- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.9K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#47
Part 45 Desa Abi
Jalanan nampak lenggang. Wajar saja, setelah kejadian itu, beberapa manusia hilang bagai ditelan bumi. Keadaan kota menjadi sunyi, walau bukan terbilang sepi tanpa penghuni. Karena masih ada beberapa kendaraan yang lewat.
Apakah ini seleksi alam? Salah satu cara Tuhan mengurangi populasi penduduk nya. Atau, kah, ini murka Tuhan? Akibat kelakuan manusia yang melebihi setan. Elang dan Shanum sudah duduk di jok depan. Di belakang mereka ada Adi, Lian, dan Gio juga.
Elang dan Shanum akan mengantar Gio ke bandara. Ia berencana akan liburan bersama Adi ke sebuah negara kecil yang hanya mereka berdua saja yang tau. Abimanyu dan Ellea masih ingin tinggal di desa. Karena Abi belum ingin pergi dari desa nya. Sementara Ellea masih ingin menemani pria nya.
"Kalian baik-baik di sana. Hati-hati," kata Shanum memeluk Adi dan Gio bergantian. Kedekatan mereka memang sudah erat satu sama lain.
"Jangan lupa oleh-oleh nya, ya." Tambah Lian ikut memeluk dua pria pahlawan mereka.
"Kau mau apa, Li? Sha? Akan ku bawa kan satu karung nanti!" sahut Gio sombong.
"Halah, memang nya kamu punya uang berapa?" sindir Lian.
"Cukuplah. Untuk membelikan mu berlian nanti," kata Gio bangga. Lian berdecih seolah tidak percaya perkataan pria yang memang gemar bergurau itu.
"Lang, jaga diri di sini. Jangan hubungi kami lagi kalau ada kejadian mengerikan seperti kemarin, oke?" pinta Adi dengan tampang yang dibuat sinis.
"Justru pemandangan di depanku sekarang, jauh lebih mengerikan," sindir Elang menatap mereka berdua. Adi dan Gio saling tatap tidak paham.
"Apa maksudmu? Aku dan Gio?"
"Kau pikir saja sendiri. Semoga kalian menemukan wanita baik dan sabar di sana."
Namun hanya beberapa detik kemudian mereka menarik nafas panjang dan melempar pandangan ke Elang dengan tatapan kesal.
"Kau pikir kami tidak normal?!" tukas Adi naik pitam setelah tau maksud kalimat tersebut.
Elang hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka berdua. "Awas saja kalau kami pulang nanti! Kuhajar kau!" ancam Adi ke Elang.
Elang pura - pura tidak mendengarkan dan tampak tidak peduli dengan ucapan Adi.
Akhirnya dua pria jagoan itu pergi naik pesawat ke sebuah tempat nun jauh di sana. Rasanya setelah semua kejadian yang mereka alami, mereka layak mendapatkan liburan ini.
Semua orang kembali ke rutinitas nya. Adi dan Gio kembali ke hobi mereka. Naik gunung dan melakukan traveling ke berbagai tempat. Sekalipun mereka sering bertengkar, tapi sebenarnya mereka cocok satu sama lain. Sebagai sahabat tentu nya, dan dengan cara berdebat atau berkelahi lah, bentuk kasih sayang mereka satu sama lain yang kerap mereka tunjukkan. Sungguh unik, tapi persahabatan yang seperti itu, justru akan berjalan lama dan awet.
Elang sudah menemukan gedung untuk memulai kembali perusahaan nya dari nol. Ia merekrut pegawai sebanyak banyaknya dibantu Lian. Satu bulan lagi Elang akan menikah dengan Shanum. Mengakhiri masa lajangnya dan membina sebuah rumah tangga yang sebenarnya tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
______
Sebuah pesan masuk ke dalam gawai milik Abimanyu. Ellea yang kemarin baru saja ia antar ke stasiun terdekat memberi kabar. Ia pulang ke rumah orang tuanya yang ada di ibukota. Ibunya sakit keras dan Ellea ingin menemani ibunya sekarang. Meninggalkan Abimanyu yang masih memutuskan tinggal di desa.
Abi berencana akan terus tinggal di desa. Baginya tidak ada yang lebih nyaman selain rumah. Ia sudah tidak merasa kehilangan seperti dulu. Karena Abi yakin kedua orang tuanya sudah berada di tempat yang jauh lebih baik.
Abi berencana membuka kedai kopi miliknya sendiri. Ia menceritakan rencananya itu pada sang paman, Elang. Dan sebelum pergi, Elang menggelontorkan uang yang tidak sedikit, lalu mengirimkan sebuah pesan pada Abimanyu. Notifikasi uang masuk ke dalam rekeningnya membuat Abi terhenyak. Karena itu bukan uang yang sedikit baginya.
[Ini adalah uang milikmu. Arya menyuruhku memberikan padamu saat umurmu sudah 30 tahun. Dan bukannya, besok kau akan berulang tahun?]
Pesan dari Elang itu membuat kedua sudut bibir Abi mengembang. Dalam hatinya, pamannya yang satu itu memang terkadang menyebalkan, tapi sering memberikan kejutan. Walau perusahaannya berantakan, tapi Elang tetap saja memiliki uang. Dia pintar dalam mengelola keuangan sejak muda.
[Jadi ini transferan uang darimu, Paman? Uang apa ini? Kau jangan membohongiku dengan membawa nama Ayah dan Ibu. Tapi terima kasih. Akhirnya aku benar benar akan membuka kedai kopi ku sendiri di desa. Jadi besok, kalau paman ada waktu luang, mampir lah untuk mencicipi kopi buatan ku.]
[Baguslah, Bi. Setidaknya kau juga harus meneruskan hidup. Aku tidak akan memaksamu untuk kembali ke kota. Asal kau juga harus sering berkunjung ke sini. Aku juga akan sering datang ke desa. Suasana nya sangat menyenangkan dan aku rindu suasana di sana sekarang.]
[Tentu saja, Paman. Lagipula kau akan sibuk nanti setelah menikah. Lebih baik, kau urus saja istrimu. Berhentilah menjadi pahlawan bumi.]
