- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.9K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#86
Part 82 Racun
Penumpang lain ada yang merasa iba tapi juga kesal dan bingung yang bercampur menjadi satu. Ini memang hal aneh jika sampai ada orang hilang di dalam kereta pada saat masuk ke toilet. Kasus yang jarang terjadi.
"Vin! Allea ketemu!" jerit Abimanyu dengan suara yang terdengar samar. Vin melepas wanita tadi dan menyusul Abi ke dalam diikuti Ellea dan beberapa orang lain.
Mereka menoleh dan mencari keberadaan Abi di sekitar, bingung karena tak menemukan keberadaan pemuda itu, tapi seseorang menunjuk ke atas dan berteriak. "Itu di sana!"
Vin mendongak dan melotot saat melihat tubuh Allea tak berdaya. "Bantuin gue! Pegangin Allea!" jerit Abi. Vin mendekat dibantu beberapa orang di luar.
Sampai di bawah, gadis itu terlihat pucat dengan wajah sedikit biru.
"All? Allea?" panggil Vin sambil menepuk dan menggoncang goncangkan tubuh lemah di pangkuannya. "Dia kenapa, Bi?!" tanya Vin panik. Abi menggeleng dan sama cemas nya.
Namun, seseorang mendekat dan memeriksa kondisi Allea. Dari denyut nadi dan jantung. Ia menyuruh wanita di belakangnya mengambil tas miliknya. Rupanya ia seorang dokter.
"Dia keracunan!" kata pria setengah baya itu.
"Apa? Terus gimana?"
"Hm, sebentar. Tolong ambilkan air minum! Dan yang lain bisa beri kami udara? Kalian bisa kembali ke tempat duduk kalian!" perintahnya dan benar-benar mujarab. Ellea datang dengan botol air mineral, sementara pria dengan kemeja kotak-kotak itu mengambil obat dari dalam tasnya.
"Oh sial! Perempuan tadi mana, Vin?!" tanya Abi yang baru menyadari pelakunya kabur.
"Astaga! Kabur!"
"Kita tolong Allea dulu yang penting!" kata Ellea.
Pria itu memasukan beberapa pil obat ke mulut Allea, dan meminumkannya bersama air mineral tadi. Mereka bersama-sama membuat agar obat tadi masuk ke perutnya.
"Anda dokter?" tanya Ellea penasaran. Pria tadi mengangguk.
"Itu obat apa?" tanya Vin.
"Ini untuk mencuci perutnya, agar racun apa pun yang ia minum bisa keluar. Setidaknya ini pertolongan pertama sekarang. Kita ada di kereta, tidak mungkin menghentikan benda ini ditengah hutan, kan?" tanyanya dengan menunjuk jendela dengan barisan pohon tinggi di luar.
Beberapa menit ditunggu akhirnya Allea batuk-batuk, Vin mengangkat tubuh Allea saat melihat gadis itu akan muntah. Obat itu bekerja, menyelamatkan nyawa Allea. Setidaknya Allea selamat sekarang, walau pelakunya kabur.
"Gue coba cari perempuan itu!" kata Abi. Tapi Allea menahan tangannya, lalu menggeleng. "Biar aja, Biyu. Percuma."
"Kalian ini siapa sebenarnya? Musuh kalian mengerikan!" tukas dokter itu.
"Yah, kami berkali- kali hampir mati, Dok. Ngomong- ngomong ... Terima kasih."
Desa Amethys
Mereka sampai di gerbang desa itu. Tempat di mana Abi tinggal dan dibesarkan. Ellea pun tidak tau harus ke mana setelah kembali ke Indonesia, karena rumahnya sudah dijual saat ibunya sakit keras. Sementara Vin, yang seorang perantauan juga tidak memiliki tempat tinggal tetap. Apalagi Allea, yang notabennya warga negara asing, ini adalah tempat yang baru baginya.
Mereka sampai di gerbang desa, menunggu transportasi yang akan membawa mereka ke cafe. Yah, Abi rindu "Cafe Panca sona." Rindu dua pamannya, dan semua sudut tempat itu dan aroma kopi kesukaannya. Tentu meja barista adalah tempat pertama yang ingin ia kunjungi.
"Naik apa kita?" tanya Vin. Langit sudah mulai senja. Semburat merah terlihat di atas mereka. Indah dan mengagumkan. Senja identik dengan ketenangan dan membuat orang-orang menikmatinya di waktu santai mereka. Seperti sekarang. Kondisi Allea sudah membaik, walau wajahnya terlihat belum sepenuhnya segar dan tubuhnya masih lemas karena seluruh isi perutnya ia muntah kan tadi.
Abi merogoh kantung celananya, mengeluarkan benda pipih yang sangat jarang ia pergunakan. Bahkan ia tidak tau apakah daya di ponselnya masih cukup untuk melakukan panggilan telepon sekarang. Ia terlalu sibuk. Yah, cuma itu alasan yang bisa ia pakai jika dua paman nya mengomel nanti. Setidaknya Abi punya cerita menegangkan yang akan ia bagi untuk mereka.
"Halo, paman Adi."
