Kaskus

Story

ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:


Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir. emoticon-Betty

Supernatural

Quote:


INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan

INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
indrag057Avatar border
bejo.gathelAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.6K
222
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
ny.sukrisnaAvatar border
TS
ny.sukrisna
#90
Part 86 Kematian Adi
"Bi! Lu jangan nekat! Pergi ke sana sendirian?" tanya Heru dengan mata yang terus ia buka dengan susah payah. Mereka memang kurang tidur, karena insiden penyerangan rumah ini tadi. Namun tentu bukan Abimanyu namanya, yang tidak akan berbuat nekat.
Abi mengendarai dengan tergesa-gesa. Teleponnya berdering, namun bukan nama Gio yang tertera di sana, melainkan Vin.

"Bi! Gawat! Gue rasa polisi yang jagain Rizal sama Nabila ada dipihak Nicholas sialan itu! Mereka mencurigakan!" kata Vin dengan bisik-bisik.

"Vin, Ellea sama yang lainnya diculik!"

"What?! Yang bener lu?"

"Iya. Gue lagi ke sana, elu situ saja. Awasi keadaan di sana dan lindungi Rizal sama Nabila."

"Tapi, Bi! Gue ikut elu aja, ya!"

"No! Gue takut kalau mereka bakal celakai Rizal sama Nabila. Lu percaya gue, kan, gue bakal bawa mereka balik! Jangan khawatir!"

"...."

"Vin?"

"Hm. Oke! Take care!"

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Abi tidak langsung pergi ke tempat di mana Ellea dan yang lain di sekap. Melainkan pergi ke salah satu temannya. Heru memberitahukan kalau Zikal, teman mereka di sekolah dulu, menjadi salah satu ketua gangster di kampung Ambon. Ia menjual beberapa senjata api yang bisa Abi pakai nanti.

Di depan sudah ada dua orang yang sedang duduk di atas kuda besinya. Tengah malam, dan masih ada manusia yang ada di depan tempat itu. Mungkin salah satu aksi penjagaan rutin.

"Ke mana, Mas?" tanya salah satu dari orang itu.

"Mau cari Zikal, ada?" tanya Abi datar.

Keduanya saling menatap satu sama lain, lalu berbisik dan membawa Abimanyu masuk. Sampai di dalam tempat ini, ia melihat sebuah bangunan besar yang mirip rumah susun kumuh ada di tengah tanah lapang ini. Beberapa kendaraan bermotor parkir di tengah halaman. Suasananya tidak sesunyi apa yang dipikirkan Abimanyu, karena sampai tengah malam begini saja, masih ada beberapa orang yang bergerombol di beberapa titik.

"Kal! Tamu!" kata orang yang membawa Abi masuk tadi. Mereka berdiri di sebuah pintu berwarna cokelat. Tak lama, pintu itu terbuka dan menunjukkan wajah yang familiar bagi Abimanyu. "Kal?" sapa Abimanyu dengan nada bertanya.

"Elu, Bi? Masuk! Heru sudah ngabarin tadi!" kata Zikal dengan tampang kusut khas bangun tidur.

'Sorry kalau gue ganggu," jawab Abi mengekor pada Zikal masuk ke dalam.

"Elu kayak sama siapa saja!" cetus Zikal sambil menguap. Ia membuka laci lemari besarnya. Di dalamnya ada beberapa senjata api berbagai jenis dan merk. "Elu mau yang mana?" tanya Zikal tanpa basa basi sedikit pun.

Mendapat persetujuan dari si empunya senjata, ia segera memilih senjata yang ingin ia pakai untuk misi penyelamatannya nanti. "Ini saja," kata Abi yang telah mengambil dua senjata api dari laci itu.

"Sudah? Itu aja?"

Abi mengangguk yakin.

"Sebenernya elu ada masalah apa, Bi?" tanya Zikal.

"Panjang ceritanya, Kal," sahut Abimanyu bersandar di salah satu tembok usang milik Zikal. "Yang jelas sekarang orang-orang yang gue lawan, bukan orang sembarangan. Gue makin pesimis, kalau gue nggak bisa tolong orang-orang yang gue sayang."

