- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.9K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#53
Part 51 Bertemu Eliza
"Papa pulang sebentar, mandi terus ke kantor dulu. Ada kerjaan yang harus diurus. Nanti ke sini lagi. Kalian tunggu mama dulu sebentar, nggak apa-apa, kan?" tanya Pak Heru menatap Abimanyu dan Nabila bergantian. Tatapan itu lebih ditujukan pada Abimanyu yang notabennya bukan bagian dari keluarga, takut merepotkan.
"Tidak apa-apa, Pak. Biar kami berjaga di sini. Pak Heru juga butuh istirahat, kan?" tanya Abi yang berusaha membuat keadaan lebih nyaman dengan kehadiran nya di sini.
"Baiklah. Terima kasih, Mas Abimanyu. Titip Nabila juga."
"Baik, Pak."
Pak Heru pamit dan keluar dari kamar. Menyisakan Nabila dan Abimanyu yang masih diam membisu dengan pikiran bermacam-macam. Nabila mendekat ke ibu nya yang masih terbaring lemah di ranjang pasien. Ia memegang tangan wanita yang telah melahirkan nya dengan
tatapan iba. Wajah nya menyiratkan ketakutan atas kesehatan wanita itu. Bagaimana pun juga, Nabila memang sangat dekat dengan sang ibunda. Walau dia melalang buana ke luar kota untuk pekerjaan, tapi jika mendengar kabar dari ibu atau ayah nya, Nabila akan langsung pulang tanpa menunda nya lagi. Semua pekerjaan ia tinggalkan, karena orang tua nya jauh lebih penting dari apa pun juga.
"Bi ...," panggil Nabila tanpa menatap ke Abimanyu dan hanya memandang terus ke tubuh lemah di depan nya.
Abimanyu yang sejak tadi diam lantas menatap Nabila. Tanpa menjawab apa pun, menunggu gadis itu meneruskan kalimat nya.
"Gimana rasa nya kehilangan dua orang tua sekaligus?" tanya nya dengan suara serak. Membayangkan nya saja rasa nya air mata Nabila sudah ingin tumpah. Dalam kesedihannya itu, Nabila juga iba pada Abimanyu yang telah kehilangan kedua orang tua nya sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Abi ragu untuk menjawab nya. Karena ini adalah hal sensitif jika dibicarakan saat Ibunda Nabila tengah terbaring lemah di pembaringan. "Ya ... pasti sedih," jawab Abi sekenanya. Siapa pun pasti akan sedih jika ditinggal oleh orang tua.
"Kamu kangen orang tuamu?"
"Itu pertanyaan klise, Bil. Nggak perlu aku jawab, kamu pasti tau gimana perasaanku. Sekarang kamu Cuma hanya perlu berdoa. Jangan patah semangat apalagi ibu kamu masih ada harapan untuk hidup. Dia belum mati, Bil. Jangan bersikap seolah dia nggak akan bangun lagi."
Kalimat Abimanyu
menohok jantung nya. Perkataan Abi memang benar adanya. Ia bersikap seolah ibunya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dan itu adalah sikap terburuk dari seorang anak.
"Gimana sekolah hari ini? Pasti ramai, ya. Gara-gara kasus Risna kemarin." Abi mencoba mengalihkan pembicaraan agar Nabila tidak terus larut dalam kesedihan.
"Lumayan. Tiga hari dari sekarang, anak-anak dipulangkan lebih awal. Takut mereka jadi salah satu korban seperti Risna. Eh, aku denger lengan kamu terluka, kemarin?" tanya Nabila menoleh ke Abimanyu.
Abi hanya memegang lengan yang kemarin terkena sabetan pisau itu. Tidak ada bekas luka apa pun di sana sebenarnya. Kemudian tersenyum sebagai sebuah bentuk jawaban ambigu.
"Tapi kamu nggak apa apa, kan?" tanya Nabila lagi.
Abi masih memegang lengannya kemudian mengangguk yakin. "Cuma tergores. Nggak apa apa kok."
"Syukurlah kalau begitu."
---------
Abimanyu memutuskan berjalan-jalan menuju kantin, karena rasa lapar yang mulai menggerogoti perut nya. Cacing di perut sudah berdemo karena sejak pagi baru ia isi secangkir kopi. "Aku nitip roti sobek aja sama susu kotak," pinta Nabila yang enggan meninggalkan ibunya seorang diri. Ia berharap saat ibunya tersadar, maka orang yang pertama kali dilihat adalah diri nya.
"Oke. Kamu jangan ke mana mana, ya. Tunggu aku balik lagi ke sini. "
"Iya, Bi."
Udara rumah sakit terasa memusingkan. Bau etanol semerbak di sepanjang koridor. Tempat yang tidak nyaman bagi diri Abi yang memang orang sehat. Ia menunggu di depan pintu lift, karena kantin ada di lantai bawah rumah sakit, dekat pelataran parkir mobil.
Ada sekitar 3 orang lain nya yang sedang menunggu lift naik. Dua orang gadis
dengan pakaian SMU, dan seorang pria dengan topi dan masker. Ia memakai tas
punggung yang seperti nya berat.
Pintu lift terbuka, mereka berempat pun masuk bergantian. Saat pintu ditutup, dahi Abi berkerut. Ia mencium aroma khas semalam. Bau kaporit seperti yang ia cium pada sosok perawat yang
telah membunuh Risna di rumah sakit. Ia lantas menoleh ke tiga orang di dalam
dengan tatapan menyelidik. Dua remaja perempuan itu mengobrol tentang teman nya yang dirawat di rumah sakit ini karena terkena sakit tipus. Rupanya mereka sedang menengok teman sekelas nya yang sedang sakit. Dua anak gadis itu lantas dicoret dari kecurigaan Abimanyu. Karena sikap mereka tampak wajar dan tidak menunjukkan keanehan apa pun. Kini ia fokus pada pria yang berdiri di sampingnya. Pria itu terus menatap salah satu gadis itu dengan tatapan tajam. Abimanyu berdeham, membuat pemuda itu menoleh pada nya. Buru buru iakemudian menunduk dan mencoba mengalihkan tatapan nya dari gadis di depan nya karena terpergok Abimanyu. Kini Abi dan pria itu saling pandang dengan tatapan tajam. Sungguh mencurigakan, batin Abimanyu.
