- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.5K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#74
Part 72 Allea Dan Ellea
" Aku pulang," seru Ronal.
Ellea terus mengekor pada pemilik rumah ini, namun saat ia mulai masuk ke ruang tengah, gadis itu terkejut melihat seorang pemuda yang ia kenal.
"Biyu?!" jerit Ellea dengan panggilannya dulu, lututnya lemas. Ia tak sanggup berjalan kala melihat sosok Abimanyu yang berdiri di depannya. Abi yang saat ini menatapnya nanar lantas berjalan perlahan mendekati Ellea. "Ell?" panggil Abi. Mereka sudah saling berhadapan. Tangan Ellea mendarat di pipi Abimanyu. Pemuda itu langsung menarik tubuh mungil Ellea ke dalam pelukannya. Ellea juga membalas pelukan Abi lebih erat. Entah sudah berapa lama mereka tidak berjumpa. Rasa rindu kini membuncah tak lagi tertahankan. Masing-masing saling melepas kerinduan.
"Kamu nggak apa-apa, Ell?" tanya Abi cemas. Tentu ia cemas. bagaimana tidak? Abi sudah banyak mendengar kejadian dan bahkan mengajaknya sendiri. Pasti Ellea juga sudah merasakan banyak hal buruk selama ini.
"Kamu kenapa di sini, Bi?"
Keduanya memiliki banyak pertanyaan yang ingin segera ditumpahkan dengan menuntut semua jawaban dari mulut masing-masing. Pelukan dilepaskan, memberi ruang untuk dua pasang netra itu bertemu dan saling memeriksa keadaan pasangannya. Senyum merekah di bibir keduanya. Air mata mengalir, bahkan Abi berkaca- kaca melihat gadis itu kini ada di depannya. Ia lega kalau Ellea baik-baik saja. Yah, dia Ellea. karena hanya Ellea yang memanggilnya "Biyu."
"Ell?" suara Vin membuat sepasang sejoli itu melepaskan tatapan mereka yang terikat satu sama lain. Ellea tersenyum melihat Vin dan mereka juga saling berpelukan. "Sorry Vin, gue belum sempat main ke rumah lo."
"Its oke, Ell. Gue tau elu udah ngalamin hal berat. Untung kita masih bisa ketemu lagi. Gue sama Abi nyari elu ke mana-mana selama ini."
"Abi sejak kapan di sini?" tanya Ellea pada Vin tapi juga menoleh ke Abimanyu.
"Udah beberapa hari. Hampir seminggu. Dia ke sini nyari lu."
"Ell," panggil Abi saat seorang wanita yang mirip dengannya keluar dengan nampan berisi teh dan kopi. Ellea terkejut, begitu juga dengan Allea.
"Loh dia?" tanya Ellea, menunjuk sosok kembarannya.
"Itu Allea. Kalian kembar, ya? Bisa mirip gitu? )" tanya Vin, memperkenalkan gadis yang kini sedang Ellea tatap.
"Tunggu! Jangan-jangan kamu .... " Ellea mengambil foto di saku jaketnya. Vin dan Abi melihat kertas yang ada di tangannya, dan ikut melotot kaget. "Kalian beneran kembar?" seru mereka bersamaan.
Yah, saudara kembar maksudnya. Satu darah dan satu kandungan.
"Mereka memang saudara kembar," kata Ronal dan otomatis membuat semua orang kini beralih menatapnya.
-------
Lima orang itu kini duduk di sofa ruang tengah rumah Ronal. Ronal terus ditatap tajam oleh keempat orang tamu yang kini menuduhnya pengkhianat.
"Kenapa lu nggak bilang dari awal?"
"Lu siapa sih, Ron? Pantes aja lu mau nolongin gue dan bawa gue ke sini."
"Lu pasti salah satu dari orang-orang itu, kan?"
Ronal menarik nafas panjang. Wajar jika mereka memberondongnya dengan banyak pertanyaan seperti ini. Dan tidak membiarkannya menjawab satu persatu pertanyaan itu.
"Tunggu. biar gue jelasin." Kalimatnya berubah. Dari panggilan aku kamu menjadi elu gue.
....
"Gue nggak tau sebelumnya kalau kejadiannya bakal serumit ini. Waaktu di California, gue di suruh orang buat bawa Ellea," jelas Ronal, menunjuk gadis yang baru saja datang bersamanya, dan diyakini kalau dia adalah Ellea, "Gue dibayar orang untuk bawa elu balik ke sini dengan selamat. Setelah itu bukan urusan gue lagi. *
"...." Semua diam menunggu penjelasan selanjutnya.
"Tapi saat elu," lanjut Ronal, kini menunjuk Allea, "Sering dateng ke coffe shop gue, gue merasa aneh. Karena elu sama sekali nggak inget gue. Itu aneh. Kalian berdua bagai satu orang dengan dua kepribadian ganda menurut gue waktu itu. Tapi perlahan gue tau kalau ternyata kalian dua orang yang berbeda dengan wajah satu. Alias kembar. Cuma itu," jelas Ronal, mengerdikan kedua bahunya, mengakhiri informasi yang ia sembunyikan selama ini.
"Siapa yang bayar lu?" tanya Abi, dengan tatapan dingin yang perlahan terus merasuk hingga sendi-sendi tulang Ronal terasa ngilu.
"Sorry gue nggak tau. Karena dia hubungin gue lewat telepon, dan pembayaran juga langsung masuk ke rekening gue. Jadi gue nggak pernah ketemu atau lihat wajahnya."
"Kok elu bisa sih ngelakuin kerjaan kayak gini?" tanya Vin, penasaran. Memang aneh, seorang pekerja di coffe shop merangkap orang bayaran dengan pekerjaan berbahaya
"Gue kuliah, bro. Gue butuh duit banyak buat biaya kuliah dan hidup gue di sini. Jadi kerjaan apa aja gue lakuin."
"Jadi kami kembar?" tanya Allea yang kini membuka suara, tatapannya tertuju pada Ronal.
"Iya, kalian kembar. Karena beberapa hari lalu, ada orang yang hubungin gue dan minta gue jagain lu juga. Gue disuruh nyari elu, dan kalau misal udah ketemu, dia mau ke sini, buat jemput lu," katanya ke Allea.
