- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.9K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#96
Part 92 Terusir
Ellea tengah membereskan tempat tidur yang akan ia pakai malam ini. Rumah milik Adelia sangat besar, dengan banyak kamar di dalamnya. Pintu kamarnya diketuk lalu seseorang muncul dari balik pintu. Abimanyu datang dengan segelas susu hangat. Ellea tersenyum lalu duduk di pinggir ranjang. "Buat aku?" tanyanya dengan menunjuk gelas susu yang dipegang Abimanyu dengan dagunya.
Abi meletakkan gelas itu di meja nakas, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang baru saja di bereskan Ellea. "Biyu ... ih kok kamu tiduran di sini! Sana balik ke kamarmu!" usir Ellea dengan nada manja. Abimanyu tidak bergerak sama sekali, justru ia memejamkan mata lalu menarik tangan Ellea dan akhirnya mereka berdua tidur di atas ranjang yang sama.
Tangan Abi memeluk tubuh Ellea, namun gadis itu diam saja. Ia malah merapatkan tubuhnya dan kini mereka saling berpelukan satu sama lain. "Aku kangen," kata Ellea dalam pelukan pemuda itu.
"Hm. aku juga. Tapi aku lebih khawatir kalau kamu kenapa-napa. Maaf, ya, kalau aku nggak ada di saat kamu butuh aku kemarin. Pasti kamu melewati masa yang sulit kemarin."
"Nggak apa-apa, Biyu. Sesulit apa pun aku di luar sana, dan sejauh apa pun aku menghilang, aku yakin kamu pasti bakal cari aku, kan? Makanya aku nggak takut apa pun lagi sekarang.," tegas Ellea.
"Tapi kamu nggak apa-apa, kan? Mereka kasar sama kamu? Mereka pukul kamu nggak?" tanya Abimanyu sambil memeriksa tubuh Ellea.
"Hey, aku nggak apa-apa. Iya sempet ada perlakuan kasar. Tapi Allea yang nolongin aku. Justru dia yang malah lebam di bagian pipinya. Tapi nggak lama hilang lukanya. Allea sebenarnya jago bela diri, Bi. Cuma kemarin kami bener-bener nggak bisa lolos. Pintu selalu dikunci. Ada makanan pun itu mereka kasih lewat lubang di bawah pintu. Kayaknya tempat itu memang disiapkan buat menculik orang-orang yang akan mereka buru, deh."
"Hm, ya sudah. Yang penting kalian sekarang baik-baik saja. Dan, malam ini aku mau tidur di sini untuk memastikan kamu tetap baik-baik saja!"
"Kok begitu?"
"Aku kangen, Ell."
"Hm. iya aku juga sama. Ya sudah. Yuk kita tidur sekarang."
"Eh tapi susunya di minum dulu dong. Aku sudah bikinin spesial buat kamu loh."
"Siap, Bos."
___________
Di balkon lantai dua, Vin dan Adelia sedang duduk di sofa sambil memandang langit malam, dengan banyak bintang di sana. Ditemani secangkir kopi hangat buatan Adelia.
"Kalian pacaran?" tanya Adelia ke Vin.
Vin tak langsung menjawab, menatap cangkir kopi yang ada ditangannya sambil menarik sudut bibirnya. "Allea?"
"Iya, siapa lagi coba?"
"Yah, seperti itulah. Kami dekat."
"Sejak kapan kalian saling kenal?"
"Sejak masalah ini ada. Ellea dan Allea terpisah sejak kecil. Dan kamu tau, kan, kalau Abimanyu dan Ellea berpacaran. Jadi Abi datang ke sini buat cari Ellea. Kebetulan aku sedang cuti kemarin. Jadi aku bantu dia. Akhirnya yang kami temukan malah Allea."
"Tapi aku lihat kalian dekat. Kamu dan Allea?"
"Iya. Aku menyayanginya. Ini pertama kalinya setelah istriku meninggal. Allea adalah wanita yang bisa mengalihkan hatiku. Mungkin karena intensitas pertemuan kami yang cukup sering. Tapi ... dia memang gadis yang unik. Dan aku sayang sama dia."
"Yah, kalian berdua cocok." Nada suara Adel berubah. Ia seperti menyimpan perasaan yang tidak nyaman saat membahas Allea.
"Kamu kenapa, Del?" Vin melihat mata Adel yang berkaca-kaca. Hal itu membuat Vin merasa bingung dan takut salah bicara tadi. Mungkin karena pernikahannya yang tidak berjalan mulus, maka ia merasa iri mendengar hubungannya dengan Allea. Itu yang terlintas di pikiran Vin.
"Allea beruntung, bisa dicintai laki-laki seperti kamu."
"Maksud kamu?"
"Nggak apa-apa," ujar Adel sambil menyapu sudut matanya dengan ujung jari. "Eum, akhirnya aku mengusir Mathias dari rumah," kata Adel dengan senyum getir.
"Waw, itu sebuah keberanian, Del. Aku pikir kamu bakal terus mempertahankan pernikahanmu sama Mathias?"
"Awalnya aku berfikir demikian. Tapi ada seseorang yang membuat aku sadar kalau aku adalah wanita bodoh. Karena selama ini diam saja, melihat suamiku selingkuh. Seharusnya aku bertindak sejak dulu, Vin."
'Terus aset kamu? Jatuh ke tangan Mathias?"
