- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.5K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#13
Spoiler for 12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2):
Tak membutuhkan waktu lama bagi Agung untuk kembali tiba di Rumah Sakit. Ia berjalan menuju ruangan di mana Kania, Ali, dan Damar sudah berada.
“Ada informasi yang bisa dibagikan?” Tanya Agung.
“Toko serbaguna mempunyai banyak pelanggan yang membeli arsenik untuk produksi dengan harga yang sangat mahal.” Ucap Ali.
“Apa ada catatan pembelian beberapa hari sebelum kejadian?” Tanya Agung.
“Catatan pembelian sebelum kejadian hanya ada satu, itupun empat hari sebelum, dan dikirim ke luar kota. Ada catatan pembelian satu hari setelah kejadian yang juga dikirm ke luar kota.” Jawab Ali.
“Bagaimana dengan toko bunga?” Tanya Agung.
“Ada dua jenis bunga anggrek yang sesuai dengan penemuan pada para korban. Menurutnya, bunga yang selalu dijahit pada wajah korban, sesuai dengan fungsi bunga anggrek yang mempunyai lendir, yang biasa digunakan untuk kecantikan.” Jelas Damar.
“Kecantikan?” Tanya Agung heran.
“Hasil laboratorium menunjukkan adanya kandunganmucilage atau lendir yang berfungsi menjaga hidrasi pada kulit.” Sahut Kania.
Agung menghela nafasnya, “Pencarian kita nampaknya hanya akan berhenti sampai di sini, tidak ada satu tanda-tanda yang menuju pada pelaku.”
“Kita tunggu korban berikutnya?” Tanya Ali.
Agung menundukkan kepalanya seraya mengangguk pelan. Ali dan Damar pun saling beradu pandang dalam diam, sementara Kania hanya menatap kosong ke arah depan.
Ali dan Damar pun keluar dari ruangan, mereka kembali berjalan menuju di mana mobil berada. Di hadapan mereka, Talia datang mendekat.
“Siang Pak.” Sapanya.
“Siang Talia.” Ucap Damar.
“Ada info terbaru ngga pak soal kasus kemarin?” Tanyanya.
“Sayangnya ngga ada Tal, masih sama kayak kemarin.” Jawab Ali.
“Yah, saya ngga dapet apa-apa dong.” Keluhnya.
“Kami pun juga sama, tapi mau gimana lagi.” Sahut Ali.
“Kalian mau balik ke kantor?” Tanya Talia.
Damar mengangguk, “Mungkin ada kasus lain yang bisa kami pecahkan lebih dulu.”
“Baik, kalau gitu saya permisi ya Pak.” Ucapnya.
Talia pun kembali menuju mobilnya lalu meninggalkan Rumah Sakit. Ali dan Damar pun juga masuk ke dalam mobil lalu kembali menuju kantor.
Setibanya di kantor, mereka kembali melihat foto yang sebelumnya sudah mereka lihat. Ali mengetuk meja beberapa kali dengan tempo stabil, sementara Damar sedang memeriksa beberapa berkas yang ada di mejanya.
“Lo ajak Sasa ya nanti malem.” Ucap Ali.
“Sasa?...” Damar menatap Ali, “mau ke mana?”
“Makan malem di rumah gue, sekalian kita tanya soal ini, terlebih kan korban juga salah satu modelnya Sasa.” Jawab Ali.
“Leony gimana?” Tanya Damar.
“Ngga masalah, dia udah cukup umur.” Jawab Ali.
Damar menganggukkan kepalanya. Malam pun tiba, Damar dan Sasa keluar dari mobil lalu berjalan menuju rumah Ali. Sasa mengetuk pintu beberapa kali, Leony pun membuka pintu dari dalam.
“Halo Leony.” Sapa Sasa.
“Halo juga Tante Sasa...”
Mereka berpelukan singkat.
“...hai Om, ayo masuk.” Sapa Leony.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Ali dan Anggi sedang sibuk menata meja makan untuk meletakkan makanan yang sudah disiapkan sebelumnya.
“Sini aku bantuin.” Ucap Sasa.
“Ngga usah Sa, malah ngerepotin.” Ucap Anggi.
“Ngga, aku mau bantuin.” Ucap Sasa.