"Siapa?"
"Enggak tau." Ronal menggeleng, "Tapi yang jelas, dia bukan orang yang mengincar nyawa kalian berdua. Mungkin ada dua pihak yang menginginkan sesuatu dari kalian."
Hening.
Semua disibukkan dengan pikiran masing-masing. Allea menggenggam tangan Ellea yang kini duduk di sampingnya. "Gue nggak nyangka kalau gue nggak sendirian di dunia ini. Coba aja kalau ingatan ini pulih, mungkin gue bisa tau ada apa sebenarnya," runtuk Allea.
Ellea tersenyum lalu memeluk saudaranya. "Perlahan kita pasti tau alasannya. Yang jelas, gue juga lega. Karena gue nggak sendirian menghadapi masalah ini. Sekarang ada kalian."
"Kalau kalian kembar, berarti bokap lu sama nyokap lu, orang tua Allea juga dong, ya?" tebak Vin.
"Mereka di mana? Gue pengen ketemu orang tua gue," pinta Allea.
"Udah meninggal." Raut wajah Ellea berubah sendu. Ia menarik nafas panjang, sambil kembali mengingat peristiwa naas yang merenggut kedua orang tuanya, dan memporak porandakan hidupnya.
"Kenapa kamu nggak pulang aja ke Indonesia, Ell?" tanya Abi.
"Aku bingung, Biyu. Rasanya aku ingin mati saja kala itu. Semua orang pengen aku mati. Daan aku nggak tau apa alasannya."
Kalimat itu terdengar miris. Mereka paham apa yang dialami Ellea sangat berat." Aku janji, bakal terus di sini nemenin kamu. Maaf kalau aku nggak ada di saat kamu membutuhkan aku, Ell. "
Ellea tersenyum. Ia bahagia karena bisa melihat Abimanyu lagi.
Selimut menutupi tubuh Abimanyu, di dalamnya ada tubuh lain. Ellea. Mereka masih terlelap dengan posisi berhadapan. Abi memeluk Ellea begitu juga Ellea yang terlihat sangat nyaman ada di dekapan Abimanyu. Sinar mentari sudah mulai tampak di ufuk timur. Semilir angin masuk melalui celah-celah jendela dan lubang angin. Jendela kaca yang tidak tertutup korden sepenuhnya, mulai kedatangan mentari pagi yang menghangatkan.
Suara ketukan di pintu membuat Abimanyu mengerjapkan matanya, ia mencium bau wangi dari pucuk kepala Ellea, hal itu membuat Abi makin menenggelamkan tubuh mungil Ellea ke dalam dekapannya. "Bi? Udah bangun lu?" Suara dari luar terdengar samar, tapi Abi yakin kalau itu suara Vin.
"Sebentar!" kata Abi sambil terus memperhatikan wajah Ellea yang masih terlelap. Ia melepaskan dekapannya sendiri dan perlahan menjauh, turun dari ranjang. Abi mengecup kening Ellea lebih dulu, sebelum menyusul Vin di luar.
Pintu dibuka, Abi menoleh terus ke gadis yang kini ada di atas ranjangnya. "Apa?"
"Ellea belum bangun? Itu dipanggil sarapan. Bangunkan sana, suruh sarapan dulu. Habis itu tidur lagi nggak apa-apa." kata Vin lalu pergi begitu saja.
Abi mengacak-acak rambutnya yang memang berantakan karena bangun tidur. Menatap tubuh mungil gadis di ujung sana, masih terlelap dengan suara dengkuran tipis. Kejadian semalam masih terngiang jelas di ingatannya. Tatkala Ellea menjerit saat tertidur, Abi dan Vin yang belum terlelap saat itu sontak terkejut dan mendapati Ellea sedang menangis di atas tempat tidurnya. Abi mendekat dan segera memeluk gadis itu. Ellea membuka matanya dan mencurahkan kegelisahannya selama ini. Mimpi buruk yang terus mengganggunya membuat Ellea tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Ya sudah, ajak saja dia tidur sama elu, Bi. Mungkin bisa lebih tenang nantinya," kata Vin.
Sepanjang malam, Abi tidak lagi mendengar Ellea menjerit karena mimpi buruk. Bahkan gadis itu benar-benar terlelap sampai pagi. Justru Abi mendengar dengkuran halus dari mulut Ellea. Hal itu membuatnya tersenyum lega. Ia putuskan untuk tidak membangunkan Ellea dulu. Mungkin satu atau dua jam lagi dari sekarang baru ia bangunkan. Ia lantas keluar kamar untuk sarapan.
"Loh Ellea mana?" tanya Allea yang sedang menata meja makan.
"Masih tidur. Biarkan saja dulu. Kayaknya dia lama nggak bisa tidur senyenyak itu," sahut Abi yang ditanggapi anggukan Allea. Ia lantas mengambilkan piring dan menyiapkan sarapan untuk pemuda itu.
"Ronal mana?"
"Sudah berangkat ke coffe shop."
"Oh. Kupikir dia libur. Terus soal orang yang ingin ketemu kalian berdua bagaimana?" tanya Abi menatap Allea."
Gadis itu yang sedang meneguk susu hangat miliknya, lantas menatap dingin ke arah Abi, "Entah lah. Sebenarnya aku ragu. Tapi juga penasaran. Bagaimana kalau ternyata dia salah satu orang yang ingin bunuh aku, dan Ellea?"
"Tapi bagaimana juga kalau ternyata justru dia tau ada misteri apa di balik semua ini. Gue yakin ada rahasia besar di sini. Dari cerita Ellea, dia dikejar sejak di California, dan sampai di sini pun juga sama. Kau juga. Mereka ingin membunuh kalian, dan mereka tau kalau kalian kembar," tegas Vin mencoba menganalisis dari pemikirannya sendiri.
"Hey! Alamat itu! Yang di foto!" seru Abimanyu.
"Exactly!" ucap Vin, dengan mata berbinar.
"'So ... are you ready?" tanya Abi seolah memimpin perang.
"Eh tunggu. Ellea?" tanya Allea yang berpikir bahwa mereka akan pergi sekarang dan meninggalkan Ellea yang masih tertidur.