"Cih, kalimat apa itu? Gue nggak sangka bakal denger kalimat itu dari mulut seorang Abimanyu. Abi yang gue kenal nggak selemah ini. Elu habis kesambet setan mana, jadi lembek gini? Justru karena elu harus tolong orang-orang yang elu sayang itu, elu harus lebih kuat. Jadikan mereka kekuatan elu, Bi!"

"..."

"Ceritain sama gue masalah elu, kali aja gue bisa bantu. Mungkin tenaga, senjata, apa pun itu."

Abimanyu menarik nafas panjang, mengingat kejadian demi kejadian yang telah menimpanya dan orang-orang terdekatnya. Kejahatan Kartel Ransford dan para anggotanya.

"Wow, jadi soal itu?"

"Jadi elu bisa bantu gue?"

"Gini, gue kenal baik soal Nicholas itu. Dia memang brengsek asal lu tau saja. Salah satu orang besar di Indonesia yang paling munafik yang gue kenal. Karena gue pernah berurusan sama dia. Dia bukan orang sembarangan, kaki tangannya banyak dan nggak mudah ditaklukkan. Bahkan elu nggak akan bisa masuk ke markasnya dengan segampang itu!"

"Tapi dia kasih tau alamat dan kapan gue harus ke sana, Kal," kata Abi sambil menunjukkan pesan singkat dari Nicholas.

"Elu bego atau bodoh? Kalau elu ke sana sesuai apa yang dia suruh, sama aja elu cuma setor nyawa aja. Gue yakin dia udah siapin banyak rencana buat bunuh lu nanti! Pakai otak, Bi. Jangan emosi lu terus yang dikedepankan!"

"Terus gue harus bagaimana, Kal?"

Belum sempat Zikal menjawab, ponsel Abimanyu berdering. Dan nama Vin ada dilayar ponselnya.

"Halo, Vin?"

"...."

"Vin?" Merasa aneh karena tidak ada suara apa pun di seberang sana, Abi mulai cemas. Ini juga salah satu kesalahannya membiarkan Vin menjaga Rizal dan Nabila sendirian. Karena Nicholas adalah salah satu kapten angkatan udara yang dipercaya orang banyak, dibandingkan dirinya yang bukan siapa-siapa. Maka pasti akan lebih mudah mendapat simpati dan bantuan dari berbagai kalangan. Abimanyu baru benar-benar menyadari ia sendirian sekarang. Ia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, justru orang-orang di sekitarnya.

"Bi," kata Vin dengan suara yang berbisik.

"Di mana lu sekarang. Lu nggak apa-apa, kan?" tanya Abi langsung beranjak dari duduk saat suara Vin terdengar.

"Dengerin gue! Kita dijebak!"

"Maksud lu?"

"Semua polisi di sini, ada di pihak Nicholas. Gue nggak tau bagaimana keadaan Rizal sama Nabila, karena dari tadi mereka nggak sadar. Kalau pun mereka tidur itu aneh, Bi."

"Maksud lu apa sih, Vin? Ceritain yang jelas!"

"Gini, tadi ada dokter yang masuk ke sini, ke ruangan ini. Sama suster juga. Mereka bilang Rizal sama Nabila harus di kasih antibiotik buat mengurangi rasa sakit, karena sebelumnya mereka berdua memang bangun dan mengerang kesakitan terus, Bi. Tapi pas dokter itu masuk, gue lihat Nabila melotot ke gue sambil berusaha menggeleng. Lu tau kan maksud gue? Dia kayak kasih isyarat ke gue buat nggak biarin itu dokter kasih mereka suntikan."

"Oke, terus?"

"Anehnya lagi, itu suster masa pakai sepatu boot?! Kan aneh?" Vin terus menjelaskan sambil berbisik dan penuh semangat.

"Lu udah cek denyut nadi mereka? Nafasnya, detak jantungnya?"

"Mereka masih hidup, tapi tubuh mereka seolah mati! Itu yang gue rasain. Jadi percuma gue di sana terus, kan?"

"Loh elu di mana sekarang? Berisik banget?" tanya Abimanyu yang baru menyadari kalau Vin ada di tempat yang ramai dengan embusan angin yang terdengar berisik di telinganya.

"Gue ... gue lagi di luar jendela, Bi. Huh, tinggi juga, ya," kata Vin. Ia memang sedang melakukan aksi melarikan diri dari ruang rawat inap Rizal dan Nabila. Berdiri di pinggiran jendela dan sedang memikirkan bagaimana caranya turun ke bawah.

