- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.6K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#17
Part 15 Janin Kalla
[Temui aku, di Toserba tadi! Ajak Gio dan Adi serta.]
Pesan masuk ke gawai milik Abimanyu. Ia yang tengah membuat pesanan kopi, langsung diam. Menatap gawai miliknya, hingga tepukan di bahunya membuyarkan lamunan pria itu.
"Fokuslah bekerja, anak muda." Nayaka kini ada di belakangnya, membuat kesadaran Abimanyu kembali sepenuhnya.
Ia tak menanggapi, hanya kembali melanjutkan aktifitasnya. Suasana cafe cukup ramai, membuat Abimanyu bekerja tak henti. Entah sudah berapa cangkir kopi ia buat sejak pagi.
Pukul 21.00 cafe ditutup lebih cepat, karena stok persediaan bahan makanan sudah habis. Abimanyu segera berganti pakaian dan pergi meninggalkan cafe, bahkan ia tidak ikut briefing malam karena benar-benar mencemaskan Elang. Takut-takut kalau Gio dan Adi belum bisa menyusulnya. Ia berlari sambil sesekali melihat ke sekitar, mencari taksi, yang sama sekali tidak terlihat sejauh mata memandang. Jalanan juga sudah tidak begitu ramai, karena bekas hujan masih basah menggenang di sepanjang ruas jalan.
"Butuh tumpangan?" tanya seseorang di balik mobil yang kini berhenti di sampingnya.
"Kenapa lama sekali?" Abimanyu segera masuk ke kursi belakang. Kemudian mereka bertiga segera pergi ke tempat yang Elang minta.
Mobil melaju kencang karena Gio yang memegang kemudi. Semua orang tau kalau Gio adalah raja jalanan. Dia orang yang seenaknya, dan tidak takut apa pun.
"Bi, kau punya teman yang sering mengajakmu mati?" tanya Adi yang duduk di samping Gio.
"Aku tidak punya teman dekat, Paman."
"Kalau begitu sekarang kau punya. Dan bersiaplah mati sewaktu-waktu," kata Adi yang mencengkram pegangan di atas pintu sampingnya.
Abimanyu ikut berpegangan seperti Adi. Laju mobil justru dipercepat hingga tak lama mereka berhenti di toserba itu. Daerah ini masih hidup, karena beberapa toko masih terlihat buka. Toserba ini juga termasuk toko yang buka 24 jam, alias tidak pernah tutup.
Elang masih setia di dalam mobil. Ia sudah mengintai sejak beberapa jam lalu. Tak lama mobil Gio nampak parkir di belakangnya. Elang hanya memandang dari kaca spion mobilnya saja.
[Bagaimana pengintaianmu, Pak Ceo?]
[Cukup menyita waktu. Sudah ada 11 gelas kopi yang kuminum dan beberapa bungkus camilan. Dia belum juga keluar. Benar-benar membosankan!]
[Baiklah. Abimanyu akan masuk ke dalam. Memeriksa keadaan di sana. Sekaligus membeli kopi ke 12.]
[Berhati-hatilah]
Pintu mobil dibuka. Abimanyu yang memakai jaket hoddie, keluar. Menatap sekitar, lalu menutup kepalanya memakai tudung yang tersampir di belakangnya. Kedua tangan ia masukan ke saku jaket.
Toserba itu adalah tempat paling terang diantara sekitarnya. Beberapa toko dan ruko sudah tutup karena hari hampir larut malam.
Gemerincing lonceng yang dipasang di atas pintu adalah salam penyambutan otomatis di tempat ini. Tak lama setelah itu, sapaan sang penjaga kasir menggema di sepanjang toko. "Selamat datang."
Abimanyu berdiri di dekat kasir, menatap sekitar. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Eum, kopi. Saya mau membeli kopi."
"Oh kopi ada di ujung sana," tunjuk penjaga kasir ke sudut belakang toserba. Di sana ada mesin pembuat kopi. Abi menatap sudut itu sejenak, kembali menatap sekitar. Netranya liar mencari wanita yang ia lihat pagi tadi.
Ketemu!
Wanita itu sedang memakai mantel bulu, dengan tas tersampir di pundak kanannya. Jam kerjanya sudah habis. Abi segera mengambil kopi dan membayarnya. Sementara wanita tadi baru saja berpamitan pada teman yang ada di meja kasir.