"Ya tunggu Ellea bangun nanti. Sarapan dulu," suruh Abi pada dua orang di depannya sekarang. Langkah kaki pelan terdengar karena sendal bulu yang dikenakan Ellea, bunyi berdecit yang terjadi antara sendal karet dan lantai itu saling bersinggungan dan membuat mereka menoleh. "Ell? udah bangun?" tanya Abi lalu beranjak mendekati gadis itu. Wajahnya khas orang bangun tidur. Rambut Ellea berantakan, kemudian dirapikan oleh jemari tangan Abi. "Kebetulan. Kita sarapan dulu, ya," ajak Abi menggandeng Ellea ke meja makan.
"Pagi semua," sapa Ellea dengan senyum tipis pada Vin dan Allea.
"Pagi, Ell," sahut mereka bersamaan.
"Nyenyak?" tanya Vin sambil mengoles roti tawar. Gadis itu menanggapi dengan anggukan, matanya masih setengah terpejam, menandakan rasa kantuknya masih tertinggal di kedua kelopak mata.
"Ell, are you oke? Katanya kamu mimpi buruk semalam?" tanya Allea, cemas.
Ellea tak langsung menjawab, ia tersenyum, lalu mengulurkan tangan kanannya, dan menggenggam tangan Allea, "Aku nggak apa-apa kok. Jujur, tadi malam, malam terbaik yang pernah aku rasakan. Selama ini aku nggak bisa tidur nyenyak. Sejak mereka mulai datang, aku nggak bisa tidur sebagaimana mestinya. Tapi ... tadi malam, aku merasa aman, karena ada kalian."
Allea membalas genggaman tangan Ellea dengan menangkupkan tangan kanannya dan menggenggam tangan Ellea, erat. "Kamu sekarang nggak sendiri lagi."
Suasana yang sungguh haru, Vin sampai-sampai menyentuh ujung ekor matanya karena takut ketahuan menangis. Abi lantas mencairkan suasana dengan mengambilkan piring Ellea, "Sarapan dulu. Nanti habis ini kita ke rumah itu."
"Rumah yang mana?" tanya Ellea tidak mengerti.
"Yang ada di alamat foto bayi kita, Ell," jelas Allea.
_________
"Murano?" tanya Vin saat kembali membaca alamat di foto itu.
"Kenapa, Vin?" tanya Abi yang kini duduk di samping Vin. Mereka bersiap untuk pergi dengan mengendarai mobil Vin.
"Ini lumayan jauh, Bro. Ini mah di luar San Marco, Murano itu ...."
"Pulau," sahut Allea dengan tatapan datar. Abi dan Vin menoleh ke gadis yang duduk di jok belakang mobilnya.
"Kok tau?"
"Entah kenapa, ada bayangan tempat itu. Namanya Murano, papan di depan bangunan itu," sahut Allea, menelusuri ingatan yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Fine. Seenggaknya ada sedikit petunjuk. Mungkin kalau kita sampai sana, ingatan lu bisa balik, All," kata Vin, bersemangat.
Selama perjalanan mereka banyak membahas hal-hal yang tidak mereka alami bersama. Dari kejadian kasus di desa Abi, yang membuatnya hampir berkali-kali mati, walau Vin dan Ellea tau dia tidak akan mati, pengalaman Vin di beberapa negara konflik, dan Ellea dengan segala kisah menegangkannya. Allea hanya tersenyum menyimak semua kisah itu. Ia tidak bisa menceritakan apa pun karena tidak ada hal bisa ia ingat.
Mereka sudah menyeberangi jembatan di Laguna Venesia, Italia Utara. Kepulauan ini terletak 1,5 km di utara Venesia dan memiliki panjang 1,5 km atau 1 mill. Sama seperti San Marco dan San Polo, Murano di kelilingi perairan. Sehingga mobil Vin tidak bisa dipakai dan kini mereka melanjutkan perjalanan dengan menaiki perahu. Tidak ada gondola mewah dengan harga menjulang tinggi. Mereka menyewa transportasi perahu di sini dengan harga yang cukup masuk akal. Bahkan lebih murah daripada patungan saat naik gondola di San Polo kemarin.
Setelah bertanya-tanya pada warga sekitar, kini mereka sampai di sebuah bangunan yang cukup jauh dari pusat kota Murano. Rumah dengan design klasik. Bahkan termasuk bangunan tua di tempat ini. Mereka melewati gang dengan deretan rumah dengan batu bata tanpa cat. Natural namun indah dipandang mata.
"Murano," gumam Allea menatap papan dengan tulisan nama tempat ini. Sama seperti yang ada di ingatannya beberapa saat lalu. Dan mereka yakin kalau ini adalah tempat yang tepat. Allea melangkah lebih dulu. Bangunan ini cukup besar, dengan beberapa jendela yang terlihat dari luar.
Ia mengetuk pintu itu dengan besi yang menempel di tengah pintu. Mungkin memang fungsinya untuk mengetuk pintu kayu tebal ini. Beberapa kali pintu ini diketuk, tak membuat suara atau pergerakan apa pun di dalam. "Sepi," ucap Allea menoleh ke tiga orang di belakangnya.
Vin maju, kini ia tidak sabaran, dan menggedor-gedor pintu itu keras-keras. Abi menarik nafas panjang dan memperhatikan sekitarnya. Tempat ini di kelilingi bangunan lama. Entah kosong atau memang masih berpenghuni, ia hanya merasa tempat ini aneh. Firasatnya mendadak berubah menjadi kecemasan. Tempat ini bahkan terlalu sunyi untuk sebuah tempat ramai seperti Murano. Murano yang ia tau, juga salah satu tempat wisata di Venesia. Beberapa kali mereka berpapasan dengan wisatawan dari berbagai negara, bahkan banyak orang Asia yang berkunjung ke tempat ini.
Jangankan manusia, angin saja terasa takut untuk menyusup ke daerah ini. Abi melihat titik aneh di tubuh Vin. Titik merah yang pernah ia lihat sebelumnya. "Penembak runduk!" seru Abi mendorong Vin dan Ellea maju. Allea yang berada di depan pintu lantas malah membuat pintu ini terbuka karena dorongan tadi. "Masuk!" seru Vin.
