- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.8K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#50
Part 48 Maya
Clarinta adalah anak kls 3 IPS 2, SMU Purnama. Dia salah satu anak terkenal di sekolah. Selain cantik, dia juga sangat pandai menari. Entah tari modern ataupun tradisional. Beberapa kali Clarinta berhasil menyabet piala lomba antar sekolah. Bahkan sampai luar kota, dan pernah juga menjuarai juara 3 lomba menari tingkat nasional yang di adakan di Bali.
Polisi datang dari kota, karena kasus kematian warga desa ini yang makin lama makin menarik perhatian orang banyak. Dalam satu bulan ini, sudah ada 2 orang remaja yang meninggal dengan cara yang sama. Keduanya meninggal dengan pembuluh darah yang pecah. Hingga darah keluar dari mata, hidung, telinga, mulut korbannya.
"Jadi Cindy sama Clarinta sama sama meninggal dengan cara yang sama?" tanya Adi yang kini sedang berkumpul dengan semua pegawai cafe. Cafe agak sunyi karena beberapa orang tengah diinterogasi. Bahkan gerbang desa ditutup, dan dijaga beberapa anggota polisi lain. Bukan hanya di sana, tapi beberapa titik yang memungkinkan tempat keluar masuk dari desa ini keluar, juga dijaga ketat. Siapapun yang masuk dan keluar desa, akan ditanya terlebih dahulu oleh petugas.
"Rumornya begitu. Tadi gue denger dari Akbar, katanya gitu. Kalau kematian Cindy kemarin, katanya diduga dari racun. Makanya beberapa bagian tubuhnya keluar darah, kan? Dan ada kemungkinan Clarinta juga sama. Karena tanda tandanya seperti itu juga."
Akbar adalah salah satu kenalan Gio, dia seorang ahli forensik yang cukup terkenal dikalangan kepolisian.
Clarinta ditemukan meninggal di ruang kesenian sekolah. Saat dia dan beberapa anak anak grup seni tengah beristirahat karena baru saja latian. Dua minggu lagi mereka akan mengikuti lomba tingkat nasional dan Clarinta adalah salah satu bagian penting dalam tarian itu. Kini, mereka harus mencari pengganti Clarinta hanya dalam waktu 2 minggu.
"Kenapa bisa waktunya berdekatan, ya?" gumam Bisma. Mereka duduk di halaman dengan menikmati secangkir kopi buatan Abimanyu. Padahal baru beberapa jam mereka buka, cafe tadi cukup ramai. Apalagi para polisi juga ada di sini, karena cafe ini salah satu tempat ramai dan banyak didatangi orang-orang di desa. Sambil menunggu giliran diinterogasi, mereka menikmati sarapan, dan kopi masing-masing.
Tapi kini, suasana sudah sunyi kembali. Pelanggan banyak yang pergi kembali ke aktifitasnya, ada yang harus ikut ke kantor polisi terdekat karena memiliki informasi lebih banyak, ada juga yang memilih pulang ke rumah karena takut menjadi korban selanjutnya.
Polisi tidak mengatakan apa pun, tapi desas desus itu terus terdengar dari mulut ke mulut. Bahwa ada pembunuh yang mengincar penduduk desa.
"Makanya banyak orang bilang, kalau ada pembunuh di desa kita," timpal Emil.
"Mengerikan!" gumam Ridwan.
"Tunggu! Pak Andrew mana? Bukannya dia paling semangat dan seolah tau sesuatu?" tanya Adi tengak tengok.
"Iya, dia nggak keliatan beberapa hari ini."
"Jangan-jangan ...." Bisma tidak meneruskan kalimatnya tapi tatapannya seolah mengatakan sesuatu.
"Hei, jangan sembarangan kalau ngomong. Udah udah! Ayok kita beresin cafe," suruh Abimanyu lalu beranjak dari duduknya. Cangkir kopi nya telah tandas dan rasanya pembicaraan ini hanya akan menimbulkan praduga yang akan membuat fitnah jika diteruskan.
_____
Sebuah mobil parkir di ujung. Mobil yang asing dan belum pernah dilihat sebelumnya oleh Abimanyu dan beberapa warga desa itu cukup menyita perhatian.
"Siapa, ya?"
Belum sempat pertanyaan itu dijawab, turun tiga orang yang memakai kemeja hitam. Kacamata hitam dan satu orang di sana membuat Abimanyu mengernyitkan kening. "Pak Andrew? Sama siapa, ya?" gumam Abimanyu.
Dari penampilannya mereka seperti agen penyelidik karena ada sebuah pistol yang ada di pinggang wanita itu, walau tertutup oleh outher hitam panjangnya.
Mereka bertiga duduk di salah satu meja cafe. Abimanyu menoleh ke Ridwan yang sedang mengelap meja yang ada di dekatnya. "Ridwan! Tamu," tunjuk Abi dengan satunya ke arah meja terluar dari halaman.
Ridwan menatap sebentar ke arah gerombolan Pak Andrew, mengangguk ke Abi, lalu segera ke meja itu dengan buku menu dan catatan di tangannya.
"Sore, Pak. Mau pesan apa?"
Andrew menatap Ridwan lalu mengambil buku menu. "Kopi tiga."
"Itu saja, Pak?"
"Kalian pesan apa?"
"Itu dulu saja."
"Baik. Permisi."
Saat Ridwan hendak masuk untuk mengatakan pesanan pada Abi, seorang gadis remaja berteriak memanggil namanya. Ia masih memakai seragam sekolah dan juga tas di punggungnya.
"Kamu ngapain?" tanya Ridwan.
Maya berlari tergopoh-gopoh mendekat. Rambutnya yang dikuncir dua bergerak tak beraturan dengan keringat di dahinya. "Minta duit," kata Maya menengadahkan tangan kanannya.
"Buat apaan?"
"Aku mau ekskul, Kak. Buat beli jajan," rengek gadis itu manja.
"Loh bukannya tadi udah dikasih uang sama ibu?"
"Habis buat bayar iuran kas. Ayo, Kak. Buruan. Udah ditunggu ini aku." Maya menoleh ke belakang. Di sana ada seorang laki-laki yang memakai seragam sama seperti dirimu.
