, Paman. Memang itu yang Abi pikirkan tadi."
Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Karena kejadian penemuan mayat Pak Rahmat, jalanan desa terasa lebih sunyi dari biasanya. Orang-orang merasa takut jika bepergian malam-malam. Mereka memilih tinggal di dalam rumah jika memang tidak ada kepentingan yang sangat mendesak.
"Maya biar Abang anter pulang. Paman sama Vin bisa pulang bareng Marcel, kan? Kalian bisa lewat jalur yang searah," kata Abi memberikan pilihan yang paling aman. Karena Joe dan Rain pulang bersama menaiki sepeda. Rumah mereka bersebelahan, jadi setidaknya mereka tidak pulang sendiri-sendiri.
Abi pergi ke arah yang berlawanan dengan Gio dan Vin. Mereka memang bertanggung jawab atas keselamatan karyawan cafe, khususnya. Jangan sampai salah satu dari mereka bernasib sama seperti Pak Rahmat.
Abi dan Maya mulai berjalan santai melewati jalanan beraspal yang masih terlihat baru. Pengaspalan jalan dilakukan 3 minggu lalu karena jalan di desa ini sudah banyak yang berlubang. Mereka berjalan sambil terlibat obrolan ringan. Abi banyak bertanya tentang keadaan cafe saat ia tinggalkan. Maya yang memang memiliki kepribadian ramai dan supel, mudah menceritakan semua hal yang terjadi di desa sejak Abi pergi.
"Jadi Bang Abi mau beli tanah itu? Tanah Pak Yudistira?"
"Iya. Mungkin besok Abang ke rumahnya. Buat tanya-tanya lebih jauh. Kita butuh memperluas cafe, kan, May?"
"Iya, sih. Apalagi sekarang cafe emang makin ramai."
"Ssst!" desis Abi ke Maya yang hendak melanjutkan perkataannya tadi. "Kamu dengar itu?"
Suara lolongan anjing terdengar dari kejauhan, membuat Maya makin merapatkan tubuhnya ke Abimanyu. Bukan lolongan anjing itu yang menjadi alasan Abi berhenti. Tapi suara berisik di sekitar mereka. Abi mendengar suara orang yang berlari dengan cepat. Dan secara samar ada suara geraman yang khas. Tapi sayangnya Maya tidak mendengar hal itu. Maya justru fokus pada suara lolongan anjing yang berada jauh dari mereka.
Sebenarnya suara lolongan anjing adalah hal yang sering di dengar di daerah ini, hanya saja mengingat ada kejadian penemuan mayat baru-baru ini, membuat semua orang ketakutan pada hal-hal yang sebenarnya sudah ada sebelum kejadian ini ada.
"Argh!" suara jeritan seseorang terdengar nyaring dari tempat Abi dan Maya berdiri. Mereka sontak saling pandang dan berpikir hal yang sama. Siapa dan ada apa di sana.
Seseorang kini terlihat berlari ke arah mereka, membuat Abi menyuruh Maya bersembunyi di belakang tubuhnya, sementara Abi bersiap dengan kuda-kudanya. Perlahan sosok yang mendekat itu makin jelas, dan rupanya itu adalah Lulu, tetangga samping rumah Maya. Maya yang dari awal bersembunyi hanya mengintip dari balik punggung pria kekar itu, lantas terkejut dan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Lulu?!" jeritnya disertai nada bertanya. Lulu yang melihat mereka berdua terlihat lega dan mempercepat larinya. Abi dan Maya ikut mendekat agar langkah gadis itu bisa cepat mereka lampaui.
"Kenapa, Lu?" tanya Maya begitu dekat dengan gadis itu. Ia menangkap tubuh Lulu yang terlihat sangat lemas akibat berlari. Entah sejak kapan Lulu berlari dan sudah berapa jauh ia berlari. Dan pertanyaan paling penting, apa yang ia hindari.
"Itu! Itu!" kata Lulu menunjuk belakangnya. Maya dan Abi melihat ke arah yang Lulu tunjuk, namun tidak menemukan apa pun juga.
"Itu apa? Ngomong yang jelas!" cecar Maya dengan tidak sabaran.
"May ...." Abi menyuruh Maya lebih pelan dalam menanyakan hal itu. Karena wajah Lulu sangat pucat dan seperti ketakutan sekali.
"Lu ... kamu kenapa lari?" tanya Maya, kali ini lebih lembut.
"Ada yang ngikutin aku, May. Serem banget. Aku takut!" rengek Lulu menangis sejadi-jadinya.
"Serem? Serem bagaimana? Kamu lihat bentuknya?"
"Lihat. Dia muncul dari hutan. Terus ngejar aku tadi. Walau gelap tapi aku bisa jelas lihat dia!"
"Hewan?" tanya Abi. Lulu menoleh dengan tatapan heran, "Kok hewan? Manusia, Bang!"
"Apa? Manusia?" tanya Abimanyu sedikit S E N S O Rik. Dari nada bicaranya ia agaknya tidak begitu percaya. Bukan pada cerita Lulu, melainkan pada apa yang ia pikirkan sejak kemarin malam. Justru cerita dari Lulu membuktikan bahwa apa yang ia pikirkan justru benar.
"Yakin, Lu? Nggak salah lihat, kan? Kamu lihat nggak bagaimana wajahnya? Mungkin bisa jadi, dia salah satu warga desa sini?" tanya Maya. Lulu diam sambil mencoba mengingat bagaimana bentuk wajah orang yang mengejarnya tadi.
"Rasanya aku nggak kenal siapa orang itu. Terlalu gelap, May. Nggak jelas. Cuma memang dia berbulu ... giginya bertaring, ih serem banget pokoknya. May, ayok pulang saja," rengek Lulu yang terlihat sangat ketakutan.
