- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.7K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#58
Part 56 Bisma Kabur
ADIVA NATALIA
Seorang anak tunggal dari sepasang orang tua, ayahnya polisi, ibunya adalah seorang model. Tapi anak perempuan itu sangat jarang bertemu ayahnya. Karena posisi sang ibu yang hanya diakui sebagai selingkuhan ayahnya. Orang itu adalah Andrew. Andrew yang saat itu adalah intelejen mudah dan berbakat, harus pergi ke sebuah desa karena harus menangani sebuah kasus. Ia bertemu Indri yang ternyata seorang saksi pembunuhan kasus yang ia tangani dulu. Intensitas pertemuan mereka membuat mereka makin dekat. Akhirnya mereka menjalin hubungan bahkan saat kasus itu sudah ditutup. Istri pertama Andrew memang sudah lama pergi dari rumah, ia lebih mementingkan karirnya sebagai seorang pengusaha muda. Karena itulah, Andrew jatuh cinta dengan Indri. seorang wanita yang dewasa dan keibuan. Diva adalah anaknya dengan istri pertamanya. Tapi Diva ditelantarkan oleh ibu kandungnya. Dan saat Indri datang dan masuk ke dalam hidup Andrew, ia seolah menemukan istri yang ia idamkan. mereka akhirnya menikah di bawah tangan.
Sampai suatu ketika istri pertama Andrew kembali, dan mendapati ada Indri di rumahnya. Ia murka dan hampir mencelakai Indri. Akhirnya Indri mengalah dan pergi dari rumah itu. Diva yang saat itu masih kecil, tidak mengerti apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya. Ia kehilangan Indri. Diva memutuskan pergi mencari Indri, tapi di perjalanan ia di bunuh. Diva anak yang pandai di sekolah, mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Sejak saat itu, Andrew kehilangan segalanya. Indri, DIva dan karirnya. Hidupnya hancur karena kepergian Diva.
"Bu Indri di mana sekarang?"
"Dia meninggal. kecelakaan mobil."
Pantas saja Andrew begitu semangat mencari Bisma dan kelompoknya. Ia ingin menghukum pembunuh putrinya.
'Ya sudah. Ayo kita bergerak."
"Kita jalan. Untung saja aku sudah pasang alat pelacak di jam tangannya." Nabila mengeluarkan sebuah tablet dengan titik koordinat yang ada di tangannya. Abimanyu kembali dibuat takjub atas tingkah Nabila. "Ini!" Nabila menyerahkan tablet itu ke Abi. Agar peemuda itu yang mencari Bisma. Langkah kaki Nabila terhenti saat terasa menginjak sesuatu. Ia mengangkat kaki kirinya ke atas dan mengambil benda itu. "Jepit rambut?"
"Ayo, Bil. Buruan!"
****
Cafe Pancasona mulai merekrut pegawai baru, karena kesibukan Abimanyu yang akhir-akhir ini sangat padat, dan akhirnya dua pilar cafe lainnya juga mengikuti jejaknya. Adi dan Gio. Ridwan adalah penanggung jawab cafe sementara waktu sampai tiga orang itu kembali. Semua hal sudah dipasrahkan dan dipercayakan oleh Ridwan.
Pagi ini sudah ada 4 orang karyawan baru yang mulai bekerja di cafe Pancasona. Mahesa, Yudistira, Rama dan Hara. Mereka berempat adalah teman Ridwan dan saling kenal satu sama lain. Mahesa dan Yudistira adalah teman satu sekolah Ridwan. Sementara Rama adalah saudara Emil dan Hara adalah kerabat jauh teman Emil. Mereka semua pengangguran yang ingin memulai bekerja dan mencoba melakukan yang terbaik untuk cafe Pancasona. Semua rajin dan berbakat. Mahesa terkenal cekatan dan supel, ia mudah berbaur dan selalu ramah pada setiap pengunjung. Yudistira terkenal dengan pembuat pancake yang enak, bahkan paling enak yang pernah ada di penjuru desa. Sementara Rama dia selalu punya tenaga kuat untuk membantu Ridwan mengangkat stok bahan makanan dari pengepul. Ia juga sudah mengenal banyak agen bahan makanan yang berkualitas dengan harga murah. Dan, Hara. adalah pembuat kopi terbaik. Sejak Abimanyu sering absen dari cafe, mendadak para pecinta kopi mulai jarang berkunjung karena mereka kurang suka dengan kopi buatan Emil maupun Ridwan. Setelah kedatangan Hara, cafe kembali hidup. Karena kopi yang ia buat hampir sama dengan buatan Abimanyu.
_____
Andrew duduk di samping Andika yang masih fokus menyetir. Perjalanan mereka memakan waktu hampir seharian. Kini mobil sudah sampai dermaga penyebrangan ke kepulauan seribu. Mereka akan datang ke salah satu pulau di sana dan bertemu Giska. Ada sebuah asrama putri di mana Giska tinggal dan menimba ilmu. Sudah hampir 3 tahun lamanya ia ada di pulau itu.
Kaki Andrew sudah menginjak pantai pasir putih di pulau kecil itu. Andika mulai bertanya pada beberapa orang yang ada di sekitar pantai tentang letak asrama putri itu. Pulau ini memang dikelola untuk sebuah sekolah menengah atas, dan salah satu sekolah swasta terbaik di negeri ini. Di sini para siswinya akan digembleng dan mengamati perilaku kehidupan alam di sekitarnya. Mereka nantinya akan menjadi peneliti lingkungan hidup. Karena itu, mereka dikarantina demi kebaikan mereka sendiri.
"Kita jalan saja, Pak. Nggak jauh kok dari pantai," ujar Andika yang sudah mengantongi informasi akurat keberadaan sekolah itu. Di pulau ini memang tidak ada pemukiman penduduk. Hanya sekolah dan asrama tempat Giska menimba ilmu. Beberapa penduduk yang mereka temui tadi hanya singgah di pantai, sebagai nelayan. Memang tempat ini bukan tempat umum, tapi juga tidak melarang orang lain menginjakkan kaki di pulau ini.