Mereka masuk ke bangunan itu. Gelap. Ruangan ini gelap dan hanya ada beberapa lampu remang di titik sudut saja. Tak mampu membuat tempat ini terang seperti keadaan di luar. Lampu di sini kuning, mirip bohlam jika di Indonesia. Tapi bentuknya indah dan terkesan mewah. Mereka baru sadar kalau tempat ini unik. Banyak benda yang memiliki nilai ekstektika tinggi. Penuh dengan seni dan pasti mahal. Beberapa lukisan terkenal menempel di dinding.
"Gaes," seru Vin saat melihat sebuah foto keluarga. Mereka mendekat dan ikut terkejut melihat apa yang ada di sana.
Sebuah keluarga dengan formasi yang lengkap. Kakek, Nenek, sepasang suami istri dengan dua bayi yang memakai pakaian sama, alias kembar.
"Apa itu kalian?" tanya Abi menunjuk dua bayi yang ada di foto.
"Mungkin," sahut Allea.
"Tapi mereka bukan Papah dan Mamahku. Siapa mereka?"
Allea diam. Beberapa siluet tergambar samar diingatannya. Suaranya saat masih kecil, nyaring dan cerewet, tengah bermain dengan seorang kakek. Mereka ada di sebuah tempat lapang dengan keduanya yang sedang memegang senapan. Allea bertanya ada kakek itu, bagaimana cara menembak dengan tepat. Karena baru saja sang kakek menembak burung yang terbang dilangit dengan tepat, tapi kakek hanya menembak satu sayapnya saja. Allea yang tidak percaya lantas berlari mengambil burung yang jatuh di tengah arena menembak itu. Ia bersorak dan tidak percaya kalau kakek itu benar-benar menembak satu sayap burung itu dengan tepat. "Kakek hebat, Allea ingin belajar menembak seperti itu," seru Allea bersemangat.
"Kakek," gumam Allea, ia menjauh dan pergi dari ruangan itu. Seolah tau seluk beluk tempat ini, Allea terus berjalan menyusuri koridor ruangan demi ruangan. Tempat ini luas, hingga Ellea dan yang lain harus berlari kecil untuk bisa menyusul Allea. "Tunggu, All," jerit Ellea diikuti Abi.
Allea sampai ke sebuah tanah lapang, tempat ini adalah arena tembak seperti yang ada di ingatannya. Dan perlahan ingatan itu pulih satu persatu. Kepala Allea berdenyut, saat memaksakan mengingat lebih banyak kejadian di rumah ini. "Kamu nggak apa-apa, All?" tanya Ellea memegangi lengan Allea yang terhuyung hampir jatuh. Allea memegangi kepalanya. "Duduk dulu," ajak Ellea membawa Allea duduk di kursi dekat arena tembak.
"Aku mulai ingat beberapa potongan memoriku di sini. Tapi saat aku coba buat mengingat lebih banyak, kepalaku sakit, Ell." Ellea memeluk saudaranya, mengelus punggung Allea dengan lembut.
"Pelan-pelan saja, ya, All. Jangan terlalu dipaksakan," ujar Ellea.
Suara langkah seseorang yang tengah berlari di koridor, membuat perhatian Abi teralihkan. Ia menyipitkan mata untuk melihat dan meyakinkan dirinya sendiri kalau orang itu adalah Vin yang memang sejak tadi masih ada di ruangan awal mereka masuk.
"Huh. Gila gue ditinggalin!" sergah Vin, nafasnya ngos-ngosan, kedua tangannya bertumpu di lutut, mirip posisi ruku dalam salat.
"Lah bengong aja sih elu. Si Allea juga tiba-tiba ke sini, takut ada apa-apa makanya gue sama Ellea nyusulin," kata Abimanyu, santai. Melipat kedua tangannya di depan dada.
"Terus nggak mikirin kalau gue yang kenapa-napa gimana?" protes Vin.
"Yaelah, prajurit tempur masa takut ngadepin penjahat?" ejek Abi dengan mengikuti posisi seperti Vin.
"Heh, prajurit juga kalau kena peluru mati! Emang elu!" sindir Vin. Ia lalu menatap Allea yang masih memegangi kepalanya. "Kenapa?" tanya Vin menunjuk Allea dengan dagunya.
"Pusing. Kayaknya ingatan dia mulai dateng," sahut Abi.
"Gue tau sesuatu!" kata Vin yang membuat mereka semua menatapnya penuh harap.
"Apaan?" tanya Abi penasaran.
"Gue tau siapa orang yang ada di foto keluarga itu," tunjuk Vin ke arah ruangan tadi.
"Siapa?"
"Alan Cha! Ketua gangster Wah Ching!"
Dahi Abimanyu berkerut, " Elu yakin, Vin?"
"Yakin banget. Gue pernah ketemu dia pas di Yordania. Dia gengster berbahaya. Dia sama Austin ribut besar. Tim gue sampai ada yang meninggal buat menghentikan perkelahian antar geng itu," terang Vin.
"Elu bilang siapa? Austin? " tanya Ellea yang sangat familiar dengan nama itu. Vin mengangguk.
"Austin, kan, yang culik gue kemarin! Dia yang ingin bunuh gue!"
"Ini jelas. Austin dan Alan Cha adalah musuh bebuyutan, Austin mau bunuh semua anggota keluarga Alan Cha, makanya kamu diincar mereka, Ell," analisis Abimanyu terdengar masuk akal. "Jadi itu menjelaskan satu hal juga," kata Abi, melanjutkan perkataannya.
"...."
"Kamu bukan anak kandung Pak Adrian dan Ibu Ruth," kata Abi menatap Ellea nanar.
Jantung Ellea berdesir mendengar kalimat itu. Ia tidak menyangka jika kalimat Abi benar-benar kenyataan pahit yang harus ia terima. Orang tua yang selama ini Ellea yakini adalah orang tua kandungnya, ternyata adalah orang lain. Ellea menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. "Nggak mungkin," ucapnya pelan.
Abi mendekat. Menggenggam kedua tangan Ellea yang sedang meremas ujung bajunya sendiri di atas lutut. "Ell, ini baru kemungkinan. Karena nggak mungkin foto kamu ada di sini, dan alasan apa yang lebih masuk akal, tentang Austin yang bersikeras mau membunuh kamu selama ini?" tanya Abi, mencoba menguatkan hati Ellea dan membukakan pikiran gadis itu.