Elang tertawa di balik layar ponselnya. Pernikahan nya tinggal hitungan hari. Diumur yang tidak muda lagi, ia baru akan menikah. Sebenarnya Elang tidak ingin menikah, karena baginya ia sendiri tidak percaya pada pernikahan dan cinta sejati. Kedua orang tuanya telah bercerai sejak ia masih kecil. Ibunya menikah lagi, dan tak lama bercerai lagi. Elang bahkan dititipkan di panti asuhan karena ibunya telah berpindah ke Negera lain setelah menikah dengan warga negara asing.
Sejak kecil Elang hidup sendiri. Hal inilah yang membuat sikapnya dingin pada semua orang. Dan tidak mempercayai akan adanya cinta. Sebelum ia bertemu Shanum tentunya. Shanum gadis lemah lembut. Yang membuat Elang berubah pikiran. Sikap Shanum yang lembut dan tulus, membuat Elang merasa nyaman. Elang yang tidak pernah mendapat kasih sayang tulus, lantas luluh dengan sikap Shanum itu.
Dan lagi, rasa ingin melindungi terus Elang rasakan saat Shanum ada di dekatnya. Ia tidak mau hal buruk menimpa Shanum. Bahkan itu tidak rela jika Shanum tergores barang sedikit saja.
Begitulah cinta. Tuhan mempunyai cara sendiri untuk mempersatukan jodohnya. Cara yang unik dan di luar logika.
Abimanyu datang ke sebuah makam. Ada nama Arya dan Nayla di batu nisan itu. Ia membawa dua buket bunga. Kejadian demi kejadian membuatnya tidak menengok makam orang tuanya agak lama. Biasanya hampir setiap hari dia akan meluangkan waktu untuk datang ke sana.
Kini Abi duduk di depan makam mereka yang letaknya memang bersebalahan. Ia sudah berdoa untuk kedua orang tuanya. Berharap Tuhan memberikan tempat yang baik di sisi-NYA.
Banyak memori dalam ingatannya yang terlewat. Abi mengingat ingat perkataan Nayaka waktu itu. Kalau ayahnya lah yang telah membunuh ibu Nayaka. Abi tidak menyalahkan Arya karena memang tugas mereka membasmi Kalla. Tentu saja, Abi juga maklum kenapa Nayaka begitu membencinya.
Memori Abimanyu kembali. Suatu malam ... Saat umur Abi baru menginjak 15 tahun. Ia yang sedang makan malam bersama dengan ibunya mendadak terkejut karena kedatangan Arya yang kacau. Bajunya robek di beberapa tempat. Wajahnya terlihat luka-luka. Ah, bukan, lebih tepatnya terdapat bekas darah kering di beberapa sudut wajahnya. Namun tidak ada tanda-tanda luka ataupun memar di mana pun.
"Sayang? Kamu kenapa?" pekik Nayla lalu menghampiri suaminya. "Aku baik-baik saja. Aku mandi dulu, ya." Arya segera pergi ke kamar mandi. Sementara wajah Nayla terlihat cemas.
Selesai makan, Abimanyu kembali ke kamarnya. Arya dan Nayla juga sudah masuk ke kamar. Tapi rasa penasaran terus menggerogoti pikiran Abi. Ia kerap melihat ayahnya pulang dengan keadaan seperti tadi. Dan dia sendiri tidak pernah mendapat jawaban apa pun. Banyak hal yang orang tuanya tutupi dari Abi.
Abimanyu menguping pembicaraan kedua orang tuanya.
"Jadi bagaimana mereka sekarang?"
"Jumlah mereka makin banyak. Desa kita sudah disusupi makhluk itu. Nay, kamu harus hati-hati. Bahkan kalau bisa, tetap di rumah."
"Hm, iya sayang. Tapi apa kita akan terus menerus bersembunyi? Sementara tidak mungkin kita terus diam kan, Ya?"
"Hm, iya, Nay. Aku memang harus bertindak. Jika ucapan Wira benar, berarti aku harus segera mencari anak iblis itu."
"Apa Wira memberi tau, di mana anak keturunan iblis itu berada?"
"Yah, di kota. Aku sudah memperingatkan Elang dan Adi agar berhati-hati."
"Bagaimana dengan Gio?"
"Jangan sampai dia tau. Biar saja Gio di sana. Kita tidak boleh menariknya ke pusaran masalah ini."
"Sayang? Aku takut. Aku takut dia mendatangi rumah kita. Dan melukai Abi."
"Maka aku akan membunuhnya terlebih dahulu."
Percakapan singkat itu kembali terlintas di ingatan Abi. Matanya berkaca-kaca sambil menatap dua batu nisan di hadapannya.
Abimanyu baru sadar, kalau kedua orang tuanya berusaha sekuat tenaga membunuh Kalla dan pengikutnya sejak dulu. Itulah alasan kenapa Arya sangat sibuk dan jarang ada di rumah. Itu juga alasan kenapa Nayla terus melatih ilmu bela diri Abi. Agar Abi mampu bertahan jika mendapat serangan dari Kalla suatu saat nanti.
"Kamu harus bisa jaga diri, Nak. Dunia tidak seindah apa yang ada di pikiranmu. Banyak hal buruk yang mengintai kita semua. Pergunakan lah apa yang sudah Ayah dan ibu ajarkan dengan sebaik mungkin. Terus bantu sesama dan tetap berbuat baik." kalimat itu adalah kalimat terakhir saat malam meninggal nya Arya dan Nayla. Malam itu, Abi menjadi yatim piatu di waktu yang bersamaan. Sungguh miris dan tragis.
"Ayah, ibu ... Aku berhasil. Aku berhasil membunuh mereka semua. Sekarang ayah dan ibu harus bahagia di sana." Abimanyu menitikan air mata. Ia bahagia bercampur sedih. Rasanya ingin agar keluarga nya utuh kembali. Tapi itu jelas tidak mungkin.
Sekalipun Kalla maupun Black demon sudah musnah, Abi dan yang lainnya selalu siap jika ada musuh baru yang mengancam umat manusia. Mereka memang bukan pahlawan, tapi setidaknya mereka harus bisa melindungi bumi karena di sini lah mereka tinggal. Di tempat ini lah mereka hidup. Ancaman sekecil apa pun harus mereka waspadai. Sekalipun kelompok mereka sudah terpisah-pisah, tapi rasa persaudaraan mereka terus ada. Setidaknya mereka pernah melewati masa sulit bersama, berjuang bersama, terluka, menangis, bahkan tertawa bersama. Memori itu akan terus mereka kenang sampai akhir hayat.