"Itu siapa?" tanya Ridwan ke arah laki-laki yang berdiri di pinggir jalan dengan sepeda di tangannya.
"Itu kak Gibran. Senior aku. Tadi ekskul dia yang jadi pemandunya."
"Sejak kapan kamu ikut ekskul?" tanya Ridwan menyelidik. Ia paham sekali kalau adiknya termasuk anak yang malas mengikuti kegiatan sekolah di luar jam pelajaran. Tapi tiba-tiba Maya ikut ekskul. Itu aneh.
"Ya ampun, kakak. Udah sebulan ih. Aku ikut band. Udah buruan ah. Mana duitnya. Udah ditungguin kak Gibran," kata Maya dengan menghentak hentakan kaki.
Abimanyu mendekat. "Kenapa, Wan?"
"Ini, Bang. Si Maya minta duit jajan tambahan." Ridwan merogoh kantung celananya. Memberikan selembar uang berwarna hijau."Nih. Jangan pulang terlambat. Nanti Ibu nyariin."
"Siap, Bos," kata Maya dengan gaya hormat layaknya seorang prajurit. "Aku pergi, ya. Pamit dulu, Bang Abi." Maya tersenyum lebar ke Abimanyu yang ditanggapi senyum simpul si pemilik cafe.
"Dia siapa, Wan?" tanya Abi ke pemuda yang kini mengayuh sepeda, dengan Maya yang ada di boncengan nya.
"Kata Maya namanya Gibran. Kakak kelas yang ngajarin ekskul nya, Bang. Maya ikut Band sekolah."
"Wah, bagus dong. Oh, iya. Pak Andrew pesan apa."
"Astaga. Kopi 3. Lupa."
Abi tersenyum lalu berjalan ke meja barista membuat pesanan.
Cafe mulai ramai. Sehingga Abimanyu mengantar pesanan kopi itu sendiri. Karena Ridwan sedang membereskan meja lain yang sudah ditinggalkan pengunjung tadi. Ada beberapa pecahan gelas karena tersenggol anak kecil yang barusan datang bersama kedua orang tuanya. Sepertinya mereka wisatawan yang akan menginap di homestay yang ada di hutan dekat air terjun. Di dekat air terjun itu memang dibangun beberapa homestay yang memang sebagai fasilitas untuk pengunjung. Homestay itu milik Pak Hermawan, salah satu orang terkaya di desa yang kini menetap di kota.
"Silakan." Abi meletakan tiga buah cangkir kopi ke meja Andrew.
"Terima kasih."
"Ada kemungkinan dia pembunuhnya."
"Sebentar, Abimanyu!" panggil Andrew menahan Abi yang hendak pergi. Abimanyu berbalik. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?"
"Boleh kita ngobrol sebentar?"
Abi mengernyitkan kening. Ia lantas duduk di kursi samping Andrew. Meletakan nampan di meja dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
"Ada apa, ya?"
"Kamu sudah lama tinggal di desa ini, kan?"
Abi tak langsung menjawab, menatap ketiga orang itu bergantian. Kemudian baru mengangguk pelan. "Yah, lumayan, Pak."
"Apa ada warga baru di desa ini?"
"Warga baru?" jawab Abi dengan pertanyaan lagi.
"Iya, warga baru. Mungkin pendatang yang berumur masih muda. Di luar wisatawan, ya."
"Hm, sebentar. Sejauh ini rasanya tidak ada pendatang baru."
"Kau yakin?"
"Iya, Pak. Memang banyak wisatawan yang datang. Apakah itu termasuk?"
"Kamu bisa memberikan data setiap wisatawan yang datang, terutama yang menginap."
"Oh tentu bisa. Saya kenal dengan Pak Marwan yang bertanggung jawab mengurus homestay milik Pak Hermawan. Sebentar saya hubungi orangnya." Abimanyu beranjak meraih telepon genggamnya dan menghubungi Pak Marwan.
Hanya dalam waktu 20 menit Pak Marwan sampai di cafe. Terpaksa Abi menyerahkan pekerjaannya pada karyawannya karena ia harus membantu proses penyelidikan kasus pembunuhan ini. Yah, pembunuhan.
"Eum, bagaimana kalau kita pindah saja ke dalam. Rasanya terlalu berbahaya jika informasi ini bocor," saran Abi dengan memperhatikan suasana cafe yang makin ramai.
Andrew dan kawan kawannya setuju akan hal itu. Mereka pindah ke dalam, tepatnya di ruangan Abi. Abi memang memiliki ruangan pribadi. Untuk mencatat pengeluaran, pemasukan cafe dan bahan yang harus dibeli.
Ada sebuah sofa panjang dan meja. Dan sebuah whiteboard yang menempel di dinding. Tempat ini sangat cocok untuk markas polisi.
Pak Marwan memberikan sebuah buku tamu berisi data pengunjung yang menginap di homestay itu. Andrew, Jesica, dan Andika mulai membaca dan menganalisis data itu. Mencari keterikatan hubungan dengan korban. Andika mengeluarkan laptopnya dan mulai menelusuri semua informasi lewat internet. Dari sekolah, asuransi, pekerjaan, dan tiap detil data yang ada di meja.
"Hm, sepertinya nggak ada yang aneh. Mereka memang pengunjung yang ingin wisata saja. Nggak lebih," gumam Jesica.
"Iya, nggak ada sangkut pautnya sedikitpun sama korban. Semua data udah aku lihat. Nggak ada yang mencurigakan, Ndrew." Andika menjambak rambutnya sendiri.
Andrew menatap Abimanyu yang masih menatap buku tamu itu. "Bi, yakin? Nggak ada pendatang baru di desa ini? Bukan cuma dalam dua atau tiga bulan ini saja. Tapi mungkin setahun atau dua tahun lalu?" Andrew masih penasaran.
Abimanyu memikirkan perkataan Andrew barusan. Berusaha mengingat hal yang mungkin terlewat dari pengelihatannya. Hingga sampai ia teringat sebuah wajah.
"Sebentar. Warga baru, ya?" tanya Abimanyu lagi.
"Iya. Bagaimana? Ada?"
"Siapa, Bi?" tanya Pak Marwan bingung.
"Anak tadi! Yang sama Maya. Aku baru pernah lihat dia."
