- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.4K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#12
Spoiler for 11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1):
Pagi datang seperti biasanya, sinar matahari menjadi pertanda akan rutinitas orang-orang dengan segala kesibukannya.
“Pagi...”
Kania masuk ke dalam ruangan, di sana sudah ada beberapa dokter yang duduk seraya memainkan ponsel mereka.
“...gimana kabar kalian hari ini?” Tanyanya.
“Aman dok. Ngomong-ngomong, ada yang mau saya bicarakan dok perihal hasil otopsi kemarin.” Ucap salah satu dokter.
Kania duduk di kursi, “Hasil otopsi kemarin? Bukannya hasilnya udah keluar?”
“Betul dok. Jadi hasil kemarin memang sudah keluar, namun ada hasil tambahan yang diterbitkan pihak lab. Saya kira salah cetak, ternyata ada hasil yang berbeda.” Jelasnya.
“Hasil yang berbeda?” Tanya Kania bingung.
Dokter itu memberikan lembar hasil laboratorium kepada Kania. Ia pun mengambil kacamata dari saku jasnya lalu membaca hasil laporan itu.
“Arsenik?” Tanya Kania.
“Iya dok, ada senyawa arsenik yang ditemukan dalam lambung korban dengan dosis yang sangat kecil. Menurut laboratorium, zat ini sulit untuk terdeteksi karena jangka waktunya sudah cukup lama. Andai saja terlambat beberapa menit, mungkin tidak akan ada hasil laporan kedua.” Jelasnya.
“Apa kuku korban terdeteksi menyimpan arsenik?” Tanya Kania.
“Tidak dok, bisa dipastikan arsenik bukan berasal dari korban.” Jawabnya.
Kania menyandarkan tubuhnya, “Ada kemungkinan arsenik yang tersebar dari lingkungan. Namun jika memang begitu, bukan hanya dia yang terpapar, terlebih hanya dosis besar yang bisa membunuhnya. Kesimpulan sementara, korban diracun dengan makanan. Kalau gitu, saya coba hubungi detektif, terima kasih ya.”
Dokter itu menganggukkan kepalanya. Kania mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, ia menghubungi Damar mengenai berita yang baru saja ia terima.
Berpindah ke kantor detektif, Damar sedang berbincang dengan salah satu stafnya di lobi depan. Tak berapa lama, Ali datang dengan rokoknya yang sudah menyala di bibirnya.
“Selamat pagi...” Ali menjabat tangan mereka, “apa kabar semuanya? Ada gosip apa hari ini? Apakah gosip soal sekretaris Kepala Detektif sudah terbukti?”
“Masih pagi udah bahas itu aja lo, nanti siang aja lah.” Keluh Damar.
“Gosip itu ngga kenal waktu, bisa kapan aja. Bener ngga?” Ucap Ali.
Staf yang bersama mereka pun menganggukan kepala. Mereka menyempatkan waktu untuk membicarakan sekretaris Kepala Detektif yang menurut beberapa orang adalah mantan pekerja malam di salah satu tempat ternama.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Ali dan Damar masuk ke dalam ruangan lalu duduk di kursi mereka masing-masing. Ali dengan segera menyalakan televisi untuk melihat siaran berita, sementara Damar berkutat dengan komputernya.
“Pemirsa, kenaikan harga minyak beberapa hari lalu, mempengaruhi harga jual bahan-bahan pokok di pasaran. Tentu saja hal ini mendapatkan keluhan, baik dari konsumen maupun para penjual...”
“Wah, gila sih ini. Apa kita minta naik gaji?” Tanya Ali.
“Yakin lo mau minta naik gaji?” Tanya Damar.
“Mau ngga mau Mar.” Jawabnya singkat.
“Ngga yakin gue kalau kita bakalan naik gaji...” Damar tak mengalihkan pandangannya, “kalau kita naik gaji, pasti yang lain juga naik gaji. Kalau ada kerjaan sih enak, kalau semisal ngga ada? Bakalan dipecat kita.”
“Abis gimana dong? Coba dulu lah kita deketin Bos kita, siapa tau dia tergugah hatinya buat naikin gaji kita mengikuti kenaikan harga minyak.” Ucap Ali.
Damar menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Matanya masih terpaku pada layar komputer, ia sedang memeriksa latar belakang dari korban terakhir kasus yang ia tangani.
