- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.9K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#21
Part 19 Kemunculan Kalla
Pintu lift terbuka. Koridor ini memang selalu sepi. Hanya ada OB saja yang rutin membersihkannya tiap pagi, sebelum sang ceo datang. Shanum menoleh ke sana ke mari. Mencari karyawan lain yang mungkin akan ia temui.
Sampai di meja sekretaris yang ada di depan ruangan ceo, Elang berhenti. Ia menunjuk ke meja lebar itu.
"Itu tempatmu. Bekerjalah dengan baik. Satu lagi, jangan hanya karena kita saling mengenal maka aku akan bersikap lunak padamu. Kalau pekerjaanmu kacau, kau tetap akan ku marahi seperti mereka tadi." Elang berjalan masuk ke ruangannya. Sementara Shanum masih diam mematung. Walau pada akhirnya ia duduk di kursi miliknya.
Nama Lian sudah digantikan oleh Shanum. Baru beberapa menit, ia duduk, dan mencoba beradaptasi dengan suasana baru. Dering telepon membuyarkan lamunannya.
Ia mengambil gagang telepon itu, dan menempatkannya di dekat telinga. Sambil ragu ia menyapa, "Halo?"
"Ke ruanganku sekarang!" Suara dari seberang mampu ia kenali. Suara pria yang sudah beberapa hari ini ia pikirkan siang malam. Suara Elang yang dingin tapi mampu menggetarkan hati Shanum hingga jantungnya akan berdetak makin cepat.
Shanum menarik nafas dalam-dalam, mengisi rongga pernafasannya dengan lebih banyak oksigen. Langkahnya pelan menuju pintu ruangan Elang berkali-kali ia menarik nafas dan menekan dadanya. Tiba-tiba ia menjadi sulit bernafas, tapi ia terus mencoba setenang mungkin.
Pintu diketuk sebanyak 3 kali, pelan tapi sangat jelas terdengar. Karena di lantai ini hanya ada dua orang manusia saja. Wajar, sekecil suara apa pun pasti akan terdengar. Kecuali di dalam ruangan ceo, karena dilengkapi peredam suara.
"Masuk!"
Dengan ragu Shanum memutar kenop pintu. Ia masuk sambil menundukkan kepala. "Maaf, bapak memanggil saya?"
"Iya. Sini!" panggil Elang, menyuruh Shanum duduk di kursi depannya. Sementara pria itu masih fokus pada monitor di hadapannya. Jemarinya piawai memainkan keyboard, tatapan matanya fokus ke depan. Tanpa memperdulikan sekitar. Bahkan saat Shanum datang ia tidak menoleh sedikitpun.
"Jadwalku hari ini apa saja?"
"Hah?! Jadwal? " pekik Shanum dengan pertanyaan yang membuatnya terlihat makin bodoh.
"Iya, jadwalku hari ini. Kau, kan sekretarisku! Tugasmu ya mengatur jadwalku!" Nada suara Elang naik 1 oktaf. Shanum terus menunduk ke bawah.
"Baik, Pak. Saya permisi dulu."
"Iya!"
Gadis itu kembali ke tempatnya. Ia terlihat lemas, tidak bergairah. Menghempaskan tubuhnya ke kursi kebanggaannya. Ia sedikit patah semangat. Tapi, beberapa detik berikutnya. Senyum terukir di bibirnya. Ia segera mencari hal-hal yang memang seharusnya ia kerjakan sebagai sekretaris Elang. Beberapa nomor ponsel dari nama-nama orang tertempel di secarik kertas yang ditempel di dekat monitor.
Beruntung Lian termasuk karyawan yang cekatan. Ia sudah mencatat semua hal tentang bosnya dan segudang kegiatan Elang selama sebulan ini. Ia mulai mengerti dan kini makin nyaman. Beberapa dering telepon membuat senyumnya tercetak jelas.
Jarum jam menunjukan pukul 12.00 siang. Saking sibuknya Shanum, ia tidak melihat kalau kini seseorang tengah berdiri di depannya.
"Hei!"
Shanum yang terkejut, ia mendongam dan mendapati Elang sudah berdiri di depannya. "Eh, eum, ada apa, pak Elang? Ada yang bisa saya bantu?"
"Ayo, kita makan siang."
Elang langsung berjalan menuju lift. Shanum yang sempat bengong, langsung melebarkan senyum dan menyusul Elang.