"Anak yang mana, Bi?" tanya Pak Marwan.
"Eum, kalau nggak salah namanya Gibran. Kakak kelas Maya, berarti kelas 3. Wajahnya asing. Pak Marwan tau?"
"Gibran? Sebentar." Pak Marwan menatap langit-langit. Ia termasuk sesepuh desa yang paling tau setiap detil warganya. "Oh dia? Gibran itu sudah ada di sini setahun lalu."
"Anak siapa dia, Pak?"
"Bapak nggak tau. Dia pindah sendirian. Waktu itu datang sama paman nya, tapi sekarang dia tinggal sendiri. Katanya sih, pamannya Gibran kerja di kota."
"Di mana rumahnya, pak?"
"Itu, bekas rumah Pak Zainal. Katanya mereka itu saudara Pak Zainal."
"Pak Zainal? Bapaknya Riki?" tanya Andrew.
"Nah bener! Keluarganya Riki."
"Riki siapa?" tanya Abi penasaran.
"Kamu nggak tau siapa Riki?" tanya Pak Marwan. Abimanyu menggeleng.
"Dia itu tersangka pembunuhan 7 tahun lalu!"
"Jangan-jangan Gibran itu saudara Riki? Dan datang ke sini untuk balas dendam," ujar Jesica.
"Atau malah, Gibran itu Riki?"
"Ndik! Kau coba periksa data Gibran."
Andika mengangguk. Jemarinya leluasa mengetik di laptopnya. Hingga matanya terbelalak. "Astaga. Ternyata nama panjang Gibran ... Gibran Rikiawan!"
______
Andrew dan timnya bergerak ke rumah Riki. Mereka sudah mengantungi petunjuk penting dalam penyelidikan ini. Pak Marwan kembali ke rumah. Sementara Abimanyu justru pergi ke SMU Purnama. Ia mengajak Gio dan Adi. Cafe dititipkan ke Ridwan. Abi sengaja tidak menceritakan hal ini pada Ridwan. Takut Ridwan panik.
Karena Maya mungkin dalam bahaya. Maya terlihat sangat dekat dengan Riki alias Gibran. Dan itu berbahaya. Abi menyadari tatapan mata Gibran yang tidak biasa. Abi tidak suka melihat pemuda itu sejak awal. Ternyata dugaannya beralasan.
"Anjiiir! Bisa gitu, ya!" seru Gio setelah Abi menceritakan semuanya. Perjalanan mereka tidak akan lama untuk sampai sekolah Maya.
"Gila! Masih kecil aja dia udah bunuh orang. Bener-bener psikopat!" ungkap Adi yang duduk di samping Gio.
Abimanyu yang duduk di jok belakang, hanya diam. Walau sebenarnya hatinya bergemuruh. Ia cemas akan keselamatan Maya. Bagaimana pun juga, Maya sudah dia anggap adiknya sendiri. Maya anak yang supel, ramah, mudah bergaul dan baik. Dia selalu membuat orang sekitarnya senang. Bahkan Abi sering cemburu melihat kedekatan Ridwan dan Maya. Ia sempat berfikir, kalau saja dia punya adik, mungkin akan sama seperti Ridwan dan Maya.
Mobil sampai di SMU purnama. Mereka parkir di halaman dekat gerbang. Suasana sudah sunyi. Hanya ada beberapa motor dan mobil saja. Mereka bertiga segera masuk. Di saat yang bersamaan, Abi menabrak Nabila yang berjalan berlawanan dengannya.
"Astagaaa!" jerit Nabila kesal.
"Eh, maaf, maaf!" kata Abi lalu membantu membereskan buku yang dipegang Nabila jatuh ke lantai.
"Kamu ngapain di sini, Mas?" tanya Nabila heran. Ia tidak jadi marah karena melihat Abimanyu yang menabraknya.
"Eum, loh, kamu ngajar di sini? Aku pikir di SD?"
"Itu Ayasi sama Sintia. Kalau aku memang ngajar di sini."
"Oh. Eum, ruang seni di mana? Band?"
"Seni? Mau cari siapa?"
"Maya!"
"Oh. Itu di ujung koridor. Lantai atas," tunjuk Nabila ke belakang.
"Oh di sana? Oke. Makasih!" Abi segera berlari ke arah yang Nabila tunjuk. Sementara Nabila menatapnya bingung. "Ada apa sih?"
Ruang seni.
Abi mendekatkan telinganya di pintu. Masih ada suara orang yang tengah berlatih band di dalam. Ia segera memutar kenop pintu. Ia segera masuk.
Netranya liar mencari keberadaan Maya dan Gibran. Hingga salah satu guru mendatanginya. "Cari siapa, Mas?"
Disaat yang bersamaan Nabila masuk ke ruangan itu juga.
"Maya mana?" tanya Abi gelisah.
"Oh Maya sudah pulang, Mas. Sejam lalu malah."
"Apa? Pulang?!" Abi menekan kepalanya dan meraih telepon genggamnya. "Paman, udah pulang. Coba telpon ibunya Maya!" suruh Abi.
"Ada apa, ya?" tanya Pak Andi selaku Guru seni musik.
"Dia mau jemput Maya, Pak Andi." Nabila menarik tangan Abimanyu dan membawanya keluar.
"Ada apa sih?!" tanya Nabila bingung. Baru kali ini ia melihat Abimanyu dengan tampang kebingungan dan gelisah. Biasanya ia selalu melihat pria ini dengan tatapan dan ekspresi wajah yang teduh dan tenang. Tapi kali ini lain.
"Maya dalam bahaya!"
"Maya? Memangnya kenapa?"
Abi menatap Nabila, diam dan menggeleng. "Nggak apa-apa!" Ia segera berjalan turun ke bawah.
"Tunggu! Jelasin! Ada apa sama Maya?!" Nabila menarik tangan Abimanyu. Hingga mereka berdua saling berhadapan.
"Ck. Ini menyangkut pembunuhan tempo hari!"
"Perempuan itu?" tanya Nabila balik, memastikan bahwa yang mereka bicarakan adalah Clarinta. Abi mengangguk cepat.
"Gibran! Gibran tersangka utama!"
Tangan Nabila mendadak lemas. Tubuhnya seorang mati rasa. Ia baru mengerti kenapa Abi begitu gelisah.
