- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.5K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#10
Spoiler for 9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1):
“Bangun...”
Ali membuka matanya secara perlahan, ia berkedip beberapa kali hingga fokusnya kembali. Di hadapannya sudah ada Anggi yang sedang menatapnya dengan jarak yang cukup dekat. Anggi mencium bibir Ali singkat, ia kembali menatapnya seraya tersenyum.
“...selamat pagi.” Sapa Anggi.
“Pagi.” Jawabnya singkat.
“Kamu mau tidur seharian?” Tanya Anggi.
“Kayaknya iya, mumpung libur.” Jawab Ali.
“Ngga boleh...” Anggi kembali mencium Ali, “kamu harus bangun sekarang.”
“Mau ngapain?” Tanya Ali heran.
“Aku mau ajak kamu pergi.” Ucap Anggi.
“Pergi? Mau ke mana pagi-pagi begini? Jangan bilang perjalanan berjam-jam? Mau ke pantai? Apa kamu mau ke gunung?” Tanya Ali bertubi-tubi.
“Mulai deh banyak nanya...”
Anggi menyentil dahi Ali pelan.
“...pokoknya sekarang kamu bangun, kita sarapan dulu abis itu kita pergi. Kalau kamu ngga mau, aku pergi sendiri.” Ucap Anggi.
Ali pun bangun dari tidurnya, sementara Anggi berlalu menuju kamar mandi. Ali beranjak dari kasur dan ikut masuk ke dalam kamar mandi. Mereka sempat beradu pandang lewat cermin, senyuman pun beradu di antara mereka.
Anggi mengenakan penyeka rambut untuk menjaga rambutnya agar tidak basah, Ali berdiri di sampingnya. Mereka mengambil sikat gigi masing-masing dan menaruh pasta gigi, kegiatan menyikat gigi bersama-sama menjadi awal pada pagi hari ini.
Kegiatan sikat gigi selesai, Anggi mengambil pembersih wajah dari botolnya. Ia meletakkan sedikit di tangannya lalu menggosok-gosok hingga berbusa, kemudian ia mengusap wajahnya. Ali hanya menatapnya dalam diam, sampai akhirnya mereka beradu pandang dan kembali saling melempar senyum.
Anggi membasuh wajahnya dengan air mengalir, ia kembali menatap cermin setelah tidak ada lagi busa yang tertinggal. Ia pun menatap Ali yang sudah terlebih dahulu menatapnya. Ali mendekatkan wajahnya lalu mencium Anggi. Tangan Anggi mengalung pada leher Ali, gairah sedikit muncul sekalipun di awal hari. Mereka kembali beradu pandang setelah itu, Anggi mengecup bibir Ali singkat.
“Kamu mau sarapan apa?” Tanya Anggi.
“Apa aja.” Jawabnya singkat.
“Roti lapis mau?” Tanya Anggi.
“Pakai telur.” Ucap Damar.
“Pakai selada.” Lanjut Anggi.
“Mayo.” Sambut Ali.
“Sedikit saus.” Ucap Anggi.
“Lada hitam.” Lanjut Ali.
“Lapis mentega.” Sambut Anggi.
“Sempurna.” Sahut Ali.
Mereka kembali tersenyum untuk menyudahi sambung kata di dalam kamar mandi. Mereka pun keluar dari kamar mandi, Anggi menuju dapur di lantai bawah sementara Ali menuju meja untuk mengambil ponselnya.
Tidak ada yang menarik di sana, ia kembali meletakkan ponselnya lalu berjalan menghampiri Anggi yang ada di bawah. Setibanya di bawah, Anggi sudah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka.
“Loh, udah selesai?” Tanya Ali.
“Udah dong.” Jawabnya.
Anggi membawa piring tersebut ke meja makan. Mereka pun mulai sarapan seraya menyaksikan kartun yang ditayangkan di televisi. Beberapa saat berlalu setelah sarapan selesai, Anggi kembali datang ke dalam kamar.
“Ayo kamu ganti baju yang rapi.” Ucap Anggi.
“Kita mau ke mana sih?” Tanya Ali penasaran.
‘Udah kamu ikutin aku aja.” Jawabnya.
Ali hanya bisa mengikuti perintah Anggi sekalipun ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan olehnya. Ali menyelaraskan pakaiannya dengan apa yang dikenakan Anggi. Mereka pun keluar dari kamar menuju halaman depan, Ali memanaskan mesin mobil sementara Anggi mengunci pintu rumah. Anggi pun masuk ke dalam mobil lalu mengenakan sabuk pengaman, ia pun menyalakan pemutar musik sesuai dengan pilihannya.