"Maaf, jam berapa, ya, sekarang?" tanya Abi pada gadis yang sejak tadi menjadi pusat perhatian pemuda di samping nya. Dua gadis itu menoleh. Ia menaikan tangan kiri nya dan menjawab pertanyaan Abimanyu dengan santai. "Jam 13.30."
"Oke, terima kasih."
'Oh, jadi dia Eliza? Eliza Putri,' Batin Abi yang kini mulai menyadari kalau target dan korban yang menjadi incaran polisi ada di depan mata nya. Rupanya nama terang gadis itu tertulis jelas di name tag yang menempel pada seragam nya.
"Eum, dek, kalau SMU Bruderan ada di mana, ya? Maaf saya dari kampung, mau mendaftarkan adik saya di sana. Tapi saya malah nyasar. Nabrak orang di jalan tadi," kata Abi bohong. Ia melihat badge yang tertempel di seragam mereka berdua bertuliskan SMU Bruderan, dan semakin kalau gadis SMU itu adalah Eliza.
"Oh ikut kami aja, Mas. Kami sekolah di sana. Tadi kami anter temen sakit, tapi ini mau balik lagi ke sekolah," sahut teman Eliza.
"Oh kebetulan sekali, ya. Kalau gitu kita bareng aja. Kebetulan saya bawa mobil. Gimana?"
Mereka berdua saling pandang. Tergambar jelas kalau mereka ragu-ragu untuk mengikuti saran Abimanyu. Abi sadar kalau sikap nya agak terburu-buru, wajar saja mereka takut, karena dia adalah orang asing.
"Gini ... nanti kita ketemu temen saya sebentar, dia polisi. Jadi kalian nggak akan ragu. Saya mau minta antar dia tapi dia bilang sibuk. Gimana?"
Lagi. Mereka berdua
saling tatap walau akhir nya mengangguk setuju atas permintaan Abimanyu. Pintu lift terbuka, pemuda yang tadi di samping nya merangsek keluar, kasar. Abi seharus nya menangkap nya tadi, tapi dia tidak ingin gegabah karena tidak ada bukti apa pun yang merujuk kalau dia tersangka pembunuhan Riki. Setidaknya ia menyelamatkan Eliza sementara.
Mereka sampai di pelataran parkir. Abi meraih telepon genggam yang ada di kantung celana,menghubungi Andrew agar meyakinkan dua gadis itu dan memberitahukan kalau Eliza telah ia temukan.
"Eum, begini. Kamu Eliza kan?" tanya Abi yang merasa harus menjelaskan duduk permasalahan ini ke
gadis itu. Gadis itu mengangguk ragu. "Saya Abimanyu. Kamu dulu sekolah di SD Pelita Hati, kan?"
Eliza menoleh ke teman nya dengan mengerutkan dahi. "Kamu siapa? Kenapa tau tentang saya?!" tanya nya dengan gurat ketakutan di wajah nya.
"Sebentar. Saya bisa jelaskan. Yang jelas nyawa kamu dalam bahaya. Kamu ingat Riki?"
Mendengar nama itu disebut Eliza sontak melotot, menandakan ia masih kenal dengan sosok Riki. Abi mengeluarkan foto Riki yang sudah terbujur kaku dari saku bajunya. "Dia
sudah meninggal, semalam. Dibunuh."
Eliza menerima foto itu dan makin terkejut. Dipandangi terus foto teman lamanya itu dengan dahi berkerut.
"Dia sudah membunuh 6 temanmu, dan kamu adalah target selanjut nya."
"Apa? Kok aku ...?" tanya Eliza seakan tidak terima kalau dia akan menjadi target selanjut nya.
"Kalau begitu biar saya antar pulang saja. Pak Andrew sudah saya hubungi dan dia akan segera sampai rumahmu juga. Biar Nike kembali ke sekolah naik taksi," kata Abimanyu melirik ke arah teman Eliza, yang otomatis dapat melihat name tagnya. Abi segera masuk ke mobil diikuti Eliza.
"Nike, kamu hati-hati, ya, di jalan. Kabarin aku lagi." Eliza melambaikan tangannya ke arah temannya yang masih bengong karena kisah yang baru saja ia dengar. Gadis bernama Nike itu hanya tersenyum kecut menatap mobil Abimanyu yang mulai berjalan meninggalkan nya.
Suasana di dalam mobil terasa kaku. mereka adalah orang yang sebenar nya tidak saling mengenal. pribadi Abi yang juga sulit berbaur dengan lingkungan dan orang baru, membuat Eliza tidak berani memulai pembicaraan remeh temeh. Lagipula ini buat waktu yang tepat untuk mengobrol ringan atau sekedar menanyakan kabar.
"Apakah saya akan mati?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Eliza dengan intonasi pelan, bahkan nyaris tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Abi melirik ke gadis itu sambil terus menatap ke depan. "Entahlah. Kamu berdoa saja. Yang jelas polisi akan berusaha sebisa kami untuk menangkap pelaku nya."
"Anda bukan polisi?"
"Bukan."
Mobil Abimanyu belok ke sebuah kantor dengan beberapa penjaga di depan. Eliza sempat bingung karena ia pikir akan dibawa pulang ke rumah, tapi justru ke kantor polisi. "Kok ke sini?" tanya Eliza.
"Sebentar." Abimanyu turun dari mobil dan menyuruh Eliza ikut ke dalam. Netranya liar mencari sosok Andrew, Jesika, atau Andika. Karena hanya mereka bertiga yang Abi kenal.
"Loh, Bi?!" pekik Andika yang baru saja keluar dari sebuah ruangan dengan map hitam di tangan nya. "Kenapa?" tanya Andika lalu menatap gadis di belakang Abimanyu.
"Ini Eliza. Lalu aku harus bagaimana?" tanya Abi sambil sedikit melirik ke belakang. Seolah ia sedang memberitahu Andika kalau gadis yang ada di belakangnya adalah Eliza yang mereka cari.