Walau Nabila baru beberapa hari di desa itu, ia sudah hafal bagaimana murid-muridnya. Terutama Maya. Ia memang kerap melihat Maya dan Gibran bersama sama. Gibran terlihat perhatian dan baik pada Maya. Itu terlihat jelas.
"Ikut aku! Sepertinya aku tau ke mana mereka!" kata Nabila yakin.
"Kamu yakin, tau sesuatu?" tanya Abimanyu yang terus mengikuti langkah Nabila. Gadis itu berjalan cukup cepat, bahkan sebenarnya ia terlihat tengah berlari kecil.
"Iya, aku yakin. Soalnya aku pernah lihat mereka keluar dari tempat itu."
"Di mana?"
"Rumah kosong yang ada di ujung sana. Deket rumah dinasku."
"Rumah kosong yang mana sih?"
"Astaga. Yang cat nya warna abu abu. Kata warga desa setempat itu rumah Siska. Korban bullying 7 tahun lalu yang akhirnya masuk Rumah sakit jiwa karena depresi."
"Tunggu sebentar! Siska masih hidup?"
"Enggak. Katanya udah meninggal. Rumor yang beredar gitu. Nggak lama setelah masuk rumah sakit jiwa, anak itu bunuh diri. Katanya sih. Cuma aneh aja, aku belum pernah lihat arwahnya di rumah itu."
Mereka berdua sampai pelataran parkir, di sana sudah ada Adi dan Gio yang menunggu.
"Ke mana kita?" tanya Gio lalu masuk ke dalam mobil disusul Adi di sampingnya. Sementara Abimanyu dan Nabila duduk di kursi belakang.
Di perjalanan Nabila menceritakan semua hal yang ia tau. Walau kedatangan dirinya dan dua temannya itu baru, tapi Nabila termasuk orang yang pandai bergaul dan cukup dekat dengan warga desa. Ia kerap mengobrol dan berusaha berbaur dengan mereka, menelusuri hal hal yang ada di desa ini agar makin akrab.
Rupanya ada kejadian memilukan di desa ini 7 tahun lalu. Bahkan Nabila tau detilnya. Ia menceritakan dengan gamblang semua hal yang ia dengar selama tinggal di desa ini.
"Dulu Siska dibully, sampai-sampai ia depresi. Akhirnya orang tua Siska masukin dia ke Rumah sakit jiwa di kota. Dia sering teriak, bahkan nyakitin dirinya sendiri. Terus beberapa minggu setelah itu, dia ditemukan dengan tangan bersimbah darah. Dia bunuh diri."
"Astaga. Terus?"
"Siska punya temen. Riki namanya. Mereka berdua deket banget. 3 orang anak pelaku bullying itu ditemukan meninggal. Katanya Riki yang bunuh."
"Tunggu sebentar. Pelaku pembully itu nggak ada yang diusut polisi? Sampai bikin Siska meninggal, kan?" tanya Adi penasaran.
"Enggaklah. Mereka saat itu masih kecil. Dan nggak ada bukti atau saksi. Orang tua pelaku bully pakai bawa pengacara segala. Buat nyelamatin anaknya."
"Berapa orang pelakunya?"
"Katanya 10 orang. Tiga orang sudah meninggal. Menurut gue sih, Cindy sama Clarinta ini juga termasuk dari 10 orang itu. Mengingat mereka satu angkatan sama Siska."
"Dari 10 orang, udah 5 orang meninggal? Jadi masih ada 5 orang lagi, ya?"
"Siapa sisanya?"
"Nggak ada yang tau. Pihak sekolah tutup mulut atas kasus ini. Gue juga nyari tau, tapi guru yang lain bilang nggak tau. Entahlah."
"Kalau kita tau siapa 5 orang ini, pasti kita bisa cegah pembunuhan lain yang mungkin akan terjadi," kata Abimanyu dengan tatapan dingin, ke arah jendela.
"Iya, kamu bener. Hm, mungkin nanti aku coba cari tau siapa 5 anak lainnya."
"Tunggu! Maya? Apakah termasuk?"
"Gue juga nggak tau sih. Ada kemungkinan iya, ada kemungkinan nggak."
"Kenapa gitu?" tanya Gio.
"Karena Gibran ini baik banget ke Maya. Sejauh yang gue lihat. Gibran seolah melindungi Maya. Jadi gue ragu kalau Maya termasuk pelaku bullying 7 tahun lalu."
"Semoga Maya bukan korban selanjutnya. Dia anak baik," gumam Abimanyu yang mampu didengar semua orang di dalam mobil.
Mobil melesat lebih cepat. Gaya mengemudi Gio tidak dapat diragukan lagi. Mereka mulai masuki daerah tempat tinggal Nabila. Bahkan rumah dinas Nabila sudah dilewati sejak tadi. Rumah Siska ada paling ujung jalan. Rumah paling besar di lingkungan ini.
"Ini?" tanya Gio, menetralkan mobilnya. Memarkirkan nya ditempat yang rindang agak jauh dari rumah.
"Iya, ini!"
Mereka semua turun. Menatap sekitar dan rumah di depan mereka. Sunyi. Letak rumah ini memang agak jauh dari rumah lain. Desa ini masih banyak didominasi pohon pohon akasia dan pinus. Jadi topografi di sekitar rumah Siska adalah hutan kecil. Untuk menemukan rumah terdekat, berjarak sekitar 1 KM jauhnya. Dan ini adalah bagian jalan terdalam. Jadi aspal sudah habis sampai depan rumah Siska. Sisanya hanya tanah dan hutan.
"Ini rumah Siska? Gede juga, ya!" kata Gio sedikit terpukau.
"Iya. Malah ini rumah mirip homestay Pak Hermawan," timpal Adi.
"Ngomong ngomong Siska dibully karena apa? Gue pikir dia anak orang kaya? Lihat aja rumahnya." Pertanyaan Gio tadi mang beralasan.
Seseorang mendapat perlakuan bullying biasanya karena status sosialnya. Sementara Siska bukan termasuk orang tidak mampu.