Pulau yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk sebuah sekolah dengan 50 siswa dan siswinya. Ada dua asrama yang terpisah oleh sekolah. Asrama khusus pria dan Asrama khusus wanita. Para siswa dan siswi di sekolah itu, akan diberi kesempatan pulang ke rumah hanya saat libur semester saja. Yaitu sekitar 6 bulan sekali. Dan itu pun hanya 3 hari saja. Selebihnya mereka akan ada di pulau ini sepanjang waktu.
Bel masuk baru saja berdering. Giska baru saja keluar dari kamar asramanya. Ia berlari cukup cepat karena sudah terlambat. "Gis!" jerit seseorang yang kini ikut menyusulnya. Ia berlari dengan tergopoh-gopoh agar dapat menyamakan langkah Giska. "Ah, buruan, Ngel. Kita telat. Bakal diusir lagi dari kelas nanti."
Giska Ratna dan Angelina Fransiska. Adalah teman satu kamar. Mereka sudah bersahabat sejak awal masuk asrama, hingga sekarang. Memiliki kebiasaan yang sama, yaitu bangun kesiangan dan selalu menjadi agenda rutin harian kalau mereka akan terlambat masuk kelas.
Pintu kelas sudah ditutup. Dua gadis itu benar-benar dalam masalah besar, karena guru pembimbing pagi ini, adalah Pak Eri. Guru terkiller se-antero sekolah.
"Duh, telat kita, Gis!"
"Iya. Mati kita, Nggak bakal bisa masuk, Ngel," gumam Giska menekan kepalanya. Mereka bimbang apakah harus menerobos masuk atau pergi saja. Jika harus pergi, maka mereka akan melewatkan ulangan harian dan pasti nilai mereka akan mendapat D. Yang artinya mereka harus mendapat nilai buruk di rapot nanti. Tapi jika ketauan terlambat itu juga artinya sama. Nilai D.
"Sini. Serahkan sama Angel!" kata gadis berkaca mata itu, bangga. Ia merasa memiliki solusi atas masalah ini. Angel mengetuk pintu, dan suara berat dari dalam kelas menyuruhnya membuka lebar pintu.
"Mau apa kamu terlambat di kelas saya. Bukannya tau konsekuensinya? Silakan keluar saja. Nilai kalian D untuk ulangan kali ini," kata Pak Eri tanpa menatap Angel dan Giska. Angel mendekat dan berbisik cukup lama dengan guru pendamping mereka itu. Lalu akhirnya, Pak Eri membolehkan mereka berdua masuk dan mengikuti kelas seperti yang lain. Giska menatap heran ke Angel, dalam benaknya ia sangat penasaran apa yang sudah dikatakan Angel hingga Pak Eri membolehkan mereka masuk.
Mereka duduk di bangku paling belakang. Tiap meja hanya diduduki 1 orang saja. Giska duduk di depan Angel. Dan, ujian siap dimulai. Mereka selalu kompak. Dalam berbagai situasi dan keadaan. Bahkan banyak yang merasa, kalau Giska dan Angel adalah bersaudara. Padahal mereka tidak ada ikatan darah apa pun.
_____
"Giska? Ada tamu," kata seorang guru yang tiba-tiba masuk ke kelasnya. Giska dan Angel saling tatap, Angel menaikkan alisnya seolah bertanya, "Siapa?" Sementara Giska hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak tau. Giska beranjak keluar kelas. Penasaran tamu siapa yang datang menengoknya. Karena orang tua Giska sedang berada di luar kota sampai 2 minggu lagi. Jadi tidak mungkin orang tuanya yang datang.
Sampai di ruang kepala sekolah, Giska melambatkan langkahnya saat melihat kepala sekolah sedang mengobrol dengan 3 orang di sana. "Siapa, ya?" gumam Giska tak mengenal satu pun di antara mereka. Ini kali pertama gadis itu melihat 3 orang di ruangan kepala sekolah. Alih-alih agak ragu untuk melanjutkan masuk atau kembali ke kelasnya, ia justru mematung di sana dan membuat perhatian orang-orang itu tertuju padanya.
"Nah itu Giska," tunjuk Pak Kepala Sekolah, melambaikan tangan pada Giska yang baru datang. Gadis itu mendekat dengan malu-malu. Andrew menatap Giska datar, Jesika langsung menyambut gadis itu dan menuntunnya agar duduk bersamanya. "Kalau begitu saya tinggal dulu, ya. Ada perlu. Silakan kalian ngobrol dulu." Pak Kepala Sekolah pergi dari ruangan dan meninggalkan mereka berempat saja di sana.
"Maaf kalian siapa, ya?" tanya Giska dengan menunduk, kepalanya tak berani menatap tiga orang yang kini terus menatapnya intens.
"Giska, perkenalkan, kami dari kepolisian pusat." Jesika mengawali pembicaraan sebagai sesama wanita agar lawan bicaranya tidak tegang saat mendengar penjelasannya. Mata Giska membulat sempurna dan memundurkan sedikit tubuhnya dari Jesika.
'Polisi? Mau apa?"
"Eum, kami cuma mau ngobrol sama Giska, boleh?" Jesika masih bertanya dengan nada lembut dan kembali memberikan sentuhan fisik berupa usapan dipunggung Giska. Ia ingin Giska tidak panik atau bereaksi mengejutkan.
"Soal?"
"Siska."
Begitu nama Siska disebut, Giska langsung menggeleng cepat. Ia panik dan gugup. "Maaf saya nggak tau apa-apa."
"Giska. Kamu harus dengar dulu penjelasan kami."
"Teman-teman kamu sudah meninggal. Tinggal tersisa kamu dan Hania saja." Andrew yang tidak sabaran justru langsung melontarkan kalimat yang benar-benar membuat Giska terkejut.
"Kamu tau? Kalau mereka dibunuh?"
"Apa? dibunuh? Siapa?" tanya Giska yang mulai tertarik atau lebih tepatnya ketakutan.
"Apa kamu tau Bisma?" tanya Jesika. Ia mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku bajunya, dan memberikan ke Giska.
"Bisma? Siapa, ya?" Giska berusaha mengingat wajah pria dalam foto itu, namun hasilnya dia sama sekali tidak tau bahkan tidak ingat siapa orang yang mereka sebut Bisma itu.