"Enggak! Aku berhasil menipu dia. Mathias aku buat menandatangani surat pembatalan perjanjian. Jadi setelah surat itu dia tanda tangani, aku langsung minta cerai dan usir dia pergi. Sekarang dia jadi gelandangan! Bagus aku nggak jeblosin dia ke penjara, iya, kan?"
"Iya. Kamu terlalu baik, Del. Mathias juga nggak pantas dapatin wanita sebaik kamu. Aku yakin kamu pasti bakal menemukan kebahagiaan lain. Jangan sedih, ya?" kata Vin, mengelus pipi Adel.
"Yah, semoga. Aku menyukai seseorang, tapi sayangnya dia sudah punya pasangan. Dan aku nggak mau merebut dia dari pasangannya. Karena aku tau bagaimana rasanya kalau orang yang kita cintai diambil wanita lain," kata Adel dengan tatapan sendu ke Vin.
"Eh udah malam, mendingan habisin kopinya terus tidur aja sana," suruh Vin yang merasa situasi sekarang tidak nyaman lagi. Vin merasa tatapan mata Adel berbeda. Tidak seperti biasanya saat menatapnya. "Aku balik ke kamar dulu, ya."
"Tunggu, Vin. Temenin aku dulu sebentar, boleh?' tanya Adel sedikit memohon. Vin yang awalnya ragu, lantas mengangguk pelan. Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mengucapkan terima kasih pada Adel. Adel juga banyak membantu selama ini. Dan kini mereka juga tinggal di rumahnya.
Dibalik pintu, mereka berdua tidak sadar kalau ada seseorang yang sejak tadi ada di sana. Mendengarkan dan melihat semua yang dilakukan Vin dan Adel sambil menekan dadanya menahan rasa sakit. Yah, Allea.
Dia tidak bisa tidur dan memutuskan membuat secangkir teh tadi. Tapi saat akan kembali ke kamarnya, tanpa sengaja Allea melihat Adel yang membawa dua cangkir kopi ke atas. Dan rupanya kopi itu ia buat untuk Vin. Allea cemburu. Ia tau kalau Adel menyukai Vin. Dan jujur dalam lubuk hatinya, Allea juga menyayangi Vin. Hal yang membuat Allea sedih, adalah saat Adel bertanya tentang hubungannya dan Vin. Vin justru tidak mengatakan apa pun. Walau ia bilang kalau menyayangi Allea, tapi bagi Allea itu tidak cukup. Ia butuh komitmen. Komitmen adalah salah satu hal yang penting dalam sebuah hubungan tentunya. Sekalipun Vin tau perasaan Allea, begitu pula Allea yang tau kalau Vin menyayanginya, itu belum cukup bagi Allea. Bahkan tidak ada satu pun wanita yang suka digantungkan. Tidak ada komitmen, hanya menjalani hubungan itu seperti air mengalir. Karena jika sampai ada pihak ketiga, maka posisinya tidak akan kuat. Bisa saja Allea akan disingkirkan, dan Vin lebih memilih Adelia.
Allea memutuskan kembali ke kamarnya.
Cangkir teh ia letakan begitu saja di meja tak jauh dari balkon. Ia sakit hati dan kecewa. Tapi ia sadar kalau dia bukan siapa-siapa. Gadis itu segera masuk ke dalam selimut dan tenggelam di dalamnya. Ia teringat ucapan Vin yang mengatakan kalau Vin menyukainya. Tapi Allea merasa tidak ada kalimat dari Vin yang menunjukkan kalau hubungan mereka kini sudah berlanjut ke jenjang lebih tinggi. Berpacaran misalnya. Yah, sepertinya acara penembakan memang penting jika keadaannya seperti ini.
Tok tok tok.
Bunyi suara pintu kamar Allea diketuk, membuat gadis itu segera menyapu air matanya. Ia diam saat suara Vin memanggil namanya. Allea berusaha menutupi air mata dan bahkan tubuhnya. Ia berpura-pura tidur agar Vin segera pergi dari pintu kamarnya. Rasanya ia sedang tidak ingin bertemu pria itu sekarang.
"All ... kamu sudah tidur?" teriaknya dari depan pintu kamarnya. Allea terus memejamkan mata. Tak lama kemudian, derit pintu terdengar. Allea tau kalau Vin kini mulai masuk ke dalam kamarnya. Langkah kaki terdengar mendekat ke ranjang Allea. Ia terus diam dan berusaha bersikap selayaknya orang yang sudah terlelap tidur.
"Kok lampunya nggak dimatiin, All," kata Vin berbicara sendiri. Vin lalu mematikan lampu kamar Allea lalu bergerak keluar kamar gadis itu. Saat Vin sudah ada di luar, belum sempat ia menutup pintu, Allea mendengar Adel memanggilnya lagi. "Vin, tolong dong pintu kamarku nggak bisa dibuka."
"Oh oke."
Dan hal itu membuat hatinya makin nyeri.
____________________
Pagi merupakan awal hari yang baik bagi sebagian besar orang di rumah ini. Semua orang sudah duduk di kursi meja makan untuk sarapan. Elang sudah pulang ke rumahnya karena Shanum dan putranya menunggu di rumah. Hanya ada Abimanyu, Ellea, Allea, Vin, Gio, dan Adelia. Wajah Allea terlihat sembab. Rupanya ia menangis semalam dan itu dapat diliat dengan mudah oleh mereka.