Mereka seharian ini menjadi sorotan karyawan yang lain. Bahkan saat sudah masuk mobil, banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa Lian harus dipindahkan digantikan Shanum.
Beruntung gosip ini tidak di dengar Elang. Jika sampai Elang mendengarnya, ia pasti akan murka.
Elang menyetir sendiri dengan Shanum duduk di sampingnya. "Bagaimana hari pertamamu bekerja?" tanya elang tetap fokus pada kemudinya.
"Lumayan, Pak. Memang saya harus beradaptasi perlahan, tapi sejauh ini semua lancar. "
"Tidak perlu memanggilku dengan formal seperti itu kalau kita sedang berdua saja. " Kalimat Elang membuat tanda tanya besar dalam benak Shanum.
'Apa maksudnya? '
Mobil melesat menembus jalanan yamg cukup ramai kendaraan. Ini memang jam makan siang dan wajar saja jika banyak orang yang pergi mencari tempat makan yang memang mereka inginkan untuk mengganjal perut mereka.
Mereka sampai di sebuah restoran. Shanum hanya diam di kursinya dan menatap ke luar. "Mewah sekali, " batin Shanum.
Elang langsung turun dari mobil entah mendapat angin apa, ia segera membuka pintu mobil samping Shanum. Tentu saja gadis itu tertegun. Tak menyangka orang sedingin ini terkadang mampu melakukan hal yang manis.
Tak hanya sampai di situ, Elang kini menggandeng Shanum masuk ke dalam. Wajah Shanum nampak merona. Ia menunduk dan memegang satu pipinya. "Kenapa? " tanya Elang.
"Eum, tidak apa-apa, kita makan di sini?" Pertanyaan Shanum ia buat untuk, mengalihkan perhatiandan rasa gugupnya sendiri.
"Tentu saja. Ini restoran terbaik. Kamu pasti akan suka makanan di sini."
Makan siang yang cukup romantis bgi Shanum. Mereka ada di rooftop berdua saja. Di atas mereka ada semacam payung lebar, semilir angin membuat suasana sejuk. Obrolan demi obrolan mereka buat, hingga tak terasa Elang tersenyum. Ini kali pertama Shanum melihat Elang tersenyum.
______
Adi dan Gio duduk di kursi depan, sementara Vin di belakang mereka. Vin membawa sebuah tas berisi beberapa potong pakaiannya. Ia memang berencana menginap di kampung.
Gio yang menyetir beberapa kali bersenandung. Adi hanya sibuk bermain game di gawai miliknya untuk membunuh waktu.
Stasiun kota hanya berjarak 3 KM saja. Akhirnya mereka sampai juga di tempat itu. Beragam jenis manusia ada di sana. Mereka bertiga turun. Adi menghirup nafas dalam-dalam. Dahinya berkerut dan netranya liar menatap sekitar. Beberapa pasang mata menatap mereka tajam.
"Kalau begitu aku masuk. Terima kasih kalian sudah mengantarku," ucap Vin yang berdiri di sebelah Adi. Saat Vin hendak pergi, Adi segera menahan tangannya. "Tunggu!"
"Kenapa?"
"Biar kami mengantarmu saja sampai desa. Kau tidak perlu naik bus. Lekas masuk," suruh Adi dan ia juga segera masuk ke dalam mobi. Gio menggaruk kepalanya, menatap sekitar dengan bingung.
Setelah semua duduk, Gio menatap Adi yang terus gelisah. "Kau kenapa?"
"Gi, lekas pergi dari sini!"
"Jangan-jangan?" Gio Yang sebenarnya sedikit paham dengan sikap Adi, tanpa bertanya lagi langsung menyalakan mesin mobilnya. Beberapa sorot mata tajam itu, terus menatap liar ke mobil mereka. "Di, kenapa mereka?" Tanya Vin Yang rupanya juga nelihat keanehan orang-orang tadi.
"Kalla!"
"Apa?! Oh, shit!" Umpat Gio, Dan segera memacu mobilnya melesat pergi.
"Hei kenapa kita malah pergi. Bukannya lebih baik kita bunuh mereka? Ini kesempatan baik, bukan?" Vin bingung dengan dua sikap pria di depannya Yang terlihat cemas.