"Karena dia anak sempurna. Justru karena itu. Temen-temennya iri sama kehidupan Siska. Siska pinter, berbakat dalam kesenian. Suaranya bagus. Dia juga pinter bermain alat musik. Tapi dia anak yang gampang down. Sedikit aja dia ditekan, dia jadi sedih. Nggak punya kepercayaan diri lah intinya."
Polisi datang dari kota, karena kasus kematian warga desa ini yang makin lama makin menarik perhatian orang banyak. Dalam satu bulan ini, sudah ada 2 orang remaja yang meninggal dengan cara yang sama. Keduanya meninggal dengan pembuluh darah yang pecah. Hingga darah keluar dari mata, hidung, telinga, mulut korbannya.
"Jadi Cindy sama Clarinta sama sama meninggal dengan cara yang sama?" tanya Adi yang kini sedang berkumpul dengan semua pegawai cafe. Cafe agak sunyi karena beberapa orang tengah diinterogasi. Bahkan gerbang desa ditutup, dan dijaga beberapa anggota polisi lain. Bukan hanya di sana, tapi beberapa titik yang memungkinkan tempat keluar masuk dari desa ini keluar, juga dijaga ketat. Siapapun yang masuk dan keluar desa, akan ditanya terlebih dahulu oleh petugas.
"Rumornya begitu. Tadi gue denger dari Akbar, katanya gitu. Kalau kematian Cindy kemarin, katanya diduga dari racun. Makanya beberapa bagian tubuhnya keluar darah, kan? Dan ada kemungkinan Clarinta juga sama. Karena tanda tandanya seperti itu juga."
Akbar adalah salah satu kenalan Gio, dia seorang ahli forensik yang cukup terkenal dikalangan kepolisian.
Clarinta ditemukan meninggal di ruang kesenian sekolah. Saat dia dan beberapa anak anak grup seni tengah beristirahat karena baru saja latian. Dua minggu lagi mereka akan mengikuti lomba tingkat nasional dan Clarinta adalah salah satu bagian penting dalam tarian itu. Kini, mereka harus mencari pengganti Clarinta hanya dalam waktu 2 minggu.
"Kenapa bisa waktunya berdekatan, ya?" gumam Bisma. Mereka duduk di halaman dengan menikmati secangkir kopi buatan Abimanyu. Padahal baru beberapa jam mereka buka, cafe tadi cukup ramai. Apalagi para polisi juga ada di sini, karena cafe ini salah satu tempat ramai dan banyak didatangi orang-orang di desa. Sambil menunggu giliran diinterogasi, mereka menikmati sarapan, dan kopi masing-masing.
Tapi kini, suasana sudah sunyi kembali. Pelanggan banyak yang pergi kembali ke aktifitasnya, ada yang harus ikut ke kantor polisi terdekat karena memiliki informasi lebih banyak, ada juga yang memilih pulang ke rumah karena takut menjadi korban selanjutnya.
Polisi tidak mengatakan apa pun, tapi desas desus itu terus terdengar dari mulut ke mulut. Bahwa ada pembunuh yang mengincar penduduk desa.
"Makanya banyak orang bilang, kalau ada pembunuh di desa kita," timpal Emil.
"Mengerikan!" gumam Ridwan.
"Tunggu! Pak Andrew mana? Bukannya dia paling semangat dan seolah tau sesuatu?" tanya Adi tengak tengok.
"Iya, dia nggak keliatan beberapa hari ini."
"Jangan-jangan ...." Bisma tidak meneruskan kalimatnya tapi tatapannya seolah mengatakan sesuatu.
"Hei, jangan sembarangan kalau ngomong. Udah udah! Ayok kita beresin cafe," suruh Abimanyu lalu beranjak dari duduknya. Cangkir kopi nya telah tandas dan rasanya pembicaraan ini hanya akan menimbulkan praduga yang akan membuat fitnah jika diteruskan.
_____
Sebuah mobil parkir di ujung. Mobil yang asing dan belum pernah dilihat sebelumnya oleh Abimanyu dan beberapa warga desa itu cukup menyita perhatian.
"Siapa, ya?"
Belum sempat pertanyaan itu dijawab, turun tiga orang yang memakai kemeja hitam. Kacamata hitam dan satu orang di sana membuat Abimanyu mengernyitkan kening. "Pak Andrew? Sama siapa, ya?" gumam Abimanyu.
Dari penampilannya mereka seperti agen penyelidik karena ada sebuah pistol yang ada di pinggang wanita itu, walau tertutup oleh outher hitam panjangnya.
Mereka bertiga duduk di salah satu meja cafe. Abimanyu menoleh ke Ridwan yang sedang mengelap meja yang ada di dekatnya. "Ridwan! Tamu," tunjuk Abi dengan satunya ke arah meja terluar dari halaman.
Ridwan menatap sebentar ke arah gerombolan Pak Andrew, mengangguk ke Abi, lalu segera ke meja itu dengan buku menu dan catatan di tangannya.
"Sore, Pak. Mau pesan apa?"
Andrew menatap Ridwan lalu mengambil buku menu. "Kopi tiga."
"Itu saja, Pak?"
"Kalian pesan apa?"
"Itu dulu saja."
"Baik. Permisi."
Saat Ridwan hendak masuk untuk mengatakan pesanan pada Abi, seorang gadis remaja berteriak memanggil namanya. Ia masih memakai seragam sekolah dan juga tas di punggungnya.
"Kamu ngapain?" tanya Ridwan.
Maya berlari tergopoh-gopoh mendekat. Rambutnya yang dikuncir dua bergerak tak beraturan dengan keringat di dahinya. "Minta duit," kata Maya menengadahkan tangan kanannya.
"Buat apaan?"
"Aku mau ekskul, Kak. Buat beli jajan," rengek gadis itu manja.
"Loh bukannya tadi udah dikasih uang sama ibu?"
"Habis buat bayar iuran kas. Ayo, Kak. Buruan. Udah ditunggu ini aku." Maya menoleh ke belakang. Di sana ada seorang laki-laki yang memakai seragam sama seperti dirimu.
"Itu siapa?" tanya Ridwan ke arah laki-laki yang berdiri di pinggir jalan dengan sepeda di tangannya.
"Itu kak Gibran. Senior aku. Tadi ekskul dia yang jadi pemandunya."