Ali pun akhirnya menjauh dari meja makan, ia mendekat ke arah Damar lalu menyaksikan para wanita yang mengambil alih tugasnya. Akhirnya meja makan pun selesai ditata, mereka semua duduk di kursi masing-masing.
“Ini apaan Kak?” Tanya Sasa.
“Itu labu masak kari Sa, makanan khas yang mulai jarang.” Jawabnya.
“Kalau itu?” Tanya Sasa lagi.
“Ikan kerapu bumbu kuning.” Jawabnya.
“Kak, ajarin aku masak Kak. Ini gila sih, ngga masuk akal.” Ucap Sasa.
“Kok ngga masuk akal Tante?” Tanya Leony.
“Kamu bayangin deh. Mama kamu sibuk kerja, tapi bisa masak berbagai macam masakan kayak gini, masuk akal ngga menurut kamu?” Tanya Sasa.
“Bener juga sih.” Sahut Leony.
Mereka pun tertawa bersama, dan akhirnya makan malam pun dimulai dengan Damar yang memimpin doa. Tentu saja masakan Anggi sudah tidak diragukan lagi, terbukti dengan ekspresi Ali dan Damar yang mengunyah sambil memejamkan mata mereka.
“Gimana?” Tanya Anggi.
“Ngga usah ditanya lagi Kak.” Sahut Sasa.
Anggi tersenyum mendengar ucapan tersebut. Makan malam berlangsung dengan tenang hingga selesai. Sasa dan Anggi sedang merapihkan alat makan di dapur, sementara Ali, Damar, dan Leony sudah berada di halamana belakang.
Damar menyalakan sebatang rokok, Ali pun menyusul kemudian. Tak berapa lama, Anggi dan Sasa pun bergabung dengan membawa teh hangat.
“Nah berhubung udah kumpul, ada yang mau ditanyain sama kalian berdua.” Ucap Damar.
“Ada apa ya?” Tanya Anggi.
Ali menghela nafasnya, “Tentang korban pembunuhan di Balai Kota, apa kalian saling kenal dengan korban atau punya hubungan sebelum itu?”
Damar mengalihkan pandangannya pada Sasa.
“Dia itu salah satu model yang baru aku kenal kurang lebih satu tahun lalu. Ketemu ngga sengaja pas aku lagi survey bahan, dan beberapa kali dia jadi model aku.” Jawab Sasa.
“Kamu deket sama dia?” Tanya Damar.
“Kalau definisi deket itu selalu bareng-bareng, ngga juga. Dia punya circle sendiri sama temen-temen modelnya. Kalau sesekali main bareng, pernah sih.” Jawabnya lagi.
“Menurut kamu Sa, apa ada orang yang ngga suka sama dia?” Tanya Ali.
“Lebih ke ngga tau kali ya Bang jawabannya, soalnya aku ngga pernah ngobrol seintim itu sama dia. Paling cuma masalah model dan sekitarnya aja.” Jelas Sasa.
“Kalau kamu?...” Ali menatap Anggi, “kamu kenal sama dia?”
Anggi menghela nafasnya lalu mengangguk pelan.
“Loh, Kak Anggi kenal sama dia?” Tanya Sasa terkejut.
“Dia pernah jadi kreatif belakang layar di stasiun televisi tempat aku kerja, kurang lebih dua tahun lalu. Setelah itu dia mengundurkan diri, dan ternyata dia jadi model.” Jawab Anggi.
“Gimana sikapnya dia selama kerja sama kamu?” Tanya Ali.
“Anaknya periang, selalu punya ide-ide brilian di antara temen-temen yang lain. Dengan kinerja yang baik, tentunya saat dia mengundurkan diri bikin aku jadi bertanya-tanya. Akhirnya aku tau kalau dia bercita-cita jadi model sejak dulu, dan bertemu dengan Sasa adalah salah satu tahapan yang bagus menurutku.” Jelas Anggi.
“Circlenya dia saat masih di stasiun televisi gimana?” Tanya Damar.
Anggi menggeleng, “Aku ngga tau, ketemu cuma di ruang rias sama kalau mau meeting agenda acara. Kita ngga yang ngobrol-ngobrol gitu.”
“Kalian bisa tau dari mana soal itu?” Tanya Sasa.
“Pacar lo ini detektif handal Sa.” Jawab Ali.