Ellea sudah menanyakan perihal matanya yang sembab, tapi Allea selalu mangkir dan berkata kalau dirinya baik-baik saja. Allea masih terlalu malu untuk mengatakan perasaannya dan rasa cemburunya pada kedekatan Vin dan Adel. Sejak pagi Allea juga terlihat menghindari Vin, dan membuat pemuda itu kebingungan.
Selesai sarapan, para wanita menunggu di rumah sementara para pria harus pergi menyelesaikan urusan ini. Bertemu Austin terutama. Abimanyu mencium kening Ellea saat akan pergi. "Doain aku, ya, sayang. Kamu hati-hati di rumah. Tetap waspada walau di sini banyak penjaganya. Kalau ada hal yang membahayakan, pakai pistol yang ada di bawah ranjangmu. Oke?" tanya Abi sambil mengusap pipi Ellea lembut. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengeratkan pelukkan ke Abimanyu.
"All ... kamu kenapa sih?" Suara Vin yang sedang gelisah mengejar Allea membuat Abi dan Ellea melepaskan pelukan mereka dan melihat ke arah Alea pergi.
"Mereka kenapa?" tanya Abi.
"Eum, mungkin ada salah paham. Allea nggak bilang apa-apa, tapi kalau aku lihat, kayaknya dia cemburu sama Adel," tebak Ellea.
"Hah? Masa sih? Kan Adel sama Vin nggak ada hubungan apa-apa?"
"Ih, kamu ini. Emang nggak peka. Dingin dan nggak ngertiin perasaan orang!" ujar Ellea mencubit hidung Abimanyu, gemas.
"Loh aku salah? Bener, kan, kalau Vin sama Adel itu nggak ada hubungan apa-apa? Cuma sebatas kerja sama. Buktinya kamu nggak cemburu sama aku, kan?" Kalimat itu membuat Ellea tertawa.
"Biyu ... Biyu. Iya, aku memang nggak cemburu sama kamu dan Adel. Karena apa? Kalian nggak dekat, sama sekali. Tapi Vin? Kamu nggak sadar kalau Adel sama Vin dekat banget? Wajar aja kalau Allea cemburu."
"Oh gitu. Duh, aku nggak perhatiin sih selama ini. Memangnya begitu, ya? Terus bagaimana? Kamu nggak mau bantu mereka?"
"Biar aja. Mereka bisa kok selesaikan sendiri. Lagian ini urusan mereka, Biyu."
"Yah, mungkin sebagai saudara kembar Allea kamu mau marah ke Vin juga? Aku bantu, sayang. Yuk, kita omelin dia bareng-bareng."
"Idih, kamu malah seneng temenmu lagi pusing gitu. Kasihan Vin tau!"
"Biarin. Biar tau rasa!" umpat Abimanyu.
Vin terus mengejar Allea sampai di kamar gadis itu. Saat ia akan menutup pintu kamar, pemuda itu menahan pintu dan meminta penjelasan.
"All, kamu kenapa? Aku ada salah? Please, jangan gini. Kasih tau aku, kalau aku salah. Di mana? kenapa?"
"Aku nggak apa-apa, cuma lagi nggak enak badan saja. Buruan gih kamu berangkat. Sudah siap, kan, semua?"
"Enggak! Kita perlu ngobrol. Buka dulu, ya, pintunya," bujuk Vin.
Akhirnya Allea membuka pintu kamarnya dan membiarkan Vin masuk ke dalam. Vin lalu menutup pintu kamar Allea dan mengikuti gadis itu yang kini berbaring di ranjang. Vin duduk di tepi kasur, dan terus menatap wanita itu.
"All ... kita bicara, ya. Aku ngerasa kamu marah sama aku. Tapi aku nggak tau salahku di mana? Please kasih tau, All."
Allea menarik nafas panjang, lalu duduk di ranjang. Ia menatap Vin yang sejak tadi kebingungan.
"Vin, kita ini belum ada komitmen apa pun, jadi kalau kamu mau dekat sama perempuan lain, aku nggak apa-apa kok. Kamu bebas."
"Maksud kamu?"
"Enggak apa-apa. Cuma kasih tau saja. Aku mau tidur. udah sana kamu keluar!"
"No! Bukan gini. Apa tadi kamu bilang? Kita nggak ada komitmen? Kata siapa? Jadi kamu selama ini nggak menganggap aku, All?"
Allea diam, bingung harus menjawab apa.
"Aku sayang kamu. Aku juga tau kalau kamu punya perasaan yang ssama. Dan kamu anggap kita nggak ada hubungan apa-apa. Terus dengan seenaknya kamu nyuruh aku deketin cewek lain? Kamu sudah gila? hah?' Vin mulai meninggikan nada bicaranya. Sementara Allea masih diam.
"Memangnya perempuan yang mana? Aku deket sama perempuan mana lagi, All?"
Allea bangun dari kasur, dan berjalan keluar balkon kamar. Vin mengikutinya dan kini menarik tangan Allea agak kasar. "Jawab!"
"Adelia," kata Allea tanpa menatap wajah Vin, dan hanya mampu menunduk lemah.
"Hah?!"
"Semalem aku lihat kalian di balkon sana. Dan aku pikir kalian pasangan yang serasi. "
"Kok Adel sih? Allea, kamu sayang, kan sama aku?" tanya Vin.