"Ya sudah, gue ke sana jemput elu!" kata Abimanyu.

"Bi! No!" tukas Vin.

"Kenapa?"

"Nggak aman, Bro! Polisi ada di mana-mana. Dan sekarang gue lebih baik ketemu preman daripada harus ketemu mereka itu. Karena gue nggak tau mana yang bisa gue percaya, mana yang ternyata pihak mereka!" Nada bicara Vin terdengar sangat kesal.

"Ck. Terus bagaimana? Gue juga harus ke tempat Nicholas besok pagi. Mereka culik Ellea dan yang lainnya!"

"Apa?! Bitch!" umpat Vin makin kesal.

"Gini saja, elu bisa keluar dari sana sekarang, Vin? Gue jemput nanti di perempatan deket rumah sakit, gimana?" tanya Abimanyu, mencari solusi terbaik. Ia juga bingung dan tidak tau harus berbuat apa jika Vin sampai tertangkap. Setidaknya keberadaan Vin di sana menjadi salah satu penyemangat bagi dirinya. Ia jadi tau kalau dirinya tidak berjuang seorang diri.

"Oke."

Akhirnya Abimanyu pergi meninggalkan tempat Zikal. Setelah meminta beberapa amunisi dan senjata yang akan ia pakai untuk menyerang tempat Nicholas dan membebaskan teman-temannya. Selama di perjalanan menuju tempat Vin, Abi terus berfikir keras bagaimana caranya agar bisa masuk ke sana dan membawa Ellea dan yang lainnya keluar dari sana hidup-hidup. Ia yakin, Nicholas tidak akan membiarkan mereka selamat. Dan undangan ini sengaja dia lakukan untuk membunuh mereka semua.

Abi sampai di perempatan yang menjadi tempat bertemunya Vin dengan dirinya. Suasana sunyi. Karena hari sudah menjelang pagi. Ia juga merasakan matanya mulai berat, dan beberapa kali ia menguap menahan kantuk. Hawa dingin mulai merasuk dalam tubuh Abi. Ia sengaja tidak menyalakan AC di mobil karena udara AC yang sejak tadi ia hirup sangat tidak menyehatkan tubuhnya. Jendela ia buka setengah, agar udara di luar mulai menggantikan udara AC yang pengap tadi. Abi terus memperhatikan jalan di mana rumah sakit tempat Nabila dan Rizal dirawat berada. Ia terus menunggu jika ada pergerakan dari arah itu, karena yakin pasti itu adalah Vin.

Suara letusan senjata api terdengar dari tempatnya memarkirkan mobil. Ia memicingkan mata melihat ke jalan itu. Menunggu dan akhirnya seseorang terlihat sedang berlari keluar dari sana. Otomatis Abi segera menyalakan mesin mobilnya. Dari kejauhan ia dapat melihat Vin sedang berlari menghindari beberapa orang yang sedang mengejarnya.

"Masuk!" jerit Abi. Vin terkejut melihat Abi, tapi berondongan peluru langsung melesat dan mengenai tubuh Vin. Pemuda itu melotot karena terkena tembakan dipunggungnya. Tidak hanya satu, tapi ada beberapa. Kini mulutnya mulai mengeluarkan darah segar. Abi mengambil pistol dan mulai menembak orang-orang yang menyerang Vin. Ia keluar dari mobil, menuju pintu penumpang di mana tubuh Vin mulai luruh ke aspal jalan. "Vin!" jeritnya. Semua tembakan Abi selalu tepat sasaran, ia tidak menembak tubuh para polisi itu. Melainkan kaki dan anggota tubuh lain yang sekiranya tidak dilapisi pelindung anti peluru. "Vin, masuk!" Abi memapah sahabatnya agar masuk ke mobil, sementara tangan satunya melindungi dirinya dan Vin, menembak ke arah orang-orang itu. Orang-orang yang seharusnya melindungi rakyat, bukan malah membela penjahat seperti Nicholas.