“Om Damar lebih jago dari Papa?” Sahut Leony.
Semua mata tertuju pada Leony.
“Ngga bisa dibilang gitu sih. Ada bidang yang Om lebih unggul, ada juga bidang yang Papa kamu lebih unggul. Itulah kenapa kita kerja bareng terus.” Jelas Damar.
Leony menganggukkan kepalanya, Sasa pun merangkulnya.
“Terus, gimana perkembangan kasus itu?” Tanya Anggi.
“Kami masih terus berusaha untuk cari siapa yang bersinggungan lagi dengan korban, termasuk juga kalian.” Jawab Damar.
“Jadi ini motifnya balas dendam?” Tanya Anggi.
“Kesimpulan sementara dari kami seperti itu. Semisal bukan balas dendam, berarti ada psikopat yang kembali muncul setelah kasus terakhir.” Jawab Ali.
“Apa pelakunya udah pasti satu orang?” Tanya Anggi.
“Pola pembunuhan bisa dikatakan beririsan, hilangnya organ dalam tubuh korban membuat kami percaya hanya ada satu pelaku. Namun, penggunaan zat berbahaya pada pembunuhan kedua membuat celah jika pelakunya berbeda.” Jawab Damar.
“Zat berbahaya?” Tanya Sasa.
Damar mengangguk, “Temuan zat berbahaya dari pihak Rumah Sakit baru diterbitkan, ada kandungan arsenik pada lambung korban.” Jelas Damar.
“Arsenik? Zat pengolahan industri?” Tanya Anggi.
“Betul, ada temuan itu di tubuh korban. Kami pun akhirnya...”
“Tante...”
Sasa menatap Leony yang berbisik kepadanya.
“...kok serem banget sih?” Tanya Leony.
Sasa pun merangkul Leony lebih erat.
“Mungkin kamu udah harus menyadari, bahwa dunia ini ngga selamanya cuma dihuni oleh orang baik kayak Papa dan Mama. Ada orang-orang jahat yang juga tinggal, dengan tujuan mereka yang entah apa.” Ucap Sasa.
“Tante takut ngga sama orang jahat?” Tanya Leony.
Sasa mengangguk, “Meskipun udah dewasa, Tante masih takut sama orang jahat. Tapi Tante percaya, kalau Papa kamu akan melindungi kamu dengan menangkap penjahat itu. Om Damar juga akan melakukan hal yang sama kepada Tante.”
“Jadi, kita bisa bantu apa buat Papa dan Om Damar?” Tanya Leony.
“Kita bantu doa. Kalau kamu liat Papa lagi kenapa-napa, ajak ngobrol aja. Seenggaknya, Papa punya temen ngobrol selain sama Mama.” Jawab Sasa.
Leony menganggukkan kepalanya. Malam pun berakhir dengan perbincangan mengenai kasus yang belum menemukan titik terang.
Damar pun merebahkan dirinya ke kasur setelah kembali dari kamar mandi. Ia melihat Sasa yang sedang berbincang melalui ponsel entah dengan siapa. Damar mendekat lalu mencium bibirnya, Sasa pun tersipu malu lalu tersenyum disela perbincangannya.
“...Oke Kak, makasih ya.” Ucap Sasa.
Sasa menatap ke arah Damar.
“Aku boleh ke kantor ngga?” Tanyanya.
“Kantor? Jam segini?” Tanya Damar.
“Barusan aku dikabarin kalau kantor aku dipilih jadi salah satu kolaborator acara peragaan busana internasional yang bakal diadain di negara kita.” Jawabnya.
“Serius kamu?” Tanya Damar terkejut.
“Serius, makanya aku kaget banget pas denger kabar itu. Mereka nanya, apa aku udah bisa balik kerja lagi atau belum. Semisal udah, ada meeting di kantor yang harus aku datengin malam ini.” Jelas Sasa.
“Kamu yakin udah siap balik lagi?” Tanya Damar.
“Yakin ngga yakin sih, cuma aku...”
“Yaudah boleh...” Damar memotong ucapan Sasa, “kamu siap-siap dulu, jangan sampai ada yang ketinggalan.”
“Beneran boleh?” Tanya Sasa.
“Aku akan dukung apapun keputusan kamu.” Ucap Damar.