Beberapa saat berlalu, ia pun menemukan akun sosial media dari korban. Damar memeriksa foto yang ada di sana satu persatu, ada beberapa fotonya yang sedang memeragakan busana. Ada juga fotonya yang sedang bersama Sasa, mereka nampak tersenyum bahagia setelah acara selesai. Damar menghela nafasnya melihat foto itu, kemudian ia beralih ke foto-foto lain.
Ada sebuah foto korban yang membuat mata Damar terbuka dengan lebar, ia mendekatkan jaraknya pada layar untuk memastikan apa yang ia lihat.
“Li...”
Ali menatap ke arahnya.
“...sini, ini gue salah liat apa ngga?” Tanya Damar.
“Lo pake kacamata mending...” Ali berdiri di samping Damar, “apaan sih?”
“Lo liat ini.” Ucap Damar.
Ali melihat ke arah layar, ia pun membuka matanya dengan lebar setelah melihat apa yang ada di layar komputer Damar. Bersamaan dengan itu pula, Damar mengambil ponselnya, ada panggilan masuk dari Kania.
“Selamat pagi dok.” Sapa Damar.
“Pagi Pak Damar, bisa ke Rumah Sakit sama Pak Ali? Ada yang mau saya sampaikan ke kalian.”Ucap Kania.
“Baik dok, saya ke sana.” Jawabnya.
Damar memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja. Ia memandangi Ali yang masih terdiam, hingga Damar kembali melihat foto yang ditampilkan di layarnya. Ada sebuah foto korban yang sedang berdiri bersampingan dengan Anggi.
“Ini beneran?” Tanya Ali.
“Ya beneran lah, ini kan akun sosial media korban. Anggi sama sekali ngga cerita soal ini pada malam setelah kejadian?” Ucap Damar.
Ali menatap Damar, “Ngga ada cerita sama sekali Mar. Makanya saat itu, gue anggep teriakannya dia cuma histeris aja. Setelah ini, gue jadi paham kenapa dia bisa sehisteris itu.”
“Lo tanya deh nanti sama dia.” Ucap Damar.
“Nanti gue tanyain. Eh iya, dokter Kania kenapa?” Ucap Ali.
“Astaga, lupa gue...” Ali bangun dari duduk, “kita disuruh ke Rumah Sakit, katanya ada yang mau dikasih tau, cuma ngga tau apa.”
Mereka pun meninggalkan ruangan menuju Rumah Sakit. Setibanya di sana, mereka masuk ke dalam ruang otopsi. Ali melihat-lihat seisi ruangan, namun ia tidak menemukan Kania di sana.
“Bener janjian di sini?” Tanya Ali.
“Coba gue hubungin dulu deh.” Sahut Damar.
Damar mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja. Belum sempat ia bertanya, Kania mengirimkan pesan kepadanya untuk bertemu di taman belakang.
“Oh, taman belakang Li.” Sahut Damar.
Mereka pun keluar dari ruangan menuju taman, dengan meninggalkan pintu yang terbuka. Ali dan Damar pun tiba di taman belakang, mereka melihat ke arah sekeliling untuk mencari Kania.
“Pak...”
Ali dan Damar pun melihat ke sumber suara, di sana ada Kania dan Agung yang sudah duduk di salah satu bangku panjang. Ali dan Damar pun mendekat ke arah mereka dan duduk di hadapannya.
“Ada apa dok?” Tanya Ali.
“Jadi tadi pagi, salah satu dokter yang bantu saya otopsi bilang kalau ada hasil susulan pemeriksaan laboratorium dari korban pembunuhan di Balai Kota...”
Kania memberikan kertas itu.
“...ada temuan baru di tubuh korban yang berhasil terekam.” Ucapnya.
Agung mengambil kertas itu. Ia membacanya sesaat, kemudian memberikan kertas itu kepada Ali dan Damar. Mereka pun juga membaca hasil laporan susulan tersebut.
“Arsenik? Tanya Damar.
Kania mengangguk, “Secara sederhana, arsenik bisa dikatakan sebagai racun alami. Itu bisa saja menempel pada kuku melalui udara, tidak berbau, tidak berwarna, bahkan tidak terdeteksi. Laboratorium merekam bahwa zat tersebut ada di lambung korban dengan dosis sangat kecil, sementara untuk membuat seseorang dikatakan mati, harus membutuhkan dosis besar. Kesimpulan sementara yang bisa saya berikan, korban diracun sebelum diatur seperti saat itu.”
