- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Destiny
...
TS
loveismyname
You Are My Destiny

2008
“SAH!”
Serta merta, kalimat Tahmid bergema ke seluruh ruangan musholla di pagi yang cerah ini. Begitu banyak wajah bahagia sekaligus haru terlihat. Proses akad nikah memang seharusnya menjadi sesuatu yang sakral, yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang melaluinya.
Aku termasuk orang yang berbahagia itu. Di hadapan seorang laki-laki yang barusan menjabat tanganku, yang selanjutnya, beliau secara resmi akan kupanggil Papa, aku tidak bisa menyembunyikan rasa haruku. Di sampingku, seorang wanita yang telah kupilih untuk mendampingiku seumur hidup, terus menerus menutup mukanya dengan kedua tangan, mengucap syukur tiada terkira.
Hai Cantik, semoga kamu bahagia juga di sana. Tunggu kami ya.
Spoiler for PERHATIAN !!:
Spoiler for DISCLAIMER !!:
Enjoy

Note : Gue akan berusaha agar cerita ini bisa selesai. Update, sebisa dan semampu gue aja, karena cerita ini sebenarnya sudah gue selesaikan dalam bentuk Ms.Word. Tapi maaf, gue gak bisa setiap hari ngaskus. mohon pengertiannya.
Index
prolog
part 1 the meeting
part 2 how come?
part 3 why
part 4 swimming
part 5 second meeting
part 6 aku
part 7 love story
part 8 mbak adelle
part 9 got ya!!
part 10 third meeting
part 11 kejadian malam itu
part 12 4th meeting
part 13 family
part 14 putus
part 15 comeback
part 16 morning surprise
part 17 we are different
Intermezzo - behind the scenes
Intermezzo - behind the scenes 2
part 18 aku di sini untukmu
part 19 a morning with her
part 20 don't mess with me 1
part 21 don't mess with me 2
part 22 my life has changed
part 23 mati gue !!
part 24 old friend
part 25 kenapa sih
Intermezzo - behind the scenes 3
part 26 halo its me again
part 27 balikan?
part 28 happy independent day
part 29 duet
part 30 sorry, i cant
part 31 night call
part 32 preparation
part 33 lets get the party started
part 34 sweetest sin
part 35 late 2001
part 36 ramadhan tiba
part 37 itu hurts
part 38 sebuah nasihat
part 39 happy new year
part 40 ombak besar
part 41 don't leave me
part 42 my hero
part 43 my hero 2
part 44 desperate
part 45 hah??
part 46 goodbye
part 47 ombak lainnya
part 48 no party
part 49 self destruction
part 50 diam
part 51 finally
part 52 our journey begin
part 53 her circle
part 54 my first kiss
part 55 sampai kapan
part 56 lost control
part 57 trauma
part 58 the missing story
part 59 akhirnya ketahuan
part 60 perencanaan ulang
part 61 komitmen
part 62 work hard
part 63 tembok terbesar
part 64 melihat sisi lain
part 65 proud
part 66 working harder
part 67 shocking news
part 68 she's gone
Intermezzo behind the scenes 4
part 69 time is running out
part 70 one more step
part 71 bali the unforgettable 1
part 72 bali the unforgettable 2
intermezzo behind the scenes 5
part 73 a plan
part 74 a plan 2
part 75 ultimatum
part 76 the day 1
part 77 the day 2
part 78 the day 3
part 79 judgement day
part 80 kami bahagia
part 81 kami bahagia 2
part 82 we are family
part 83 another opportunity
part 84 new career level
part 85 a gentlemen agreement
part 86 bidadari surga
part 87 pertanyaan mengejutkan
part 88 new place new hope
part 89 cobaan menjelang pernikahan 1
part 90 cobaan menjelang pernikahan 2
part 91 hancur
part 92 jiwa yang liar
part 93 tersesat
part 94 mungkinkah
part 95 faith
part 96 our happiness
part 97 only you
part 98 cepat sembuh sayang
part 99 our journey ends
part 100 life must go on
part 101 a new chapter
part 102 Bandung
part 103 we meet again
part 104 what's wrong
part 105 nginep
part 106 Adelle's POV 1
part 107 a beautiful morning
part 108 - terlalu khawatir
part 109 semangat !!
part 110 kejutan yang menyenangkan
part 111 aku harus bagaimana
part 112 reaksinya
part 113 menjauh?
part 114 lamaran
part 115 good night
part 116 satu per satu
part 117 si mata elang
part 118 re united
part 119 hari yang baru
part 120 teguran keras
part 121 open up my heart
part 122 pelabuhan hati
part 123 aku akan menjaganya
part 124 masih di rahasiakan
part 125 surprise
part 126 titah ibu
part 127 kembali
part 128 congratulation 1
part 129 congratulation 2
part 130 you are my destiny
epilog 1
epilog 2
epilog 3
epilog 4
epilog 5
side stry 1 mami and clarissa
side story 2 queen
side story 3 us (adelle's pov 2)
tamat
Diubah oleh loveismyname 03-06-2023 11:22
yputra121097703 dan 72 lainnya memberi reputasi
71
103.4K
954
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#117
Part 66 - Working Harder
Planning ku untuk mengubah strategi melamar kerja, ternyata tepat. Aku akhirnya melampirkan sertifikat dari tempat kursus bahasa inggrisku, dan fokus pada lowongan kerja yang lebih mengutamakan kemampuan berbahasa inggris.
Tidak akan ada yang menolak lulusan terbaik dari lembaga kursus ternama.
Sebuah wawancara kerja akhirnya datang, dari sebuah perusahaan trading berskala kecil sebagai staff exim. Aku ditest lebih banyak ke komunikasiku dengan bahasa inggris.