Keputusan Abi untuk kembali ke desa sudah ia pikirkan matang-matang. Desa jauh lebih menyenangkan. Karena jiwanya lebih menyukai alam. Abi suka berada di pantai, bahkan gunung. Udara di desanya jauh lebih segar timbang udara di kota. Dan disini lah, Abi kembali memulai kisah nya.
______________________________________
Sebuah cafe dengan nuansa kayu di sebagian besar furniturenya sudah mulai ramai pengunjung. Seorang pemuda sedang sibuk membuat kopi di depan mesin espresso miliknya. Celemek tak lupa ia kenakan dan juga topi hitam dengan bordiran nama cafe ini. "Pancasona" Entah kenapa Abimanyu memakai nama pancasona sebagai nama cafe milik nya.
Cafe ini sudah hampir 6 bulan berdiri. Kopi buatan Abimanyu sudah terkenal di penjuru desa bahkan desa tetangga. Ia bahkan sudah memiliki dua orang pegawai kepercayaan dan 3 karyawan baru.
"Paman, kalian lihat laki-laki itu?" tunjuk Abimanyu kepada dua pegawai kepercayaan nya.
"Yang mana?" sahut Gio langsung menoleh ke belakang dengan sikap santai.
"Kau ini! Bodoh sekali. Jangan langsung mencarinya, Idiot! Dia akan curiga," omel Adi dengan memukul kepala Gio dengan celemek.
"Hei! Kain itu bukan, kah, bekas mengelap meja kotor tadi?"
"Memang. Lalu kenapa? Hah?" tantang Adi. Abimanyu yang melihat pertikaian dua orang di depan nya segera melerai. Ia mendorong Adi ke samping kiri dan menggeser Gio ke samping kanan. Entah sampai kapan mereka akan terus bertengkar seperti ini. Tapi tanpa mereka berdua, hidup Abi rasanya akan sepi.
Tiba-tiba pria yang dimaksud Abi justru beranjak dari mejanya. Membayar pesanan tadi di kasir.
"Ridwan!" panggil sang empunya cafe pada salah satu karyawan baru nya.
Ridwan baru bekerja dua minggu di cafe ini. Dia baru saja lulus dari bangku sekolah menengah atas. Sedang mengumpulkan rupiah untuk biaya kuliahnya kelak. Orang tuanya adalah termasuk keluarga yang sederhana. Mereka memiliki sebidang tanah untuk menggarap sawah sebagai mata pencaharian keluarga. Tapi Ridwan adalah anak yang rajin dan penuh semangat. Karena itulah Abi mempekerjakannya.
"Kenapa, Bang?" tanya Ridwan, tubuhnya membungkuk sedikit. Menunjukkan kalau dia adalah pemuda yang penuh sopan santun.
"Kamu tau siapa dia? Kenapa wajahnya asing? Dia bukan warga desa kita, kan?" Abi menunjuk ke arah pria yang ditaksir berumur 40 tahunan itu. Setelah membayar bill miliknya, Ia kini menaiki mobil pick up warna orange.
"Oh dia? Itu Pak Andrew. Dia baru pindah ke desa ini, Bang. Rumah Nenek Listi yang ada di ujung hutan sana, dijual. Pak Andrew pembelinya. Katanya dia pengen hidup di desa lagi. Kehidupan kota bikin dia nggak tenang." Ridwan menunjuk ke arah hutan yang memang jarang ada rumah penduduk. Nenek Listi baru meninggal sebulan lalu. Anak-anaknya tinggal di kota jadi mereka memutuskan untuk menjual rumah itu.
"Nggak tenang kenapa?"
"Denger-denger anaknya meninggal. Karena dibunuh. Terus dia depresi, sampai-sampai dia dipecat dari kantornya."
"Memangnya apa pekerjaan nya?"
"Dulu dia polisi."
"Polisi?"
"Oh," sahut Adi ikut menyimak pembicaraan itu.
"Kasian." Gio hanya menatap pria yang sedang mereka bicarakan, yang mulai menjauh pergi.
_____
Malam ini cafe agak sepi pengunjung. Hujan deras turun sejak sore hari. Hanya ada beberapa orang saja yang bertandang ke Cafe Pancasona.
Abimanyu sedang mengelap meja barista. Menatap jendela cafe yang masih meninggalkan titik air hujan yang menempel di kaca. Pikiran nya menerawang ke gadis pujaan nya. Ellea lama tidak memberikan kabar. Abi berusaha maklum karena pasti dia sedang sibuk mengurus orang tuanya. Bahkan kabar terakhir mengatakan kalau Ellea pindah ke Jerman. Ia makin jauh dari gadis itu. Abi hanya bisa diam dan pasrah.
Tiba-tiba perhatian nya tertuju pada seseorang yang kini sedang berjalan di depan cafe nya. Wajah nya berdarah. Bola matanya keluar dan ia mengenal orang itu. "Cindy?" gumamnya dengan pertanyaan yang hanya ia sendiri yang mendengarnya.
Sudah sejak beberapa hari ini, Abi sering melihat hal-hal aneh yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Sejak ia sering bermimpi buruk, Abi justru sering melihat sosok sosok yang bergentayangan di sekitarnya.
"Ridwan!"
Ridwan yang hendak pergi ke dapur membawa piring kotor, mendekat. "Kenapa, Bang?"
"Cindy itu masih sekolah?"
"Cindy? Cindy ... Yang mana, Bang?"
"Bukannya adikmu deket sama Cindy?"
"Ooh, Cindy itu? Cindy dan Maya beda tingkat, Bang. Cindy kakak kelas Maya."
"Oh gitu," sahut Abi berusaha menutupi kegugupan nya. Kini Cindy sedang berdiri di hadapan mereka. Pembicaraan ini justru membuat sosok itu mendekat.
"Memangnya kenapa, Bang?"
Abi hanya tersenyum. "Pulang sana!"
"Tapi, Bang?"
"Besok lagi aja kamu kerjain. Mukamu udah capek. Sana pulang!" kata Abi setengah memaksa. Wajah Ridwan terlihat sumringah. Sebenarnya tubuhnya memang sudah lelah. Dan malam ini ia ingin makan malam dengan keluarganya. Dia menolak makanan yang diberikan Abi karena ingin makan di rumah.