“Kira-kira, apakah melalui makanan dok?” Tanya Agung.
“Kemungkinan terbesar lewat konsumsi, entah makanan atau minuman. Arsenik akan lebih mudah jika melewati minuman karena mudah larut, sementara jika lewat makanan akan terlihat perbedaannya.” Jelas Kania.
“Kalau disuntikkan?” Tanya Ali.
“Variabel lain cukup banyak, namun kami tidak menemukan adanya bekas jarum suntik di tubuh korban, kecuali...” Kania terdiam sesaat, “bekas jarum suntik itu juga menjadi lubang benang jahit.”
“Sebenarnya, itu bukan benang jahit dok.” Ucap Damar.
“Terus benang apa?” Tanya Agung.
“Benang layang-layang.” Jawab Ali.
“Layang-layang?” Tanya Kania terkejut.
Damar mengangguk, “Kami sempat bertanya ke salah satu profesi ahli yang kami kenal, dia menjelaskan kalau benang yang ada di tubuh korban itu bukan benang jahit, melainkan benang layang-layang. Kami pun baru menyadari maksud dari isi surat yang ditemukan, yaitu pelaku ingin membuat korban seolah-olah menjadi layang-layang yang bisa terbang tinggi, dan juga jatuh dengan keras ketika angin berhenti berhembus.”
“Astaga...” Kania menghela nafas, “ngga ngebayangin kenapa dia bisa mikir sampai sebegitunya. Udah diluar nalar orang biasa sih.”
“Profesi ahli yang kalian kenal, bisa dipercaya?” Tanya Agung.
Ali mengangguk, “Dia sudah sangat berpengalaman Pak, dengan toko jahitnya yang sudah berdiri puluhan tahun hingga saat ini. Lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian penemuan korban pertama.”
“Terus, gimana setelah ini?” Tanya Kania.
Agung menghela nafas, “Kita bagi tugas terpisah. Saya dan anggota akan kembali memeriksa lokasi-lokasi kejadian, detektif Ali akan memeriksa di mana bisa mendapatkan arsenik buatan. Detektif Damar, kamu coba cari toko bunga yang menjual anggrek seperti itu, kita ngga bisa remehin bunga yang selalu muncul setiap pembunuhan. Dokter Kania bisa menunggu kami jika ada sesuatu yang mendesak.”
Mereka pun berpisah di taman menuju lokasi berikutnya sesuai dengan tugas masing-masing. Beberapa saat berlalu dalam perjalanan, Damar menekan tombol untuk turun dari bus di halte yang sudah dekat.
Bus berhenti, ada beberapa orang yang keluar dari bus, termasuk Damar. Ia berjalan menuju salah satu toko bunga yang cukup terkenal di daerah ini. Setibanya di sana, ia masuk dengan mendorong pintu yang juga menyentuh lonceng hingga berbunyi. Seorang wanita datang dari ruang belakang dan mendekat ke arahnya.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” Tanya wanita itu.
“Perkenalkan...” Damar menunjukkan identitasnya, “saya ingin bertanya-tanya mengenai bunga, apakah kamu bisa membantu?”
Wanita itu mengangguk, “Apa yang mau ditanyakan?”
“Apakah ada bunga anggrek di sini?” Tanya Damar.
“Ada, mari ikut saya.” Ajak wanita itu.
Damar dan wanita itu berjalan ke sudut ruangan, di mana ada banyak sekali jenis bunga anggrek di sana. Damar dibuat terkesima dari warna-warna anggrek tersebut.
“Kalau saya boleh tau, apakah ini menyangkut pembunuhan beberapa hari lalu?” Tanya wanita itu.
“Betul sekali.” Jawab Damar.
“Setelah saya lihat apa yang ditampikan pada siaran berita, ada dua jenis anggrek yang sesuai. Pada kasus pertama yaitu anggrek Vanda...”
Wanita itu menunjukkan bentuk anggrek Vanda.
“...salah satu jenis anggrek yang bisa hidup lebih lama, dan juga motifnya yang luar biasa. Sementara untuk kasus kedua...”
Wanita itu menunjuk ke arah anggrek Dendrobium.