"Oh, dia? Oke. Eum, masuk dulu," Ajak Andika sedikit berteriak ke Eliza yang sedang resah memandang sekitarnya. Ada beberapa polisi yang tidak seperti polisi, alias memakai pakaian biasa -bukan seragam- sedang menanyai orang di depan mereka dengan berbagai cara. Dari yang bertanya dengan nada pelan, memukul, menjambak, bahkan menendang lawan bicaranya. Eliza tau kalau yang sedang diinterogasi adalah penjahat atau pelaku tindak kriminal yang memang sangat enggan memberikan kesaksian atas perbuatan mereka sendiri.
Mereka bertiga masuk ke salah satu ruangan yang lebih privasi. Ada Andrew yang sedang duduk di balik laptop di depannya. Wajah nya menunjukan raut yang kaku dan pasti sedang berkonsentrasi tinggi. Ia segera mendongak, saat melihat ada tamu yang bertandang ke ruangan nya. "Oh kalian! Silakan duduk," kata Andrew lalu beranjak. Mempersilakan para tamu nya duduk di sofa yang memang disediakan untuk tamu.
"Ini Eliza, Pak Andrew. Saya pikir dia lebih aman jika ada di sini, makanya saya bawa dia," tutur Abimanyu yang segera menempatkan dirinya duduk di salah satu sofa panjang itu. Eliza yang ragu mengikuti Abi dan hanya terus saja diam. "Dia Pak Andrew, orang yang bertanggung jawab soal kasus ini."
Eliza mengangguk diiringi seulas senyum. Mereka mulai berdiskusi untuk menangkap pelaku.
"Gimana, Bi? Kamu mau bantu kami, kan? Kita bawa Eliza pulang, dan kamu jaga dia di rumah. Pasti pembunuh itu akan mendekati Eliza. Tugas Jesika, Andika, dan yang lain mengintai rumah itu dari jarak jauh," jelas Andrew.
Abi nampak diam. Seolah ragu atas rencana ini. "Eum, anda yakin kalau orang itu bakal mendekati Eliza sesuai perkiraan anda itu?"
"Memang nya kenapa?"
"Saya pikir ini terlalu mudah untuk ditebak, Pak. Dan dia bukan manusia dengan otak normal seperti kita. Dia seorang psikopat."
Mereka semua saling pandang dan sependapat dengan pernyataan Abi tadi. Tapi tidak ada cara lain lagi untuk menangkap pelaku, dan hanya dengan memakai umpan Eliza lah cara yang paling masuk akal sekarang ini.
_____
Abimanyu turun dari mobil nya bersama Eliza. Rumah Eliza terbilang cukup luas. Ia tinggal di kawasan perumahan elite. Di rumah nya memang ada seorang security yang berjaga di pintu gerbang. Kedua orang tua nya memang tidak ada di rumah karena pekerjaan mereka. Eliza tinggal seorang diri di rumah hanya dengan asisten rumah tangga saja.
"Masuk, Om," ajak Eliza. Mendengar panggilan itu terlontar dari gadis ABG di depan nya, Abi sempat mengerutkan kening.
'Setua itu, kah, gue? Dipanggil Om?' Tapi Abi tentu tidak akan melakukan protes tersebut dan hanya membatin saja.
Mereka masuk ke dalam rumah megah itu. "Silakan masuk, Om. Eum, aku ganti baju dulu, ya. Duduk dulu aja. Bi ...," jerit Eliza memanggil asisten rumah tangganya yang sepertinya selalu ada di singgasana nya, dapur. "Bikinin minum buat Om Abi!" Lagi. Suara Eliza terdengar menggema di seluruh ruangan di rumah ini. Setelah itu Eliza pergi meninggalkan Abi di ruang tamu.
Abimanyu menyempatkan melihat-lihat lukisan dan beberapa patung yang menjadi pajangan di ruang tamu. Hingga akhir nya ia pun duduk di sofa empuk bahkan ia rasa sangat nyaman di duduki. Abi menepuk-nepuk bantalan di samping kanan kiri nya.
Tak lama seorang wanita setengah baya tergopoh-gopoh keluar dengan nampan berisi minuman dan beberapa camilan. "Silakan diminum, Mas," katanya, berlutut sembari meletakan cangkir dan kudapan ringan tersebut ke meja.
"Terima kasih, Bu." Abi membantu wanita tersebut untuk merapikan meja serta menerima minuman yang memang khusus dibuatkan untuk diri nya.
Wanita itu kembali ke dalam dan meninggalkan Abimanyu seorang diri. Pemuda itu menatap ke arah pintu. Ia memutuskan berjalan keluar, dan teras menjadi tujuan nya. Halaman rumah Eliza luas. Ada beberapa pohon beringin mini dan aneka taman hias yang ditanam di sekitar halaman. Rumput nya rapi, seperti nya sehabis dipotong dengan alat pemotong rumput. Di tengah halaman samping kanan ada kolam ikan lengkap dengan patung anak kecil yang megang kendi, air mengalir dari kendi membuat suasana menjadi sedikit ramai. Tembok keliling cukup tinggi dan memutar sampai halaman belakang. Walau tembok ini tampak tinggi, tapi rasanya bisa dengan mudah dilompati. Mungkin memakai tangga darurat, atau tali, bahkan dengan tinggi yang tidak seberapa itu, Abi bisa melompatinya dengan mudah.
"Om?" panggil seorang gadis. Abi menoleh dan mendapati Eliza sudah berganti pakaian dengan baju yang lebih santai. "Diminum dulu."
"Iya." Abi akhirnya kembali ke dalam dan duduk di tempat semula. Eliza menempatkan diri nya di sofa yang berhadapan dengan Abimanyu.
"Tadi paman sedang apa di rumah sakit?" tanya Eliza sambil mencomot kudapan yang dibuat oleh Bi Minah. Dia teringat alasan Abi ada di rumah sakit, yang sudah pasti itu bohong.
"Ibu temen sakit. Jadi tadi anter dia ke kota."
"Temen apa temen?" tanya Eliza menyelidik.