"...."
"Eum, maaf, nanti aku ceritain. Paman lagi ngapain? Bisa ke gerbang desa nggak?"
"...."
"Aku pulang."
"...."
"Aku bawa Vin, Ellea sama Allea, jadi pakai mobil, ya."
"...."
"Makanya buruan ke sini. Udah mau malam ini, kan?"
"...."
Abimanyu kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya. "Bentar lagi," katanya melirik pada Vin yang sudah tidak sabar untuk segera pergi dari tempat ini. Ia mencemaskan Allea yang masih lemah. Tentu ia makin waspada ke sekitar. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi. Bahkan sampai mereka tiba di Indonesia teror itu terus mengikuti.
"Bi ... Kalau kita aja masih diikuti mereka, gimana Faizal? Apa dia baik-baik aja?" bisik Vin, sengaja agar dua gadis di dekat mereka tidak mendengarnya.
"Hm, itu juga yang lagi gue pikirin. Nanti sampai rumah, kita hubungin dia. Yah, semoga dia baik-baik aja."
Setelah menunggu beberapa menit, sebuah mobil Dodge Coronet – R/T Convertible berhenti di halte bus, tepat di depan mereka yang sedang menunggu jemputan dari Adi maupun Gio. Mobil klasik buatan tahun 1970-an ini hanya ada 2 di dunia, dan salah satunya adalah milik Adi. Ia penyuka benda klasik dan kuno. Dan ini adalah mobil kesayangannya.
"Butuh tumpangan?" tanya seorang pria dengan jambang tipis di balik kemudinya. Dua pria yang masih berdiri di tepi jalan bersama dua gadis di belakangnya, lantas tersenyum. "Hai, Vin. Lama nggak ketemu."
"Hai, Om. Makin ganteng aja," sahut Vin membuka pintu belakang mobil itu. Mempersilakan para gadis masuk lebih dahulu. Sementara Abimanyu, tentu duduk di samping kemudi.
"Kau masih hidup, anak muda?" tanya Adi basa basi. Sadar pertanyaan itu bermakna sarkas, Abimanyu hanya menarik sudut bibirnya.
"Huh, aku rindu kalian, Paman."
"Cih, menjijikkan."
Mobil berputar, dan meninggalkan gerbang desa menuju kediaman Abimanyu. Beberapa bulan berlalu, tak banyak yang berubah dari desanya. Tak jarang ia menarik bibir saat melihat keindahan desanya. Menyapa penduduk yang tak sengaja berpapasan dengan mereka.
Adi menyempatkan diri menyapa Ellea, dan juga Allea. Ia terkejut saat mengetahui kalau Ellea memiliki kembaran. Dan benar-benar tidak menyangka saat mendengar kisah pilu mereka di Venesia sana.
"Oh, jadi karena ini, elu nggak balas semua pesan gue, Bi?!" tanya Adi, melirik pemuda di sampingnya.
Orang yang ditanya, tak langsung menjawab, menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal. Mencari jawaban yang lebih enak di dengar, walau sudah pasti Adi tau kalau mang itu alasan yang kuat. "Maaf, Paman. Jangankan membalas pesan, makan saja aku sering lupa. Untung Ellea cepat ketemu, dia yang sering mengingatkan aku makan."
"Ya ... Ya ... Ya ... Sudah. Nggak apa-apa. Yang penting kalian baik-baik aja," kata Adi menarik nafas panjang.
Mobil masuk ke halaman luas di seberang cafe Pancasona. Tempat ini memang sudah disewa untuk lahan parkir yang makin lama makin sempit, dikarenakan pengunjung cafe mulai ramai setiap harinya. Kawasan wisata di desa Amethys mulai banyak dikunjungi wisatawan. Tentu membuat cafe ini mendapat banyak keuntungan.
"Welcome home," kata Adi setelah turun dari mobilnya. Menatap bangunan tua yang sudah mereka sulap menjadi lebih apik dan menarik. Setelah Abimanyu pergi, ada beberapa perubahan. Suasana outdoor makin di budidayakan. Selain ada kursi dan meja dengan ukiran unik, kini ada payung di tiap meja yang ada di luar. Melindungi dari panasnya matahari dan guyuran air hujan. Tirai lampu tumbler ada di tiap lingkaran meja, dan akan nampak indah saat malam hari nanti. Beberapa pohon juga sengaja diberi hiasan lampu berwarna warni yang mulai dinyalakan saat mereka tiba. Beberapa menit lagi langit akan gelap. Suasana di luar cafe mulai sepi, karena saat petang adalah waktu yang tidak baik untuk berkeliaran di luar rumah. Masih kolot dan banyak legenda maupun aturan desa yang tetap dipatuhi sampai sekarang.
Beberapa pemuda terlihat memakai seragam khas cafe. Mereka adalah pegawai baru yang sengaja direkrut Adi dan Gio karena mereka makin kewalahan mengurus cafe berdua saja. "Sejak elu pergi, gue sama Gio terpaksa cari pegawai baru. Cafe makin ramai," jelas Adi saat melihat tatap Abimanyu yang merasa asing dengan beberapa orang baru, yang ada di dalam. Abimanyu hanya mengangguk menanggapi, ia sadar kalau hal itu memang sudah seharusnya dilakukan. Beberapa kali cafe mereka mengalami bongkar pasang pegawai. Apalagi sejak kasus Ridwan kemarin, cafe sering ditutup karena kekurangan pegawai.