1
Ellea terus mengekor pada pemilik rumah ini, namun saat ia mulai masuk ke ruang tengah, gadis itu terkejut melihat seorang pemuda yang ia kenal.
"Biyu?!" jerit Ellea dengan panggilannya dulu, lututnya lemas. Ia tak sanggup berjalan kala melihat sosok Abimanyu yang berdiri di depannya. Abi yang saat ini menatapnya nanar lantas berjalan perlahan mendekati Ellea. "Ell?" panggil Abi. Mereka sudah saling berhadapan. Tangan Ellea mendarat di pipi Abimanyu. Pemuda itu langsung menarik tubuh mungil Ellea ke dalam pelukannya. Ellea juga membalas pelukan Abi lebih erat. Entah sudah berapa lama mereka tidak berjumpa. Rasa rindu kini membuncah tak lagi tertahankan. Masing-masing saling melepas kerinduan.
"Kamu nggak apa-apa, Ell?" tanya Abi cemas. Tentu ia cemas. bagaimana tidak? Abi sudah banyak mendengar kejadian dan bahkan mengajaknya sendiri. Pasti Ellea juga sudah merasakan banyak hal buruk selama ini.
"Kamu kenapa di sini, Bi?"
Keduanya memiliki banyak pertanyaan yang ingin segera ditumpahkan dengan menuntut semua jawaban dari mulut masing-masing. Pelukan dilepaskan, memberi ruang untuk dua pasang netra itu bertemu dan saling memeriksa keadaan pasangannya. Senyum merekah di bibir keduanya. Air mata mengalir, bahkan Abi berkaca- kaca melihat gadis itu kini ada di depannya. Ia lega kalau Ellea baik-baik saja. Yah, dia Ellea. karena hanya Ellea yang memanggilnya "Biyu."
"Ell?" suara Vin membuat sepasang sejoli itu melepaskan tatapan mereka yang terikat satu sama lain. Ellea tersenyum melihat Vin dan mereka juga saling berpelukan. "Sorry Vin, gue belum sempat main ke rumah lo."
"Its oke, Ell. Gue tau elu udah ngalamin hal berat. Untung kita masih bisa ketemu lagi. Gue sama Abi nyari elu ke mana-mana selama ini."
"Abi sejak kapan di sini?" tanya Ellea pada Vin tapi juga menoleh ke Abimanyu.
"Udah beberapa hari. Hampir seminggu. Dia ke sini nyari lu."
"Ell," panggil Abi saat seorang wanita yang mirip dengannya keluar dengan nampan berisi teh dan kopi. Ellea terkejut, begitu juga dengan Allea.
"Loh dia?" tanya Ellea, menunjuk sosok kembarannya.
"Itu Allea. Kalian kembar, ya? Bisa mirip gitu? )" tanya Vin, memperkenalkan gadis yang kini sedang Ellea tatap.
"Tunggu! Jangan-jangan kamu .... " Ellea mengambil foto di saku jaketnya. Vin dan Abi melihat kertas yang ada di tangannya, dan ikut melotot kaget. "Kalian beneran kembar?" seru mereka bersamaan.
Yah, saudara kembar maksudnya. Satu darah dan satu kandungan.
"Mereka memang saudara kembar," kata Ronal dan otomatis membuat semua orang kini beralih menatapnya.
-------
Lima orang itu kini duduk di sofa ruang tengah rumah Ronal. Ronal terus ditatap tajam oleh keempat orang tamu yang kini menuduhnya pengkhianat.
"Kenapa lu nggak bilang dari awal?"
"Lu siapa sih, Ron? Pantes aja lu mau nolongin gue dan bawa gue ke sini."
"Lu pasti salah satu dari orang-orang itu, kan?"
Ronal menarik nafas panjang. Wajar jika mereka memberondongnya dengan banyak pertanyaan seperti ini. Dan tidak membiarkannya menjawab satu persatu pertanyaan itu.
"Tunggu. biar gue jelasin." Kalimatnya berubah. Dari panggilan aku kamu menjadi elu gue.
....
"Gue nggak tau sebelumnya kalau kejadiannya bakal serumit ini. Waaktu di California, gue di suruh orang buat bawa Ellea," jelas Ronal, menunjuk gadis yang baru saja datang bersamanya, dan diyakini kalau dia adalah Ellea, "Gue dibayar orang untuk bawa elu balik ke sini dengan selamat. Setelah itu bukan urusan gue lagi. *
"...." Semua diam menunggu penjelasan selanjutnya.
"Tapi saat elu," lanjut Ronal, kini menunjuk Allea, "Sering dateng ke coffe shop gue, gue merasa aneh. Karena elu sama sekali nggak inget gue. Itu aneh. Kalian berdua bagai satu orang dengan dua kepribadian ganda menurut gue waktu itu. Tapi perlahan gue tau kalau ternyata kalian dua orang yang berbeda dengan wajah satu. Alias kembar. Cuma itu," jelas Ronal, mengerdikan kedua bahunya, mengakhiri informasi yang ia sembunyikan selama ini.
"Siapa yang bayar lu?" tanya Abi, dengan tatapan dingin yang perlahan terus merasuk hingga sendi-sendi tulang Ronal terasa ngilu.
"Sorry gue nggak tau. Karena dia hubungin gue lewat telepon, dan pembayaran juga langsung masuk ke rekening gue. Jadi gue nggak pernah ketemu atau lihat wajahnya."
"Kok elu bisa sih ngelakuin kerjaan kayak gini?" tanya Vin, penasaran. Memang aneh, seorang pekerja di coffe shop merangkap orang bayaran dengan pekerjaan berbahaya
"Gue kuliah, bro. Gue butuh duit banyak buat biaya kuliah dan hidup gue di sini. Jadi kerjaan apa aja gue lakuin."
"Jadi kami kembar?" tanya Allea yang kini membuka suara, tatapannya tertuju pada Ronal.
"Iya, kalian kembar. Karena beberapa hari lalu, ada orang yang hubungin gue dan minta gue jagain lu juga. Gue disuruh nyari elu, dan kalau misal udah ketemu, dia mau ke sini, buat jemput lu," katanya ke Allea.
"Siapa?"