Abimanyu, meneguk kopi yang baru saja ia bayar. Mendorong pintu dan berdiri sejenak ke arah kawan-kawannya. Seolah saling memberikan isyarat, Abi mengangguk dan berjalan mengikuti wanita tadi. Berusaha menjaga jarak agar pengintaiannya tidak diketahui.
Jalanan sudah sunyi, hanya beberapa kendaraan saja yang berlalu lalang. Mobil Elang dan Gio mengikuti Abimanyu dalam jarak jauh. Wanita tadi berbelok ke sebuah gang sempit. Abimanyu terus mengikutinya, namun dengan tetap menjaga jarak.
Memperhatikan terus semua gerak gerik wanita itu, saat ia mengelus perut yang buncit karena kehamilannya, saat ia membalas beberapa pesan di gawai miliknya, cara ia berjalan bahkan wanita itu tidak nampak aneh sejauh ini. Yah, bagi mata biasa. Tapi tidak bagi Abimanyu. Ia tetap melihat wanita itu dengan wujud Kalla. Rambutnya panjang bergelombang, kusut. Kulitnya hitam legam, giginya runcing dan panjang, membuat air liurnya terus menetes ke bawah. Karena mulutnya yang tidak bisa menutup sempurna, maka suara geraman terus terdengar, walau samar, tapi itu juga salah satu ciri makhluk ini.
Langkah wanita itu makin dipercepat, ia sesekali menoleh ke belakang. Rupanya ia menyadari kalau tengah diikuti. Karena kini bukan hanya Abimanyu saja yang ada di belakangnya. Jauh beberapa meter dari Abi, ada Gio dan Adi yang juga melakukan hal yang sama.
Hingga saat sampai di ujung gang yang sudah tidak ada jalan lain lagi, ia segera berlari masuk ke sebuah gedung tinggi dengan aksen kumuh dan tua. Salah satu rumah susun dengan harga sewa paling murah di kota, dan mempunyai kisah mengerikan hingga tidak ada yang berani tinggal di sana, kecuali wanita tadi. Ia mengunci pintu masuk depan dan segera masuk ke lift. Sadar kalau pria yang ada di belakangnya tau jati dirinya, ia harus segera menyelamatkan dirinya dan bayi di dalam perutnya.
Abimanyu yang kesulitan masuk, tanpa pikir panjang mendobrak pintu itu hingga seluruh kacanya hancur dan engsel pintunya rusak. Gio dan Adi segera mempercepat larinya.
"Ke mana dia? "
"Masuk ke dalam!"
"Ayo, cepat! Tidak ada waktu lagi, dia pasti sedang mencari cara melarikan diri!"
Mereka bertiga menuju lift. Dan kini naik ke atas. Rupanya wanita itu tinggal di lantai atas gedung ini. Tombol terakhir menuju lantai 5, dan kini mereka bertiga sudah sampai di sana.
"Ngomong-ngomong Paman Elang ke mana?"
"Dia ada urusan."
Pintu lift terbuka, kini yang ada di hadapan mereka adalah sebuah koridor yang panjang dengan beberapa pintu kamar yang tertutup. Sampai di sini, mereka tersesat.
"Bagaimana ini, kamar yang mana?" tanya Gio, menjambak rambutnya sendiri.
Adi tengak tengok berusaha mencari satu saja kemungkinan tanda jejak dari Kalla. "Paman, kau dari kamar ini, ke ujung. Aku deretan ini, dan paman Gio, di sebelah sana," suruh Abimanyu menunjuk ke deretan kamar yang mirip apartmen kosong ini. Cat di temboknya sudah pudar. Lantainya kotor. Benar-benar mirip bangunan kosong.
Abimanyu segera mendekat ke satu pintu yang menjadi incarannya. Satu persatu ia memperhatikan tiap detil pintu kamar. Begitu juga dengan Gio dan Adi. Mereka berpencar.
Tiap lubang pintu mereka intip. Dengan indera penciuman, mereka mengendus tiap sudut tempat ini. Mirip anjing pelacak saja. Karena hanya dengan cara ini mereka bisa menemukan Kalla.
Pintu terbuka dari sebuah kamar paling ujung. Mereka bertiga langsung menoleh dan rupanya keluar seorang nenek-nenek dengan rambut dominasi uban. Tengah memegang tali yang mengikat pada leher anjing cihuahua miliknya.