"Sejak kapan kamu ikut ekskul?" tanya Ridwan menyelidik. Ia paham sekali kalau adiknya termasuk anak yang malas mengikuti kegiatan sekolah di luar jam pelajaran. Tapi tiba-tiba Maya ikut ekskul. Itu aneh.
"Ya ampun, kakak. Udah sebulan ih. Aku ikut band. Udah buruan ah. Mana duitnya. Udah ditungguin kak Gibran," kata Maya dengan menghentak hentakan kaki.
Abimanyu mendekat. "Kenapa, Wan?"
"Ini, Bang. Si Maya minta duit jajan tambahan." Ridwan merogoh kantung celananya. Memberikan selembar uang berwarna hijau."Nih. Jangan pulang terlambat. Nanti Ibu nyariin."
"Siap, Bos," kata Maya dengan gaya hormat layaknya seorang prajurit. "Aku pergi, ya. Pamit dulu, Bang Abi." Maya tersenyum lebar ke Abimanyu yang ditanggapi senyum simpul si pemilik cafe.
"Dia siapa, Wan?" tanya Abi ke pemuda yang kini mengayuh sepeda, dengan Maya yang ada di boncengan nya.
"Kata Maya namanya Gibran. Kakak kelas yang ngajarin ekskul nya, Bang. Maya ikut Band sekolah."
"Wah, bagus dong. Oh, iya. Pak Andrew pesan apa."
"Astaga. Kopi 3. Lupa."
Abi tersenyum lalu berjalan ke meja barista membuat pesanan.
Cafe mulai ramai. Sehingga Abimanyu mengantar pesanan kopi itu sendiri. Karena Ridwan sedang membereskan meja lain yang sudah ditinggalkan pengunjung tadi. Ada beberapa pecahan gelas karena tersenggol anak kecil yang barusan datang bersama kedua orang tuanya. Sepertinya mereka wisatawan yang akan menginap di homestay yang ada di hutan dekat air terjun. Di dekat air terjun itu memang dibangun beberapa homestay yang memang sebagai fasilitas untuk pengunjung. Homestay itu milik Pak Hermawan, salah satu orang terkaya di desa yang kini menetap di kota.
"Silakan." Abi meletakan tiga buah cangkir kopi ke meja Andrew.
"Terima kasih."
"Ada kemungkinan dia pembunuhnya."
"Sebentar, Abimanyu!" panggil Andrew menahan Abi yang hendak pergi. Abimanyu berbalik. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?"
"Boleh kita ngobrol sebentar?"
Abi mengernyitkan kening. Ia lantas duduk di kursi samping Andrew. Meletakan nampan di meja dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
"Ada apa, ya?"
"Kamu sudah lama tinggal di desa ini, kan?"
Abi tak langsung menjawab, menatap ketiga orang itu bergantian. Kemudian baru mengangguk pelan. "Yah, lumayan, Pak."
"Apa ada warga baru di desa ini?"
"Warga baru?" jawab Abi dengan pertanyaan lagi.
"Iya, warga baru. Mungkin pendatang yang berumur masih muda. Di luar wisatawan, ya."
"Hm, sebentar. Sejauh ini rasanya tidak ada pendatang baru."
"Kau yakin?"
"Iya, Pak. Memang banyak wisatawan yang datang. Apakah itu termasuk?"
"Kamu bisa memberikan data setiap wisatawan yang datang, terutama yang menginap."
"Oh tentu bisa. Saya kenal dengan Pak Marwan yang bertanggung jawab mengurus homestay milik Pak Hermawan. Sebentar saya hubungi orangnya." Abimanyu beranjak meraih telepon genggamnya dan menghubungi Pak Marwan.
Hanya dalam waktu 20 menit Pak Marwan sampai di cafe. Terpaksa Abi menyerahkan pekerjaannya pada karyawannya karena ia harus membantu proses penyelidikan kasus pembunuhan ini. Yah, pembunuhan.
"Eum, bagaimana kalau kita pindah saja ke dalam. Rasanya terlalu berbahaya jika informasi ini bocor," saran Abi dengan memperhatikan suasana cafe yang makin ramai.
Andrew dan kawan kawannya setuju akan hal itu. Mereka pindah ke dalam, tepatnya di ruangan Abi. Abi memang memiliki ruangan pribadi. Untuk mencatat pengeluaran, pemasukan cafe dan bahan yang harus dibeli.
Ada sebuah sofa panjang dan meja. Dan sebuah whiteboard yang menempel di dinding. Tempat ini sangat cocok untuk markas polisi.
Pak Marwan memberikan sebuah buku tamu berisi data pengunjung yang menginap di homestay itu. Andrew, Jesica, dan Andika mulai membaca dan menganalisis data itu. Mencari keterikatan hubungan dengan korban. Andika mengeluarkan laptopnya dan mulai menelusuri semua informasi lewat internet. Dari sekolah, asuransi, pekerjaan, dan tiap detil data yang ada di meja.
"Hm, sepertinya nggak ada yang aneh. Mereka memang pengunjung yang ingin wisata saja. Nggak lebih," gumam Jesica.
"Iya, nggak ada sangkut pautnya sedikitpun sama korban. Semua data udah aku lihat. Nggak ada yang mencurigakan, Ndrew." Andika menjambak rambutnya sendiri.
Andrew menatap Abimanyu yang masih menatap buku tamu itu. "Bi, yakin? Nggak ada pendatang baru di desa ini? Bukan cuma dalam dua atau tiga bulan ini saja. Tapi mungkin setahun atau dua tahun lalu?" Andrew masih penasaran.
Abimanyu memikirkan perkataan Andrew barusan. Berusaha mengingat hal yang mungkin terlewat dari pengelihatannya. Hingga sampai ia teringat sebuah wajah.
"Sebentar. Warga baru, ya?" tanya Abimanyu lagi.
"Iya. Bagaimana? Ada?"
"Siapa, Bi?" tanya Pak Marwan bingung.
"Anak tadi! Yang sama Maya. Aku baru pernah lihat dia."
"Anak yang mana, Bi?" tanya Pak Marwan.
"Eum, kalau nggak salah namanya Gibran. Kakak kelas Maya, berarti kelas 3. Wajahnya asing. Pak Marwan tau?"