Pegawai Abimanyu sudah pulang semua. Tinggal dirinya, Adi dan Gio saja. Adi dan Gio memang memutuskan tetap bersama Abi, karena sumpah janji mereka pada Arya dan Nayla. Sekalipun Abi susah dewasa, tapi mereka merasa kalau Abi masih menjadi tanggung jawab mereka berdua. Dan lagi, mereka juga tidak memiliki tujuan hidup lain. Berbeda dengan Vin dan Elang.
Mereka bertiga tengah menikmati secangkir kopi ditemani cemilan buatan Ridwan tadi. Beginilah kegiatan tiga pria jomblo itu saat cafe sudah tutup. Abi masuk dalam katagori jomblo, karena kini sedang berjauhan dengan Ellea. Tidak memiliki pasangan. Begitulah versi jomblo yang ada di benak mereka. Beberapa lampu sudah dimatikan, pintu cafe juga sudah dipasang papan bertuliskan "close".
"Paman ...."
"Apa?" sahut Adi dan Gio bersamaan.
"Aku ngeliat itu lagi."
"Itu? Itu apa?"tanya Gio yang kini penasaran.
"Setan?" sahut Adi dengan pertanyaan yang wajar. Pembicaraan ini memang sudah Abi bahas beberapa kali. Tentang matanya yang kini dapat melihat hal-hal aneh di sekitarnya.
Adi mendekatkan wajahnya ke Abimanyu. Menatap dua bola mata itu lekat-lekat.
"Paman? Kenapa?" tanya Abi memundurkan tubuhnya karena takut melihat sikap Adi yang tiba-tiba.
"Kenapa matamu jadi aneh?"
"Mungkin ini yang namanya mata ketiga Abi terbuka. Apa sebutannya, ya? In ... In ...."
"Indigo?" sahut Abimanyu yang sudah familiar dengan kata itu.
"Tapi kenapa baru sekarang coba?"
"Ya mana gue tau?!" cetus Gio sebal.
"Eh, kamu lihat siapa sekarang?" Adi yang baru sadar arah pembicaraan ini mulai penasaran dengan arwah yang Abi lihat. Karena tidak mungkin Abi membahas hal ini jika ia tidak sedang mengalami hal aneh.
"Eum ...." Abi menatap ke samping Adi dan Gio. Sosok Cindy ada diantara mereka. Mereka berdua yang menyadari tatapan itu ada di antara mereka, segera menyingkir.
"Sial!"
"Pantes aja merinding!"
Mereka berdua segera meletakan cangkir kopi dan mengajak Abi pulang.
_____
Rumah Abi kini menjadi tempat bernaung dua pria itu juga. Adi dan Gio. Abi tidak merasa keberatan karena dengan adanya dua pamannya itu, maka dirinya tidak lagi kesepian. Hubungannya dengan Ellea bagai tidak ada kejelasan. Bahkan bisa dibilang kalau Ellea meninggalkan Abi tanpa kejelasan. Atau, entahlah. Abi tidak ingin mengingat hal itu lagi.
Hujan mulai mengguyur desa. Petir menggelegar membuat getaran yang cukup keras. Beberapa perabot bahkan bergerak membuat tidur mereka makin lelap. Adi menarik selimutnya rapat-rapat. Sementara Gio menutup telinganya dengan bantal. Mereka tidur di kamar masing-masing dengan kondisi lampu yang padam. Listrik mati sejak satu jam lalu. Mungkin karena hujan yang cukup deras ini.
Sekalipun Abi sering melihat makhluk halus, tapi dia tidak pernah berinteraksi langsung. Bahkan menanyakan kepentingan mereka pun tidak. Baginya dunianya dan makhluk itu berbeda. Abi lebih banyak menghindar daripada penasaran. Hanya saja malam ini ia tidak bisa tidur nyenyak. Karena bayangan Cindy yang terus mengusik pikirannya. Ia tau, kalau Cindy sudah meninggal. "Dia sudah meninggal atau akan meninggal, ya? Kenapa kondisinya hancur? Apa kecelakaan?" ia berdiskusi dengan pikirannya sendiri. Walau ia terus berusaha cuek, tapi rasa penasaran terus mengusiknya.
Perlahan mata Abi mulai berat. Ia juga cukup lelah karena mengurus cafe seharian ini. Abimanyu pun terlelap. Tak peduli lagi derasnya hujan dan Sambaran petir. Bahkan sosok yang mengintip di jendela kamarnya. Dengkuran Abi mulai terdengar nyaring. Hingga ia masuk ke dalam alam mimpi.
_____
"Pagi semua," sapa Abimanyu yang baru saja keluar dari kamarnya. Wajahnya masih lusuh, khas orang baru bangun tidur.
Dua orang pamannya diam seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa sih?"
Ditangan Gio ada koran pagi yang memang selalu datang sebelum mereka bangun. "Baca." Gio menyodorkan koran itu dengan membuka halaman utama.
"Apa ini?"
Abimanyu langsung melihat foto gadis yang terpampang di sana. "Cindy?"
"Iya, dia meninggal semalam. Dibunuh!" bisik Adi serius.
"Bi? Kamu semalem ke mana?"
Abimanyu melirik ke arah dua pria di depannya bergantian. "Hei! Paman nuduh aku yang bunuh dia?" jerit Abi tidak terima.
"Habisnya, baru kemarin malam kamu bahas dia, tiba-tiba dia masuk koran. Lihat judulnya. 'Seorang siswi SMU ditemukan meninggal dengan tidak wajar' itu aneh, Bi!"
"Ck. Kalian! Jadi kalian anggep aku yang bunuh dia?"
Gio dan Adi langsung tertawa. "Becanda, Bi."
"Eh tapi, aneh, ya. Dia jelas dibunuh, kan?"
"Iya, pasti. Ini pertama kalinya desa geger karena penemuan mayat."
"Eh, Bi, kamu nggak bisa ngbrol sama arwah Cindy? Dia mati kenapa gitu?" cecar Gio.