Maya menatap Abi yang masih memeriksa keadaan sekitarnya. "Bang, bagaimana? Pulang saja, yuk."
Abi akhirnya mengangguk, dan kembali mengantar mereka pulang. Kebetulan jarak rumah mereka sudah tidak begitu jauh. Rumah Maya dan Lulu berdampingan, dan kebetulan di daerah sekitar rumah mereka masih banyak pemukiman penduduk. Setelah memastikan Maya dan Lulu masuk rumah masing-masing dengan selamat, Abi lantas segera pulang.
Kembali ia melewati tempat tadi. Tempat di mana Lulu merasa di kejar oleh seseorang atau sesuatu. Dan malam ini Abi memutuskan mencari makhluk itu. Ia merasa penasaran dan tentu merasa terganggu atas musibah yang sedang menimpa desanya. Daerah yang akan ia lewati mulai sepi, hanya ada suara hewan malam di sekitarnya.
Lolongan serigala kembali terdengar dari kejauhan. Mungkin itu semacam kode untuk kawanan serigala lain. Serigala memang hewan nocturnal, yang hanya aktif di malam hari. Dan lolongan itu memiliki arti yang cukup banyak.
Abi menatap langit hitam di atasnya, ia kembali fokus pada sinar bulan di atas sana. Tapi tiba-tiba saja sekelebat bayangan melintas di sampingnya. Berlari menyusuri semak belukar yang ada di dalam hutan. Abi sontak mengejarnya. larinya sungguh kencang, dalam keadaan gelap, Abi berusaha melihat siapa orang yang tengah berlari menghindari dirinya. Rasa-rasanya ia merasa tidak asing pada apa yang ada di depannya itu.
Dengan sekuat tenaga Abi terus mengejar, ia mencari arah lain agar dapat menghalau orang itu. Sampai di dekat air terjun, Abi lantas mencegat kedatangannya dari seberang pondok kayu yang memang terbengkalai cukup lama. Orang itu berlari dari arah sebaliknya dan akhirnya mereka bertemu pada satu titik. Abi terhenyak saat melihat makhluk di depannya. Dongeng dari sang ayah sebagai pengantar tidur, kini tampak nyata ada di depannya. Manusia dengan tubuh yang dipenuhi bulu lebat, namun berwajah mengerikan layaknya serigala pada umumnya. Giginya runcing dan tajam.
Ini, kah, yang disebut werewolf? tanya Abimanyu pada dirinya sendiri di dalam hati. Makhluk itu hanya berdiri di depan Abi, ia terlihat terpojok dan hendak berusaha menyelamatkan dirinya. Gelagat sikap nya terlihat jelas. Membuat Abi seolah mampu membaca pergerakan makhluk di depannya ini.
Werewolf ini tampaknya hendak melarikan diri, bukannya malah menyerang Abi. Padahal dengan kemampuannya yang di atas manusia normal, bahkan berpuluh-puluh lipat lebih kuat dari manusia, membuatkan menang jika sampai terjadi pertempuran malam ini. Wajahnya memang mengerikan, tapi sorot matanya begitu dalam. Ada gurat kesedihan di dalamnya. Matanya tampak sendu dan berkaca-kaca.
Ia melolong kencang, menengadah ke langit. Lolongannya kencang, dan mendapat sahutan dari tempat lain dengan suara yang sama. Seolah seperti saling memberikan kode pada sesamanya. Tangan Abi mengulur ke belakang tubuhnya, berusaha mengambil sebilah pisau perah dari balik bajunya.
"Kau siapa?" tanya Abi terdengar seperti sebuah kalimat retorik. Karena siapa pun akan tau kalau makhluk di depannya ini adalah jelmaan. Setengah manusia, setengah serigala. Atau orang biasa menyebutnya werewolf. Tentu makhluk yang diajak komunikasi tidak menyahut apa pun. Walau terlihat jelas di matanya kalau ia mengerti maksud dari perkataan Abimanyu.
Pisau sudah ditangan, dengan gerakan tiba-tiba, Abimanyu menyerangnya. Ia menancapkan pisau perak itu di tangan kiri makhluk mengerikan itu. Hingga membuatnya berdarah dan terluka. Ia S E N S O Rik kecil, dan mundur dari posisinya tadi. Pisau masih menempel di telapak tangannya. Ia mencabut benda berkilau itu dan membuangnya asal. Tak membalas perlakuan buruk Abi, malah pergi ke sudut gelap lain dari hutan ini. Abi tak lagi berniat mengejarnya. Kepalanya di penuhi banyak pertanyaan tentang makhluk yang baru saja ia temui.
Akhirnya Abi memutuskan pulang ke rumahnya. Ia berjalan gontai hingga sampai di depan rumah dengan selamat. Dua pria yang awalnya berada di teras rumahnya kini berlari mendekat pada Abi yang bahkan belum sampai di halaman rumahnya sendiri.
"Lama banget, Lu! Ke mana saja, sih?" tanya Vin dengan ekspresi cemas sambil memperhatikan tubuh Abimanyu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kenapa pada di luar? Kok nggak masuk?"
"Nungguin elu, Bi. Bagaimana? ketemu yang aneh-aneh nggak?" tanya Gio.
Abi menatap dua orang itu dengan tatapan lesu, tak lama mengangguk. Ia kembali berjalan melewati mereka. Rasa-rasanya ia ingin segera merebahkan tubuh penatnya di atas kasur kesayangan. Gio dan Vin terus membuntuti Abi hingga kini mereka sudah ada di teras rumah. Saat akan masuk ke rumah, suara lolongan serigala terdengar kembali. Ketiga pria itu sontak menoleh dan menatap ke dalam hutan yang gelap dan luas di sekitarnya.