Sasa memeluk Damar, kemudian ia melepas pelukannya lalu mencium bibir Damar. Ia pun bangun dari tidurnya lalu berdiri di samping kasur.
“Oke, aku siap.” Ucapnya seorang diri.
Damar tersenyum menatap ke arahnya. Sasa pun berlalu menuju lemari untuk mempersiapkan pakaiannya, kemudian ia menuju meja rias untuk mengenakan lipstik pada bibirnya. Sasa pun siap dengan tas yang sudah ia jinjing di tangan kanannya.
“Kamu mau aku anter?” Tanya Damar.
“Aku naik taksi aja.” Jawab Sasa.
“Jangan naik taksi, bawa mobil aja.” Ucap Damar.
“Besok kamu gimana?” Tanya Sasa.
“Gampang, ada Ali, ada bus juga. Aku takut kalau kamu naik taksi jam segini, lebih baik kalau kamu bawa mobil sendiri.” Ucap Damar.
Sasa pun akhirnya setuju, mereka berjalan menuju halaman depan bersama-sama. Sasa sempat berjalan balik ke arah Damar yang berdiri di pintu, ia pun menciumnya sekali lagi.
“Aku berangkat ya.” Ucapnya.
Damar mengangguk seraya tersenyum. Sasa pun masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju kantornya. Damar menghela nafasnya setelah mobil tak lagi nampak dari pandangannya, ia kembali masuk ke dalam dengan pertanyaan yang mengelilingi pikirannya begitu saja.
“Masa iya ada meeting tengah malem?”
*
“Tutup”
Candra membalikkan tanda di tokonya bahwa jam sudah memasuki waktu tutup pada malam ini. Ia berjalan menuju mesin jahit tua yang baru saja selesai ia gunakan untuk membuat gaun pesanan pelanggan.
Candra tersenyum seraya mengusap mesin tua itu secara perlahan, ia mengingat bagaimana mesin itu berhasil membuatnya dan tokonya bisa maju hingga saat ini.
Tok! Tok! Tok!
Candra membalikkan badannya dan melihat ke arah pintu. Ia tidak mengenakan kacamata hingga pandangannya sedikit kabur, terlebih beberapa lampu sudah ia matikan sebelumnya.
“Maaf, toko sudah...”
“Ada informasi yang bisa dibagikan?” Tanya Agung.
“Toko serbaguna mempunyai banyak pelanggan yang membeli arsenik untuk produksi dengan harga yang sangat mahal.” Ucap Ali.
“Apa ada catatan pembelian beberapa hari sebelum kejadian?” Tanya Agung.
“Catatan pembelian sebelum kejadian hanya ada satu, itupun empat hari sebelum, dan dikirim ke luar kota. Ada catatan pembelian satu hari setelah kejadian yang juga dikirm ke luar kota.” Jawab Ali.
“Bagaimana dengan toko bunga?” Tanya Agung.
“Ada dua jenis bunga anggrek yang sesuai dengan penemuan pada para korban. Menurutnya, bunga yang selalu dijahit pada wajah korban, sesuai dengan fungsi bunga anggrek yang mempunyai lendir, yang biasa digunakan untuk kecantikan.” Jelas Damar.
“Kecantikan?” Tanya Agung heran.
“Hasil laboratorium menunjukkan adanya kandunganmucilage atau lendir yang berfungsi menjaga hidrasi pada kulit.” Sahut Kania.
Agung menghela nafasnya, “Pencarian kita nampaknya hanya akan berhenti sampai di sini, tidak ada satu tanda-tanda yang menuju pada pelaku.”
“Kita tunggu korban berikutnya?” Tanya Ali.
Agung menundukkan kepalanya seraya mengangguk pelan. Ali dan Damar pun saling beradu pandang dalam diam, sementara Kania hanya menatap kosong ke arah depan.
Ali dan Damar pun keluar dari ruangan, mereka kembali berjalan menuju di mana mobil berada. Di hadapan mereka, Talia datang mendekat.
“Siang Pak.” Sapanya.
“Siang Talia.” Ucap Damar.
“Ada info terbaru ngga pak soal kasus kemarin?” Tanyanya.
“Sayangnya ngga ada Tal, masih sama kayak kemarin.” Jawab Ali.
“Yah, saya ngga dapet apa-apa dong.” Keluhnya.