Ia melewati Abimanyu dengan langkah pelan. Tatapan mereka bertiga membuat nenek itu curiga.
"Kalian sedang apa?"
Adi mendekat dengan membungkukkan sedikit tubuhnya. "Maaf, Nek. Kami mencari teman kami. Dia wanita dan sedang hamil. Namanya.... " Adi menoleh ke Abimanyu dan Gio guna mendapatkan sebuah nama. Karena dia sama sekali tidak tau nama wanita yang tengah mereka kejar.
"Wanita hamil? Di sini hanya ada 1 wanita hamil. Itu, di kamar 507," tunjuknya ke belakang Adi.
Ia menoleh dengan smirk kemenangan. "Oh di sana? Terima kasih, Nek. Hati-hati di jalan," tukas Adi menganggukan kepalanya, dan nenek tadi yang tak menanggapi apa pun, lantas pergi masuk ke lift.
Kini tinggal 3 pemuda itu. Mereka saling memberikan isyarat dan menuju kamar yang ditunjuk nenek tadi.
Kamar 507
Gio melipat lengan bajunya, ia sudah memasang kuda besi. Adi yang paham apa yang ada di otak Gio, lantas menahannya. "Mau apa kau? Jangan gila, Gi!"
"Tentu saja mendobraknya. Apa lagi?"
"Sebentar, Paman." Abimanyu mengetuk daun pintu sebanyak tiga kali. "Permisi," sapanya mencoba setenang mungkin.
Tak ada sahutan sama sekali. Sunyi. Bagai kamar tak berpenghuni.
"Ah, sudah! Minggir! Biar kudobrak saja!" Gio mendorong Abimanyu dan Adi ke samping. Kaki Gio mulai naik dan dalam sekali tendangan, pintu di depan mereka roboh.
"Wah, hebat!" puji Adi, menepuk bahu Gio yang masih berusaha menetralkan nafasnya.
Adi dan Abimanyu lantas masuk ke dalam, diikuti Gio. Kamar ini sepi. Namun bau anyir semerbak sesekali di hidung mereka. Karena di tempat ini, ada pengharum ruangan yang akan otomatis menyemprotkan wangi setiap beberapa menit sekali.
"Cari!" suruh Adi. Mereka berpencar. Memeriksa tiap sudut ruangan ini. Abimanyu memeriksa dapur dan kamar mandi, Adi menuju kamar seorang diri. Perlahan membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalamnya. Sementara Gio menuju balkon. Ada ruangan kecil sebelum balkon luar. Yang berfungsi sebagai gudang. Gio memeriksanya dengan teliti, walau beberapa kali ia harus bersin-bersin karena debu yang cukup tebal. Waktu terhenti. Batu saphire sudah ditancapkan. Itu berarti Kalla sudah ada di sekitar mereka. Batu saphire memang satu-satunya benda yang dapat mengembalikan wujud asli Kalla. Siapapun manusia dengan jelmaan Kalla akan kembali ke wujudnya jika terkena pengaruh batu saphire itu.
"Arg!" jerit Adi seperti menahan sesuatu di tenggorokannya. Abimanyu segera menyusul ke kamar, namun ia langsung mendapat tendangan kuat dari Kalla. Wanita tadi berubah wujud. Tetap dengan perut yang buncit dengan janin di dalamnya.
Abimanyu terpental hingga menabrak ujung meja. Ia mengerang kesakitan, menahan sakit di punggungnya. Wanita tadi segera berlari menuju pintu keluar, tapi Adi sudah berdiri di sana walau dengan leher berlumur darah. Ia terluka terkena cakaran tangan makhluk itu. "Paman Gio!" panggil Abimanyu, Gio segera membantu Adi. Ia menyeret wanita itu dengan menjambak rambutnya kasar. Gio melemparnya menghantam tembok. Makhluk itu mengerang kesakitan. Adi segera mengeluarkan senjata miliknya. Sementara Abimanyu melirik sebuah samurai di atas meja nakas. Adi berlari cepat, dan menancapkan pisau itu tepat ke dada Kalla. Ia masih mampu berteriak, ia terus meronta. Dan membuat Adi terkena tendangan di antara selangkangannya. Otomatis ia melepaskan wanita tadi dan fokus pada rasa sakitnya sendiri. Wanita jelmaan Kalla itu, berusaha menarik pisau dari dadanya dengan kepayahan. Gio mendekat dan memegangi kedua tangan hitam itu.