"Enggak tau." Ronal menggeleng, "Tapi yang jelas, dia bukan orang yang mengincar nyawa kalian berdua. Mungkin ada dua pihak yang menginginkan sesuatu dari kalian."
Hening.
Semua disibukkan dengan pikiran masing-masing. Allea menggenggam tangan Ellea yang kini duduk di sampingnya. "Gue nggak nyangka kalau gue nggak sendirian di dunia ini. Coba aja kalau ingatan ini pulih, mungkin gue bisa tau ada apa sebenarnya," runtuk Allea.
Ellea tersenyum lalu memeluk saudaranya. "Perlahan kita pasti tau alasannya. Yang jelas, gue juga lega. Karena gue nggak sendirian menghadapi masalah ini. Sekarang ada kalian."
"Kalau kalian kembar, berarti bokap lu sama nyokap lu, orang tua Allea juga dong, ya?" tebak Vin.
"Mereka di mana? Gue pengen ketemu orang tua gue," pinta Allea.
"Udah meninggal." Raut wajah Ellea berubah sendu. Ia menarik nafas panjang, sambil kembali mengingat peristiwa naas yang merenggut kedua orang tuanya, dan memporak porandakan hidupnya.
"Kenapa kamu nggak pulang aja ke Indonesia, Ell?" tanya Abi.
"Aku bingung, Biyu. Rasanya aku ingin mati saja kala itu. Semua orang pengen aku mati. Daan aku nggak tau apa alasannya."
Kalimat itu terdengar miris. Mereka paham apa yang dialami Ellea sangat berat." Aku janji, bakal terus di sini nemenin kamu. Maaf kalau aku nggak ada di saat kamu membutuhkan aku, Ell. "
Ellea tersenyum. Ia bahagia karena bisa melihat Abimanyu lagi.
Selimut menutupi tubuh Abimanyu, di dalamnya ada tubuh lain. Ellea. Mereka masih terlelap dengan posisi berhadapan. Abi memeluk Ellea begitu juga Ellea yang terlihat sangat nyaman ada di dekapan Abimanyu. Sinar mentari sudah mulai tampak di ufuk timur. Semilir angin masuk melalui celah-celah jendela dan lubang angin. Jendela kaca yang tidak tertutup korden sepenuhnya, mulai kedatangan mentari pagi yang menghangatkan.
Suara ketukan di pintu membuat Abimanyu mengerjapkan matanya, ia mencium bau wangi dari pucuk kepala Ellea, hal itu membuat Abi makin menenggelamkan tubuh mungil Ellea ke dalam dekapannya. "Bi? Udah bangun lu?" Suara dari luar terdengar samar, tapi Abi yakin kalau itu suara Vin.
"Sebentar!" kata Abi sambil terus memperhatikan wajah Ellea yang masih terlelap. Ia melepaskan dekapannya sendiri dan perlahan menjauh, turun dari ranjang. Abi mengecup kening Ellea lebih dulu, sebelum menyusul Vin di luar.
Pintu dibuka, Abi menoleh terus ke gadis yang kini ada di atas ranjangnya. "Apa?"
"Ellea belum bangun? Itu dipanggil sarapan. Bangunkan sana, suruh sarapan dulu. Habis itu tidur lagi nggak apa-apa." kata Vin lalu pergi begitu saja.
Abi mengacak-acak rambutnya yang memang berantakan karena bangun tidur. Menatap tubuh mungil gadis di ujung sana, masih terlelap dengan suara dengkuran tipis. Kejadian semalam masih terngiang jelas di ingatannya. Tatkala Ellea menjerit saat tertidur, Abi dan Vin yang belum terlelap saat itu sontak terkejut dan mendapati Ellea sedang menangis di atas tempat tidurnya. Abi mendekat dan segera memeluk gadis itu. Ellea membuka matanya dan mencurahkan kegelisahannya selama ini. Mimpi buruk yang terus mengganggunya membuat Ellea tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Ya sudah, ajak saja dia tidur sama elu, Bi. Mungkin bisa lebih tenang nantinya," kata Vin.
Sepanjang malam, Abi tidak lagi mendengar Ellea menjerit karena mimpi buruk. Bahkan gadis itu benar-benar terlelap sampai pagi. Justru Abi mendengar dengkuran halus dari mulut Ellea. Hal itu membuatnya tersenyum lega. Ia putuskan untuk tidak membangunkan Ellea dulu. Mungkin satu atau dua jam lagi dari sekarang baru ia bangunkan. Ia lantas keluar kamar untuk sarapan.
"Loh Ellea mana?" tanya Allea yang sedang menata meja makan.
"Masih tidur. Biarkan saja dulu. Kayaknya dia lama nggak bisa tidur senyenyak itu," sahut Abi yang ditanggapi anggukan Allea. Ia lantas mengambilkan piring dan menyiapkan sarapan untuk pemuda itu.
"Ronal mana?"
"Sudah berangkat ke coffe shop."
"Oh. Kupikir dia libur. Terus soal orang yang ingin ketemu kalian berdua bagaimana?" tanya Abi menatap Allea."
Gadis itu yang sedang meneguk susu hangat miliknya, lantas menatap dingin ke arah Abi, "Entah lah. Sebenarnya aku ragu. Tapi juga penasaran. Bagaimana kalau ternyata dia salah satu orang yang ingin bunuh aku, dan Ellea?"
"Tapi bagaimana juga kalau ternyata justru dia tau ada misteri apa di balik semua ini. Gue yakin ada rahasia besar di sini. Dari cerita Ellea, dia dikejar sejak di California, dan sampai di sini pun juga sama. Kau juga. Mereka ingin membunuh kalian, dan mereka tau kalau kalian kembar," tegas Vin mencoba menganalisis dari pemikirannya sendiri.
"Hey! Alamat itu! Yang di foto!" seru Abimanyu.
"Exactly!" ucap Vin, dengan mata berbinar.
"'So ... are you ready?" tanya Abi seolah memimpin perang.
"Eh tunggu. Ellea?" tanya Allea yang berpikir bahwa mereka akan pergi sekarang dan meninggalkan Ellea yang masih tertidur.