“Aku harus ke mana nih?” Tanya Ali.
“Lurus aja dulu.” Jawabnya.
Ali mengemudikan mobilnya sesuai dengan arahan Anggi. Tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang di pagi akhir pekan ini, hingga membuat mereka tiba lebih cepat jika dibandingkan hari biasa. Mobil masuk ke dalam sebuah kawasan, Ali pun memarkirkan mobilnya.
Anggi keluar dari mobil terlebih dahulu, Ali pun menyusul kemudian dengan masih bertanya-tanya. Ia mendekat ke arah Anggi seraya menyalakan sebatang rokok.
“Ini tempat apa ya?” Tanya Ali.
Anggi menunjuk ke salah satu arah untuk menjawab pertanyaan Ali. Dengan menegaskan pandangannya, Ali mencoba membaca papan nama tempat ini yang terbuat dari pahatan batu.
“Yayasan Asuh Harapan...”
Ekspresi Ali berubah terkejut, ia pun menatap Anggi dengan cepat.
“...loh, kok ke sini? Kamu... serius?” Tanya Ali.
Anggi mengangguk seraya tersenyum, Ali menjatuhkan rokoknya lalu memeluk Anggi dengan erat. Ia merasa bahagia dengan apa yang dilakukan oleh Anggi.
“Kamu beneran mau?” Tanya Ali.
“Iya, aku mau kok...”
Anggi melepas pelukannya.
“...setelah aku pikir-pikir, seru deh ada satu orang lagi di rumah. Bisa jadi temen nonton bola kamu, bisa juga nemenin aku kalau kamu lagi sibuk.” Jawabnya.
“Makasih ya.” Ucap Ali.
Ali mengecup bibir Anggi singkat, dan akhirnya mereka pun masuk ke dalam bangunan yang cukup besar itu. Setibanya di pintu gerbang, ada seseorang yang nampak sudah siap dengan kedatangan mereka.
“Selamat pagi Bu Anggi...”
Ia menjabat tangan Anggi dan juga Ali.
“...Selamat pagi Pak Ali. Perkenalkan saya Anita, yang akan menemani Ibu dan Bapak sekalian untuk berkeliling di Yayasan Asuh Harapan.” Sapanya.
“Terima kasih. Istri saya udah buat janji ya?” Tanya Ali.
“Betul sekali Pak, mari silahkan.” Ucap Anita.
Mereka sempat beradu senyum satu sama lain, sampai akhirnya Ali dan Anggi mengikuti Anita dari belakang. Ada beberapa bangunan bertingkat dengan warna cerahnya yang mengelilingi lapangan basket dan lapangan futsal, terlihat banyak anak-anak yang sedang melakukan aktifitas dengan lincahnya.
“Yayasan ini berdiri tepat sepuluh tahun lalu, di mana para pendiri menyatukan visi mereka untuk menolong anak-anak yang membutuhkan pertolongan...”
Mereka berhenti di luar lapangan basket.
“...berawal dari dua anak yang diberikan pertolongan, hingga akhirnya sampai saat ini sudah ada seratus anak yang terdaftar di yayasan ini. Salah satu dari dua anak pertama yang diberikan pertolongan adalah saya...”
Anggi dan Ali pun dibuat kagum dengan Anita.
“...sebagai bentuk terima kasih saya, akhirnya saya juga membantu yayasan ini di bidang yang saya kuasai, seperti yang saya lakukan sekarang. Mari kita ke atas untuk melihat-lihat kegiatan lain.” Ucap Anita.
Ali dan Anggi mengikuti ke mana Anita akan membawa mereka. Beberapa langkah menaiki anak tangga, mereka melihat sebuah ruangan yang sedang melakukan aktifitas menggambar dan mewarnai. Beberapa anak sedang fokus mengisi warna di dalam gambar yang tersedia, Ali nampak tertarik dengan kegiatan itu.
“Menggambar dan mewarnai menjadi salah satu aspek penting di yayasan, dimana anak-anak diajarkan untuk mengasah kreatifitas mereka tanpa adanya batasan...”
Mereka berlalu menuju ruang berikutnya, dimana beberapa anak sedang membacakan apa yang mereka tuliskan di secarik kertas di depan kelas. Anggi pun menarik minatnya pada kegiatan ini.