"Kau ini bodoh atau apa? Kita hanya bertiga! Dan mereka sangat banyak. Justru kita Yang akan mati konyol nanti." Adi gusar menatap luar jendela. Sesekali tatapannya mengarah pada spion sampingnya. Takut kalau beberapa dari Kalla akan menyusul mereka.
_____
Akhirnya mereka mengantar Vin ke desa. Hiruk pikuk kota mereka tinggalkan. Kini pemandangan di sekitar didominasi pepohonan Yang menjulang tinggi. Laju mobil sudah stabil. Jalanan juga tidak begitu ramai kendaraan. Hanya sesekali saja mereka berpapasan dengan mobil dari arah berlawanan. Hingga mereka melewati sebuah gapura Yang berbentuk setengah lingkaran di atas. Bertuliskan nama desa itu. Akhirnya mereka sampai di desa Yang Vin maksud. Jalanan beraspal sudah habis sejak beberapa meter tadi. Berganti jalanan berbatu Yang memang disusun rapi, membuat ban mobil mereka aman dari tergelincir dengan kondisi jalanan yang becek seperti sekarang. Sepertinya hujan baru reda di tempat ini.
Rumah-rumah sederhana dari kayu sudah mulai terlihat di sepanjang kanan dan kiri jalan. Ada beberapa rumah yang sudah modern, tapi tetap saja terlihat sederhana timbang rumah yang ada di kota.
"Masih jauh rumahnya?" tanya Gio yang menyetir dengan sangat hati-hati. Karena beberapa kali ada anak- anak kecil yang tengah bermain di pinggir jalan.
"Di ujung sana. Kita akan sampai di pelabuhan kecil. Nanti kita naik perahu setelahnya."
Sekalipun desa ini bersih dari bau Kalla, tapi tatapan mereka terlihat tidak menyenangkan bagi Adi. Ada sesuatu yang ia tangkap dari rasa ketidaksukaan warga desa. Namun ia simpan saja dalam hati.
"Nah, itu!" tunjuk Vin ke sebuah dermaga penyebrangan. Mereka sampai di tempat paling ujung desa.
"Oh, brengsek!" umpat Adi.
"Kenapa?"
"Banyak sekali Kalla di dermaga ini?!"
Vin, Gio, dan Adi saling adu pandangan. Bingung harus memilih, akan melanjutkan perjalanan atau kembali ke kota.
Sampai di meja sekretaris yang ada di depan ruangan ceo, Elang berhenti. Ia menunjuk ke meja lebar itu.
"Itu tempatmu. Bekerjalah dengan baik. Satu lagi, jangan hanya karena kita saling mengenal maka aku akan bersikap lunak padamu. Kalau pekerjaanmu kacau, kau tetap akan ku marahi seperti mereka tadi." Elang berjalan masuk ke ruangannya. Sementara Shanum masih diam mematung. Walau pada akhirnya ia duduk di kursi miliknya.
Nama Lian sudah digantikan oleh Shanum. Baru beberapa menit, ia duduk, dan mencoba beradaptasi dengan suasana baru. Dering telepon membuyarkan lamunannya.
Ia mengambil gagang telepon itu, dan menempatkannya di dekat telinga. Sambil ragu ia menyapa, "Halo?"
"Ke ruanganku sekarang!" Suara dari seberang mampu ia kenali. Suara pria yang sudah beberapa hari ini ia pikirkan siang malam. Suara Elang yang dingin tapi mampu menggetarkan hati Shanum hingga jantungnya akan berdetak makin cepat.
Shanum menarik nafas dalam-dalam, mengisi rongga pernafasannya dengan lebih banyak oksigen. Langkahnya pelan menuju pintu ruangan Elang berkali-kali ia menarik nafas dan menekan dadanya. Tiba-tiba ia menjadi sulit bernafas, tapi ia terus mencoba setenang mungkin.
Pintu diketuk sebanyak 3 kali, pelan tapi sangat jelas terdengar. Karena di lantai ini hanya ada dua orang manusia saja. Wajar, sekecil suara apa pun pasti akan terdengar. Kecuali di dalam ruangan ceo, karena dilengkapi peredam suara.
"Masuk!"
Dengan ragu Shanum memutar kenop pintu. Ia masuk sambil menundukkan kepala. "Maaf, bapak memanggil saya?"