“Kami pun juga sama, tapi mau gimana lagi.” Sahut Ali.
“Kalian mau balik ke kantor?” Tanya Talia.
Damar mengangguk, “Mungkin ada kasus lain yang bisa kami pecahkan lebih dulu.”
“Baik, kalau gitu saya permisi ya Pak.” Ucapnya.
Talia pun kembali menuju mobilnya lalu meninggalkan Rumah Sakit. Ali dan Damar pun juga masuk ke dalam mobil lalu kembali menuju kantor.
Setibanya di kantor, mereka kembali melihat foto yang sebelumnya sudah mereka lihat. Ali mengetuk meja beberapa kali dengan tempo stabil, sementara Damar sedang memeriksa beberapa berkas yang ada di mejanya.
“Lo ajak Sasa ya nanti malem.” Ucap Ali.
“Sasa?...” Damar menatap Ali, “mau ke mana?”
“Makan malem di rumah gue, sekalian kita tanya soal ini, terlebih kan korban juga salah satu modelnya Sasa.” Jawab Ali.
“Leony gimana?” Tanya Damar.
“Ngga masalah, dia udah cukup umur.” Jawab Ali.
Damar menganggukkan kepalanya. Malam pun tiba, Damar dan Sasa keluar dari mobil lalu berjalan menuju rumah Ali. Sasa mengetuk pintu beberapa kali, Leony pun membuka pintu dari dalam.
“Halo Leony.” Sapa Sasa.
“Halo juga Tante Sasa...”
Mereka berpelukan singkat.
“...hai Om, ayo masuk.” Sapa Leony.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Ali dan Anggi sedang sibuk menata meja makan untuk meletakkan makanan yang sudah disiapkan sebelumnya.
“Sini aku bantuin.” Ucap Sasa.
“Ngga usah Sa, malah ngerepotin.” Ucap Anggi.
“Ngga, aku mau bantuin.” Ucap Sasa.
Ali pun akhirnya menjauh dari meja makan, ia mendekat ke arah Damar lalu menyaksikan para wanita yang mengambil alih tugasnya. Akhirnya meja makan pun selesai ditata, mereka semua duduk di kursi masing-masing.
“Ini apaan Kak?” Tanya Sasa.
“Itu labu masak kari Sa, makanan khas yang mulai jarang.” Jawabnya.
“Kalau itu?” Tanya Sasa lagi.
“Ikan kerapu bumbu kuning.” Jawabnya.
“Kak, ajarin aku masak Kak. Ini gila sih, ngga masuk akal.” Ucap Sasa.
“Kok ngga masuk akal Tante?” Tanya Leony.
“Kamu bayangin deh. Mama kamu sibuk kerja, tapi bisa masak berbagai macam masakan kayak gini, masuk akal ngga menurut kamu?” Tanya Sasa.
“Bener juga sih.” Sahut Leony.
Mereka pun tertawa bersama, dan akhirnya makan malam pun dimulai dengan Damar yang memimpin doa. Tentu saja masakan Anggi sudah tidak diragukan lagi, terbukti dengan ekspresi Ali dan Damar yang mengunyah sambil memejamkan mata mereka.
“Gimana?” Tanya Anggi.
“Ngga usah ditanya lagi Kak.” Sahut Sasa.
Anggi tersenyum mendengar ucapan tersebut. Makan malam berlangsung dengan tenang hingga selesai. Sasa dan Anggi sedang merapihkan alat makan di dapur, sementara Ali, Damar, dan Leony sudah berada di halamana belakang.
Damar menyalakan sebatang rokok, Ali pun menyusul kemudian. Tak berapa lama, Anggi dan Sasa pun bergabung dengan membawa teh hangat.
“Nah berhubung udah kumpul, ada yang mau ditanyain sama kalian berdua.” Ucap Damar.
“Ada apa ya?” Tanya Anggi.
Ali menghela nafasnya, “Tentang korban pembunuhan di Balai Kota, apa kalian saling kenal dengan korban atau punya hubungan sebelum itu?”
Damar mengalihkan pandangannya pada Sasa.
“Dia itu salah satu model yang baru aku kenal kurang lebih satu tahun lalu. Ketemu ngga sengaja pas aku lagi survey bahan, dan beberapa kali dia jadi model aku.” Jawab Sasa.