"Iya, tapi Adel juga suka sama kamu Vin. Dan dia lebih pantes ..." Belum sempat kalimat Allea selesai, Vin langsung mencium bibirnya. Allea terpaku di tempatnya. Sementara Vin terus mencium bibir Allea makin dalam. Tangan kirinya menahan punggung Allea sementara tangan kanannya berada di pipi kanan Allea. Allea diam dan ragu untuk membalas ciuman Vin. Namun pada akhirnya mereka berdua hanyut dalam pergumulan itu. Sampai nafas Allea hampir habis, Vin baru melepaskannya. Ia menatap tajam mata Allea.
"Aku nggak peduli kalau Adel suka sama aku. Yang penting kamu. Dan kamu, jangan ngurusin perempuan lain di luar sana. Mungkin akan ada Adel Adel lain nanti dalam hubungan kita. Tapi kamu cukup rasain perasaan aku, All. Perasaan aku cuma buat kamu. Aku cuma sayang sama kamu! Bukan Adel. Ngerti?"
Allea mengangguk dengan menatap Vin.
"Dan kalau kamu anggap ini bukan komitment, sekarang aku mau minta secara resmi."
"...."
"Allea, aku sayang kamu. Kamu mau, kan, jadi pacar aku? Kita pacaran, kayak Abi sama Ellea?"
Sontak Allea tertawa dan langsung mengangguk. Air matanya kini berubah menjadi air mata bahagia. Ia sudah lega, karena Vin kini benar-benar menjadi miliknya. Memang agak kolot, dia juga merasa seperti anak sekolah saja, mengharuskan komitment yang seperti ini. Tapi ia memang terkadang menjadi gadis yang kolot dan menyebalkan. Semoga Vin tahan, ya.
***
Garius Vabian Bughet. Memiliki sebuah perusahaan bernama Berkshire Hathaway. Ia berasal dari Omaha, Nebraska, Amerika serikat. Seorang lajang yang meneruskan perusahaan milik ayahnya. Ia berbeda dari sang ayah, yang tekun dan ulet dalam bekerja. Vabian justru sebaliknya. Dia lebih sering foya-foya dan menghabiskan uang miliknya untuk bersenang-senang. Bahkan bukan dia, orang yang selama ini mengurus perusahaan itu. Vabian hanya boneka yang cuma datang untuk menanda tangani dokumen tanpa tau apa yang ia tanda tangani.
Semua hal mengenai perusahaannya dikelola oleh asistennya, Anthoni. Anthoni sudah bekerja di perusahaan itu sejak lama. Ia juga adalah asisten ayahnya dan yang paling mengerti tentang seluk beluk perusahaan. Dan, Anthoni adalah teman Elang. Berawal dari rekan bisnis, mereka perlahan cukup dekat hingga akhirnya Elang menceritakan semua perbuatan Vabian. Drama penculikan kekasih Vabian juga Anthoni-lah dalangnya. Dan kini giliran Vabian.
Pria itu berjalan gontai masuk ke kantornya yang sudah satu minggu ini ia tinggalkan. Penampilannya kacau, bahkan wajahnya terlihat sangat kusut dari biasanya. Setelah turun dari mobil mewah miliknya, Vabian melempar kunci mobil miliknya ke security yang berjaga di depan pintu lobi untuk memarkirkan mobil ke tempat yang seharusnya. Tapi ia malah dihadang oleh beberapa security dan tidak diperkenankan masuk ke dalam.
"Apa-apaan kalian?! Aku ini pemilik perusahaan! Kalian jangan sembarangan!" jerit Vabian berusaha melepaskan diri dari mereka. Beberapa staf yang ada di sekitar lobi pun menyaksikan hal ini dan bertanya-tanya antar sesama rekan kerja yang mereka temui. Resepsionis kemudian menghubungi seseorang saat Vabian mulai mengamuk dan memaksa masuk ke dalam. Akhirnya Anthoni turun ke bawah dan menyaksikan keributan ini.
"Hei, Anthoni, lihalah mereka! Menahanku untuk masuk! Sebaiknya kau pecat saja mereka!" perintah Vabian sambil membetulkan pakaiannya yang ditarik oleh para penjaga.
"Maaf, Vabian, kau memang tidak boleh masuk lagi ke sini," kata Anthoni dengan bersikap setenang mungkin.
"Apa maksudmu?"
"Kamu bukan lagi pemilik perusahaan ini."
"Apa maksudmu?" tanya Vabian dengan tatapan bingung dan emosi.
"Kemarin diadakan rapat direksi, dan kamu diberhentikan dari perusahaan ini karena kinerja kamu kurang maksimal sebagai pemilik perusahaan.
Dan lagi, isu soal kartel Ransford yang kini sedang merebak menunjukkan kalau kamu ada bagian dari mereka. Semua direksi keberatan dengan hal itu, karena kamu telah mencoreng nama baik perusahaan! Dan lagi kamu tidak ingat, kalau telah menandatangani surat ini?" tanya Anthoni tegas. Vabian merampas selembar kertas yang terdapat tanda tangannya. Setelah ia baca, ia terkejut karena di sana tertulis kalau dia akan melimpahkan perusahaan kepada Anthoni. Ia bahkan tidak ingat kapan menandatangani pernyataan semacam ini.
Vabian diam sejenak. Tubuhnya lemas, wajahnya memerah karena menahan amarah. Ia mendengus sebal dan berusaha masuk kembali ke dalam. Para penjaga tentu tetap menahannya dan alhasil sebuah bogem mentah mendarat di rahang kanannya. Ia tersungkur, jatuh keluar dari pintu kantor. Vabian terus berteriak, masih tidak terima atas keputusan sepihak perusahaan. Tapi perlahan ia pun meninggalkan tempat ini menuju parkiran mobil.