"Yakin? kamu nggak kenal dia?" tanya Andika kembali meyakinkan gadis itu. Giska masih menatap wajah itu dan mengingat segala hal yang mungkin terlewat di ingatannya. Tapi hasilnya, nihil. Ia menggeleng pelan dan memberikan lagi foto itu ke Jesika. Mereka bertiga makin gusar. Karen tidak dapat menemukan informasi apa pun tentang keterlibatan Bisma atas pembunuhan berantai ini. Mereka belum mengerti bahkan sampai detik ini masih dibuat kebingungan, apa hubungan Bisma dengan orang-orang yang dia bunuh. "Apa mungkin kamu pernah dengar nama ini sebagai salah satu teman atau kerabat Siska?"
Kembali Giska menggeleng. "Saya benar benar nggak tau dia siapa? lalu bagaimana teman-teman saya meninggal?"
"Mereka dibunuh. Awalnya Riki membunuh Cindy, lalu Clarinta, kemudian Risna, Eliza dan Feliz, dibunuh oleh Bisma. Semua karena dendam masa lalu atas kejadian yang menimpa Siska." Andrew terus menceritakan kejadian demi kejadian yang beberapa bulan ini menimpa desa Amethys, hingga tiap detil kematian teman-teman Giska.
Giska menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. Ia tidak menyangka kalau teman-temannya bernasib tragis dan kini ia sadar alasan polisi ini datang.
"Jadi maksud kalian datang ke sini, karena saya ... target selanjutnya?"
"Iya."
______
Giska menjadi pendiam sejak dipanggil ke ruang kepala sekolah. Ia juga menolak ikut Andrew ke kota untuk keselamatan dirinya. Giska yakin kalau orang itu tidak akan bisa sampai ke tempat ini. Ia kembali ke kamarnya, dan melihat Angel sudah berganti pakaian dan sedang membaca sebuah buku. Angel sudah memakai baju tidur kesukaannya. Rambutnya dibiarkan panjang terurai karena masih setengah basah. Cuaca akhir-akhir ini sangat panas, maka dari itu Angel kerap mencuci rambutnya tiap mandi.
"Hei, Gis. Kenapa? Ada masalah?" tanya Angel yang segera menyambut teman sekamarnya. Ia menuntun Giska duduk di ranjangnya sendiri. Menatap netra Giska yang sayu. "Giska. Kalau ada masalah cerita ke aku, ya," bujuk Angel.
"Ngel ...." Giska menatap Angel dengan mata berkaca-kaca. "Aku takut. Kalau dia bakal ke sini buat bunuh aku." Giska menangis dan langsung dipeluk Angel. Angel mendesis dan mengusap punggung Giska lembut. "Siapa yang kamu maksud? Kenapa dia mau bunuh kamu?"
"Teman-teman aku semua dibunuh, Ngel. Tinggal aku target selanjutnya. Bagaimana kalau dia nekat ke sini dan benar-benar bunuh aku seperti apa yang ia lakukan ke teman-temanku?" Giska panik. Ia sadar kalau nyawanya ada di ujung tanduk.
"Jangan takut, Giska. Kan ada aku di sini. sudah, ya. Kamu mandi dulu saja, capek, kan?"
Giska menurut dan segera beranjak menuju kamar mandi yang letaknya ada di kamar mereka juga. Karena setiap kamar akan di sediakan 1 kamar mandi dalam. Ia segera mengguyur tubuhnya dengan air yang mengucur dari shower. Ingatan Giska tentang kejadian silam, kembali hadir dalam otaknya. Bahkan air yang mengalir ini tak mampu membuatnya tenang. Justru Giska ketakutan. Ia bahkan menangis di bawah guyuran air dingin itu. Menangisi nasib teman-teman semasa kecilnya dulu dan nasibnya sendiri.
Giska membalut tubuhnya dengan piyama handuk dan kepalanya digulung ditutupi handuk kecil yang khusus ia pakai untuk mengeringkan rambut setelah keramas. Angel masih diam di tempatnya. Membaca tumpukan buku yang ada di meja belajarnya. "Udah?" tanya Angel dengan senyum tipis.
"Sudah. Kamu masih saja belajar, Ngel?" tanya Giska kemudian duduk di ranjangnya, sibuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
"Kan seminggu ini kita ulangan terus, Gis. Kamu ini bagaimana sih?"
"Iya deh. Dasar anak rajin." Netra Giska kini menatap ke meja belajarnya yang tidak kosong. Ada sebuah kotak yang menarik perhatiannya. Seingatnya Giska tidak melihat kotak itu tadi saat masuk kamar. "Itu apa?"
Angel yang mengerti pertanyaan itu ditujukan pada benda di sampingnya, lantas smeraih kotak yang sudah dibungkus kertas kado dan pita merah. "Oh iya, tadi ada yang ketuk pintu terus pas aku buka ada ini. Tuh ada namanya buat kamu," tunjuk Angel pada sebuah secarik kertas putih kecil yang menempel di samping kotak itu.
Giska meraih kotak itu, ragu. Ia menatap Angel dengan bimbang.
"Kenapa? kok muka kamu begitu." Angel lalu mengambil lagi kotak di tangan Giska. "Biar aku aja yang buka, ya. Aku yakin kamu masih kepikiran yang tadi, kan? makanya parno begitu."
Angel menggoyang- goyangkan kotak itu hingga terdengar bunyi samar di dalamnya. Seperti ada sebuah benda yang terguncang saat kotak itu di gerak-gerakan seperti tadi. "Apa isinya, ya?" tanya Angel penasaran. Ia lantas membuka kotak itu. Mata Angel membulat sempurna, ia langsung membuang kotak itu kasar. "Ih. Gila!" jeritnya lalu naik ke ranjang bersama Giska.
Seekor burung gagak yang sudah mati ada di dalam kotak itu. Tubuhnya telah dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Giska makin ketakutan. Wajahnya pucat, tubuhnya kaku dengan mata yang terus menatap ke hewan yang dibuang Angel itu. Angel menatap sebuah kertas yang tergeletak di dekat mayat burung itu. Angel mengambilnya dan membaca isi tulisan itu.