Tak perlu menunggu lama, aku langsung di terima. Gaji yang aku terima UMR, dengan probation 3 bulan. Sebuah nilai yang sangat jauh dari pendapatan usahaku.
Tak apalah. Aku akan fight habis-habisan. Aku butuh status.
Aku langsung berdiskusi dengan pacul, dan dia siap handle usahaku. Pacul langsung menyatakan sanggup, karena sudah ada Sueb yang mendampingi. Namun, dia juga mengusulkan sesuatu. Dia minta agar aku menambah karyawan satu lagi, khusus untuk bersih-bersih, agar Pacul bisa fokus jualan.
Aku setuju, namun aku lebih memilih untuk memakai tenaga harian agar lebih hemat. Nantinya, pegawai itu tidak akan datang setiap hari. Toh, aku tetap akan datang, walau malam hari.
Aku menjadi sangat sibuk. Siang aku bekerja, sambil mencari stok dagangan. Malam aku kuliah, dan kalau masih sempat, aku menggarap barang dagangan ku dan mengecek rekapan penjualan. Pacul benar-benar bisa diandalkan. Dia sangat jujur.
Lagi-lagi, Afei sangat mengerti diriku. Tidak ada kata merajuk dari mulutnya. Kalaupun ada, hanya sebatas kata-kata yang biasa kami ucapkan, seperti kangen. Dia tidak marah atau meminta waktu lebih seperti yang wanita lainnya lakukan. Dia sangat paham, apa yang aku lakukan ini adalah untuknya. Untuk memilikinya. Dia support dan mendukungku.
Ada satu keuntungan yang baru aku tahu jika kuliah di kelas pegawai. Absen dan nilai toleransinya sangat longgar. Dosen seolah mengerti bahwa kami sibuk.
Kalau tahu dari awal begini, aku lebih baik ambil kelas malam saja. Kalau aku sedang kangen berat dengan Afei, aku tinggal absen dan beralasan ada meeting dengan customer, dan dosenku langsung mengerti. Hahahaha.
Di kantor, aku bekerja sangat keras. Apalagi, aku terkesan di remehkan karena paling muda. Ah, tapi itu hal yang biasa. Aku tidak keberatan di remehkan.
Kata-kata seperti ‘jangan ngotot tong, santai aja’, ‘caper lu ya, percuma, ini kantor ga gede-gede banget. Kagak bakal naek karir lu’, tidak meruntuhkan mentalku.
Biar saja, karena selain bekerja, aku juga berniat belajar. Aku handle masalah dengan kepabeanan, aku ikut meeting dengan agent dari luar negeri, aku ikut menghitung harga, semua aku pelajari. Aku tutup kuping akan semua suara sumbang. Tapi bukan berarti aku tidak bergaul, aku tetap berusaha ramah dengan rekan kerja.
Nampaknya, bos menyukai kinerjaku. Dia lebih memilih untuk memanggilku jika ada keperluan. Bahkan, untuk rencana ekspansi saja, dia mau bertukar pikiran denganku.
Aku belajar banyak tentang hal baru. 3 bulan bekerja, sudah banyak yang aku kuasai, dan aku langsung diangkat menjadi pegawai tetap.
Karena kedekatan ku dengan bos, aku berani untuk mengusulkan ideku yang berkaitan dengan pekerjaan. Yah, pegawai sepertiku, pasti banyak di benci orang, terutama pegawai senior, yang selalu meledekku dengan kata-kata 'budak'.
Tapi aku tidak pernah ambil pusing. Aku hanya balas dengan tawa saja omongan mereka. Tapi, ada juga yang salut denganku. Namanya Ando, seorang karyawan senior yang selalu membelaku.
“Analisis dan metode yang lu usulin, efektif banget gila! Kerja jadi enak gini gue. Terutama analisis data lu, udah kayak ramalan. Jitu banget. Itu data bisa lu olah kayak gitu ya ? Padahal, biasanya cuma jadi sampah aja. Lu jangan dengerin orang yang ngiri sama lu ya. Gue ada di belakang lu. Santai aja.” Ando memujiku.
“Gue sih ga peduli bang. Gue punya tujuan di sini. Gue punya senior baek kayak lu aja udah cukup. ” Aku berterima kasih dengan tulus. Ando menepuk-nepuk pundakku sambil tersenyum.
Sejak membeli ponsel baru, aku dan Afei bertambah lengket. Ponsel kami di penuhi foto-foto kami berdua. Ada beberapa foto yang agak hot juga sih, yaitu foto kami yang sedang berciuman mesra. Kami sangat alay sekali. tapi biarlah, kami sedang menikmati cinta kami yang meledak-ledak.
Beberapa hari selanjutnya, Afei mengirimkan MMS, fitur yang baru untuk kami. Dia mengirimkan fotonya yang sedang tersenyum. Rinduku langsung meluap. Sepertinya ponsel ini hanya menambah kerinduan saja. bukan menguranginya.
Dia bahkan mengirimkan fotonya yang sedikit ‘panas’ dan membuatku gerah. Captionnya “buat calon suamiku yang lagi nyari duit buat aku. Semangat yah.”
Aku tertawa geli dengan kelakuan norak kami.
Suatu ketika, kantorku akan membuka kantor perwakilan. Jadi, nanti aktifitas akan di pisah, antara manajemen dengan operasional. Tadinya, bos besar berniat menyewa, tapi entah kenapa malah di rubah menjadi membeli sebuah ruko. Alasannya, agar lebih nyaman, jika di kelola sendiri.
Mendengar itu, aku iseng mencari beberapa ruko yang memang berstatus di jual. Ada yang menarik perhatianku. Ruko itu tidak jauh dari kantor lama, strategis, parkirannya luas, dan rapih. Kekurangannya, bangunannya agak kuno dan sudah nampak lusuh. Tapi begitu aku melihat bagian dalamnya, aku sadar bahwa ruko ini masih sangat kokoh, kualitas bangunannya baik, khas bangunan jaman dulu. Tinggal sedikit touch up, bangunan ini sudah rapih kembali.