Abi diam. Selama ia bertemu arwah manapun, tidak ada satu pun yang bisa ia ajak berbicara. Mereka hanya menampakan diri dan menghilang tak lama setelah itu. Abimanyu menggeleng pelan. "Aku mandi dulu."
_____
Apakah ini seleksi alam? Salah satu cara Tuhan mengurangi populasi penduduk nya. Atau, kah, ini murka Tuhan? Akibat kelakuan manusia yang melebihi setan. Elang dan Shanum sudah duduk di jok depan. Di belakang mereka ada Adi, Lian, dan Gio juga.
Elang dan Shanum akan mengantar Gio ke bandara. Ia berencana akan liburan bersama Adi ke sebuah negara kecil yang hanya mereka berdua saja yang tau. Abimanyu dan Ellea masih ingin tinggal di desa. Karena Abi belum ingin pergi dari desa nya. Sementara Ellea masih ingin menemani pria nya.
"Kalian baik-baik di sana. Hati-hati," kata Shanum memeluk Adi dan Gio bergantian. Kedekatan mereka memang sudah erat satu sama lain.
"Jangan lupa oleh-oleh nya, ya." Tambah Lian ikut memeluk dua pria pahlawan mereka.
"Kau mau apa, Li? Sha? Akan ku bawa kan satu karung nanti!" sahut Gio sombong.
"Halah, memang nya kamu punya uang berapa?" sindir Lian.
"Cukuplah. Untuk membelikan mu berlian nanti," kata Gio bangga. Lian berdecih seolah tidak percaya perkataan pria yang memang gemar bergurau itu.
"Lang, jaga diri di sini. Jangan hubungi kami lagi kalau ada kejadian mengerikan seperti kemarin, oke?" pinta Adi dengan tampang yang dibuat sinis.
"Justru pemandangan di depanku sekarang, jauh lebih mengerikan," sindir Elang menatap mereka berdua. Adi dan Gio saling tatap tidak paham.
"Apa maksudmu? Aku dan Gio?"
"Kau pikir saja sendiri. Semoga kalian menemukan wanita baik dan sabar di sana."
Namun hanya beberapa detik kemudian mereka menarik nafas panjang dan melempar pandangan ke Elang dengan tatapan kesal.
"Kau pikir kami tidak normal?!" tukas Adi naik pitam setelah tau maksud kalimat tersebut.
Elang hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka berdua. "Awas saja kalau kami pulang nanti! Kuhajar kau!" ancam Adi ke Elang.
Elang pura - pura tidak mendengarkan dan tampak tidak peduli dengan ucapan Adi.
Akhirnya dua pria jagoan itu pergi naik pesawat ke sebuah tempat nun jauh di sana. Rasanya setelah semua kejadian yang mereka alami, mereka layak mendapatkan liburan ini.
Semua orang kembali ke rutinitas nya. Adi dan Gio kembali ke hobi mereka. Naik gunung dan melakukan traveling ke berbagai tempat. Sekalipun mereka sering bertengkar, tapi sebenarnya mereka cocok satu sama lain. Sebagai sahabat tentu nya, dan dengan cara berdebat atau berkelahi lah, bentuk kasih sayang mereka satu sama lain yang kerap mereka tunjukkan. Sungguh unik, tapi persahabatan yang seperti itu, justru akan berjalan lama dan awet.
Elang sudah menemukan gedung untuk memulai kembali perusahaan nya dari nol. Ia merekrut pegawai sebanyak banyaknya dibantu Lian. Satu bulan lagi Elang akan menikah dengan Shanum. Mengakhiri masa lajangnya dan membina sebuah rumah tangga yang sebenarnya tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
______
Sebuah pesan masuk ke dalam gawai milik Abimanyu. Ellea yang kemarin baru saja ia antar ke stasiun terdekat memberi kabar. Ia pulang ke rumah orang tuanya yang ada di ibukota. Ibunya sakit keras dan Ellea ingin menemani ibunya sekarang. Meninggalkan Abimanyu yang masih memutuskan tinggal di desa.
Abi berencana akan terus tinggal di desa. Baginya tidak ada yang lebih nyaman selain rumah. Ia sudah tidak merasa kehilangan seperti dulu. Karena Abi yakin kedua orang tuanya sudah berada di tempat yang jauh lebih baik.
Abi berencana membuka kedai kopi miliknya sendiri. Ia menceritakan rencananya itu pada sang paman, Elang. Dan sebelum pergi, Elang menggelontorkan uang yang tidak sedikit, lalu mengirimkan sebuah pesan pada Abimanyu. Notifikasi uang masuk ke dalam rekeningnya membuat Abi terhenyak. Karena itu bukan uang yang sedikit baginya.
[Ini adalah uang milikmu. Arya menyuruhku memberikan padamu saat umurmu sudah 30 tahun. Dan bukannya, besok kau akan berulang tahun?]
Pesan dari Elang itu membuat kedua sudut bibir Abi mengembang. Dalam hatinya, pamannya yang satu itu memang terkadang menyebalkan, tapi sering memberikan kejutan. Walau perusahaannya berantakan, tapi Elang tetap saja memiliki uang. Dia pintar dalam mengelola keuangan sejak muda.
[Jadi ini transferan uang darimu, Paman? Uang apa ini? Kau jangan membohongiku dengan membawa nama Ayah dan Ibu. Tapi terima kasih. Akhirnya aku benar benar akan membuka kedai kopi ku sendiri di desa. Jadi besok, kalau paman ada waktu luang, mampir lah untuk mencicipi kopi buatan ku.]
[Baguslah, Bi. Setidaknya kau juga harus meneruskan hidup. Aku tidak akan memaksamu untuk kembali ke kota. Asal kau juga harus sering berkunjung ke sini. Aku juga akan sering datang ke desa. Suasana nya sangat menyenangkan dan aku rindu suasana di sana sekarang.]
[Tentu saja, Paman. Lagipula kau akan sibuk nanti setelah menikah. Lebih baik, kau urus saja istrimu. Berhentilah menjadi pahlawan bumi.]
Elang tertawa di balik layar ponselnya. Pernikahan nya tinggal hitungan hari. Diumur yang tidak muda lagi, ia baru akan menikah. Sebenarnya Elang tidak ingin menikah, karena baginya ia sendiri tidak percaya pada pernikahan dan cinta sejati. Kedua orang tuanya telah bercerai sejak ia masih kecil. Ibunya menikah lagi, dan tak lama bercerai lagi. Elang bahkan dititipkan di panti asuhan karena ibunya telah berpindah ke Negera lain setelah menikah dengan warga negara asing.