"Teman, Eliza. Ngomong-ngomong kamu di rumah sendirian nggak takut?" tanya Abi sambil memperhatikan sekitar nya. Wajar pertanyaan itu terlontar dari mulut Abimanyu, karena mengingat posisi Eliza yang menjadi target pembunuhan selanjut nya.
"Eum, nggak juga sih. Biasanya aku nggak takut. Tapi sekarang ... Aku takut, Om," bisik Eliza mencondongkan sedikit tubuh nya ke depan. "Jadi bener, ya? Kalau aku jadi target selanjutnya? Ya ampun. Kalau dia bisa masuk ke sini gimana? Aku bisa mati dong nanti?" tanya Eliza cemas.
Abimanyu menyeringai. Menegakan tubuh nya. "Kamu tau, kan, kalau banyak polisi yang berjaga di depan. Jadi jangan takut."
"Tapi, Om. Orang itu, sakit jiwa! Aku sering nonton film psikopat yang membunuh korban nya. Jadi aku tau, gimana kelanjutan kisah ini. Aku ... Aku pasti bakal mati," gumam Eliza lirih. Ada setitik air bening di sudut mata nya.
"Liz, kamu jangan pernah menyerah. Kami pasti akan mengusahakan yang terbaik. Oke?"
Eliza yang belum menjawab perkataan Abi, terpotong oleh nada dering gawai milik pemuda itu. Abimanyu meraih benda pipih itu dari saku baju nya. Mengerutkan kening saat melihat nama yang tertera di sana. "Nabila?"
Ia lantas menggeser layar dan meletakan telepon genggam di dekat telinga nya.
"Bi ... Tolong. Dia ... Ke sini," kata Nabila di seberang sana. Kalimat nya pelan dan terbata-bata seolah sedang merasakan sakit.
Abimanyu lantas beranjak. "Kamu nggak apa-apa, Bil?" tanya nya setengah berteriak. "Dia? Dia siapa?"
"Tolong aku."
Telepon terputus. Hal ini membuat Abi kalang kabut. Ia cemas. Kembali gawai ia dekatkan ke telinga.
"Pak, saya mau balik ke rumah sakit. Tolong anda ke sini. Jaga Eliza." Abi menghubungi Andrew karena situasi mendesak ini.
"Loh, ada apa, Bi?" tanya Andrew yang memang sedang dalam perjalanan ke rumah itu.
"Nabila. Dia dalam bahaya sepertinya."
"Astaga. Kalau gitu aku juga kirim orang buat ke rumah sakit sekarang. Kamu hati-hati. Andika dan Jesika sudah ada di depan rumah Eliza sekarang, kan? Jadi kamu pergi aja sekarang."
Abi meraih kunci mobil yang ia letakan di meja. Mengambil cangkir kopi dan meneguk nya hingga tandas.
"Kamu di rumah aja. Aku mau balik ke rumah sakit dulu. Nanti Pak Andrew ke sini. Di luar ada Andika sama Jesika. Jangan khawatir."
Eliza hanya mengangguk pelan. Ia mengerti posisi Abimanyu saat ini. Maka dia tidak berani menahannya lebih lama lagi. Walau sebenarnya ini sebuah jebakan, dan mereka tidak tau hal itu.
_____
Mobil melacu kencang. Pikiran Abi diliputi kekhawatiran dan kalut. Ia bahkan beberapa kali hampir terserempet mobil yang berlawanan arah dengan nya. Jarak dari rumah Eliza ke rumah sakit memang agak jauh. Terlebih ini jam makan siang, pasti jalanan ramai.
Dalam waktu 15 menit, Abi sampai di rumah sakit. Ia terus menerobos kerumunan orang yang ada di kasir. Segera masuk ke lift menuju tempat rawat inap mama Nabila.
Keringat membuat wajah Abi basah. Bahkan punggung nya sudah mandi keringat. Baju nya basah hingga ke jaket bya.
Pintu kamar ibu Nabila di buka. Wanita itu masih tertidur di tempat nya. Abi langsung cemas pada Nabila. Berkali kali ia memanggil Nabila namun kamar ini seperti kosong. Hingga tiba-tiba terdengar bunyi berisik di lemari pakaian. Abi segera mendatangi nya dan rupa nya Nabila yang ada di dalam sana. Kondisinya terikat tali di tangan dan kaki. Mulut nya disumpal kain tebal. Keadaan nya sungguh kacau. Nabila menangis saat melihat Abimanyu.
"Astaga! Aku bantu keluar, ya." Abi memapah Nabila keluar dari lemari. Melepaskan ikatan yang membelenggu gadis itu. Sontak Nabila langsung memeluk Abimanyu dan menangis di pelukan nya.
Abi menelan ludah beberapa kali. Entah kenapa lutut nya terasa lemas. Namun ia tidak mampu berkata apa-apa. Hanya pasrah atas perlakuan Nabila padanya.
"Ssst. Sudah. Nggak apa-apa, Bil. Yang tenang ya," bujuk Abimanyu. Kini tangan nya mulai mengelus lembut punggung Nabila. Memberikan rasa nyaman pada gadis itu.
"Orang itu dateng. Aku nggak tau, Bi. Aku lengah. Tiba-tiba dia nutup mulut aku. Terus aku diiket."
"Tapi kamu nggak luka?"
"Iya aku baik-baik aja. Habis dia iket aku, dia ambil handphoneku terus nelpon kamu."
Abi merasa aneh dengan perkataan Nabila. "Gawat! Ini jebakan!" pekiknya.
"Jebakan gimana?"
"Dia mengincar Eliza. Dan sengaja bikin aku pergi dari rumah Eliza. Astaga! Bil, aku harus balik ke rumah Eliza. Kamu nggak apa apa kan aku tinggal dulu. Aku bakal nyuruh orang jagain kamu lebih ketat lagi."
"Iya. Kamu hati-hati, ya."
Abi segera berlari kembali keluar dari ruangan itu. Dia ingin segera bisa sampai ke rumah Eliza secepatnya. Abi sungguh merasa dibodohin. Pantas saja rasanya agak aneh. Hanya saja dia lebih mencemaskan keselamatan Nabila. Hingga dia tidak bisa berpikir jernih tadi. Tapi bagaimana nasib Eliza sekarang. Rasanya Abi bagai telur di ujung tanduk.