"Ya tunggu Ellea bangun nanti. Sarapan dulu," suruh Abi pada dua orang di depannya sekarang. Langkah kaki pelan terdengar karena sendal bulu yang dikenakan Ellea, bunyi berdecit yang terjadi antara sendal karet dan lantai itu saling bersinggungan dan membuat mereka menoleh. "Ell? udah bangun?" tanya Abi lalu beranjak mendekati gadis itu. Wajahnya khas orang bangun tidur. Rambut Ellea berantakan, kemudian dirapikan oleh jemari tangan Abi. "Kebetulan. Kita sarapan dulu, ya," ajak Abi menggandeng Ellea ke meja makan.
"Pagi semua," sapa Ellea dengan senyum tipis pada Vin dan Allea.
"Pagi, Ell," sahut mereka bersamaan.
"Nyenyak?" tanya Vin sambil mengoles roti tawar. Gadis itu menanggapi dengan anggukan, matanya masih setengah terpejam, menandakan rasa kantuknya masih tertinggal di kedua kelopak mata.
"Ell, are you oke? Katanya kamu mimpi buruk semalam?" tanya Allea, cemas.
Ellea tak langsung menjawab, ia tersenyum, lalu mengulurkan tangan kanannya, dan menggenggam tangan Allea, "Aku nggak apa-apa kok. Jujur, tadi malam, malam terbaik yang pernah aku rasakan. Selama ini aku nggak bisa tidur nyenyak. Sejak mereka mulai datang, aku nggak bisa tidur sebagaimana mestinya. Tapi ... tadi malam, aku merasa aman, karena ada kalian."
Allea membalas genggaman tangan Ellea dengan menangkupkan tangan kanannya dan menggenggam tangan Ellea, erat. "Kamu sekarang nggak sendiri lagi."
Suasana yang sungguh haru, Vin sampai-sampai menyentuh ujung ekor matanya karena takut ketahuan menangis. Abi lantas mencairkan suasana dengan mengambilkan piring Ellea, "Sarapan dulu. Nanti habis ini kita ke rumah itu."
"Rumah yang mana?" tanya Ellea tidak mengerti.
"Yang ada di alamat foto bayi kita, Ell," jelas Allea.
_________
"Murano?" tanya Vin saat kembali membaca alamat di foto itu.
"Kenapa, Vin?" tanya Abi yang kini duduk di samping Vin. Mereka bersiap untuk pergi dengan mengendarai mobil Vin.
"Ini lumayan jauh, Bro. Ini mah di luar San Marco, Murano itu ...."
"Pulau," sahut Allea dengan tatapan datar. Abi dan Vin menoleh ke gadis yang duduk di jok belakang mobilnya.
"Kok tau?"
"Entah kenapa, ada bayangan tempat itu. Namanya Murano, papan di depan bangunan itu," sahut Allea, menelusuri ingatan yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Fine. Seenggaknya ada sedikit petunjuk. Mungkin kalau kita sampai sana, ingatan lu bisa balik, All," kata Vin, bersemangat.
Selama perjalanan mereka banyak membahas hal-hal yang tidak mereka alami bersama. Dari kejadian kasus di desa Abi, yang membuatnya hampir berkali-kali mati, walau Vin dan Ellea tau dia tidak akan mati, pengalaman Vin di beberapa negara konflik, dan Ellea dengan segala kisah menegangkannya. Allea hanya tersenyum menyimak semua kisah itu. Ia tidak bisa menceritakan apa pun karena tidak ada hal bisa ia ingat.
Mereka sudah menyeberangi jembatan di Laguna Venesia, Italia Utara. Kepulauan ini terletak 1,5 km di utara Venesia dan memiliki panjang 1,5 km atau 1 mill. Sama seperti San Marco dan San Polo, Murano di kelilingi perairan. Sehingga mobil Vin tidak bisa dipakai dan kini mereka melanjutkan perjalanan dengan menaiki perahu. Tidak ada gondola mewah dengan harga menjulang tinggi. Mereka menyewa transportasi perahu di sini dengan harga yang cukup masuk akal. Bahkan lebih murah daripada patungan saat naik gondola di San Polo kemarin.
Setelah bertanya-tanya pada warga sekitar, kini mereka sampai di sebuah bangunan yang cukup jauh dari pusat kota Murano. Rumah dengan design klasik. Bahkan termasuk bangunan tua di tempat ini. Mereka melewati gang dengan deretan rumah dengan batu bata tanpa cat. Natural namun indah dipandang mata.
"Murano," gumam Allea menatap papan dengan tulisan nama tempat ini. Sama seperti yang ada di ingatannya beberapa saat lalu. Dan mereka yakin kalau ini adalah tempat yang tepat. Allea melangkah lebih dulu. Bangunan ini cukup besar, dengan beberapa jendela yang terlihat dari luar.
Ia mengetuk pintu itu dengan besi yang menempel di tengah pintu. Mungkin memang fungsinya untuk mengetuk pintu kayu tebal ini. Beberapa kali pintu ini diketuk, tak membuat suara atau pergerakan apa pun di dalam. "Sepi," ucap Allea menoleh ke tiga orang di belakangnya.
Vin maju, kini ia tidak sabaran, dan menggedor-gedor pintu itu keras-keras. Abi menarik nafas panjang dan memperhatikan sekitarnya. Tempat ini di kelilingi bangunan lama. Entah kosong atau memang masih berpenghuni, ia hanya merasa tempat ini aneh. Firasatnya mendadak berubah menjadi kecemasan. Tempat ini bahkan terlalu sunyi untuk sebuah tempat ramai seperti Murano. Murano yang ia tau, juga salah satu tempat wisata di Venesia. Beberapa kali mereka berpapasan dengan wisatawan dari berbagai negara, bahkan banyak orang Asia yang berkunjung ke tempat ini.
Jangankan manusia, angin saja terasa takut untuk menyusup ke daerah ini. Abi melihat titik aneh di tubuh Vin. Titik merah yang pernah ia lihat sebelumnya. "Penembak runduk!" seru Abi mendorong Vin dan Ellea maju. Allea yang berada di depan pintu lantas malah membuat pintu ini terbuka karena dorongan tadi. "Masuk!" seru Vin.