Sejak kecil Elang hidup sendiri. Hal inilah yang membuat sikapnya dingin pada semua orang. Dan tidak mempercayai akan adanya cinta. Sebelum ia bertemu Shanum tentunya. Shanum gadis lemah lembut. Yang membuat Elang berubah pikiran. Sikap Shanum yang lembut dan tulus, membuat Elang merasa nyaman. Elang yang tidak pernah mendapat kasih sayang tulus, lantas luluh dengan sikap Shanum itu.
Dan lagi, rasa ingin melindungi terus Elang rasakan saat Shanum ada di dekatnya. Ia tidak mau hal buruk menimpa Shanum. Bahkan itu tidak rela jika Shanum tergores barang sedikit saja.
Begitulah cinta. Tuhan mempunyai cara sendiri untuk mempersatukan jodohnya. Cara yang unik dan di luar logika.
Abimanyu datang ke sebuah makam. Ada nama Arya dan Nayla di batu nisan itu. Ia membawa dua buket bunga. Kejadian demi kejadian membuatnya tidak menengok makam orang tuanya agak lama. Biasanya hampir setiap hari dia akan meluangkan waktu untuk datang ke sana.
Kini Abi duduk di depan makam mereka yang letaknya memang bersebalahan. Ia sudah berdoa untuk kedua orang tuanya. Berharap Tuhan memberikan tempat yang baik di sisi-NYA.
Banyak memori dalam ingatannya yang terlewat. Abi mengingat ingat perkataan Nayaka waktu itu. Kalau ayahnya lah yang telah membunuh ibu Nayaka. Abi tidak menyalahkan Arya karena memang tugas mereka membasmi Kalla. Tentu saja, Abi juga maklum kenapa Nayaka begitu membencinya.
Memori Abimanyu kembali. Suatu malam ... Saat umur Abi baru menginjak 15 tahun. Ia yang sedang makan malam bersama dengan ibunya mendadak terkejut karena kedatangan Arya yang kacau. Bajunya robek di beberapa tempat. Wajahnya terlihat luka-luka. Ah, bukan, lebih tepatnya terdapat bekas darah kering di beberapa sudut wajahnya. Namun tidak ada tanda-tanda luka ataupun memar di mana pun.
"Sayang? Kamu kenapa?" pekik Nayla lalu menghampiri suaminya. "Aku baik-baik saja. Aku mandi dulu, ya." Arya segera pergi ke kamar mandi. Sementara wajah Nayla terlihat cemas.
Selesai makan, Abimanyu kembali ke kamarnya. Arya dan Nayla juga sudah masuk ke kamar. Tapi rasa penasaran terus menggerogoti pikiran Abi. Ia kerap melihat ayahnya pulang dengan keadaan seperti tadi. Dan dia sendiri tidak pernah mendapat jawaban apa pun. Banyak hal yang orang tuanya tutupi dari Abi.
Abimanyu menguping pembicaraan kedua orang tuanya.
"Jadi bagaimana mereka sekarang?"
"Jumlah mereka makin banyak. Desa kita sudah disusupi makhluk itu. Nay, kamu harus hati-hati. Bahkan kalau bisa, tetap di rumah."
"Hm, iya sayang. Tapi apa kita akan terus menerus bersembunyi? Sementara tidak mungkin kita terus diam kan, Ya?"
"Hm, iya, Nay. Aku memang harus bertindak. Jika ucapan Wira benar, berarti aku harus segera mencari anak iblis itu."
"Apa Wira memberi tau, di mana anak keturunan iblis itu berada?"
"Yah, di kota. Aku sudah memperingatkan Elang dan Adi agar berhati-hati."
"Bagaimana dengan Gio?"
"Jangan sampai dia tau. Biar saja Gio di sana. Kita tidak boleh menariknya ke pusaran masalah ini."
"Sayang? Aku takut. Aku takut dia mendatangi rumah kita. Dan melukai Abi."
"Maka aku akan membunuhnya terlebih dahulu."
Percakapan singkat itu kembali terlintas di ingatan Abi. Matanya berkaca-kaca sambil menatap dua batu nisan di hadapannya.
Abimanyu baru sadar, kalau kedua orang tuanya berusaha sekuat tenaga membunuh Kalla dan pengikutnya sejak dulu. Itulah alasan kenapa Arya sangat sibuk dan jarang ada di rumah. Itu juga alasan kenapa Nayla terus melatih ilmu bela diri Abi. Agar Abi mampu bertahan jika mendapat serangan dari Kalla suatu saat nanti.
"Kamu harus bisa jaga diri, Nak. Dunia tidak seindah apa yang ada di pikiranmu. Banyak hal buruk yang mengintai kita semua. Pergunakan lah apa yang sudah Ayah dan ibu ajarkan dengan sebaik mungkin. Terus bantu sesama dan tetap berbuat baik." kalimat itu adalah kalimat terakhir saat malam meninggal nya Arya dan Nayla. Malam itu, Abi menjadi yatim piatu di waktu yang bersamaan. Sungguh miris dan tragis.
"Ayah, ibu ... Aku berhasil. Aku berhasil membunuh mereka semua. Sekarang ayah dan ibu harus bahagia di sana." Abimanyu menitikan air mata. Ia bahagia bercampur sedih. Rasanya ingin agar keluarga nya utuh kembali. Tapi itu jelas tidak mungkin.
Sekalipun Kalla maupun Black demon sudah musnah, Abi dan yang lainnya selalu siap jika ada musuh baru yang mengancam umat manusia. Mereka memang bukan pahlawan, tapi setidaknya mereka harus bisa melindungi bumi karena di sini lah mereka tinggal. Di tempat ini lah mereka hidup. Ancaman sekecil apa pun harus mereka waspadai. Sekalipun kelompok mereka sudah terpisah-pisah, tapi rasa persaudaraan mereka terus ada. Setidaknya mereka pernah melewati masa sulit bersama, berjuang bersama, terluka, menangis, bahkan tertawa bersama. Memori itu akan terus mereka kenang sampai akhir hayat.