"Tidak apa-apa, Pak. Biar kami berjaga di sini. Pak Heru juga butuh istirahat, kan?" tanya Abi yang berusaha membuat keadaan lebih nyaman dengan kehadiran nya di sini.
"Baiklah. Terima kasih, Mas Abimanyu. Titip Nabila juga."
"Baik, Pak."
Pak Heru pamit dan keluar dari kamar. Menyisakan Nabila dan Abimanyu yang masih diam membisu dengan pikiran bermacam-macam. Nabila mendekat ke ibu nya yang masih terbaring lemah di ranjang pasien. Ia memegang tangan wanita yang telah melahirkan nya dengan
tatapan iba. Wajah nya menyiratkan ketakutan atas kesehatan wanita itu. Bagaimana pun juga, Nabila memang sangat dekat dengan sang ibunda. Walau dia melalang buana ke luar kota untuk pekerjaan, tapi jika mendengar kabar dari ibu atau ayah nya, Nabila akan langsung pulang tanpa menunda nya lagi. Semua pekerjaan ia tinggalkan, karena orang tua nya jauh lebih penting dari apa pun juga.
"Bi ...," panggil Nabila tanpa menatap ke Abimanyu dan hanya memandang terus ke tubuh lemah di depan nya.
Abimanyu yang sejak tadi diam lantas menatap Nabila. Tanpa menjawab apa pun, menunggu gadis itu meneruskan kalimat nya.
"Gimana rasa nya kehilangan dua orang tua sekaligus?" tanya nya dengan suara serak. Membayangkan nya saja rasa nya air mata Nabila sudah ingin tumpah. Dalam kesedihannya itu, Nabila juga iba pada Abimanyu yang telah kehilangan kedua orang tua nya sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Abi ragu untuk menjawab nya. Karena ini adalah hal sensitif jika dibicarakan saat Ibunda Nabila tengah terbaring lemah di pembaringan. "Ya ... pasti sedih," jawab Abi sekenanya. Siapa pun pasti akan sedih jika ditinggal oleh orang tua.
"Kamu kangen orang tuamu?"
"Itu pertanyaan klise, Bil. Nggak perlu aku jawab, kamu pasti tau gimana perasaanku. Sekarang kamu Cuma hanya perlu berdoa. Jangan patah semangat apalagi ibu kamu masih ada harapan untuk hidup. Dia belum mati, Bil. Jangan bersikap seolah dia nggak akan bangun lagi."
Kalimat Abimanyu
menohok jantung nya. Perkataan Abi memang benar adanya. Ia bersikap seolah ibunya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dan itu adalah sikap terburuk dari seorang anak.
"Gimana sekolah hari ini? Pasti ramai, ya. Gara-gara kasus Risna kemarin." Abi mencoba mengalihkan pembicaraan agar Nabila tidak terus larut dalam kesedihan.
"Lumayan. Tiga hari dari sekarang, anak-anak dipulangkan lebih awal. Takut mereka jadi salah satu korban seperti Risna. Eh, aku denger lengan kamu terluka, kemarin?" tanya Nabila menoleh ke Abimanyu.
Abi hanya memegang lengan yang kemarin terkena sabetan pisau itu. Tidak ada bekas luka apa pun di sana sebenarnya. Kemudian tersenyum sebagai sebuah bentuk jawaban ambigu.
"Tapi kamu nggak apa apa, kan?" tanya Nabila lagi.
Abi masih memegang lengannya kemudian mengangguk yakin. "Cuma tergores. Nggak apa apa kok."
"Syukurlah kalau begitu."
---------
Abimanyu memutuskan berjalan-jalan menuju kantin, karena rasa lapar yang mulai menggerogoti perut nya. Cacing di perut sudah berdemo karena sejak pagi baru ia isi secangkir kopi. "Aku nitip roti sobek aja sama susu kotak," pinta Nabila yang enggan meninggalkan ibunya seorang diri. Ia berharap saat ibunya tersadar, maka orang yang pertama kali dilihat adalah diri nya.
"Oke. Kamu jangan ke mana mana, ya. Tunggu aku balik lagi ke sini. "
"Iya, Bi."
Udara rumah sakit terasa memusingkan. Bau etanol semerbak di sepanjang koridor. Tempat yang tidak nyaman bagi diri Abi yang memang orang sehat. Ia menunggu di depan pintu lift, karena kantin ada di lantai bawah rumah sakit, dekat pelataran parkir mobil.
Ada sekitar 3 orang lain nya yang sedang menunggu lift naik. Dua orang gadis
dengan pakaian SMU, dan seorang pria dengan topi dan masker. Ia memakai tas
punggung yang seperti nya berat.
Pintu lift terbuka, mereka berempat pun masuk bergantian. Saat pintu ditutup, dahi Abi berkerut. Ia mencium aroma khas semalam. Bau kaporit seperti yang ia cium pada sosok perawat yang
telah membunuh Risna di rumah sakit. Ia lantas menoleh ke tiga orang di dalam
dengan tatapan menyelidik. Dua remaja perempuan itu mengobrol tentang teman nya yang dirawat di rumah sakit ini karena terkena sakit tipus. Rupanya mereka sedang menengok teman sekelas nya yang sedang sakit. Dua anak gadis itu lantas dicoret dari kecurigaan Abimanyu. Karena sikap mereka tampak wajar dan tidak menunjukkan keanehan apa pun. Kini ia fokus pada pria yang berdiri di sampingnya. Pria itu terus menatap salah satu gadis itu dengan tatapan tajam. Abimanyu berdeham, membuat pemuda itu menoleh pada nya. Buru buru iakemudian menunduk dan mencoba mengalihkan tatapan nya dari gadis di depan nya karena terpergok Abimanyu. Kini Abi dan pria itu saling pandang dengan tatapan tajam. Sungguh mencurigakan, batin Abimanyu.