Aku berbicara dengan pemiliknya, dan beliau memberikan aku komisi lumayan jika berhasil menjual ruko ini. Aku langsung tergiur. Segera aku menawarkan ke manajemen, dengan alasan, aku kenal dengan pemiliknya, sehingga lebih murah. Padahal, memang pemiliknya yang BU. Team dari manajemen segera survey dan benar dugaanku, mereka langsung cocok. Tak pakai lama, transaksi di lakukan, dan dengan segera, rekeningku semakin bertambah gemuk.
Dari situ, aku mencoba untuk berbisnis property. Tapi karena modalnya besar, aku harus bersabar dulu.
Sementara, menjadi makelar dulu tidak apa-apa deh.
Aku langsung sharing dengan Ayahku, dan entah Allah memberikan aku jalan atau bagaimana, Ayah bilang kantorannya juga sedang mencari sebidang tanah. Nantinya, tanah itu akan di jadikan sebagai garasi untuk unit pool mereka. Mataku berbinar. Aku langsung menyanggupi untuk mencarinya.
Lagi-lagi, keberuntungan masih bersamaku. Aku menemukan sebidang tanah yang sesuai dengan spek yang diinginkan kantor ayah. Aku bernegosiasi dengan pemiliknya dan dengan negosiasi ala warung kopi, dia setuju untuk kubantu. Komisinya juga lumayan. Ternyata, merokok di Indonesia itu berguna sebagai sarana bernegosiasi.
Survey di lakukan dengan cepat, dan langsung deal. 2 transaksi jual beli property saja, komisinya gila-gilaan.
Sejak saat itu, aku dan Pacul menerima titipan jual property di garasi. Alhamdulillah, beberapa customer dan supplier bahkan vendor yang dekat dengan kami, ada yang tertarik untuk di bantu. Entah menjualkan propertinya, atau minta di carikan sesuatu.
“Krim, tolong make over calon bini gue dong biar cantik. Gue pengen deh ngeliat aura kecantikan dia keluar.” Aku berbicara di telepon dengan Connie suatu hari.
Aku yang sedang sibuk, tiba-tiba terfikirkan hal itu. Bukan aku tidak menerima Afei apa adanya, justru aku tidak mau ada kesan, kalau aku hanya memperhatikan dan focus pada diriku saja, sehingga Afei tidak di fasilitasi untuk berdandan. Walaupun aku tahu, Afei bukan wanita yang hobby berdandan, tapi, aku ingin dia terlihat fresh dan cantik.
“Ya elah. Calon bini lu tuh udah cantik kali. Cuma ga bisa dandan aja.” Connie berkata.
“Nah itu maksud gue. Gue ga mau kalo gue terkesan ngelupain dia. Dia tuh cewek, udah kodratnya dandan dan tampil cantik. Mau ya nolongin gue.” Aku memohon.
“Iya deh. Mau diapain?” Connie bertanya.
“Lu ke salon aja, perawatan, rambutnya di modelin dikit. Lu highlight juga boleh. Salonnya yang bagus, mahal dikit ga papa. Terus, lu beliin baju satu stel yang pantes buat dia, sama jangan lupa sepatu. Bagusnya apa ya ?” Aku bertanya.
“Bused dah juragan. Lu serius? Gila bener dah, enak juga jadi calon istri bos ya. Gue mau daftar deh. Di agama lu dua bini ga papa kan?” Connie mulai ngelantur.
Aku tertawa geli mendengarnya. Sepertinya dia memang cocok dengan Pacul. Mulutnya losssss dolllll.
“Anjrit lu Krim. Hahahahah. Ya boleh, asal ijin istri pertama sana. Hahahahaha.” Aku ikutan bercanda.
“Waduh berat amat syaratnya ya. Eh ini kok gue kemana-mana sih?” Connie tiba-tiba tersadar.
Aku langsung terbahak-bahak. Selain Pacul, Connie adalah hiburanku. Dia itu super absurd, walaupun pintarnya juga super.
“Ya elu, emang ngaco sih!! Ya udah, gue minta tolong ya Krim. Gue agak sibuk beberapa hari ini. Gue transfer duitnya ya.” Aku berkata.
“Siap Bos. Eh, gue juga di bayarin sekalian kan?” Connie bertanya lucu.
“Ya iya dong. Lu kalo mau beli baju sama sepatu juga boleh. Gue transfer lebih deh.” Aku berkata.
Sekali lagi, tidak ada niat untuk sombong. Egois sekali jika aku mencari uang dengan dukungan mereka, pas sudah dapat, mereka malah terlupakan. Connie adalah salah satu yang berjasa dalam hubungan kami. Sesekali menyenangkan mereka, itu harus!!
“Anjrit beneran Gol? ASYYIIIKKKKK GUE MAU BELI SEPATU BARU AAHHH. THANKS YA BOSSS!!” Connie berteriak kegirangan.
Beberapa hari setelahnya, setelah mengantarkan sepeda motor ke pembeli, aku langsung ke kost Connie. Aku ingat waktu itu weekend, hari sabtu.
Aku yang naik angkot, jelas kepanasan luar biasa. Connie sedang ada urusan di kampus bersama Afei, tapi dia mempersilahkan aku untuk ngaso di kost nya. Aku sengaja ke sini, karena aku belum bertemu Afei satu minggu ini. Aku kangen sekali dengannya, walaupun kami selalu mengabari via sms atau telepon.
Eskrim : Gol kesini skrg. Gwt!!