Abi meletakkan gelas itu di meja nakas, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang baru saja di bereskan Ellea. "Biyu ... ih kok kamu tiduran di sini! Sana balik ke kamarmu!" usir Ellea dengan nada manja. Abimanyu tidak bergerak sama sekali, justru ia memejamkan mata lalu menarik tangan Ellea dan akhirnya mereka berdua tidur di atas ranjang yang sama.
Tangan Abi memeluk tubuh Ellea, namun gadis itu diam saja. Ia malah merapatkan tubuhnya dan kini mereka saling berpelukan satu sama lain. "Aku kangen," kata Ellea dalam pelukan pemuda itu.
"Hm. aku juga. Tapi aku lebih khawatir kalau kamu kenapa-napa. Maaf, ya, kalau aku nggak ada di saat kamu butuh aku kemarin. Pasti kamu melewati masa yang sulit kemarin."
"Nggak apa-apa, Biyu. Sesulit apa pun aku di luar sana, dan sejauh apa pun aku menghilang, aku yakin kamu pasti bakal cari aku, kan? Makanya aku nggak takut apa pun lagi sekarang.," tegas Ellea.
"Tapi kamu nggak apa-apa, kan? Mereka kasar sama kamu? Mereka pukul kamu nggak?" tanya Abimanyu sambil memeriksa tubuh Ellea.
"Hey, aku nggak apa-apa. Iya sempet ada perlakuan kasar. Tapi Allea yang nolongin aku. Justru dia yang malah lebam di bagian pipinya. Tapi nggak lama hilang lukanya. Allea sebenarnya jago bela diri, Bi. Cuma kemarin kami bener-bener nggak bisa lolos. Pintu selalu dikunci. Ada makanan pun itu mereka kasih lewat lubang di bawah pintu. Kayaknya tempat itu memang disiapkan buat menculik orang-orang yang akan mereka buru, deh."
"Hm, ya sudah. Yang penting kalian sekarang baik-baik saja. Dan, malam ini aku mau tidur di sini untuk memastikan kamu tetap baik-baik saja!"
"Kok begitu?"
"Aku kangen, Ell."
"Hm. iya aku juga sama. Ya sudah. Yuk kita tidur sekarang."
"Eh tapi susunya di minum dulu dong. Aku sudah bikinin spesial buat kamu loh."
"Siap, Bos."
___________
Di balkon lantai dua, Vin dan Adelia sedang duduk di sofa sambil memandang langit malam, dengan banyak bintang di sana. Ditemani secangkir kopi hangat buatan Adelia.
"Kalian pacaran?" tanya Adelia ke Vin.
Vin tak langsung menjawab, menatap cangkir kopi yang ada ditangannya sambil menarik sudut bibirnya. "Allea?"
"Iya, siapa lagi coba?"
"Yah, seperti itulah. Kami dekat."
"Sejak kapan kalian saling kenal?"
"Sejak masalah ini ada. Ellea dan Allea terpisah sejak kecil. Dan kamu tau, kan, kalau Abimanyu dan Ellea berpacaran. Jadi Abi datang ke sini buat cari Ellea. Kebetulan aku sedang cuti kemarin. Jadi aku bantu dia. Akhirnya yang kami temukan malah Allea."
"Tapi aku lihat kalian dekat. Kamu dan Allea?"
"Iya. Aku menyayanginya. Ini pertama kalinya setelah istriku meninggal. Allea adalah wanita yang bisa mengalihkan hatiku. Mungkin karena intensitas pertemuan kami yang cukup sering. Tapi ... dia memang gadis yang unik. Dan aku sayang sama dia."
"Yah, kalian berdua cocok." Nada suara Adel berubah. Ia seperti menyimpan perasaan yang tidak nyaman saat membahas Allea.
"Kamu kenapa, Del?" Vin melihat mata Adel yang berkaca-kaca. Hal itu membuat Vin merasa bingung dan takut salah bicara tadi. Mungkin karena pernikahannya yang tidak berjalan mulus, maka ia merasa iri mendengar hubungannya dengan Allea. Itu yang terlintas di pikiran Vin.
"Allea beruntung, bisa dicintai laki-laki seperti kamu."
"Maksud kamu?"
"Nggak apa-apa," ujar Adel sambil menyapu sudut matanya dengan ujung jari. "Eum, akhirnya aku mengusir Mathias dari rumah," kata Adel dengan senyum getir.
"Waw, itu sebuah keberanian, Del. Aku pikir kamu bakal terus mempertahankan pernikahanmu sama Mathias?"
"Awalnya aku berfikir demikian. Tapi ada seseorang yang membuat aku sadar kalau aku adalah wanita bodoh. Karena selama ini diam saja, melihat suamiku selingkuh. Seharusnya aku bertindak sejak dulu, Vin."
'Terus aset kamu? Jatuh ke tangan Mathias?"
"Enggak! Aku berhasil menipu dia. Mathias aku buat menandatangani surat pembatalan perjanjian. Jadi setelah surat itu dia tanda tangani, aku langsung minta cerai dan usir dia pergi. Sekarang dia jadi gelandangan! Bagus aku nggak jeblosin dia ke penjara, iya, kan?"