“...anggrek Dendrobium Sonia, salah satu jenis yang mudah untuk dirawat dan bisa diletakkan di mana saja. Dua jenis anggrek yang bisa ditemukan di setiap toko bunga.” Jelasnya.
“Apa yang membuat anggrek menjadi istimewa?” Tanya Damar.
“Masing-masing orang punya interpretasi sendiri terhadap bunga anggrek. Kebanyakan, orang yang membeli dan memelihara bunga anggrek adalah orang yang suka dengan kedamaian. Anggrek tidak mempunyai warna-warna mencolok seperti kebanyakan bunga lain.” Jawabnya.
“Bagaimana dengan harganya?” Tanya Damar.
“Mudah terjangkau untuk semua kalangan, bukan termasuk kategori bunga yang mahal.” Jawabnya.
Damar melihat tanda harga dari bunga anggrek.
“Sangat murah untuk bunga yang menurut saya elegan.” Sahut Damar.
Wanita itu mengangguk, “Saya pun setuju. Berbicara soal itu, mungkin saya punya pendapat pribadi mengenai anggrek dan korban. Seingat saya, anggrek itu mempunyai lendir yang bisa digunakan untuk kecantikan. Itulah mungkin kenapa selalu ada anggrek di wajah korban.”
“Kecantikan?” Tanya Damar.
“Iya, saya lupa apa namanya. Beberapa produk kecantikan juga menggunakan sari dari anggrek sebagai bahan dasarnya, karena memang terbukti berhasil.” Jelasnya.
Beralih ke Ali yang sedang memarkirkan mobilnya, ia keluar dari dalam menuju sebuah toko serbaguna. Seorang penjaga pun mendekat ke arahnya.
“Mau beli apa Pak?” Tanyanya.
Ali menunjukkan identitasnya, “Saya mau tanya, apakah di sini menjual arsenik?”
“Ada Pak.” Jawabnya.
“Apa beberapa hari lalu ada yang membeli arsenik?” Tanya Ali.
“Beberapa orang yang sudah menjadi langganan kami selalu membeli arsenik di toko kami, dalam seminggu bisa dua orang yang datang.” Jawabnya.
“Mereka membeli arsenik untuk apa?” Tanya Damar lagi.
“Ada yang digunakan untuk pengolahan kaca, ada yang untuk perekat logam, ada juga yang digunakan sebagai pestisida pembunuh hama.” Jelasnya.
“Saya boleh lihat produknya?” Tanya Ali.
“Boleh Pak, sebentar...”
Penjaga itu menuju ruang belakang. Selagi menunggu, Ali hanya melihat-lihat apa saja yang dijual di toko ini. Sesuai dengan namanya, toko ini menjual semua barang yang dibutuhkan. Tidak heran jika toko ini selalu ramai dikunjungi orang-orang. Penjaga itu kembali datang membawa satu botol arsenik kepada Ali.
“...ini pak produknya.” Ucap penjaga itu.
Ali melihat arsenik dalam kemasan botol sedang, ia melihat kandungan yang tertulis pada label beserta harga yang dijual oleh toko ini.
“Memang harganya semahal ini?” Tanya Ali.
“Betul Pak, kami hanya menjual arsenik dengan kandungan 99%. Harganya pun menyesuaikan dengan kandungannya Pak.” Jawabnya.
“Apakah ada juga dalam bentuk lain?” Tanya Ali.
Penjaga itu mengangguk, “Ada juga dalam bentuk bubuk, harganya sedikit lebih mahal. Sayangnya pelanggan kami tidak menggunakan bubuk, jadinya kami hanya menjual dalam bentuk ini.”
Sementara itu, Agung berjalan kembali menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari tempat kejadian pertama. Ia menyalakan sebatang rokok setibanya di mobil, Agung menghembuskan asap rokok seraya menatap ke arah kejauhan. Ponselnya pun berbunyi, ada sebuah pesan masuk dari Kania. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu masuk ke dalam mobil. Ada ajudannya yang sudah duduk di kursi kemudi, yang menatapnya lewat spion tengah.
“Perintah Komandan.” Ucap ajudan.
“Balik ke Rumah Sakit.” Jawabnya.
Mobil dinas yang ia naiki pun bergerak untuk kembali menuju Rumah Sakit. Sang ajudan kembali melihat ke arah spion tengah, ia menemukan Agung sedang membersihkan tangannya dengan tisu basah yang bernoda kemerahan.