"Gibran? Sebentar." Pak Marwan menatap langit-langit. Ia termasuk sesepuh desa yang paling tau setiap detil warganya. "Oh dia? Gibran itu sudah ada di sini setahun lalu."
"Anak siapa dia, Pak?"
"Bapak nggak tau. Dia pindah sendirian. Waktu itu datang sama paman nya, tapi sekarang dia tinggal sendiri. Katanya sih, pamannya Gibran kerja di kota."
"Di mana rumahnya, pak?"
"Itu, bekas rumah Pak Zainal. Katanya mereka itu saudara Pak Zainal."
"Pak Zainal? Bapaknya Riki?" tanya Andrew.
"Nah bener! Keluarganya Riki."
"Riki siapa?" tanya Abi penasaran.
"Kamu nggak tau siapa Riki?" tanya Pak Marwan. Abimanyu menggeleng.
"Dia itu tersangka pembunuhan 7 tahun lalu!"
"Jangan-jangan Gibran itu saudara Riki? Dan datang ke sini untuk balas dendam," ujar Jesica.
"Atau malah, Gibran itu Riki?"
"Ndik! Kau coba periksa data Gibran."
Andika mengangguk. Jemarinya leluasa mengetik di laptopnya. Hingga matanya terbelalak. "Astaga. Ternyata nama panjang Gibran ... Gibran Rikiawan!"
______
Andrew dan timnya bergerak ke rumah Riki. Mereka sudah mengantungi petunjuk penting dalam penyelidikan ini. Pak Marwan kembali ke rumah. Sementara Abimanyu justru pergi ke SMU Purnama. Ia mengajak Gio dan Adi. Cafe dititipkan ke Ridwan. Abi sengaja tidak menceritakan hal ini pada Ridwan. Takut Ridwan panik.
Karena Maya mungkin dalam bahaya. Maya terlihat sangat dekat dengan Riki alias Gibran. Dan itu berbahaya. Abi menyadari tatapan mata Gibran yang tidak biasa. Abi tidak suka melihat pemuda itu sejak awal. Ternyata dugaannya beralasan.
"Anjiiir! Bisa gitu, ya!" seru Gio setelah Abi menceritakan semuanya. Perjalanan mereka tidak akan lama untuk sampai sekolah Maya.
"Gila! Masih kecil aja dia udah bunuh orang. Bener-bener psikopat!" ungkap Adi yang duduk di samping Gio.
Abimanyu yang duduk di jok belakang, hanya diam. Walau sebenarnya hatinya bergemuruh. Ia cemas akan keselamatan Maya. Bagaimana pun juga, Maya sudah dia anggap adiknya sendiri. Maya anak yang supel, ramah, mudah bergaul dan baik. Dia selalu membuat orang sekitarnya senang. Bahkan Abi sering cemburu melihat kedekatan Ridwan dan Maya. Ia sempat berfikir, kalau saja dia punya adik, mungkin akan sama seperti Ridwan dan Maya.
Mobil sampai di SMU purnama. Mereka parkir di halaman dekat gerbang. Suasana sudah sunyi. Hanya ada beberapa motor dan mobil saja. Mereka bertiga segera masuk. Di saat yang bersamaan, Abi menabrak Nabila yang berjalan berlawanan dengannya.
"Astagaaa!" jerit Nabila kesal.
"Eh, maaf, maaf!" kata Abi lalu membantu membereskan buku yang dipegang Nabila jatuh ke lantai.
"Kamu ngapain di sini, Mas?" tanya Nabila heran. Ia tidak jadi marah karena melihat Abimanyu yang menabraknya.
"Eum, loh, kamu ngajar di sini? Aku pikir di SD?"
"Itu Ayasi sama Sintia. Kalau aku memang ngajar di sini."
"Oh. Eum, ruang seni di mana? Band?"
"Seni? Mau cari siapa?"
"Maya!"
"Oh. Itu di ujung koridor. Lantai atas," tunjuk Nabila ke belakang.
"Oh di sana? Oke. Makasih!" Abi segera berlari ke arah yang Nabila tunjuk. Sementara Nabila menatapnya bingung. "Ada apa sih?"
Ruang seni.
Abi mendekatkan telinganya di pintu. Masih ada suara orang yang tengah berlatih band di dalam. Ia segera memutar kenop pintu. Ia segera masuk.
Netranya liar mencari keberadaan Maya dan Gibran. Hingga salah satu guru mendatanginya. "Cari siapa, Mas?"
Disaat yang bersamaan Nabila masuk ke ruangan itu juga.
"Maya mana?" tanya Abi gelisah.
"Oh Maya sudah pulang, Mas. Sejam lalu malah."
"Apa? Pulang?!" Abi menekan kepalanya dan meraih telepon genggamnya. "Paman, udah pulang. Coba telpon ibunya Maya!" suruh Abi.
"Ada apa, ya?" tanya Pak Andi selaku Guru seni musik.
"Dia mau jemput Maya, Pak Andi." Nabila menarik tangan Abimanyu dan membawanya keluar.
"Ada apa sih?!" tanya Nabila bingung. Baru kali ini ia melihat Abimanyu dengan tampang kebingungan dan gelisah. Biasanya ia selalu melihat pria ini dengan tatapan dan ekspresi wajah yang teduh dan tenang. Tapi kali ini lain.
"Maya dalam bahaya!"
"Maya? Memangnya kenapa?"
Abi menatap Nabila, diam dan menggeleng. "Nggak apa-apa!" Ia segera berjalan turun ke bawah.
"Tunggu! Jelasin! Ada apa sama Maya?!" Nabila menarik tangan Abimanyu. Hingga mereka berdua saling berhadapan.
"Ck. Ini menyangkut pembunuhan tempo hari!"
"Perempuan itu?" tanya Nabila balik, memastikan bahwa yang mereka bicarakan adalah Clarinta. Abi mengangguk cepat.
"Gibran! Gibran tersangka utama!"
Tangan Nabila mendadak lemas. Tubuhnya seorang mati rasa. Ia baru mengerti kenapa Abi begitu gelisah.
Walau Nabila baru beberapa hari di desa itu, ia sudah hafal bagaimana murid-muridnya. Terutama Maya. Ia memang kerap melihat Maya dan Gibran bersama sama. Gibran terlihat perhatian dan baik pada Maya. Itu terlihat jelas.