"...sementara di ruangan ini, anak-anak mengembangkan ekspresinya dengan menuliskan apa yang mereka mau dan membacanya sesuai dengan apa yang mereka rasakan...”
Ruangan berikutnya adalah kantin tempat mereka makan, saat ini masih kosong dan hanya diisi oleh petugas yang mempersiapkan makan mereka.
“...dan di sini mereka jika sudah kehabisan tenaga, layaknya anak-anak pada umumnya." Jelas Anita.
Anggi dan Ali dibuat antusias dengan apa yang ada di yayasan ini. Anita mengajak mereka ke ruangan paling ujung, di mana ada beberapa anak berumur kurang dari satu tahun yang tertidur dengan lelapnya. Ada beberapa dari mereka yang sedang digendong oleh petugas karena menangis.
“Mereka umur berapa?” Tanya Anggi.
“Kurang dari satu tahun. Mungkin di antara semua anak yang ada di sini, ruangan ini yang sedikit memilukan. Di mana cukup banyak anak-anak seumuran mereka yang ditinggal oleh orang tuanya, baik ketika orang tuanya mati ataupun membuang mereka dengan sengaja.” Jelas Anita.
“Astaga, jahat banget.” Sahut Ali.
“Hidup semenarik itu, orang bisa berbuat apa saja tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Egois bisa dikatakan sebagai nama tengah kita semua.” Jawab Anita.
Akhirnya mereka diajak masuk ke kantor dari yayasan ini. Anggi dan Ali pun duduk berhadapan dengan Anita. Datang petugas lain yang membawakan teh hangat yang diletakkan di atas meja untuk mereka.
“Makasih ya...” Anita menatap mereka, “jadi bagaimana tanggapan Ibu dan Bapak setelah berkeliling di yayasan kami?”
“Mungkin istri saya yang menjawab.” Ucap Ali.
Anggi menghela nafasnya, “Awalnya saya sama sekali ngga kepikiran untuk punya anak, sekalipun suami saya selalu mengingatkan. Sampai akhirnya saya tersadar akan umur yang terus bertambah, dan semangat suami saya akan anak. Tanpa ia ketahui, saya melakukan riset terhadap beberapa yayasan. Pilihan saya jatuh ke yayasan ini, dan saya semakin yakin setelah datang langsung ke sini.”
“Memang tidak ada yang tau kapan kita bisa merubah pikiran kita, tiba-tiba saja berubah begitu saja seperti yang Ibu rasakan. Kalau begitu, mungkin Bapak dan Ibu bisa bercerita mengenai kegiatan masing-masing agar saya bisa merekomendasikan anak yang bisa kalian asuh.” Ucap Anita.
“Latar belakang kami disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, seperti istri saya sebagai pembawa acara berita di salah satu siaran televisi.” Ucap Ali.
“Tentu saja kami semua kenal dengan Bu Anggi...”
Anggi tersenyum menanggapi ucapan itu.
“...bagaimana dengan Pak Ali?” Tanya Anita.
“Kalau menurut saya, suami saya lebih sibuk dari saya. Pekerjaannya membutuhkan waktu yang lebih, bahkan ketika akhir pekan. Beruntung jika dia bisa libur di akhir pekan seperti saat ini.” Jelas Anggi.
Anita menganggukkan kepala beberapa kali, tangannya membuka laci meja untuk mengambil beberapa lembar kertas.
“Setelah mendengar latar belakang Bapak dan Ibu, saya ada beberapa rekomendasi untuk kalian...”
Anita meletakkan kertas-kertas itu di atas meja.
“...ada beberapa anak yang sesuai dengan cerita kalian, mungkin kalian bisa melihat-lihat dahulu sebelum menentukan pilihan.” Ucap Anita.
Anggi mengambil beberapa lembar kertas, Ali pun mengambil sisanya. Mereka mulai melihat dengan seksama data-data yang ada di kertas tersebut. Lembar demi lembar mereka lihat secara bergantian, akhirnya mereka kembali meletakkan lembar-lembar kertas itu di atas meja.
“Bagaimana Ibu dan Bapak?” Tanya Anita.
“Saya dan istri akan mengambil kertas secara bersamaan...” Ali menatap Anggi, “kamu siap?”
Anggi menganggukkan kepala, “Satu, dua, tiga!”
Tanpa diduga, mereka mengambil kertas yang sama di antara banyaknya kertas yang ada di atas meja. Ali dan Anggi pun juga terkejut dengan apa yang mereka putuskan, Anita juga dibuat takjub dengan apa yang dia saksikan.