Gio yang sedang sibuk ada di meja barista, menoleh saat tamunya datang. "Wohoo! Ada tamu jauh!" ujarnya dengan semangat 45 tos dengan Vin yang masuk lebih dulu. "Sehat, Vin? Makin kenceng aja otot," kata Gio sambil meremas lengan Vin dengan otot yang menyembul bergelombang.
"Sehat! Om gimana? Makin nyentrik aja," kata Vin yang melihat penampilan Gio tetap keren walau umurnya tak lagi muda.
"This is my style you know?" Gio melirik ke pemuda di belakang Vin. Wajahmu terlihat tidak bersahabat. Ia mengepalkan tangan kanan dan bersiap meninju orang itu. "Kau! Bikin cemas aja!" kata Gio, kesal. Tapi segera ia menarik tangan Abimanyu yang terlihat berusaha menutupi wajahnya, bersiap akan serangan dari pamannya itu.
Mereka saling berpelukan erat. Yah. Wajar, sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu, dan Gio maupun Adi tidak tau kabar keponakannya itu.
"Maaf, paman. Tapi aku pulang dengan selamat, kan? Dan lihat! Aku bawa Ellea juga ... Allea!" tukas Abi menunjuk dua wanita di belakangnya. Gio nampak melongo beberapa saat, sampai Adi melemparnya dengan kunci mobil yang masih ia genggam.
"Muka lu biasa aja, Gi! Dasar celamitan!" sindir Adi yang melengos masuk ke toilet.
"Heh! Muka gue biasa aja kali, Di. Ini kok ada dua? Ellea yang mana?" tanya Gio menunjuk dua gadis itu, mereka sama-sama tersenyum melihat reaksi pria dengan topi koboi di depan mereka.
"Coba tebak yang mana?" tanya Ellea. Gio langsung tersenyum dan menunjuk, "Pasti kamu! Astaga!" kedua tangannya melebar ke samping bersiap menyambut pelukan calon istri keponakannya. Ellea segera berhambur memeluk Gio, karena ia memang sangat rindu.
"Om apa kabar?"
"Selalu baik. Kamu gimana? Ke mana saja?" Pertanyaan bertubi-tubi pasti sudah ia siapkan untuk gadis itu. Ia lantas melirik ke gadis satunya, yang wajahnya sama persis. "Ini? Kamu nggak bilang punya saudara kembar, Ell?"
"Kenalin, Om. Namanya Allea. Kami ketemu di Venesia. Dan, aku juga nggak tau kalau punya saudara kembar," kata Ellea membuka ruang untuk dua orang itu saling berkenalan.
"Jadi ... Ada apa di Venesia? Sampai-sampai Abi nggak jawab telepon kami bahkan nggak balas pesan kami!" sindir Gio sambil melirik ke pemuda itu. Abi yang merasa dibicarakan langsung pamit ke toilet.
"Panjang ceritanya, Om."
"Om punya waktu luang," kata Gio melirik jam pergelangan tangannya. "Fandi! Jaga kasir!" Mereka berjalan memilih meja di dalam cafe karena di luar sudah mulai gelap.
_______
"Dan sekarang kami dikejar-kejar orang, Om. Mereka menginginkan flash disk ini dan kematian kami tentunya," jelas Ellea serius.
"Kami bingung harus gimana lagi. Di sana nggak aman, di sini juga," tambah Vin.
"Hey, anak muda! Jangan menyepelekan kami! Mentang-mentang kami udah nggak lagi muda kayak kalian!" tukas Gio.
"Gio bener. Baguslah kalian pulang. Setidaknya, kita bisa melawan mereka bersama-sama. Masalah kayak gini mah bukan hal baru lagi, ya kan, Gi?!"
"Bener itu. Ngomong-ngomong, kita para pria tua ini juga butuh penyegaran, otot-otot bisa kaku kalau cuma angkat nampan kopi," kata Adi menunjukan lengannya yang tidak buruk. Yah, hampir sama seperti milik Vin.
"Hey, kalian nggak mau pulang?" tanya Abimanyu pada mereka semua.
"Oh Tuhan, akhirnya! Aku bisa merasakan tidur di kasur yang empuk," ujar Vin sambil merentangkan kedua tangannya.
Cafe mulai dirapikan. Abimanyu selaku pemilik sudah kembali, ia memberikan rapat malam ini, sebagai perkenalan dan sambutan yang terlambat darinya. Sudah pukul 21.00 dan mereka harus pulang. Tubuh yamg letih, juga membutuhkan istirahat.
Perjalanan pulang tidak membutuhkan waktu yang lama. Kini bangunan yang sudah direnovasi itu, nampak di depan mereka. Memang rumah di daerah ini hanya satu, milik Abi. Rumah lain ada beberapa kilometer dari rumah miliknya. Ia dan kedua orang tuanya memang suka tinggal lebih menjauh dari keramaian penduduk.