"Ngeri!" gumam Vin sambil masuk ke dalam rumah. Gio menatap keponakannya, dan yakin kalau Abi telah melewati malam yang berat.
"Yuk, masuk," ajak Gio sambil menepuk bahu Abi.
Pintu ditutup. Jendela sudah mereka periksa sejak sampai di rumah, memastikan kalau keamanan rumah sudah maksimal. Abi duduk di sofa, Gio terus menunggunya berbicara. Sementara Vin kembali dengan sebuah nampan dengan 3 cangkir kopi hitam pekat yang cukup menggugah selera dari aromanya saja.
"Jadi ... tadi waktu nganter Maya, kami ketemu Lulu. Dia ketakutan, nangis, dan katanya dia dikejar seseorang," cetus Abimanyu padahal tidak ada yang bertanya lebih dulu. Ia muak jika terlalu lama memendam pikiran ini seorang diri. Kepalanya terasa penuh dan harus ia tumpahkan saat ini juga.
"Terus Lulu liat nggak siapa dia?"
"Enggak. Tapi gue berhasil ngejar dia."
"Serius? Tapi lu nggak apa-apa, kan, Bi?"
"Nggak apa-apa. Tapi aneh," gumam Abimanyu.
"Aneh? Kenapa?"
"Iya, kami saling berhadapan, dan tatap muka satu sama lain."
"Terus?" tanya Vin, antusias.
"Dia werewolf. Gue yakin banget itu. Tubuhnya manusia, tapi dia nggak layak disebut manusia dengan tampilannya mirip seriigala."
"Kok baju lu nggak robek-robek, Bi?" tanya Gio. Ia tau, kalau Abi terluka, pakaiannya pasti akan berlumuran darah dan robek di beberapa bagiannya. Tapi yang Gio hadapi justru sebaliknya. Tubuh maupun pakaian Abi utuh, tanpa noda apa pun.
"Itulah, Paman, kenapa Abi bilang itu aneh."
'Eh, maksudnya bagaimana sih?" tanya Vin tak paham.
"Dia ... nggak ada niatan menyerang. Dia justru menghindar. Dan takut ketemu gue, Vin. Itu aneh! Karena menurut penuturan ayah, dan beberapa buku yang gue baca, mereka pasti akan menyerang manusia. Karena kita memang buruan mereka. Tapi yang tadi, aneh. Dia justru mau menghindar!"
"Iya juga, ya. "
'Elu bisa kenalin wajahnya, nggak? Gue yakin, dia warga desa kita." Gio juga memiliki beberapa informasi tentang werewolf, jadi dia tau bagaimana werewolf itu. Abi justru menggeleng.
"Ah, tapi aku melukai telapak tangan kirinya. Apa itu bisa kita pakai buat melacak siapa dia sebenarnya, paman?"
'Yah, semoga. Semoga dia nggak punya kemampuan menyembuhkan diri!" kata Gio sambil melirik Abimanyu.
Kesibukan cafe sudah sejak 2 jam lalu dimulai. Baik Abimanyu, Gio, Maya, Bahkan Vin mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Cafe tetap ramai di waktu-waktu tertentu. Seperti pagi, menjelang jam makan siang, dan tentu malam hari. Bahkan cafe ini sudah memiliki beberapa pelanggan tetap. Abi kembali memegang posisinya, sebagai barista terbaik cafe ini. Ia selalu dapat meracik kopi dengan rasa terbaik, dan sejauh ini belum ada yang bisa menggantikannya. Abi terus memperhatikan keadaan cafe dari tempatnya berdiri. Ia juga memperhatikan tiap orang, baik pengunjung maupun karyawannya. Satu tujuan Abi melakukan hal ini, ia ingin menemukan seseorang dengan luka di telapak tangan kirinya, tentu ia masih sangat penasaran dengan makhluk yang semalam ia temui.
Tapi sejak cafe ini dibuka, ia belum menemukan satu pun pelanggan dengan kondisi yang seperti apa yang ia cari. Kini netranya tertuju pada Vin. Pemuda itu beberapa kali menyapu peluh dari dahinya. "Vin!" panggil Abimanyu. Vin yang hendak ke dapur mengambil pesanan pelanggan, akhirnya berhenti dan berbelok ke meja barista.
"Ngapa?" tanya Vin. Ia menarik beberapa lembar tissue dan menyapukan ke wajahnya. Ia sungguh berkeringat. Wajahnya berkilau seperti habis melakukan treatment kecantikan.
"Gue ingin ngobrol bentar!" kata Abi lalu memanggil Rain agar menggantikan posisinya sementara waktu. Kebetulan sudah semua pesanan kopi ia buat, dan kini memang waktu yang tepat untuk istirahat sejenak. Vin juga menyuruh Maya mengambil pesanan yang hendak ia bawa tadi, mengikuti Abimanyu ke halaman depan cafe dengan dua cangkir kopi ditangannya. Vin menyimpan seribu pertanyaan besar di kepalanya. Abi bukan tipe manusia yang suka basa-basi, jadi Vin yakin kalau ada masalah serius yang hendak Abi bahas dengan dirinya.
Sebuah meja yang terletak di sudut halaman menjadi incaran Abimanyu. Hanya meja ini yang jauh dari pelanggan lain, dan tentu akan membuat mereka berdua nyaman nanti. Abi memilih duduk di kursi yang dapat melihat langsung ke arah jalanan di luar, Sementara Vin memilih duduk di kursi yang ada di hadapan Abi. "Kenapa sih, Bos? Gue bikin salah?" tanya Vin tanpa basa basi lebih dulu. Pertanyaan itu membuat Abimanyu terkekeh pelan. Ia meneguk kopi yang baru saja dibuat.