Aku yang sedang leyeh-leyeh di Kost Connie, tiba-tiba terbangun kaget begitu menerima smsnya.
Aku : Ada apaan?
Eskrim : Ga ush bnyk tanya. ke sini aja cpt!
Aku segera beres-beres dan mencuci muka. Aku menuju kampus yang tidak jauh dari kost Connie. Sesampainya di sana, aku segera menuju ke kantin sesuai arahan Connie.
Aku melihat pemandangan yang membuat amarahku naik. Afei dan Connie yang sedang makan siang, di tempel oleh seorang pria. Chinese, dan tinggi. Aku tidak tahu siapa dia. Dia terus-terusan mengajak Afei berbicara dengan gestur merayu.
Afei memang cantik sekali saat itu. Aura kecantikannya keluar dan meluap. Connie menepati janjinya untuk make over Afei. Rambut Afei tampak di potong pendek sebahu, berponi dan di highlight oranye. Dia memakai baju yang aku tidak tahu jenisnya apa, berwarna putih, memakai jeans ketat hitam, dan bersepatu sneakers modern yang terlihat masih baru.
Luar biasa, aku saja terpesona melihatnya.
Aku menghela nafas dalam, mencoba menahan emosiku. Afei dan Connie belum melihatku, aku memilih untuk duduk di belakang mereka. Aku ingin tahu, apa yang di bicarakan cowok itu. Kalau memang keterlaluan, aku akan cegah. Selain itu, aku ingin liat, reaksi Afei.
“Iya nih Tin. Hahahaha.” Cowok itu tertawa.
“Eh, nanti pulang bareng siapa Tin? Bareng gue aja yuk.” Cowok itu mulai melancarkan serangannya. Connie yang mulai gerah, mulai mengedarkan pandangan. Dia tidak sabar untuk menungguku sepertinya.
“Gue bareng Connie aja kok. Ga usah nganter.” Afei berkata. Gesturnya sudah mulai merasa risih.
“Ya besok-besok juga ga apa-apa. Mau kan? Atau, kita makan di luar deh. Gue bawa mobil kok.” Cowok itu tidak menyerah.
Anjing !!
“ga usah. Makasih ya.” Afei menolak ramah.
“Kenapa? Ada yang marah ya? Emang Tina udah punya cowok, Con? Kok gue ga pernah liat.”
Cowok itu benar-benar pantang menyerah.
Connie yang sudah jengah akhirnya menarik tangan kanan Afei, dan mengangkat jari manisnya. Terlihat ada cincinku yang bertengger manis di sana.
“Udah liat? Ini emas asli, bukan imitasi. Dia udah terikat. So, kalo lu udah ga ada keperluan, kita mau cabut balik.” Connie menyalak.
Aku sedikit kecewa dengan sikap Afei yang tidak langsung membuka identitasnya. Aku yang sedang lelah, jadi berfikir yang tidak-tidak. Aku segera bangkit dan meninggalkan mereka, berjalan kembali ke Kost Connie.
Aku sedang berpura-pura tidur ketika mereka kembali.
“Sayaaanggg, aku kangen bangetttt!! Bangun doonggg !!”
Afei langsung menindih dan memeluk badanku, dia menciumi pipiku cepat. Aku terbangun dan tersenyum. Cantiknya kekasihku. Namun ada sedikit rasa kecewa di hatiku.
“Woy, masih ada orang nih. Gila lu Tin.” Connie protes.
“Lu kemana sih Gol? Udah gue sms in suruh dateng malah molor. Nih calon binilu di deketin orang.” lanjut Connie.
Aku tersenyum.
“Gue tadi ada di belakang kalian kok. gue tau semua.” Aku kemudian melirik Afei.
“Sayang, kamu kok lembek gitu sama cowok tadi. Kamu kan bisa langsung bilang kamu punya cowok. Malah Eskrim yang galak. Aku agak kecewa loh.” Aku berkata sambil tersenyum.
Walaupun pedih rasanya. Rasa cemburuku meluap hebat. Aku terlalu sayang dengannya, sehingga, sedikit kekecewaan saja, terasa menyakitkan.
Afei langsung tergagap.
“ Eh ga gi..gitu sayang. Maaf. Tapi aku gak bermaksud lembek.”
“Aduh, gue ke kamar sebelah dulu deh!! Gol, bicarain baik-baik. Lu ga boleh ngejudge gitu. lu harusnya tau sifat Tina gimana.” Connie memberiku petunjuk.
Deg!
Aku langsung terkejut. Connie benar, Afei tidak bermaksud lembek. Sifatnya sama denganku. Pemalu. Dia tidak akan frontal seperti Connie. Aku langsung merasa bersalah. Afei sudah sangat sabar menemaniku, aku tidak boleh begini. Dia sudah membuktikan bahwa dia setia dengan tidak menerima ajakan si cowok.
Begitu Connie keluar, aku langsung menghambur memeluknya.
“Maaf ya sayang. aku harusnya bisa ngerti kamu. Aku kangen banget dan agak lelah tadi. Jadi mikir yang nggak-nggak. Maaf banget ya.” Aku segera meminta maaf. Tak pantas rasanya aku seperti itu ke Afei.
Afei balas memelukku erat.
“Ga papa sayang. Aku ngerti.” Afei membelai rambutku.
“Maaf kalo aku juga kurang tegas. Next time aku akan lebih tegas. Aku juga ga mau kehilangan kamu.” Dia melepas pelukannya, dan memegang kedua pipiku.
“Sayang, aku janji, aku bersumpah, ga ada laki-laki lain di hati aku. Kamu udah segalanya buat aku. Aku udah nutup semua akses untuk semua laki-laki yang ngedeketin aku.” Afei berbisik mesra.