"Waw, rumah lu makin bagus, Bi. Di renov?" tanya Vin begitu sampai di teras, melihat banyak perubahan di bangunan ini. Masih sama, tapi cat nya baru, dan ada beberapa tambahan lain yang terlihat dari muka pintu. Yah, bangunan ini terlihat makin tinggi.
"Iya, karena kebakaran waktu itu."
"Welcome home," kata Gio, membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk.
"Allea, anggap aja di rumah sendiri, ya," tutur Adi yang melihat gadis itu banyak diam. Mungkin karena lingkungan baru atau karena tubuhnya memang belum sepenuhnya sehat. Mungkin keduanya.
Lantai tiga sengaja Adi dan Gio buat. Mereka membuat beberapa ruangan lain, yang sengaja dijadikan kamar.
"Bener, kan? Ide gue? Kita perlu banyak kamar di rumah ini," kata Adi merasa bangga pada hasil karyanya.
"Jadi kalian yang bikin lantai atas?" tanya Abi dengan tatapan jengah menunjuk ke atas.
"Salah siapa elu nggak angkat telepon kami? Kami nelpon alasannya juga karena itu. Eh, Ellea sama Allea, yuk, kita lihat kamar kalian!" ajak Gio menggandeng dua gadis itu. Abi hanya menggeleng, pasrah.
"Sana istirahat!" suruh Adi yang bertiga mengunci pintu dan memeriksa jendela.
Vin dan Abi mengangguk setuju. Mereka juga merasa sudah sangat lelah.
Jendela mulai ditutup, korden ditarik hingga menutupi seluruh kaca yang ada di lantai bawah. Ia senang, karena rumah ini kembali seperti rumah. Tidak hanya dihuni dua manusia saja. Tapi kini, ramai. Sampai saat Adi menarik korden terakhir, sekilas ia melihat ada bayangan hitam di luar. Bersembunyi di balik pepohonan.
Dahi Abi berkerut. Ia memincingkan mata dan terus menatap ke sudut itu. Merasa ada yang tidak beres, ia melangkah keluar. Dan kembali membuka kunci pintu depan. Adi menyapu pandang ke sekitar, hanya ada semilir angin malam yang makin kencang. Ia mengambil telepon genggamnya, menyalakan lampu untuk melihat ke sudut gelap tadi. Hening. Hanya ada suara hewan malam yang biasa ia dengar selama ini. Adi dan Gio sering duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi di tengah malam. Mereka tidak kenal rasa takut pada apa pun. Mungkin karena mereka sudah banyak melalui hari paling mengerikan selama hidup mereka selama ini.
Merasa malam ini terasa berbeda, aneh, dan tidak seperti biasanya, Adi kembali melangkah ke luar. "Hello?" ucapnya lagi. Perlahan tapi pasti, ia terus berjalan mendekat. Dengan senter sebagai penerang jalannya.
Bunyi suara buruan terdengar pilu, beberapa burung bahkan terlihat terbang saat ia mendekati hutan dekat rumah. Ia berhenti, menoleh ke belakang, tepatnya ke rumah satu-satunya di tempat ini. Ia ragu untuk melanjutkan niatannya, tapi ia merasa ada yang aneh di sana.
Adi mengangkat kedua bahunya, dan kembali berjalan makin dalam ke hutan. "Siapa di sana?" teriaknya dengan tetap waspada.
Adi mulai menajamkan pendengaran nya. Saat ia rasa mendengar suara aneh di sekitarnya. Suara geraman. Ia tidak yakin apa yang ia dengar, hingga ia terus maju sampai ke salah satu pohon. Menyorot keadaan di dalam hutan dengan barisan pohon yang membuatnya rimbun. Ia terus menyinari tempat itu mencari sesuatu yang mengganggunya.
Dan benar saja, sesuatu bergerak cepat. Sebuah bayangan hitam berpindah di balik satu pohon ke pohon lain. "Siapa itu?" jerit Adi terus mendekat. Tapi gerakan itu makin cepat. Ia seolah berlari menghindari Adi. Hal itu membuat pria yang penuh rasa penasaran ini justru mengejarnya. "Hei!" jeritnya lagi.
Makin dalam, ia makin bingung. Ia merasa tersesat karena terus mencari orang tadi. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Hingga Adi terkejut. "Astaga! Abimanyu! Ngapain lu di sini?!" pekik Adi panik.
"Harusnya Abi yang tanya. Paman ngapain di sini?" tanyanya sambil memperhatikan sekeliling mereka.
"Oh itu, tadi, kayak ada orang ngintip rumah kita. Makanya gue kejar. Malah elu ngusulin. Lepas deh kan!" gerutu Adi.
"Yang bener?" tanya Abi mulai merasa khawatir. Apakah orang- orang itu sudah mengejarnya sampai ke sini?
"Iya, yakin. Itu pohon tadi pada gerak-gerak. Tapi, ada suara aneh," jelas Adi mencoba mengingat kembali.