"Bi! Potong kepalanya!"
Abimanyu yang sempat melihat foto keharmonisan keluar kecil ini lantas merasa iba. Ia sudah menikah dengan seorang pria. Dan kini tengah berbadan dua. Setidaknya, ada bayi yang tidak berdosa yang ada di dalam perut wanita ini. "Cepat, Bi!" jerit Gio lagi. Abimanyu tak bergeming. Rasa kemanusiaannya kini mendominasi.
"Lekas! Potong kepalanya atau tusuk, perutnya!" kembali suara Gio mengusik pikirannya.
Sampai akhirnya terdengar langkah dari arah luar. Semua orang menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Elang masuk dengan dua buah samurai dikedua tangannya. Wajahnya tertutup masker hitam.
Tanpa basa basi lagi, ia segera mendekat ke Gio dan langsung menebas kepala Kalla. Gio melepaskan pegangannya. Terakhir, Elang membelah tubuh itu menjadi dua.
Kekejamannya tak sampai disitu. Kini bayi yang masih bergerak di setengah tubuh wanita itu, langsung di bunuh Elang.
"Bakar!" kata Elang dengan tetap menekan samurai yang masih menancap di tubuh bayi itu.
Gio, mengambil korek api dan membakar tubuh itu bersama sama. Api berkobar. Membuat kepulan asap tebal dan hitam. Adi lantas membuka balkon guna mencari udara segar. Ia sudah batuk-batuk, karena tidak tahan. Gio menyusul Adi. Elang yang sudah melakukan persiapan dengan sebuah masker di wajahnya, hanya diam menatap jasad yang sudah gosong di depannya. Ia juga menatap nyalang ke arah Abimanyu. Langkahnya pelan, namun mampu mengintimidasi Abimanyu yang hanya mampu berdiam diri di tempatnya berdiri. Elang menepuk bahu pemuda itu.
"Jangan pakai rasa kemanusiaanmu pada mereka. Karena status manusiamu akan mereka rampas dengan mudah!"
Elang keluar dari kamar ini. Adi dan Gio segera membereskan sisa potongan tubuh yang belum terbakar sempurna.
"Miris sekali hidup pria itu," tunjuk Gio ke foto keluarga yang menempel di tembok.
"Iya. Apa yang akan terjadi kalau ia mengetahui kita menghancurkan kamarnya dan... Membunuh istrinya, ya?"
"Bodo! Dia bukan istrinya, tapi jelmaan Kalla."
"Itu jika suaminya salah satu dari kita, dia akan memahaminya, tapi dia hanya manusia biasa. Bukan Argenis seperti kita, idiot!" perdebatan itu tak ada habisnya. Sementara Abimanyu perlahan membereskan beberapa barang yang tercecer di lantai. Bayangan bayi tadi masih, terngiang di kepalanya.
Beberapa langkah kaki, terdengar menggema di koridor. Elang muncul lagi bersama seorang pria. Pria yang lebih tepatnya ada di foto yang tadi mereka bicarakan.
"Hey, bagaimana bisa dia sadar, batu saphire masih ditancapkan di kamar. Bukan begitu, Di? " tanya Gio, heran.
"Dia punya tati seperti kita," jawab Elang mengangkat tangan kiri pria itu ke atas. Menunjukan sebuah tato yang sama seperti mereka.
"Hah? Bagaimana bisa?!"
"Dia menjadi salah satu dari kita mulai sekarang. Aku pergi mencarinya dan menceritakan semua kebenaran ini. Awalnya dia tidak mempercayaiku, tapi saat kutunjukan wujud asli salah satu Kalla, yang menjelma sebagai sahabat istrinya, ia baru percaya."
"Wanita satunya itu, kah, paman?" tanya Abimanyu.
"Yah, dia. Dan sekarang sudah menjadi abu seperti sahabatnya itu," kata Elang dengan menunjuk jasad Kalla yang baru saja ia bunuh.
Vin. Pria itu bergabung menjadi Argenis, saat tau kalau istrinya sudah mati ditangan Kalla. Ia sudah menyadari keanehan pada istrinya selama beberapa bulan terakhir. Dan akhirnya kecurigaannya beralasan.
Ia sedih. Sangat. Tapi, ia bertekad membunuh semua ras Kalla, guna membalaskan dendamnya karena telah merenggut istrinya sendiri.