“Serius nih?” Tanya Ali.
Ali membuka matanya secara perlahan, ia berkedip beberapa kali hingga fokusnya kembali. Di hadapannya sudah ada Anggi yang sedang menatapnya dengan jarak yang cukup dekat. Anggi mencium bibir Ali singkat, ia kembali menatapnya seraya tersenyum.
“...selamat pagi.” Sapa Anggi.
“Pagi.” Jawabnya singkat.
“Kamu mau tidur seharian?” Tanya Anggi.
“Kayaknya iya, mumpung libur.” Jawab Ali.
“Ngga boleh...” Anggi kembali mencium Ali, “kamu harus bangun sekarang.”
“Mau ngapain?” Tanya Ali heran.
“Aku mau ajak kamu pergi.” Ucap Anggi.
“Pergi? Mau ke mana pagi-pagi begini? Jangan bilang perjalanan berjam-jam? Mau ke pantai? Apa kamu mau ke gunung?” Tanya Ali bertubi-tubi.
“Mulai deh banyak nanya...”
Anggi menyentil dahi Ali pelan.
“...pokoknya sekarang kamu bangun, kita sarapan dulu abis itu kita pergi. Kalau kamu ngga mau, aku pergi sendiri.” Ucap Anggi.
Ali pun bangun dari tidurnya, sementara Anggi berlalu menuju kamar mandi. Ali beranjak dari kasur dan ikut masuk ke dalam kamar mandi. Mereka sempat beradu pandang lewat cermin, senyuman pun beradu di antara mereka.
Anggi mengenakan penyeka rambut untuk menjaga rambutnya agar tidak basah, Ali berdiri di sampingnya. Mereka mengambil sikat gigi masing-masing dan menaruh pasta gigi, kegiatan menyikat gigi bersama-sama menjadi awal pada pagi hari ini.
Kegiatan sikat gigi selesai, Anggi mengambil pembersih wajah dari botolnya. Ia meletakkan sedikit di tangannya lalu menggosok-gosok hingga berbusa, kemudian ia mengusap wajahnya. Ali hanya menatapnya dalam diam, sampai akhirnya mereka beradu pandang dan kembali saling melempar senyum.
Anggi membasuh wajahnya dengan air mengalir, ia kembali menatap cermin setelah tidak ada lagi busa yang tertinggal. Ia pun menatap Ali yang sudah terlebih dahulu menatapnya. Ali mendekatkan wajahnya lalu mencium Anggi. Tangan Anggi mengalung pada leher Ali, gairah sedikit muncul sekalipun di awal hari. Mereka kembali beradu pandang setelah itu, Anggi mengecup bibir Ali singkat.
“Kamu mau sarapan apa?” Tanya Anggi.
“Apa aja.” Jawabnya singkat.
“Roti lapis mau?” Tanya Anggi.
“Pakai telur.” Ucap Damar.
“Pakai selada.” Lanjut Anggi.
“Mayo.” Sambut Ali.
“Sedikit saus.” Ucap Anggi.
“Lada hitam.” Lanjut Ali.
“Lapis mentega.” Sambut Anggi.
“Sempurna.” Sahut Ali.
Mereka kembali tersenyum untuk menyudahi sambung kata di dalam kamar mandi. Mereka pun keluar dari kamar mandi, Anggi menuju dapur di lantai bawah sementara Ali menuju meja untuk mengambil ponselnya.
Tidak ada yang menarik di sana, ia kembali meletakkan ponselnya lalu berjalan menghampiri Anggi yang ada di bawah. Setibanya di bawah, Anggi sudah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka.
“Loh, udah selesai?” Tanya Ali.
“Udah dong.” Jawabnya.
Anggi membawa piring tersebut ke meja makan. Mereka pun mulai sarapan seraya menyaksikan kartun yang ditayangkan di televisi. Beberapa saat berlalu setelah sarapan selesai, Anggi kembali datang ke dalam kamar.
“Ayo kamu ganti baju yang rapi.” Ucap Anggi.
“Kita mau ke mana sih?” Tanya Ali penasaran.
‘Udah kamu ikutin aku aja.” Jawabnya.
Ali hanya bisa mengikuti perintah Anggi sekalipun ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan olehnya. Ali menyelaraskan pakaiannya dengan apa yang dikenakan Anggi. Mereka pun keluar dari kamar menuju halaman depan, Ali memanaskan mesin mobil sementara Anggi mengunci pintu rumah. Anggi pun masuk ke dalam mobil lalu mengenakan sabuk pengaman, ia pun menyalakan pemutar musik sesuai dengan pilihannya.