"Suara apa, Paman?"
"Sesuatu. Menggeram."
"Menggeram?"
Adi mengangguk yakin.
"Vin! Allea ketemu!" jerit Abimanyu dengan suara yang terdengar samar. Vin melepas wanita tadi dan menyusul Abi ke dalam diikuti Ellea dan beberapa orang lain.
Mereka menoleh dan mencari keberadaan Abi di sekitar, bingung karena tak menemukan keberadaan pemuda itu, tapi seseorang menunjuk ke atas dan berteriak. "Itu di sana!"
Vin mendongak dan melotot saat melihat tubuh Allea tak berdaya. "Bantuin gue! Pegangin Allea!" jerit Abi. Vin mendekat dibantu beberapa orang di luar.
Sampai di bawah, gadis itu terlihat pucat dengan wajah sedikit biru.
"All? Allea?" panggil Vin sambil menepuk dan menggoncang goncangkan tubuh lemah di pangkuannya. "Dia kenapa, Bi?!" tanya Vin panik. Abi menggeleng dan sama cemas nya.
Namun, seseorang mendekat dan memeriksa kondisi Allea. Dari denyut nadi dan jantung. Ia menyuruh wanita di belakangnya mengambil tas miliknya. Rupanya ia seorang dokter.
"Dia keracunan!" kata pria setengah baya itu.
"Apa? Terus gimana?"
"Hm, sebentar. Tolong ambilkan air minum! Dan yang lain bisa beri kami udara? Kalian bisa kembali ke tempat duduk kalian!" perintahnya dan benar-benar mujarab. Ellea datang dengan botol air mineral, sementara pria dengan kemeja kotak-kotak itu mengambil obat dari dalam tasnya.
"Oh sial! Perempuan tadi mana, Vin?!" tanya Abi yang baru menyadari pelakunya kabur.
"Astaga! Kabur!"
"Kita tolong Allea dulu yang penting!" kata Ellea.
Pria itu memasukan beberapa pil obat ke mulut Allea, dan meminumkannya bersama air mineral tadi. Mereka bersama-sama membuat agar obat tadi masuk ke perutnya.
"Anda dokter?" tanya Ellea penasaran. Pria tadi mengangguk.
"Itu obat apa?" tanya Vin.
"Ini untuk mencuci perutnya, agar racun apa pun yang ia minum bisa keluar. Setidaknya ini pertolongan pertama sekarang. Kita ada di kereta, tidak mungkin menghentikan benda ini ditengah hutan, kan?" tanyanya dengan menunjuk jendela dengan barisan pohon tinggi di luar.
Beberapa menit ditunggu akhirnya Allea batuk-batuk, Vin mengangkat tubuh Allea saat melihat gadis itu akan muntah. Obat itu bekerja, menyelamatkan nyawa Allea. Setidaknya Allea selamat sekarang, walau pelakunya kabur.
"Gue coba cari perempuan itu!" kata Abi. Tapi Allea menahan tangannya, lalu menggeleng. "Biar aja, Biyu. Percuma."
"Kalian ini siapa sebenarnya? Musuh kalian mengerikan!" tukas dokter itu.
"Yah, kami berkali- kali hampir mati, Dok. Ngomong- ngomong ... Terima kasih."
Desa Amethys
Mereka sampai di gerbang desa itu. Tempat di mana Abi tinggal dan dibesarkan. Ellea pun tidak tau harus ke mana setelah kembali ke Indonesia, karena rumahnya sudah dijual saat ibunya sakit keras. Sementara Vin, yang seorang perantauan juga tidak memiliki tempat tinggal tetap. Apalagi Allea, yang notabennya warga negara asing, ini adalah tempat yang baru baginya.
Mereka sampai di gerbang desa, menunggu transportasi yang akan membawa mereka ke cafe. Yah, Abi rindu "Cafe Panca sona." Rindu dua pamannya, dan semua sudut tempat itu dan aroma kopi kesukaannya. Tentu meja barista adalah tempat pertama yang ingin ia kunjungi.
"Naik apa kita?" tanya Vin. Langit sudah mulai senja. Semburat merah terlihat di atas mereka. Indah dan mengagumkan. Senja identik dengan ketenangan dan membuat orang-orang menikmatinya di waktu santai mereka. Seperti sekarang. Kondisi Allea sudah membaik, walau wajahnya terlihat belum sepenuhnya segar dan tubuhnya masih lemas karena seluruh isi perutnya ia muntah kan tadi.
Abi merogoh kantung celananya, mengeluarkan benda pipih yang sangat jarang ia pergunakan. Bahkan ia tidak tau apakah daya di ponselnya masih cukup untuk melakukan panggilan telepon sekarang. Ia terlalu sibuk. Yah, cuma itu alasan yang bisa ia pakai jika dua paman nya mengomel nanti. Setidaknya Abi punya cerita menegangkan yang akan ia bagi untuk mereka.
"Halo, paman Adi."
"...."
"Eum, maaf, nanti aku ceritain. Paman lagi ngapain? Bisa ke gerbang desa nggak?"
"...."
"Aku pulang."
"...."