"Maaf, jam berapa, ya, sekarang?" tanya Abi pada gadis yang sejak tadi menjadi pusat perhatian pemuda di samping nya. Dua gadis itu menoleh. Ia menaikan tangan kiri nya dan menjawab pertanyaan Abimanyu dengan santai. "Jam 13.30."
"Oke, terima kasih."
'Oh, jadi dia Eliza? Eliza Putri,' Batin Abi yang kini mulai menyadari kalau target dan korban yang menjadi incaran polisi ada di depan mata nya. Rupanya nama terang gadis itu tertulis jelas di name tag yang menempel pada seragam nya.
"Eum, dek, kalau SMU Bruderan ada di mana, ya? Maaf saya dari kampung, mau mendaftarkan adik saya di sana. Tapi saya malah nyasar. Nabrak orang di jalan tadi," kata Abi bohong. Ia melihat badge yang tertempel di seragam mereka berdua bertuliskan SMU Bruderan, dan semakin kalau gadis SMU itu adalah Eliza.
"Oh ikut kami aja, Mas. Kami sekolah di sana. Tadi kami anter temen sakit, tapi ini mau balik lagi ke sekolah," sahut teman Eliza.
"Oh kebetulan sekali, ya. Kalau gitu kita bareng aja. Kebetulan saya bawa mobil. Gimana?"
Mereka berdua saling pandang. Tergambar jelas kalau mereka ragu-ragu untuk mengikuti saran Abimanyu. Abi sadar kalau sikap nya agak terburu-buru, wajar saja mereka takut, karena dia adalah orang asing.
"Gini ... nanti kita ketemu temen saya sebentar, dia polisi. Jadi kalian nggak akan ragu. Saya mau minta antar dia tapi dia bilang sibuk. Gimana?"
Lagi. Mereka berdua
saling tatap walau akhir nya mengangguk setuju atas permintaan Abimanyu. Pintu lift terbuka, pemuda yang tadi di samping nya merangsek keluar, kasar. Abi seharus nya menangkap nya tadi, tapi dia tidak ingin gegabah karena tidak ada bukti apa pun yang merujuk kalau dia tersangka pembunuhan Riki. Setidaknya ia menyelamatkan Eliza sementara.
Mereka sampai di pelataran parkir. Abi meraih telepon genggam yang ada di kantung celana,menghubungi Andrew agar meyakinkan dua gadis itu dan memberitahukan kalau Eliza telah ia temukan.
"Eum, begini. Kamu Eliza kan?" tanya Abi yang merasa harus menjelaskan duduk permasalahan ini ke
gadis itu. Gadis itu mengangguk ragu. "Saya Abimanyu. Kamu dulu sekolah di SD Pelita Hati, kan?"
Eliza menoleh ke teman nya dengan mengerutkan dahi. "Kamu siapa? Kenapa tau tentang saya?!" tanya nya dengan gurat ketakutan di wajah nya.
"Sebentar. Saya bisa jelaskan. Yang jelas nyawa kamu dalam bahaya. Kamu ingat Riki?"
Mendengar nama itu disebut Eliza sontak melotot, menandakan ia masih kenal dengan sosok Riki. Abi mengeluarkan foto Riki yang sudah terbujur kaku dari saku bajunya. "Dia
sudah meninggal, semalam. Dibunuh."
Eliza menerima foto itu dan makin terkejut. Dipandangi terus foto teman lamanya itu dengan dahi berkerut.
"Dia sudah membunuh 6 temanmu, dan kamu adalah target selanjut nya."
"Apa? Kok aku ...?" tanya Eliza seakan tidak terima kalau dia akan menjadi target selanjut nya.
"Kalau begitu biar saya antar pulang saja. Pak Andrew sudah saya hubungi dan dia akan segera sampai rumahmu juga. Biar Nike kembali ke sekolah naik taksi," kata Abimanyu melirik ke arah teman Eliza, yang otomatis dapat melihat name tagnya. Abi segera masuk ke mobil diikuti Eliza.
"Nike, kamu hati-hati, ya, di jalan. Kabarin aku lagi." Eliza melambaikan tangannya ke arah temannya yang masih bengong karena kisah yang baru saja ia dengar. Gadis bernama Nike itu hanya tersenyum kecut menatap mobil Abimanyu yang mulai berjalan meninggalkan nya.
Suasana di dalam mobil terasa kaku. mereka adalah orang yang sebenar nya tidak saling mengenal. pribadi Abi yang juga sulit berbaur dengan lingkungan dan orang baru, membuat Eliza tidak berani memulai pembicaraan remeh temeh. Lagipula ini buat waktu yang tepat untuk mengobrol ringan atau sekedar menanyakan kabar.
"Apakah saya akan mati?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Eliza dengan intonasi pelan, bahkan nyaris tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Abi melirik ke gadis itu sambil terus menatap ke depan. "Entahlah. Kamu berdoa saja. Yang jelas polisi akan berusaha sebisa kami untuk menangkap pelaku nya."
"Anda bukan polisi?"
"Bukan."
Mobil Abimanyu belok ke sebuah kantor dengan beberapa penjaga di depan. Eliza sempat bingung karena ia pikir akan dibawa pulang ke rumah, tapi justru ke kantor polisi. "Kok ke sini?" tanya Eliza.
"Sebentar." Abimanyu turun dari mobil dan menyuruh Eliza ikut ke dalam. Netranya liar mencari sosok Andrew, Jesika, atau Andika. Karena hanya mereka bertiga yang Abi kenal.
"Loh, Bi?!" pekik Andika yang baru saja keluar dari sebuah ruangan dengan map hitam di tangan nya. "Kenapa?" tanya Andika lalu menatap gadis di belakang Abimanyu.
"Ini Eliza. Lalu aku harus bagaimana?" tanya Abi sambil sedikit melirik ke belakang. Seolah ia sedang memberitahu Andika kalau gadis yang ada di belakangnya adalah Eliza yang mereka cari.