“Di sini, di dalam hatiku, cuma ada kamu. Keterlaluan kalo aku sampe menghianati kamu. Kamu yang udah melakukan segalanya untukku. Kamu yang udah memperlakukan aku seperti ratu. Kamu yang memberikan semua hidupmu buat tujuan kita. Aku lebih baik mati, dari pada harus menghianati kamu. kamu percaya aku kan sayang?” Afei memandangku memohon.
“Jangan bawa-bawa kata mati ah. Takut aku. Maafin aku ya. Aku kebawa cemburuku tadi. Kamu juga percaya aku kan?” Aku balik bertanya.
“Aku percaya kamu 100%. Maafin aku ya sayang. Jangan marah ya?” Afei tersenyum.
“Mana bisa aku marah sama kamu Fei? Kamu tuh segalanya buat aku.” Aku mencium bibirnya cepat.
“Aku kangen banget cintaku.” Afei menciumku pelan dan mesra. Aku kembali terbawa suasana.
“Aku bisa buktiin sama kamu, kalo aku cuma milik kamu seorang.” Afei menatapku sayu.
Kami berciuman panas. Kami menumpahkan rindu kami yang tertahan beberapa hari. Afei naik ke pangkuanku. Kami bersentuhan intim hari itu. kami seolah tidak mau saling melepaskan.
Rindu dan cinta kami meledak hebat. Aku tidak bisa menahannya. Afei kemudian melepaskan ciumannya. Dia terengah-engah dan mukanya memerah.
“Aku milik kamu sepenuhnya.”
Setelah berkata itu, Afei memelukku erat dan menciumku lagi. Hanya saja bukan hanya bibirku yang jadi sasaran, dia menciumi leherku juga.
Aku lepas control. Nafsuku meluap hebat. Aku menerima semua perlakuannya. Badanku bergetar, aku baru merasakan sensasi seperti ini. Naluriku bergerak. Aku sempat menyentuh dadanya, dan mengusapnya dari luar bajunya.
Afei tersenyum. “kamu mau sayang? Aku buka aja ya.” Afei berkata dan membuatku tambah melayang.
“Ka..kamu.. ga apa-apa? Aku..aku” Aku benar-benar kehabisan kata-kata.
“Jangan pernah ragu sama ketulusan aku.” Afei menggigit bibir bawahnya, kemudian bergerak membuka bajunya.
Aku yang tersadar langsung mencegahnya.
“Jangan sekarang ya sayang. aku ga ragu kok sama kamu. Aku belum sanggup.” Aku menahan tangannya.
Kami tersenyum. Indah sekali hari itu.
“Kamu adalah segalanya buatku sayang.” Aku berkata.
“Kamu juga, kamu adalah seluruh duniaku.” Afei membalasku.
Kami berpelukan hangat siang itu.
Tidak akan ada yang menolak lulusan terbaik dari lembaga kursus ternama.
Sebuah wawancara kerja akhirnya datang, dari sebuah perusahaan trading berskala kecil sebagai staff exim. Aku ditest lebih banyak ke komunikasiku dengan bahasa inggris.
Tak perlu menunggu lama, aku langsung di terima. Gaji yang aku terima UMR, dengan probation 3 bulan. Sebuah nilai yang sangat jauh dari pendapatan usahaku.
Tak apalah. Aku akan fight habis-habisan. Aku butuh status.
Aku langsung berdiskusi dengan pacul, dan dia siap handle usahaku. Pacul langsung menyatakan sanggup, karena sudah ada Sueb yang mendampingi. Namun, dia juga mengusulkan sesuatu. Dia minta agar aku menambah karyawan satu lagi, khusus untuk bersih-bersih, agar Pacul bisa fokus jualan.
Aku setuju, namun aku lebih memilih untuk memakai tenaga harian agar lebih hemat. Nantinya, pegawai itu tidak akan datang setiap hari. Toh, aku tetap akan datang, walau malam hari.
Aku menjadi sangat sibuk. Siang aku bekerja, sambil mencari stok dagangan. Malam aku kuliah, dan kalau masih sempat, aku menggarap barang dagangan ku dan mengecek rekapan penjualan. Pacul benar-benar bisa diandalkan. Dia sangat jujur.
Lagi-lagi, Afei sangat mengerti diriku. Tidak ada kata merajuk dari mulutnya. Kalaupun ada, hanya sebatas kata-kata yang biasa kami ucapkan, seperti kangen. Dia tidak marah atau meminta waktu lebih seperti yang wanita lainnya lakukan. Dia sangat paham, apa yang aku lakukan ini adalah untuknya. Untuk memilikinya. Dia support dan mendukungku.
Ada satu keuntungan yang baru aku tahu jika kuliah di kelas pegawai. Absen dan nilai toleransinya sangat longgar. Dosen seolah mengerti bahwa kami sibuk.
Kalau tahu dari awal begini, aku lebih baik ambil kelas malam saja. Kalau aku sedang kangen berat dengan Afei, aku tinggal absen dan beralasan ada meeting dengan customer, dan dosenku langsung mengerti. Hahahaha.
Di kantor, aku bekerja sangat keras. Apalagi, aku terkesan di remehkan karena paling muda. Ah, tapi itu hal yang biasa. Aku tidak keberatan di remehkan.
Kata-kata seperti ‘jangan ngotot tong, santai aja’, ‘caper lu ya, percuma, ini kantor ga gede-gede banget. Kagak bakal naek karir lu’, tidak meruntuhkan mentalku.
Biar saja, karena selain bekerja, aku juga berniat belajar. Aku handle masalah dengan kepabeanan, aku ikut meeting dengan agent dari luar negeri, aku ikut menghitung harga, semua aku pelajari. Aku tutup kuping akan semua suara sumbang. Tapi bukan berarti aku tidak bergaul, aku tetap berusaha ramah dengan rekan kerja.