"Aku bawa Vin, Ellea sama Allea, jadi pakai mobil, ya."
"...."
"Makanya buruan ke sini. Udah mau malam ini, kan?"
"...."
Abimanyu kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya. "Bentar lagi," katanya melirik pada Vin yang sudah tidak sabar untuk segera pergi dari tempat ini. Ia mencemaskan Allea yang masih lemah. Tentu ia makin waspada ke sekitar. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi. Bahkan sampai mereka tiba di Indonesia teror itu terus mengikuti.
"Bi ... Kalau kita aja masih diikuti mereka, gimana Faizal? Apa dia baik-baik aja?" bisik Vin, sengaja agar dua gadis di dekat mereka tidak mendengarnya.
"Hm, itu juga yang lagi gue pikirin. Nanti sampai rumah, kita hubungin dia. Yah, semoga dia baik-baik aja."
Setelah menunggu beberapa menit, sebuah mobil Dodge Coronet – R/T Convertible berhenti di halte bus, tepat di depan mereka yang sedang menunggu jemputan dari Adi maupun Gio. Mobil klasik buatan tahun 1970-an ini hanya ada 2 di dunia, dan salah satunya adalah milik Adi. Ia penyuka benda klasik dan kuno. Dan ini adalah mobil kesayangannya.
"Butuh tumpangan?" tanya seorang pria dengan jambang tipis di balik kemudinya. Dua pria yang masih berdiri di tepi jalan bersama dua gadis di belakangnya, lantas tersenyum. "Hai, Vin. Lama nggak ketemu."
"Hai, Om. Makin ganteng aja," sahut Vin membuka pintu belakang mobil itu. Mempersilakan para gadis masuk lebih dahulu. Sementara Abimanyu, tentu duduk di samping kemudi.
"Kau masih hidup, anak muda?" tanya Adi basa basi. Sadar pertanyaan itu bermakna sarkas, Abimanyu hanya menarik sudut bibirnya.
"Huh, aku rindu kalian, Paman."
"Cih, menjijikkan."
Mobil berputar, dan meninggalkan gerbang desa menuju kediaman Abimanyu. Beberapa bulan berlalu, tak banyak yang berubah dari desanya. Tak jarang ia menarik bibir saat melihat keindahan desanya. Menyapa penduduk yang tak sengaja berpapasan dengan mereka.
Adi menyempatkan diri menyapa Ellea, dan juga Allea. Ia terkejut saat mengetahui kalau Ellea memiliki kembaran. Dan benar-benar tidak menyangka saat mendengar kisah pilu mereka di Venesia sana.
"Oh, jadi karena ini, elu nggak balas semua pesan gue, Bi?!" tanya Adi, melirik pemuda di sampingnya.
Orang yang ditanya, tak langsung menjawab, menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal. Mencari jawaban yang lebih enak di dengar, walau sudah pasti Adi tau kalau mang itu alasan yang kuat. "Maaf, Paman. Jangankan membalas pesan, makan saja aku sering lupa. Untung Ellea cepat ketemu, dia yang sering mengingatkan aku makan."
"Ya ... Ya ... Ya ... Sudah. Nggak apa-apa. Yang penting kalian baik-baik aja," kata Adi menarik nafas panjang.
Mobil masuk ke halaman luas di seberang cafe Pancasona. Tempat ini memang sudah disewa untuk lahan parkir yang makin lama makin sempit, dikarenakan pengunjung cafe mulai ramai setiap harinya. Kawasan wisata di desa Amethys mulai banyak dikunjungi wisatawan. Tentu membuat cafe ini mendapat banyak keuntungan.
"Welcome home," kata Adi setelah turun dari mobilnya. Menatap bangunan tua yang sudah mereka sulap menjadi lebih apik dan menarik. Setelah Abimanyu pergi, ada beberapa perubahan. Suasana outdoor makin di budidayakan. Selain ada kursi dan meja dengan ukiran unik, kini ada payung di tiap meja yang ada di luar. Melindungi dari panasnya matahari dan guyuran air hujan. Tirai lampu tumbler ada di tiap lingkaran meja, dan akan nampak indah saat malam hari nanti. Beberapa pohon juga sengaja diberi hiasan lampu berwarna warni yang mulai dinyalakan saat mereka tiba. Beberapa menit lagi langit akan gelap. Suasana di luar cafe mulai sepi, karena saat petang adalah waktu yang tidak baik untuk berkeliaran di luar rumah. Masih kolot dan banyak legenda maupun aturan desa yang tetap dipatuhi sampai sekarang.
Beberapa pemuda terlihat memakai seragam khas cafe. Mereka adalah pegawai baru yang sengaja direkrut Adi dan Gio karena mereka makin kewalahan mengurus cafe berdua saja. "Sejak elu pergi, gue sama Gio terpaksa cari pegawai baru. Cafe makin ramai," jelas Adi saat melihat tatap Abimanyu yang merasa asing dengan beberapa orang baru, yang ada di dalam. Abimanyu hanya mengangguk menanggapi, ia sadar kalau hal itu memang sudah seharusnya dilakukan. Beberapa kali cafe mereka mengalami bongkar pasang pegawai. Apalagi sejak kasus Ridwan kemarin, cafe sering ditutup karena kekurangan pegawai.