Dan anggota Argenis bertambah.
Pesan masuk ke gawai milik Abimanyu. Ia yang tengah membuat pesanan kopi, langsung diam. Menatap gawai miliknya, hingga tepukan di bahunya membuyarkan lamunan pria itu.
"Fokuslah bekerja, anak muda." Nayaka kini ada di belakangnya, membuat kesadaran Abimanyu kembali sepenuhnya.
Ia tak menanggapi, hanya kembali melanjutkan aktifitasnya. Suasana cafe cukup ramai, membuat Abimanyu bekerja tak henti. Entah sudah berapa cangkir kopi ia buat sejak pagi.
Pukul 21.00 cafe ditutup lebih cepat, karena stok persediaan bahan makanan sudah habis. Abimanyu segera berganti pakaian dan pergi meninggalkan cafe, bahkan ia tidak ikut briefing malam karena benar-benar mencemaskan Elang. Takut-takut kalau Gio dan Adi belum bisa menyusulnya. Ia berlari sambil sesekali melihat ke sekitar, mencari taksi, yang sama sekali tidak terlihat sejauh mata memandang. Jalanan juga sudah tidak begitu ramai, karena bekas hujan masih basah menggenang di sepanjang ruas jalan.
"Butuh tumpangan?" tanya seseorang di balik mobil yang kini berhenti di sampingnya.
"Kenapa lama sekali?" Abimanyu segera masuk ke kursi belakang. Kemudian mereka bertiga segera pergi ke tempat yang Elang minta.
Mobil melaju kencang karena Gio yang memegang kemudi. Semua orang tau kalau Gio adalah raja jalanan. Dia orang yang seenaknya, dan tidak takut apa pun.
"Bi, kau punya teman yang sering mengajakmu mati?" tanya Adi yang duduk di samping Gio.
"Aku tidak punya teman dekat, Paman."
"Kalau begitu sekarang kau punya. Dan bersiaplah mati sewaktu-waktu," kata Adi yang mencengkram pegangan di atas pintu sampingnya.
Abimanyu ikut berpegangan seperti Adi. Laju mobil justru dipercepat hingga tak lama mereka berhenti di toserba itu. Daerah ini masih hidup, karena beberapa toko masih terlihat buka. Toserba ini juga termasuk toko yang buka 24 jam, alias tidak pernah tutup.
Elang masih setia di dalam mobil. Ia sudah mengintai sejak beberapa jam lalu. Tak lama mobil Gio nampak parkir di belakangnya. Elang hanya memandang dari kaca spion mobilnya saja.
[Bagaimana pengintaianmu, Pak Ceo?]
[Cukup menyita waktu. Sudah ada 11 gelas kopi yang kuminum dan beberapa bungkus camilan. Dia belum juga keluar. Benar-benar membosankan!]
[Baiklah. Abimanyu akan masuk ke dalam. Memeriksa keadaan di sana. Sekaligus membeli kopi ke 12.]
[Berhati-hatilah]
Pintu mobil dibuka. Abimanyu yang memakai jaket hoddie, keluar. Menatap sekitar, lalu menutup kepalanya memakai tudung yang tersampir di belakangnya. Kedua tangan ia masukan ke saku jaket.
Toserba itu adalah tempat paling terang diantara sekitarnya. Beberapa toko dan ruko sudah tutup karena hari hampir larut malam.
Gemerincing lonceng yang dipasang di atas pintu adalah salam penyambutan otomatis di tempat ini. Tak lama setelah itu, sapaan sang penjaga kasir menggema di sepanjang toko. "Selamat datang."
Abimanyu berdiri di dekat kasir, menatap sekitar. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Eum, kopi. Saya mau membeli kopi."
"Oh kopi ada di ujung sana," tunjuk penjaga kasir ke sudut belakang toserba. Di sana ada mesin pembuat kopi. Abi menatap sudut itu sejenak, kembali menatap sekitar. Netranya liar mencari wanita yang ia lihat pagi tadi.
Ketemu!
Wanita itu sedang memakai mantel bulu, dengan tas tersampir di pundak kanannya. Jam kerjanya sudah habis. Abi segera mengambil kopi dan membayarnya. Sementara wanita tadi baru saja berpamitan pada teman yang ada di meja kasir.