Keputusan Abi untuk kembali ke desa sudah ia pikirkan matang-matang. Desa jauh lebih menyenangkan. Karena jiwanya lebih menyukai alam. Abi suka berada di pantai, bahkan gunung. Udara di desanya jauh lebih segar timbang udara di kota. Dan disini lah, Abi kembali memulai kisah nya.
______________________________________
Sebuah cafe dengan nuansa kayu di sebagian besar furniturenya sudah mulai ramai pengunjung. Seorang pemuda sedang sibuk membuat kopi di depan mesin espresso miliknya. Celemek tak lupa ia kenakan dan juga topi hitam dengan bordiran nama cafe ini. "Pancasona" Entah kenapa Abimanyu memakai nama pancasona sebagai nama cafe milik nya.
Cafe ini sudah hampir 6 bulan berdiri. Kopi buatan Abimanyu sudah terkenal di penjuru desa bahkan desa tetangga. Ia bahkan sudah memiliki dua orang pegawai kepercayaan dan 3 karyawan baru.
"Paman, kalian lihat laki-laki itu?" tunjuk Abimanyu kepada dua pegawai kepercayaan nya.
"Yang mana?" sahut Gio langsung menoleh ke belakang dengan sikap santai.
"Kau ini! Bodoh sekali. Jangan langsung mencarinya, Idiot! Dia akan curiga," omel Adi dengan memukul kepala Gio dengan celemek.
"Hei! Kain itu bukan, kah, bekas mengelap meja kotor tadi?"
"Memang. Lalu kenapa? Hah?" tantang Adi. Abimanyu yang melihat pertikaian dua orang di depan nya segera melerai. Ia mendorong Adi ke samping kiri dan menggeser Gio ke samping kanan. Entah sampai kapan mereka akan terus bertengkar seperti ini. Tapi tanpa mereka berdua, hidup Abi rasanya akan sepi.
Tiba-tiba pria yang dimaksud Abi justru beranjak dari mejanya. Membayar pesanan tadi di kasir.
"Ridwan!" panggil sang empunya cafe pada salah satu karyawan baru nya.
Ridwan baru bekerja dua minggu di cafe ini. Dia baru saja lulus dari bangku sekolah menengah atas. Sedang mengumpulkan rupiah untuk biaya kuliahnya kelak. Orang tuanya adalah termasuk keluarga yang sederhana. Mereka memiliki sebidang tanah untuk menggarap sawah sebagai mata pencaharian keluarga. Tapi Ridwan adalah anak yang rajin dan penuh semangat. Karena itulah Abi mempekerjakannya.
"Kenapa, Bang?" tanya Ridwan, tubuhnya membungkuk sedikit. Menunjukkan kalau dia adalah pemuda yang penuh sopan santun.
"Kamu tau siapa dia? Kenapa wajahnya asing? Dia bukan warga desa kita, kan?" Abi menunjuk ke arah pria yang ditaksir berumur 40 tahunan itu. Setelah membayar bill miliknya, Ia kini menaiki mobil pick up warna orange.
"Oh dia? Itu Pak Andrew. Dia baru pindah ke desa ini, Bang. Rumah Nenek Listi yang ada di ujung hutan sana, dijual. Pak Andrew pembelinya. Katanya dia pengen hidup di desa lagi. Kehidupan kota bikin dia nggak tenang." Ridwan menunjuk ke arah hutan yang memang jarang ada rumah penduduk. Nenek Listi baru meninggal sebulan lalu. Anak-anaknya tinggal di kota jadi mereka memutuskan untuk menjual rumah itu.
"Nggak tenang kenapa?"
"Denger-denger anaknya meninggal. Karena dibunuh. Terus dia depresi, sampai-sampai dia dipecat dari kantornya."
"Memangnya apa pekerjaan nya?"
"Dulu dia polisi."
"Polisi?"
"Oh," sahut Adi ikut menyimak pembicaraan itu.
"Kasian." Gio hanya menatap pria yang sedang mereka bicarakan, yang mulai menjauh pergi.
_____
Malam ini cafe agak sepi pengunjung. Hujan deras turun sejak sore hari. Hanya ada beberapa orang saja yang bertandang ke Cafe Pancasona.
Abimanyu sedang mengelap meja barista. Menatap jendela cafe yang masih meninggalkan titik air hujan yang menempel di kaca. Pikiran nya menerawang ke gadis pujaan nya. Ellea lama tidak memberikan kabar. Abi berusaha maklum karena pasti dia sedang sibuk mengurus orang tuanya. Bahkan kabar terakhir mengatakan kalau Ellea pindah ke Jerman. Ia makin jauh dari gadis itu. Abi hanya bisa diam dan pasrah.
Tiba-tiba perhatian nya tertuju pada seseorang yang kini sedang berjalan di depan cafe nya. Wajah nya berdarah. Bola matanya keluar dan ia mengenal orang itu. "Cindy?" gumamnya dengan pertanyaan yang hanya ia sendiri yang mendengarnya.
Sudah sejak beberapa hari ini, Abi sering melihat hal-hal aneh yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Sejak ia sering bermimpi buruk, Abi justru sering melihat sosok sosok yang bergentayangan di sekitarnya.
"Ridwan!"
Ridwan yang hendak pergi ke dapur membawa piring kotor, mendekat. "Kenapa, Bang?"
"Cindy itu masih sekolah?"
"Cindy? Cindy ... Yang mana, Bang?"
"Bukannya adikmu deket sama Cindy?"
"Ooh, Cindy itu? Cindy dan Maya beda tingkat, Bang. Cindy kakak kelas Maya."
"Oh gitu," sahut Abi berusaha menutupi kegugupan nya. Kini Cindy sedang berdiri di hadapan mereka. Pembicaraan ini justru membuat sosok itu mendekat.
"Memangnya kenapa, Bang?"
Abi hanya tersenyum. "Pulang sana!"
"Tapi, Bang?"
"Besok lagi aja kamu kerjain. Mukamu udah capek. Sana pulang!" kata Abi setengah memaksa. Wajah Ridwan terlihat sumringah. Sebenarnya tubuhnya memang sudah lelah. Dan malam ini ia ingin makan malam dengan keluarganya. Dia menolak makanan yang diberikan Abi karena ingin makan di rumah.