[Giliran kamu.]
Angel menatap Giska, Giska pun demikian. Wajah mereka menampilkan ketakutan yang amat sangat. Giska akhirnya segera memakai pakaian dan mengajak Angel ke ruang guru. Ia yakin masih ada guru yang ada di ruangan. Ia harus melaporkan hal ini. Dan agar kepala sekolah menghubungi Andrew lagi, agar mereka kembali.
______
Abimanyu dan yang lainnya sampai di sebuah gubug reot yang ada di perbatasan desa. Ini adalah tempat terakhir alat pelacak Nabila berhenti. Yang artinya di sini lah tempat Bisma berada. Tanpa basa basi atau mengendap seperti kebanyakan polisi di film, Gio langsung menendang pintu rumah itu hingga roboh. Adi sengaja memilih jalan memutar dan lewat pintu belakang. Ia menembak gagang pintu itu dan kini dapat terbuka dengan mudah. Abi dan Nabila hanya mengikuti dari belakang dan masuk rumah itu dengan santai. "Bisma!" jerit mereka saling bersahutan. Rumah ini sangat kotor, bahkan seolah tidak ada tanda kehidupan di dalamnya. Mereka menjadi ragu kalau Bisma ada di dalam. "Bil? salah kali lu ah. Mana ada Bisma di sini?" runtuk Gio dengan pertanyaan yang menyudutkan Nabila. Gadis itu terus memeriksa alat pelacaknya dan memang tempat ini adalah lokasi GPS yang dipasang Nabila di jam tangan Bisma kemarin. "Enggak. Gue yakin bener. Ini alat canggih banget, Gi. Terbaru loh. Ngga mungkin salah!"
Abimanyu mencari ke sudut lain rumah ini, dan tak lama kembali dengan sebuah jam tangan yang mirip milik Bisma. "Ini?" tanya Abi dan langsung melemparnya asal. Ia segera keluar dari rumah itu karena tidak menemukan apa-apa. Nabila kecewa. Ia merasa tertipu.
"Gaes!" jerit Adi yang ada di halaman belakang rumah ini. Mereka segera berlari ke tempat Adi memanggil.
"Di? Kenapa?" tanya Gio yang ikut panik.
"Itu!" tunjuk Adi ke sebuah mayat yang tergeletak di pinggir sumur tua. "Bisma, bukan?" tanya Adi sambil menutup hidungnya dengan lengan bajunya. Bau busuk mulai menyeruak ke dalam hidung. Gio dan Adi mendekati mayat itu. Rupanya, itu memang Bisma, dengan isi perut yang terkoyak. Nabila langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Gila!" Gio melotot seolah tidak percaya pada apa yang ia lihat di depannya.
"Panggil polisi!" kata Abi ke Nabila. Gadis itu mengangguk dan segera menjauh untuk melakukan panggilan telepon.
______
Abimanyu dan yang lain akhirnya kembali ke cafe Pancasona.
"Bang? Gimana?" tanya Ridwan yang menyambut mereka. Mereka berempat segera masuk dan duduk di sebuah meja kosong. Ridwan cemas dengan raut wajah mereka semua. Karena ia yakin ini adalah kabar buruk. "Bang, mau aku ambilkan air?"
"Tolong, ya, Wan." Suara Abimanyu lemah. Mereka putus asa. Karena terus menerus dihadapkan pada kenyataan yang terus memutar tanpa ada ujung dari penyelesaian.
4 gelas air mineral sudah tersedia di meja. Ridwan ikut duduk di antara mereka. Menatap 4 orang itu bergantian agar dapat membaca situasi dan keadaan mereka. "Bisma? nggak ketemu?"
"Ketemu," sahut Abimanyu dan menatap Ridwan dalam.
'Akhirnya. Terus kenapa kalian sedih?"
'Bisma kami temukan sudah meninggal," sambung Nabila.
"Hah?!" jerit Ridwan dan kini wajahnya hampir sama seperti seperti 4 orang yang baru saja datang tadi. "Kok bisa, Bang? Itu artinya bukan Bisma pelakunya, kan?" tanya Ridwan penuh harap. Adi menepuk bahu Ridwan. Ridwan justru menunduk lemas. "Memang Bisma pembunuh Feliz, tapi dia juga dibunuh orang lain." Adi beranjak pergi ke toilet.
"Lalu bagaimana, Bang?"
"Yah, mau bagaimana lagi? Kami harus tetap mencarinya lagi."
Ridwan kini yang paling terpukul atas berita kematian Bisma. Ia merasa Bisma adalah sahabatnya di sini. Bisma baik dan sering membantunya. Maka dari itu ia sempat tidak percaya kalau Bisma yang sudah menculik dan membawa Feliz pergi.
"Eum, bagaimana karyawan baru?" tanya Abimanyu mengalihkan pembicaraan. Ridwan segera mencari 4 pegawai baru yang masih sangat baru. Ini adalah kali pertama Abi bertemu dengan pegawai barunya.
"Bang, kenalkan, Ini Mahesa, Yudistira, Rama dan ... Hara." 4 orang itu berdiri di depan Abimanyu. Berusaha memberikan rasa hormat pada sang empunya cafe alias bos mereka.
"Nama kalian bagus bagus. Mahesa, artinya pemimpin hebat, Yudistira itu tangguh, Rama? Waw saya teringat Rama dan Shinta," kata Abimanyu sambil terkekeh pelan. Berusaha menetralkan suasana atas berita duka tadi. Ia memandang satu persatu wajah 4 pria di depannya. "Dan Hara ... artinya penebus dosa. Cafe saya pasti akan berkembang pesat. Iya, kan, Wan?"
Ridwan hanya mengangguk dengan senyum yang mengembang.
"Oh iya, Hara, bisa buatkan saya kopi? Kepala saya pusing sekali," pinta Abimanyu. Hara segera bergegas ke meja barista. Abimanyu lelah, tapi bukan Abimanyu namanya kalau ia menyerah. Kedua orang tuanya memberikan nama itu dengan arti Seorang anak laki-laki yang tidak takut menghadapi apa pun. Ia akan menjadi orang besar suatu saat nanti.