“Pagi...”
Kania masuk ke dalam ruangan, di sana sudah ada beberapa dokter yang duduk seraya memainkan ponsel mereka.
“...gimana kabar kalian hari ini?” Tanyanya.
“Aman dok. Ngomong-ngomong, ada yang mau saya bicarakan dok perihal hasil otopsi kemarin.” Ucap salah satu dokter.
Kania duduk di kursi, “Hasil otopsi kemarin? Bukannya hasilnya udah keluar?”
“Betul dok. Jadi hasil kemarin memang sudah keluar, namun ada hasil tambahan yang diterbitkan pihak lab. Saya kira salah cetak, ternyata ada hasil yang berbeda.” Jelasnya.
“Hasil yang berbeda?” Tanya Kania bingung.
Dokter itu memberikan lembar hasil laboratorium kepada Kania. Ia pun mengambil kacamata dari saku jasnya lalu membaca hasil laporan itu.
“Arsenik?” Tanya Kania.
“Iya dok, ada senyawa arsenik yang ditemukan dalam lambung korban dengan dosis yang sangat kecil. Menurut laboratorium, zat ini sulit untuk terdeteksi karena jangka waktunya sudah cukup lama. Andai saja terlambat beberapa menit, mungkin tidak akan ada hasil laporan kedua.” Jelasnya.
“Apa kuku korban terdeteksi menyimpan arsenik?” Tanya Kania.
“Tidak dok, bisa dipastikan arsenik bukan berasal dari korban.” Jawabnya.
Kania menyandarkan tubuhnya, “Ada kemungkinan arsenik yang tersebar dari lingkungan. Namun jika memang begitu, bukan hanya dia yang terpapar, terlebih hanya dosis besar yang bisa membunuhnya. Kesimpulan sementara, korban diracun dengan makanan. Kalau gitu, saya coba hubungi detektif, terima kasih ya.”
Dokter itu menganggukkan kepalanya. Kania mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, ia menghubungi Damar mengenai berita yang baru saja ia terima.
Berpindah ke kantor detektif, Damar sedang berbincang dengan salah satu stafnya di lobi depan. Tak berapa lama, Ali datang dengan rokoknya yang sudah menyala di bibirnya.
“Selamat pagi...” Ali menjabat tangan mereka, “apa kabar semuanya? Ada gosip apa hari ini? Apakah gosip soal sekretaris Kepala Detektif sudah terbukti?”
“Masih pagi udah bahas itu aja lo, nanti siang aja lah.” Keluh Damar.
“Gosip itu ngga kenal waktu, bisa kapan aja. Bener ngga?” Ucap Ali.
Staf yang bersama mereka pun menganggukan kepala. Mereka menyempatkan waktu untuk membicarakan sekretaris Kepala Detektif yang menurut beberapa orang adalah mantan pekerja malam di salah satu tempat ternama.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Ali dan Damar masuk ke dalam ruangan lalu duduk di kursi mereka masing-masing. Ali dengan segera menyalakan televisi untuk melihat siaran berita, sementara Damar berkutat dengan komputernya.
“Pemirsa, kenaikan harga minyak beberapa hari lalu, mempengaruhi harga jual bahan-bahan pokok di pasaran. Tentu saja hal ini mendapatkan keluhan, baik dari konsumen maupun para penjual...”
“Wah, gila sih ini. Apa kita minta naik gaji?” Tanya Ali.
“Yakin lo mau minta naik gaji?” Tanya Damar.
“Mau ngga mau Mar.” Jawabnya singkat.
“Ngga yakin gue kalau kita bakalan naik gaji...” Damar tak mengalihkan pandangannya, “kalau kita naik gaji, pasti yang lain juga naik gaji. Kalau ada kerjaan sih enak, kalau semisal ngga ada? Bakalan dipecat kita.”
“Abis gimana dong? Coba dulu lah kita deketin Bos kita, siapa tau dia tergugah hatinya buat naikin gaji kita mengikuti kenaikan harga minyak.” Ucap Ali.
Damar menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Matanya masih terpaku pada layar komputer, ia sedang memeriksa latar belakang dari korban terakhir kasus yang ia tangani.