"Iya. Kamu terlalu baik, Del. Mathias juga nggak pantas dapatin wanita sebaik kamu. Aku yakin kamu pasti bakal menemukan kebahagiaan lain. Jangan sedih, ya?" kata Vin, mengelus pipi Adel.
"Yah, semoga. Aku menyukai seseorang, tapi sayangnya dia sudah punya pasangan. Dan aku nggak mau merebut dia dari pasangannya. Karena aku tau bagaimana rasanya kalau orang yang kita cintai diambil wanita lain," kata Adel dengan tatapan sendu ke Vin.
"Eh udah malam, mendingan habisin kopinya terus tidur aja sana," suruh Vin yang merasa situasi sekarang tidak nyaman lagi. Vin merasa tatapan mata Adel berbeda. Tidak seperti biasanya saat menatapnya. "Aku balik ke kamar dulu, ya."
"Tunggu, Vin. Temenin aku dulu sebentar, boleh?' tanya Adel sedikit memohon. Vin yang awalnya ragu, lantas mengangguk pelan. Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mengucapkan terima kasih pada Adel. Adel juga banyak membantu selama ini. Dan kini mereka juga tinggal di rumahnya.
Dibalik pintu, mereka berdua tidak sadar kalau ada seseorang yang sejak tadi ada di sana. Mendengarkan dan melihat semua yang dilakukan Vin dan Adel sambil menekan dadanya menahan rasa sakit. Yah, Allea.
Dia tidak bisa tidur dan memutuskan membuat secangkir teh tadi. Tapi saat akan kembali ke kamarnya, tanpa sengaja Allea melihat Adel yang membawa dua cangkir kopi ke atas. Dan rupanya kopi itu ia buat untuk Vin. Allea cemburu. Ia tau kalau Adel menyukai Vin. Dan jujur dalam lubuk hatinya, Allea juga menyayangi Vin. Hal yang membuat Allea sedih, adalah saat Adel bertanya tentang hubungannya dan Vin. Vin justru tidak mengatakan apa pun. Walau ia bilang kalau menyayangi Allea, tapi bagi Allea itu tidak cukup. Ia butuh komitmen. Komitmen adalah salah satu hal yang penting dalam sebuah hubungan tentunya. Sekalipun Vin tau perasaan Allea, begitu pula Allea yang tau kalau Vin menyayanginya, itu belum cukup bagi Allea. Bahkan tidak ada satu pun wanita yang suka digantungkan. Tidak ada komitmen, hanya menjalani hubungan itu seperti air mengalir. Karena jika sampai ada pihak ketiga, maka posisinya tidak akan kuat. Bisa saja Allea akan disingkirkan, dan Vin lebih memilih Adelia.
Allea memutuskan kembali ke kamarnya.
Cangkir teh ia letakan begitu saja di meja tak jauh dari balkon. Ia sakit hati dan kecewa. Tapi ia sadar kalau dia bukan siapa-siapa. Gadis itu segera masuk ke dalam selimut dan tenggelam di dalamnya. Ia teringat ucapan Vin yang mengatakan kalau Vin menyukainya. Tapi Allea merasa tidak ada kalimat dari Vin yang menunjukkan kalau hubungan mereka kini sudah berlanjut ke jenjang lebih tinggi. Berpacaran misalnya. Yah, sepertinya acara penembakan memang penting jika keadaannya seperti ini.
Tok tok tok.
Bunyi suara pintu kamar Allea diketuk, membuat gadis itu segera menyapu air matanya. Ia diam saat suara Vin memanggil namanya. Allea berusaha menutupi air mata dan bahkan tubuhnya. Ia berpura-pura tidur agar Vin segera pergi dari pintu kamarnya. Rasanya ia sedang tidak ingin bertemu pria itu sekarang.
"All ... kamu sudah tidur?" teriaknya dari depan pintu kamarnya. Allea terus memejamkan mata. Tak lama kemudian, derit pintu terdengar. Allea tau kalau Vin kini mulai masuk ke dalam kamarnya. Langkah kaki terdengar mendekat ke ranjang Allea. Ia terus diam dan berusaha bersikap selayaknya orang yang sudah terlelap tidur.
"Kok lampunya nggak dimatiin, All," kata Vin berbicara sendiri. Vin lalu mematikan lampu kamar Allea lalu bergerak keluar kamar gadis itu. Saat Vin sudah ada di luar, belum sempat ia menutup pintu, Allea mendengar Adel memanggilnya lagi. "Vin, tolong dong pintu kamarku nggak bisa dibuka."
"Oh oke."
Dan hal itu membuat hatinya makin nyeri.
____________________
Pagi merupakan awal hari yang baik bagi sebagian besar orang di rumah ini. Semua orang sudah duduk di kursi meja makan untuk sarapan. Elang sudah pulang ke rumahnya karena Shanum dan putranya menunggu di rumah. Hanya ada Abimanyu, Ellea, Allea, Vin, Gio, dan Adelia. Wajah Allea terlihat sembab. Rupanya ia menangis semalam dan itu dapat diliat dengan mudah oleh mereka.
Ellea sudah menanyakan perihal matanya yang sembab, tapi Allea selalu mangkir dan berkata kalau dirinya baik-baik saja. Allea masih terlalu malu untuk mengatakan perasaannya dan rasa cemburunya pada kedekatan Vin dan Adel. Sejak pagi Allea juga terlihat menghindari Vin, dan membuat pemuda itu kebingungan.