"Iya. Sini!" panggil Elang, menyuruh Shanum duduk di kursi depannya. Sementara pria itu masih fokus pada monitor di hadapannya. Jemarinya piawai memainkan keyboard, tatapan matanya fokus ke depan. Tanpa memperdulikan sekitar. Bahkan saat Shanum datang ia tidak menoleh sedikitpun.
"Jadwalku hari ini apa saja?"
"Hah?! Jadwal? " pekik Shanum dengan pertanyaan yang membuatnya terlihat makin bodoh.
"Iya, jadwalku hari ini. Kau, kan sekretarisku! Tugasmu ya mengatur jadwalku!" Nada suara Elang naik 1 oktaf. Shanum terus menunduk ke bawah.
"Baik, Pak. Saya permisi dulu."
"Iya!"
Gadis itu kembali ke tempatnya. Ia terlihat lemas, tidak bergairah. Menghempaskan tubuhnya ke kursi kebanggaannya. Ia sedikit patah semangat. Tapi, beberapa detik berikutnya. Senyum terukir di bibirnya. Ia segera mencari hal-hal yang memang seharusnya ia kerjakan sebagai sekretaris Elang. Beberapa nomor ponsel dari nama-nama orang tertempel di secarik kertas yang ditempel di dekat monitor.
Beruntung Lian termasuk karyawan yang cekatan. Ia sudah mencatat semua hal tentang bosnya dan segudang kegiatan Elang selama sebulan ini. Ia mulai mengerti dan kini makin nyaman. Beberapa dering telepon membuat senyumnya tercetak jelas.
Jarum jam menunjukan pukul 12.00 siang. Saking sibuknya Shanum, ia tidak melihat kalau kini seseorang tengah berdiri di depannya.
"Hei!"
Shanum yang terkejut, ia mendongam dan mendapati Elang sudah berdiri di depannya. "Eh, eum, ada apa, pak Elang? Ada yang bisa saya bantu?"
"Ayo, kita makan siang."
Elang langsung berjalan menuju lift. Shanum yang sempat bengong, langsung melebarkan senyum dan menyusul Elang.
Mereka seharian ini menjadi sorotan karyawan yang lain. Bahkan saat sudah masuk mobil, banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa Lian harus dipindahkan digantikan Shanum.
Beruntung gosip ini tidak di dengar Elang. Jika sampai Elang mendengarnya, ia pasti akan murka.
Elang menyetir sendiri dengan Shanum duduk di sampingnya. "Bagaimana hari pertamamu bekerja?" tanya elang tetap fokus pada kemudinya.
"Lumayan, Pak. Memang saya harus beradaptasi perlahan, tapi sejauh ini semua lancar. "
"Tidak perlu memanggilku dengan formal seperti itu kalau kita sedang berdua saja. " Kalimat Elang membuat tanda tanya besar dalam benak Shanum.
'Apa maksudnya? '
Mobil melesat menembus jalanan yamg cukup ramai kendaraan. Ini memang jam makan siang dan wajar saja jika banyak orang yang pergi mencari tempat makan yang memang mereka inginkan untuk mengganjal perut mereka.
Mereka sampai di sebuah restoran. Shanum hanya diam di kursinya dan menatap ke luar. "Mewah sekali, " batin Shanum.
Elang langsung turun dari mobil entah mendapat angin apa, ia segera membuka pintu mobil samping Shanum. Tentu saja gadis itu tertegun. Tak menyangka orang sedingin ini terkadang mampu melakukan hal yang manis.
Tak hanya sampai di situ, Elang kini menggandeng Shanum masuk ke dalam. Wajah Shanum nampak merona. Ia menunduk dan memegang satu pipinya. "Kenapa? " tanya Elang.
"Eum, tidak apa-apa, kita makan di sini?" Pertanyaan Shanum ia buat untuk, mengalihkan perhatiandan rasa gugupnya sendiri.
"Tentu saja. Ini restoran terbaik. Kamu pasti akan suka makanan di sini."
Makan siang yang cukup romantis bgi Shanum. Mereka ada di rooftop berdua saja. Di atas mereka ada semacam payung lebar, semilir angin membuat suasana sejuk. Obrolan demi obrolan mereka buat, hingga tak terasa Elang tersenyum. Ini kali pertama Shanum melihat Elang tersenyum.
______
Adi dan Gio duduk di kursi depan, sementara Vin di belakang mereka. Vin membawa sebuah tas berisi beberapa potong pakaiannya. Ia memang berencana menginap di kampung.