Beberapa saat berlalu, ia pun menemukan akun sosial media dari korban. Damar memeriksa foto yang ada di sana satu persatu, ada beberapa fotonya yang sedang memeragakan busana. Ada juga fotonya yang sedang bersama Sasa, mereka nampak tersenyum bahagia setelah acara selesai. Damar menghela nafasnya melihat foto itu, kemudian ia beralih ke foto-foto lain.
Ada sebuah foto korban yang membuat mata Damar terbuka dengan lebar, ia mendekatkan jaraknya pada layar untuk memastikan apa yang ia lihat.
“Li...”
Ali menatap ke arahnya.
“...sini, ini gue salah liat apa ngga?” Tanya Damar.
“Lo pake kacamata mending...” Ali berdiri di samping Damar, “apaan sih?”
“Lo liat ini.” Ucap Damar.
Ali melihat ke arah layar, ia pun membuka matanya dengan lebar setelah melihat apa yang ada di layar komputer Damar. Bersamaan dengan itu pula, Damar mengambil ponselnya, ada panggilan masuk dari Kania.
“Selamat pagi dok.” Sapa Damar.
“Pagi Pak Damar, bisa ke Rumah Sakit sama Pak Ali? Ada yang mau saya sampaikan ke kalian.”Ucap Kania.
“Baik dok, saya ke sana.” Jawabnya.
Damar memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja. Ia memandangi Ali yang masih terdiam, hingga Damar kembali melihat foto yang ditampilkan di layarnya. Ada sebuah foto korban yang sedang berdiri bersampingan dengan Anggi.
“Ini beneran?” Tanya Ali.
“Ya beneran lah, ini kan akun sosial media korban. Anggi sama sekali ngga cerita soal ini pada malam setelah kejadian?” Ucap Damar.
Ali menatap Damar, “Ngga ada cerita sama sekali Mar. Makanya saat itu, gue anggep teriakannya dia cuma histeris aja. Setelah ini, gue jadi paham kenapa dia bisa sehisteris itu.”
“Lo tanya deh nanti sama dia.” Ucap Damar.
“Nanti gue tanyain. Eh iya, dokter Kania kenapa?” Ucap Ali.
“Astaga, lupa gue...” Ali bangun dari duduk, “kita disuruh ke Rumah Sakit, katanya ada yang mau dikasih tau, cuma ngga tau apa.”
Mereka pun meninggalkan ruangan menuju Rumah Sakit. Setibanya di sana, mereka masuk ke dalam ruang otopsi. Ali melihat-lihat seisi ruangan, namun ia tidak menemukan Kania di sana.
“Bener janjian di sini?” Tanya Ali.
“Coba gue hubungin dulu deh.” Sahut Damar.
Damar mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja. Belum sempat ia bertanya, Kania mengirimkan pesan kepadanya untuk bertemu di taman belakang.
“Oh, taman belakang Li.” Sahut Damar.
Mereka pun keluar dari ruangan menuju taman, dengan meninggalkan pintu yang terbuka. Ali dan Damar pun tiba di taman belakang, mereka melihat ke arah sekeliling untuk mencari Kania.
“Pak...”
Ali dan Damar pun melihat ke sumber suara, di sana ada Kania dan Agung yang sudah duduk di salah satu bangku panjang. Ali dan Damar pun mendekat ke arah mereka dan duduk di hadapannya.
“Ada apa dok?” Tanya Ali.
“Jadi tadi pagi, salah satu dokter yang bantu saya otopsi bilang kalau ada hasil susulan pemeriksaan laboratorium dari korban pembunuhan di Balai Kota...”
Kania memberikan kertas itu.
“...ada temuan baru di tubuh korban yang berhasil terekam.” Ucapnya.
Agung mengambil kertas itu. Ia membacanya sesaat, kemudian memberikan kertas itu kepada Ali dan Damar. Mereka pun juga membaca hasil laporan susulan tersebut.
“Arsenik? Tanya Damar.
Kania mengangguk, “Secara sederhana, arsenik bisa dikatakan sebagai racun alami. Itu bisa saja menempel pada kuku melalui udara, tidak berbau, tidak berwarna, bahkan tidak terdeteksi. Laboratorium merekam bahwa zat tersebut ada di lambung korban dengan dosis sangat kecil, sementara untuk membuat seseorang dikatakan mati, harus membutuhkan dosis besar. Kesimpulan sementara yang bisa saya berikan, korban diracun sebelum diatur seperti saat itu.”