Selesai sarapan, para wanita menunggu di rumah sementara para pria harus pergi menyelesaikan urusan ini. Bertemu Austin terutama. Abimanyu mencium kening Ellea saat akan pergi. "Doain aku, ya, sayang. Kamu hati-hati di rumah. Tetap waspada walau di sini banyak penjaganya. Kalau ada hal yang membahayakan, pakai pistol yang ada di bawah ranjangmu. Oke?" tanya Abi sambil mengusap pipi Ellea lembut. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengeratkan pelukkan ke Abimanyu.
"All ... kamu kenapa sih?" Suara Vin yang sedang gelisah mengejar Allea membuat Abi dan Ellea melepaskan pelukan mereka dan melihat ke arah Alea pergi.
"Mereka kenapa?" tanya Abi.
"Eum, mungkin ada salah paham. Allea nggak bilang apa-apa, tapi kalau aku lihat, kayaknya dia cemburu sama Adel," tebak Ellea.
"Hah? Masa sih? Kan Adel sama Vin nggak ada hubungan apa-apa?"
"Ih, kamu ini. Emang nggak peka. Dingin dan nggak ngertiin perasaan orang!" ujar Ellea mencubit hidung Abimanyu, gemas.
"Loh aku salah? Bener, kan, kalau Vin sama Adel itu nggak ada hubungan apa-apa? Cuma sebatas kerja sama. Buktinya kamu nggak cemburu sama aku, kan?" Kalimat itu membuat Ellea tertawa.
"Biyu ... Biyu. Iya, aku memang nggak cemburu sama kamu dan Adel. Karena apa? Kalian nggak dekat, sama sekali. Tapi Vin? Kamu nggak sadar kalau Adel sama Vin dekat banget? Wajar aja kalau Allea cemburu."
"Oh gitu. Duh, aku nggak perhatiin sih selama ini. Memangnya begitu, ya? Terus bagaimana? Kamu nggak mau bantu mereka?"
"Biar aja. Mereka bisa kok selesaikan sendiri. Lagian ini urusan mereka, Biyu."
"Yah, mungkin sebagai saudara kembar Allea kamu mau marah ke Vin juga? Aku bantu, sayang. Yuk, kita omelin dia bareng-bareng."
"Idih, kamu malah seneng temenmu lagi pusing gitu. Kasihan Vin tau!"
"Biarin. Biar tau rasa!" umpat Abimanyu.
Vin terus mengejar Allea sampai di kamar gadis itu. Saat ia akan menutup pintu kamar, pemuda itu menahan pintu dan meminta penjelasan.
"All, kamu kenapa? Aku ada salah? Please, jangan gini. Kasih tau aku, kalau aku salah. Di mana? kenapa?"
"Aku nggak apa-apa, cuma lagi nggak enak badan saja. Buruan gih kamu berangkat. Sudah siap, kan, semua?"
"Enggak! Kita perlu ngobrol. Buka dulu, ya, pintunya," bujuk Vin.
Akhirnya Allea membuka pintu kamarnya dan membiarkan Vin masuk ke dalam. Vin lalu menutup pintu kamar Allea dan mengikuti gadis itu yang kini berbaring di ranjang. Vin duduk di tepi kasur, dan terus menatap wanita itu.
"All ... kita bicara, ya. Aku ngerasa kamu marah sama aku. Tapi aku nggak tau salahku di mana? Please kasih tau, All."
Allea menarik nafas panjang, lalu duduk di ranjang. Ia menatap Vin yang sejak tadi kebingungan.
"Vin, kita ini belum ada komitmen apa pun, jadi kalau kamu mau dekat sama perempuan lain, aku nggak apa-apa kok. Kamu bebas."
"Maksud kamu?"
"Enggak apa-apa. Cuma kasih tau saja. Aku mau tidur. udah sana kamu keluar!"
"No! Bukan gini. Apa tadi kamu bilang? Kita nggak ada komitmen? Kata siapa? Jadi kamu selama ini nggak menganggap aku, All?"
Allea diam, bingung harus menjawab apa.
"Aku sayang kamu. Aku juga tau kalau kamu punya perasaan yang ssama. Dan kamu anggap kita nggak ada hubungan apa-apa. Terus dengan seenaknya kamu nyuruh aku deketin cewek lain? Kamu sudah gila? hah?' Vin mulai meninggikan nada bicaranya. Sementara Allea masih diam.
"Memangnya perempuan yang mana? Aku deket sama perempuan mana lagi, All?"
Allea bangun dari kasur, dan berjalan keluar balkon kamar. Vin mengikutinya dan kini menarik tangan Allea agak kasar. "Jawab!"
"Adelia," kata Allea tanpa menatap wajah Vin, dan hanya mampu menunduk lemah.
"Hah?!"
"Semalem aku lihat kalian di balkon sana. Dan aku pikir kalian pasangan yang serasi. "
"Kok Adel sih? Allea, kamu sayang, kan sama aku?" tanya Vin.
"Iya, tapi Adel juga suka sama kamu Vin. Dan dia lebih pantes ..." Belum sempat kalimat Allea selesai, Vin langsung mencium bibirnya. Allea terpaku di tempatnya. Sementara Vin terus mencium bibir Allea makin dalam. Tangan kirinya menahan punggung Allea sementara tangan kanannya berada di pipi kanan Allea. Allea diam dan ragu untuk membalas ciuman Vin. Namun pada akhirnya mereka berdua hanyut dalam pergumulan itu. Sampai nafas Allea hampir habis, Vin baru melepaskannya. Ia menatap tajam mata Allea.