Abi mulai menjalankan mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu. Ia merutuki dirinya sendiri, karena melihat kondisi Vin yang memprihatinkan. Wajahnya sudah sangat pucat, karena ia sudah banyak kehilangan darah. Tidak tau harus pergi ke mana, Abi justru kembali ke tempat Zikal.Baginya sarang bandar narkoba dan bandar semua kejahatan di kota ini justru tempat teraman yang ia punya.

Vin dipapah oleh Abi keluar dari mobil. Beberapa teman Zikal menatapnya heran. "Kenapa, Bang?" tanya salah seorang dari mereka.

"Polisi!" ucap Abi dengan memapah Vin menuju tempat Zikal.

"Bang!" panggilnya lagi. Abi menoleh. "Kunci mobil lu mana? Biar gue umpetin. Mereka pasti nyari elu sampai sini! Kita bisa bikin mereka pergi kalau nggak ada bukti elu ke sini!" katanya dengan mengulurkan tangan meminta apa yang tadi ia katakan.

Abi tampak diam beberapa saat, dan akhirnya merogoh kantung celananya dan melempar kunci itu padanya. "Terima kasih!" Ia hanya mengangguk menanggapi.

Sampai di tempat Zikal, Vin dibawa ke sebuah ruangan rahasia yang ada di balik salah satu tembok tempat itu. "Biar gue obatin teman lu!" kata Zikal dan mengambil alih Vin, masuk ke ruangan itu. Abi mengikuti mereka. IA cemas dan khawatir jika terjadi hal buruk pada Vin.

Di ruangan rahasia itu ada sebuah bed yang mirip rumah sakit. Ada peralatan bedah lainnya dan tempat ini lebih mirip klinik kecil. "Ini?" tanya Abimanyu.

"Gue dan teman-teman udah biasa ngadepin ginian. Bahkan lu bisa lihat di badan gue," kata Zikal sambil mengangkat kemeja yang ia pakai. Abi melihat banyak luka sayatan dan bekas jahitan. Mengingat apa pekerjaan Zikal, maka itu memang wajar saja.

Vin di baringkan di ranjang operasi. Layaknya dokter yang akan mengoperasi pasien, Zikal memakai semua peralatan yang mirip dokter. Orang yang tadi bertemu Abi di luar, kini masuk ke dalam. Ia juga segera menempatkan dirinya membantu Zikal. "Mobil lu aman. Mereka nggak bakal nemuin. Sebaiknya lu bersembunyi. Bentar lagi mereka ke sini!" katanya sambil melirik sekilas ke arah Abimanyu yang mematung di dekat Zikal.

"Dia bener, Bi. Biar temen lu kami urus," kata Zikal sependapat.

"Gue harus pergi sekarang!"

"Mau ke mana lu? Jangan nekat, Bi. Sekarang lu buronan!" larang Zikal.

"Gue tau harus gimana, Kal! Asal gue titip dia di sini. Tolong jaga dia selama gue pergi."

Zikal menarik nafas panjang. Lalu mengangguk. Abi tersenyum getir, lalu beralih memandang Vin yang sedang ditolong oleh Zikal dan temannya. "Hey!" panggil Zikal saat Abi hendak pergi. Ia pun menoleh kembali. "Bawa mobil gue! Di bagasi ada beberapa senjata yang bisa lu pakai. Dan tentunya mobil gue nggak akan mereka curigai!" Zikal melempar sebuah kunci mobil dan segera ditangkap Abimanyu. Pemuda itu menarik sebelah bibirnya seolah sedang berterima kasih.

Abi secepat mungkin pergi dari tempat itu. Ia lebih mempercayai Zikal dari pada aparat polisi di kota ini sekarang. Abi sampai di pelataran parkir tempat itu, ada puluhan mobil di basement. Ia bingung mencari yang mana mobil Zikal di antara puluhan benda besi di sekitarnya. Abi menatap kunci mobil, lalu menekan tombol buka kunci. Sebuah mobil tank ada di tengah basement berbunyi, menandakan kalau itulah mobil Zikal. Abi segera berlari menghampiri mobil yang masih menyala lampunya karena efek tombol yang ia tekan tadi. "Wow!" Ia mendapati sebuah jeep wrangler Rubicon terlihat memukau di depannya sekarang.