Seorang anak tunggal dari sepasang orang tua, ayahnya polisi, ibunya adalah seorang model. Tapi anak perempuan itu sangat jarang bertemu ayahnya. Karena posisi sang ibu yang hanya diakui sebagai selingkuhan ayahnya. Orang itu adalah Andrew. Andrew yang saat itu adalah intelejen mudah dan berbakat, harus pergi ke sebuah desa karena harus menangani sebuah kasus. Ia bertemu Indri yang ternyata seorang saksi pembunuhan kasus yang ia tangani dulu. Intensitas pertemuan mereka membuat mereka makin dekat. Akhirnya mereka menjalin hubungan bahkan saat kasus itu sudah ditutup. Istri pertama Andrew memang sudah lama pergi dari rumah, ia lebih mementingkan karirnya sebagai seorang pengusaha muda. Karena itulah, Andrew jatuh cinta dengan Indri. seorang wanita yang dewasa dan keibuan. Diva adalah anaknya dengan istri pertamanya. Tapi Diva ditelantarkan oleh ibu kandungnya. Dan saat Indri datang dan masuk ke dalam hidup Andrew, ia seolah menemukan istri yang ia idamkan. mereka akhirnya menikah di bawah tangan.
Sampai suatu ketika istri pertama Andrew kembali, dan mendapati ada Indri di rumahnya. Ia murka dan hampir mencelakai Indri. Akhirnya Indri mengalah dan pergi dari rumah itu. Diva yang saat itu masih kecil, tidak mengerti apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya. Ia kehilangan Indri. Diva memutuskan pergi mencari Indri, tapi di perjalanan ia di bunuh. Diva anak yang pandai di sekolah, mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Sejak saat itu, Andrew kehilangan segalanya. Indri, DIva dan karirnya. Hidupnya hancur karena kepergian Diva.
"Bu Indri di mana sekarang?"
"Dia meninggal. kecelakaan mobil."
Pantas saja Andrew begitu semangat mencari Bisma dan kelompoknya. Ia ingin menghukum pembunuh putrinya.
'Ya sudah. Ayo kita bergerak."
"Kita jalan. Untung saja aku sudah pasang alat pelacak di jam tangannya." Nabila mengeluarkan sebuah tablet dengan titik koordinat yang ada di tangannya. Abimanyu kembali dibuat takjub atas tingkah Nabila. "Ini!" Nabila menyerahkan tablet itu ke Abi. Agar peemuda itu yang mencari Bisma. Langkah kaki Nabila terhenti saat terasa menginjak sesuatu. Ia mengangkat kaki kirinya ke atas dan mengambil benda itu. "Jepit rambut?"
"Ayo, Bil. Buruan!"
****
Cafe Pancasona mulai merekrut pegawai baru, karena kesibukan Abimanyu yang akhir-akhir ini sangat padat, dan akhirnya dua pilar cafe lainnya juga mengikuti jejaknya. Adi dan Gio. Ridwan adalah penanggung jawab cafe sementara waktu sampai tiga orang itu kembali. Semua hal sudah dipasrahkan dan dipercayakan oleh Ridwan.
Pagi ini sudah ada 4 orang karyawan baru yang mulai bekerja di cafe Pancasona. Mahesa, Yudistira, Rama dan Hara. Mereka berempat adalah teman Ridwan dan saling kenal satu sama lain. Mahesa dan Yudistira adalah teman satu sekolah Ridwan. Sementara Rama adalah saudara Emil dan Hara adalah kerabat jauh teman Emil. Mereka semua pengangguran yang ingin memulai bekerja dan mencoba melakukan yang terbaik untuk cafe Pancasona. Semua rajin dan berbakat. Mahesa terkenal cekatan dan supel, ia mudah berbaur dan selalu ramah pada setiap pengunjung. Yudistira terkenal dengan pembuat pancake yang enak, bahkan paling enak yang pernah ada di penjuru desa. Sementara Rama dia selalu punya tenaga kuat untuk membantu Ridwan mengangkat stok bahan makanan dari pengepul. Ia juga sudah mengenal banyak agen bahan makanan yang berkualitas dengan harga murah. Dan, Hara. adalah pembuat kopi terbaik. Sejak Abimanyu sering absen dari cafe, mendadak para pecinta kopi mulai jarang berkunjung karena mereka kurang suka dengan kopi buatan Emil maupun Ridwan. Setelah kedatangan Hara, cafe kembali hidup. Karena kopi yang ia buat hampir sama dengan buatan Abimanyu.
_____
Andrew duduk di samping Andika yang masih fokus menyetir. Perjalanan mereka memakan waktu hampir seharian. Kini mobil sudah sampai dermaga penyebrangan ke kepulauan seribu. Mereka akan datang ke salah satu pulau di sana dan bertemu Giska. Ada sebuah asrama putri di mana Giska tinggal dan menimba ilmu. Sudah hampir 3 tahun lamanya ia ada di pulau itu.
Kaki Andrew sudah menginjak pantai pasir putih di pulau kecil itu. Andika mulai bertanya pada beberapa orang yang ada di sekitar pantai tentang letak asrama putri itu. Pulau ini memang dikelola untuk sebuah sekolah menengah atas, dan salah satu sekolah swasta terbaik di negeri ini. Di sini para siswinya akan digembleng dan mengamati perilaku kehidupan alam di sekitarnya. Mereka nantinya akan menjadi peneliti lingkungan hidup. Karena itu, mereka dikarantina demi kebaikan mereka sendiri.
"Kita jalan saja, Pak. Nggak jauh kok dari pantai," ujar Andika yang sudah mengantongi informasi akurat keberadaan sekolah itu. Di pulau ini memang tidak ada pemukiman penduduk. Hanya sekolah dan asrama tempat Giska menimba ilmu. Beberapa penduduk yang mereka temui tadi hanya singgah di pantai, sebagai nelayan. Memang tempat ini bukan tempat umum, tapi juga tidak melarang orang lain menginjakkan kaki di pulau ini.