“Aku harus ke mana nih?” Tanya Ali.
“Lurus aja dulu.” Jawabnya.
Ali mengemudikan mobilnya sesuai dengan arahan Anggi. Tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang di pagi akhir pekan ini, hingga membuat mereka tiba lebih cepat jika dibandingkan hari biasa. Mobil masuk ke dalam sebuah kawasan, Ali pun memarkirkan mobilnya.
Anggi keluar dari mobil terlebih dahulu, Ali pun menyusul kemudian dengan masih bertanya-tanya. Ia mendekat ke arah Anggi seraya menyalakan sebatang rokok.
“Ini tempat apa ya?” Tanya Ali.
Anggi menunjuk ke salah satu arah untuk menjawab pertanyaan Ali. Dengan menegaskan pandangannya, Ali mencoba membaca papan nama tempat ini yang terbuat dari pahatan batu.
“Yayasan Asuh Harapan...”
Ekspresi Ali berubah terkejut, ia pun menatap Anggi dengan cepat.
“...loh, kok ke sini? Kamu... serius?” Tanya Ali.
Anggi mengangguk seraya tersenyum, Ali menjatuhkan rokoknya lalu memeluk Anggi dengan erat. Ia merasa bahagia dengan apa yang dilakukan oleh Anggi.
“Kamu beneran mau?” Tanya Ali.
“Iya, aku mau kok...”
Anggi melepas pelukannya.
“...setelah aku pikir-pikir, seru deh ada satu orang lagi di rumah. Bisa jadi temen nonton bola kamu, bisa juga nemenin aku kalau kamu lagi sibuk.” Jawabnya.
“Makasih ya.” Ucap Ali.
Ali mengecup bibir Anggi singkat, dan akhirnya mereka pun masuk ke dalam bangunan yang cukup besar itu. Setibanya di pintu gerbang, ada seseorang yang nampak sudah siap dengan kedatangan mereka.
“Selamat pagi Bu Anggi...”
Ia menjabat tangan Anggi dan juga Ali.
“...Selamat pagi Pak Ali. Perkenalkan saya Anita, yang akan menemani Ibu dan Bapak sekalian untuk berkeliling di Yayasan Asuh Harapan.” Sapanya.
“Terima kasih. Istri saya udah buat janji ya?” Tanya Ali.
“Betul sekali Pak, mari silahkan.” Ucap Anita.
Mereka sempat beradu senyum satu sama lain, sampai akhirnya Ali dan Anggi mengikuti Anita dari belakang. Ada beberapa bangunan bertingkat dengan warna cerahnya yang mengelilingi lapangan basket dan lapangan futsal, terlihat banyak anak-anak yang sedang melakukan aktifitas dengan lincahnya.
“Yayasan ini berdiri tepat sepuluh tahun lalu, di mana para pendiri menyatukan visi mereka untuk menolong anak-anak yang membutuhkan pertolongan...”
Mereka berhenti di luar lapangan basket.
“...berawal dari dua anak yang diberikan pertolongan, hingga akhirnya sampai saat ini sudah ada seratus anak yang terdaftar di yayasan ini. Salah satu dari dua anak pertama yang diberikan pertolongan adalah saya...”
Anggi dan Ali pun dibuat kagum dengan Anita.
“...sebagai bentuk terima kasih saya, akhirnya saya juga membantu yayasan ini di bidang yang saya kuasai, seperti yang saya lakukan sekarang. Mari kita ke atas untuk melihat-lihat kegiatan lain.” Ucap Anita.
Ali dan Anggi mengikuti ke mana Anita akan membawa mereka. Beberapa langkah menaiki anak tangga, mereka melihat sebuah ruangan yang sedang melakukan aktifitas menggambar dan mewarnai. Beberapa anak sedang fokus mengisi warna di dalam gambar yang tersedia, Ali nampak tertarik dengan kegiatan itu.
“Menggambar dan mewarnai menjadi salah satu aspek penting di yayasan, dimana anak-anak diajarkan untuk mengasah kreatifitas mereka tanpa adanya batasan...”
Mereka berlalu menuju ruang berikutnya, dimana beberapa anak sedang membacakan apa yang mereka tuliskan di secarik kertas di depan kelas. Anggi pun menarik minatnya pada kegiatan ini.
"...sementara di ruangan ini, anak-anak mengembangkan ekspresinya dengan menuliskan apa yang mereka mau dan membacanya sesuai dengan apa yang mereka rasakan...”