Gio yang sedang sibuk ada di meja barista, menoleh saat tamunya datang. "Wohoo! Ada tamu jauh!" ujarnya dengan semangat 45 tos dengan Vin yang masuk lebih dulu. "Sehat, Vin? Makin kenceng aja otot," kata Gio sambil meremas lengan Vin dengan otot yang menyembul bergelombang.
"Sehat! Om gimana? Makin nyentrik aja," kata Vin yang melihat penampilan Gio tetap keren walau umurnya tak lagi muda.
"This is my style you know?" Gio melirik ke pemuda di belakang Vin. Wajahmu terlihat tidak bersahabat. Ia mengepalkan tangan kanan dan bersiap meninju orang itu. "Kau! Bikin cemas aja!" kata Gio, kesal. Tapi segera ia menarik tangan Abimanyu yang terlihat berusaha menutupi wajahnya, bersiap akan serangan dari pamannya itu.
Mereka saling berpelukan erat. Yah. Wajar, sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu, dan Gio maupun Adi tidak tau kabar keponakannya itu.
"Maaf, paman. Tapi aku pulang dengan selamat, kan? Dan lihat! Aku bawa Ellea juga ... Allea!" tukas Abi menunjuk dua wanita di belakangnya. Gio nampak melongo beberapa saat, sampai Adi melemparnya dengan kunci mobil yang masih ia genggam.
"Muka lu biasa aja, Gi! Dasar celamitan!" sindir Adi yang melengos masuk ke toilet.
"Heh! Muka gue biasa aja kali, Di. Ini kok ada dua? Ellea yang mana?" tanya Gio menunjuk dua gadis itu, mereka sama-sama tersenyum melihat reaksi pria dengan topi koboi di depan mereka.
"Coba tebak yang mana?" tanya Ellea. Gio langsung tersenyum dan menunjuk, "Pasti kamu! Astaga!" kedua tangannya melebar ke samping bersiap menyambut pelukan calon istri keponakannya. Ellea segera berhambur memeluk Gio, karena ia memang sangat rindu.
"Om apa kabar?"
"Selalu baik. Kamu gimana? Ke mana saja?" Pertanyaan bertubi-tubi pasti sudah ia siapkan untuk gadis itu. Ia lantas melirik ke gadis satunya, yang wajahnya sama persis. "Ini? Kamu nggak bilang punya saudara kembar, Ell?"
"Kenalin, Om. Namanya Allea. Kami ketemu di Venesia. Dan, aku juga nggak tau kalau punya saudara kembar," kata Ellea membuka ruang untuk dua orang itu saling berkenalan.
"Jadi ... Ada apa di Venesia? Sampai-sampai Abi nggak jawab telepon kami bahkan nggak balas pesan kami!" sindir Gio sambil melirik ke pemuda itu. Abi yang merasa dibicarakan langsung pamit ke toilet.
"Panjang ceritanya, Om."
"Om punya waktu luang," kata Gio melirik jam pergelangan tangannya. "Fandi! Jaga kasir!" Mereka berjalan memilih meja di dalam cafe karena di luar sudah mulai gelap.
_______
"Dan sekarang kami dikejar-kejar orang, Om. Mereka menginginkan flash disk ini dan kematian kami tentunya," jelas Ellea serius.
"Kami bingung harus gimana lagi. Di sana nggak aman, di sini juga," tambah Vin.
"Hey, anak muda! Jangan menyepelekan kami! Mentang-mentang kami udah nggak lagi muda kayak kalian!" tukas Gio.
"Gio bener. Baguslah kalian pulang. Setidaknya, kita bisa melawan mereka bersama-sama. Masalah kayak gini mah bukan hal baru lagi, ya kan, Gi?!"
"Bener itu. Ngomong-ngomong, kita para pria tua ini juga butuh penyegaran, otot-otot bisa kaku kalau cuma angkat nampan kopi," kata Adi menunjukan lengannya yang tidak buruk. Yah, hampir sama seperti milik Vin.
"Hey, kalian nggak mau pulang?" tanya Abimanyu pada mereka semua.
"Oh Tuhan, akhirnya! Aku bisa merasakan tidur di kasur yang empuk," ujar Vin sambil merentangkan kedua tangannya.
Cafe mulai dirapikan. Abimanyu selaku pemilik sudah kembali, ia memberikan rapat malam ini, sebagai perkenalan dan sambutan yang terlambat darinya. Sudah pukul 21.00 dan mereka harus pulang. Tubuh yamg letih, juga membutuhkan istirahat.
Perjalanan pulang tidak membutuhkan waktu yang lama. Kini bangunan yang sudah direnovasi itu, nampak di depan mereka. Memang rumah di daerah ini hanya satu, milik Abi. Rumah lain ada beberapa kilometer dari rumah miliknya. Ia dan kedua orang tuanya memang suka tinggal lebih menjauh dari keramaian penduduk.