"Makasih, ya. Elu bantuin gue di cafe." Kembali tegukan kedua ia telan, namun kedua netranya menatap ke arah jalanan di sampingnya. Vin menarik kedua sudut bibirnya, dan hendak membalas perkataan Abi barusan. Tapi Abi lebih dulu melanjutkan perkataannya, "Tenang aja, nanti bayaran sesuai kok."
"Ye! Lu pikir gue mau bilang itu?"
"Lah, salah? Terus?" tanya Abi yang ini menatap sahabatnya itu. Ia masih duduk dengan posisi santai, tentu dengan cangkir kopi di genggamannya.
"Kalau gue tetep di sini, boleh?" tanya Vin dan berhasil membuat Abimanyu hendak tersedak.
"Nggak boleh, ya?" tambahnya lagi dengan pertanyaan hasil dari pemikirannya sendiri. Abi menatap Vin dengan tampang serius.
"Ini yang mau gue bahas sama elu, Vin. Sorry sebelumnya, gue cuma pengen memperjelas keadaan saja. Gue udah mikirin ini lama, tapi belum sempet bahas secara khusus sama elu. Seinget gue, jatah cuti elu kan udah abis, tapi elu masih di sini. Apa nggak apa-apa? Nah sekarang gue kaget sama pertanyaan elu yang barusan."
"...."
"Gue nggak masalah, kalau memang elu mau di sini terus. Justru malah seneng. Setidaknya kalau di rumah, gue sama paman Gio nggak kesepian. Dan di sini memang butuh karyawan lagi sih, melihat keadaan cafe yang super sibuk di jam-jam ramai kayak tadi."
"Jujur saja, sejak kasus kemarin, gue merasa udah nggak berminat lagi balik ke kerjaan gue kemarin. Bukan berarti kalau gue udah nggak mau lagi nolong orang, atau jiwa kemanusiaan gue hilang. Tapi, gue hilang respect sama kapten Nicholas. Dia salah satu orang yang gue kagumi dulu, Bi. Tapi ternyata, dia nggak lebih dari seorang bajingan yang berlindung dibalik jabatan dan kekayaannya."
"Nggak semua orang di militer kayak Nicholas, kan, Vin? Dia cuma salah satu oknum yang memang nggak pantes ditiru."
"Iya gue tau, Bi. Tapi gue sudah mengajukan pengunduran diri. Lagian, tujuan hidup gue sudah di depan mata. Gue bukan Vin yang kemarin. Manusia tanpa tujuan jelas. Yang rela dikirim ke daerah konflik, cuma demi kepuasan melindungi manusia lain yang membutuhkan. Gue yang kemarin nggak peduli nyawa gue sendiri. Tapi sekarang berbeda. Udah ada Allea. Gue pikir, sekarang saatnya gue bener-bener menjalani kehidupan normal. Gue pengen nikahin Allea, Bi."
"Waw. Luar biasa. Gue nggak nyangka sama pemikiran elu ini. Yah, oke. Jadi elu bakal di sini terus, gitu?"
"Mungkin. Atau lebih tepatnya untuk sementara waktu. Gue belum nemuin tempat lain, selain cafe ini dan rumah elu. Tapi gue punya rencana tinggal di desa ini. Mungkin nanti gue bakal cari rumah sederhana buat gue sama Allea."
Sebuah niat dan rencana yang indah, yang bahkan belum terpikirkan dalam benak Abimanyu. Abi bangga sekaligus bersyukur Allea bertemu laki-laki seperti Vin. Setidaknya ia tau kalau Vin adalah pria yang pantas untuk Allea.
"Gue dukung, Vin. Nanti kita cari rumah yang cocok buat kalian. Sekalian gue mau ketemu Pak Yudistira. Elu mau ikut?"
"Tuan tanah itu? Boleh. Siapa tau dia punya rumah untuk dijual. Kalau bisa mah yang deket rumah elu saja, Bi."
"Lah kenapa?"
"Biar kalau butuh apa-apa deket," kata Vin sambil mengerdipkan sebelah matanya. Abimanyu meliriknya sinis, melepas appron yang ia kenakan, dan melemparkan ke Vin. Vin terbahak sambil menghirup kopinya.
Hari sudah beranjak sore. Melihat keadaan cafe yang agak lenggang, Abi memutuskan pergi ke rumah Pak Yudistira segera, tentu bersama Vin. Dia benar-benar berniat mencari rumah untuk ia tinggali nanti dengan Allea. Sungguh manis. Cafe ia percayakan pada Gio dan Maya. Sementara mereka berdua pergi.
"Kalian tau kasus penemuan mayat Pak Rahmat?" tanya Vin memulai pembicaraan setelah briefing selesai.
"Oh, iya, Bang. Ngeri! Tadi pas berangkat saja gue sempet ngeliat. Astaga. Nggak nafsu makan deh habis itu," kata Joe mengingat kejadian pagi tadi.
"Memangnya kalian nggak denger suara aneh begitu, Bang? Kan kejadiannya di dekat rumah Bang Abi?" tanya Rain penasaran. Wajar pertanyaan itu terlontar dari mulutnya, karena memang lokasi penemuan mayat sangat dekat dengan rumah Abimanyu.
"Heh! Kan kejadiannya mungkin sudah agak lama kata Pak Kades, mayatnya sudah lama di sana," bela Maya.
"Tunggu! Seberapa banyak kalian tau soal kasus ini? Katanya Pak Rahmat bukan korban pertama?" tanya Abimanyu. Ia memang ingin mendengar lebih rinci dari pandangan orang lain tentang masalah ini.
"Iya, Bang. Waktu korban pertama itu, saya ketemu mereka beberapa jam sebelum mereka ditemukan meninggal." Marcel angkat bicara, membuat mereka penasaran.
"Jam berapa elu ketemu dia, Cel?" tanya Gio yang duduk di dekat jendela sambil menyulut rokok.