Abimanyu, meneguk kopi yang baru saja ia bayar. Mendorong pintu dan berdiri sejenak ke arah kawan-kawannya. Seolah saling memberikan isyarat, Abi mengangguk dan berjalan mengikuti wanita tadi. Berusaha menjaga jarak agar pengintaiannya tidak diketahui.
Jalanan sudah sunyi, hanya beberapa kendaraan saja yang berlalu lalang. Mobil Elang dan Gio mengikuti Abimanyu dalam jarak jauh. Wanita tadi berbelok ke sebuah gang sempit. Abimanyu terus mengikutinya, namun dengan tetap menjaga jarak.
Memperhatikan terus semua gerak gerik wanita itu, saat ia mengelus perut yang buncit karena kehamilannya, saat ia membalas beberapa pesan di gawai miliknya, cara ia berjalan bahkan wanita itu tidak nampak aneh sejauh ini. Yah, bagi mata biasa. Tapi tidak bagi Abimanyu. Ia tetap melihat wanita itu dengan wujud Kalla. Rambutnya panjang bergelombang, kusut. Kulitnya hitam legam, giginya runcing dan panjang, membuat air liurnya terus menetes ke bawah. Karena mulutnya yang tidak bisa menutup sempurna, maka suara geraman terus terdengar, walau samar, tapi itu juga salah satu ciri makhluk ini.
Langkah wanita itu makin dipercepat, ia sesekali menoleh ke belakang. Rupanya ia menyadari kalau tengah diikuti. Karena kini bukan hanya Abimanyu saja yang ada di belakangnya. Jauh beberapa meter dari Abi, ada Gio dan Adi yang juga melakukan hal yang sama.
Hingga saat sampai di ujung gang yang sudah tidak ada jalan lain lagi, ia segera berlari masuk ke sebuah gedung tinggi dengan aksen kumuh dan tua. Salah satu rumah susun dengan harga sewa paling murah di kota, dan mempunyai kisah mengerikan hingga tidak ada yang berani tinggal di sana, kecuali wanita tadi. Ia mengunci pintu masuk depan dan segera masuk ke lift. Sadar kalau pria yang ada di belakangnya tau jati dirinya, ia harus segera menyelamatkan dirinya dan bayi di dalam perutnya.
Abimanyu yang kesulitan masuk, tanpa pikir panjang mendobrak pintu itu hingga seluruh kacanya hancur dan engsel pintunya rusak. Gio dan Adi segera mempercepat larinya.
"Ke mana dia? "
"Masuk ke dalam!"
"Ayo, cepat! Tidak ada waktu lagi, dia pasti sedang mencari cara melarikan diri!"
Mereka bertiga menuju lift. Dan kini naik ke atas. Rupanya wanita itu tinggal di lantai atas gedung ini. Tombol terakhir menuju lantai 5, dan kini mereka bertiga sudah sampai di sana.
"Ngomong-ngomong Paman Elang ke mana?"
"Dia ada urusan."
Pintu lift terbuka, kini yang ada di hadapan mereka adalah sebuah koridor yang panjang dengan beberapa pintu kamar yang tertutup. Sampai di sini, mereka tersesat.
"Bagaimana ini, kamar yang mana?" tanya Gio, menjambak rambutnya sendiri.
Adi tengak tengok berusaha mencari satu saja kemungkinan tanda jejak dari Kalla. "Paman, kau dari kamar ini, ke ujung. Aku deretan ini, dan paman Gio, di sebelah sana," suruh Abimanyu menunjuk ke deretan kamar yang mirip apartmen kosong ini. Cat di temboknya sudah pudar. Lantainya kotor. Benar-benar mirip bangunan kosong.
Abimanyu segera mendekat ke satu pintu yang menjadi incarannya. Satu persatu ia memperhatikan tiap detil pintu kamar. Begitu juga dengan Gio dan Adi. Mereka berpencar.
Tiap lubang pintu mereka intip. Dengan indera penciuman, mereka mengendus tiap sudut tempat ini. Mirip anjing pelacak saja. Karena hanya dengan cara ini mereka bisa menemukan Kalla.
Pintu terbuka dari sebuah kamar paling ujung. Mereka bertiga langsung menoleh dan rupanya keluar seorang nenek-nenek dengan rambut dominasi uban. Tengah memegang tali yang mengikat pada leher anjing cihuahua miliknya.
Ia melewati Abimanyu dengan langkah pelan. Tatapan mereka bertiga membuat nenek itu curiga.