"Waw, rumah lu makin bagus, Bi. Di renov?" tanya Vin begitu sampai di teras, melihat banyak perubahan di bangunan ini. Masih sama, tapi cat nya baru, dan ada beberapa tambahan lain yang terlihat dari muka pintu. Yah, bangunan ini terlihat makin tinggi.
"Iya, karena kebakaran waktu itu."
"Welcome home," kata Gio, membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk.
"Allea, anggap aja di rumah sendiri, ya," tutur Adi yang melihat gadis itu banyak diam. Mungkin karena lingkungan baru atau karena tubuhnya memang belum sepenuhnya sehat. Mungkin keduanya.
Lantai tiga sengaja Adi dan Gio buat. Mereka membuat beberapa ruangan lain, yang sengaja dijadikan kamar.
"Bener, kan? Ide gue? Kita perlu banyak kamar di rumah ini," kata Adi merasa bangga pada hasil karyanya.
"Jadi kalian yang bikin lantai atas?" tanya Abi dengan tatapan jengah menunjuk ke atas.
"Salah siapa elu nggak angkat telepon kami? Kami nelpon alasannya juga karena itu. Eh, Ellea sama Allea, yuk, kita lihat kamar kalian!" ajak Gio menggandeng dua gadis itu. Abi hanya menggeleng, pasrah.
"Sana istirahat!" suruh Adi yang bertiga mengunci pintu dan memeriksa jendela.
Vin dan Abi mengangguk setuju. Mereka juga merasa sudah sangat lelah.
Jendela mulai ditutup, korden ditarik hingga menutupi seluruh kaca yang ada di lantai bawah. Ia senang, karena rumah ini kembali seperti rumah. Tidak hanya dihuni dua manusia saja. Tapi kini, ramai. Sampai saat Adi menarik korden terakhir, sekilas ia melihat ada bayangan hitam di luar. Bersembunyi di balik pepohonan.
Dahi Abi berkerut. Ia memincingkan mata dan terus menatap ke sudut itu. Merasa ada yang tidak beres, ia melangkah keluar. Dan kembali membuka kunci pintu depan. Adi menyapu pandang ke sekitar, hanya ada semilir angin malam yang makin kencang. Ia mengambil telepon genggamnya, menyalakan lampu untuk melihat ke sudut gelap tadi. Hening. Hanya ada suara hewan malam yang biasa ia dengar selama ini. Adi dan Gio sering duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi di tengah malam. Mereka tidak kenal rasa takut pada apa pun. Mungkin karena mereka sudah banyak melalui hari paling mengerikan selama hidup mereka selama ini.
Merasa malam ini terasa berbeda, aneh, dan tidak seperti biasanya, Adi kembali melangkah ke luar. "Hello?" ucapnya lagi. Perlahan tapi pasti, ia terus berjalan mendekat. Dengan senter sebagai penerang jalannya.
Bunyi suara buruan terdengar pilu, beberapa burung bahkan terlihat terbang saat ia mendekati hutan dekat rumah. Ia berhenti, menoleh ke belakang, tepatnya ke rumah satu-satunya di tempat ini. Ia ragu untuk melanjutkan niatannya, tapi ia merasa ada yang aneh di sana.
Adi mengangkat kedua bahunya, dan kembali berjalan makin dalam ke hutan. "Siapa di sana?" teriaknya dengan tetap waspada.
Adi mulai menajamkan pendengaran nya. Saat ia rasa mendengar suara aneh di sekitarnya. Suara geraman. Ia tidak yakin apa yang ia dengar, hingga ia terus maju sampai ke salah satu pohon. Menyorot keadaan di dalam hutan dengan barisan pohon yang membuatnya rimbun. Ia terus menyinari tempat itu mencari sesuatu yang mengganggunya.
Dan benar saja, sesuatu bergerak cepat. Sebuah bayangan hitam berpindah di balik satu pohon ke pohon lain. "Siapa itu?" jerit Adi terus mendekat. Tapi gerakan itu makin cepat. Ia seolah berlari menghindari Adi. Hal itu membuat pria yang penuh rasa penasaran ini justru mengejarnya. "Hei!" jeritnya lagi.
Makin dalam, ia makin bingung. Ia merasa tersesat karena terus mencari orang tadi. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Hingga Adi terkejut. "Astaga! Abimanyu! Ngapain lu di sini?!" pekik Adi panik.
"Harusnya Abi yang tanya. Paman ngapain di sini?" tanyanya sambil memperhatikan sekeliling mereka.
"Oh itu, tadi, kayak ada orang ngintip rumah kita. Makanya gue kejar. Malah elu ngusulin. Lepas deh kan!" gerutu Adi.
"Yang bener?" tanya Abi mulai merasa khawatir. Apakah orang- orang itu sudah mengejarnya sampai ke sini?
"Iya, yakin. Itu pohon tadi pada gerak-gerak. Tapi, ada suara aneh," jelas Adi mencoba mengingat kembali.
"Suara apa, Paman?"
"Sesuatu. Menggeram."
"Menggeram?"
Adi mengangguk yakin.
obdiamond dan 6 lainnya memberi reputasi
7