"Ikut aku! Sepertinya aku tau ke mana mereka!" kata Nabila yakin.
"Kamu yakin, tau sesuatu?" tanya Abimanyu yang terus mengikuti langkah Nabila. Gadis itu berjalan cukup cepat, bahkan sebenarnya ia terlihat tengah berlari kecil.
"Iya, aku yakin. Soalnya aku pernah lihat mereka keluar dari tempat itu."
"Di mana?"
"Rumah kosong yang ada di ujung sana. Deket rumah dinasku."
"Rumah kosong yang mana sih?"
"Astaga. Yang cat nya warna abu abu. Kata warga desa setempat itu rumah Siska. Korban bullying 7 tahun lalu yang akhirnya masuk Rumah sakit jiwa karena depresi."
"Tunggu sebentar! Siska masih hidup?"
"Enggak. Katanya udah meninggal. Rumor yang beredar gitu. Nggak lama setelah masuk rumah sakit jiwa, anak itu bunuh diri. Katanya sih. Cuma aneh aja, aku belum pernah lihat arwahnya di rumah itu."
Mereka berdua sampai pelataran parkir, di sana sudah ada Adi dan Gio yang menunggu.
"Ke mana kita?" tanya Gio lalu masuk ke dalam mobil disusul Adi di sampingnya. Sementara Abimanyu dan Nabila duduk di kursi belakang.
Di perjalanan Nabila menceritakan semua hal yang ia tau. Walau kedatangan dirinya dan dua temannya itu baru, tapi Nabila termasuk orang yang pandai bergaul dan cukup dekat dengan warga desa. Ia kerap mengobrol dan berusaha berbaur dengan mereka, menelusuri hal hal yang ada di desa ini agar makin akrab.
Rupanya ada kejadian memilukan di desa ini 7 tahun lalu. Bahkan Nabila tau detilnya. Ia menceritakan dengan gamblang semua hal yang ia dengar selama tinggal di desa ini.
"Dulu Siska dibully, sampai-sampai ia depresi. Akhirnya orang tua Siska masukin dia ke Rumah sakit jiwa di kota. Dia sering teriak, bahkan nyakitin dirinya sendiri. Terus beberapa minggu setelah itu, dia ditemukan dengan tangan bersimbah darah. Dia bunuh diri."
"Astaga. Terus?"
"Siska punya temen. Riki namanya. Mereka berdua deket banget. 3 orang anak pelaku bullying itu ditemukan meninggal. Katanya Riki yang bunuh."
"Tunggu sebentar. Pelaku pembully itu nggak ada yang diusut polisi? Sampai bikin Siska meninggal, kan?" tanya Adi penasaran.
"Enggaklah. Mereka saat itu masih kecil. Dan nggak ada bukti atau saksi. Orang tua pelaku bully pakai bawa pengacara segala. Buat nyelamatin anaknya."
"Berapa orang pelakunya?"
"Katanya 10 orang. Tiga orang sudah meninggal. Menurut gue sih, Cindy sama Clarinta ini juga termasuk dari 10 orang itu. Mengingat mereka satu angkatan sama Siska."
"Dari 10 orang, udah 5 orang meninggal? Jadi masih ada 5 orang lagi, ya?"
"Siapa sisanya?"
"Nggak ada yang tau. Pihak sekolah tutup mulut atas kasus ini. Gue juga nyari tau, tapi guru yang lain bilang nggak tau. Entahlah."
"Kalau kita tau siapa 5 orang ini, pasti kita bisa cegah pembunuhan lain yang mungkin akan terjadi," kata Abimanyu dengan tatapan dingin, ke arah jendela.
"Iya, kamu bener. Hm, mungkin nanti aku coba cari tau siapa 5 anak lainnya."
"Tunggu! Maya? Apakah termasuk?"
"Gue juga nggak tau sih. Ada kemungkinan iya, ada kemungkinan nggak."
"Kenapa gitu?" tanya Gio.
"Karena Gibran ini baik banget ke Maya. Sejauh yang gue lihat. Gibran seolah melindungi Maya. Jadi gue ragu kalau Maya termasuk pelaku bullying 7 tahun lalu."
"Semoga Maya bukan korban selanjutnya. Dia anak baik," gumam Abimanyu yang mampu didengar semua orang di dalam mobil.
Mobil melesat lebih cepat. Gaya mengemudi Gio tidak dapat diragukan lagi. Mereka mulai masuki daerah tempat tinggal Nabila. Bahkan rumah dinas Nabila sudah dilewati sejak tadi. Rumah Siska ada paling ujung jalan. Rumah paling besar di lingkungan ini.
"Ini?" tanya Gio, menetralkan mobilnya. Memarkirkan nya ditempat yang rindang agak jauh dari rumah.
"Iya, ini!"
Mereka semua turun. Menatap sekitar dan rumah di depan mereka. Sunyi. Letak rumah ini memang agak jauh dari rumah lain. Desa ini masih banyak didominasi pohon pohon akasia dan pinus. Jadi topografi di sekitar rumah Siska adalah hutan kecil. Untuk menemukan rumah terdekat, berjarak sekitar 1 KM jauhnya. Dan ini adalah bagian jalan terdalam. Jadi aspal sudah habis sampai depan rumah Siska. Sisanya hanya tanah dan hutan.
"Ini rumah Siska? Gede juga, ya!" kata Gio sedikit terpukau.
"Iya. Malah ini rumah mirip homestay Pak Hermawan," timpal Adi.
"Ngomong ngomong Siska dibully karena apa? Gue pikir dia anak orang kaya? Lihat aja rumahnya." Pertanyaan Gio tadi mang beralasan.
Seseorang mendapat perlakuan bullying biasanya karena status sosialnya. Sementara Siska bukan termasuk orang tidak mampu.
"Karena dia anak sempurna. Justru karena itu. Temen-temennya iri sama kehidupan Siska. Siska pinter, berbakat dalam kesenian. Suaranya bagus. Dia juga pinter bermain alat musik. Tapi dia anak yang gampang down. Sedikit aja dia ditekan, dia jadi sedih. Nggak punya kepercayaan diri lah intinya."
obdiamond dan 7 lainnya memberi reputasi
8