“Kamu deket sama dia?” Tanya Damar.
“Kalau definisi deket itu selalu bareng-bareng, ngga juga. Dia punya circle sendiri sama temen-temen modelnya. Kalau sesekali main bareng, pernah sih.” Jawabnya lagi.
“Menurut kamu Sa, apa ada orang yang ngga suka sama dia?” Tanya Ali.
“Lebih ke ngga tau kali ya Bang jawabannya, soalnya aku ngga pernah ngobrol seintim itu sama dia. Paling cuma masalah model dan sekitarnya aja.” Jelas Sasa.
“Kalau kamu?...” Ali menatap Anggi, “kamu kenal sama dia?”
Anggi menghela nafasnya lalu mengangguk pelan.
“Loh, Kak Anggi kenal sama dia?” Tanya Sasa terkejut.
“Dia pernah jadi kreatif belakang layar di stasiun televisi tempat aku kerja, kurang lebih dua tahun lalu. Setelah itu dia mengundurkan diri, dan ternyata dia jadi model.” Jawab Anggi.
“Gimana sikapnya dia selama kerja sama kamu?” Tanya Ali.
“Anaknya periang, selalu punya ide-ide brilian di antara temen-temen yang lain. Dengan kinerja yang baik, tentunya saat dia mengundurkan diri bikin aku jadi bertanya-tanya. Akhirnya aku tau kalau dia bercita-cita jadi model sejak dulu, dan bertemu dengan Sasa adalah salah satu tahapan yang bagus menurutku.” Jelas Anggi.
“Circlenya dia saat masih di stasiun televisi gimana?” Tanya Damar.
Anggi menggeleng, “Aku ngga tau, ketemu cuma di ruang rias sama kalau mau meeting agenda acara. Kita ngga yang ngobrol-ngobrol gitu.”
“Kalian bisa tau dari mana soal itu?” Tanya Sasa.
“Pacar lo ini detektif handal Sa.” Jawab Ali.
“Om Damar lebih jago dari Papa?” Sahut Leony.
Semua mata tertuju pada Leony.
“Ngga bisa dibilang gitu sih. Ada bidang yang Om lebih unggul, ada juga bidang yang Papa kamu lebih unggul. Itulah kenapa kita kerja bareng terus.” Jelas Damar.
Leony menganggukkan kepalanya, Sasa pun merangkulnya.
“Terus, gimana perkembangan kasus itu?” Tanya Anggi.
“Kami masih terus berusaha untuk cari siapa yang bersinggungan lagi dengan korban, termasuk juga kalian.” Jawab Damar.
“Jadi ini motifnya balas dendam?” Tanya Anggi.
“Kesimpulan sementara dari kami seperti itu. Semisal bukan balas dendam, berarti ada psikopat yang kembali muncul setelah kasus terakhir.” Jawab Ali.
“Apa pelakunya udah pasti satu orang?” Tanya Anggi.
“Pola pembunuhan bisa dikatakan beririsan, hilangnya organ dalam tubuh korban membuat kami percaya hanya ada satu pelaku. Namun, penggunaan zat berbahaya pada pembunuhan kedua membuat celah jika pelakunya berbeda.” Jawab Damar.
“Zat berbahaya?” Tanya Sasa.
Damar mengangguk, “Temuan zat berbahaya dari pihak Rumah Sakit baru diterbitkan, ada kandungan arsenik pada lambung korban.” Jelas Damar.
“Arsenik? Zat pengolahan industri?” Tanya Anggi.
“Betul, ada temuan itu di tubuh korban. Kami pun akhirnya...”
“Tante...”
Sasa menatap Leony yang berbisik kepadanya.
“...kok serem banget sih?” Tanya Leony.
Sasa pun merangkul Leony lebih erat.
“Mungkin kamu udah harus menyadari, bahwa dunia ini ngga selamanya cuma dihuni oleh orang baik kayak Papa dan Mama. Ada orang-orang jahat yang juga tinggal, dengan tujuan mereka yang entah apa.” Ucap Sasa.
“Tante takut ngga sama orang jahat?” Tanya Leony.