"Oh, dia? Oke. Eum, masuk dulu," Ajak Andika sedikit berteriak ke Eliza yang sedang resah memandang sekitarnya. Ada beberapa polisi yang tidak seperti polisi, alias memakai pakaian biasa -bukan seragam- sedang menanyai orang di depan mereka dengan berbagai cara. Dari yang bertanya dengan nada pelan, memukul, menjambak, bahkan menendang lawan bicaranya. Eliza tau kalau yang sedang diinterogasi adalah penjahat atau pelaku tindak kriminal yang memang sangat enggan memberikan kesaksian atas perbuatan mereka sendiri.
Mereka bertiga masuk ke salah satu ruangan yang lebih privasi. Ada Andrew yang sedang duduk di balik laptop di depannya. Wajah nya menunjukan raut yang kaku dan pasti sedang berkonsentrasi tinggi. Ia segera mendongak, saat melihat ada tamu yang bertandang ke ruangan nya. "Oh kalian! Silakan duduk," kata Andrew lalu beranjak. Mempersilakan para tamu nya duduk di sofa yang memang disediakan untuk tamu.
"Ini Eliza, Pak Andrew. Saya pikir dia lebih aman jika ada di sini, makanya saya bawa dia," tutur Abimanyu yang segera menempatkan dirinya duduk di salah satu sofa panjang itu. Eliza yang ragu mengikuti Abi dan hanya terus saja diam. "Dia Pak Andrew, orang yang bertanggung jawab soal kasus ini."
Eliza mengangguk diiringi seulas senyum. Mereka mulai berdiskusi untuk menangkap pelaku.
"Gimana, Bi? Kamu mau bantu kami, kan? Kita bawa Eliza pulang, dan kamu jaga dia di rumah. Pasti pembunuh itu akan mendekati Eliza. Tugas Jesika, Andika, dan yang lain mengintai rumah itu dari jarak jauh," jelas Andrew.
Abi nampak diam. Seolah ragu atas rencana ini. "Eum, anda yakin kalau orang itu bakal mendekati Eliza sesuai perkiraan anda itu?"
"Memang nya kenapa?"
"Saya pikir ini terlalu mudah untuk ditebak, Pak. Dan dia bukan manusia dengan otak normal seperti kita. Dia seorang psikopat."
Mereka semua saling pandang dan sependapat dengan pernyataan Abi tadi. Tapi tidak ada cara lain lagi untuk menangkap pelaku, dan hanya dengan memakai umpan Eliza lah cara yang paling masuk akal sekarang ini.
_____
Abimanyu turun dari mobil nya bersama Eliza. Rumah Eliza terbilang cukup luas. Ia tinggal di kawasan perumahan elite. Di rumah nya memang ada seorang security yang berjaga di pintu gerbang. Kedua orang tua nya memang tidak ada di rumah karena pekerjaan mereka. Eliza tinggal seorang diri di rumah hanya dengan asisten rumah tangga saja.
"Masuk, Om," ajak Eliza. Mendengar panggilan itu terlontar dari gadis ABG di depan nya, Abi sempat mengerutkan kening.
'Setua itu, kah, gue? Dipanggil Om?' Tapi Abi tentu tidak akan melakukan protes tersebut dan hanya membatin saja.
Mereka masuk ke dalam rumah megah itu. "Silakan masuk, Om. Eum, aku ganti baju dulu, ya. Duduk dulu aja. Bi ...," jerit Eliza memanggil asisten rumah tangganya yang sepertinya selalu ada di singgasana nya, dapur. "Bikinin minum buat Om Abi!" Lagi. Suara Eliza terdengar menggema di seluruh ruangan di rumah ini. Setelah itu Eliza pergi meninggalkan Abi di ruang tamu.
Abimanyu menyempatkan melihat-lihat lukisan dan beberapa patung yang menjadi pajangan di ruang tamu. Hingga akhir nya ia pun duduk di sofa empuk bahkan ia rasa sangat nyaman di duduki. Abi menepuk-nepuk bantalan di samping kanan kiri nya.
Tak lama seorang wanita setengah baya tergopoh-gopoh keluar dengan nampan berisi minuman dan beberapa camilan. "Silakan diminum, Mas," katanya, berlutut sembari meletakan cangkir dan kudapan ringan tersebut ke meja.
"Terima kasih, Bu." Abi membantu wanita tersebut untuk merapikan meja serta menerima minuman yang memang khusus dibuatkan untuk diri nya.
Wanita itu kembali ke dalam dan meninggalkan Abimanyu seorang diri. Pemuda itu menatap ke arah pintu. Ia memutuskan berjalan keluar, dan teras menjadi tujuan nya. Halaman rumah Eliza luas. Ada beberapa pohon beringin mini dan aneka taman hias yang ditanam di sekitar halaman. Rumput nya rapi, seperti nya sehabis dipotong dengan alat pemotong rumput. Di tengah halaman samping kanan ada kolam ikan lengkap dengan patung anak kecil yang megang kendi, air mengalir dari kendi membuat suasana menjadi sedikit ramai. Tembok keliling cukup tinggi dan memutar sampai halaman belakang. Walau tembok ini tampak tinggi, tapi rasanya bisa dengan mudah dilompati. Mungkin memakai tangga darurat, atau tali, bahkan dengan tinggi yang tidak seberapa itu, Abi bisa melompatinya dengan mudah.
"Om?" panggil seorang gadis. Abi menoleh dan mendapati Eliza sudah berganti pakaian dengan baju yang lebih santai. "Diminum dulu."
"Iya." Abi akhirnya kembali ke dalam dan duduk di tempat semula. Eliza menempatkan diri nya di sofa yang berhadapan dengan Abimanyu.
"Tadi paman sedang apa di rumah sakit?" tanya Eliza sambil mencomot kudapan yang dibuat oleh Bi Minah. Dia teringat alasan Abi ada di rumah sakit, yang sudah pasti itu bohong.
"Ibu temen sakit. Jadi tadi anter dia ke kota."
"Temen apa temen?" tanya Eliza menyelidik.
"Teman, Eliza. Ngomong-ngomong kamu di rumah sendirian nggak takut?" tanya Abi sambil memperhatikan sekitar nya. Wajar pertanyaan itu terlontar dari mulut Abimanyu, karena mengingat posisi Eliza yang menjadi target pembunuhan selanjut nya.