Pulau yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk sebuah sekolah dengan 50 siswa dan siswinya. Ada dua asrama yang terpisah oleh sekolah. Asrama khusus pria dan Asrama khusus wanita. Para siswa dan siswi di sekolah itu, akan diberi kesempatan pulang ke rumah hanya saat libur semester saja. Yaitu sekitar 6 bulan sekali. Dan itu pun hanya 3 hari saja. Selebihnya mereka akan ada di pulau ini sepanjang waktu.
Bel masuk baru saja berdering. Giska baru saja keluar dari kamar asramanya. Ia berlari cukup cepat karena sudah terlambat. "Gis!" jerit seseorang yang kini ikut menyusulnya. Ia berlari dengan tergopoh-gopoh agar dapat menyamakan langkah Giska. "Ah, buruan, Ngel. Kita telat. Bakal diusir lagi dari kelas nanti."
Giska Ratna dan Angelina Fransiska. Adalah teman satu kamar. Mereka sudah bersahabat sejak awal masuk asrama, hingga sekarang. Memiliki kebiasaan yang sama, yaitu bangun kesiangan dan selalu menjadi agenda rutin harian kalau mereka akan terlambat masuk kelas.
Pintu kelas sudah ditutup. Dua gadis itu benar-benar dalam masalah besar, karena guru pembimbing pagi ini, adalah Pak Eri. Guru terkiller se-antero sekolah.
"Duh, telat kita, Gis!"
"Iya. Mati kita, Nggak bakal bisa masuk, Ngel," gumam Giska menekan kepalanya. Mereka bimbang apakah harus menerobos masuk atau pergi saja. Jika harus pergi, maka mereka akan melewatkan ulangan harian dan pasti nilai mereka akan mendapat D. Yang artinya mereka harus mendapat nilai buruk di rapot nanti. Tapi jika ketauan terlambat itu juga artinya sama. Nilai D.
"Sini. Serahkan sama Angel!" kata gadis berkaca mata itu, bangga. Ia merasa memiliki solusi atas masalah ini. Angel mengetuk pintu, dan suara berat dari dalam kelas menyuruhnya membuka lebar pintu.
"Mau apa kamu terlambat di kelas saya. Bukannya tau konsekuensinya? Silakan keluar saja. Nilai kalian D untuk ulangan kali ini," kata Pak Eri tanpa menatap Angel dan Giska. Angel mendekat dan berbisik cukup lama dengan guru pendamping mereka itu. Lalu akhirnya, Pak Eri membolehkan mereka berdua masuk dan mengikuti kelas seperti yang lain. Giska menatap heran ke Angel, dalam benaknya ia sangat penasaran apa yang sudah dikatakan Angel hingga Pak Eri membolehkan mereka masuk.
Mereka duduk di bangku paling belakang. Tiap meja hanya diduduki 1 orang saja. Giska duduk di depan Angel. Dan, ujian siap dimulai. Mereka selalu kompak. Dalam berbagai situasi dan keadaan. Bahkan banyak yang merasa, kalau Giska dan Angel adalah bersaudara. Padahal mereka tidak ada ikatan darah apa pun.
_____
"Giska? Ada tamu," kata seorang guru yang tiba-tiba masuk ke kelasnya. Giska dan Angel saling tatap, Angel menaikkan alisnya seolah bertanya, "Siapa?" Sementara Giska hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak tau. Giska beranjak keluar kelas. Penasaran tamu siapa yang datang menengoknya. Karena orang tua Giska sedang berada di luar kota sampai 2 minggu lagi. Jadi tidak mungkin orang tuanya yang datang.
Sampai di ruang kepala sekolah, Giska melambatkan langkahnya saat melihat kepala sekolah sedang mengobrol dengan 3 orang di sana. "Siapa, ya?" gumam Giska tak mengenal satu pun di antara mereka. Ini kali pertama gadis itu melihat 3 orang di ruangan kepala sekolah. Alih-alih agak ragu untuk melanjutkan masuk atau kembali ke kelasnya, ia justru mematung di sana dan membuat perhatian orang-orang itu tertuju padanya.
"Nah itu Giska," tunjuk Pak Kepala Sekolah, melambaikan tangan pada Giska yang baru datang. Gadis itu mendekat dengan malu-malu. Andrew menatap Giska datar, Jesika langsung menyambut gadis itu dan menuntunnya agar duduk bersamanya. "Kalau begitu saya tinggal dulu, ya. Ada perlu. Silakan kalian ngobrol dulu." Pak Kepala Sekolah pergi dari ruangan dan meninggalkan mereka berempat saja di sana.
"Maaf kalian siapa, ya?" tanya Giska dengan menunduk, kepalanya tak berani menatap tiga orang yang kini terus menatapnya intens.
"Giska, perkenalkan, kami dari kepolisian pusat." Jesika mengawali pembicaraan sebagai sesama wanita agar lawan bicaranya tidak tegang saat mendengar penjelasannya. Mata Giska membulat sempurna dan memundurkan sedikit tubuhnya dari Jesika.
'Polisi? Mau apa?"
"Eum, kami cuma mau ngobrol sama Giska, boleh?" Jesika masih bertanya dengan nada lembut dan kembali memberikan sentuhan fisik berupa usapan dipunggung Giska. Ia ingin Giska tidak panik atau bereaksi mengejutkan.
"Soal?"
"Siska."
Begitu nama Siska disebut, Giska langsung menggeleng cepat. Ia panik dan gugup. "Maaf saya nggak tau apa-apa."
"Giska. Kamu harus dengar dulu penjelasan kami."
"Teman-teman kamu sudah meninggal. Tinggal tersisa kamu dan Hania saja." Andrew yang tidak sabaran justru langsung melontarkan kalimat yang benar-benar membuat Giska terkejut.
"Kamu tau? Kalau mereka dibunuh?"
"Apa? dibunuh? Siapa?" tanya Giska yang mulai tertarik atau lebih tepatnya ketakutan.
"Apa kamu tau Bisma?" tanya Jesika. Ia mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku bajunya, dan memberikan ke Giska.
"Bisma? Siapa, ya?" Giska berusaha mengingat wajah pria dalam foto itu, namun hasilnya dia sama sekali tidak tau bahkan tidak ingat siapa orang yang mereka sebut Bisma itu.