"Sekitar jam-jam pulang kerja gini, Om. Kan saya kalau pulang jalan kaki, nah papasan sama mereka. Sempet saya dengar obrolan mereka waktu itu. Katanya si istri ngerasa denger suara berisik di belakang rumah. Dia ketakutan, dan mereka itu kalau nggak salah dalam perjalanan ke rumah Pak Kades buat lapor."
"Suara berisik yang kayak bagaimana? Kamu tau?"
"Katanya kayak garukan di pintu atau dinding."
"Terus?"
"Ya terus saya lanjut pulang. Eh besoknya mereka diketemukan sudah meninggal. Serem!" kata Marcel sambil bergidik ngeri.
"Menurut kalian apa yang membunuh mereka sampai mayatnya kayak gitu?" tanya Abimanyu serius.
"Kok Bang Abi nanyanya, apa? Bukan siapa?" Maya mulai menyadari ada hal yang tidak beres di desanya, melihat reaksi Abimanyu yang seperti itu.
"Yah, karena kalau manusia nggak akan bisa melakukan perbuatan seperti itu, May," jawab Abi santai.
"Mendingan mulai besok cafe ditutup lebih cepat, Bi. Kasihan mereka kalau pulang kemaleman, kita nggak tau sedang terjadi apa di desa kita, kan?" ujar Gio memberikan saran.
"Iya, Paman. Memang itu yang Abi pikirkan tadi."
Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Karena kejadian penemuan mayat Pak Rahmat, jalanan desa terasa lebih sunyi dari biasanya. Orang-orang merasa takut jika bepergian malam-malam. Mereka memilih tinggal di dalam rumah jika memang tidak ada kepentingan yang sangat mendesak.
"Maya biar Abang anter pulang. Paman sama Vin bisa pulang bareng Marcel, kan? Kalian bisa lewat jalur yang searah," kata Abi memberikan pilihan yang paling aman. Karena Joe dan Rain pulang bersama menaiki sepeda. Rumah mereka bersebelahan, jadi setidaknya mereka tidak pulang sendiri-sendiri.
Abi pergi ke arah yang berlawanan dengan Gio dan Vin. Mereka memang bertanggung jawab atas keselamatan karyawan cafe, khususnya. Jangan sampai salah satu dari mereka bernasib sama seperti Pak Rahmat.
Abi dan Maya mulai berjalan santai melewati jalanan beraspal yang masih terlihat baru. Pengaspalan jalan dilakukan 3 minggu lalu karena jalan di desa ini sudah banyak yang berlubang. Mereka berjalan sambil terlibat obrolan ringan. Abi banyak bertanya tentang keadaan cafe saat ia tinggalkan. Maya yang memang memiliki kepribadian ramai dan supel, mudah menceritakan semua hal yang terjadi di desa sejak Abi pergi.
"Jadi Bang Abi mau beli tanah itu? Tanah Pak Yudistira?"
"Iya. Mungkin besok Abang ke rumahnya. Buat tanya-tanya lebih jauh. Kita butuh memperluas cafe, kan, May?"
"Iya, sih. Apalagi sekarang cafe emang makin ramai."
"Ssst!" desis Abi ke Maya yang hendak melanjutkan perkataannya tadi. "Kamu dengar itu?"
Suara lolongan anjing terdengar dari kejauhan, membuat Maya makin merapatkan tubuhnya ke Abimanyu. Bukan lolongan anjing itu yang menjadi alasan Abi berhenti. Tapi suara berisik di sekitar mereka. Abi mendengar suara orang yang berlari dengan cepat. Dan secara samar ada suara geraman yang khas. Tapi sayangnya Maya tidak mendengar hal itu. Maya justru fokus pada suara lolongan anjing yang berada jauh dari mereka.
Sebenarnya suara lolongan anjing adalah hal yang sering di dengar di daerah ini, hanya saja mengingat ada kejadian penemuan mayat baru-baru ini, membuat semua orang ketakutan pada hal-hal yang sebenarnya sudah ada sebelum kejadian ini ada.
"Argh!" suara jeritan seseorang terdengar nyaring dari tempat Abi dan Maya berdiri. Mereka sontak saling pandang dan berpikir hal yang sama. Siapa dan ada apa di sana.
Seseorang kini terlihat berlari ke arah mereka, membuat Abi menyuruh Maya bersembunyi di belakang tubuhnya, sementara Abi bersiap dengan kuda-kudanya. Perlahan sosok yang mendekat itu makin jelas, dan rupanya itu adalah Lulu, tetangga samping rumah Maya. Maya yang dari awal bersembunyi hanya mengintip dari balik punggung pria kekar itu, lantas terkejut dan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Lulu?!" jeritnya disertai nada bertanya. Lulu yang melihat mereka berdua terlihat lega dan mempercepat larinya. Abi dan Maya ikut mendekat agar langkah gadis itu bisa cepat mereka lampaui.
"Kenapa, Lu?" tanya Maya begitu dekat dengan gadis itu. Ia menangkap tubuh Lulu yang terlihat sangat lemas akibat berlari. Entah sejak kapan Lulu berlari dan sudah berapa jauh ia berlari. Dan pertanyaan paling penting, apa yang ia hindari.
"Itu! Itu!" kata Lulu menunjuk belakangnya. Maya dan Abi melihat ke arah yang Lulu tunjuk, namun tidak menemukan apa pun juga.
"Itu apa? Ngomong yang jelas!" cecar Maya dengan tidak sabaran.
"May ...." Abi menyuruh Maya lebih pelan dalam menanyakan hal itu. Karena wajah Lulu sangat pucat dan seperti ketakutan sekali.
"Lu ... kamu kenapa lari?" tanya Maya, kali ini lebih lembut.
"Ada yang ngikutin aku, May. Serem banget. Aku takut!" rengek Lulu menangis sejadi-jadinya.