Nampaknya, bos menyukai kinerjaku. Dia lebih memilih untuk memanggilku jika ada keperluan. Bahkan, untuk rencana ekspansi saja, dia mau bertukar pikiran denganku.
Aku belajar banyak tentang hal baru. 3 bulan bekerja, sudah banyak yang aku kuasai, dan aku langsung diangkat menjadi pegawai tetap.
Karena kedekatan ku dengan bos, aku berani untuk mengusulkan ideku yang berkaitan dengan pekerjaan. Yah, pegawai sepertiku, pasti banyak di benci orang, terutama pegawai senior, yang selalu meledekku dengan kata-kata 'budak'.
Tapi aku tidak pernah ambil pusing. Aku hanya balas dengan tawa saja omongan mereka. Tapi, ada juga yang salut denganku. Namanya Ando, seorang karyawan senior yang selalu membelaku.
“Analisis dan metode yang lu usulin, efektif banget gila! Kerja jadi enak gini gue. Terutama analisis data lu, udah kayak ramalan. Jitu banget. Itu data bisa lu olah kayak gitu ya ? Padahal, biasanya cuma jadi sampah aja. Lu jangan dengerin orang yang ngiri sama lu ya. Gue ada di belakang lu. Santai aja.” Ando memujiku.
“Gue sih ga peduli bang. Gue punya tujuan di sini. Gue punya senior baek kayak lu aja udah cukup. ” Aku berterima kasih dengan tulus. Ando menepuk-nepuk pundakku sambil tersenyum.
Sejak membeli ponsel baru, aku dan Afei bertambah lengket. Ponsel kami di penuhi foto-foto kami berdua. Ada beberapa foto yang agak hot juga sih, yaitu foto kami yang sedang berciuman mesra. Kami sangat alay sekali. tapi biarlah, kami sedang menikmati cinta kami yang meledak-ledak.
Beberapa hari selanjutnya, Afei mengirimkan MMS, fitur yang baru untuk kami. Dia mengirimkan fotonya yang sedang tersenyum. Rinduku langsung meluap. Sepertinya ponsel ini hanya menambah kerinduan saja. bukan menguranginya.
Dia bahkan mengirimkan fotonya yang sedikit ‘panas’ dan membuatku gerah. Captionnya “buat calon suamiku yang lagi nyari duit buat aku. Semangat yah.”
Aku tertawa geli dengan kelakuan norak kami.
Suatu ketika, kantorku akan membuka kantor perwakilan. Jadi, nanti aktifitas akan di pisah, antara manajemen dengan operasional. Tadinya, bos besar berniat menyewa, tapi entah kenapa malah di rubah menjadi membeli sebuah ruko. Alasannya, agar lebih nyaman, jika di kelola sendiri.
Mendengar itu, aku iseng mencari beberapa ruko yang memang berstatus di jual. Ada yang menarik perhatianku. Ruko itu tidak jauh dari kantor lama, strategis, parkirannya luas, dan rapih. Kekurangannya, bangunannya agak kuno dan sudah nampak lusuh. Tapi begitu aku melihat bagian dalamnya, aku sadar bahwa ruko ini masih sangat kokoh, kualitas bangunannya baik, khas bangunan jaman dulu. Tinggal sedikit touch up, bangunan ini sudah rapih kembali.
Aku berbicara dengan pemiliknya, dan beliau memberikan aku komisi lumayan jika berhasil menjual ruko ini. Aku langsung tergiur. Segera aku menawarkan ke manajemen, dengan alasan, aku kenal dengan pemiliknya, sehingga lebih murah. Padahal, memang pemiliknya yang BU. Team dari manajemen segera survey dan benar dugaanku, mereka langsung cocok. Tak pakai lama, transaksi di lakukan, dan dengan segera, rekeningku semakin bertambah gemuk.
Dari situ, aku mencoba untuk berbisnis property. Tapi karena modalnya besar, aku harus bersabar dulu.
Sementara, menjadi makelar dulu tidak apa-apa deh.
Aku langsung sharing dengan Ayahku, dan entah Allah memberikan aku jalan atau bagaimana, Ayah bilang kantorannya juga sedang mencari sebidang tanah. Nantinya, tanah itu akan di jadikan sebagai garasi untuk unit pool mereka. Mataku berbinar. Aku langsung menyanggupi untuk mencarinya.
Lagi-lagi, keberuntungan masih bersamaku. Aku menemukan sebidang tanah yang sesuai dengan spek yang diinginkan kantor ayah. Aku bernegosiasi dengan pemiliknya dan dengan negosiasi ala warung kopi, dia setuju untuk kubantu. Komisinya juga lumayan. Ternyata, merokok di Indonesia itu berguna sebagai sarana bernegosiasi.
Survey di lakukan dengan cepat, dan langsung deal. 2 transaksi jual beli property saja, komisinya gila-gilaan.
Sejak saat itu, aku dan Pacul menerima titipan jual property di garasi. Alhamdulillah, beberapa customer dan supplier bahkan vendor yang dekat dengan kami, ada yang tertarik untuk di bantu. Entah menjualkan propertinya, atau minta di carikan sesuatu.
“Krim, tolong make over calon bini gue dong biar cantik. Gue pengen deh ngeliat aura kecantikan dia keluar.” Aku berbicara di telepon dengan Connie suatu hari.
Aku yang sedang sibuk, tiba-tiba terfikirkan hal itu. Bukan aku tidak menerima Afei apa adanya, justru aku tidak mau ada kesan, kalau aku hanya memperhatikan dan focus pada diriku saja, sehingga Afei tidak di fasilitasi untuk berdandan. Walaupun aku tahu, Afei bukan wanita yang hobby berdandan, tapi, aku ingin dia terlihat fresh dan cantik.