Fajar sebentar lagi muncul. Abi segera mempercepat gerakannya. Kini ia mulai pergi ke tempat Nicholas. Tidak hanya senjata, tapi rompi anti peluru juga ada di mobil itu. Abi tetap memakai benda itu, ia tidak tau lawan seperti apa yang ia hadapi, dan medan seperti apa yang akan ada di tempat itu. Sekali pun ia kebal terhadap senjata api, tapi ia tetap memiliki kekurangan.

Sebuah bangunan terbengkalai terlihat ada tak jauh dari tempatnya berhenti. Ia memeriksa alamat itu dan rupanya memang di sinilah, Nicholas menculik teman-temannya. Tempat ini ada di pinggir kota, di kelilingi hutan dan beberapa bangunan kosong yang sepertinya bekas pabrik. Tidak ada perkampungan penduduk sejauh beberapa kilometer di sekitarnya. Ia turun dari mobil, lalu membawa beberapa senjata api yang ada di mobil itu.

Abi bersembunyi sambil perlahan masuk lewat pintu belakang. Beberapa penjaga ada di depan saat ia melewati tempat ini tadi. Abi mulai masuk dan perlahan mencari di mana keberadaan Ellea dan yang lainnya disekap. Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya, Abi bersembunyi. Rupanya orang itu membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Abi sangat yakin kalau itu untuk Ellea dan teman-temannya. Ia mengendap-endap dan terus mengekor orang tadi dari jarak jauh.

Saat sampai di sebuah pintu yang terkunci, orang tadi berhenti dan mendorong nampan itu melewati pintu bagian bawah. Ada sedikit lubang untuk memberikan makanan dari luar, jadi ia tidak perlu membuka pintu itu. "Makan!" katanya kasar. Begitu ia hendak pergi, Abi berlari dan menendang leher orang itu hingga ia tidak bisa berteriak, hanya memegangi lehernya yang terasa sakit. Ia melotot melihat kedatangan Abimanyu. Abi justru memukul orang tadi hingga pingsan.

"Bi?!" panggil seseorang yang berada di balik jeruji besi di dekatnya.

"Paman! Kalian nggak apa-apa?" tanya Abimanyu, ia melihat dua orang pria itu sedang ada di dalam dengan keadaan kacau. Wajah mereka hampir tidak bisa dikenali, tapi Abi yakin kalau itu adalah Gio dan Adi. "Ellea sama Allea mana?"

"Ada. Tapi nggak di sini. Kayaknya mereka di bawa pergi. Kami nggak tau."

"Damn!" umpat Abi menjambak rambutnya sendiri. "Itu paman, Adi kenapa?" tanya Abi melihat Adi hanya duduk sambil memegang perutnya. Ia terus menunduk tak bergerak. Gio menoleh, dan melihat hal itu juga. "Di! Adi! Lu masih bisa tahan, kan?" tanya Adi.

"Paman Adi kenapa?" tanya Abi sekali lagi.

"Dia kena tembak di perutnya. Tapi tenang aja, masih bernafas kok!" kata Gio setelah memeriksa kondisi sahabatnya itu.

"Biar Abi buka pintu ini."

"Bagaimana caranya? Kunci nggak ada di sini. Cuma dipegang sama Frans."

"Siapa Frans?"

"Kaki kanan Nicholas. Dia yang menculik kami."

"Oh, dia bakal mati ditanganku!" Kata Abi sambil mengeluarkan sebuah pistol. Ia memakaikan peredam terlebih dahulu, agar suara letusannya tidak memancing perhatian seluru orang di tempat ini. Gembok terlepas. Gio membantu Adi berdiri. "Ayok, kita pergi dari sini!" Abi ikut membantu memapah Adi. Kondisi Adi terlihat sangat mengkhawatirkan, bahkan hampir sama seperti Vin tadi. Mungkin karena luka ini sudah didapat cukup lama bersarang ditubuh Adi.

Abi keluar lebih dulu, untuk memeriksa keadaan. Sementara Adi dan Gio menunggu hingga keadaan aman. "Ayok!" kata Abi, memberikan instruksi. Namun saat dua pamannya itu keluar, beberapa penjaga justru memergoki mereka. "Hei!" teriak salah satu dari mereka.

Otomatis Abi menembak mereka, dan terjadi baku tembak di antara dua kubu itu. Gio kembali membawa Adi bersembunyi. Adi meringis kesakitan. "Gi ...," katanya dengan suara parau.