"Kalian sedang apa?"
Adi mendekat dengan membungkukkan sedikit tubuhnya. "Maaf, Nek. Kami mencari teman kami. Dia wanita dan sedang hamil. Namanya.... " Adi menoleh ke Abimanyu dan Gio guna mendapatkan sebuah nama. Karena dia sama sekali tidak tau nama wanita yang tengah mereka kejar.
"Wanita hamil? Di sini hanya ada 1 wanita hamil. Itu, di kamar 507," tunjuknya ke belakang Adi.
Ia menoleh dengan smirk kemenangan. "Oh di sana? Terima kasih, Nek. Hati-hati di jalan," tukas Adi menganggukan kepalanya, dan nenek tadi yang tak menanggapi apa pun, lantas pergi masuk ke lift.
Kini tinggal 3 pemuda itu. Mereka saling memberikan isyarat dan menuju kamar yang ditunjuk nenek tadi.
Kamar 507
Gio melipat lengan bajunya, ia sudah memasang kuda besi. Adi yang paham apa yang ada di otak Gio, lantas menahannya. "Mau apa kau? Jangan gila, Gi!"
"Tentu saja mendobraknya. Apa lagi?"
"Sebentar, Paman." Abimanyu mengetuk daun pintu sebanyak tiga kali. "Permisi," sapanya mencoba setenang mungkin.
Tak ada sahutan sama sekali. Sunyi. Bagai kamar tak berpenghuni.
"Ah, sudah! Minggir! Biar kudobrak saja!" Gio mendorong Abimanyu dan Adi ke samping. Kaki Gio mulai naik dan dalam sekali tendangan, pintu di depan mereka roboh.
"Wah, hebat!" puji Adi, menepuk bahu Gio yang masih berusaha menetralkan nafasnya.
Adi dan Abimanyu lantas masuk ke dalam, diikuti Gio. Kamar ini sepi. Namun bau anyir semerbak sesekali di hidung mereka. Karena di tempat ini, ada pengharum ruangan yang akan otomatis menyemprotkan wangi setiap beberapa menit sekali.
"Cari!" suruh Adi. Mereka berpencar. Memeriksa tiap sudut ruangan ini. Abimanyu memeriksa dapur dan kamar mandi, Adi menuju kamar seorang diri. Perlahan membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalamnya. Sementara Gio menuju balkon. Ada ruangan kecil sebelum balkon luar. Yang berfungsi sebagai gudang. Gio memeriksanya dengan teliti, walau beberapa kali ia harus bersin-bersin karena debu yang cukup tebal. Waktu terhenti. Batu saphire sudah ditancapkan. Itu berarti Kalla sudah ada di sekitar mereka. Batu saphire memang satu-satunya benda yang dapat mengembalikan wujud asli Kalla. Siapapun manusia dengan jelmaan Kalla akan kembali ke wujudnya jika terkena pengaruh batu saphire itu.
"Arg!" jerit Adi seperti menahan sesuatu di tenggorokannya. Abimanyu segera menyusul ke kamar, namun ia langsung mendapat tendangan kuat dari Kalla. Wanita tadi berubah wujud. Tetap dengan perut yang buncit dengan janin di dalamnya.
Abimanyu terpental hingga menabrak ujung meja. Ia mengerang kesakitan, menahan sakit di punggungnya. Wanita tadi segera berlari menuju pintu keluar, tapi Adi sudah berdiri di sana walau dengan leher berlumur darah. Ia terluka terkena cakaran tangan makhluk itu. "Paman Gio!" panggil Abimanyu, Gio segera membantu Adi. Ia menyeret wanita itu dengan menjambak rambutnya kasar. Gio melemparnya menghantam tembok. Makhluk itu mengerang kesakitan. Adi segera mengeluarkan senjata miliknya. Sementara Abimanyu melirik sebuah samurai di atas meja nakas. Adi berlari cepat, dan menancapkan pisau itu tepat ke dada Kalla. Ia masih mampu berteriak, ia terus meronta. Dan membuat Adi terkena tendangan di antara selangkangannya. Otomatis ia melepaskan wanita tadi dan fokus pada rasa sakitnya sendiri. Wanita jelmaan Kalla itu, berusaha menarik pisau dari dadanya dengan kepayahan. Gio mendekat dan memegangi kedua tangan hitam itu.
"Bi! Potong kepalanya!"