“Kira-kira, apakah melalui makanan dok?” Tanya Agung.
“Kemungkinan terbesar lewat konsumsi, entah makanan atau minuman. Arsenik akan lebih mudah jika melewati minuman karena mudah larut, sementara jika lewat makanan akan terlihat perbedaannya.” Jelas Kania.
“Kalau disuntikkan?” Tanya Ali.
“Variabel lain cukup banyak, namun kami tidak menemukan adanya bekas jarum suntik di tubuh korban, kecuali...” Kania terdiam sesaat, “bekas jarum suntik itu juga menjadi lubang benang jahit.”
“Sebenarnya, itu bukan benang jahit dok.” Ucap Damar.
“Terus benang apa?” Tanya Agung.
“Benang layang-layang.” Jawab Ali.
“Layang-layang?” Tanya Kania terkejut.
Damar mengangguk, “Kami sempat bertanya ke salah satu profesi ahli yang kami kenal, dia menjelaskan kalau benang yang ada di tubuh korban itu bukan benang jahit, melainkan benang layang-layang. Kami pun baru menyadari maksud dari isi surat yang ditemukan, yaitu pelaku ingin membuat korban seolah-olah menjadi layang-layang yang bisa terbang tinggi, dan juga jatuh dengan keras ketika angin berhenti berhembus.”
“Astaga...” Kania menghela nafas, “ngga ngebayangin kenapa dia bisa mikir sampai sebegitunya. Udah diluar nalar orang biasa sih.”
“Profesi ahli yang kalian kenal, bisa dipercaya?” Tanya Agung.
Ali mengangguk, “Dia sudah sangat berpengalaman Pak, dengan toko jahitnya yang sudah berdiri puluhan tahun hingga saat ini. Lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian penemuan korban pertama.”
“Terus, gimana setelah ini?” Tanya Kania.
Agung menghela nafas, “Kita bagi tugas terpisah. Saya dan anggota akan kembali memeriksa lokasi-lokasi kejadian, detektif Ali akan memeriksa di mana bisa mendapatkan arsenik buatan. Detektif Damar, kamu coba cari toko bunga yang menjual anggrek seperti itu, kita ngga bisa remehin bunga yang selalu muncul setiap pembunuhan. Dokter Kania bisa menunggu kami jika ada sesuatu yang mendesak.”
Mereka pun berpisah di taman menuju lokasi berikutnya sesuai dengan tugas masing-masing. Beberapa saat berlalu dalam perjalanan, Damar menekan tombol untuk turun dari bus di halte yang sudah dekat.
Bus berhenti, ada beberapa orang yang keluar dari bus, termasuk Damar. Ia berjalan menuju salah satu toko bunga yang cukup terkenal di daerah ini. Setibanya di sana, ia masuk dengan mendorong pintu yang juga menyentuh lonceng hingga berbunyi. Seorang wanita datang dari ruang belakang dan mendekat ke arahnya.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” Tanya wanita itu.
“Perkenalkan...” Damar menunjukkan identitasnya, “saya ingin bertanya-tanya mengenai bunga, apakah kamu bisa membantu?”
Wanita itu mengangguk, “Apa yang mau ditanyakan?”
“Apakah ada bunga anggrek di sini?” Tanya Damar.
“Ada, mari ikut saya.” Ajak wanita itu.
Damar dan wanita itu berjalan ke sudut ruangan, di mana ada banyak sekali jenis bunga anggrek di sana. Damar dibuat terkesima dari warna-warna anggrek tersebut.
“Kalau saya boleh tau, apakah ini menyangkut pembunuhan beberapa hari lalu?” Tanya wanita itu.
“Betul sekali.” Jawab Damar.
“Setelah saya lihat apa yang ditampikan pada siaran berita, ada dua jenis anggrek yang sesuai. Pada kasus pertama yaitu anggrek Vanda...”
Wanita itu menunjukkan bentuk anggrek Vanda.
“...salah satu jenis anggrek yang bisa hidup lebih lama, dan juga motifnya yang luar biasa. Sementara untuk kasus kedua...”
Wanita itu menunjuk ke arah anggrek Dendrobium.
“...anggrek Dendrobium Sonia, salah satu jenis yang mudah untuk dirawat dan bisa diletakkan di mana saja. Dua jenis anggrek yang bisa ditemukan di setiap toko bunga.” Jelasnya.