Pegawai Abimanyu sudah pulang semua. Tinggal dirinya, Adi dan Gio saja. Adi dan Gio memang memutuskan tetap bersama Abi, karena sumpah janji mereka pada Arya dan Nayla. Sekalipun Abi susah dewasa, tapi mereka merasa kalau Abi masih menjadi tanggung jawab mereka berdua. Dan lagi, mereka juga tidak memiliki tujuan hidup lain. Berbeda dengan Vin dan Elang.
Mereka bertiga tengah menikmati secangkir kopi ditemani cemilan buatan Ridwan tadi. Beginilah kegiatan tiga pria jomblo itu saat cafe sudah tutup. Abi masuk dalam katagori jomblo, karena kini sedang berjauhan dengan Ellea. Tidak memiliki pasangan. Begitulah versi jomblo yang ada di benak mereka. Beberapa lampu sudah dimatikan, pintu cafe juga sudah dipasang papan bertuliskan "close".
"Paman ...."
"Apa?" sahut Adi dan Gio bersamaan.
"Aku ngeliat itu lagi."
"Itu? Itu apa?"tanya Gio yang kini penasaran.
"Setan?" sahut Adi dengan pertanyaan yang wajar. Pembicaraan ini memang sudah Abi bahas beberapa kali. Tentang matanya yang kini dapat melihat hal-hal aneh di sekitarnya.
Adi mendekatkan wajahnya ke Abimanyu. Menatap dua bola mata itu lekat-lekat.
"Paman? Kenapa?" tanya Abi memundurkan tubuhnya karena takut melihat sikap Adi yang tiba-tiba.
"Kenapa matamu jadi aneh?"
"Mungkin ini yang namanya mata ketiga Abi terbuka. Apa sebutannya, ya? In ... In ...."
"Indigo?" sahut Abimanyu yang sudah familiar dengan kata itu.
"Tapi kenapa baru sekarang coba?"
"Ya mana gue tau?!" cetus Gio sebal.
"Eh, kamu lihat siapa sekarang?" Adi yang baru sadar arah pembicaraan ini mulai penasaran dengan arwah yang Abi lihat. Karena tidak mungkin Abi membahas hal ini jika ia tidak sedang mengalami hal aneh.
"Eum ...." Abi menatap ke samping Adi dan Gio. Sosok Cindy ada diantara mereka. Mereka berdua yang menyadari tatapan itu ada di antara mereka, segera menyingkir.
"Sial!"
"Pantes aja merinding!"
Mereka berdua segera meletakan cangkir kopi dan mengajak Abi pulang.
_____
Rumah Abi kini menjadi tempat bernaung dua pria itu juga. Adi dan Gio. Abi tidak merasa keberatan karena dengan adanya dua pamannya itu, maka dirinya tidak lagi kesepian. Hubungannya dengan Ellea bagai tidak ada kejelasan. Bahkan bisa dibilang kalau Ellea meninggalkan Abi tanpa kejelasan. Atau, entahlah. Abi tidak ingin mengingat hal itu lagi.
Hujan mulai mengguyur desa. Petir menggelegar membuat getaran yang cukup keras. Beberapa perabot bahkan bergerak membuat tidur mereka makin lelap. Adi menarik selimutnya rapat-rapat. Sementara Gio menutup telinganya dengan bantal. Mereka tidur di kamar masing-masing dengan kondisi lampu yang padam. Listrik mati sejak satu jam lalu. Mungkin karena hujan yang cukup deras ini.
Sekalipun Abi sering melihat makhluk halus, tapi dia tidak pernah berinteraksi langsung. Bahkan menanyakan kepentingan mereka pun tidak. Baginya dunianya dan makhluk itu berbeda. Abi lebih banyak menghindar daripada penasaran. Hanya saja malam ini ia tidak bisa tidur nyenyak. Karena bayangan Cindy yang terus mengusik pikirannya. Ia tau, kalau Cindy sudah meninggal. "Dia sudah meninggal atau akan meninggal, ya? Kenapa kondisinya hancur? Apa kecelakaan?" ia berdiskusi dengan pikirannya sendiri. Walau ia terus berusaha cuek, tapi rasa penasaran terus mengusiknya.
Perlahan mata Abi mulai berat. Ia juga cukup lelah karena mengurus cafe seharian ini. Abimanyu pun terlelap. Tak peduli lagi derasnya hujan dan Sambaran petir. Bahkan sosok yang mengintip di jendela kamarnya. Dengkuran Abi mulai terdengar nyaring. Hingga ia masuk ke dalam alam mimpi.
_____
"Pagi semua," sapa Abimanyu yang baru saja keluar dari kamarnya. Wajahnya masih lusuh, khas orang baru bangun tidur.
Dua orang pamannya diam seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa sih?"
Ditangan Gio ada koran pagi yang memang selalu datang sebelum mereka bangun. "Baca." Gio menyodorkan koran itu dengan membuka halaman utama.
"Apa ini?"
Abimanyu langsung melihat foto gadis yang terpampang di sana. "Cindy?"
"Iya, dia meninggal semalam. Dibunuh!" bisik Adi serius.
"Bi? Kamu semalem ke mana?"
Abimanyu melirik ke arah dua pria di depannya bergantian. "Hei! Paman nuduh aku yang bunuh dia?" jerit Abi tidak terima.
"Habisnya, baru kemarin malam kamu bahas dia, tiba-tiba dia masuk koran. Lihat judulnya. 'Seorang siswi SMU ditemukan meninggal dengan tidak wajar' itu aneh, Bi!"
"Ck. Kalian! Jadi kalian anggep aku yang bunuh dia?"
Gio dan Adi langsung tertawa. "Becanda, Bi."
"Eh tapi, aneh, ya. Dia jelas dibunuh, kan?"
"Iya, pasti. Ini pertama kalinya desa geger karena penemuan mayat."
"Eh, Bi, kamu nggak bisa ngbrol sama arwah Cindy? Dia mati kenapa gitu?" cecar Gio.
Abi diam. Selama ia bertemu arwah manapun, tidak ada satu pun yang bisa ia ajak berbicara. Mereka hanya menampakan diri dan menghilang tak lama setelah itu. Abimanyu menggeleng pelan. "Aku mandi dulu."
_____
obdiamond dan 8 lainnya memberi reputasi
9