"Yakin? kamu nggak kenal dia?" tanya Andika kembali meyakinkan gadis itu. Giska masih menatap wajah itu dan mengingat segala hal yang mungkin terlewat di ingatannya. Tapi hasilnya, nihil. Ia menggeleng pelan dan memberikan lagi foto itu ke Jesika. Mereka bertiga makin gusar. Karen tidak dapat menemukan informasi apa pun tentang keterlibatan Bisma atas pembunuhan berantai ini. Mereka belum mengerti bahkan sampai detik ini masih dibuat kebingungan, apa hubungan Bisma dengan orang-orang yang dia bunuh. "Apa mungkin kamu pernah dengar nama ini sebagai salah satu teman atau kerabat Siska?"
Kembali Giska menggeleng. "Saya benar benar nggak tau dia siapa? lalu bagaimana teman-teman saya meninggal?"
"Mereka dibunuh. Awalnya Riki membunuh Cindy, lalu Clarinta, kemudian Risna, Eliza dan Feliz, dibunuh oleh Bisma. Semua karena dendam masa lalu atas kejadian yang menimpa Siska." Andrew terus menceritakan kejadian demi kejadian yang beberapa bulan ini menimpa desa Amethys, hingga tiap detil kematian teman-teman Giska.
Giska menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. Ia tidak menyangka kalau teman-temannya bernasib tragis dan kini ia sadar alasan polisi ini datang.
"Jadi maksud kalian datang ke sini, karena saya ... target selanjutnya?"
"Iya."
______
Giska menjadi pendiam sejak dipanggil ke ruang kepala sekolah. Ia juga menolak ikut Andrew ke kota untuk keselamatan dirinya. Giska yakin kalau orang itu tidak akan bisa sampai ke tempat ini. Ia kembali ke kamarnya, dan melihat Angel sudah berganti pakaian dan sedang membaca sebuah buku. Angel sudah memakai baju tidur kesukaannya. Rambutnya dibiarkan panjang terurai karena masih setengah basah. Cuaca akhir-akhir ini sangat panas, maka dari itu Angel kerap mencuci rambutnya tiap mandi.
"Hei, Gis. Kenapa? Ada masalah?" tanya Angel yang segera menyambut teman sekamarnya. Ia menuntun Giska duduk di ranjangnya sendiri. Menatap netra Giska yang sayu. "Giska. Kalau ada masalah cerita ke aku, ya," bujuk Angel.
"Ngel ...." Giska menatap Angel dengan mata berkaca-kaca. "Aku takut. Kalau dia bakal ke sini buat bunuh aku." Giska menangis dan langsung dipeluk Angel. Angel mendesis dan mengusap punggung Giska lembut. "Siapa yang kamu maksud? Kenapa dia mau bunuh kamu?"
"Teman-teman aku semua dibunuh, Ngel. Tinggal aku target selanjutnya. Bagaimana kalau dia nekat ke sini dan benar-benar bunuh aku seperti apa yang ia lakukan ke teman-temanku?" Giska panik. Ia sadar kalau nyawanya ada di ujung tanduk.
"Jangan takut, Giska. Kan ada aku di sini. sudah, ya. Kamu mandi dulu saja, capek, kan?"
Giska menurut dan segera beranjak menuju kamar mandi yang letaknya ada di kamar mereka juga. Karena setiap kamar akan di sediakan 1 kamar mandi dalam. Ia segera mengguyur tubuhnya dengan air yang mengucur dari shower. Ingatan Giska tentang kejadian silam, kembali hadir dalam otaknya. Bahkan air yang mengalir ini tak mampu membuatnya tenang. Justru Giska ketakutan. Ia bahkan menangis di bawah guyuran air dingin itu. Menangisi nasib teman-teman semasa kecilnya dulu dan nasibnya sendiri.
Giska membalut tubuhnya dengan piyama handuk dan kepalanya digulung ditutupi handuk kecil yang khusus ia pakai untuk mengeringkan rambut setelah keramas. Angel masih diam di tempatnya. Membaca tumpukan buku yang ada di meja belajarnya. "Udah?" tanya Angel dengan senyum tipis.
"Sudah. Kamu masih saja belajar, Ngel?" tanya Giska kemudian duduk di ranjangnya, sibuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
"Kan seminggu ini kita ulangan terus, Gis. Kamu ini bagaimana sih?"
"Iya deh. Dasar anak rajin." Netra Giska kini menatap ke meja belajarnya yang tidak kosong. Ada sebuah kotak yang menarik perhatiannya. Seingatnya Giska tidak melihat kotak itu tadi saat masuk kamar. "Itu apa?"
Angel yang mengerti pertanyaan itu ditujukan pada benda di sampingnya, lantas smeraih kotak yang sudah dibungkus kertas kado dan pita merah. "Oh iya, tadi ada yang ketuk pintu terus pas aku buka ada ini. Tuh ada namanya buat kamu," tunjuk Angel pada sebuah secarik kertas putih kecil yang menempel di samping kotak itu.
Giska meraih kotak itu, ragu. Ia menatap Angel dengan bimbang.
"Kenapa? kok muka kamu begitu." Angel lalu mengambil lagi kotak di tangan Giska. "Biar aku aja yang buka, ya. Aku yakin kamu masih kepikiran yang tadi, kan? makanya parno begitu."
Angel menggoyang- goyangkan kotak itu hingga terdengar bunyi samar di dalamnya. Seperti ada sebuah benda yang terguncang saat kotak itu di gerak-gerakan seperti tadi. "Apa isinya, ya?" tanya Angel penasaran. Ia lantas membuka kotak itu. Mata Angel membulat sempurna, ia langsung membuang kotak itu kasar. "Ih. Gila!" jeritnya lalu naik ke ranjang bersama Giska.
Seekor burung gagak yang sudah mati ada di dalam kotak itu. Tubuhnya telah dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Giska makin ketakutan. Wajahnya pucat, tubuhnya kaku dengan mata yang terus menatap ke hewan yang dibuang Angel itu. Angel menatap sebuah kertas yang tergeletak di dekat mayat burung itu. Angel mengambilnya dan membaca isi tulisan itu.
[Giliran kamu.]