“Apa yang membuat anggrek menjadi istimewa?” Tanya Damar.
“Masing-masing orang punya interpretasi sendiri terhadap bunga anggrek. Kebanyakan, orang yang membeli dan memelihara bunga anggrek adalah orang yang suka dengan kedamaian. Anggrek tidak mempunyai warna-warna mencolok seperti kebanyakan bunga lain.” Jawabnya.
“Bagaimana dengan harganya?” Tanya Damar.
“Mudah terjangkau untuk semua kalangan, bukan termasuk kategori bunga yang mahal.” Jawabnya.
Damar melihat tanda harga dari bunga anggrek.
“Sangat murah untuk bunga yang menurut saya elegan.” Sahut Damar.
Wanita itu mengangguk, “Saya pun setuju. Berbicara soal itu, mungkin saya punya pendapat pribadi mengenai anggrek dan korban. Seingat saya, anggrek itu mempunyai lendir yang bisa digunakan untuk kecantikan. Itulah mungkin kenapa selalu ada anggrek di wajah korban.”
“Kecantikan?” Tanya Damar.
“Iya, saya lupa apa namanya. Beberapa produk kecantikan juga menggunakan sari dari anggrek sebagai bahan dasarnya, karena memang terbukti berhasil.” Jelasnya.
Beralih ke Ali yang sedang memarkirkan mobilnya, ia keluar dari dalam menuju sebuah toko serbaguna. Seorang penjaga pun mendekat ke arahnya.
“Mau beli apa Pak?” Tanyanya.
Ali menunjukkan identitasnya, “Saya mau tanya, apakah di sini menjual arsenik?”
“Ada Pak.” Jawabnya.
“Apa beberapa hari lalu ada yang membeli arsenik?” Tanya Ali.
“Beberapa orang yang sudah menjadi langganan kami selalu membeli arsenik di toko kami, dalam seminggu bisa dua orang yang datang.” Jawabnya.
“Mereka membeli arsenik untuk apa?” Tanya Damar lagi.
“Ada yang digunakan untuk pengolahan kaca, ada yang untuk perekat logam, ada juga yang digunakan sebagai pestisida pembunuh hama.” Jelasnya.
“Saya boleh lihat produknya?” Tanya Ali.
“Boleh Pak, sebentar...”
Penjaga itu menuju ruang belakang. Selagi menunggu, Ali hanya melihat-lihat apa saja yang dijual di toko ini. Sesuai dengan namanya, toko ini menjual semua barang yang dibutuhkan. Tidak heran jika toko ini selalu ramai dikunjungi orang-orang. Penjaga itu kembali datang membawa satu botol arsenik kepada Ali.
“...ini pak produknya.” Ucap penjaga itu.
Ali melihat arsenik dalam kemasan botol sedang, ia melihat kandungan yang tertulis pada label beserta harga yang dijual oleh toko ini.
“Memang harganya semahal ini?” Tanya Ali.
“Betul Pak, kami hanya menjual arsenik dengan kandungan 99%. Harganya pun menyesuaikan dengan kandungannya Pak.” Jawabnya.
“Apakah ada juga dalam bentuk lain?” Tanya Ali.
Penjaga itu mengangguk, “Ada juga dalam bentuk bubuk, harganya sedikit lebih mahal. Sayangnya pelanggan kami tidak menggunakan bubuk, jadinya kami hanya menjual dalam bentuk ini.”
Sementara itu, Agung berjalan kembali menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari tempat kejadian pertama. Ia menyalakan sebatang rokok setibanya di mobil, Agung menghembuskan asap rokok seraya menatap ke arah kejauhan. Ponselnya pun berbunyi, ada sebuah pesan masuk dari Kania. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu masuk ke dalam mobil. Ada ajudannya yang sudah duduk di kursi kemudi, yang menatapnya lewat spion tengah.
“Perintah Komandan.” Ucap ajudan.
“Balik ke Rumah Sakit.” Jawabnya.
Mobil dinas yang ia naiki pun bergerak untuk kembali menuju Rumah Sakit. Sang ajudan kembali melihat ke arah spion tengah, ia menemukan Agung sedang membersihkan tangannya dengan tisu basah yang bernoda kemerahan.
0
Kutip
Balas