"Eum, nggak juga sih. Biasanya aku nggak takut. Tapi sekarang ... Aku takut, Om," bisik Eliza mencondongkan sedikit tubuh nya ke depan. "Jadi bener, ya? Kalau aku jadi target selanjutnya? Ya ampun. Kalau dia bisa masuk ke sini gimana? Aku bisa mati dong nanti?" tanya Eliza cemas.
Abimanyu menyeringai. Menegakan tubuh nya. "Kamu tau, kan, kalau banyak polisi yang berjaga di depan. Jadi jangan takut."
"Tapi, Om. Orang itu, sakit jiwa! Aku sering nonton film psikopat yang membunuh korban nya. Jadi aku tau, gimana kelanjutan kisah ini. Aku ... Aku pasti bakal mati," gumam Eliza lirih. Ada setitik air bening di sudut mata nya.
"Liz, kamu jangan pernah menyerah. Kami pasti akan mengusahakan yang terbaik. Oke?"
Eliza yang belum menjawab perkataan Abi, terpotong oleh nada dering gawai milik pemuda itu. Abimanyu meraih benda pipih itu dari saku baju nya. Mengerutkan kening saat melihat nama yang tertera di sana. "Nabila?"
Ia lantas menggeser layar dan meletakan telepon genggam di dekat telinga nya.
"Bi ... Tolong. Dia ... Ke sini," kata Nabila di seberang sana. Kalimat nya pelan dan terbata-bata seolah sedang merasakan sakit.
Abimanyu lantas beranjak. "Kamu nggak apa-apa, Bil?" tanya nya setengah berteriak. "Dia? Dia siapa?"
"Tolong aku."
Telepon terputus. Hal ini membuat Abi kalang kabut. Ia cemas. Kembali gawai ia dekatkan ke telinga.
"Pak, saya mau balik ke rumah sakit. Tolong anda ke sini. Jaga Eliza." Abi menghubungi Andrew karena situasi mendesak ini.
"Loh, ada apa, Bi?" tanya Andrew yang memang sedang dalam perjalanan ke rumah itu.
"Nabila. Dia dalam bahaya sepertinya."
"Astaga. Kalau gitu aku juga kirim orang buat ke rumah sakit sekarang. Kamu hati-hati. Andika dan Jesika sudah ada di depan rumah Eliza sekarang, kan? Jadi kamu pergi aja sekarang."
Abi meraih kunci mobil yang ia letakan di meja. Mengambil cangkir kopi dan meneguk nya hingga tandas.
"Kamu di rumah aja. Aku mau balik ke rumah sakit dulu. Nanti Pak Andrew ke sini. Di luar ada Andika sama Jesika. Jangan khawatir."
Eliza hanya mengangguk pelan. Ia mengerti posisi Abimanyu saat ini. Maka dia tidak berani menahannya lebih lama lagi. Walau sebenarnya ini sebuah jebakan, dan mereka tidak tau hal itu.
_____
Mobil melacu kencang. Pikiran Abi diliputi kekhawatiran dan kalut. Ia bahkan beberapa kali hampir terserempet mobil yang berlawanan arah dengan nya. Jarak dari rumah Eliza ke rumah sakit memang agak jauh. Terlebih ini jam makan siang, pasti jalanan ramai.
Dalam waktu 15 menit, Abi sampai di rumah sakit. Ia terus menerobos kerumunan orang yang ada di kasir. Segera masuk ke lift menuju tempat rawat inap mama Nabila.
Keringat membuat wajah Abi basah. Bahkan punggung nya sudah mandi keringat. Baju nya basah hingga ke jaket bya.
Pintu kamar ibu Nabila di buka. Wanita itu masih tertidur di tempat nya. Abi langsung cemas pada Nabila. Berkali kali ia memanggil Nabila namun kamar ini seperti kosong. Hingga tiba-tiba terdengar bunyi berisik di lemari pakaian. Abi segera mendatangi nya dan rupa nya Nabila yang ada di dalam sana. Kondisinya terikat tali di tangan dan kaki. Mulut nya disumpal kain tebal. Keadaan nya sungguh kacau. Nabila menangis saat melihat Abimanyu.
"Astaga! Aku bantu keluar, ya." Abi memapah Nabila keluar dari lemari. Melepaskan ikatan yang membelenggu gadis itu. Sontak Nabila langsung memeluk Abimanyu dan menangis di pelukan nya.
Abi menelan ludah beberapa kali. Entah kenapa lutut nya terasa lemas. Namun ia tidak mampu berkata apa-apa. Hanya pasrah atas perlakuan Nabila padanya.
"Ssst. Sudah. Nggak apa-apa, Bil. Yang tenang ya," bujuk Abimanyu. Kini tangan nya mulai mengelus lembut punggung Nabila. Memberikan rasa nyaman pada gadis itu.
"Orang itu dateng. Aku nggak tau, Bi. Aku lengah. Tiba-tiba dia nutup mulut aku. Terus aku diiket."
"Tapi kamu nggak luka?"
"Iya aku baik-baik aja. Habis dia iket aku, dia ambil handphoneku terus nelpon kamu."
Abi merasa aneh dengan perkataan Nabila. "Gawat! Ini jebakan!" pekiknya.
"Jebakan gimana?"
"Dia mengincar Eliza. Dan sengaja bikin aku pergi dari rumah Eliza. Astaga! Bil, aku harus balik ke rumah Eliza. Kamu nggak apa apa kan aku tinggal dulu. Aku bakal nyuruh orang jagain kamu lebih ketat lagi."
"Iya. Kamu hati-hati, ya."
Abi segera berlari kembali keluar dari ruangan itu. Dia ingin segera bisa sampai ke rumah Eliza secepatnya. Abi sungguh merasa dibodohin. Pantas saja rasanya agak aneh. Hanya saja dia lebih mencemaskan keselamatan Nabila. Hingga dia tidak bisa berpikir jernih tadi. Tapi bagaimana nasib Eliza sekarang. Rasanya Abi bagai telur di ujung tanduk.
obdiamond dan 7 lainnya memberi reputasi
8