"Aku nggak peduli kalau Adel suka sama aku. Yang penting kamu. Dan kamu, jangan ngurusin perempuan lain di luar sana. Mungkin akan ada Adel Adel lain nanti dalam hubungan kita. Tapi kamu cukup rasain perasaan aku, All. Perasaan aku cuma buat kamu. Aku cuma sayang sama kamu! Bukan Adel. Ngerti?"
Allea mengangguk dengan menatap Vin.
"Dan kalau kamu anggap ini bukan komitment, sekarang aku mau minta secara resmi."
"...."
"Allea, aku sayang kamu. Kamu mau, kan, jadi pacar aku? Kita pacaran, kayak Abi sama Ellea?"
Sontak Allea tertawa dan langsung mengangguk. Air matanya kini berubah menjadi air mata bahagia. Ia sudah lega, karena Vin kini benar-benar menjadi miliknya. Memang agak kolot, dia juga merasa seperti anak sekolah saja, mengharuskan komitment yang seperti ini. Tapi ia memang terkadang menjadi gadis yang kolot dan menyebalkan. Semoga Vin tahan, ya.
***
Garius Vabian Bughet. Memiliki sebuah perusahaan bernama Berkshire Hathaway. Ia berasal dari Omaha, Nebraska, Amerika serikat. Seorang lajang yang meneruskan perusahaan milik ayahnya. Ia berbeda dari sang ayah, yang tekun dan ulet dalam bekerja. Vabian justru sebaliknya. Dia lebih sering foya-foya dan menghabiskan uang miliknya untuk bersenang-senang. Bahkan bukan dia, orang yang selama ini mengurus perusahaan itu. Vabian hanya boneka yang cuma datang untuk menanda tangani dokumen tanpa tau apa yang ia tanda tangani.
Semua hal mengenai perusahaannya dikelola oleh asistennya, Anthoni. Anthoni sudah bekerja di perusahaan itu sejak lama. Ia juga adalah asisten ayahnya dan yang paling mengerti tentang seluk beluk perusahaan. Dan, Anthoni adalah teman Elang. Berawal dari rekan bisnis, mereka perlahan cukup dekat hingga akhirnya Elang menceritakan semua perbuatan Vabian. Drama penculikan kekasih Vabian juga Anthoni-lah dalangnya. Dan kini giliran Vabian.
Pria itu berjalan gontai masuk ke kantornya yang sudah satu minggu ini ia tinggalkan. Penampilannya kacau, bahkan wajahnya terlihat sangat kusut dari biasanya. Setelah turun dari mobil mewah miliknya, Vabian melempar kunci mobil miliknya ke security yang berjaga di depan pintu lobi untuk memarkirkan mobil ke tempat yang seharusnya. Tapi ia malah dihadang oleh beberapa security dan tidak diperkenankan masuk ke dalam.
"Apa-apaan kalian?! Aku ini pemilik perusahaan! Kalian jangan sembarangan!" jerit Vabian berusaha melepaskan diri dari mereka. Beberapa staf yang ada di sekitar lobi pun menyaksikan hal ini dan bertanya-tanya antar sesama rekan kerja yang mereka temui. Resepsionis kemudian menghubungi seseorang saat Vabian mulai mengamuk dan memaksa masuk ke dalam. Akhirnya Anthoni turun ke bawah dan menyaksikan keributan ini.
"Hei, Anthoni, lihalah mereka! Menahanku untuk masuk! Sebaiknya kau pecat saja mereka!" perintah Vabian sambil membetulkan pakaiannya yang ditarik oleh para penjaga.
"Maaf, Vabian, kau memang tidak boleh masuk lagi ke sini," kata Anthoni dengan bersikap setenang mungkin.
"Apa maksudmu?"
"Kamu bukan lagi pemilik perusahaan ini."
"Apa maksudmu?" tanya Vabian dengan tatapan bingung dan emosi.
"Kemarin diadakan rapat direksi, dan kamu diberhentikan dari perusahaan ini karena kinerja kamu kurang maksimal sebagai pemilik perusahaan.
Dan lagi, isu soal kartel Ransford yang kini sedang merebak menunjukkan kalau kamu ada bagian dari mereka. Semua direksi keberatan dengan hal itu, karena kamu telah mencoreng nama baik perusahaan! Dan lagi kamu tidak ingat, kalau telah menandatangani surat ini?" tanya Anthoni tegas. Vabian merampas selembar kertas yang terdapat tanda tangannya. Setelah ia baca, ia terkejut karena di sana tertulis kalau dia akan melimpahkan perusahaan kepada Anthoni. Ia bahkan tidak ingat kapan menandatangani pernyataan semacam ini.
Vabian diam sejenak. Tubuhnya lemas, wajahnya memerah karena menahan amarah. Ia mendengus sebal dan berusaha masuk kembali ke dalam. Para penjaga tentu tetap menahannya dan alhasil sebuah bogem mentah mendarat di rahang kanannya. Ia tersungkur, jatuh keluar dari pintu kantor. Vabian terus berteriak, masih tidak terima atas keputusan sepihak perusahaan. Tapi perlahan ia pun meninggalkan tempat ini menuju parkiran mobil.
obdiamond dan 6 lainnya memberi reputasi
7