Sasa mengangguk, “Meskipun udah dewasa, Tante masih takut sama orang jahat. Tapi Tante percaya, kalau Papa kamu akan melindungi kamu dengan menangkap penjahat itu. Om Damar juga akan melakukan hal yang sama kepada Tante.”
“Jadi, kita bisa bantu apa buat Papa dan Om Damar?” Tanya Leony.
“Kita bantu doa. Kalau kamu liat Papa lagi kenapa-napa, ajak ngobrol aja. Seenggaknya, Papa punya temen ngobrol selain sama Mama.” Jawab Sasa.
Leony menganggukkan kepalanya. Malam pun berakhir dengan perbincangan mengenai kasus yang belum menemukan titik terang.
Damar pun merebahkan dirinya ke kasur setelah kembali dari kamar mandi. Ia melihat Sasa yang sedang berbincang melalui ponsel entah dengan siapa. Damar mendekat lalu mencium bibirnya, Sasa pun tersipu malu lalu tersenyum disela perbincangannya.
“...Oke Kak, makasih ya.” Ucap Sasa.
Sasa menatap ke arah Damar.
“Aku boleh ke kantor ngga?” Tanyanya.
“Kantor? Jam segini?” Tanya Damar.
“Barusan aku dikabarin kalau kantor aku dipilih jadi salah satu kolaborator acara peragaan busana internasional yang bakal diadain di negara kita.” Jawabnya.
“Serius kamu?” Tanya Damar terkejut.
“Serius, makanya aku kaget banget pas denger kabar itu. Mereka nanya, apa aku udah bisa balik kerja lagi atau belum. Semisal udah, ada meeting di kantor yang harus aku datengin malam ini.” Jelas Sasa.
“Kamu yakin udah siap balik lagi?” Tanya Damar.
“Yakin ngga yakin sih, cuma aku...”
“Yaudah boleh...” Damar memotong ucapan Sasa, “kamu siap-siap dulu, jangan sampai ada yang ketinggalan.”
“Beneran boleh?” Tanya Sasa.
“Aku akan dukung apapun keputusan kamu.” Ucap Damar.
Sasa memeluk Damar, kemudian ia melepas pelukannya lalu mencium bibir Damar. Ia pun bangun dari tidurnya lalu berdiri di samping kasur.
“Oke, aku siap.” Ucapnya seorang diri.
Damar tersenyum menatap ke arahnya. Sasa pun berlalu menuju lemari untuk mempersiapkan pakaiannya, kemudian ia menuju meja rias untuk mengenakan lipstik pada bibirnya. Sasa pun siap dengan tas yang sudah ia jinjing di tangan kanannya.
“Kamu mau aku anter?” Tanya Damar.
“Aku naik taksi aja.” Jawab Sasa.
“Jangan naik taksi, bawa mobil aja.” Ucap Damar.
“Besok kamu gimana?” Tanya Sasa.
“Gampang, ada Ali, ada bus juga. Aku takut kalau kamu naik taksi jam segini, lebih baik kalau kamu bawa mobil sendiri.” Ucap Damar.
Sasa pun akhirnya setuju, mereka berjalan menuju halaman depan bersama-sama. Sasa sempat berjalan balik ke arah Damar yang berdiri di pintu, ia pun menciumnya sekali lagi.
“Aku berangkat ya.” Ucapnya.
Damar mengangguk seraya tersenyum. Sasa pun masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju kantornya. Damar menghela nafasnya setelah mobil tak lagi nampak dari pandangannya, ia kembali masuk ke dalam dengan pertanyaan yang mengelilingi pikirannya begitu saja.
“Masa iya ada meeting tengah malem?”
*
“Tutup”
Candra membalikkan tanda di tokonya bahwa jam sudah memasuki waktu tutup pada malam ini. Ia berjalan menuju mesin jahit tua yang baru saja selesai ia gunakan untuk membuat gaun pesanan pelanggan.
Candra tersenyum seraya mengusap mesin tua itu secara perlahan, ia mengingat bagaimana mesin itu berhasil membuatnya dan tokonya bisa maju hingga saat ini.
Tok! Tok! Tok!
Candra membalikkan badannya dan melihat ke arah pintu. Ia tidak mengenakan kacamata hingga pandangannya sedikit kabur, terlebih beberapa lampu sudah ia matikan sebelumnya.
“Maaf, toko sudah...”
ø
0
Kutip
Balas