"Serem? Serem bagaimana? Kamu lihat bentuknya?"
"Lihat. Dia muncul dari hutan. Terus ngejar aku tadi. Walau gelap tapi aku bisa jelas lihat dia!"
"Hewan?" tanya Abi. Lulu menoleh dengan tatapan heran, "Kok hewan? Manusia, Bang!"
"Apa? Manusia?" tanya Abimanyu sedikit S E N S O Rik. Dari nada bicaranya ia agaknya tidak begitu percaya. Bukan pada cerita Lulu, melainkan pada apa yang ia pikirkan sejak kemarin malam. Justru cerita dari Lulu membuktikan bahwa apa yang ia pikirkan justru benar.
"Yakin, Lu? Nggak salah lihat, kan? Kamu lihat nggak bagaimana wajahnya? Mungkin bisa jadi, dia salah satu warga desa sini?" tanya Maya. Lulu diam sambil mencoba mengingat bagaimana bentuk wajah orang yang mengejarnya tadi.
"Rasanya aku nggak kenal siapa orang itu. Terlalu gelap, May. Nggak jelas. Cuma memang dia berbulu ... giginya bertaring, ih serem banget pokoknya. May, ayok pulang saja," rengek Lulu yang terlihat sangat ketakutan.
Maya menatap Abi yang masih memeriksa keadaan sekitarnya. "Bang, bagaimana? Pulang saja, yuk."
Abi akhirnya mengangguk, dan kembali mengantar mereka pulang. Kebetulan jarak rumah mereka sudah tidak begitu jauh. Rumah Maya dan Lulu berdampingan, dan kebetulan di daerah sekitar rumah mereka masih banyak pemukiman penduduk. Setelah memastikan Maya dan Lulu masuk rumah masing-masing dengan selamat, Abi lantas segera pulang.
Kembali ia melewati tempat tadi. Tempat di mana Lulu merasa di kejar oleh seseorang atau sesuatu. Dan malam ini Abi memutuskan mencari makhluk itu. Ia merasa penasaran dan tentu merasa terganggu atas musibah yang sedang menimpa desanya. Daerah yang akan ia lewati mulai sepi, hanya ada suara hewan malam di sekitarnya.
Lolongan serigala kembali terdengar dari kejauhan. Mungkin itu semacam kode untuk kawanan serigala lain. Serigala memang hewan nocturnal, yang hanya aktif di malam hari. Dan lolongan itu memiliki arti yang cukup banyak.
Abi menatap langit hitam di atasnya, ia kembali fokus pada sinar bulan di atas sana. Tapi tiba-tiba saja sekelebat bayangan melintas di sampingnya. Berlari menyusuri semak belukar yang ada di dalam hutan. Abi sontak mengejarnya. larinya sungguh kencang, dalam keadaan gelap, Abi berusaha melihat siapa orang yang tengah berlari menghindari dirinya. Rasa-rasanya ia merasa tidak asing pada apa yang ada di depannya itu.
Dengan sekuat tenaga Abi terus mengejar, ia mencari arah lain agar dapat menghalau orang itu. Sampai di dekat air terjun, Abi lantas mencegat kedatangannya dari seberang pondok kayu yang memang terbengkalai cukup lama. Orang itu berlari dari arah sebaliknya dan akhirnya mereka bertemu pada satu titik. Abi terhenyak saat melihat makhluk di depannya. Dongeng dari sang ayah sebagai pengantar tidur, kini tampak nyata ada di depannya. Manusia dengan tubuh yang dipenuhi bulu lebat, namun berwajah mengerikan layaknya serigala pada umumnya. Giginya runcing dan tajam.
Ini, kah, yang disebut werewolf? tanya Abimanyu pada dirinya sendiri di dalam hati. Makhluk itu hanya berdiri di depan Abi, ia terlihat terpojok dan hendak berusaha menyelamatkan dirinya. Gelagat sikap nya terlihat jelas. Membuat Abi seolah mampu membaca pergerakan makhluk di depannya ini.
Werewolf ini tampaknya hendak melarikan diri, bukannya malah menyerang Abi. Padahal dengan kemampuannya yang di atas manusia normal, bahkan berpuluh-puluh lipat lebih kuat dari manusia, membuatkan menang jika sampai terjadi pertempuran malam ini. Wajahnya memang mengerikan, tapi sorot matanya begitu dalam. Ada gurat kesedihan di dalamnya. Matanya tampak sendu dan berkaca-kaca.
Ia melolong kencang, menengadah ke langit. Lolongannya kencang, dan mendapat sahutan dari tempat lain dengan suara yang sama. Seolah seperti saling memberikan kode pada sesamanya. Tangan Abi mengulur ke belakang tubuhnya, berusaha mengambil sebilah pisau perah dari balik bajunya.
"Kau siapa?" tanya Abi terdengar seperti sebuah kalimat retorik. Karena siapa pun akan tau kalau makhluk di depannya ini adalah jelmaan. Setengah manusia, setengah serigala. Atau orang biasa menyebutnya werewolf. Tentu makhluk yang diajak komunikasi tidak menyahut apa pun. Walau terlihat jelas di matanya kalau ia mengerti maksud dari perkataan Abimanyu.
Pisau sudah ditangan, dengan gerakan tiba-tiba, Abimanyu menyerangnya. Ia menancapkan pisau perak itu di tangan kiri makhluk mengerikan itu. Hingga membuatnya berdarah dan terluka. Ia S E N S O Rik kecil, dan mundur dari posisinya tadi. Pisau masih menempel di telapak tangannya. Ia mencabut benda berkilau itu dan membuangnya asal. Tak membalas perlakuan buruk Abi, malah pergi ke sudut gelap lain dari hutan ini. Abi tak lagi berniat mengejarnya. Kepalanya di penuhi banyak pertanyaan tentang makhluk yang baru saja ia temui.