Abimanyu yang sempat melihat foto keharmonisan keluar kecil ini lantas merasa iba. Ia sudah menikah dengan seorang pria. Dan kini tengah berbadan dua. Setidaknya, ada bayi yang tidak berdosa yang ada di dalam perut wanita ini. "Cepat, Bi!" jerit Gio lagi. Abimanyu tak bergeming. Rasa kemanusiaannya kini mendominasi.
"Lekas! Potong kepalanya atau tusuk, perutnya!" kembali suara Gio mengusik pikirannya.
Sampai akhirnya terdengar langkah dari arah luar. Semua orang menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Elang masuk dengan dua buah samurai dikedua tangannya. Wajahnya tertutup masker hitam.
Tanpa basa basi lagi, ia segera mendekat ke Gio dan langsung menebas kepala Kalla. Gio melepaskan pegangannya. Terakhir, Elang membelah tubuh itu menjadi dua.
Kekejamannya tak sampai disitu. Kini bayi yang masih bergerak di setengah tubuh wanita itu, langsung di bunuh Elang.
"Bakar!" kata Elang dengan tetap menekan samurai yang masih menancap di tubuh bayi itu.
Gio, mengambil korek api dan membakar tubuh itu bersama sama. Api berkobar. Membuat kepulan asap tebal dan hitam. Adi lantas membuka balkon guna mencari udara segar. Ia sudah batuk-batuk, karena tidak tahan. Gio menyusul Adi. Elang yang sudah melakukan persiapan dengan sebuah masker di wajahnya, hanya diam menatap jasad yang sudah gosong di depannya. Ia juga menatap nyalang ke arah Abimanyu. Langkahnya pelan, namun mampu mengintimidasi Abimanyu yang hanya mampu berdiam diri di tempatnya berdiri. Elang menepuk bahu pemuda itu.
"Jangan pakai rasa kemanusiaanmu pada mereka. Karena status manusiamu akan mereka rampas dengan mudah!"
Elang keluar dari kamar ini. Adi dan Gio segera membereskan sisa potongan tubuh yang belum terbakar sempurna.
"Miris sekali hidup pria itu," tunjuk Gio ke foto keluarga yang menempel di tembok.
"Iya. Apa yang akan terjadi kalau ia mengetahui kita menghancurkan kamarnya dan... Membunuh istrinya, ya?"
"Bodo! Dia bukan istrinya, tapi jelmaan Kalla."
"Itu jika suaminya salah satu dari kita, dia akan memahaminya, tapi dia hanya manusia biasa. Bukan Argenis seperti kita, idiot!" perdebatan itu tak ada habisnya. Sementara Abimanyu perlahan membereskan beberapa barang yang tercecer di lantai. Bayangan bayi tadi masih, terngiang di kepalanya.
Beberapa langkah kaki, terdengar menggema di koridor. Elang muncul lagi bersama seorang pria. Pria yang lebih tepatnya ada di foto yang tadi mereka bicarakan.
"Hey, bagaimana bisa dia sadar, batu saphire masih ditancapkan di kamar. Bukan begitu, Di? " tanya Gio, heran.
"Dia punya tati seperti kita," jawab Elang mengangkat tangan kiri pria itu ke atas. Menunjukan sebuah tato yang sama seperti mereka.
"Hah? Bagaimana bisa?!"
"Dia menjadi salah satu dari kita mulai sekarang. Aku pergi mencarinya dan menceritakan semua kebenaran ini. Awalnya dia tidak mempercayaiku, tapi saat kutunjukan wujud asli salah satu Kalla, yang menjelma sebagai sahabat istrinya, ia baru percaya."
"Wanita satunya itu, kah, paman?" tanya Abimanyu.
"Yah, dia. Dan sekarang sudah menjadi abu seperti sahabatnya itu," kata Elang dengan menunjuk jasad Kalla yang baru saja ia bunuh.
Vin. Pria itu bergabung menjadi Argenis, saat tau kalau istrinya sudah mati ditangan Kalla. Ia sudah menyadari keanehan pada istrinya selama beberapa bulan terakhir. Dan akhirnya kecurigaannya beralasan.
Ia sedih. Sangat. Tapi, ia bertekad membunuh semua ras Kalla, guna membalaskan dendamnya karena telah merenggut istrinya sendiri.
Dan anggota Argenis bertambah.
obdiamond dan 10 lainnya memberi reputasi
11