Angel menatap Giska, Giska pun demikian. Wajah mereka menampilkan ketakutan yang amat sangat. Giska akhirnya segera memakai pakaian dan mengajak Angel ke ruang guru. Ia yakin masih ada guru yang ada di ruangan. Ia harus melaporkan hal ini. Dan agar kepala sekolah menghubungi Andrew lagi, agar mereka kembali.
______
Abimanyu dan yang lainnya sampai di sebuah gubug reot yang ada di perbatasan desa. Ini adalah tempat terakhir alat pelacak Nabila berhenti. Yang artinya di sini lah tempat Bisma berada. Tanpa basa basi atau mengendap seperti kebanyakan polisi di film, Gio langsung menendang pintu rumah itu hingga roboh. Adi sengaja memilih jalan memutar dan lewat pintu belakang. Ia menembak gagang pintu itu dan kini dapat terbuka dengan mudah. Abi dan Nabila hanya mengikuti dari belakang dan masuk rumah itu dengan santai. "Bisma!" jerit mereka saling bersahutan. Rumah ini sangat kotor, bahkan seolah tidak ada tanda kehidupan di dalamnya. Mereka menjadi ragu kalau Bisma ada di dalam. "Bil? salah kali lu ah. Mana ada Bisma di sini?" runtuk Gio dengan pertanyaan yang menyudutkan Nabila. Gadis itu terus memeriksa alat pelacaknya dan memang tempat ini adalah lokasi GPS yang dipasang Nabila di jam tangan Bisma kemarin. "Enggak. Gue yakin bener. Ini alat canggih banget, Gi. Terbaru loh. Ngga mungkin salah!"
Abimanyu mencari ke sudut lain rumah ini, dan tak lama kembali dengan sebuah jam tangan yang mirip milik Bisma. "Ini?" tanya Abi dan langsung melemparnya asal. Ia segera keluar dari rumah itu karena tidak menemukan apa-apa. Nabila kecewa. Ia merasa tertipu.
"Gaes!" jerit Adi yang ada di halaman belakang rumah ini. Mereka segera berlari ke tempat Adi memanggil.
"Di? Kenapa?" tanya Gio yang ikut panik.
"Itu!" tunjuk Adi ke sebuah mayat yang tergeletak di pinggir sumur tua. "Bisma, bukan?" tanya Adi sambil menutup hidungnya dengan lengan bajunya. Bau busuk mulai menyeruak ke dalam hidung. Gio dan Adi mendekati mayat itu. Rupanya, itu memang Bisma, dengan isi perut yang terkoyak. Nabila langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Gila!" Gio melotot seolah tidak percaya pada apa yang ia lihat di depannya.
"Panggil polisi!" kata Abi ke Nabila. Gadis itu mengangguk dan segera menjauh untuk melakukan panggilan telepon.
______
Abimanyu dan yang lain akhirnya kembali ke cafe Pancasona.
"Bang? Gimana?" tanya Ridwan yang menyambut mereka. Mereka berempat segera masuk dan duduk di sebuah meja kosong. Ridwan cemas dengan raut wajah mereka semua. Karena ia yakin ini adalah kabar buruk. "Bang, mau aku ambilkan air?"
"Tolong, ya, Wan." Suara Abimanyu lemah. Mereka putus asa. Karena terus menerus dihadapkan pada kenyataan yang terus memutar tanpa ada ujung dari penyelesaian.
4 gelas air mineral sudah tersedia di meja. Ridwan ikut duduk di antara mereka. Menatap 4 orang itu bergantian agar dapat membaca situasi dan keadaan mereka. "Bisma? nggak ketemu?"
"Ketemu," sahut Abimanyu dan menatap Ridwan dalam.
'Akhirnya. Terus kenapa kalian sedih?"
'Bisma kami temukan sudah meninggal," sambung Nabila.
"Hah?!" jerit Ridwan dan kini wajahnya hampir sama seperti seperti 4 orang yang baru saja datang tadi. "Kok bisa, Bang? Itu artinya bukan Bisma pelakunya, kan?" tanya Ridwan penuh harap. Adi menepuk bahu Ridwan. Ridwan justru menunduk lemas. "Memang Bisma pembunuh Feliz, tapi dia juga dibunuh orang lain." Adi beranjak pergi ke toilet.
"Lalu bagaimana, Bang?"
"Yah, mau bagaimana lagi? Kami harus tetap mencarinya lagi."
Ridwan kini yang paling terpukul atas berita kematian Bisma. Ia merasa Bisma adalah sahabatnya di sini. Bisma baik dan sering membantunya. Maka dari itu ia sempat tidak percaya kalau Bisma yang sudah menculik dan membawa Feliz pergi.
"Eum, bagaimana karyawan baru?" tanya Abimanyu mengalihkan pembicaraan. Ridwan segera mencari 4 pegawai baru yang masih sangat baru. Ini adalah kali pertama Abi bertemu dengan pegawai barunya.
"Bang, kenalkan, Ini Mahesa, Yudistira, Rama dan ... Hara." 4 orang itu berdiri di depan Abimanyu. Berusaha memberikan rasa hormat pada sang empunya cafe alias bos mereka.
"Nama kalian bagus bagus. Mahesa, artinya pemimpin hebat, Yudistira itu tangguh, Rama? Waw saya teringat Rama dan Shinta," kata Abimanyu sambil terkekeh pelan. Berusaha menetralkan suasana atas berita duka tadi. Ia memandang satu persatu wajah 4 pria di depannya. "Dan Hara ... artinya penebus dosa. Cafe saya pasti akan berkembang pesat. Iya, kan, Wan?"
Ridwan hanya mengangguk dengan senyum yang mengembang.
"Oh iya, Hara, bisa buatkan saya kopi? Kepala saya pusing sekali," pinta Abimanyu. Hara segera bergegas ke meja barista. Abimanyu lelah, tapi bukan Abimanyu namanya kalau ia menyerah. Kedua orang tuanya memberikan nama itu dengan arti Seorang anak laki-laki yang tidak takut menghadapi apa pun. Ia akan menjadi orang besar suatu saat nanti.
obdiamond dan 5 lainnya memberi reputasi
6