Akhirnya Abi memutuskan pulang ke rumahnya. Ia berjalan gontai hingga sampai di depan rumah dengan selamat. Dua pria yang awalnya berada di teras rumahnya kini berlari mendekat pada Abi yang bahkan belum sampai di halaman rumahnya sendiri.
"Lama banget, Lu! Ke mana saja, sih?" tanya Vin dengan ekspresi cemas sambil memperhatikan tubuh Abimanyu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kenapa pada di luar? Kok nggak masuk?"
"Nungguin elu, Bi. Bagaimana? ketemu yang aneh-aneh nggak?" tanya Gio.
Abi menatap dua orang itu dengan tatapan lesu, tak lama mengangguk. Ia kembali berjalan melewati mereka. Rasa-rasanya ia ingin segera merebahkan tubuh penatnya di atas kasur kesayangan. Gio dan Vin terus membuntuti Abi hingga kini mereka sudah ada di teras rumah. Saat akan masuk ke rumah, suara lolongan serigala terdengar kembali. Ketiga pria itu sontak menoleh dan menatap ke dalam hutan yang gelap dan luas di sekitarnya.
"Ngeri!" gumam Vin sambil masuk ke dalam rumah. Gio menatap keponakannya, dan yakin kalau Abi telah melewati malam yang berat.
"Yuk, masuk," ajak Gio sambil menepuk bahu Abi.
Pintu ditutup. Jendela sudah mereka periksa sejak sampai di rumah, memastikan kalau keamanan rumah sudah maksimal. Abi duduk di sofa, Gio terus menunggunya berbicara. Sementara Vin kembali dengan sebuah nampan dengan 3 cangkir kopi hitam pekat yang cukup menggugah selera dari aromanya saja.
"Jadi ... tadi waktu nganter Maya, kami ketemu Lulu. Dia ketakutan, nangis, dan katanya dia dikejar seseorang," cetus Abimanyu padahal tidak ada yang bertanya lebih dulu. Ia muak jika terlalu lama memendam pikiran ini seorang diri. Kepalanya terasa penuh dan harus ia tumpahkan saat ini juga.
"Terus Lulu liat nggak siapa dia?"
"Enggak. Tapi gue berhasil ngejar dia."
"Serius? Tapi lu nggak apa-apa, kan, Bi?"
"Nggak apa-apa. Tapi aneh," gumam Abimanyu.
"Aneh? Kenapa?"
"Iya, kami saling berhadapan, dan tatap muka satu sama lain."
"Terus?" tanya Vin, antusias.
"Dia werewolf. Gue yakin banget itu. Tubuhnya manusia, tapi dia nggak layak disebut manusia dengan tampilannya mirip seriigala."
"Kok baju lu nggak robek-robek, Bi?" tanya Gio. Ia tau, kalau Abi terluka, pakaiannya pasti akan berlumuran darah dan robek di beberapa bagiannya. Tapi yang Gio hadapi justru sebaliknya. Tubuh maupun pakaian Abi utuh, tanpa noda apa pun.
"Itulah, Paman, kenapa Abi bilang itu aneh."
'Eh, maksudnya bagaimana sih?" tanya Vin tak paham.
"Dia ... nggak ada niatan menyerang. Dia justru menghindar. Dan takut ketemu gue, Vin. Itu aneh! Karena menurut penuturan ayah, dan beberapa buku yang gue baca, mereka pasti akan menyerang manusia. Karena kita memang buruan mereka. Tapi yang tadi, aneh. Dia justru mau menghindar!"
"Iya juga, ya. "
'Elu bisa kenalin wajahnya, nggak? Gue yakin, dia warga desa kita." Gio juga memiliki beberapa informasi tentang werewolf, jadi dia tau bagaimana werewolf itu. Abi justru menggeleng.
"Ah, tapi aku melukai telapak tangan kirinya. Apa itu bisa kita pakai buat melacak siapa dia sebenarnya, paman?"
'Yah, semoga. Semoga dia nggak punya kemampuan menyembuhkan diri!" kata Gio sambil melirik Abimanyu.
Kesibukan cafe sudah sejak 2 jam lalu dimulai. Baik Abimanyu, Gio, Maya, Bahkan Vin mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Cafe tetap ramai di waktu-waktu tertentu. Seperti pagi, menjelang jam makan siang, dan tentu malam hari. Bahkan cafe ini sudah memiliki beberapa pelanggan tetap. Abi kembali memegang posisinya, sebagai barista terbaik cafe ini. Ia selalu dapat meracik kopi dengan rasa terbaik, dan sejauh ini belum ada yang bisa menggantikannya. Abi terus memperhatikan keadaan cafe dari tempatnya berdiri. Ia juga memperhatikan tiap orang, baik pengunjung maupun karyawannya. Satu tujuan Abi melakukan hal ini, ia ingin menemukan seseorang dengan luka di telapak tangan kirinya, tentu ia masih sangat penasaran dengan makhluk yang semalam ia temui.
Tapi sejak cafe ini dibuka, ia belum menemukan satu pun pelanggan dengan kondisi yang seperti apa yang ia cari. Kini netranya tertuju pada Vin. Pemuda itu beberapa kali menyapu peluh dari dahinya. "Vin!" panggil Abimanyu. Vin yang hendak ke dapur mengambil pesanan pelanggan, akhirnya berhenti dan berbelok ke meja barista.
"Ngapa?" tanya Vin. Ia menarik beberapa lembar tissue dan menyapukan ke wajahnya. Ia sungguh berkeringat. Wajahnya berkilau seperti habis melakukan treatment kecantikan.