“Ya elah. Calon bini lu tuh udah cantik kali. Cuma ga bisa dandan aja.” Connie berkata.
“Nah itu maksud gue. Gue ga mau kalo gue terkesan ngelupain dia. Dia tuh cewek, udah kodratnya dandan dan tampil cantik. Mau ya nolongin gue.” Aku memohon.
“Iya deh. Mau diapain?” Connie bertanya.
“Lu ke salon aja, perawatan, rambutnya di modelin dikit. Lu highlight juga boleh. Salonnya yang bagus, mahal dikit ga papa. Terus, lu beliin baju satu stel yang pantes buat dia, sama jangan lupa sepatu. Bagusnya apa ya ?” Aku bertanya.
“Bused dah juragan. Lu serius? Gila bener dah, enak juga jadi calon istri bos ya. Gue mau daftar deh. Di agama lu dua bini ga papa kan?” Connie mulai ngelantur.
Aku tertawa geli mendengarnya. Sepertinya dia memang cocok dengan Pacul. Mulutnya losssss dolllll.
“Anjrit lu Krim. Hahahahah. Ya boleh, asal ijin istri pertama sana. Hahahahaha.” Aku ikutan bercanda.
“Waduh berat amat syaratnya ya. Eh ini kok gue kemana-mana sih?” Connie tiba-tiba tersadar.
Aku langsung terbahak-bahak. Selain Pacul, Connie adalah hiburanku. Dia itu super absurd, walaupun pintarnya juga super.
“Ya elu, emang ngaco sih!! Ya udah, gue minta tolong ya Krim. Gue agak sibuk beberapa hari ini. Gue transfer duitnya ya.” Aku berkata.
“Siap Bos. Eh, gue juga di bayarin sekalian kan?” Connie bertanya lucu.
“Ya iya dong. Lu kalo mau beli baju sama sepatu juga boleh. Gue transfer lebih deh.” Aku berkata.
Sekali lagi, tidak ada niat untuk sombong. Egois sekali jika aku mencari uang dengan dukungan mereka, pas sudah dapat, mereka malah terlupakan. Connie adalah salah satu yang berjasa dalam hubungan kami. Sesekali menyenangkan mereka, itu harus!!
“Anjrit beneran Gol? ASYYIIIKKKKK GUE MAU BELI SEPATU BARU AAHHH. THANKS YA BOSSS!!” Connie berteriak kegirangan.
Beberapa hari setelahnya, setelah mengantarkan sepeda motor ke pembeli, aku langsung ke kost Connie. Aku ingat waktu itu weekend, hari sabtu.
Aku yang naik angkot, jelas kepanasan luar biasa. Connie sedang ada urusan di kampus bersama Afei, tapi dia mempersilahkan aku untuk ngaso di kost nya. Aku sengaja ke sini, karena aku belum bertemu Afei satu minggu ini. Aku kangen sekali dengannya, walaupun kami selalu mengabari via sms atau telepon.
Eskrim : Gol kesini skrg. Gwt!!
Aku yang sedang leyeh-leyeh di Kost Connie, tiba-tiba terbangun kaget begitu menerima smsnya.
Aku : Ada apaan?
Eskrim : Ga ush bnyk tanya. ke sini aja cpt!
Aku segera beres-beres dan mencuci muka. Aku menuju kampus yang tidak jauh dari kost Connie. Sesampainya di sana, aku segera menuju ke kantin sesuai arahan Connie.
Aku melihat pemandangan yang membuat amarahku naik. Afei dan Connie yang sedang makan siang, di tempel oleh seorang pria. Chinese, dan tinggi. Aku tidak tahu siapa dia. Dia terus-terusan mengajak Afei berbicara dengan gestur merayu.
Afei memang cantik sekali saat itu. Aura kecantikannya keluar dan meluap. Connie menepati janjinya untuk make over Afei. Rambut Afei tampak di potong pendek sebahu, berponi dan di highlight oranye. Dia memakai baju yang aku tidak tahu jenisnya apa, berwarna putih, memakai jeans ketat hitam, dan bersepatu sneakers modern yang terlihat masih baru.
Luar biasa, aku saja terpesona melihatnya.
Aku menghela nafas dalam, mencoba menahan emosiku. Afei dan Connie belum melihatku, aku memilih untuk duduk di belakang mereka. Aku ingin tahu, apa yang di bicarakan cowok itu. Kalau memang keterlaluan, aku akan cegah. Selain itu, aku ingin liat, reaksi Afei.
“Iya nih Tin. Hahahaha.” Cowok itu tertawa.
“Eh, nanti pulang bareng siapa Tin? Bareng gue aja yuk.” Cowok itu mulai melancarkan serangannya. Connie yang mulai gerah, mulai mengedarkan pandangan. Dia tidak sabar untuk menungguku sepertinya.
“Gue bareng Connie aja kok. Ga usah nganter.” Afei berkata. Gesturnya sudah mulai merasa risih.
“Ya besok-besok juga ga apa-apa. Mau kan? Atau, kita makan di luar deh. Gue bawa mobil kok.” Cowok itu tidak menyerah.
Anjing !!
“ga usah. Makasih ya.” Afei menolak ramah.
“Kenapa? Ada yang marah ya? Emang Tina udah punya cowok, Con? Kok gue ga pernah liat.”
Cowok itu benar-benar pantang menyerah.
Connie yang sudah jengah akhirnya menarik tangan kanan Afei, dan mengangkat jari manisnya. Terlihat ada cincinku yang bertengger manis di sana.
“Udah liat? Ini emas asli, bukan imitasi. Dia udah terikat. So, kalo lu udah ga ada keperluan, kita mau cabut balik.” Connie menyalak.