Ruangan berikutnya adalah kantin tempat mereka makan, saat ini masih kosong dan hanya diisi oleh petugas yang mempersiapkan makan mereka.
“...dan di sini mereka jika sudah kehabisan tenaga, layaknya anak-anak pada umumnya." Jelas Anita.
Anggi dan Ali dibuat antusias dengan apa yang ada di yayasan ini. Anita mengajak mereka ke ruangan paling ujung, di mana ada beberapa anak berumur kurang dari satu tahun yang tertidur dengan lelapnya. Ada beberapa dari mereka yang sedang digendong oleh petugas karena menangis.
“Mereka umur berapa?” Tanya Anggi.
“Kurang dari satu tahun. Mungkin di antara semua anak yang ada di sini, ruangan ini yang sedikit memilukan. Di mana cukup banyak anak-anak seumuran mereka yang ditinggal oleh orang tuanya, baik ketika orang tuanya mati ataupun membuang mereka dengan sengaja.” Jelas Anita.
“Astaga, jahat banget.” Sahut Ali.
“Hidup semenarik itu, orang bisa berbuat apa saja tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Egois bisa dikatakan sebagai nama tengah kita semua.” Jawab Anita.
Akhirnya mereka diajak masuk ke kantor dari yayasan ini. Anggi dan Ali pun duduk berhadapan dengan Anita. Datang petugas lain yang membawakan teh hangat yang diletakkan di atas meja untuk mereka.
“Makasih ya...” Anita menatap mereka, “jadi bagaimana tanggapan Ibu dan Bapak setelah berkeliling di yayasan kami?”
“Mungkin istri saya yang menjawab.” Ucap Ali.
Anggi menghela nafasnya, “Awalnya saya sama sekali ngga kepikiran untuk punya anak, sekalipun suami saya selalu mengingatkan. Sampai akhirnya saya tersadar akan umur yang terus bertambah, dan semangat suami saya akan anak. Tanpa ia ketahui, saya melakukan riset terhadap beberapa yayasan. Pilihan saya jatuh ke yayasan ini, dan saya semakin yakin setelah datang langsung ke sini.”
“Memang tidak ada yang tau kapan kita bisa merubah pikiran kita, tiba-tiba saja berubah begitu saja seperti yang Ibu rasakan. Kalau begitu, mungkin Bapak dan Ibu bisa bercerita mengenai kegiatan masing-masing agar saya bisa merekomendasikan anak yang bisa kalian asuh.” Ucap Anita.
“Latar belakang kami disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, seperti istri saya sebagai pembawa acara berita di salah satu siaran televisi.” Ucap Ali.
“Tentu saja kami semua kenal dengan Bu Anggi...”
Anggi tersenyum menanggapi ucapan itu.
“...bagaimana dengan Pak Ali?” Tanya Anita.
“Kalau menurut saya, suami saya lebih sibuk dari saya. Pekerjaannya membutuhkan waktu yang lebih, bahkan ketika akhir pekan. Beruntung jika dia bisa libur di akhir pekan seperti saat ini.” Jelas Anggi.
Anita menganggukkan kepala beberapa kali, tangannya membuka laci meja untuk mengambil beberapa lembar kertas.
“Setelah mendengar latar belakang Bapak dan Ibu, saya ada beberapa rekomendasi untuk kalian...”
Anita meletakkan kertas-kertas itu di atas meja.
“...ada beberapa anak yang sesuai dengan cerita kalian, mungkin kalian bisa melihat-lihat dahulu sebelum menentukan pilihan.” Ucap Anita.
Anggi mengambil beberapa lembar kertas, Ali pun mengambil sisanya. Mereka mulai melihat dengan seksama data-data yang ada di kertas tersebut. Lembar demi lembar mereka lihat secara bergantian, akhirnya mereka kembali meletakkan lembar-lembar kertas itu di atas meja.
“Bagaimana Ibu dan Bapak?” Tanya Anita.
“Saya dan istri akan mengambil kertas secara bersamaan...” Ali menatap Anggi, “kamu siap?”
Anggi menganggukkan kepala, “Satu, dua, tiga!”
Tanpa diduga, mereka mengambil kertas yang sama di antara banyaknya kertas yang ada di atas meja. Ali dan Anggi pun juga terkejut dengan apa yang mereka putuskan, Anita juga dibuat takjub dengan apa yang dia saksikan.
“Serius nih?” Tanya Ali.
0
Kutip
Balas