"Gue ingin ngobrol bentar!" kata Abi lalu memanggil Rain agar menggantikan posisinya sementara waktu. Kebetulan sudah semua pesanan kopi ia buat, dan kini memang waktu yang tepat untuk istirahat sejenak. Vin juga menyuruh Maya mengambil pesanan yang hendak ia bawa tadi, mengikuti Abimanyu ke halaman depan cafe dengan dua cangkir kopi ditangannya. Vin menyimpan seribu pertanyaan besar di kepalanya. Abi bukan tipe manusia yang suka basa-basi, jadi Vin yakin kalau ada masalah serius yang hendak Abi bahas dengan dirinya.
Sebuah meja yang terletak di sudut halaman menjadi incaran Abimanyu. Hanya meja ini yang jauh dari pelanggan lain, dan tentu akan membuat mereka berdua nyaman nanti. Abi memilih duduk di kursi yang dapat melihat langsung ke arah jalanan di luar, Sementara Vin memilih duduk di kursi yang ada di hadapan Abi. "Kenapa sih, Bos? Gue bikin salah?" tanya Vin tanpa basa basi lebih dulu. Pertanyaan itu membuat Abimanyu terkekeh pelan. Ia meneguk kopi yang baru saja dibuat.
"Makasih, ya. Elu bantuin gue di cafe." Kembali tegukan kedua ia telan, namun kedua netranya menatap ke arah jalanan di sampingnya. Vin menarik kedua sudut bibirnya, dan hendak membalas perkataan Abi barusan. Tapi Abi lebih dulu melanjutkan perkataannya, "Tenang aja, nanti bayaran sesuai kok."
"Ye! Lu pikir gue mau bilang itu?"
"Lah, salah? Terus?" tanya Abi yang ini menatap sahabatnya itu. Ia masih duduk dengan posisi santai, tentu dengan cangkir kopi di genggamannya.
"Kalau gue tetep di sini, boleh?" tanya Vin dan berhasil membuat Abimanyu hendak tersedak.
"Nggak boleh, ya?" tambahnya lagi dengan pertanyaan hasil dari pemikirannya sendiri. Abi menatap Vin dengan tampang serius.
"Ini yang mau gue bahas sama elu, Vin. Sorry sebelumnya, gue cuma pengen memperjelas keadaan saja. Gue udah mikirin ini lama, tapi belum sempet bahas secara khusus sama elu. Seinget gue, jatah cuti elu kan udah abis, tapi elu masih di sini. Apa nggak apa-apa? Nah sekarang gue kaget sama pertanyaan elu yang barusan."
"...."
"Gue nggak masalah, kalau memang elu mau di sini terus. Justru malah seneng. Setidaknya kalau di rumah, gue sama paman Gio nggak kesepian. Dan di sini memang butuh karyawan lagi sih, melihat keadaan cafe yang super sibuk di jam-jam ramai kayak tadi."
"Jujur saja, sejak kasus kemarin, gue merasa udah nggak berminat lagi balik ke kerjaan gue kemarin. Bukan berarti kalau gue udah nggak mau lagi nolong orang, atau jiwa kemanusiaan gue hilang. Tapi, gue hilang respect sama kapten Nicholas. Dia salah satu orang yang gue kagumi dulu, Bi. Tapi ternyata, dia nggak lebih dari seorang bajingan yang berlindung dibalik jabatan dan kekayaannya."
"Nggak semua orang di militer kayak Nicholas, kan, Vin? Dia cuma salah satu oknum yang memang nggak pantes ditiru."
"Iya gue tau, Bi. Tapi gue sudah mengajukan pengunduran diri. Lagian, tujuan hidup gue sudah di depan mata. Gue bukan Vin yang kemarin. Manusia tanpa tujuan jelas. Yang rela dikirim ke daerah konflik, cuma demi kepuasan melindungi manusia lain yang membutuhkan. Gue yang kemarin nggak peduli nyawa gue sendiri. Tapi sekarang berbeda. Udah ada Allea. Gue pikir, sekarang saatnya gue bener-bener menjalani kehidupan normal. Gue pengen nikahin Allea, Bi."
"Waw. Luar biasa. Gue nggak nyangka sama pemikiran elu ini. Yah, oke. Jadi elu bakal di sini terus, gitu?"
"Mungkin. Atau lebih tepatnya untuk sementara waktu. Gue belum nemuin tempat lain, selain cafe ini dan rumah elu. Tapi gue punya rencana tinggal di desa ini. Mungkin nanti gue bakal cari rumah sederhana buat gue sama Allea."
Sebuah niat dan rencana yang indah, yang bahkan belum terpikirkan dalam benak Abimanyu. Abi bangga sekaligus bersyukur Allea bertemu laki-laki seperti Vin. Setidaknya ia tau kalau Vin adalah pria yang pantas untuk Allea.
"Gue dukung, Vin. Nanti kita cari rumah yang cocok buat kalian. Sekalian gue mau ketemu Pak Yudistira. Elu mau ikut?"
"Tuan tanah itu? Boleh. Siapa tau dia punya rumah untuk dijual. Kalau bisa mah yang deket rumah elu saja, Bi."
"Lah kenapa?"
"Biar kalau butuh apa-apa deket," kata Vin sambil mengerdipkan sebelah matanya. Abimanyu meliriknya sinis, melepas appron yang ia kenakan, dan melemparkan ke Vin. Vin terbahak sambil menghirup kopinya.
Hari sudah beranjak sore. Melihat keadaan cafe yang agak lenggang, Abi memutuskan pergi ke rumah Pak Yudistira segera, tentu bersama Vin. Dia benar-benar berniat mencari rumah untuk ia tinggali nanti dengan Allea. Sungguh manis. Cafe ia percayakan pada Gio dan Maya. Sementara mereka berdua pergi.
obdiamond dan 5 lainnya memberi reputasi
6