Aku sedikit kecewa dengan sikap Afei yang tidak langsung membuka identitasnya. Aku yang sedang lelah, jadi berfikir yang tidak-tidak. Aku segera bangkit dan meninggalkan mereka, berjalan kembali ke Kost Connie.
Aku sedang berpura-pura tidur ketika mereka kembali.
“Sayaaanggg, aku kangen bangetttt!! Bangun doonggg !!”
Afei langsung menindih dan memeluk badanku, dia menciumi pipiku cepat. Aku terbangun dan tersenyum. Cantiknya kekasihku. Namun ada sedikit rasa kecewa di hatiku.
“Woy, masih ada orang nih. Gila lu Tin.” Connie protes.
“Lu kemana sih Gol? Udah gue sms in suruh dateng malah molor. Nih calon binilu di deketin orang.” lanjut Connie.
Aku tersenyum.
“Gue tadi ada di belakang kalian kok. gue tau semua.” Aku kemudian melirik Afei.
“Sayang, kamu kok lembek gitu sama cowok tadi. Kamu kan bisa langsung bilang kamu punya cowok. Malah Eskrim yang galak. Aku agak kecewa loh.” Aku berkata sambil tersenyum.
Walaupun pedih rasanya. Rasa cemburuku meluap hebat. Aku terlalu sayang dengannya, sehingga, sedikit kekecewaan saja, terasa menyakitkan.
Afei langsung tergagap.
“ Eh ga gi..gitu sayang. Maaf. Tapi aku gak bermaksud lembek.”
“Aduh, gue ke kamar sebelah dulu deh!! Gol, bicarain baik-baik. Lu ga boleh ngejudge gitu. lu harusnya tau sifat Tina gimana.” Connie memberiku petunjuk.
Deg!
Aku langsung terkejut. Connie benar, Afei tidak bermaksud lembek. Sifatnya sama denganku. Pemalu. Dia tidak akan frontal seperti Connie. Aku langsung merasa bersalah. Afei sudah sangat sabar menemaniku, aku tidak boleh begini. Dia sudah membuktikan bahwa dia setia dengan tidak menerima ajakan si cowok.
Begitu Connie keluar, aku langsung menghambur memeluknya.
“Maaf ya sayang. aku harusnya bisa ngerti kamu. Aku kangen banget dan agak lelah tadi. Jadi mikir yang nggak-nggak. Maaf banget ya.” Aku segera meminta maaf. Tak pantas rasanya aku seperti itu ke Afei.
Afei balas memelukku erat.
“Ga papa sayang. Aku ngerti.” Afei membelai rambutku.
“Maaf kalo aku juga kurang tegas. Next time aku akan lebih tegas. Aku juga ga mau kehilangan kamu.” Dia melepas pelukannya, dan memegang kedua pipiku.
“Sayang, aku janji, aku bersumpah, ga ada laki-laki lain di hati aku. Kamu udah segalanya buat aku. Aku udah nutup semua akses untuk semua laki-laki yang ngedeketin aku.” Afei berbisik mesra.
“Di sini, di dalam hatiku, cuma ada kamu. Keterlaluan kalo aku sampe menghianati kamu. Kamu yang udah melakukan segalanya untukku. Kamu yang udah memperlakukan aku seperti ratu. Kamu yang memberikan semua hidupmu buat tujuan kita. Aku lebih baik mati, dari pada harus menghianati kamu. kamu percaya aku kan sayang?” Afei memandangku memohon.
“Jangan bawa-bawa kata mati ah. Takut aku. Maafin aku ya. Aku kebawa cemburuku tadi. Kamu juga percaya aku kan?” Aku balik bertanya.
“Aku percaya kamu 100%. Maafin aku ya sayang. Jangan marah ya?” Afei tersenyum.
“Mana bisa aku marah sama kamu Fei? Kamu tuh segalanya buat aku.” Aku mencium bibirnya cepat.
“Aku kangen banget cintaku.” Afei menciumku pelan dan mesra. Aku kembali terbawa suasana.
“Aku bisa buktiin sama kamu, kalo aku cuma milik kamu seorang.” Afei menatapku sayu.
Kami berciuman panas. Kami menumpahkan rindu kami yang tertahan beberapa hari. Afei naik ke pangkuanku. Kami bersentuhan intim hari itu. kami seolah tidak mau saling melepaskan.
Rindu dan cinta kami meledak hebat. Aku tidak bisa menahannya. Afei kemudian melepaskan ciumannya. Dia terengah-engah dan mukanya memerah.
“Aku milik kamu sepenuhnya.”
Setelah berkata itu, Afei memelukku erat dan menciumku lagi. Hanya saja bukan hanya bibirku yang jadi sasaran, dia menciumi leherku juga.
Aku lepas control. Nafsuku meluap hebat. Aku menerima semua perlakuannya. Badanku bergetar, aku baru merasakan sensasi seperti ini. Naluriku bergerak. Aku sempat menyentuh dadanya, dan mengusapnya dari luar bajunya.
Afei tersenyum. “kamu mau sayang? Aku buka aja ya.” Afei berkata dan membuatku tambah melayang.
“Ka..kamu.. ga apa-apa? Aku..aku” Aku benar-benar kehabisan kata-kata.
“Jangan pernah ragu sama ketulusan aku.” Afei menggigit bibir bawahnya, kemudian bergerak membuka bajunya.
Aku yang tersadar langsung mencegahnya.
“Jangan sekarang ya sayang. aku ga ragu kok sama kamu. Aku belum sanggup.” Aku menahan tangannya.
Kami tersenyum. Indah sekali hari itu.
“Kamu adalah segalanya buatku sayang.” Aku berkata.
“Kamu juga, kamu adalah seluruh duniaku.” Afei membalasku.
Kami berpelukan hangat siang itu.
yuaufchauza dan 21 lainnya memberi reputasi
22