Gio yang menyetir beberapa kali bersenandung. Adi hanya sibuk bermain game di gawai miliknya untuk membunuh waktu.
Stasiun kota hanya berjarak 3 KM saja. Akhirnya mereka sampai juga di tempat itu. Beragam jenis manusia ada di sana. Mereka bertiga turun. Adi menghirup nafas dalam-dalam. Dahinya berkerut dan netranya liar menatap sekitar. Beberapa pasang mata menatap mereka tajam.
"Kalau begitu aku masuk. Terima kasih kalian sudah mengantarku," ucap Vin yang berdiri di sebelah Adi. Saat Vin hendak pergi, Adi segera menahan tangannya. "Tunggu!"
"Kenapa?"
"Biar kami mengantarmu saja sampai desa. Kau tidak perlu naik bus. Lekas masuk," suruh Adi dan ia juga segera masuk ke dalam mobi. Gio menggaruk kepalanya, menatap sekitar dengan bingung.
Setelah semua duduk, Gio menatap Adi yang terus gelisah. "Kau kenapa?"
"Gi, lekas pergi dari sini!"
"Jangan-jangan?" Gio Yang sebenarnya sedikit paham dengan sikap Adi, tanpa bertanya lagi langsung menyalakan mesin mobilnya. Beberapa sorot mata tajam itu, terus menatap liar ke mobil mereka. "Di, kenapa mereka?" Tanya Vin Yang rupanya juga nelihat keanehan orang-orang tadi.
"Kalla!"
"Apa?! Oh, shit!" Umpat Gio, Dan segera memacu mobilnya melesat pergi.
"Hei kenapa kita malah pergi. Bukannya lebih baik kita bunuh mereka? Ini kesempatan baik, bukan?" Vin bingung dengan dua sikap pria di depannya Yang terlihat cemas.
"Kau ini bodoh atau apa? Kita hanya bertiga! Dan mereka sangat banyak. Justru kita Yang akan mati konyol nanti." Adi gusar menatap luar jendela. Sesekali tatapannya mengarah pada spion sampingnya. Takut kalau beberapa dari Kalla akan menyusul mereka.
_____
Akhirnya mereka mengantar Vin ke desa. Hiruk pikuk kota mereka tinggalkan. Kini pemandangan di sekitar didominasi pepohonan Yang menjulang tinggi. Laju mobil sudah stabil. Jalanan juga tidak begitu ramai kendaraan. Hanya sesekali saja mereka berpapasan dengan mobil dari arah berlawanan. Hingga mereka melewati sebuah gapura Yang berbentuk setengah lingkaran di atas. Bertuliskan nama desa itu. Akhirnya mereka sampai di desa Yang Vin maksud. Jalanan beraspal sudah habis sejak beberapa meter tadi. Berganti jalanan berbatu Yang memang disusun rapi, membuat ban mobil mereka aman dari tergelincir dengan kondisi jalanan yang becek seperti sekarang. Sepertinya hujan baru reda di tempat ini.
Rumah-rumah sederhana dari kayu sudah mulai terlihat di sepanjang kanan dan kiri jalan. Ada beberapa rumah yang sudah modern, tapi tetap saja terlihat sederhana timbang rumah yang ada di kota.
"Masih jauh rumahnya?" tanya Gio yang menyetir dengan sangat hati-hati. Karena beberapa kali ada anak- anak kecil yang tengah bermain di pinggir jalan.
"Di ujung sana. Kita akan sampai di pelabuhan kecil. Nanti kita naik perahu setelahnya."
Sekalipun desa ini bersih dari bau Kalla, tapi tatapan mereka terlihat tidak menyenangkan bagi Adi. Ada sesuatu yang ia tangkap dari rasa ketidaksukaan warga desa. Namun ia simpan saja dalam hati.
"Nah, itu!" tunjuk Vin ke sebuah dermaga penyebrangan. Mereka sampai di tempat paling ujung desa.
"Oh, brengsek!" umpat Adi.
"Kenapa?"
"Banyak sekali Kalla di dermaga ini?!"
Vin, Gio, dan Adi saling adu pandangan. Bingung harus memilih, akan melanjutkan perjalanan atau kembali ke kota.
obdiamond dan 7 lainnya memberi reputasi
8