Mereka masuk ke bangunan itu. Gelap. Ruangan ini gelap dan hanya ada beberapa lampu remang di titik sudut saja. Tak mampu membuat tempat ini terang seperti keadaan di luar. Lampu di sini kuning, mirip bohlam jika di Indonesia. Tapi bentuknya indah dan terkesan mewah. Mereka baru sadar kalau tempat ini unik. Banyak benda yang memiliki nilai ekstektika tinggi. Penuh dengan seni dan pasti mahal. Beberapa lukisan terkenal menempel di dinding.
"Gaes," seru Vin saat melihat sebuah foto keluarga. Mereka mendekat dan ikut terkejut melihat apa yang ada di sana.
Sebuah keluarga dengan formasi yang lengkap. Kakek, Nenek, sepasang suami istri dengan dua bayi yang memakai pakaian sama, alias kembar.
"Apa itu kalian?" tanya Abi menunjuk dua bayi yang ada di foto.
"Mungkin," sahut Allea.
"Tapi mereka bukan Papah dan Mamahku. Siapa mereka?"
Allea diam. Beberapa siluet tergambar samar diingatannya. Suaranya saat masih kecil, nyaring dan cerewet, tengah bermain dengan seorang kakek. Mereka ada di sebuah tempat lapang dengan keduanya yang sedang memegang senapan. Allea bertanya ada kakek itu, bagaimana cara menembak dengan tepat. Karena baru saja sang kakek menembak burung yang terbang dilangit dengan tepat, tapi kakek hanya menembak satu sayapnya saja. Allea yang tidak percaya lantas berlari mengambil burung yang jatuh di tengah arena menembak itu. Ia bersorak dan tidak percaya kalau kakek itu benar-benar menembak satu sayap burung itu dengan tepat. "Kakek hebat, Allea ingin belajar menembak seperti itu," seru Allea bersemangat.
"Kakek," gumam Allea, ia menjauh dan pergi dari ruangan itu. Seolah tau seluk beluk tempat ini, Allea terus berjalan menyusuri koridor ruangan demi ruangan. Tempat ini luas, hingga Ellea dan yang lain harus berlari kecil untuk bisa menyusul Allea. "Tunggu, All," jerit Ellea diikuti Abi.
Allea sampai ke sebuah tanah lapang, tempat ini adalah arena tembak seperti yang ada di ingatannya. Dan perlahan ingatan itu pulih satu persatu. Kepala Allea berdenyut, saat memaksakan mengingat lebih banyak kejadian di rumah ini. "Kamu nggak apa-apa, All?" tanya Ellea memegangi lengan Allea yang terhuyung hampir jatuh. Allea memegangi kepalanya. "Duduk dulu," ajak Ellea membawa Allea duduk di kursi dekat arena tembak.
"Aku mulai ingat beberapa potongan memoriku di sini. Tapi saat aku coba buat mengingat lebih banyak, kepalaku sakit, Ell." Ellea memeluk saudaranya, mengelus punggung Allea dengan lembut.
"Pelan-pelan saja, ya, All. Jangan terlalu dipaksakan," ujar Ellea.
Suara langkah seseorang yang tengah berlari di koridor, membuat perhatian Abi teralihkan. Ia menyipitkan mata untuk melihat dan meyakinkan dirinya sendiri kalau orang itu adalah Vin yang memang sejak tadi masih ada di ruangan awal mereka masuk.
"Huh. Gila gue ditinggalin!" sergah Vin, nafasnya ngos-ngosan, kedua tangannya bertumpu di lutut, mirip posisi ruku dalam salat.
"Lah bengong aja sih elu. Si Allea juga tiba-tiba ke sini, takut ada apa-apa makanya gue sama Ellea nyusulin," kata Abimanyu, santai. Melipat kedua tangannya di depan dada.
"Terus nggak mikirin kalau gue yang kenapa-napa gimana?" protes Vin.
"Yaelah, prajurit tempur masa takut ngadepin penjahat?" ejek Abi dengan mengikuti posisi seperti Vin.
"Heh, prajurit juga kalau kena peluru mati! Emang elu!" sindir Vin. Ia lalu menatap Allea yang masih memegangi kepalanya. "Kenapa?" tanya Vin menunjuk Allea dengan dagunya.
"Pusing. Kayaknya ingatan dia mulai dateng," sahut Abi.
"Gue tau sesuatu!" kata Vin yang membuat mereka semua menatapnya penuh harap.
"Apaan?" tanya Abi penasaran.
"Gue tau siapa orang yang ada di foto keluarga itu," tunjuk Vin ke arah ruangan tadi.
"Siapa?"
"Alan Cha! Ketua gangster Wah Ching!"
Dahi Abimanyu berkerut, " Elu yakin, Vin?"
"Yakin banget. Gue pernah ketemu dia pas di Yordania. Dia gengster berbahaya. Dia sama Austin ribut besar. Tim gue sampai ada yang meninggal buat menghentikan perkelahian antar geng itu," terang Vin.
"Elu bilang siapa? Austin? " tanya Ellea yang sangat familiar dengan nama itu. Vin mengangguk.
"Austin, kan, yang culik gue kemarin! Dia yang ingin bunuh gue!"
"Ini jelas. Austin dan Alan Cha adalah musuh bebuyutan, Austin mau bunuh semua anggota keluarga Alan Cha, makanya kamu diincar mereka, Ell," analisis Abimanyu terdengar masuk akal. "Jadi itu menjelaskan satu hal juga," kata Abi, melanjutkan perkataannya.
"...."
"Kamu bukan anak kandung Pak Adrian dan Ibu Ruth," kata Abi menatap Ellea nanar.
Jantung Ellea berdesir mendengar kalimat itu. Ia tidak menyangka jika kalimat Abi benar-benar kenyataan pahit yang harus ia terima. Orang tua yang selama ini Ellea yakini adalah orang tua kandungnya, ternyata adalah orang lain. Ellea menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. "Nggak mungkin," ucapnya pelan.
Abi mendekat. Menggenggam kedua tangan Ellea yang sedang meremas ujung bajunya sendiri di atas lutut. "Ell, ini baru kemungkinan. Karena nggak mungkin foto kamu ada di sini, dan alasan apa yang lebih masuk akal, tentang Austin yang bersikeras mau membunuh kamu selama ini?" tanya Abi, mencoba menguatkan hati Ellea dan membukakan pikiran gadis itu.
1
obdiamond dan 6 lainnya memberi reputasi
7