"Udah diem saja lu. Simpen tenaga. Bentar lagi kita keluar!" kata Gio bersiap berada di garda depan, menutupi tubuh Adi yang makin lemah. Gio yang sudah mendapat pistol dari Abi tadi, mulai menembak mereka satu persatu.

"Paman, sembunyi!" jerit Abimanyu setelah melempar sebuah granat yang ia simpan di kantung bajunya tadi. Benda itu meledak di antara kerumunan anak buah Nicholas. "Ayo!" kata Abimanyu membantu Adi berdiri. Gedung itu sebagian runtuh. Mereka bertiga berlari meninggalkan gedung tadi bersama-sama.

Di halaman mulai terjadi aksi penembakan lagi. Gio dan Abi terus melindungi diri sambil meninggalkan tempat itu perlahan. "Ugh!" Gio menoleh, ia mendapati Adi terus memegangi perutnya dan darah makin banyak keluar dari sana. Gio lantas membuka bajunya dan rela bertelanjang dada. Ia menutup perut Adi dengan kausnya. "Tahan sebentar lagi, Gi. Kita pulang, oke?" Baru kali ini Gio bersikap lembut pada Adi. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat kondisi Adi yang mulai menurun.

"Gi ... mending kalian pergi saja. Gue cuma memperlambat," ucap Adi dengan susah payah.

"Apa-apaan lu! Mending lu diem aja. Jangan ngomong apa-apa lagi!"

"Kalian bisa pergi sekarang. Gampang banget, kan, buat lari ke sana. Ke mobil itu. Gue cuma memperlambat!" Lagi, Adi berkata demikian sambil batuk berdarah. Jarak mereka dan mobil yang parkir di pinggir jalan, yang tidak lain mobil yang dibawa Abimanyu tadi memang tidak jauh lagi. Jika keadaan Adi baik-baik saja, pasti mereka sekarang sudah berlari dan duduk di kursi mobil itu, bersip untuk pergi. Tapi, keadaan sekarang lain.

Gio sudah tidak tahan lagi, ia mengelap sekilas salah satu sudut matanya, dan mulai memapah Adi lagi. "Ayo. Bi! Buruan!" jeritnya yang berada agak jauh dengan Abimanyu bersembunyi. Abimanyu mengangguk, ia kembali melempar granat ke arah kerumunan orang-orang yang sejak tadi menembaki dirinya dan dua pamannya itu. Kesempatan ini tidak ia sia-siakan. Sambil membantu memapah Adi mereka segera berlari menuju mobil Zikal.

"Cepet!" Mobil dinyalakan dan Abi mulai menyetir dan membawa dua pamannya pergi dari tempat itu. Akhirnya mereka bisa bernafas lega. Gio melirik Adi yang duduk di sampingnya. Adi duduk dengan tangan menekan perutnya terus. Kepalanya menunduk. "Di ... Lu nggak apa-apa, kan?" tanya Gio, lalu menyentuh lengan pria di sampingnya itu.

Adi terjatuh ke arah sampingnya. Hal itu membuat Gio panik, "Di! Adi! Hei! Bangun, Kampret!" jeritnya dengan terus mengguncang tubuh Adi yang sudah lemas. Abi yang sedang fokus menyetir akhirnya ikut cemas. "Paman Adi kenapa?"

"Di! Adi! Bangun, Di. Kita ke rumah sakit, oke?" Gio sangat cemas. ia menepuk-nepuk pipi Adi yang kini berada di pelukannya. "Adi, please jangan pergi. Jangan mati, Di! Jangan!" Gio mulai menangis, ia sudah tidak tahan lagi. Apalagi Adi adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya. "Adi!" jerit Gio sambil terus memeluknya. Mendekap pria itu. Pria yang paling lama berada di kehidupannya. Pria yang terus ada di sampingnya saat semua orang pergi meninggalkannya satu persatu.

"Kenapa lu ninggalin gue, Di?! Haaa!"

Abimanyu menghentikan mobilnya, ia menoleh melihat Adi yang memang sudah meregang nyawa berada di pelukan Gio.
Diubah oleh ny.sukrisna 30-04-2023 12:40
itkgid
regmekujo
obdiamond
obdiamond dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.